Posted in 30 Hari Menulis 2018, menulis

Teknik Review (Ala-ala)


Tulisan ini dimaksudkan untuk menolong teman-teman yang masih bingung dengan tatacara penulisan review buku/film.

Kebetulan, hari kelima besok, di ajang #3oHariMenulis, temanya adalah menulis review buku (setelah sebelumnya review film di hari ketiga).

Review, jika dibahasa-indonesiakan, artinya kurang lebih “tinjauan”. Mengapa orang menulis Review? Sebab ia meninjau sebuah karya kemudian menuliskan pengalamannya, sekaligus memberikan rekomendasi bagi orang lain yang belum menonton atau membaca.

Apa saja sih, yang harus ada dalam sebuah review?

Secara umum, biasanya review memuat hal-hal di bawah ini:

  • DATA Film/buku

yang dimaksud data biasanya;

untuk buku: judul buku, tahun terbit dan penerbit, penulis (genre boleh dimasukkan juga).

untuk film : judul, tahun rilis, sutradara, pemain, genre.

Tentu soal data ini tidak baku, harus dimasukkan dalam bentuk DAFTAR, bisa juga dimasukkan ke dalam narasi. Saya pribadi, mendisiplinkan diri untuk selalu menulis data di awal, supaya tidak lupa saja.

Adapun bentuk yang dinarasikan, misalnya seperti ini:

“Film bertajuk Se7en besutan sutradara David Fincher ini, dirilis pada tahun 1995, dengan memasang Brad Pitt dan Morgan Freeman sebagai pemain utamanya.”

“Aroma Karsa, Buku ketujuh karya Dewi Lestari ini diterbitkan serentak di seluruh Indonesia pada bulan Januari 2018.”

*situs imdb.com termasuk situs yang paling sering dikunjungi orang untuk mencari data soal film

IMDB.jpg

  • PREMIS CERITA

Premis bisa diartikan sebagai ide pokok dari kisah. Apa sih inti ceritanya? Nah banyak orang yang mengartikan, premis maksudnya dengan membeberkan keseluruhan cerita yang ada dalam film/buku tersebut.

Padahal, tujuan review salah satunya adalah untuk merekomendasikan film/buku yang dimaksud. Jika keseluruhan cerita sudah dibeberkan, apa lagi dong yang mau ditonton?

Sebetulnya masalah ini agak bias sih, karena nyatanya, ada banyak orang yang biasa-biasa saja dengan spoiler, bahwa “Oh ceritanya begitu ya, tetep pengen nonton sih.”

Pun begitu, banyak sekali orang yang masih menikmati rasa deg-degan ketika menantikan film/buku tertentu. Jantung yang berdebar-debar karena menantikan kemenangan atau kekalahan jagoannya, atau mesam-mesem ketika nonton film romance. Maka spoiler nista durjana yang ditaburkan tanpa dosa, oleh banyak orang yang menulis review, semacam tamparan telak di pipi kanan dan kiri secara bersamaan.

#lebaaaay

oh ya, ngomong-ngomong, “spoiler” artinya bocoran kisah.

Jika kamu mau membuat review film/buku, dan ingin membocorkan sedikit (atau banyak) ceritanya, maka kamu bisa memberikan semacam warning di awal dengan kata-kata “Spoiler-alert” atau “Mengandung spoiler”. Sehingga siapapun yang membaca sudah siap dengan konsekuensi tersebut.

Seberapa banyak kisah yang boleh dibocorkan?

Nah ini, kembali ke soal premis tadi.

Ide pokok dan kisah cerita, adalah dua hal yang berbeda.

Ide pokok dalam kisah Si Doel Anak Sekolahan adalah bagaimana Si Doel sebagai anak orang kampung yang berada di garis kemiskinan bisa menjadi “orang”, bahkan seorang “tukang insinyur” yang dibanggakan enyak dan babe. Dalam perjalanan kisahnya, Doel akan menjalin kasih dengan Sarah, seorang anak orang kaya yang cantik dan baik hati. Kemudian nanti ada tokoh Zaenab, yang merupakan love-interest Doel dari kubu yang berbeda.

Persoalan bagaimana perjalanan cinta segitiga si Doel, dan kejutan-kejutan yang dialami dalam hidupnya, itu bisa disimpan dan tidak usah dibeberkan, apalagi ending cerita.

*mangap, contohnya jadul kek yang nulis, gapapa deh, yang penting ngangenin yekaaan, haseek*

Untuk tahu contoh-contoh review, teman-teman bisa membaca pelbagai contoh di internet. Meski memang tidak semua patuh dengan aturan no-spoiler ini.

beberapa situs penyedia review film dan buku:

http://layar-tancep.com/

http://karepe.com/

https://www.goodreads.com/

https://filmbukuirma.wordpress.com/

download

  • KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Dalam review yang kamu tulis, sertakan kelebihan dan kekurangan menurutmu. Tak perlu khawatir bahwa kamu tidak tahu banyak soal hal teknis (misal sinematografi, akting dll).

Menulis review sama halnya dengan menulis dalam genre yang lain. Menulislah dari yang kamu tahu. Artinya, kalau tidak paham teknis, ya gapapa, ga usah maksa juga.

Kamu juga boleh menuliskan perasaanmu ketika menonton film atau membaca buku yang di-review itu. Sentuhan personal touch seperti ini boleh jadi malah membuat tulisanmu jadi lebih greget, sebab ada luapan emosi di sana. Dan siapapun itu, selama mereka manusia, dipastikan akan selalu senang dengan drama oh drama dalam kehidupan.

Betul apa betul?

Salah satu orang yang senang me-review dengan cara seperti ini adalah Stephany atau Teppy, nama bekennya. Mbak ini terkenal setelah review nya dari film Ayat-Ayat Cinta 2 banyak dibaca orang di jagat internet. Meski tak semua orang suka dengan gaya Teppy yang, sesuai dengan tagline-nya “Review suka-suka”, saya pribadi ngefans sama Mbak Teppy. Sebab gayanya khas dan tulisannya jujur.

berikut tautannya:

Movie Review Suka-Suka

hqdefault.jpg

Yap, menulis (apapun genre-nya) memang harus jujur, Bapak dan Ibu. Sebab menulis itu erat kaitannya dengan hati. Sesuatu yang disampaikan dari hati, pasti nyampenya ke hati lagi.

#etdaaah

Demikianlah tulisan yang tidak lengkap ini, semoga bisa membantu teman-teman yang besok akan menulis review buku.

Verba Volent, Scripta Manent

“Yang Terucap akan menguap, yang tertulis akan abadi”

word count : 747

Posted in english, Family, Film, humaniora, Keseharian

Chef (2014) It’s About Finding Yourself


Chef (2014) starred and directed by John Favreau is a kind of movie that made you feel nothing at first, then suddenly you rethought about it and got new perspective.

Carl Casper (Jon Favreau) was a chef working in a big restaurant owned by Riva (Dustin Hoffman). He was a good chef, had a brilliant teammates with only one problem, he kept cooking the same dish for the last ten years. When a famous food critic came one day to taste his dish (played nicely by Oliver Platt), Casper had planned to cook something different, something hilarious to impress the critic (whom had a really famous blog). As predicted, his plan could not run since Riva insisted to have him cooking the same menu. Casper gone mad, and after a series of dramatic events (including humiliation in social media), he quit his job and found his passion by selling food on a food truck while mending his relationship with his only child, Percy (Emjay Anthony).

When I finished watching this movie (which was about a month a go), I was pretty impressed. I love the story, love the acting, and especially love the food displayed in the movie haha. I wasn’t over thinking of this movie, this was just another pop-corn movie to fill one of my days beside working and raising the children.

But then, it came differently, when one day I had a (rather) serious talk with my husband. He asked on what I really want with my life (a.k.a carrier). I just knew that somehow the question was more difficult to answer simply because I didn’t really know exactly what I want. Yes, I am working, in an English Course with good fee and lots opportunities to develop my skills. Yes, I like to write and I sometimes wrote some articles just for fun, just to express myself to the world. But what did I really want?

Then I remembered the film. I remembered how Casper was actually finding what he really wanted after he quit his job. He found his happiness by selling food on a truck across the country roads. As simple as that.

Lots of people, and I do mean, numerous of people still don’t know what they really want. We’re like robots. We go to school, get a degree then work. Get married, paying the bills, go to work everyday, paying the bills, raising children. An never ending cycle.

I don’t mean that is wrong. There is nothing wrong with it. Million of people are doing it.

But have we get what we really want?

Like, when you are sitting there, behind your desk, working on your files while updating your statuses on social media. Is that what you really want? Or is it to be out there, traveling to places, reporting your ‘real’ statuses from different areas on this planet that you really want?

Aren’t we tired to live like this, everyday? Don’t we want to do something different? Something crazy? Well, I don’t know, be a backpacker probably? Or stop working and writing (like a full writer) at home?

I  confused with my husband’s question for couple of days. My mind stuck.

I have a university degree, I am not stupid, and I love working. But what have I reached?

I have four adorable children, a really great husband and I love spending time with them. But what have I done with them?

My husband reminded me again of the comfort zone I have made around myself. Like, this life has stopped. I am thirty-ish, married, working mother, that’s it. He asked me whether I have satisfied with myself or was there any dream that I still want to pursue? Dreams that I have forgotten?

Then, all of sudden, one of my friend wrote something on his blog that was an illumination for me. Totally a rennaisance. 😀

Life doesn’t stop just because you’re married, you are over thirty and you don’t have anywhere else to go. Life offers you many chances, it is you who decide which path, which opportunity you choose.

Now, like Jon Favreau in Chef, I am standing on my feet now, ready to take my own chances against this world. Well, I don’t have to quit my job (at least not yet) or having a row with boss like Favreau, but I have made up my mind to pursue the dreams. My dreams.

Just because life is about finding yourself.

Oh God, this is sooo curhat :p

Posted in Artikel Kompasiana, Film

The Raid 2 Berandal; Boleh suka (Atau Tidak), Tapi Ini Film Bagus


Turunkan ekspektasi, enjoy … itu saran saya jika Anda ingin menonton film ini dengan puas.

Lupakan soal kekuatan cerita, lupakan beberapa plot hole, lupakan masih ribetnya Iko Uwais melafalkan dialog (yang kadang kurang terdengar) atau susahnya Yayan Ruhian beradegan drama. Bukan itu jualannya. The Raid 2 Berandal hanya soal action, action, and action.

Cerita masih melanjutkan perjalanan Rama (Iko Uwais) sebagai salah satu anggota kepolisian. Kali ini ia ditugaskan untuk menyamar masuk ke sindikat para mafia, untuk mengungkap keterlibatan polisi yang menjadi back-up geng mafia tersebut. Tugas yang sangat berat; sekali lagi Rama harus meninggalkan istri dan anaknya yang masih cilik. Jika Anda menyaksikan The Raid 1, Anda pasti ingat bahwa saat itu istri masih dalam kondisi hamil ketika Rama tinggalkan. Adegan ketika Rama berpamitan pada istri untuk sebuah tugas mustahil yang entah sampai kapan selesainya, cukup mengharukan, bukan karena akting Iko (yang, maaf, biasa saja) tapi justru adegan Henky Sulaiman (ayah Rama) yang menatap sedih pasangan muda tersebut sambil menggendong cucunya.

Misi Rama kali ini boleh dibilang misi bunuh diri, karena tidak ada seorangpun yang tahu mengenai misinya, kecuali Bunawar (Cok Simbara), seorang petinggi di kepolisian. Tak ayal ini mengingatkan saya pada saat John Travolta setuju untuk melakoni operasi Face-off untuk “memerankan” Nicholas Cage, tanpa ada yang tahu kecuali Bos dan dokternya.

Sejak misi Rama dimulai, penonton akan disuguhi berbagai adegan pertarungan yang dahsyat. Adegan perkelahian di penjara termasuk yang diramu apik. Terlihat sekali semua orang yang terlibat bukan jenis figuran yang hanya kena “pukulan kosong” macam sinetron, melainkan para petarung, atau minimal yang pernah mendapat pelatihan bela diri.

Memang ada beberapa adegan yang kurang masuk akal. Seperti, suasana penjara yang “luar negeri banget”, karena rasanya di Indonesia tak ada kamar sel yang di dalamnya ada toilet duduk. Salju yang tiba-tiba turun tidak jelas, juga menjadi bahan tertawaan penonton. Bayangkan, Indonesia tiba-tiba bersalju, sangat tidak mungkin. Namun, saya pikir, dari awal film, tidak pernah disebutkan eksplisit “Jakarta”, melainkan hanya “kota ini” saja. Meski di salah satu situs informasi film, disebutkan Jakarta sebagai lokasi dimana cerita terjadi. Yah, harus kita sadari bahwa sang Sutradara adalah bukan orang Indonesia. Mungkin Gareth Evans menganggap, suasana akan lebih dramatis jika disertai turunnya salju. Sama seperti ketika menontonMerantau, ada adegan Iko menelepon Ibundanya di kampung memakai telepon umum di sebuah phone booth yang warnanya merah macam di Inggris. Semua orang Indonesia rasanya tahu tidak ada ceritanya bisa menelepon interlokal di telepon umum yang pake koin. Eh, atau sekarang bisa? :p

Dialog juga hal yang (mungkin) tidak terlalu diutamakan oleh Evans. Pengucapan “loe”, “kamu”, “saya” semuanya campur aduk, kadang tidak terlalu jelas. Hingga, jika tidak jeli memerhatikan, bisa jadi penonton akan dibuat bingung dengan alur cerita. Bayangkan saja seorang Cok Simbara mengucapkan kalimat seperti, “Saya pengen loe cari tahu …”

Iko, yang memang pada dasarnya (menurut saya) berakting datar, di sini sering tidak jelas mengucapkan dialog, meski jika dibandingkan dengan The Raid 1, sudah menunjukkan peningkatan kualitas. Hal yang lebih berat dihadapi oleh Yayan “Mad Dog” Ruhian. Di sini kang Yayan diberi porsi dialog yang cukup banyak, plus menunjukkan banyak emosi, sebagai seorang pembunuh bayaran yang terpaksa meninggalkan anak dan istri yang ia cintai. Secara penampilan, Kang Yayan pas sekali berperan sebagai pembunuh bersenjatakan golok panjang (machete), berpembawaan dingin, tanpa emosi. Tapi setiap kali ia mengucapkan dialog, saya tak tahan untuk tidak menowel suami di sebelah saya, karena kami sama-sama sepakat; wajah kang Yayan langsung berubah baik hati setiap kali ngomong (hehe).

Akting Arifin Putra adalah yang paling bersinar di sini. Saya hanya sekilas tahu mengenai Ipin (kabarnya, itu panggilan akrab sang aktor), maka saya agak tercengang juga melihatnya di sini. He is good ! ^_^; Ipin berperan sebagai Uco, anak salah satu Mafia (ada beberapa kelompok di sini) yang galau karena merasa tidak cukup bagus untuk diberi kepercayaan oleh ayahnya (diperankan secara apik, oleh Tio Pakusadewo). Ada adegan ketika Uco mesti “menghukum” beberapa orang untuk memenangi kepercayaan Bejo (Alex Abbad), yang membuat saya terpaksa agak menelan ludah dan sedikit menutup wajah. Jika Anda sudah menonton, Anda pasti tahu adegan yang mana.

Selain Iko dan Kang Yayan yang sudah orang kenal sebelumnya, ada pula tiga villainyang mencuri perhatian di film ini. Yang pertama, ada Julie Estelle, yang berperan sebagai Hammer Girl, dijuluki begitu karena ia menghabisi lawan-lawannya menggunakan palu. Lucu juga, ketika melihat Julie mengeluarkan palu dari dalam tasnya yang trendi. Bayangkan saja, cewek lain mungkin bawa tas kosmetik atau majalah, lah ini palu :p

Kemampuan Julie untuk bertarung membuat saya kagum. Kabarnya, Julie Estelle harus rela digembleng selama beberapa bulan, dan Julie sebelumnya tidak punya kemampuan bela diri sama sekali. Jadi, ketika Julie dengan ganas membabat lawan-lawannya (pake rok pula), ituu hebat banget.

The Hammer Girl punya kakak, yaitu The Baseball Bat Man. Ia bersenjatakan tongkat baseball (dan bolanya). Wajahnya innocent, tinggi tubuhnya biasa saja, tapi kalau dia sudah menghantamkan tongkat baseballnya ke Anda, waah tamat deh. Dari dua karakter ini, nampaknya Gareth Evans mengikuti formula komik, memberi nama dan menciptakan karakter villain, lengkap dengan senjata andalannya masing-masing. The Baseball Bat Man ini, selain lincah, juga sukses menampilkan ekspresi pembunuh yang acuh tak acuh. Dibandingkan dengan Agung Hercules aja, masih lebih serem Agung Hercules. Tapi tunggu sampai dia memukul bolanya, pasti dia akan menatap Anda sambil mengatakan,

“Siniin bolanya …” *

*quote-favorit-saya 🙂

Tokoh ketiga, adalah The Assassin yang tak  pernah ngomong sama sekali tapi coolabis. Ada adegan pertarungan Iko dan The Assassin di dapur yang kabarnya sudah ada di benak Gareth Evans jauh sebelum The Raid 1 dibuat. Ini adegan yang amat sangat langka. Kita bisa menyaksikan pertarungan silat jarak dekat yang memukau.The Assassin menggunakan sepasang senjata bernama Karimbit (saya diberi tahu seorang teman, itulah namanya), berbentuk sabit kecil di kedua tangannya.

Siapakah The Assassin yang keren bin jagoan itu? Namanya Cecep Arif Rahman, seorang pendekar silat asal Garut yang sehari-hari berprofesi sebagai Guru SD. Bersama Iko Uwais, Yayan Ruhian, dan Very Tri Yulisman (The Baseball Bat Man), Cecep sudah sering melanglang buana memperkenalkan silat kepada dunia.

Ada beberapa gimmick yang cukup berhasil membuat penonton tertawa, atau minimal tersenyum setelah sebelumnya dibuat tegang dengan bak-bik-buk sana sini. Epy Kusnandar, yang meski tampil sebentar, cukup mengesankan, sebagai bos film porno yang wajib menyerahkan upeti pada Uco. Bayangkan saja, Epi yang bertubuh ceking mesti rela dikejar, digebuki Iko sampai mesti menghantamkan tubuhnya ke kaca hingga pecah berkeping-keping (kacanya, maksudnya, bukan Epy). Selain terkesan dengan Epy yang mau beradegan action, ada satu hal lagi yang nampaknya akan selalu melekat pada sosok Epy di mata saya; dia cocok jadi pervert 😀

Selain mereka di atas, film ini juga diperkuat oleh beberapa aktor senior yang tidak diragukan lagi kualitas aktingnya. Sebut saja Tio Pakusadewo, Roy Martin, Cok Simbara hingga Pong Hardjatmo. Meski diantara semuanya, saya tetep ngefans sama Tio Pakusadewo, yang berperan sebagai ayah Uco (Arifin Putra), sebagai Ketua Mafia, yang penuh perhitungan.

Terlepas dari berbagai tanggapan masyarakat mengenai film ini, saya secara pribadi menilai film ini keren. Jarang sekali saya melihat pertarungan yang ditata secara apik (koreografi pertarungan semuanya dikerjakan oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhian) dan indah. Dari film ini, masyarakat dunia bisa mengenal Silat sebagai salah satu (dari sekian banyak) seni bela diri yang dimiliki Indonesia.

Yah, mungkin ada yang berpendapat ini film terlalu sadis, dan dikhawatirkan akan membuat citra Indonesia menjadi jelek di mata masyarakat Indonesia. Saya pikir, ini pendapat yang terlalu dini. Rasanya para penyuka film rata-rata sudah mafhum bahwa film sejatinya adalah dramatisasi dari kondisi riil. Tidak usah takut para bule di luar sana akan mencap penduduk Indonesia sebagai bangsa yang brutal dan senang kekerasan hanya gara-gara film ini. Tenang saja, di sini banyak kok para ekspatriat yang bekerja di berbagai sektor di negara kita, dan mereka oke-oke saja dengan kita di sini.

Menurut saya, yang lebih bahaya justru film macam Pocong yang berjilid-jilid itu, segala film horor semi porno tidak jelas yang (anehnya) tidak pernah dikhawatirkan akan merusak citra kita di mata orang asing. Padahal, jangankan orang asing, masyarakat kita sendiri saja sudah sangat “teracuni” dengan film-film model begitu.

Saya tidak bilang kalau The Raid 2 film sempurna. Saya sudah sajikan beberapaplothole yang mengganggu di atas. Hal lainnya yang perlu diwaspadai mengenai film ini adalah tingkat kesadisan yang tinggi. Maka, saya menyambut positif jika pihak bioskop memberlakukan KTP sebagai syarat untuk menontonnya. Sangat TIDAK DIREKOMENDASIKAN untuk anak di bawah umur, apapun alasannya. Juga untuk orang-orang yang tidak kuat atau tidak biasa menonton film-film gore. Kalau Anda termasuk yang suka dengan karya-karya Quentin Tarantino yang biasanya berlumuran darah sana-sini, maka saya rasa Anda aman.

So, selamat menonton (atau tidak) , silakan menyukainya (atau tidak), semuanya sah-sah saja.

“Malam ini gratis aja pak,” (another quote).

Salam 🙂

Posted in 30 Hari Menulis di Bulan Juni 2014, Film

#30HariMenulis, 25th Day – Berlian Si Etty, A Review (It may contain Spoiler)


Nurbaeti atau “Etty” adalah seorang perempuan muda pekerja keras. Berangkat dari keluarga kelas menengah di Bandung, dengan latar belakang kedua orangtua PNS, Etty bertekad menaklukan kota Jakarta.

 

Awalnya Etty bekerja di Bandung namun karena prestasinya sebagai seorang Top Sales, Bosnya kemudian mempromosikan Etty untuk pindah ke kantor Jakarta. Merasa senang dan excited akan prospek hidup di Jakarta tidak serta merta membuat jalan Etty mulus. Kedua orangtuanya meminta Etty untuk menikah dulu sebelum pindah ke Jakarta. Sebuah permintaan sederhana dari orangtua yang ingin ‘tenang’ melepas anak kesayangannya merantau. Etty, yang asalnya bingung karena merasa tidak memiliki calon suami, akhirnya bernafas lega karena Ricky, sahabatnya sedari dulu, bersedia menikahinya.

 

Dari sinilah perjalanan hidup dua insan muda ini dimulai. Dengan jenjang karir yang baru saja dipijak, dan perjuangan hidup yang harus mereka lalui dengan kondisi pas-pasan – mengontrak rumah dalam gang dan memiliki tetangga bawel – mereka tetap semangat menjawab tantangan hidup di Ibukota. Pekerjaan Ricky yang baru mulai dan karir Etty yang mulai cemerlang ternyata tidak selamanya. Etty harus menghadapi kenyataan dikhianati oleh sahabatnya sendiri yang menyebabkan ia harus rela kehilangan pekerjaan di saat sedang hamil tua.

 

Begitulah, singkatnya cerita yang disodorkan oleh “Berlian Si Etty”, film produksi Motekkar Image, tahun 2013. Fitri Tropika didaulat untuk memerankan Etty, si gadis ceria pekerja keras, dan Yogi Finanda sebagai Ricky, suami sekaligus sahabat Etty.

 

Jujur, dari awal film hingga ke menit 20-an, saya merasa ini film agak datar. Alur film berjalan agak lambat dan beberapa perpindahan adegan masih kurang mulus. Adegan ketika Etty sedang mengobrol dengan rekan-rekannya di Jakarta, kemudian flashback ke masa kecilnya di Bandung (lucu banget :p), dan kembali lagi ke masa kini, agak terlalu cepat. Soal watak Etty yang pekerja keras dan kreatif berhasil terwakili dengan diperlihatkannya adegan Etty kecil yang tidak pernah mendapat uang jajan dari sang Ibu, melainkan dibekali kue dadar gulung. Etty kecil kemudian menjual bekal makanannya ke teman-teman sekelas hingga mendapat untung.

 

Hal yang sama tidak berlaku dengan pola hubungan Etty dan Ricky. Di masa remaja, diperlihatkan bagaimana Ricky mendatangi konser musik yang diselenggarakan Etty. Namun, ketika Ricky kemudian menyatakan ketertarikannya pada Etty karena mereka berdua sudah berteman lama, kok saya merasa penggambaran adegannya jadi kurang. Mungkin perlu ditambahkan lagi satu atau dua adegan yang bisa membuat penonton yakin bahwa Etty dan Ricky memang sahabatan dari kecil, dalam suka maupun duka. Ini karena saya selalu merasa untuk bisa berhasil, tokoh dalam sebuah cerita wajib dicintai oleh penonton. Dan penonton akan mampu mencintai sang tokoh jika emosi yang terlibat digali secara maksimal. Apalagi Ricky dan Etty berangkat dari sebuah hubungan platonis yang berujung ke hubungan asmara.

 

Dari pertengahan film hingga ke akhir, akhirnya saya harus mengubah pendapat saya. Film ini agak datar, tapi begitu natural. Saya terbawa sedih ketika Etty harus menerima kenyataan ia dipecat Bosnya, karena pengkhianatan sahabatnya sendiri. Kondisi Etty yang hamil tua dan mulai mengemasi barang-barang di mejanya untuk kemudian pulang sungguh sangat membuat patah hati. Etty kemudian pulang bersama Ricky ke Bandung, disambut ayah ibunya (yang nyunda sekali). Saya ikut ngenes ketika menyaksikan beratnya Etty dan Ricky mengabulkan permintaan kedua orangtua Etty untuk membuat selamatan aqiqah anak pertama mereka. Di saat Etty baru dipecat dan kondisi keuangan mereka pas-pasan, permintaan seperti itu tentu membuat hati ngeper, namun toh anak mana yang tega menolak permintaan orangtuanya yang disampaikan dengan mata berbinar-binar? Pun ketika Ricky marah pada Etty karena Etty tak jua mau berterus terang pada orangtuanya bahwa ia sudah tidak punya lagi pekerjaan.

 

Dimas Adipratama, sang Sutradara, menyuguhkan cerita si Etty tanpa banyak bumbu dan dramatisasi sinetron. Kekurangan sana sini mampu tertutupi dengan kesederhanaan yang cukup memikat. Lela Mukhtar, sebagai penulis naskah, nampaknya memang ingin menonjolkan realitas sebagai premis dari film ini. Pasangan muda yang baru menikah, kondisi keuangan yang masih belum stabil, keinginan membuat orangtua bangga dan suka duka ibu bekerja sambil mengasuh bayi, adalah sesuatu yang saya pikir dihadapi oleh hampir semua orang di negeri ini. Terkecuali orang-orang yang sudah terlahir sebagai anak orang kaya, saya kira semua orang pasti harus menghadapi dan melewati berbagai kesulitan hidup sebelum akhirnya berhasil.

 

Kejujuran, kesetiaan dan bekerja keras adalah tiga hal penting dalam hidup yang coba disampaikan “Berlian Si Etty”. Meski di awal film, ditunjukkan bagaimana Ricky berjanji pada Etty untuk memberinya berlian sungguhan ketika sudah mampu, saya pikir kata “berlian” di sini dimaksudkan sebagai metafora ketiga hal tersebut. Berlian yang Etty dapat tidak selalu berarti sesuatu yang berharga secara nominal, namun nilai-nilai kehidupan yang bisa membawanya kembali ke jalur yang benar. Adegan Etty minum es teh bersama Bapak tukang sapu jalanan, juga berhasil menyelipkan amanat religi, bahwa segala sesuatu harus yakin pada Tuhan, yang selalu akan memberikan jalan terbaik.

 

Fitri Tropika, pantas masuk nominasi sebagai pemeran wanita terbaik di ajang Indonesian Movie Award beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang konyol dan lebay, yang biasanya kita saksikan setiap hari berubah total, menjadi seorang Etty yang cerdas, ceria dan kadang terlalu polos. Sayangnya, Fitrop bersinar sendirian. Yogi Finanda, kurang berhasil mengimbangi akting Fitrop, sebagai Ricky. Yogi cenderung datar dan terkesan sebagai pemanis saja.

 

Secara keseluruhan, saya rasa film ini berhasil menyampaikan apa yang ingin disampaikannya. Hidup memang sulit, jalan yang ditempuh terkadang terjal dan berbatu, namun jika diiringi dengan niat tulus dan usaha maksimal, keberhasilanlah yang akan didapat.

 

 

saya ucapkan selamat kepada Lela Mukhtar sebagai penulis naskah dan produser film ini, yang juga teman masa kuliah saya 😀

Saya tunggu karya-karya Lela berikutnya, semoga lebih baik dan lebih berkualitas lagi.

 

……