Posted in 30 Hari Menulis 2018, humaniora, Sosial Issues

HOAKS MEMBINASAKAN AKAL


Suatu kali saya melihat seorang kawan di timeline membagikan foto Jean Claude Van Damme dengan tulisan,

“Subhanallah, Van Damme telah menjadi mualaf dan memeluk agama Islam!”

Saya agak heran melihat gambar tersebut, sebab belum pernah mendengarnya. Kebetulan Van Damme adalah aktor kesayangan zaman kecil, lewat filmnya Bloodsport.

 

jcvddubai.jpg

sumber gambar di klik

 

Akhirnya saya coba telusuri laman demi laman berita (terima kasih, ya Allah atas ciptaanmu, Internet), mencari kebenaran kabar ini. Hasilnya, Van Damme tidak masuk Islam, namun menunjukkan ketertarikannya pada Islam. Van Damme bahkan memuji pola hidup Rasulullah yang ia anggap sangat sehat.

Saya menyumbang komentar terhadap status si teman tersebut.

“Maaf Mbak, ini hoaks … saya tidak menemukannya di laman manapun bla bla bla …”

Serta merta “seembak” itu kemudian membalas,

“Jika ini tidak benar, maka ini adalah doa saya, semoga ia mendapat hidayah.”
Saya waktu itu terdiam cukup lama, sebab tak yakin; sebetulnya kebodohan ada di pihak yang mana sih; saya atau dia.

*berpikir

images.jpg

sumber gambar di klik

 

Di lain waktu, di sebuah grup orangtua murid (ga usah kepo ya, anak saya 4, semuanya ada grup orangtua murid hehe), salah satu orangtua (pastinya), membagikan kabar soal bahan-bahan makanan yang ditenggarai HARAM. Lucunya, daftar tersebut tidak dikeluarkan oleh MUI, melainkan sebuah pondok pesantren di Jawa Timur. Mungkin teman-teman juga sudah pernah mendapat brodkes semacam ini.

Saya browsing lagi, dong. Saya mah gitu orangnya. Terserah deh mau dicap “sok pinter” atau “hayang kapeunteun” (pengen dipuji) juga. Interpretasi bebas, toh semua orang bertanggungjawab dengan semua lintasan hati, lisan dan perbuatannya masing-masing.

Hasilnya, tentu tak ditemukan sodara-sodaraku sebangsa dan setanah air. Bahkan, pesantren yang dimaksud, sudah memberikan klarifikasi bahwa mereka tak pernah mengeluarkan daftar apapun.

Baique.

Mirip dengan Mbak yang menyebarkan kabar soal Van Damme mualaf, Bapak-bapak (duh, keceplosan) orangtua murid itu juga menjawab dengan kalimat,

“Kalau memang kabar ini tidak benar, sikap waro (kehati-hatian) tetap harus kita jaga”.

images (1).jpg

(beginilah kira-kira ekspresi julid saya, sumber gambar di klik )

 

Sungguh, saya sering tidak paham soal ini. Mengapa orang gampang sekali membagikan kabar yang belum tentu kebenarannya, kemudian tanpa merasa berdosa lempeng dan woles saja dengan hal tersebut.

Saya termasuk orang yang sangat rewel, baik di grup whassap maupun di media sosial lainnya. Sebab saya tidak suka dengan orang yang tidak suka membaca tapi suka membagikan kabar tidak jelas. Saya tidak suka orang gontok-gontokkan ga jelas, tanpa data dan hanya berbekal copy paste (entah dari status siapa, sumber dan sanadnya sudah tak jelas). Jadi kalau beradu argumen, dia akan mengeluarkan rentetan tulisan panjang, entah punya siapa, yang pasti bukan dia yang nulis. Nanti kalau merasa terpojok, ia akan pakai strategi ad hominem, menyerang secara personal.

Di atas semuanya, saya hanya ingin semua orang mulai banyak membaca, meningkatkan literasi diri. Salah satunya dengan rajin mengecek setiap kabar dengan browsing di internet. Tidak lama, paling hanya 5 menit. Lebih lama main “Candy Crush” sampai level 2000-an keleus.

Jika tak suka baca dan malas ngecek, ya ndak usah di-share. Nanti menyesatkan orang. Kok pemahaman sesederhana itu susah dicerna sih, herman saya.

Kemudian, ketika kebetulan (mungkin ga sengaja) membagikan kabar tak jelas, ya akui saja. Toh sama-sama manusia. Katakan maaf. Kita selalu berkoar-koar, betapa pentingnya anak-anak untuk mampu mengucapkan ‘maaf’, “tolong” dan “terima kasih,” sebab itu adalah etika yang bagus, akhlak yang terpuji. Anehnya, banyak orang dewasa (dan orangtua) susah mengucapkan ini.

Herman lagi saya.

Sepertinya aturan ini berlaku hanya untuk anak kecil. Kasihan. Kecil-kecil sudah jadi tempat sampah orangtuanya.

Sebelum pilkada tempo hari, kerewelan saya agak melambat. Bukan apa-apa, lama-lama lelah juga harus beradu argumen dengan orang. Plus, saya selalu ketiban anggapan miring, yang suka bikin sedih.

Dianggap pro-Jokowi lah, dikatakan tidak cinta Islam lah, dibilang liberal lah (ini yang paling sering). Padahal, orang-orang terdekat sudah paham betul saya seperti apa orangnya. Semua yang saya rasa ganjil, akan saya katakan, siapapun itu, memakai lambang dan atribut apapun.

download (1).jpg

(sumber gambar di klik )

 

Tapi, sudahlah. Katanya tidak usah capek-capek menerangkan kepada semua orang tentang kita, ya kan, sebab yang menyukai kita tak butuh itu, dan yang membenci kita tak akan percaya. Ngomong-ngomong, ini kata-kata sahabat Rasul, Ali bin Abi Thalib, loh. Belasan abad yang lalu, beliau sudah mengatakannya. Jauh sebelum google dan googling masuk ke dalam kamus resmi Bahasa Inggris.

Warbiayazak.

Jadi periode pra dan pasca pilkada kemarin, saya hiatus. Meski tetap mendiskusikan banyak hal dengan banyak teman dan sahabat hidup di rumah. Lucunya, setiap ada sesuatu yang ngeheitz, seorang atau dua orang teman akan mengirim pesan di kotak inbox.

“Mbak Irma, sudah denger/baca soal ini?”

Hihi, perhatian sekali.

Bukan tanpa risiko kerewelan saya ini. Banyak teman di dunia maya yang memutuskan, diriku-tak-layak-lagi-jadi-teman-mereka, hehe. Beberapa teman dunia nyata, jelas-jelas bersikap “beda” ketika bertemu muka. Bahkan ada yang terang-terangan membuang muka saat bertegur sapa.

Yah, gimana lagi atuh. Kita tidak dapat memaksa semua orang untuk suka dengan kita.

C’est la vie.

Seringkali, tiba-tiba ada pesan email yang meminta konfirmasi saya soal me-reset password. Nampaknya beberapa kali ada upaya untuk meretas email saya, entah untuk apa. Padahal isinya tidak jauh dari spam, jadwal mengajar dari kantor dan tagihan.

Ini tulisannya curhat banget ya, merasa dikasihani banget.

download (2).jpg

(sumber gambar di klik )

 

Ketahuilah teman-teman, bahwa media sosial memang ajang curhat dan pamer dan pencitraan. Kalau tidak, saya pasti sudah menuliskannya di buku diary unyu-unyu bergambar “My Little Pony” dan bergembok mungil. Situ kemana aja?

Anyway, kerewelan saya soal hoaks terakhir adalah tadi malam. Lengkapnya bisa dibaca di postingan sebelum ini (status Facebook). Intinya, ada kabar soal Erdogan, Presiden Turki. Ini mengenai kebijakannya yang baru. Dasar aja saya resek, browsing lagi. Ndak ada buu. Ada juga beritanya beda.

 

  • yang kepo boleh diintip postingannya di sini, postingan tanggal 29 Juni 2018

 

Saya coba tabayyun sama mbak yang buat statusnya, dan hasilnya nol. Tak hanya komentar-komentar saya dihapus, namun juga beliau dengan pedenya mengatakan bahwa (kurang lebih) meskipun sumber kabarnya seadanya, tak mengurangi rasa hormat dia pada Erdogan, plus harapan dia terhadap Bapak Presiden Turki tersebut.

Fiuuuh.

Memang kalau bicara soal Erdogan, saya sering merasa seperti berjalan di atas rumput sintetis jepang setelah hujan. Lembab dan tidak enak di telapak kaki, beda sama rumput alami. Krik krik.

Erdogan fansnya banyak, dan itu sangat saya pahami. Sudah begitu lama Turki menganut sistem sekuler, sehingga Erdogan yang berusaha mengembalikan nilai-nilai Islam yang sejati ke Turki, diacungi jempol oleh muslim Indonesia. Apalagi mengingat sejarah Turki yang pernah menjadi pusat peradaban dan kejayaan Islam.

Padahal, kalau mampu (dan mau) bersikap adil, di banyak laman berita, Erdogan sama dengan pemimpin dunia pada umumnya. Kebijakannya tak selalu diamini, keputusannya tak selamanya bebas kontroversi.

“Media kan dikuasai oleh barat, yang benci sama Islam!”

Duh, duh.

Jika yang Anda maksud itu hanya 2-5 media barat, mungkin. Tapi media itu banyak sekali. Banyak. Anda boleh baca paling tidak 5-7 artikel saja setiap hari, kemudian bandingkan. Ingat, artikelnya jangan dalam Bahasa Indonesia semua, dijamin beritanya mirip. Bacalah dalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya.

Ga bisa? Ya belajar atuh.

Mungkin Anda ingin menimpuk saya seketika, saat membaca kalimat di atas. Mungkin setelah ini beberapa (atau banyak) orang memutuskan tak ingin berteman dengan saya lagi. Ga papa. Tapi saya serius ketika mengatakan PENGUASAAN BAHASA ASING itu penting.

“Barang siapa mengetahui (menguasai) bahasa kaum tertentu, maka ia akan selamat dari tipu daya mereka”

Demikian pepatah Arab mengatakan.

Intinya, bukan masalah Erdogan, bukan masalah keberpihakan. Orang mau terus memercayai apa yang ia pegang juga silakan. Ini masalah literasi dan kebinasaan akal manusia. Otak cerdas yang Allah anugerahkan ini menjadi sia-sia sebab nafsu dan emosi kita melebihi kecepatan nalar. Apapun itu, meski memakai embel-embel “jihad” dan “dakwah”, kebohongan tetaplah sebuah kebohongan. Kabar hoaks adalah salah satunya.

Jika kita sudah sedemikian gampangnya menyebar kebohongan, akan kita sebut apa lagi diri kita ini?

Aib banyak, dosa segunung, nyebar kebohongan sering.

Eh, barangkali yang banyak dosa cuma saya aja, keleus.

Astaghfirullah …

 

Word count : 1247

 

 

 

 

 

 

Posted in 30 Hari Menulis 2018, menulis

Teknik Review (Ala-ala)


Tulisan ini dimaksudkan untuk menolong teman-teman yang masih bingung dengan tatacara penulisan review buku/film.

Kebetulan, hari kelima besok, di ajang #3oHariMenulis, temanya adalah menulis review buku (setelah sebelumnya review film di hari ketiga).

Review, jika dibahasa-indonesiakan, artinya kurang lebih “tinjauan”. Mengapa orang menulis Review? Sebab ia meninjau sebuah karya kemudian menuliskan pengalamannya, sekaligus memberikan rekomendasi bagi orang lain yang belum menonton atau membaca.

Apa saja sih, yang harus ada dalam sebuah review?

Secara umum, biasanya review memuat hal-hal di bawah ini:

  • DATA Film/buku

yang dimaksud data biasanya;

untuk buku: judul buku, tahun terbit dan penerbit, penulis (genre boleh dimasukkan juga).

untuk film : judul, tahun rilis, sutradara, pemain, genre.

Tentu soal data ini tidak baku, harus dimasukkan dalam bentuk DAFTAR, bisa juga dimasukkan ke dalam narasi. Saya pribadi, mendisiplinkan diri untuk selalu menulis data di awal, supaya tidak lupa saja.

Adapun bentuk yang dinarasikan, misalnya seperti ini:

“Film bertajuk Se7en besutan sutradara David Fincher ini, dirilis pada tahun 1995, dengan memasang Brad Pitt dan Morgan Freeman sebagai pemain utamanya.”

“Aroma Karsa, Buku ketujuh karya Dewi Lestari ini diterbitkan serentak di seluruh Indonesia pada bulan Januari 2018.”

*situs imdb.com termasuk situs yang paling sering dikunjungi orang untuk mencari data soal film

IMDB.jpg

  • PREMIS CERITA

Premis bisa diartikan sebagai ide pokok dari kisah. Apa sih inti ceritanya? Nah banyak orang yang mengartikan, premis maksudnya dengan membeberkan keseluruhan cerita yang ada dalam film/buku tersebut.

Padahal, tujuan review salah satunya adalah untuk merekomendasikan film/buku yang dimaksud. Jika keseluruhan cerita sudah dibeberkan, apa lagi dong yang mau ditonton?

Sebetulnya masalah ini agak bias sih, karena nyatanya, ada banyak orang yang biasa-biasa saja dengan spoiler, bahwa “Oh ceritanya begitu ya, tetep pengen nonton sih.”

Pun begitu, banyak sekali orang yang masih menikmati rasa deg-degan ketika menantikan film/buku tertentu. Jantung yang berdebar-debar karena menantikan kemenangan atau kekalahan jagoannya, atau mesam-mesem ketika nonton film romance. Maka spoiler nista durjana yang ditaburkan tanpa dosa, oleh banyak orang yang menulis review, semacam tamparan telak di pipi kanan dan kiri secara bersamaan.

#lebaaaay

oh ya, ngomong-ngomong, “spoiler” artinya bocoran kisah.

Jika kamu mau membuat review film/buku, dan ingin membocorkan sedikit (atau banyak) ceritanya, maka kamu bisa memberikan semacam warning di awal dengan kata-kata “Spoiler-alert” atau “Mengandung spoiler”. Sehingga siapapun yang membaca sudah siap dengan konsekuensi tersebut.

Seberapa banyak kisah yang boleh dibocorkan?

Nah ini, kembali ke soal premis tadi.

Ide pokok dan kisah cerita, adalah dua hal yang berbeda.

Ide pokok dalam kisah Si Doel Anak Sekolahan adalah bagaimana Si Doel sebagai anak orang kampung yang berada di garis kemiskinan bisa menjadi “orang”, bahkan seorang “tukang insinyur” yang dibanggakan enyak dan babe. Dalam perjalanan kisahnya, Doel akan menjalin kasih dengan Sarah, seorang anak orang kaya yang cantik dan baik hati. Kemudian nanti ada tokoh Zaenab, yang merupakan love-interest Doel dari kubu yang berbeda.

Persoalan bagaimana perjalanan cinta segitiga si Doel, dan kejutan-kejutan yang dialami dalam hidupnya, itu bisa disimpan dan tidak usah dibeberkan, apalagi ending cerita.

*mangap, contohnya jadul kek yang nulis, gapapa deh, yang penting ngangenin yekaaan, haseek*

Untuk tahu contoh-contoh review, teman-teman bisa membaca pelbagai contoh di internet. Meski memang tidak semua patuh dengan aturan no-spoiler ini.

beberapa situs penyedia review film dan buku:

http://layar-tancep.com/

http://karepe.com/

https://www.goodreads.com/

https://filmbukuirma.wordpress.com/

download

  • KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Dalam review yang kamu tulis, sertakan kelebihan dan kekurangan menurutmu. Tak perlu khawatir bahwa kamu tidak tahu banyak soal hal teknis (misal sinematografi, akting dll).

Menulis review sama halnya dengan menulis dalam genre yang lain. Menulislah dari yang kamu tahu. Artinya, kalau tidak paham teknis, ya gapapa, ga usah maksa juga.

Kamu juga boleh menuliskan perasaanmu ketika menonton film atau membaca buku yang di-review itu. Sentuhan personal touch seperti ini boleh jadi malah membuat tulisanmu jadi lebih greget, sebab ada luapan emosi di sana. Dan siapapun itu, selama mereka manusia, dipastikan akan selalu senang dengan drama oh drama dalam kehidupan.

Betul apa betul?

Salah satu orang yang senang me-review dengan cara seperti ini adalah Stephany atau Teppy, nama bekennya. Mbak ini terkenal setelah review nya dari film Ayat-Ayat Cinta 2 banyak dibaca orang di jagat internet. Meski tak semua orang suka dengan gaya Teppy yang, sesuai dengan tagline-nya “Review suka-suka”, saya pribadi ngefans sama Mbak Teppy. Sebab gayanya khas dan tulisannya jujur.

berikut tautannya:

Movie Review Suka-Suka

hqdefault.jpg

Yap, menulis (apapun genre-nya) memang harus jujur, Bapak dan Ibu. Sebab menulis itu erat kaitannya dengan hati. Sesuatu yang disampaikan dari hati, pasti nyampenya ke hati lagi.

#etdaaah

Demikianlah tulisan yang tidak lengkap ini, semoga bisa membantu teman-teman yang besok akan menulis review buku.

Verba Volent, Scripta Manent

“Yang Terucap akan menguap, yang tertulis akan abadi”

word count : 747

Posted in 30 Hari Menulis 2018, menulis

Menulis Curhat


Darimana datangnya ide?

Dulu, sebelum saya rutin menulis setiap hari, saya juga bingung. Harus kemana cari ide. Haruskah kutelaah dari sejuk tatap matamu sore itu? Halaaah.

Ternyata ide tidak pernah harus dicari, kawan. Ia seharusnya diciptakan.

Kita hidup 24 jam, setiap harinya, dengan begitu banyak hal yang terjadi; di dunia nyata maupun maya. Hati dan pikiran kita sebetulnya sibuk mengoceh setiap hari, mungkin bahkan setiap detiknya.

Buktinya, berkomentar atau menjelajahi dinding media sosial setiap hari, kita mampu. Menyalin kemudian membagikan joke retjeh maupun kabar burung (kadang hoaks *eh), kita bisa. Mengapa menulis, kita sering keteteran ya?

Aku sering kena writer’s block tauu

Iya, betul. Saya pun begitu. Sering tiba-tiba pikiran mandek, kemudian blank. Boro-boro mau nulis, memikirkannya saja saya tak mampu.

Kalau sudah begitu, saya biasanya tidak memaksa. Saya akan main game, membaca buku, menonton serial/film favorit atau apapun. Biasanya sih, ndilalah setelahnya ide-ide murudul bermunculan.

Gila, ini game Quiz Up bikin ketagihan banget sih, orang lain gitu juga ga ya?

Dan Brown di buku yang ini kok bikin bosen ya? Alurnya itu-itu wae.

Kenapaaa film nganu harus dibuat sekuelnya sih?

Dan demikianlah, biasanya saya jadi keasyikan memikirkan ide-ide baru dan memutuskan untuk menuliskannya (atau tidak). Bergantung pada waktu dan kepentingan.

Saya sering udah nulis panjang-panjang, eh taunya merasa, ini kok biasa banget ya? Orang keknya ga akan dapet manfaat juga.

Akhirnya saya istirahatkan tulisan ga jadi tersebut di folder, untuk kapan-kapan saya tengok lagi.

A writer who waits for ideas is not a writer, he is a waiter.

Frasa cantik nan bikin jleb ini, saya lihat pertamakali di status whassap seorang teman baru di komunitas menulis. Terngiang-ngiang terus kata-kata itu sampai hari ini. Malu deh, beneran.

Katanya pengen jadi penulis beneran, tapi kepengennya nunggu ide mulu. Nunggu tuh angkot, bus, mamang gojek, gajian.

Ini nunggu ide.

Sejak aktif mengirimkan tulisan ke beberapa media, saya juga jadi lebih rajin menjelajah situs-situs di internet yang super baik dan informatif (baik karena bisa memberikan apa yang saya mau, kayak kamuuuu). Gugling, gugling, gugling.

Jika ada yang bertanya, kok kamu seneng banget sih nulis?

Jawaban saya adalah:

Saya ingin mendidik banyak orang. Serius.

Orang-orang Indonesia ini luar biasa berbakat. Banyak yang pintar, cerdas. Kelemahan mereka adalah, kurang membaca dan malas melakukan penelitian. Jangan bayangkan penelitian ala professor Lang-Ling-Lung di laboratorium, dikelilingi banyak botol kaca mengepul mengeluarkan uap. Maksudnya, meneliti kebenaran suatu berita, mencari lebih jauh mengenai suatu kisah.

Makanya itulah, bangsa ini mudah sekali digoyang. Digoyang isu murahan dan jaran goyang.  Sedih tau saya ini.

Apalagi kalau tahu, kaum yang banyak tertipu ini berusia jauh lebih muda atau berpendidikan tinggi. Orang muda seharusnya memiliki kesempatan dan kemauan lebih besar untuk belajar. Orang dengan pendidikan tinggi sejatinya lebih bijak dengan segala keilmuannya.

Belum lagi, di era media sosial seperti sekarang, preferensi dan daya nalar semua orang terpampang nyata, tanpa fatamorgana melalui postingannya di sana, atau hanya lewat sepotong komentarnya.

Pagi ini, saya melihat meme Rocky Gerung dengan kata-kata;

“Orang-orang yang memiliki ijazah pendidikan tinggi, berarti mereka pernah sekolah, bukan berarti mereka pernah berpikir.”

*di luar masalah Rocky Gerung adalah tokoh yang kontroversial, saya tergelitik loh dengan ucapannya ini, enelan*

Jadi, demikianlah. Saya memandang, menulis sebagai sebuah counter-attack dan atau saringan terhadap isu apapun itu, yang perlu diluruskan. The least I can do.

Wew, awalnya apa ngalirnya kemana ini tulisan

Kembali ke premis awal, jika ingin konsisten menulis, sudah tak zamannya lagi menunggu ide, kemudian mengeluhkan writer’s block.

Sebab, setiap kali mengeluhkan hal ini, saya malah sadar bahwa ide tak ada karena saya kurang banyak membaca dan mungkin butuh hiburan. Writer’s block terjadi karena (lagi-lagi) saya kurang banyak baca dan malas.

There, I said it.

Cita-cita sih, memenuhi rak buku dengan buku karya sendiri, melihat buku sendiri dipajang di rak best seller, Gramedia. Tapinya malas, tapinya banyak alasan. Ah, sudahlah.

Paling tidak, membiasakan menulis tanpa harus menunggu datangnya ide. Itu saja dulu.

Memang kalo cuman nulis-nulis begini, curhat-curhat di status, dapet apa?

Mungkin, kalau kita belum bisa dapat uang, paling tidak tulisan kita bermanfaat. Siapa tahu jadi ada orang yang tercerahkan setelah membaca tulisan kita, asalnya tidak tahu jadi tahu. Siapa tahu ada yang sulit sekali membaca (karena satu dan lain hal) dan merasa terbantu dengan tulisan kita?

Saya ingin, suatu hari; meskipun saya sudah tiada, orang-orang masih bisa membaca tulisan-tulisan yang saya tinggalkan dan merasa mendapat manfaat.

What could be more beautiful than that?

 

Word count : 723

 

*untuk teman-teman yang kesulitan mendapatkan ide tulisan, beberapa tautan di bawah ini mungkin membantu

https://thinkwritten.com/365-creative-writing-prompts/

https://owlcation.com/humanities/101_writing_prompts

https://betterwordforlife.blogspot.com/2016/12/30-tema-tantangan-menulis.html

 

Posted in 30 Hari Menulis 2018, menulis

Tips Pedes Dua Karet


Day 2

Salam Literasi!

Sebagai admin kegiatan #30HariMenulis, saya agak terperanjat (apaan) dengan antusiasme peserta yang membeludak di hari pertama. Matahari masih mengintip di sela-sela ujung jari saja, tulisan sudah banyak yang nyetor.

recipient-clipart-pt_chart_18_clipart_pic.gif

Keren beud lah.

Sesuai janji, bahwa di pergelaran tahun ini akan ada semacam tambahan materi, maka tulisan ini dimaksudkan untuk membedah soal tulis-menulis. Bukan karena saya lebih paham, sungguh. Melainkan cukup rajin untuk mendokumentasikan apa-apa saja yang sekiranya bisa membantu mereka-mereka yang ingin bisa menulis dengan baik. Poin-poin yang saya masukkan di sini, dirangkum dari pelbagai sumber, pelatihan menulis, contoh-contoh dari para penulis yang sudah mumpuni, maupun pengalaman sendiri.

Bisa jadi hal-hal yang saya tuliskan di sini, kalian semua sudah tahu (terus apa gunanya? Hahaha).

Panjang bener intronya. Sabar yak.

Mulai deh.

  1. Jika kamu termasuk orang yang susah mendapatkan ide, bisa mencoba trik membuat kerangka karangan atau mind-mapping. Tulis dulu dari satu kata, kembangkan menjadi kata baru, kembangkan lagi, begitu seterusnya.

Contoh:

NONFIKSI

Mau nulis apa ya? Hmm … soal media sosial deh.

Medsos – Facebook – postingan – postingan apa – postingan viral – kenapa bisa viral – 5 alasan yang menyebabkan sebuah postingan bisa jadi viral, nomor 3 mengejutkan!

(yang terakhir itu bisa jadi tema/judul yang menarik)

Fotolia_66913476_S.jpg

FIKSI

Tema : romance

Tokoh : lelaki 25 tahun, perempuan 21 tahun

Plot : bertemu di sebuah perjalanan udara di pesawat saat terjadi turbulensi, menyangka mau mati, keduanya malah menceritakan semua rahasia hidup mereka

Konflik : saat selamat, dan kembali ke dunia nyata, dua-duanya sudah punya pasangan, padahal dua-duanya sudah saling jatuh cinta

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Sudah bukan zamannya lagi kita menunggu datangnya ide, sebab ada pepatah mengatakan,

A writer who waits for ideas, is not a writer, he is a waiter.

Jleb engga?

 

  1. Jangan sepelekan tanda baca dan ejaan.

Salah satu modal yang harus dimiliki penulis adalah menguasai bahasa yang ia gunakan (dalam hal ini Indonesia) dan menggunakannya dengan baik. Ejaan yang salah dan tanda baca yang kurang tepat bisa jadi yang membuat tulisanmu, gagal menjadi tulisan yang “renyah” dan jernih. Kecuali … tentu ada kecualinya. Untuk beberapa tulisan dengan gaya puitis, bersifat monolog, tanda baca seringkali menjadi sesuatu yang tidak begitu dipakai. Pun begitu, jika tulisanmu masih dalam ruang lingkup prosa, pakailah aturan yang benar. Rajin-rajin cek PUEBI (Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia).

Jangan malas.

nih, tak kasih tautannya

https://puebi.readthedocs.io/en/latest/

 

  1. Memakai DIKSI yang tepat.

Apa itu DIKSI? Diksi adalah pemilihan kata. Mungkin ada jutaan kata yang kita tahu, berseliweran di otak kita, dalam pelbagai bahasa. Seorang penulis harus mampu memilih “kata yang mana” yang paling pas untuk disematkan dalam tulisan.

Contoh:

Untuk kata yang mendeskripsikan panca indera penglihatan, kita memiliki memandang, menatap, melihat, mengawasi, bersirobok, menengadah, menoleh, dst.

Peeking.jpg

Yang mana yang akan kita pilih? Tergantung efek seperti apa yang ingin kita hasilkan, dalam konteks apa yang akan kita gunakan.

Tak hanya soal konteks dan efek, DIKSI juga penting ketika berkaitan dengan pembaca. Siapakah pembaca kita? Jika kalangan umum, hindari pemakaian kata yang bersifat teknis, apalagi kata tertentu yang hanya kita dan Allah saja yang tahu (saking canggih dan uniknya). Ingat bahwa menulis artinya menyampaikan pesan kepada pembaca. Penulis harus memastikan pesan tersebut tersampaikan dengan baik.

 

  1. Jangan malas mengedit dan merevisi.

Salah satu mentor di kegiatan menulis yang pernah saya ikuti sering mengatakan bahwa ada dua macam “Jubah” yang kita pakai. Jubah pertama adalah “jubah penulis” dan yang kedua adalah “jubah editor”.

Saat menulis, total kita akan tenggelam dalam tulisan kita sendiri. Menautkan ratusan kata dan  menyemai makna. Setelah beres, lupakan bahwa kita yang barusan menulis itu. Segera berpura-pura lah menjadi editor, periksa kembali tulisan kita. Ejaannya, diksinya, maknanya, enak tidaknya. Jika mau lebih pancen oye, kenakan juga jubah pembaca, berpura-puralah menjadi pembaca, apa rasanya ketika membaca tulisan tersebut. Senangkah? Terhiburkah? B-ajah kah?

crazy-writer.png

Ini tentu bukan sesuatu yang gampang untuk dilakukan. Kuncinya adalah jujur pada diri sendiri dan jangan pernah merasa puas dengan hasil tulisan kita.

 

  1. “Membaca itu mengisi, dan menulis itu menuang”

Demikian kata salah satu mentor menulis, yang susah saya lupakan saking kerennya ujaran ini.

Bagaimana mau menuang, kalau isinya tidak ada?

Ini saya kira, berlaku untuk fiksi maupun nonfiksi. Jika kamu membaca tulisan bagus, yang “enakeun” sekali untuk dibaca, atau membuatmu ingin berkata “uwow”;  percayalah bahwa sang penulis (biasanya) gemar membaca dan berpengetahuan luas.

download

Kamu pikir darimana datangnya pemilihan diksi yang tepat? Penyampaian fakta yang runut? Keahlian mempermainkan emosi pembaca, dan menggiring ke arah TWIST yang mengejutkan? Darimana datangnya?

Dari Hongkong?

*Lah kok malah emosi

download (2)

 

  1. Jangan alergi sama kritik.

Penulis yang alergi kritik, mending berhenti aja menulisnya (lah). Ini serius yes. Ajang menulis seperti #30HariMenulis ini, selain tujuannya membangun kebiasaan dan konsistensi menulis, juga untuk saling belajar satu sama lain.

download (1)

 

  1. Jangan batasi kreativitasmu hanya karena jumlah kata. Apa itu jumlah kata? 300? 500? 1000? Tak ada artinya, jika kamu sudah terbiasa menulis dan suka dengan dunia ini. Takut dengan jumlah kata sama artinya dengan meremehkan dirimu sendiri.

Apaan itu? CIH

 

  1. Berani menerima tantangan, berarti berani bertanggungjawab. Menulis secara konsisten selama 30 hari itu tidak berat, biasa saja. Menjadi berat, sebab kamu yang membuatnya berat. Menunggu ide lah, menunggu santai lah. Kebanyakan menunggu, sih. Padahal menunggu itu perbuatan yang sungguh tidak mengenakkan, kecuali menunggu kekasih atau tanggal gajian, sama-sama deg-degan dan penuh suka cita.

 

download (3)

Gimana, sudah terpacu untuk menulis lebih baik lagi? Kurang pedes ga? Karetnya udah dua nih.

Jangan patah semangat untuk mencerahkan dunia dengan tulisanmu, kawan.

Mimin tunggu yess.

Jangan banyak alasan lagi.

Jangan dikasih kendor!

 

Word count : 907