Posted in 30 Days Writing Challenge 11, Trip

Brussel : Cantik yang tidak butuh dirias


Kami tiba di Brussel sekitar lewat tengah hari. Angin kencang di Paris untungnya tidak mengikuti hingga ke sana. Temperatur udara masih di kisaran 15 derajat celcius, namun tidak semenyakitkan tamparan angin dingin di Paris.

SONY DSC

 

Memasuki gerbang kota, Atomium yang menjadi landmark kota Brussel terlihat menjulang. Sembilan buah bola baja yang terhubung saling sambung seakan mengucapkan selamat datang kepada para turis Indonesia yang baru pertamakali menginjakkan kaki di Belgia, negara kecil yang lokasinya berbatasan langsung dengan Prancis, Belanda, Jerman, dan Luxembourg.

Seturunnya dari bus wisata, kami tiba di sebuah lapangan besar. Orang Inggris menyebutnya Square, sementara lidah Italia menamainya Piazza. Lapangan besar ini disebut The Grand Place atau Grote Markt, berada di jantung kota Brussel. Ia dikelilingi bangunan-bangunan vintage nan anggun seperti istana. Bangunan-bangunan ini berfungsi diantaranya sebagai Balai Kota dan Museum kota Brussel.

11220811_10205560225497462_6695862601682823918_n

 

Saat kami berkunjung, sedang ada pameran bunga di tengah-tengah lapangan. Banyak orang hilir mudik, dari sekadar melihat-lihat sampai membeli. Saat itu pertengah bulan April, memasuki musim semi, sehingga kawasan Eropa menjadi cantik camperenik oleh banyaknya ribuan bunga yang tumbuh dimana-mana.

11174914_10205482551475660_5970538829414387944_n

Setelah puas memotret pelbagai bangunan dan bebungaan, saya melangkah ke jalan di samping The Grand Place. Namanya Jalan Charles Buls. Semacam gang yang cukup dilalui dua mobil bersisian. Saya tidak pernah pandai mengukur ruang, selalu hanya bisa sekadar membayangkan.

Di sisi sebelah kiri tempat saya berjalan, ada patung keemasan menempel di dinding. Patung dari kuningan ini adalah patung Everard t’Serclaes.

grand-place

Everard t’Serclaes, adalah patung lelaki yang sedang berbaring dengan ekpresi sedih. Ia dibuat untuk mengenang seorang penguasa dan pahlawan kota Brussel yang gugur pada tahun 1300-an.

Beberapa turis berkerumun di hadapannya, mereka mengusap-usap badan si patung. Ada apa gerangan?

Saya melihat dua orang, lelaki dan perempuan, sedang berbincang di depan patung. Kalau tidak salah tangkap, mereka sedang membicarakan patung tersebut.

“Mmh … excuse me,”

Si perempuan menangkap pandangan mata saya, kemudian menyenggol teman lelakinya.

Max, tu parle anglais, non?”

(Max, kamu kan yang bisa ngomong Inggris)

Wanita itu menyangka saya akan bertanya dengan Bahasa Inggris, oleh karenanya ia meminta rekannya yang menjawab.

Saya tersenyum.

It is time to practice the fossilized language, French.

Moi, je parle français, aussi.” Kata saya sambil tersenyum.

(saya bisa Bahasa Prancis juga kok)

“Aah …” matanya berbinar.

Ia kemudian menjelaskan, bahwa ada mitos yang mengatakan, jika Anda mengelus atau mengusap patung Everard t’Serclaes, maka suatu hari Anda akan kembali mengunjungi Brussel. Mitos yang mirip dengan tradisi membuang koin di Fontana de Trevi di Roma.

Setelah puas berbincang, saya ucapkan selamat tinggal dan meneruskan perjalanan menyusuri Charles Buls. Tak jauh dari patung tadi, saya menemukan patung lain, yang lebih terkenal di dunia.

11058716_10205482547755567_8503701198469554936_n

Patung Mannekin Pis berupa anak kecil yang sedang pipis berdiri di salah satu sudut jalan. Tingginya tidak sampai setengah meter, sehingga bagi turis yang baru melihatnya, mungkin akan sedikit kecewa, sebab sudah membayangkan versi yang lebih besar.

Di kiri kanan jalan, banyak took-toko souvenir khas Brussel dan … waffel! Belgian Waffle yang biasa saya lihat dijual di mall-mall seharga 20 ribuan, kini bisa saya nikmati secara langsung.

Jika mengusap patung tadi adalah mitos, berbeda halnya dengan Belgian waffle. Tekstur waffle nya sih mungkin mirip, tapi rasanya, jauh banget. Dengan hanya satu euro, saya bisa menikmati satu plain waffle atau chocolate waffle. Jika ingin ditambah topping macam-macam, harganya lebih mahal.

(sayang waffle tidak sempat saya foto, karena keburu habis dimakan hihihi)

Sambil menikmati waffle hangat di mulut, perjalanan kami diteruskan, menelusuri Brussel yang cenderung lebih sunyi dibanding kota-kota lain di Eropa.

Menyepi diantara hembusan angin musim semi yang sejuk seperti udara Lembang.

Brussel serupa gadis desa yang tidak perlu berias supaya dibilang cantik.

Sebab ia sudah cantik.

*catatan perjalanan – kronik Belgia*

 

#30DWCJilid11 #DAY1

 

Sumber gambar:

Atomium, diambil dari http://veryhungryexplorer.com/atomium-brussels/

Everard t’Serclaes, diambil dari https://www.tripadvisor.comGrand_Place-Brussels.

foto-foto lainnya – koleksi pribadi

 

 

 

 

 

 

 

Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, Trip

Hitler Pernah Tinggal di Linz


#traveling

#throwback

Suatu siang tak terlalu cerah, saya berjalan sendirian menyusuri kota Linz yang sepi. Sehari sebelumnya, kami mendarat di Vienna International Airport. Hanya sempat keliling selama dua jam saja di airport untuk kemudian menumpang kereta ke Linz, si kota kecil yang camperenik (=cantik) ini.

Suami meeting dari sepagian, sementara saya bosan menunggu di hotel. Belum bisa kemana-mana, sebab kami membawa serta Baim yang kala itu masih dua tahun dan dengan kondisi tidak fit.

Sekitar jam dua siang, suami pulang, dan langsung saya minta ijin untuk jalan-jalan santai. “Gapapa? Sendirian?” Tanyanya.

Gapapa, jawab saya. Yakin.

Sambil nyari kebab, saya menambahkan.

Berbekal jaket tipis dan syal di leher, saya menapaki jalanan kota Linz. Rok saya berkibar-kibar diterpa angin. Suhu sekitar 15 derajat. Brr …

Setelah belokan dari hotel, seorang lelaki berkulit gelap, berpeci tersenyum lebar dan berhenti di hadapan saya. Saya ikutan berhenti.

“Salamualaikum!” Katanya.

Saya jawab salamnya. Senang. Betapa sebuah sapaan penanda identitas menghampiri saya di kota ini, ribuan kilometer dari kampung halaman.

Bapak berpeci langsung nyerocos ngomong. Satupun saya tak paham.

I am sorry. I don’t speak German …” saya menangkupkan kedua tangan di depan dada.

Ia mengangguk dan tersenyum. Kami masing-masing melanjutkan perjalanan.

Saya menyimpan catatan dalam hati, suatu hari harus menyempatkan belajar bahasa Jerman. Sebab hati saya masih ingin kembali ke kota itu.

Saya berjalan jauh, melewati rumah-rumah dan bangunan-bangunan. Inginnya berjalan perlahan, menikmati pelbagai pemandangan sambil cekrek sana cekrek sini, apa daya 15 derajat celcius membuat kulit rasanya kisut hingga langkah lebih terpacu. Baru saya mengerti, kenapa semua orang Eropa rata-rata berjalan dengan sangat cepat. Mungkin hanya musim panas yang sanggup membuat pace mereka melambat.

Saya temukan sebuah taman kecil. Diantara dua bangunan tinggi. Aaah … luar biasa. Saat itu bulan April, musim semi baru saja dimulai. Bunga-bunga bermekaran dimana-mana. Dengan warna-warni yang tak pernah saya temukan di rumah.

Ada dua orang nenek sedang duduk mengobrol di bangku taman. Tergelitik saya ingin meminta tolong kepada mereka. Supaya bisa mengambil foto saya. Lumayan untuk bisa mejeng di Instagram.

Saya berdiri di hadapan mereka. Tersenyum dan mohon bantuan untuk mengambil foto saya. Sambil menyodorkan telepon seluler di tangan, tentu.

Mereka bengong sesaat. Duh, kendala bahasa ini bikin frustrasi. Saya ulangi permintaan saya disertai gesture.

Salah satu dari mereka menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

No! No photo! No English!”

Mukanya jadi jutek.

Ah, nek. Saya jadi patah hati. Urung sudah punya foto sendiri di taman yang bukan selfie.

Saya berjalan kembali. Sambil melihat-lihat barangkali ada orang lain yang bisa saya mintai tolong. Tak ada.

Akhirnya saya nikmati taman itu saja. Mungkin sesorean itu, dalam cuaca cukup dingin itu, hanya dua orang nenek yang asik bergosip dan seorang emak-emak Asia saja yang sanggup keluar rumah.

Saya tiba di sebuah jembatan kecil. Di bawahnya terbentang Danau Danube, yang disebut sebagai danau kedua terpanjang di Eropa. Ia melintasi tak kurang dari 10 negara.

Melihat Danube, mungkin seharusnya saya mengingat sungai Cikapundung atau Citarum di kampung halaman. Membandingkan betapa tenang dan bersihnya Danube, tanpa tumpukan sampah sisa-sisa keseharian manusia.

Alih-alih, melihat tenang dan jernihnya air, saya malah memikirkan Hitler.

Adolf Hitler lahir di Branau am Inn di daerah perbatasan Austria dan Hongaria. Kemudian ia pindah ke Linz dan menghabiskan masa kecil hingga remajanya di sana.

Selepas mengunjungi Linz, saya pernah menuliskan catatan perjalanan yang saya beri judul, “Linz, kota yang aromanya seperti rumah.”

Hingga hari ini, itulah yang terpatri dalam ingatan saya. Linz begitu tenang dan elegan. Orang-orangnya ramah meski tidak se someah orang Bandung.

Kota ini kecil, rapi, nyaman. Bikin betah untuk belajar dan membesarkan anak. Ia tidak hingar bingar seperti Paris, namun juga tidak senyap di atas maghrib seperti Wonosobo. Ia tenang, seperti perempuan usia awal 30 yang sudah melewati riuh rendah episode lulus kuliah, menikah, punya anak (Seksis banget ya saya).

Jadi, saat saya berdiri di jembatan kecil menatap Danube, saya tidak habis pikir. Mengapa Hitler, tinggal di kota senyaman ini, tumbuh menjadi pribadi yang begitu bengis hingga tega membantai jutaan jiwa?

Apa yang telah terjadi padanya?

Apakah ia korban bully di sekolah?

Apakah ia tipe lelaki yang cintanya selalu ditolak?

Apakah ia pernah dapat IPK kurang dari dua koma lima dan terancam DO?

Saya bisikkan semua pertanyaan saya ke Danau Danube yang terbentang jauh hingga ke Bucharest.

Kepada Christoph, rekan kerja suami di Linz, saya pernah bertanya,

You know that Hitler was once lived here, don’t you?

Christoph adalah warlok nya Linz. Warlok = warga lokal.

Yes, of course.” Jawabnya.

Namun kemudian ia menambahkan sambil mengedikkan bahu.

We’re not proud of it, really.”

Kasihan orang-orang Linz. Beruntunglah saya lahir di Cimahi, kota kelahirannya Sule yang selalu lucu dan disukai banyak orang.

Sangat tidak penting.

😅

Salam.

#30DWCJilid10 #Day6

Posted in Trip

Venesia, Sepatu Bata dan Pipis Satu Setengah Euro – Europe Trip – 5


Venesia – Roma – Venesia (lagi) – Pisa

*rute perjalanan di Italia*

Sekarang setidaknya ada tiga hal yang saya ketahui tentang orang-orang Italia. Pertama mereka ekspresif sekali ketika berbicara, pake gerakan tangan dan mata yang berbinar-binar. Kedua, entah karena kurang lahan atau rata-rata perawakan mereka tidak besar, kamar-kamar hotel mereka sempit, bikin agak susah bergerak. Tercatat kami menginap di tiga hotel di Italia; The Plaza di Venesia (dua malam), Holiday Inn di Roma (dua malam) dan satu hotel yang saya lupa namanya di kota Prato (semalam) ketika besoknya kami melintasi perbatasan negara menuju Swiss. Tapii, mungkin juga kelas kamar hotelnya sih, soalnya kami ga menginap di sekelas suite room hehe. Ketiga, mungkin karena keterbatasan mereka berbahasa asing, entah kenapa, semua (benar-benar semua) program TV termasuk film lepas yang diputer di-dubbing ke bahasa Italia. Jadi, waktu saya pindah-pindah chanel di hotel waktu di Venesia, saya surprise banget karena dua hal : ternyata di sana ada film Doraemon juga dan filmnya jadi serasa opera sabun telenovela. Mamma Mia!!

Fakta satu lagi soal orang Italia – tapi kayaknya sudah pada tahu – kaum prianya semua ganteng, dari anak-anak sampe bapak-bapak. Perempuannya juga sama; rata-rata berambut hitam, sorot matanya tajam, mata besar, hidung mancung, kulitnya bening sekali. Kata salah seorang ibu-ibu di rombongan “Ih, ini kalo dateng ke Indonesia, udah langsung maen sinetron semua nih,”

Selesai meninjau pabrik turbin di Buja, Italia, Bus membawa kami menuju kota Venesia. Saya sudah excited karena membayangkan bakal melihat langsung kota cantik seribu gondola. Sayangnya, semangat saya berubah jadi kantuk, karena ternyata dari Buja ke Venice, membutuhkan waktu lama. Di Buja, urusan Bapak-Bapak beres sekitar jam 17.30 dan kami tiba di Venesia jam 20.30. Seharusnya tidak selama itu tapi karena tempat bayar pajak kota sudah tutup waktu kami datang hingga sopir harus putar arah  untuk mencari loket lainnya.

Jadi, saya baru tahu kalau masuk ke kota manapun di Italia, turis wajib bayar pajak masuk kota. Saat kami tiba di loket pembayaran (perbatasan kota), loket sudah tutup hingga pak sopir terpaksa mencari loket lainnya. Saat kami di Roma, karena sudah pisah dengan rombongan yang pertama (dan bertemu dengan rombongan kedua), kami juga harus bayar pajak masuk sebesar 6 euro per orang. Pengalaman ini untungnya hanya kami alami di Italia. Terbayang kalo setiap kali tiba di kota-kota lain kami mesti bayar, mungkin pas di tanah air kami harus mulai puasa sebelum Ramadhan 😀

Di Venesia, atau Venice (Inggris) atau Venezia (Italia), kami menginap di The Plaza, daerah Mestre. Lokasi hotel strategis sekali, karena ia berhadap-hadapan dengan stasiun kereta. Tapi karena tiba malam hari dan saya sudah lelah menggendong Baim seharian, jadi tidak sempat ngeuh apa gunanya dekat dengan stasiun atau bagaimana dan seperti apa lobby hotelnya. Saya cuma mau cepat ke kamar dan tidur.

Esoknya, setelah minum jus segar saat sarapan (di sana jus tidak pernah pake gula), saya baru punya kesempatan lihat-lihat. Waktu di lobby saya menemukan satu rak penuh novel (berbahasa Inggris!) yang waktu saya tanya sama resepsionis (yang kasep tentu saja :p), memang diperuntukkan untuk tamu, bahkan boleh dibawa ke kamar. Bahagianyaaa … Gratzie Senor …

Pukul 8-an pagi, kami menyeberang ke stasiun kereta depan hotel. Sebelumnya sudah dadah-dadah sama Christoph yang harus kembali ke Linz. Dari stasiun kereta, kami naik kereta seharga (saya lupa persisnya) kalo tidak salah 2,25 euro per orang untuk menyeberang ke pulau Venesia. Jadi pulau Venesia memang dikelilingi laut. Untuk mencapai ke sana, Anda bisa naik kereta, pake bis atau bahkan pake mobil (jalur sepeda juga ada). Yang tidak saya sarankan jalan kaki, soalnya jauh.

10 menit di kereta, sampailah kami di The Grand Canal.

Suhu bersahabat sih, mungkin sekitar 18 derajat, tapi anginnya cukup kencang. Di sini kami sempat pisah sama rombongan karena kami ingin cari es krim dulu, yang lain mau jalan dulu, pisah deh. Sesungguhnya, selama perjalanan saya lebih suka begitu, soalnya kami kan ada Baim, mesti dorong stroller baim, belum kalau butuh ke toilet cepet. Khawatirnya menghambat yang lain.

Di sekitar Grand Canal ternyata banyak bertebaran toko-toko. Tidak hanya itu, pedagang kaki lima dan pedagang keliling selalu ada di setiap sudut dan kelokan yang kami lewati. Paling banyak, yang jualan tongsis, asli. “For selfie … for selfie ... ” mereka teriak-teriak sambil mengacung-acungkan tongsis. Pedagang keliling rata-rata kalau tidak kulit hitam, biasanya India.

Di salah satu restoran kami berhenti untuk beli es krim.

di sini ga hanya ada es krim, ada juga hotdog, spahetti, kebab, hamburger, rata-rata harganya 10 euro. Es krim harganya 2 euro kalo ga salah. eh, bukan es krim siih, ini gelato asli, nyaaaam … hagen daaz sama baskin robbins maah lewaaat.

siip lanjuuuut …

berikutnya, kami menuju San Marco, tempat ngumpulnya orang-orang di Venesia untuk menikmati pemandangan. Dari Grand Canal kami berjalan menyusuri lorong-lorong yang sisi kiri kananya kalau tidak bangunan pemukiman, hotel atau restoran. Sekali lagi temuan saya soal orang Italia senangnya bersempit-sempit terbukti. Mula-mula jalannya lebar-lebar, trus ada yang menyempit, lebar lagi. Kami bahkan sempat nyasar masuk ke gang yang lebarnya sekitar satu meter. Masalahnya tanda penunjuk ke “St Marco” itu ada banyak dan menunjuk ke arah yang beda-beda. Mungkin maksudnya ada banyak jalan menuju ke sana, tidak satu jalur saja. Di sinilah kami mengalami apa yang disebut “banyak jalan menuju St Marco” halaaah.

Setiap beberapa ratus meter, ada jembatan-jembatan kecil yang menghubungkan bangunan satu dengan yang lainnya. Ooh jadi di sini toh tempatnya si Johnny Depp sama si Angelina Jolie kejar-kejaran? hihihi

Jarak dari Grand Canal ke St Marco lumayan jauh. Kami perkirakan sekitar 2,5 -3 km, dan harus jalan kaki. Tidak ada kendaraan yang bisa lewat. Kecuali Anda naik gondola, itupun ga bisa mampir-mampir, jadi cuma duduk manis menyusuri air, masuk ke gorong-gorong bawah jembatan sampai ke dermaga. Meskipun jauh, jangan khawatir bosan, karena banyak pemandangan kanan kiri yang bisa dilihat. Ada banyak toko-toko menjual pelbagai souvenir, plus toko-toko barang branded, seperti furla, swatch, dsb. Oh ya hati-hati dengan dompet dan tas, karena di sini banyak sekali turis hilir mudik, apalagi pas jalan di gang yang menyempit resiko senggolan sulit dihindari, belum lagi pedagang kaki lima yang tiba-tiba gelar lapak di tengah-tengah jalan.

toko yang jual topeng dan kostum

toko yang jual topeng dan kostumtoko souvenir boneka, yang dipajang di depan itu boneka the beatles .. lucu yaatoko souvenir boneka, yang dipajang di depan itu boneka the beatles .. lucu yaa

Bukan hanya ada toko-toko dan restoran, orang-orang yang menjual tiket pementasan teater sampe yang ngamen pun ada.

 

 

si cantik ini sedang menjual tiket buat pementasan teater

 

si cantik ini sedang menjual tiket buat pementasan teaterperhatikan kakek-kakek di tengah ituperhatikan kakek-kakek di tengah itu

seperti kakek-kakek di foto ini. Ia menyimpan tape recorder di sudut dekat kakinya dan menyanyi. Persis tingkah Mr Bean di film “Mr Bean’s Holiday”. Bedanya, kalo Mr Bean lipsync, nah kalo si kakek beneran. Saya sampai tertegun, menyangka awalnya dia lipsync eh ternyata tidaaak sodara-sodara. Ajib kaaaaaan.

Capek jalan dan menggotong stroller Baim setiap melintasi jembatan, kami ngaso dulu di salah satu piazza. Piazza adalah lapangan luas yang biasanya dikelilingi bangunan. Di sini banyak banget piazza-piazza, nah yang paling besar itu St. Marco yang dituju oleh semua orang. Kami duduk dan membuka bekal minum. Saya makan keripik, eh tahu-tahu ada seekor merpati mendekati, lalu seekor lagi, dan lagi, dan lagi. Baim pun yang asalnya bobo-an jadi kepengen bangun dan duduk untuk kasih makan merpati 🙂

Nah, diantara sekian banyak toko, eh tiba-tiba nyempil lah toko yang dikenal oleh hampir semua rakyat Indonesia, yaitu toko BATA.

toko sepatu BATA

 

Iiih … kok ada yaa? Ternyata, menurut info teman, BATA memang aslinya merek luar. Saya sempat masuk sebentar, lihat-lihat, barangkali pramuniaganya bertampang Jawa Barat (iya keleus) eh ternyata bule semua. Sepatu-sepatunya juga beda sama yang ada di toko kita. Harganya di atas 150 euro, walah … beda yaaa :p

Meskipun suhu sekitar 15 derajat, artinya tidak terlalu dingin, tapi angin yang kencang bikin gampang kebelet. Terpaksa deh kami cari toilet umum seharga 21 ribu hehe. Ya, untuk pipis di toilet umum Venesia, Anda harus siapkan dua koin 1,5 euro sekali pipis. Jika dirupiahkan ke angka 14 ribu (aslinya sekitar 14,600), maka sekali pipis Anda mengeluarkan 21 ribu rupiah.

Toiletnya seperti ini:

tinggal masukkan koin 1,5 euro ke dalam slot dan pintu otomatis terbukatinggal masukkan koin 1,5 euro ke dalam slot dan pintu otomatis terbukabuat nuker uangbuat nuker uang

Anda tinggal masukkan koin ke slot yang tersedia dan pintu otomatis akan terbuka. Jika tidak punya receh, jangan khawatir, tinggal tukarkan uang Anda di mesin penukar otomatis. Efisien, sama sekali tidak usah menugaskan satu orang Bapak-bapak untuk menjaga pintu toilet. Dan ingat, siap-siap membawa botol air bagi Anda muslim yang wajib (maaf) membersihkan diri dengan air, minimal bawalah tissu basah karena tidak akan ada semprotan air di dalam toilet.

Setelah beberapa kali istirahat, sambil cuci mata, sampai lah kami di Piazza San Marco yang kondang itu.

piazza San Marcopiazza San Marcosalah satu sudut San Marco, pilar sebelah kiri itu menara gerejasalah satu sudut San Marco, pilar sebelah kiri itu menara gerejaGereja San MarcoGereja San Marco

Sulit sekali mengabadikan foto San Marco ini, karena begitu luasnya dan begitu banyak orang. Alhasil, kalau Anda lihat, selalu sudutnya mentok, padahal aslinya luas sekali. Belum lagi arsitektur bangunannya yang emeijing! Banyak ukir-ukiran patung rumit dari mulai patung malaikat, para Santo sampai gargoyle di atapnya.

Venesia adalah sejatinya pulau yang dikelilingi laut. Sehingga, jika terjadi pasang, banjir bukanlah hal baru bagi para penduduk. Makanya, di beberapa sudut kita bisa melihat tumpukan bangku-bangku kayu yang disusun rapi. Awalnya saya mengira itu adalah kursi-kursi cafe yang ditumpuk ketika cuaca tidak cerah. Cafe-cafe yang sering memajang bangku-bangku di luar memang biasa melipat atau menumpuk bangku-bangkunya jika cuaca tidak memungkinkan. Namun ternyata tumpukan bangku yang saya lihat adalah cadangan pijakan kaki saat banjir tiba. Jadi bangku-bangku itu akan dijejerkan dari mulai dermaga, dari hulu ke hilir.

bangku-bangku untuk antisipasi banjir, di sudut kiribangku-bangku untuk antisipasi banjir, di sudut kiri

 

Saat kami tiba di San Marco, rombongan rekanan suami belum tiba. Seperti biasa, nampaknya mereka nemplok dulu di salah satu toko hehe. Akhirnya sambil foto-foto dan ngemil, kami menunggu. Apa daya kemudian gerimis turun disertai angin kencang. Suhu tambah dingin. Kami pun kembali ke hotel. Keputusan yang bagus, kalau tidak, bisa-bisa saya beser, dan harus sedia 1,5 euro lagi untuk pipis 😀

*next destination = Vatican City, Rome, Pisa ^_^

Posted in Trip

Menghangat Hati di Salzburg- Europe Trip 3


Well, seminggu telah berlalu sejak saya kembali pulang. Rencana untuk menuliskan pengalaman dan perasaan tertunda terus karena jetlag yang sempat menganggu. Perbedaan waktu lima jam Indonesia-Eropa membuat saya sempat berhari-hari tak bisa memejamkan mata di malam hari dan baru merasakan kantuk ketika pagi tiba.

Ini tulisan ketiga, yang pertama dan kedua saya sudah pernah posting di blog. Kali ini saya mau cerita soal Salzburg, kota kecil di Austria yang sumpah, mesti Anda kunjungi suatu hari nanti. Put it in your bucket list, ga akan nyesel!

Rabu 15 April 2015 sekitar jam satu siang waktu setempat di Vienna kami tiba. Begitu sampai di bandara, kami sudah harus bergegas naik kereta ke kota Linz karena juragan suami ada meeting keesokkan harinya. Kami menginap dua malam di Linz, kota yang mirip desa kalau di Indonesia (moderen tapinya), saking tenang dan nyamannya. Saya sempatngebolang sendiri keliling kota Linz, yang mungkin luasnya ga nyampe tiga kecamatan di Jawa Barat. Kecil, rapi, camperenik, kalo kata orang Sunda.

Linz, senja hari
itu foto yang diambil di dekat Sungai Danube, Linz, waktu kami mau dinner bersama dengan rekan-rekan suami. Baim, yang dari awal berangkat memang dalam kondisi sakit, terpaksa digendong kemana-mana 😥

Anyway, Esoknya kami sudah siap jam setengah tujuh pagi di lobby hotel dengan tujuan Salzburg, kota lain, masih di Austria. Jika Anda familiar dengan film Sounds of Music di tahun 80-an, nah disanalah tempat syutingnya.

Pagi itu gerimis, suhu berada di angka 13 derajat celcius. Saya sudah memakaikan empat lapis baju untuk Baim, plus sebuah sweater. Satu jaket Baim yang sempat kena (maaf) muntah belum sempat saya cuci. Berharap dengan persiapan seperti itu Baim akan baik-baik saja.

Perjalanan Linz ke Salzburg, kami tempuh dengan Bus selama 1,5 jam. Bus melaju di jalan tol yang mulus dan tidak macet.. Pemandangan di luar agak berkabut, tenang dan bikin pengen bobo.

Tiba di Salzburg, gerimis malah berubah jadi hujan. Waduh gimana ini? Mana Bus tidak bisa berhenti pas di tempat pertama yang kami tuju. Bus-bus wisata hanya boleh berhenti di tempat tertentu, setelah itu para turis mesti turun dan jalan kaki. Kalau tidak, paling naik Bus keliling kota yang dinamai Hop On Hop Off, seharga 16 euro. Dinamai begitu, karena setelah Anda membeli tiket dan naik Bus, Anda bisa turun untuk berkeliling setelah itu bisa naik Bus yang mana saja (yang mungkin berbeda dari yang pertama). Dan tiket itu berlaku seharian.

Setelah Bus berhenti, saya semakin mengeratkan pelukan saya ke Baim, mencoba memberinya semakin banyak hangat. Suami memayungi kami. Kami berjalan kurang lebih lima menit kemudian bertemu dengan seorang tour leader bernama Liza.

Liza, kira-kira berusia 65 tahunan, energik dan berbahasa Inggris fasih (penduduk Austria berbahasa Jerman). Sebagaimana nenek-nenek pada umumnya (halaah), ia langsung menyapa Baim dan nanya ini itu khas emak-emak. Rombongan yang lain kebetulan ingin ke toilet dulu (yang selama kami di Eropa sering sekali, maklum dingin), jadinya kami bertiga plus Christoph (rekanan suami, penduduk asli Linz) mengobrol dulu dengan Liza.

Liza menyentuh Baim. Suhu saat itu sekitar tujuh derajat, dan hujan.

“Oh dear … it’s really cold, and I do think this is not enough for him.” katanya membelai kepala Baim yang tertutup kupluk.

“Sorry?” saya bilang.

“He needs more jacket. It’s chilly and the temperature will be dropped soon.”

Saya senyum. Iya juga sih, saya aja menggigil. Saya bilang saya sudah pakaikan berlapis-lapis baju ke Baim, plus sweater dan selimut.

Dia menggeleng,

“No … no … I’ll tell you what, he can wear my grandson’s jacket. Oh yes, I think they are in the same size.”

Hah?

“Oh no, thanks.” saya mengangguk sopan. “Your grandson probably needs it.”

Liza tertawa.

“My grandson is twelve years old but I still keep his jacket for the old time sake … yes, yes, I do believe he can wear it.”

Habis itu dia menoleh ke Christoph dan ngomong memakai bahasa Jerman.

Saya pandang-pandangan sama suami.

Ia menoleh lagi,

“If I want to give the jacket for your son, is that okay with you?” tanyanya.

Saya cengo.

“I mean, I don’t mean anything, Just want to help.” sekali lagi ia membetulkan selimut baim.

“Well we ,..,” saya gelagapan. “Thank you so much, I don’t want to cause you any trouble …”

Dia menggeleng.

“So, later, after the tour, you can have your lunch, I can walk back home, it’s not far then I can give it to you. But, I am going to put the jacket in that hotel (tangannya menunjuk ke hotel dekar Bus kami tadi berhenti), give it to the Concierge, then he (menujuk Christoph) can get it for you.”

Kami berulang-ulang mengucapkan terima kasih. Mata saya menghangat, tapi kalau menangis di situ kan malu hehe.

akhir cerita dengan Liza yang baik hati ini akan saya kisahkan di akhir ya, sekarang ikuti dulu tur saya di Salzburg yaaa ^_^

Mirabelle Garden, berasa ngikut cantik ^_^Mirabelle Garden, berasa ngikut cantik ^_^

Sebuah lapangan luas dibentengi bangunan tinggi dan di tengah-tengahnya terhampar, bagai permadani, bunga-bunga cantik menyergap kami. Selamat datang di Taman Mirabelle, taman yang dipersembahkan oleh Prince-Archbishop Wolf Dietrich von Raitenau bagi gundiknya. Bishop adalah pendeta di agama Katolik. Seorang Archbishop memiliki kedudukan lebih tinggi daripada ‘sekedar’ bishop. Namun, Arcbishop Raitenau, yang sejatinya mesti membujang, diam-diam punya simpanan, yang kemudian ia bikinkan rumah megah plus taman indah. Kabarnya dari hubungan itu mereka dikaruniai 15 anak. Buset dah pantesan tamannya gede banget, kalo kecil kan ga cukup buat main bola.

Jika Anda perhatikan, di latar belakang itu ada bangunan tinggi semacam benteng. Namanya, Hohensalzburg Fortress, dibangun sebagai tempat berlindung dari serangan musuh saat perang. Terbukti saat perang Hungaria, para pendeta dan raja bisa bersembunyi dengan aman di sana. Sekarang, Benteng Hohensalzburg dibuka untuk umum dan menjadi temoat bertemunya para seniman Austria setiap tahun untuk mengadakan pelbagai acara. Sedangkan rumah megah milik mistress-nya Archbishop plus Taman Mirabelle digunakan untuk kantor pemerintahan.

Beres foto-foto sambil mendengarkan penjelasan Liza, kami berjalan kaki melintasi Sungai Salzach yang membelah kota Salzburg. Di sini kami juga menemukan banyak gembok cinta terpasang.

Selepas jembatan, tibalah kami di pusat kota Salzburg. Suasana yang awalnya sepi jadi berubah dengan banyaknya orang-orang yang hilir mudik. Salzburg “kotanya” ga kalah cantik dengan tamannya. Meski beraroma kota, namun semua bangunan masih bangunan yang sama ratusan tahun lalu.

‘ 

Saya difoto berlatarkan ‘gang’ yang kiri kanannya, kalau tidak restoran, ya toko. Merek-merek Zara, McDonald, ada di sini. Bedanya, semua arsitektur bangunan masih dibiarkan sama seperti ratusan tahun sebelumnya. Bahkan lengkungan depan pintu toko yang menandakan nama pun masih asli, Di dekat situ ada Bangunan semacam apartemen bercat kuning. Itulah “Mozart’s House”. Wolfgang Amadeus Mozart memang dilahirkan di Salzburg di tahun 1756. Ayahnya adalah seorang guru musik. Dari tujuh anak yang dilahirkan, hanya dua yang hidup, yaitu Mozart dan Maria Anna, kakak perempuannya.

Mozart's House (abaikan penampakan kerudung biru)Mozart’s House (abaikan penampakan kerudung biru)

ini adalah penampakan Rumah Mozart (abaikan sosok berkerudung biru di sebelah kiri, ga banget fotonya tapi ga ada lagi hiks).. Sebetulnya keluarga Mozart  hanya menempati (baca = mengontrak) lantai dua rumah ini, karena mereka bukan keluarga berada. Yaa dimana-mana ya boo kalo guru tuh jarang jadi orang kaya (menghela napas).

Semasa hidupnya Mozart menghasilkan lebih dari 600 komposisi musik,. Sayangnya, menjelang kematiannya, Mozart sempat terlilt banyak hutang dan terpaksa menggadaikan banyak barang-barang yang ia miliki. Ia meninggal di Vienna, pada usia 35 tahun. Rumah bercat kuning itu sekarang berfungsi sebagai Museum Mozart. Dengan membayar tiket seharga 10 euro Anda bisa melihat-lihat isi rumah keluarga Mozart termasuk piano yang sering digunakan Mozart kecil,

Beres dengan cerita Mozart, kami berkeliling melihat-lihat pelbagai toko souvenir (turis-turis mulai berdatangan) cokelat, magnet, gantungan kunci, baju, sampe pedagang kaki lima yang berjejer rapi sepanjang jalan. Kami juga diajak melihat-lihat toko yang menjual baju tradisional masyarakat Salzburg. Bajunya cantik sekali kalo kata saya, tapi sekarang hanya digunakan di acara-acara resmi, seperti pernikahan.

Masih ingat benteng Hohensalzburg yang saya ceritakan di atas? nah, dilihat-lihat rupanya memang fortification atau benteng dibangun menutupi kota Salzburg dari luar. Jadilah kota ini semacam “tersembunyi”., banyak bangunan-bangunan yang terkesan “menempel’ ke tebing, padahal bukan, melainkan merupakan bagian dari benteng yang melingkupi kota.

seperi di foto ini:

Sebelah kiri dari foto di atas, kami memasuki kompleks yang sangat luas, dikelilingi bangunan tinggi kiri kanan. Di tengah-tengah terdapat sebuat Menara tinggi. Sejurus melihat saja, saya sudah tahu ini pasti Monastery atau Biara. Padahal saya belum pernah seumur hidup mengunjungi biara, tapi entah kenapa, melihat bangunan ini langsung seolah masuk ke novelnya Sidney Sheldon. Kalau Anda sudah baca The Sands of Time, Anda akan tahu maksud saya.

St. Peter's AbbeySt. Peter’s Abbey

Inilah St Peter’s Abbey, biara paling tua di seluruh negara-negara berbahasa Jerman di dunia. Didirikan pada tahun 696, awalnya St Peter’s merupakan sekolah menulis. Pada masa itu, jarang sekali orang yang bisa menulis, sehingga para scholar yang dikirim belajar di sini dihargai masyarakat setempat sebagai orang berilmu. Baru pada tahun 1074, datanglah beberapa Monks atau calon pendeta (disebut para bruder)  untuk belajar (juga) agama. Lama-lama jadilah ia biara, tempat mendidik para calon pendeta.

Di gerbang masuk, Liza sempat menyuruh kami menunduk ke bawah. Di tanah, berbeda dengan yang lain, tercetak dua pelat keemasan. Pelat tersebut dibuat untuk mengenang dua orang bruder yang dibunuh Nazi karena keberaniannya menyuarakan pendapat mengutuk Hitler. Ah, korban di kumis separo itu … 😦

Di belakang Monastery St peter’s Abbey, terdapat kompleks pemakaman yang sangat dihormati oleh penduduk Salzburg, Disinilah dimakamkan para anggota kerajaan, dan orang-orang penting kota Salzburg. Oh ya, Salzburg dulunya adalah kerajaan kecil yang dipimpin oleh Archbishop, di kemudian hari bergabung dan menjadi bagian dari Austria..

Di sini makam-makamnya kecil-kecil, tapi isinya bisa jadi sepuluh orang atau lebih. Karena terbatasnya lahan, maka anggota keluarga yang meninggal dimakamkan dengan cara ditumpuk.


Semua makam terpelihara dengan baik. Tidak ada kesan angker sama sekali. Tapi mungkin karena siang-siang sih, ga tau dah kalo malem hehe. yang lucu, ada beberapa makam yang bertuliskan gelar panjang banget. Liza menjelaskan, pada jaman dulu, jika seseorang punya gelar tinggi, maka gelarnya disematkan dan diulang, Jadi kalo ada lulusan S3 tiga kali, maka akan jadi Doktor, Doktor, Doktor. Saya berfoto dengan salah satu makamnya. Hihi berarti  dari dulu sudah banyak ya yang berpendidikan tinggi.

perhatikan makam di sebelah kiri saya, dengan gelarnya yang berderet
Jalan-jalan terus tidak terasa perut kuruyukan. Akhirnya waktu makan siang tibaa, horeeeee

Nord See Restaurant
Restoran Nord See jadi pilihan kami. Restoran yang juga bisa Anda temukan di Vienna dan Linz ini menyajikan hidangan laut. Jadi, Insya Allah aman buat muslim. Dan bukan itu aja, rasanya juga mantap, ga hambar seperti hidangan eropa pada umumnya.

Salzburg yang indah sayangnya hanya bisa dinikmati sampai makan siang. Sebab, rombongan mesti bergegas menuju Buja, Italia. Ada Pabrik turbin yang mesti ditinjau Bapak-bapak. Jadi beres, makan siang, kami capcuss menuju Bus yang akan membawa kami lagi.

Oh ya, sebelum makan, Liza sudah pamitan sama kami., Tak lupa ia mengingatkan soal jaket yang bakalan ia kasih untuk Baim, Duh, jadi pengen nangis lagi. Saya peluk dia erat.  Si nenek baik hati ini. Serasa disentuh surga di Salzburg, ribuan kilometer dari tempat kami tinggal.

saya dan Liza
Tiba di pemberhentian Bus, Christoph berlari menembus gerimis dan kembali dengan senyum lebar dan sebuah bingkisan di tangan.
“A present,” ucapnya.

Di dalam bingkisan, selain ada jaket, ada pesan tertulis di kertas berwarna hijau. Isinya kira-kira “Semoga sehat” dan tak lupa ia tambahkan, “jaketnya sudah dicuci”

Masya Allah, kami temukan orang baik, orang asing yang bahkan warna kulitnya tidak sama dengan kami. Maka siapa yang bisa bilang bahwa dunia ini sudah sedemikian rusaknya? Tidak benar … dunia masih dipenuhi orang-orang baik.

“She is a really nice lady …” Christoph bilang ke saya di dalam bus ketika kami melanjutkan perjalanan.

No dude, she is an angel …

Posted in Trip

Linz ; kota yang aromanya seperti rumah ^_^ Europe Trip – 2


Di Jakarta, sebelum flight, tiba-tiba skenario berubah. Semuanya bermula saat negara api menyerang. Deuh, bukaaan. Semuanya karena satu meeting penting.

Juragan bilang, “Mi, kita ga jadi jalan ke Vienna ya, rombongan yang lain stay di Vienna tapi kita langsung ke Linz, Abi ada meeting di sana.”

Glegh … padahal di Vienna ada museum Madame Tussaud yang pengen saya lihat. tapiii … ya udah deh gimana lagi.

Eh saya mau cerita dulu di Dubai.

Dubai hiruk pikuk airportnya. Bayangkan berbagai bangsa dari berbagai penerbangan plek numplek di situ. Saya seneng banget karena sudah mulai banyak mendengar berbagai bahasa. Aneh-aneh tapi menarik. Sesampainya di gate, ada stroller yang tersedia buat keluarga yang bawa bayi. Alhamdulillah, soalnya jauh-jauh jarak gate-nya.

Buat yang hobi belanja, di bandara Dubai banyak tersedia berbagai macam produk. Saya ngiler karena ada toko buku Periplus nya, ada sih emang di Bandung, cuma kalo di Bandara free duty, alias bebas pajak. lagi diskon pulak, 20 %. Tapi mesti disabarin dulu, toh ntar pulangnya juga ke situ lagi. Budget di irit-irit, soale hidup di Eropa ga murah. Kalau pulang-pulang langsung puasa se-rumah kan geger dunia persilatan.

Di Dubai banyak tersedia toilet-toilet plus shower (air panas/hangat tentunya). Jadi kalo orang baru dateng bisa langsung mandi sebentar biar segeeer, hilang sejenak deh semua pegel-pegel akibat duduk terlipat sekian jam. Gosok gigi dan cuci muka juga bisa, karena wastafel banyak. Plus, ganti diaper nya Baim.

Di sini, dua kali saya ke toilet, pertama buat gosok gigi dan cuci muka (ga sempet mandi, ngantrinya panjang) trus ganti diaper Baim, maklum mesti gantian sama bapake. Dua kali saya mendapat tatapan kurang menyenangkan dari beberapa bule perempuan yang ketemu di toilet. Saya nyadar, soalnya jadi minoritas sih. Meski banyak orang-orang Arab yang juga berkerudung, tapi mereka biasanya berkelompok, ga kayak saya, sendiri ke sana ke sini.

Sehabis ganti diaper Baim malah pas mau keluar pintu toilet, seorang cewek bule sengaja banting pintu di depan saya, mukanya jutek. Entah apa maksudnya. Saya senyum sambil bilang, “Hallo” dan membuka pintu. Mungkin kesengsem dia ama saya, belum pernah lihat makhluk unik kayak saya hahaha.

Capcus ke Vienna Airport.

Di bandara Vienna, kondisi bertolak belakang. Sepiii banget. Setelah keluar pesawat, jalan bentar, masuk ke gate imigrasi buat pemeriksaan paspor. Ga ada musik, ga ada iklan kiri kanan. Ga ada. Kata salah seorang bapak-bapak di rombongan kami, “Lebih rame Bandara di Padang.” ada sih beberapa toko setelah melewati imigrasi di atas, tapi semuanya terlalu … gimana ya, terlalu tenang hihihi. Sejatinya, bandara itu seperti pasar kan, hiruk pikuk, ini engga. Tapi, seperti itulah Austria. Tenang dan damai. Dari Bandara nya sudah diperkenalkan.

Rombongan yang lain sudah dijemput sopir perusahaan menuju hotel. Kami bertiga masih terdampar di Bandara, karena suami saya menyanggupi untuk pergi ke Linz tanpa dijemput. Gampang aja sebenarnya, karena di bandara ada loket penjual karcis kereta. Yang tidak gampang adalah membawa serta bagasi (2 koper besar, 1 stroller bayi, 2 tas jinjing).

Pertama, kami menuju loket tiket kereta. Si petugas (ramah sekali) memberikan 2 tiket (Baim belum bayar), dan bilang, “The train leaves in 4 minutes. .“. Harga tiket Vienna-Linz 42 euro per orang, waktu tempuh 1,5 jam. Dari loket ke kereta kami mesti turun ke bawah. Karena repot sama bagasi dan bawa Baim, kami nyari lift. Saya yang pengen cari makanan dulu, ditahan sama suami. “Entar aja, keretanya takut udah pergi, inget mereka tepat waktu.”

Pergilah kami ke bawah. Mulai kerasa dingin, karena bawah tanah kan. Lah, keretanya mana? Yang lain ada, tapi kereta kami ga ada. Suami akhirnya nyuruh saya nunggu dan dia kembali ke atas.

Ternyata oh ternyata, itu kereta sudah pergi sodara sebangsa se tanah air. Kurang dari 4 menit kami sudah harus di sana. Bingung berdua (Baim ga ngikut bingung, soalnya lagi makan Jeruk), perasaan dari loket kami langsung cabut ke sindang, knapa bisa telat yah emang jalan ngabisin berapa menit yak.

Tapi tenang saja, kalau Anda mengalami hal yang serupa, tiket yang Anda beli ga jadi hangus, tapi bisa dipergunakan untuk jam selanjutnya. Si petugas tiket nge-print satu lembar jadwal kereta dan bilang “Don’t worry you can use your ticket for the next train, in two hours.” dia tunjukkan keberangkatan kereta yang 2 jam lagi buat kami. Kali, dia pikir, “Ih ini orang-orang lambat banget, jadi mesti dikasih yang lama.” hahahaha

Jadi, kami nongkrong dulu deh di depan mini market “Spar” sambil jajan buah-buahan sama minuman.

segini semuanya 10 eurosegini semuanya 10 euro

Perjalanan naik kereta ke Linz kami lewatkan dengan … tidur. Capek boo … sayang banget padahal pemandangan di luar bagus, kayak di negeri dongeng. Bersih di mana-mana. Rumah-rumahnya mungil-mungil dan rapi tersusun. Keretanya bagus banget, jam kepergian sama kedatangan pas persis sampe ke detiknya. Ga pake delay. Sip markosip. oh ya kereta yang kami tumpangi berkecepatan 248 km/jam, tujuan terakhir adalah kota Frankfurt Jerman, jadi termasuk kereta internasional.

Kami tiba di Linz pukul 18.15 waktu setempat (jam 11 malam Rabu waktu tanah air). Pake taksi ke hotel (sudah dibooking sama Christoph, kolega suami). Namanya Spitz Hotel.  “Spitz” dalam bahasa Inggris artinya “Spiky”. Spitz Hotel nyaman banget. Recommended yaa kalau ada yang mau ke sini. Fasilitas lengkap. Pas nyampe kamar, surprise banget karena ada baby cot (boks bayi) di samping kasur. Rupanya Christoph udah bilang ke pihak hotel bahwa kami bawa bayi. Ah, baiknyaa … meskipun karena kondisi Baim yang sakit, tetep tidurnya bertiga di kasur, dempet-dempetan, karena biarpun ada pemanas, tetep dingin. Suhu 14 derajat celcius.

Kami berdoa terus atas kesembuhan Baim. Cuaca dingin bikin batuknya menggila. Panasnya sih udah hilang tapi ga tega kalo dia udah batuk-batuk sampe gemeteran. Kadang sampai muntah. haduuh … mana di negeri orang lagi.

Esok paginya, Kamis pagi, sehabis sarapan, suami udah dijemput sopir ke kantor untuk meeting. Saya berdua Baim. Tepatnya saya bengong, Baim bobo, akhirnya ikutan bobo juga :p.

Jam setengah dua siang, suami pulang. Saya yang udah gatel pengen jalan ke luar minta ijin mau jalan-jalan sendiri. Sip, kata suami, dan dia langsung bobo hihihi..

Saya ke luar hotel, brr dingiin, padahal udah pake jaket, menutup aurat kecuali muka dan telapak tangan dan syal. Jalanlah dengan hepi. Tujuannya, ga ada. Cuma mau lihat-lihat kota aja, sukur-sukur ketemu kebab atau pizza halal yang enak. Si kebab yang dicari ada pas belokan jalan, tapi agak ragu  karena kok ada jual minuman juga dia. Jalan lagi. Eh ada bapak-bapak tua berjanggut berkulit hitam, papasan sama saya, ia senyum.

“Salamualaikum …” katanya.

Saya senyum dan membalas salamnya, Dari dekat baru kelihatan si Bapak pake semacam kopiah kecil.

Habis itu, dia nyerocos ngomong pake Bahasa Jerman. Haduuuuh … coba kalo bisaaaaa.

“I am really sorry, I don’t speak Germany.” saya bilang.

Ia mengangguk mengerti. Menangkupkan tangan dan mengucap salam lagi.

Aaah … langsung serasa di rumah 🙂

Jalan lagi, nyebrang, jalan lagi. Menemukan taman kecil. Iih .. langsung inget Kang Emil. Kecil sih, tapi bersih dan terawat. Gatel pengen selfie, tapi kalo selfie biasanya gagal. Saya deketin dua nenek yang lagi asyik ngegosip di salah satu bangku taman. Mereka ternyata ga bisa bahasa Inggris, dan menolak waktu saya minta mereka fotoin saya. Mungkin ga ngerti, mungkin ga mau, atau ga tau cara pake HP. Aah, sudahlah….,

sudut taman kecil seberang hotel Spitz di Linzsudut taman kecil seberang hotel Spitz di Linz

Orang yang mau motretin akhirnya saya temukan di dekat Sungai Danube. Lumayan, ada dokumentasi. Di sungai Danube ada beberapa gembok ‘cinta’ yang terpasang, tapi ga banyak, mungkin hanya ada 10 buah. Angin semakin dingin, saya merapatkan jaket, pengennya lebih jauh, nyebrang ke Hoptlaz, daerah nongkrongnya Linz, tapi khawatir kelamaan dan teringat Baim, takut manggil-manggil saya. Padahal pemandangan sangat bagus buat kongkow dan moto-moto.

gembok cinta di Sungai Danubegembok cinta di Sungai Danubefeels homeyfeels homey

Di perjalanan pulang, menemukan toko buku. Lupa lagi namanya. Saya masuk ke dalam. Saya tanya, ada novel Inggris ga, ditunjukin dua rak, sisanya Jerman semua bahasanya. Saya melonjak senang waktu lihat Dan Brown cuma seharga 2 euro, atau sekitar 28 ribu. Bingung, masak sih semurah itu. Saya lihat-lihat konternya. Ealaaah ternyata perpustakaan nona, bukan toko buku. Saya ngira-ngira sih dari bahasanya, tapi kemudian saya lihat ada seorang pria masuk, mendatangi konter, mengeluarkan buku dari tasnya dan memberikannya ke petugas di konter. Jiaaah … gagal deh beli novel seharga 28 ribu-an. Pantesan rata-rata harganya 2 euro. Gini nih kalo ga bisa bahasa asing.

Waktu di Indonesia, saya udah niat mau berkunjung ke setiap toko buku yang bisa saya temukan. Beli sih belum tentu, tapi mau moto-moto. Biar kekinian gitu, futu-futu di toko buku luar negeri 😀

Nah, tapi kan takut keberatan tuh yang punya, jadi saya deketin dulu si ‘mbak’ di konter. Saya bilang,

“Miss, do you speak English?” ia mengangkat bahu.

“Do you mind if I take pictures here?”

Wajahnya bingung. Dia bergegas mendekati saya.

“You mean, this?” tangannya menyodorkan setumpuk brosur.

“No … I mean, can I take pictures of your collection here?” tangan saya menunjuk buku-buku.

Dia menjawab, “Ok. Let me. My Boss.”

Lah.

Bossnya datang (perempuan juga).

“Ok. What?”

saya terangkan lagi. Dia juga bingung. Jiaaah ribeet yaak.

“Why? why pictures?”

“No, you see, I am a tourist and I always interested in books, so I just want to take some pictures here, to show to my friends back home.”

Sekian detik, lalu dia mengangguk.

“Ok, no problem.”

Habis itu dia cerita dalam bahasa Jerman ke beberapa pegawainya sambil ketawa-ketawa. Mungkin saya dianggap agen ganda yaaa … iih perang kan udahan buuu

Balik ke hotel, alhamdulillah Baim gapapa. Bangun trus nen, belum mau makan, tapi batuknya udah berkurang. Giliran juragan suami yang bangun habis itu dia bilang mau naik trem ke Hauptplatz soalnya laper, dan di sana ada kebab yang enak. Sip deh. jadi sore-sore kami  makan kebab dan pizza yang subhanallah enak binggo.

Malemnya, jam 19.15, Christoph menjemput. Kami dundang makan malam di Hop Promenade, juga di Hoptplaz. Jalan aja, kata Christoph, ga jauh kok. Habis itu dia khawatir liat Baim. “Do you want me to get taxi?” mmh … jalan kaki lebih menggiurkan, akhirnya, setelah memastikan Baim aman, capcus deh.

Daan keputusan ga naik taksi tepat banget, soalnya asik jalan-jalan jam segitu, meski angin cukup kenceng. Di Hauptplatz itu banyak sekali orang nongkrong. Cafe-cafe pinggir jalan yang kursinya pada di luar juga banyak. Udah serasa Acha Septriasa di film 99 Cahaya di Eropa ajeh.

Di restoran ketemu dengan Gerhard Gugler, juga orang dari perusahaan. Malu juga, dia berjas rapi, sementara kami semua pake baju biasa dan berjaket tebal karena dingin (semuanya ada 14 orang termasuk Baim). Saya coba praktek bahasa jerman saya yang cuma seupil itu (apa kabar, saya baik, nama saya Irma, terima kasih, maaf) hihihi Christoph bilang “good job” serasa anak SD yang dapet reward dari guru. Stiker bintangnya, mana??

Beres dinner sekitar jam 9.30 (hidangannya ikan salmon starter, trout main course sama chocolate cake desert, enyaak), kami pulang ke hotel pake taksi, tapi sebagian bapak-bapak memutuskan jalan kaki, ya biarin deh. Saya mah mau bobo cantik ajah, perut udah kenyaaang.

nyambung entar lagi yaaa.

ini foto hidangan dinner saya, looks good kan??

Posted in Trip

Merantaulah, Maka Kau Akan Mengerti Arti Kepulangan … (Al Ghazali) Europe Trip – 1


Suami saya yang bekerja sebagai konsultan engineer turbin air, merupakan perwakilan salah satu Perusahaan Turbin di Linz, Austria. Tahun ini ada proyek turbin air di Indonesia yang baru saja dimulai, maka ada semacam kunjungan pabrik yang wajib dilakukan. Direncanakan lah Bulan Maret 2015 keberangkatan ke Austria selama seminggu. Pihak Austria dengan baiknya, menyediakan akomodasi selama di sana untuk para Bapak-bapak beserta istri-istri (semuanya ada 5 Bapak-bapak). Akhirnya kami sepakat untuk pergi, bersama si kecil Baim. Simply karena Baim masih ASi (meski menjelang penyapihan) dan kami pasti akan kepikiran terus nanti kalau tanpa Baim.

Bulan Maret di Eropa ternyata masih super duper dingin. Meski salah satu rombongan sempat bersikeras ingin pergi tapi alhamdulillah nya diundur sampai April. Saya lega, karena, jangankan untuk bayi, orang dewasa saja belum tentu tahan dengan musim dingin, sementara suhu terkadang sampai minus 2 derajat. Sepakatlah kami berangkat April. Masalah berikutnya ada di pengajuan visa yang mepet-mepet. Selain karena dana belum turun (cliche banget) juga karena alasan lain, semisal, passport Baim yang mesti dibikin dulu. Oh ya perjalanan rencananya meliputi empat kota ; Vienna, Linz, Salzburg dan Venice.

Perjalanan yang awalnya direncanakan seminggu, molor jadi 16 hari karena kami mesti (haha) ngikut tur Eropa di minggu kedua. Sebagian rombongan ingin lebih banyak bagian pleasure nya daripada business, maka mereka minta ada tur nya. Awalnya kami bilang, silakan saja, kami mau pulang tanggal 21 April. Yang pertama, khawatir sama Baim kalau kelamaan, yang kedua, dana kami terbatas, sementara paket tur bisa jutaan per orangnya, Tapi, partner kerja suami maksa-maksa dengan alasan kami harus menemani rombongan, sementara dia sendiri (yang harusnya menemani) sepulang dari Venice mau langsung ke Verona untuk keperluan lain. Dia khawatir rombongan ga ada yang nemenin, secara Bahasa Inggris mereka terbatas (jadi kami diandalkan semacam penerjemah tak resmi). Awalnya, menolak tapi….   setelah negosiasi alot macem seblak kurang mateng akhirnya oke deh ikut tur.

Singkat cerita, passport beres, tiket sudah dibooking, mengajukan visa deh. Yang bikin deg-degan, tanggal 14 April kami berangkat, hingga tanggal 11 April belum keluar juga. Usut punya usut, ternyata Kedutaan Austria nya libur dulu seminggu. Hadaah. Sempat khawatir, jadi apa engga, padahal ke tempat kerja udah cuti, kan ga lucu kalo tiba-tiba batal. Eh lucu sih, pasti diketawain, maksudnya. Kami juga khawatir karena pas mengajukan visa, sempat diminta rekening tabungan pribadi. Selama ini, kalau ke luar negeri biasanya aman dengan rekening perusahaan (dijamin sama perusahaan gitu). Baru pertamakali suami dimintai rekening pribadi. Kata orang Kedutaan, “Soalnya di minggu kedua, Bapak ada tour jalan-jalan nya.” sementara anggota rombongan yang lain pada udah keluar visanya, kami belum. Deuuh, beda rekening emang beda nasib yee. –

Oh ya, sekedar info, biasanya kalau ke luar negeri untuk kepentingan pribadi, jumlah tabungan yang mesti ada di rekening sekitar 50 juta per orang, itu diwajibkan karena mereka khawatir kalau kita ga punya uang, kita bakal jadi imigran gelap di negaranya. Banyak orang Indonesia yang mengakalinya dengan “pinjam dulu” ke teman atau sodara, setelah beres dicek oleh pihak kedutaan, ntar uangnya dibalikin lagi, Rekening tabungan tiga bulan terakhir biasanya. Tapi ini ga absolut ya, mungkin ada juga yang ga usah mengalami ini. Paling aman sih, kalo kita ke luar negeri ada pihak sponsor yang nanggung, perusahaan misalnya – Nah, sempet ragu terus, waktu udah mepet si visa ga keliatan nongolnya. Hari jum’at sebelum berangkat (berangkat hari Selasa), suami saya telepon ke Kedutaan. Eh taunyaa, file kita bertiga kepisah sama rombongan yang lain dan belum diproses. Nasiiiib …

Tapi Allah maha Memahami duka hati hamba-Nya, alhamdulillah itu visa keluar hari Senin, sebelum berangkat hari Selasa tanggal 14 April. Edun banget lah pokoknya. Jadiii … hari Selasa itu pagi harinya kami sudah berangkat dari Bandung, mampir ke Kedutaan Austria di Jl. Diponegoro Jakarta, abis itu capcus ke Bandara.,

Masalah lainnya adalah Hari Minggu sebelum pergi, Baim mendadak dangdut … eh, mendadak sakit maksute. Panas, batuk, muntah-muntah. Aduh mama sayangeee … bagaimana inih. Cek dokter, dikasi obat, 4 macem antibiotik, panas, batuk en alergi. Hati ketar-ketir terus memikirkan bagaimana perjalanan nanti dengan kondisi anak sakit. Akhirnya hanya sama Allah saja kami pasrahkan. Semoga Allah memudahkan.

Sesampainya di Bandara, alhamdulillah sudah dibookingkan kamar di Hotel Ibis Styles, masih kawasan Bandara (10 menit dari airport). Soalnya penerbangan jam 12 malem, jadi lumayan Baim bisa istirahat dulu. Dari hotel jam 9 malam kami sudah diantar ke bandara pake shuttle bus dari hotel (tersedia sampai jam 12 atau atas permintaan pelanggan). Ada dua hotel di situ, Ibis Styles sama Ibis Budget. Semalamnya sekitar 570 ribu. Kalau Anda punya kartu member Accor (jaringan hotel seperti Ibis, Mercure dll), Anda bisa dapat harga lebih murah, 10 % dari harga termurah saat itu.

** berasa agen kartu diskon***

Take off dan landing adalah masalah selanjutnya yang kami khawatirkan. Bayi dan anak kecil cenderung dikhawatirkan akan rewel pada saat pesawat terbang dan mendarat, karena tekanan udara yang berkurang. Jadi dari banyak artikel yang saya baca, juga saran banyak orang, bayi sebaiknya disusui pada saat dua waktu itu. Mungkin ada hikmahnya juga Baim dalam kondisi kurang sehat ketika pergi. Bukan saya nyukurin, tapi karena dia sakit, badannya lemas dan pengaruh obat, selama perjalanan jadi banyak tidur, sesekali saya kasih ASI. Perjalanan Jakarta-Dubai memakan waktu 8 jam (untungnya malam sehingga bener-bener bisa istirahat) dan Dubai-Vienna 6 jam. Awalnya kami mau memakai penerbangan Lufthansa, tapi ragu, karena dia menghabiskan waktu 17 jam non stop Jakarta-Frankfurt. Kami ingin berhenti di Dubai dulu karena pengen santai, mengerikan banget kayaknya mikir 17 jam di jalan. Seat kami ekonomi pula, yang kursinya kecil ga kayak kelas bisnis yang kursinya mewah dan bisa selonjoran (layar TV nya juga lebih gede, halaah, penting). Kami pengen pake Emirates. Masalahnya (dari tadi masalah mulu yak), tiket Emirates jauh lebih mahal dari Lufthansa. Karena kami pilih kelas super economy (kere emang), harganya 800 dollar sementara ekonomi-nya Emirates 1400 dollar. Nah, tapiii karena masalah visa yang telat tea, si super economy nya Lufthansa keburu habis waktu kami mau beli (sudah dibooking sebelumnya, tapi booking-an otomatis gugur ketika belum dibayar pas tanggal yang ditentukan). Jadinya, yah beli ekonomy nya Emirates deh soalnya harganya ama Lufthansa jadi ga beda jauh.

Iih … skenario Allah mah ga pernah salah. #rezekiAnakSoleh :p Maka, berangkatlah kami bersama penerbagan Emirates kepunyaan Uni Emirate Arab, dengan pramugara pramugarinya yang cakep-cantik menuju Dubai, dan kemudian menuju Vienna. sambung lagi yaah.

foto dulu bertiga