Posted in tips menulis

Tentang PLOT


Para penulis yang cerdas, sudah menulis apa hari ini?

Sudah ada ide, tapi belum dieksekusi? Atau sudah dieksekusi tapi belum pede untuk diposting?

Yuk, kita bahas tema baru untuk tips menulis. Sesuatu yang sangat mendasar, namun sulit diolah karena satu dan lain hal. Ia adalah PLOT.

Plot adalah jalinan peristiwa yang tertuang dalam sebuah tulisan (khususnya fiksi), yang menunjukkan hubungan sebab akibat. Karena A maka terjadi B, kemudian C dan seterusnya. Dalam istilah lain, plot juga sering disebut “alur”.

Alur, dalam definisi menurut KBBI adalah (salah satunya) “lekuk memanjang” atau “jalur”. Sebab fungsi alur atau plot dalam cerita memang menghamparkan jalur untuk menghasilkan efek tertentu.

Efek apa? Tergantung tujuan dan genre tulisan. Bisa efek membuat pembaca senang, sedih, takut atau bahkan berpikir.

Bagaimana menyusun plot?

Yang biasa dilakukan adalah:

  1. Pengenalan cerita

Biasanya di sini para tokoh diperkenalkan. Setting menyangkut waktu dan tempat. Tokoh-tokoh tambahan juga mulai diceritakan hubungannya dengan tokoh utama.

Contoh :

Tokoh Utama : Budi dan Wati.

Setting : Jakarta, tahun 1998.

Tokoh tambahan : Iwan, Adit, Salma, Mira (teman-teman), Koh Hendra dan Ci Yuli (orangtua Budi), Pak Mulyana dan Bu Siti (orangtua Wati)

  1. Awal konflik

Di sini penulis perlahan mulai mengajak pembaca ke suasana yang lebih intens, dimaksudkan untuk mengenalkan awal konflik.

Contoh:

Kehidupan Budi dan Wati sebagai mahasiswa yang menikmati kehidupan kampus sebagai pasangan, mulai terganggu oleh situasi politik pada saat itu. Budi yang etnis Tionghoa sudah sering mendapat perlakuan semena-mena dari orang-orang rasis. Wati mulai sering dikatai macam-macam. Situasi kampus mulai tak kondusif, sebab semua mahasiswa turun ke jalan.

  1. Konflik memuncak

Di sini penulis menuntaskan konflik hingga klimaks. Para tokoh biasanya diberikan konflik emosi, banyak masalah, dan sebagainya.

Contoh:

Jakarta rusuh. Banyak penjarahan dan penyerangan di mana-mana. Wati tak bisa menemukan Budi, yang menurut kabar orang, diculik sejumlah orang tak dikenal. Wati bersama teman-temannya mencoba melacak keberadaan Budi, di antara hiruk pikuk kerusuhan. Mereka harus berhadapan dengan banyak orang jahat, yang tak hanya menjarah, namun juga memerkosa dan membunuh.

  1. Penyelesaian atau ending

Di sini, penulis kemudian menentukan penyelesaian atas konflik yang sudah terjadi. Bisa jadi happy ending, sad ending, atau open ending, tergantung pilihan.

Happy ending = akhir cerita bahagia

Sad ending = akhir cerita sedih/tragis

Open ending = akhir cerita menggantung (biasanya ditujukan agar pembaca bisa mereka-reka ending mereka sendiri, atau sebagai benang merah untuk sequel atau lanjutan cerita)

Nah, banyak orang merasa kesulitan menuliskan PLOT karena satu dan lain hal. Diantaranya, karena ide yang masih sporadic (tidak sistematis) dan ide tambahan yang kadang muncul tanpa diundang.

Misal nih.

Pernah ga udah terpikir mau nulis cerita nganu, konfliknya nganu, endingnya nganu. Beres.

Eh tiba-tiba kepikiran ide lain, yang ketika dimasukkan ke si anu, lah kok jadi ga nyambung? Tapi ide baru ini tak mau pergi, menyeruak tiba-tiba bagai serbuan kenangan bersama mantan?

Caranya adalah dengan membuat dua hal berikut ini:

  1. Writer’s Wall (dinding penulis)

Tempelkan plot cerita yang sudah kita tentukan pada sebuah dinding. Tandai poin-poin penting di dalamnya, yang menjadi inti cerita. Tentukan mana yang menjadi IDE POKOK, mana yang menjadi IDE PENDUKUNG.

Contoh:

*meneruskan plot cerita Budi dan Wati*

IDE POKOK : Budi hilang dalam kerusuhan.

IDE PENDUKUNG :

  • Wati dan teman-teman mencari Budi
  • Suasana hiruk pikuk kerusuhan
  • Tiba-tiba datang seorang lelaki brutal yang ingin merampas harta mereka

Oh ya, ide pokok dan ide pendukung, kalau memungkinkan dibuat per bagian/paragraf ya. Semakin terperinci, semakin bagus.

Apakah harus selalu di dinding? Tidak juga. Ini hanya istilah saja. Anda bisa membuatnya dalam sebuah buku catatan khusus, atau dimanapun. Fungsinya adalah sebagai pengingat (jika kita lupa) dan panduan (ketika kita bingung bagaimana melanjutkan kisah).

Dalam “Writer’s Wall”, kita juga bisa menempelkan karakter. Jika perlu, dengan fotonya. Misal, tokoh Budi adalah seorang lelaki etnis Tionghoa berusia 20-an. Carilah foto pendukung dari internet, cetak, kemudian tempelkan. Beri nama dan deskripsi karakter. Terkadang, ketika kita memiliki foto (meskipun fiktif), imajinasi kita akan terpicu lebih luas.

Pemberian karakter disertai foto dan deskripsi juga untuk membantu kita, ketika lupa dengan tokoh sendiri. Ini berkaitan dengan deskripsi wajah, warna kulit, gaya rambut dll.

  1. Timeline

Timeline adalah rentang waktu yang kita gunakan dalam kisah yang kita tulis. Apalagi jika kita menggunakan alur double (alur maju dan mundur/flashback). Pastikan tidak terjadi tumpang tindih peristiwa. Hubungannya dengan “Writer’s Wall” tadi, timeline ini bisa digabung dengan storyline dan karakter.

Contoh:

Foto Budi, deskripsi karakter, sematkan tahun (misal : 1998, usia 21, bertemu Wati)

Bagaimana dengan ide spontan yang muncul tiba-tiba tadi?

Selama ia tidak berhubungan dengan kisah yang sedang kita kerjakan, jangan dimasukkan. Sebab ia akan mengacaukan seluruh rangkaian storyline yang sudah kita buat. Itulah mengapa, storyline harus dibuat sedetil mungkin, sehingga membantu kita untuk tahu mana yang sekiranya nyambung, mana yang tidak.

Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan si ide baru?

Simpan ia untuk storyline yang tadi. Jangan dibuang atau dilupakan. Siapa tahu, ia bisa dikembangkan menjadi cerita baru.

Demikian para penulis ketje, tentu tips ini masih banyak kekurangan. Jadi, mari berlatih dan berdiskusi.

Salam.

 

Posted in tips menulis

Memilih dan Mendalami Karakter


Sejauh ini, tips menulis ala Mimin, sudah mencakup hal-hal di bawah ini niih:

  1. Dari mana datangnya ide.
  2. Menulis kalimat awal yang nendang dan menggairahkan.
  3. Eksekusi ide menjadi cerita menarik.
  4. Pengenalan dan pengembangan karakter fiksi.
  5. Teknik Showing not Telling

Nah, kali ini ini mimin ingin membedah soal “pendalaman karakter”. Yah, sebetulnya sih mirip sama tema nomor empat, tapi semoga tulisan kali ini lebih in depth (alias lebih tergali) dibanding tulisan sebelumnya.

Nanti mimin sertakan tautan tulisan nomor empat di bawah, okeh beib.

Mengapa karakter itu FENTING?

Sebabnya adalah, ia akan menjadi pelaku utama dari segala hal yang ingin Anda ceritakan dalam kisah nantinya.

Secara umum ada dua macam karakter. Monmaap Ibu Bapak, ini saya pakai istilah sendiri, ya. ((Jangan diprotes ya, hidup kok banyak protes. Banyak bersyukur dong.))

  1. Karakter Hidup

Saya sebut karakter hidup, sebab kita butuh melakukan pendalaman pada mereka. Karakter hidup terdiri atas tokoh utama (atau para tokoh utama) serta tokoh pendamping.

Misal: dalam genre romance, dua tokoh utama adalah si cowok dan si cewek, tokoh pendamping adalah keluarga atau teman-teman atau gebetan atau orang ketiga.

Masing-masing karakter hidup, sebaiknya diberikan ‘nyawa’ dan identitas. Lengkapnya akan dibahas di bawah. Berapa jumlahnya? Ya tergantung penulisnya lah. Mau sampai puluhan juga boleh.

Dalam serial Harry Potter, JK Rowling menuliskan banyak tokoh hidup, dari mulai para tokoh utama, guru-guru di sekolah Hogwarts, keluarga, dan lain sebagainya.

Dalam contoh lain; di novel misteri Agatha Christie, di awal tulisan selalu ada daftar nama para tokoh disertai dengan peran mereka masing-masing, jumlahnya juga banyak.

 

  1. Karakter Mati

Saya sebut karakter mati, sebab mereka ini fungsinya hanya sebagai tim hore, yang ada di latar. Tidak usah diberi ‘wajah’ bahkan nama.

Misal, mas-mas waiter pada adegan di café, pengantar paket yang mengetuk  pintu rumah, anak pak RT yang saban sore lewat sambil pamer biseps, dan sebagainya.

Kalo ga usah dikasih nama, ngapain dimunculin?

Untuk membuat suasana hidup, dong sis.

Bayangin nih.

Ketika tokoh utamamu sedang berjalan pulang dari sekolah, melewati jalan setapak, menyusuri padang rumput, melintasi sungai dan mendaki gunung, menurut ngana deseu ga akan ketemu siapapun? Horror amat nasibnya.

 

Bentar, itu Ninja Hatori kalik ya.

Mendaki gunung, lewati lembah … sungai mengalir indah ke samudera

Bersama teman, bertualaaaaang …

Kamehaaaaa … mehaaaaaaa

Ciyaaaaat

Negara api pun menyerang.

(udah panjang lebar ga nyambung pulak)

 

Jadi memang si karakter mati ini berfungsi sebagai ornamen yang kita sematkan, supaya hidup para tokoh keliatan beneran, gitu loh.

NEXT!

Mari kita masuk ke pendalaman karakter hidup. Yakin deh, kalo bikin tokoh cowok, yang pertama kepikiran PASTI HARUS CAKEP, yekaaaaan. Yah, manusiawi sih, sebab karakter yang kita buat harus bisa membuat pembaca suka, bahkan mencintai mereka.

Make your readers care.

NAH.

Jangan sampe, pas baca tulisan kita, trus wajah pembaca lempeng aja macem alas setrikaan. Mau tokoh kita putus cinta kek, muntah darah kek, dikejar pocong kek, ora urus!

Buatlah pembaca klepek-klepek membayangkan tokoh yang kita ciptakan. Kalau bisa sampe kebawa mimpi. Makanya tokoh utamanya jangan sebangsa jin, tuyul, pocong atau Uyat yah, camkan itu.

Berikut beberapa teknik membuat pendalaman karakter:

  1. Menciptakan karakter yang karismatik

Apa itu karismatik?

Apakah harus selalu tampan seperti umumnya di drama koreya? Atau harus cantik seperti Cinta-nya Rangga?

Bisa iya, bisa tidak. Sebab karismatik lebih berarti “meninggalkan kesan yang mendalam”.

Karakter ini harus memiliki sesuatu yang bisa membuat pembaca jatuh cinta padanya. Mungkin karena ia baik hati. Bisa juga karena ia sangat sopan. Atau karena ia baik hati, sopan dan tampan (teuteuuup).

Contoh favorit saya misalnya, tokoh Sherlock Holmes dalam novel Sir Arthur Conan Doyle. Sherlock tak pernah digambarkan sebagai seorang yang tampan. Alih-alih, ia arogan dan senang mengisap ganja. Yang membuatnya karismatik adalah ketika ia tak pernah memersoalkan nilai uang ketika memecahkan kasus, dan tentu saja ketika kepintaran otaknya terbukti ampuh memecahkan pelbagai kasus.

 

  1. Menciptakan karakter biasa dengan keluarbiasaan

Ini sebetulnya terjemahan dari “ordinary but extraordinary character”.

Maksudnya apa?

Yah mungkin tokohmu hanya seorang penjaga perpustakaan berusia akhir 30-an, rambutnya berminyak dan penyendiri. Namun setiap kali berjalan pulang ke kosan, ia akan mampir ke supermarket dan membeli makanan kucing. Ia akan memberi makan kucing-kucing di sepanjang jalan hingga ke pintu kosannya. Luar biasa, bukan?

Berikan satu keistimewaan padanya, yang akan membuat pembaca kagum.

Ada yang pernah baca serial “Lupus” nya Hilman? Novel remaja yang sangat hype di tahun 80-an.

Menurut saya, tokoh Lupus ini lah contoh  “ordinary but extraordinary”. Dia anak SMA yang malas belajar, senangnya main, naksir temannya sendiri (Poppy) dan selalu malu untuk ngomong. Apakah Lupus digambarkan ganteng? Tidak. Pintar? Engga, bahkan nilainya sering jelek. Istimewanya Lupus adalah, ke manapun ia pergi, di manapun ia berada, ia selalu menciptakan tawa dan kebahagiaan bagi semua orang.

 

  1. Menciptakan karakter sesuai dengan pekerjaan dan latar belakangnya

Maksudnya, kadang kan kita membuat karakter lengkap dengan pekerjaan dan background keluarga (atau teman-teman). Nah, buatlah itu menjadi sangat mendalam dan believable (bisa dipercaya).

Contoh:

Karakter kita adalah mahasiswa kedokteran yang sedang Ko-as di sebuah rumah sakit, latar belakangnya datang dari keluarga menegah atas, namun mengidap skizophrenia.

Ketika menciptakan karakter tersebut, kita harus tahu banyak soal mahasiswa kedokteran, bagaimana cara mereka hidup, bernafas dan bergaul. Kalau perlu, jenis hidangan makan siang mereka apa, kita harus tahu. Proses ko-as di rumah sakit itu seperti apa, berapa jam ia harus bekerja, berapa lama dibentak-bentak dosen pembimbing, dsb.

Kemudian, penyakit yang ia derita juga harus kita selidiki dulu. Gejalanya bagaimana, kalau tiba-tiba kambuh bagaimana.

Intinya, semakin kompleks pendalaman tokoh kita lakukan, semakin banyak PR kita untuk melakukan research.

Itulah mengapa banyak penulis yang menggunakan latar belakangnya sendiri sebagai background tokoh mereka. Ika Natasha sering menciptakan tokoh banker, sebab ia sendiri bekerja di bank. John Grisham banyak menulis novel dengan tokoh pengacara, sebab itulah pekerjaannya sebelum menjadi novelis. Mira W. dan Marga T. banyak menciptakan karakter dokter, karena memang itu profesi mereka.

Memang, tidak menutup kemungkinan bahwa banyak pula penulis yang jago menciptakan tokoh mereka sendiri, out of nowhere, ujug-ujug pekerjaannya nganu, dan sangat terpercaya.

Misalnya, Sidney Sheldon. Ia menciptakan tokoh pengacara, duta besar, agen rahasia, ibu rumah tangga hingga pencuri berlian. Semuanya wuedan pendalaman karakternya. JUARAK.

  1. Menciptakan karakter putih-hitam

Nah kalau yang begini model superhero-syndrome. Tokoh utama mesti digambarkan sangat baik, tokoh jahat sebaliknya. Tokoh utama, karakternya baik, tanpa cela, tampilan fisik sempurna. Contohnya tokoh Boy dalam film Catatan Si Boy, tokoh Fakhri, dalam novel Kang Abik “Ayat-ayat Cinta”, dan tokoh-tokoh imajiner lainnya yang rasanya kemungkinan bertemu di dunia nyata sangat mustahil.

Sah-sah saja menuliskan tokoh seperti ini, sebab tentu penulis ingin agar tokohnya dicintai pembaca.

  1. Menciptakan karakter abu-abu

Yang terakhir ini, kebalikan dari nomor empat.

Tren ini dimulai di akhir tahun 90-an deh. Terutama di dunia perfileman. Tokoh utama tak lagi digambarkan sangat sempurna, namun biasa saja, membumi dan manusiawi. Tokoh antagonis juga begitu, tak selamatnya jahat.

Contoh.

Karakter protagonist : mahasiswi usia 20-an yang punya banyak teman, ceriwis dan hangat. Tapi ia tak bisa menyimpan rahasia, senangnya bergosip, mulutnya ember, macem buka kantor cabang lambe turah.

 

Karakter antagonis : teman sekelas si tokoh protagonist, yang pemarah, ga sabaran dan sering tak bisa diajak kerjasama jika ada tugas kelompok. Ia pernah dendam pada si tokoh protagonist, karena kisah hidupnya sebagai anak angkat di keluarga pernah dibocorkan.

 

Pada dua tokoh di atas, dua karakternya masing-masing abu-abu. Tak betul-betul baik ataupun jahat. Manusiawi dan cenderung lebih masuk akal, sih. Bukankah kita semua begitu? Maka, ketika nanti konflik terbangun, bisa jadi pembaca akan (juga) bersimpati pada si tokoh antagonis, setelah ada kilas balik ke masa lalunya (misalnya).

 

Pendalaman masing-masing karakter kemudian bisa disesuaikan dengan plot atau alur cerita yang akan kita hidangkan. Juga sesuai genre yang kita pilih, apakah romance, horror, thriller, action atau komedi.

Setelah beres menentukan mau menciptakan karakter yang mana, kemudian perkenalkan tokohmu pada pembaca.

Untuk pengenalan tokoh bisa disimak pada tips yang ini

Jika boleh menambahkan, perkenalan karakter juga bisa dibuat deskripsi di awal tulisan. Misal, di serial anak KKPK terbitan Mizan, biasanya tokoh-tokoh yang diceritakan akan dibuat deskripsi di awal, bahkan terkadang lengkap dengan ilustrasinya.

Contoh,

Nanda, 12 tahun.

Hobi berenang dan membaca.

Tidak suka menyontek dan benci orang yang sombong.

 

Pada genre tertentu, misalnya horror/misteri atau thriller, penulis terkadang mengenalkan karakter secara perlahan. Seperti lapisan kulit bawang, pendalaman karakternya dibuka sedikit demi sedikit untuk menjaga ketegangan dalam cerita, juga (biasanya) untuk menyiapkan twist di akhir.

 

Demikian tips menulis mimin kali ini. Semoga bermanfaat. Jangan lupa membaca tips yang nomor empat (tautannya di atas), untuk bisa mendapatkan gambaran jelas soal pendalaman karakter.

Tentu, tulisan ini masih jauh dari sempurna, sebab di atas langit masih ada black hole yang memiliki gravitasi sangat tinggi, sehingga mampu menyedot apapun, tak terkecuali Hotman Paris.

Selamat mencoba menulis teman-teman.

Salam literasi.

 

 

 

 

 

Posted in tips menulis

Teknik “Showing not Telling”


Teknik “Showing not Telling

Selamat datang kembali di tips menulis ala Mimin Solehah. Setelah sekian purnama kita berpisah, dengan penuh rasa haru akhirnya seri tips menulis bisa diluncurkan kembali.

Gaes, mungkin kelean pernah mendengar tentang teknik “Showing not Telling” dalam dunia kepenulisan. Pernah ndak? Ya udah manggut aja lah ya. Kalo ikut seminar atau workshop kan kebiasaan orang kita manggut-manggut sok paham gitu kan.

Apa itu teknik “Showing not Telling”?

Show itu matanya tajam, tubuhnya tegap, auranya sekseeh. Senengnya manah-manah gitu lah.

Itu Jon Snow, Bambaaaaang ….

Showing not Telling, atau “Tunjukkan, bukan dijelaskan” (haiyah ga enak kalo diterjemahkan) adalah sebuah teknik menulis untuk membuat tulisan kita menjadi sangat hidup.

Dalam teknik ini, penulis harus pandai memilih diksi yang tepat, sehingga tulisan menjadi semacam “pertunjukan” alih-alih penjelasan.

Contoh ya.

Perhatikan contoh kalimat berikut ini:

Jon Snow sangat mencintai Jumirah.

Oke. Teroos? Udah gitu dong?

*rolling eyes*

Bandingkan dengan contoh selanjutnya:

Setiap kali Jon Snow memandang wajah Jumirah yang ayu, seketika bumi yang ia pijak serasa amblas. Detak jantungnya seperti mau lari maraton. Sewaktu Jumirah meminjam kamus bahasa Valyria miliknya, sesaat kedua tangan mereka bersentuhan. Degh! Jon merasa jantungnya berhenti berdetak. Sudah sekian hari lamanya, Jumirah selalu ada dalam mimpi-mimpi indahnya.

Pada contoh yang kedua, pembaca tak perlu disodori pernyataan bahwa Jon mencintai Jumirah, namun dalam deskripsi beberapa kalimatnya, pembaca bisa menangkap pesan yang sama. Bahkan, dengan deskripsi tersebut di atas, penonton bisa membayangkan perasaan Jon yang sedang dimabuk cinta.

Dengan menggunakan teknik “Showing not Telling” ini, pembaca digiring seolah-olah ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh karakter yang sedang dibaca. Mengapa penting? Ya biar tulisan Anda menjadi hidup, beib.

Teknik Showing ini, tak hanya dipakai untuk mendeskripsikan perasaan, melainkan juga deskripsi tempat, situasi, kegiatan, waktu, cita rasa, panca indera, dll.

Saya kasih contohnya satu-satu ya.

  1. Showing feeling (perasaan)

Telling only = Ibu marah pada Dika ketika ia pulang terlambat.

Showing = Wajah Ibu memucat sewaktu Dika muncul di ambang pintu. Bibirnya terkatup rapat, rahangnya mengeras. Sambil mengepalkan kedua tangannya, Ibu membentak, “Jam berapa ini??

  1. Showing place and situation (tempat dan situasi)

Telling only = Begitu aku masuk ke rumahnya, aku terkejut karena rumahnya berantakan sekali.

Showing = Begitu aku membuka pintu, benda pertama yang kulihat adalah tumpukan piring dan gelas di sudut ruangan, tergeletak begitu saja, dengan sisa tumpahan air kopi menggenang di lantai. Beberapa helai pakaian menumpuk pada benda besar yang kukenali sebagai sofa. Selain pakaian-pakaian itu, ada banyak barang lainnya dari mulai buku, bola sepak, tumpukan surat kabar, sampai ke ketel listrik. Rumah ini lebih parah dari kamp pengungsian.

  1. Showing event (kejadian)

Telling only = Desaku terbakar habis dalam kerusuhan minggu lalu.

Showing = Kerusuhan minggu lalu menyisakan desaku yang sudah hampir rata dengan tanah. Tak ada lagi rumah-rumah penduduk berjajar rapi, hanya tinggal puing-puing dengan sisa jelaga di tembok rumah dan tumpukan barang menghitam yang sulit untuk dikenali.

  1. Showing time (waktu)

Telling only = Waktu aku membuka mata, aku baru sadar bahwa hari sudah siang.

Showing = Saat membuka mata, limpahan sinar matahari yang masuk menembus jendela kamarku membuatku berjengit. Aku berguling ke sisi lain ranjangku, berusaha bersembunyi dari panasnya mentari. Rumah sunyi, tak kudengar suara siapa pun di luar. Keluargaku pasti sudah berangkat menjalankan aktivitas mereka masing-masing. Ya ampun, ini pasti sudah siang.

  1. Showing taste (cita rasa)

Telling only = Spaghetti buatan istriku paling enak sedunia.

Showing = Belum aku menyuap, air liurku sudah terbit. Aroma keju bercampur saus yang dicampur dalam gulungan pasta di hadapanku sungguh teramat menggoda. “Hmmm …” serta merta aku mendesah, begitu suapan pertama memenuhi mulutku. Sensasi rasa dan aroma menciptakan orkestra harmoni bernama kelezatan.

  1. Showing senses (indera)

Telling only = Tiba-tiba aku ingat aroma tubuh Ibu saat menggendongku dulu.

Showing = Saat Ibu menggendongku, aku akan terbenam dalam dekapannya yang hangat, menikmati bau tubuhnya yang khas. Aroma tubuh Ibu seperti campuran adonan terigu, minyak goreng dan sengatan matahari. Mungkin karena Ibuku penjual kue keliling dan sudah menghabiskan waktunya menguleni adonan sejak pagi buta. Ah, tiba-tiba saja aku rindu.

Begitulah beberapa contoh penggunaan “Showing not Telling”. Intinya adalah kepiawaian penulis untuk memainkan kata dan memilih diksi yang tepat, untuk membuat tulisan lebih hidup.

Bayangkan bila pembaca terbius dengan tulisan kita, dan sangat menikmatinya. Bukankah itu berarti tercapai sudah, tujuan kita menulis?

Iya-in aja lah, biar cepet.

Demikian tips menulis kali ini. Mari berdiskusi dan berlatih.

Ciao bella!

 

 

 

Posted in menulis, tips menulis

Pengenalan dan Pengembangan Karakter Fiksi -tips menulis


Ketika memutuskan menulis cerita fiksi, apa yang Anda lakukan pertamakali?

Memikirkan jalan cerita atau menentukan karakter?
Pada umumnya orang akan memikirkan jalan cerita terlebih dahulu. Paling tidak, kita sudah tahu kisah yang akan kita sajikan, berikut konflik dan penyelesaiannya. Pun begitu, dalam kesempatan berbeda, keputusan kita menulis fiksi, boleh jadi dilatarbelakangi karena sebuah karakter.

Misalnya, ketika melihat seseorang yang sangat menarik (dalam kehidupan nyata), mungkin kita jadi penasaran, bagaimana menuangkan tokoh tersebut menjadi seorang karakter fiksi. Artinya, kita berangkat dari tokoh, untuk kemudian kita kembangkan menjadi cerita utuh.

Karakter tokoh adalah hal yang krusial dalam cerita fiksi. Bagaimana tidak? Mereka adalah para pelaku yang mengalami pelbagai kejadian imajiner yang kita timpakan. Entah itu karakter protagonis, antagonis atau sekadar pemeran pendukung.

Dalam setiap cerita, tokoh utama memegang kendali atas kisah yang diceritakan. Jika ia adalah tokoh baik alias antagonis, maka ia akan menyandang beberapa “nilai” yang penulis sematkan. Entah itu tampan, cantik, pintar, baik, atau teraniaya. Ia mewakili sisi positif superhero yang menjadi sentral cerita. Sisanya kemudian akan ada tokoh protagonis, yang biasanya dibenturkan dengan si superhero dalam sebuah konflik. Sisanya, pemeran pendukung.

Apakah pemeran utama selalu harus memiliki moral value?

Dulu, mungkin iya. Sekarang, tidak juga.

Jika Anda perhatikan, banyak karya-karya lama yang diterbitkan dalam bentuk tulisan atau ditayangkan dalam bentuk tontonan, menganut asas hitam versus putih. Tokoh baik akan digambarkan sebagai pemuda tampan yang baik hati dan kaya raya (kalau bisa, jago berantem juga). Sementara, tokoh antagonis adalah kebalikan darinya. Tidak begitu tampan, mungkin kaya tapi sombong, dan jahat. Seolah dunia hanya terbagi dua warna saja, hitam dan putih.

Contohnya: tengoklah novel-novel angkatan lama, sampai sekitar awal tahun 2000. Film juga sama. Hitam dan putih dalam perfileman terasa sangat kental hingga awal tahun 90-an.

Bagaimana dengan sekarang?

Banyak tokoh utama dalam cerita, yang malah sengaja ditonjolkan sisi kemanusiaannya. Mungkin ia agak psycho, mungkin rapuh, mungkin punya banyak kelemahan. Dengan kata lain, karakter seperti ini betul-betul dibuat humanis, sehingga pembaca atau penonton akan merasa dekat dengan para tokoh semacam ini.

Zaman sekarang, bahkan tokoh penjahat pun bisa menjadi tokoh utama.

Anyway, mau berpijak pada pakem manapun, ada hal yang lebih urgen lagi, yaitu tak lain dan tak bukan, masalah pengenalan dan pengembangan karakter tokoh fiksi.

Maksudnya, apa sih?

Ya, tokoh yang Anda ciptakan itu, harus memiliki pijakan yang kokoh sebagai seorang tokoh. Seperti layaknya manusia normal, ia harus punya “hidup”. Ini nantinya berkaitan dengan alur cerita dan logika yang terbangun di sepanjang kisah.

Bagaimana cara mengembangkan karakter tokoh fiksi kita? Apakah dengan cara memberikan narasi lengkap tentang biodata dirinya kepada pembaca di awal tulisan, atau dibuat deskripsi lengkap seperti latar belakang yang Anda buat dalam proposal skripsi?

Sini, Alejandro, saya bisikkan tips dan trik membangun karakter fiksi, supaya terkesan “smooth” dan tidak dipaksakan.

  1. Deskripsi

Teknik ini sepertinya paling umum digunakan. Deskripsi tokoh harus sampai sejauh mana sih? Tergantung penulisnya. Mau lengkap atau selintas, itu adalah keputusan si penulis.

Contoh:

1.Lelaki berkulit legam itu bernama Eman. Eman, saja. Tanpa ada nama belakang. Jangankan nama belakang, hari kelahirannya saja dia tak tahu. Maklum, dibesarkan di panti asuhan, telah merampas haknya untuk mengetahui latar belakang hidupnya. Eman kini duduk di hadapanku, dengan wajah pucat pasi. Baju dan celananya yang penuh noda tanah dipastikan akan mengotori sofaku yang baru dibeli dua bulan lalu. Napasnya yang ngos-ngosan menandakan ia langsung berlari dari lokasi proyek, untuk menemuiku.

2.Kulirik Rolex Daytona 40 mm, yang melingkari pergelangan tangan kananku. Oh, shit! Pada terlambat nih orang-orang sialan. Kulonggarkan dasi di leherku yang tiba-tiba terasa mencekik. Tengah hari belum juga datang, namun tubuhku sudah lelah bahkan sebelum board meeting dimulai. Aku mencoba memusatkan konsentrasiku kepada dua lembar kertas yang ada di saku celana panjangku. Dua tiket konser Java Jazz Festival malam nanti. Untukku, dan Joana.

Dalam deskripsi di atas, apa yang bisa kita simpulkan?

Pada deskripsi pertama, kita mengenal Eman. Eman adalah seorang pekerja bangunan berusia paruh baya. Mungkin 40-50 tahun, kita tidak tahu pasti. Kita tahu bahwa ia berasal dari masyarakat golongan bawah, dan ia dibesarkan di panti asuhan.

Sedangkan pada deskripsi kedua, kita diperkenalkan pada seorang tokoh lelaki (sebab ia memakai dasi dan celana panjang, konsepsi umum), yang belum ketahuan namanya, selain ia memiliki seseorang yang spesial bernama Joana. Kita tahu bahwa lelaki ini bekerja di sebuah perusahaan dan jabatannya mungkin sudah tinggi, menimbang jam tangan yang ia kenakan adalah merek mahal.

Kedua deskripsi di atas sangat bisa dipahami pembaca, tanpa harus melakukan pemaparan terlalu gamblang.

  1. Dialog : Mengembangkan karakter tokoh juga bisa dilakukan melalui dialog.

Contoh:

“Lex! Tungguin! Hosh … hosh …” Wajah Tito kemerahan.

“Cepatan siih … lelet amaaat … baru juga segitu.” Alex mencibir.

“Gu… gua blom sarapan Lex … duh perut kosong nih …”

“Dusta aja lo! Itu lontong sayur sama bakwan, lu sebut apa?”

Tanpa narasi apapun, kita tahu bahwa Tito dan Alex adalah teman (mungkin sahabat, sebab gaya bicara mereka sudah sedekat itu). Alex lebih bugar, dan Tito senang mencari alasan. Mungkin juga Tito lebih banyak makannya dari Alex.

  1. Ciri dengan diksi tertentu

Kita juga bisa menyematkan diksi tertentu yang berfungsi sebagai “ciri” dari tokoh kita. Diksinya bisa apa saja, tergantung kita sendiri.

Contoh:

  • Gadis remaja yang selalu kulihat berjalan di depan rumahku itu, selalu mengikat rambutnya dengan seutas pita merah.
  • “Cuh!” Entah sudah yang keberapa kali, namun kebiasaan Herman meludah ke tanah itu, sungguh menjijikkan.
  • Aku mengenalinya, dari cara dia menggeser kacamatanya ke atas hidung. Untukku, dia terlihat sangat seksi.
  • Pak Agus, guru olahraga kami, yang masih terlihat fit di usianya yang tak lagi muda, senang sekali memamerkan ‘roti sobek’ alias six pack perutnya. Kemudian ia akan menyombongkan prestasinya di kala muda, menjadi atlet Porda.

Pada semua contoh di atas, karakter yang kita ciptakan kita bekali dengan ciri khusus, berupa sesuatu yang biasa mereka kenakan, atau lakukan.

  1. Perantara tokoh lain

Terkadang, kita bisa ‘meminta bantuan’ tokoh lain untuk memperkenalkan tokoh utama kita, atau sebaliknya. Dengan kata lain, memakai point of view yang berbeda.

Contoh:

  • “Dion? Oh dia kakak kelasku di SMA. Baik orangnya, termasuk siswa berprestasi loh,” kedua mata Dinar berbinar-binar saat menceritakannya.
  • Sudah lima tahun kami tak bertemu, namun perempuan itu masih terlihat sama di mataku. Seolah waktu tak pernah beranjak pergi dan memenjarakannya dalam keabadian. Rambutnya masih tergerai indah hingga ke belakang punggung, langkahnya masih terlihat anggun.
  1. Penjabaran perasaan

Teknik ini melibatkan eksplorasi panca indera untuk menjabarkan karakter lewat perasaan mereka. Gunakan diksi yang akan membuat pembaca merasa seolah-olah mengalami apa yang dialami karakter kita.

Contoh:

“Kejadian mendadak barusan sukses menyisakan sesak di dadaku. Masih bisa kurasakan sentuhan tangannya di bahuku saat ia melangkah pergi. Aku memejamkan mata, merengkuh semua kenangan yang pasti menyakitkan, namun selalu kurindukan. Kerongkonganku tiba-tiba tersumbat, membuatku tersedak. Aku terbatuk, dan menyadari pandangan mataku mengabur tertutupi cairan bening airmata tanpa kuundang.”

Sejujurnya teknik-teknik di atas barangkali bukan hal baru. Saya percaya, teman-teman yang suka menulis sudah pernah mencobanya dalam tulisan, meski tanpa dilabeli ‘teknik’.

Uraian di sini pun masih sangat kurang, sehingga saya sangat menyemangati kalian untuk terus membaca dan memelajari lebih banyak ragam tulisan beserta panduan “how to” nya, alias bagaimana melakukannya.

Seperti biasa, kritik dan saran dianjurkan.

Mari berdiskusi.

 

 

 

 

 

Posted in 30 Hari Menulis 2019, menulis, tips menulis

Eksekusi cerita supaya bagus : Sebuah persoalan


Seringkah Anda merasa, sudah punya ide cerita yang oke, tapi ketika dituliskan dan dibaca kembali, kemudian tiba-tiba Anda merasa depresi?

Sebab ketika sudah tertuang dalam bentuk tulisan, ide Anda yang gilang gemilang itu ternyata b-ajah. Se-b ajah segala rupa makanan yang selalu diselipkan green tea.

*kemudian diserang jamaah penyuka green tea*

Ide cerita oke yang tidak kompatibel dengan eksekusi menawan, memang sebuah hal yang sering terjadi pada kita, para penulis banyak gaya.

Kita??? Yakin??

Mengapa itu bisa terjadi, Marimar?

Karena eh karena, kita tidak atau lupa memerhatikan hal-hal berikut ini.

Saya coba mendatanya dalam daftar, beserta solusinya. Berhasil tidaknya nanti, kita lihat saja.

1. Pengembangan ide kurang maksimal
Prolog oke, bahkan cenderung mencengangkan, bikin pembaca penasaran. Setelah paruh kedua cerita, apalagi menjelang ending, malah melempem. Hasil akhir :  antiklimaks.

Solusi:
Biasanya ini terjadi ketika penulis kurang berani mengekplorasi cerita. Maka, pelajari kisah-kisah yang menurut Anda bagus, lihat sampai sejauh mana atau seberani apa si penulisnya mengembangkan kisah.
Bila perlu, dengan ide yang sama, buatlah beberapa plot alternatif, kemudian bandingkan; mana yang lebih keren.

Buatlah sinopsis cerita lengkap, kalau perlu buat timeline. Jadi, kita sudah tahu mau nulis apa dari awal.

2. Bingung meneruskan cerita, akhirnya mentok di tengah jalan, alhasil cerita ga ke sana ataupun ke sini. Persis rangorang yang terjebak antara dua kubu : bubur diaduk vs tak diaduk.

Ada beberapa penulis yang tak suka membuat kerangka cerita, melainkan langsung eksekusi. This is totally fine. Saya juga sering seperti itu. Namun bila Anda jenis penulis yang tidak pandai berimprovisasi, sebaiknya jangan.

Solusi:
Biasakan membuat kerangka atau outline cerita
Secara sederhana, cerita apapun hanya terdiri dari tiga tahap : prolog cerita – konflik (dan penyelesaiannya)- ending cerita.

Misal:
Tokoh A dan B, hubungan Ibu dan anak.

Konflik : bagaimana A dan B harus bertahan hidup berdua di tengah kemiskinan, sebab si ibu seorang single parent, mereka memiliki banyak masalah.

Ini premisnya sudah bagus. Anda tinggal memikirkan bagaimana cara menyampaikan konflik dan mengeksplorasinya.

Apakah si tokoh akan dibuat menya -menye dan hobinya nangis tiap diintimidasi oleh debt collector? *ceritanya mereka banyak utang*

Atau mau dibuat tangguh meski diterjang badai (bukan Kerispatih)?

Endingnya belum ketahuan nih. Ya gapapa, nanti juga keliatan apa mau dibuat happy ending, sad ending atau open ending (apaan itu banyak banget jenis endingnya? Gugling atuh Bapak, Ibu … jangan manja!)

3. Pemilihan diksi yang tidak tepat.
Terkadang ada banyak ide cerita yang menarik, namun ketika dibaca kok membosankan ya?

Bisa jadi masalahnya ada di DIKSI.
Diksi itu adalah jenis kata yang kita pilih. Ini satuan KATA loh ya, bukan kalimat.

Contoh;
Untuk aktivitas “melihat” yang dilakukan panca indera bernama MATA, ada begitu banyak diksi yang bisa kita pilih:

Melihat, memandang, melirik,menatap, melotot, mengerling, bersitatap, bersirobok, membelalak, menyipit, dll.

Percaya atau tidak, semua kata yang saya contohkan di atas, jika kita sematkan dalam kalimat, punya efek yang berbeda-beda.

Contoh:
Kita ingin menggambarkan seorang pemuda yang kaget melihat penampilan baru pacarnya yang tiba-tiba aneh, kira-kira kalimat mana yang lebih cocok dipakai di bawah ini:

a. “Surprise!” gadis centil itu memamerkan rambut barunya yang di-highlight dengan pelbagai warna, membuat pacarnya melotot tiba-tiba.

b. “Surprise!” gadis centil itu memamerkan rambut barunya yang di-highlight dengan pelbagai warna, membuat pacarnya membelalak tiba-tiba.

Kedua kata di atas sah-sah saja dipakai.

Pada kata “melotot”, sebagai pembaca, kita paham bahwa si pacar merasa marah karena penampilan gadisnya. Mengapa kita tahu ia marah? Sebab “melotot” biasanya berkonotasi dengan amarah.

Sedangkan pada kata “membelalak” kita tahu bahwa si pacar kaget luar biasa. Marah atau tidaknya, belum tentu.

PR buat penulis : Anda ingin menghasilkam efek yang mana?

4. Gaya menulis yang itu-itu saja.

Banyak penulis mengawali kalimat pembukanya dengan “ pada suatu hari” atau “ketika” atau deskripsi panjang membosankan. Sehingga belum membaca sampai paragraf kedua, pembaca sudah menguap dramatis dan memutuskan untuk tidur saja.

Ini bisa disiasati dengan banyak mengeksplorasi kalimat awal (saya sudah pernah menulis soal ini) dan atau memerhatikan gaya para penulis yanh sudah jempolan. Kemudian banyak berlatih. Sebab, konon kabarnya bakat itu hanya 1 %, sisanya kerja keras.

5. Bacaan kurang, sehingga yang ditulis jadi hambar, kurang gizi. (makanya jangan makan MSG teroos-kata mamak)

Pernah tidak, Anda membaca tulisan dengan ide yang sama persis dengan kepunyaan Anda, namun entah kenapa tulisan orang yang Anda baca itu, berkali-kali lipat lebih bagus dari punya Anda?

Nah boleh jadi, Anda kurang banyak membaca.

Penulis yang banyak membaca, kualitas tulisannya cenderung lebih jernih, runut dan enak dibaca. Pemilihan diksinya beragam, flow tulisan mengalir, logika cerita terjaga dan penulisan rapi.

Nah tuh, sudah dijembrengin!
Sudahkah Anda melakukannya?

Dengan banyak membaca, kosa kata kita bertambah, artinya ketika nanti kita menulis, tulisan kita akan terasa lebih kaya dan bergizi.

Menulis itu kan ibarat menuang (kalo kata salah satu mentor menulis saya) nah dari mana kita punya bahan untuk menuang? Ya dari membaca. Membaca itu proses mengisi.

Apa yang mau dituang kalau isinya saja tak ada?

Apa yang mau dimasak kalo bahan makanannya saja kita belum beli ke pasar?

Gimana mau dilamar atau melamar sedangkan usaha pendekatan aja ga pernah?

Begitulah kura-kura.

6. Hal-hal teknis yang sering diremehkan

Deuuuh ini nih penyakit banyak orang.

KZL.

TANDA BACA, TYPO atau salah ketik, SPASI terlalu rapat, PARAGRAF terlalu panjang, banyak EJAAN yang salah.

Ingat, tujuan kita menulis itu minimal menghibur pembaca, syukur-syukur pembaca bisa mendapatkan pesan moral kek, ilmu baru kek.

Ini boro-boro menghibur, yang ada nyiksa.

Ketika dibaca, langsung depresi lihat tanda baca amburadul, spasi bikin mata kelilipan, paragraf gemuk bikin ngantuk.

Ondeh mandeh Tuesday
Bertobatlah HEY!

Ingatlah bahwa pembaca itu seperti klien yang memakai jasa kita, dan jika mereka puas, kita pun senang,yekaaaan.

Siapa sih yang tidak senang ketika tulisan dibaca orang kemudian ada yang komen:

“Kak tulisannya keren, deh!”

Seneng kaaan.

“Kakak kok, tulisannya bagus, bikin hatiku hangus …”

“Eh?”

“Hangus oleh api asmara.”

uwuwuwu

Posted in tips menulis

Menulis Kalimat Awal yang Nendang dan Menggairahkan


Setelah menemukan ide dan menyusun sinopsis cerita, langkah berikutnya yang akan kita bahas adalah mengenai : menulis kalimat awal yang nendang. Dalam hal ini, tidak terpentok hanya satu kalimat ya, bisa juga beberapa kalimat.

Mengapa penting?

Kalian pernah tidak membaca sebuah cerita, yang baru membaca dua-tiga kalimat saja, langsung merasa bosan? Ih, awalnya aja udah ngebosenin, pasti ceritanya jelek. Setelahnya, kalian akan meninggalkan cerita itu. Bikin males aja.

Dalam penulisan nonfiksi, kalimat awal biasa disebut “lead”. Dalam fiksi tidak ada istilah khusus (sependek pengetahuan saya). Dalam tulisan ini, saya akan menggunakan istilah “lead” ini ya, dan akan memberi contoh. Contoh akan mengambil tulisan fiksi, meskipun bukan tidak mungkin bisa diaplikasikan untuk nonfiksi juga.

Nah, bagaimana caranya membuat kalimat awal yang menggairahkan? Yang bikin pembaca menahan napas dan tak sabaran ingin membaca keseluruhan ceritamu?

Berikut beberapa cara yang bisa dipakai.

  1. Lead spoiler/ringkasan

Kita bisa memulai dengan kalimat pertama yang sebetulnya ringkasan atas keseluruhan cerita. Dengan kata lain, kita memberikan spoiler.

Contoh:

Synopsis cerita = Pak Kasim adalah tukang parkir difabel di sebuah kampus dengan tanggungan 4 anak, tanpa istri. Ia berjuang membesarkan keempat anaknya menjadi sukses.

Lead :

Meski bertangan buntung dan hanya seorang tukang parkir, Pak Kasim adalah seorang pekerja keras yang menanggung hidup keempat anaknya seorang diri.

Catatan : mungkinkah kita menyajikan konflik langsung di awal tulisan? Mengapa tidak?

Misalnya:

Tak pernah kusangka hidupku akan berakhir di ujung mata pisau yang dihunjamkan perempuan itu di leherku. Perempuan yang sudah merebut suami dan membuat hidupku berantakan.

Ketika membaca kalimat itu, pembaca sudah bisa menebak bahwa konflik yang akan kalian sajikan adalah soal rumah tangga. Kehadiran pelakor (ya ampun topik favorit buat sebagian buibu yekaan) yang menghancurkan rumah tangga si “aku”.

  1. Lead Deskriptif

Sesuai namanya, kita bisa menggambarkan situasi atau karakter orang sebagai pembuka tulisan kita.

Dalam novel “Laskar Pelangi”, Andrea Hirata menggunakan cara ini dengan menulis suasana ruangan kelas di SD Muhammadiyah di hari pertama ia sekolah. Ketika kita membaca, kita akan langsung dibuat trenyuh dengan miskinnya sekolah Ikal nun jauh di Belitung sana.

Saya pikir, cara ini paling banyak digunakan oleh penulis, tinggal bagaimana mengolahnya supaya menarik saja. Kata kuncinya adalah: MEMILIH DIKSI.

Contoh:

Deskripsi tempat

Sontak aku menutup hidung ketika memasuki ruangan itu. Selain sangat pengap, sekilas aku bisa melihat ujung ekor beberapa makhluk pengerat yang tunggang langgang bersembunyi saat pintu terbuka. Jangan tanya soal cat dindingnya, masih punya keempat dinding di setiap sudutnya saja sudah bagus.

Deskripsi suasana

Senja baru saja beranjak ketika aku selesai membongkar tas di rumah tua itu. Cahaya yang redup membuatku terpaksa menyalakan lampu dari ponsel. Aku masih tak tahu di mana letak sakelar lampu. Di luar, suara tonggeret mulai bersahut-sahutan. Aku baru menyadari, betapa sunyinya rumah ini sebelum binatang-binatang itu bersuara.

(khusus deskripsi suasana, bisa dibantu dengan INDERA, misal mendengar, melihat, merasakan, mencium, dll)

Deskripsi orang

Tubuhnya tinggi menjulang, kuperkirakan di atas 170 cm. Tinggi sekali, untuk ukuran perempuan Asia. Wajahnya berpulas bedak tebal dan gincu. Menilik kerutan di sudut matanya, agaknya ia sedang berjuang habis-habisan untuk melawan umur.

  1. Lead dialog

Kita bisa mengawali tulisan dengan dialog langsung dari para tokoh.

Contoh:

Synopsis : Raka dan Dewi adalah sepasang kekasih ketika remaja. Nasib membuat mereka harus berpisah. Suatu hari setelah dewasa, Dewi tiba-tiba menerima sepucuk surat undangan pernikahan Raka. Inti cerita adalah tentang bagaimana Dewi akan menghadiri pernikahan Raka, meski hatinya hancur sebab ia masih mencintainya.

(Monmaap, contohnya cheesy banget. Saya kepikirannya ini).

Contoh lead dialog:

“Tahukah kamu mengapa boneka ini disebut Teddy Bear?”

“Kenapa?”

Raka si “ensiklopedia berjalan” itu tersenyum. “Diambil dari nama panggilan Theodore Roosevelt, mantan presiden AS, yang menolak membunuh beruang hasil tangkapan para pelayannya.”

Dewi memandang boneka beruang di tangannya. Ya, ini boneka yang sama, yang pernah Raka hadiahkan kepadanya. Dulu.

  1. Lead nyentrik

Disebut ‘nyentrik’, karena dalam lead ini, kita bisa menggunakan cuplikan lagu, puisi atau bunyi-bunyian (onomatope).

Contoh:

Brak!

Pintu kelas tiba-tiba terpentang lebar, membuat semua anak yang sedang tekun mengerjakan soal latihan Fisika terlonjak. Anak yang pura-pura tidur di sudut kelas saja, sampai terjungkal dari kursinya.

Untuk contoh lirik lagu dan puisi, tampaknya sudah sering digunakan ya.

  1. Lead berupa fakta.

Lead semacam ini bisa diawali dengan kalimat sederhana, tapi memukau.

Dalam novel “Bumi Manusia”, Pramoedya Ananta Toer memulai tulisannya dengan menulis satu kalimat; “Namaku Minke.” Setelahnya ia menuliskan tentang tokoh bernama Minke ini.

Contoh 1:

Namaku Dera.

Tolong jangan disingkat menjadi “Dede”, aku tak suka. Ibuku menamaiku begitu, sebab aku lahir di bulan Desember akhir. Desember-akhir = Dera. Ngerti kan, betapa bodohnya ide tersebut? Mengapa namaku tidak sekeren orang lain?

Contoh 2:

Aku seorang penggali kubur.

Ya, kalian tidak salah baca. Aku orang yang kalian biasa lihat, jika ada salah satu anggota keluarga, tetangga atau teman kalian meninggal. Aku orang yang berada paling depan, namun tak benar-benar terlihat. Profesiku sama dengan mayat yang kukuburkan. Dibutuhkan ketika ada, dibuang ketika sudah tak penting.

  1. Lead Kejutan atau teka-teki

Ketika menggunakan lead ini, kita berharap pembaca akan bertanya-tanya apa sebenarnya cerita yang akan kita tulis. Kita harus membangun rasa penasaran mereka.

Contoh:

Dengan tangan gemetar aku membuka peti kecil seukuran kotak pensil itu. Hanya ada secarik kertas lusuh di dalamnya. Perlahan kubuka lipatan kertas tersebut.

AKU TAHU DOSAMU LIMA TAHUN LALU.

Jantungku seperti berhenti berdetak. Si … siapa ini??

  1. Lead waktu

Kita bisa juga memulai dengan menyebutkan waktu secara spesifik.

Contoh:

30 Maret 2001.

Saat itulah pertamakali aku bertemu dengannya. Lelaki yang membawa neraka ke dalam hidupku.

Tentu saja selain ketujuh macam lead di atas, kita juga bisa menggunakan lead gabungan, dari beberapa lead yang ada. Tentu saja ini bukan pakem satu-satunya, bukan teknik satu-satunya. Jika memang kalian merasa sudah oke dengan tulisan yang dibuat sampai sejauh ini, selamat deh. Anggap saja tulisan ini hanya semacam informasi tambahan saja.

Sekali lagi, kenapa sih menulis kalimat awal itu penting?

Ada kutipan yang mengatakan, “You never get a second chance to make first impression” atau “kamu takkan dapat kesempatan kedua untuk bisa membuat kesan pertama.

Anggaplah tulisan kalian itu seperti seseorang yang akan mengikuti wawancara kerja. Siapa sih yang tak ingin memberikan kesan pertama yang baik saat wawancara? Jawabannya tentu, orang yang ga mau kerja. Krik krik. Jangan ditabok lah plis, iya saya garing.

Maka, perlakukan juga kalimat awal itu semacam polesan untuk mempercantik kesan pertama itu. Dan ini sangat menentukan loh. Kalimat awal itu semacam teaser atau trailer kalau di film. Ketika kalian mau nonton film, trus kalian nonton trailernya. Setelah nonton trailer, hanya ada dua kemungkinan: kalian pengen banget nonton film itu atau tidak sama sekali.

Begitu.

Tentu tulisan saya ini juga tidak bersifat absolut. Semua contoh yang saya tuangkan di sini adalah hasil dari mengikuti pelatihan menulis (pelatihan menulis artikel bersama Tempo dan beberapa kelas artikel) dan pengalaman pribadi. Sejujurnya, 85 % tulisan saya setiap hari adalah nonfiksi. Maka jika kalian merasa tidak setuju dengan tulisan ini dan ingin menambahkan, saya dengan senang hati menyambutnya.

Sekian, dan mari berdiskusi.

*semua contoh kalimat adalah tulisan saya sendiri*

 

Posted in tips menulis

(Darimana datangnya) IDE


Ada begitu banyak poin yang ingin kita bahas bersama-sama. Mari kita mulai dari langkah pertama ketika akan menulis.

IDE CERITA

Kalian pernah tidak, merasa heran dengan ide orang lain, yang tak ada habis-habisnya, dan beda dari yang lain?

Misalnya nih. Kalian lagi ikut tantangan menulis, dengan pelbagai tema berbeda setiap harinya. Kemudian kalian merasa sudah pede dengan ide dan pengembangan cerita yang kalian pilih. Kalian tulis, setor, beres.

Ketika membaca cerita orang lain, kalian langsung merasa shock. Kenapa orang lain bisa kepikiran ke sana yaa??

Pernah?? Pernah??

Ga usah malu sih, ngangguk mah ngangguk aja.

DARI MANA SIH DATANGNYA IDE?

Dari mana-mana kakaaaa … mari kita buat daftarnya:

  1. Pengalaman pribadi
  2. Pengalaman orang lain
  3. Sepotong kisah dari film yang pernah ditonton
  4. Sekelumit adegan dari novel/buku yang pernah dibaca
  5. Percakapan yang pernah kita dengar
  6. Lingkungan sekitar
  7. Benda-benda yang kita lihat
  8. Karakter orang-orang yang kita kenal
  9. Status orang di medsos

Daftarnya bisa sangat panjang, tergantung sejauh mana kita bisa mengembangkan ide.

Salah satu cara paling efektif untuk melakukannya adalah:

BUATLAH MIND-MAPPING

Contoh:

Tema : DARKNESS (diambil dari tema tanggal 13 Juni)

Saat kalian membaca tema di atas, apa yang paling umum orang pikirkan tentang “darkness/kegelapan”?

Cerita horror. Pasti.

Mungkin kalian akan menulis tentang tersesat di hutan tengah malam kemudian ketemu makhluk jadi-jadian. Atau kalian akan menulis tentang kondisi listrik mati, kemudian tiba-tiba ada yang mencolek bahu kalian dari belakang, atau yang lainnya. Pokoknya horror.

Tapi coba kembangkan ke ide yang lain. Usahakan berpikir secara “out of the box” atau berpikir dengan cara yang tidak biasa.

Misalnya.

FIKSI

  1. Bercerita dari sudut pandang orang dengan disabilitas tuna netra. Dunia adalah kegelapan baginya.
  2. Seseorang yang sedang depresi dan putus asa. Hidup adalah juga kegelapan atau jalan buntu baginya.
  3. Seseorang yang anti sosial. Baginya, kegelapan itu tidak menakutkan, melainkan nyaman. Untuknya, berinteraksi dengan orang lain itu yang lebih menakutkan.
  4. Kehidupan seorang psikopat yang memiliki ruang bawah tanah yang gelap, tempat ia menyekap para korbannya.
  5. Sudut pandang binatang yang hidup di tempat gelap. Misalnya, kelelawar.
  6. Bayangkan jika matahari berhenti bersinar, dan dunia bekerja dalam kegelapan. Semua orang bekerja dan bersekolah dalam gelap.
  7. Bayangkan seseorang yang terbangun dalam kondisi terkubur di dalam tanah, padahal ia belum mati. Sekelilingnya gelap (terinspirasi dari film Buried).
  8. Bayangkan kehidupan seorang penggali kubur yang suatu hari terperangkap dalam lubang galian yang ia buat sendiri.

Dan seterusnya.

NONFIKSI

  1. Berceritalah mengenai abad kegelapan yang pernah terjadi di Eropa pada zaman dulu.
  2. Mengapa rata-rata orang takut dengan gelap?
  3. Tips mengajarkan anak supaya tidak takut gelap (ini biasa sih)
  4. Mengapa bisa ada gelap? Mengapa tidak terang saja? Ini filosofis sekali. Tapi menarik.
  5. Mengapa kegelapan selalu diasosiasikan dengan kejahatan?

Dan seterusnya.

Jika perlu, buatlah daftar ide sepanjang-panjangnya. Kuras otak kalian untuk mengeluarkan banyak ide. Ketika selesai, baca ulang dan posisikan sebagai pembaca. Kira-kira, ide mana yang paling menarik, dari puluhan atau bahkan ratusan ide yang sudah kalian tulis? Mana ide yang kira-kira nendang, dan beda dari yang lain? Kalau perlu, ide yang sangat liar.

Bagaimana kalau sudah berusaha membuat mind-mapping, tapi ide masih mentok juga?

Hmm … berarti kalian kurang ASUPAN.

Untuk bisa menulis, kita butuh amunisi. Apa itu? Ya dengan membaca.

Para penulis andal, biasanya adalah pembaca yang rakus. Penulis yang banyak membaca, kualitas tulisannya pasti akan berbeda dengan yang sedikit membaca, apalagi yang tidak membaca sama sekali. Saya ketika membaca sebuah tulisan, biasanya akan langsung tahu berapa banyak si penulis membaca buku. Sebab, penulis yang banyak baca, biasanya akan menghasilkan tulisan yang lebih jernih, bermutu dan bergizi.

Basi deh kalo sudah denger, penulis yang ingin bisa nulis tapi males membaca.

Heloooowwww.

EPILOG – BERGANTI JUBAH

Nah, untuk menutup tulisan seri pertama ini, saya akan membahas soal ‘berganti jubah’.

Istilah ini saya dapatkan dari salah satu pelatihan menulis yang pernah saya ikuti.

Ada dua macam JUBAH yang harus kita kenakan.

  1. JUBAH PENULIS

Ketika sedang ‘mengenakan’ jubah yang ini, tugas kalian adalah MENULIS. Menyambungkan kata, menenun makna. Asal kata “text” atau teks adalah dari Bahasa Latin (textuse). Artinya MENENUN. Maka tugas kalian adalah menenun, menyatukan, memilah dan mengisi semua kata yang akan kalian jalin menjadi cerita utuh.

 

  1. JUBAH PEMBACA

Kalian harus mengenakan jubah ini saat selesai menulis. Berpura-puralah sebagai pembaca, orang yang sama sekali tidak mengenal kalian. Baca kembali tulisan yang tadi sudah dibuat. Periksa tanda bacanya; apakah enak dibaca, apakah bikin ngos-ngosan karena kalimatnya panjang-panjang, dan jarang pakai koma?

Periksa juga ejaannya, jangan-jangan saking kepedeannya, kita, tanpa sadar membuat banyak TYPO atau salah ketik. Pembaca kemudian mengerenyit ketika membaca tulisan kita. Sudah ceritanya ga enakeun, banyak salah ketik lagi.

Beres tanda baca dan ejaan, nilailah kisah yang Anda tulis. Bagus tidak? Dari skala 1-10, Anda akan kasih skor berapa?

Sebelum tulisan Anda diobrak-abrik oleh para kritikus, lebih baik Anda sendiri yang mengacak-ngacaknya. Ngerti kan, maksudnya?

 

Intinya, jadi penulis tidak boleh malas. Banyaklah membaca, dan mencatat. Amati tulisan-tulisan orang lain yang menurut Anda bagus. Baca kembali novel-novel yang Anda sukai. Tiru gaya penulisan penulisnya.

Emang boleh meniru?

Kenapa tidak? Yang tidak boleh itu menjiplak. Meniru dan menjiplak beda ya kakak.

Tulisannya sudah terlalu panjang ini. Saya cukupkan sampai di sini dulu untuk seri pertama. Kita lanjut lagi di seri selanjutnya ya.

Mari berdiskusi.