Posted in Sosial Issues

Lingkaran Kejahatan


“Prefrontal Cortex” adalah sebuah istilah asing, yang barangkali hanya dipahami para neurologist, orang-orang yang belajar medis dan yang mau gugling untuk tahu artinya.

Prefrontal Cortex adalah bagian penting dari otak. Berada di depan area frontal lobe, ia berfungsi sebagai pengatur tindak tanduk kompleks. Perencanaan perilaku kognitif, mengekspresikan kepribadian, memahami kehidupan sosial dan berperilaku sesuai aturan sosial, juga mengambil keputusan.

Apakah Anda bisa melakukan semua yang saya sebutkan di atas? Jika iya, maka selamat. Anda masih sehat. Sebab menurut hasil penelitian para ahli, psikopat mengalami kerusakan di area khusus ini, sehingga mereka tak mampu melakukan sekian hal tersebut di atas.

Tulisan ini sebetulnya terpicu diskusi beberapa waktu lalu dengan si sulung, yang tiba-tiba menganggu saya yang sedang khusyu main ludo online.

“Mii … sebenernya serial-killer itu menurut Umi, akibat nature atau nurture?”

“Hmm …” Aduh, gagal dapet enam (dalam hati).

Kemudian sulung saya yang masih berusia 18 tahun tapi dengan pemahaman jauh lebih tua dari usianya tersebut, terus menerus meneror dengan lebih banyak pertanyaan. Pada akhirnya, hari itu, kami sama-sama membaca (dan membaca ulang) banyak kasus pembunuhan terkenal.

JUNKO FURUTA

Para penggemar kisah kriminal dan hukum tentu tahu dengan kasus pembunuhan yang menggegerkan di Jepang. Kisah sedih yang menimpa Junko Furuta. Di tahun 1988, Furuta adalah siswa SMA yang populer karena kecantikannya. Tapi, siapa bilang yang cantik selalu beruntung? Furuta tidak mengalaminya. Kecantikannya justru menjadi malapetaka. Seperti novelnya Eka Kurniawan “Cantik Itu Luka”, terkadang kecantikan adalah kutukan.

Di antara sekian banyak pemuda yang naksir Furuta, salah satunya adalah Hiroshi Miyano. Ia menaruh hati pada Furuta, yang kemudian menolaknya. Sialnya, Miyano adalah anak muda yang tergabung dalam gangster Jepang yang mengerikan, Yakuza. Di sekolah pun, Miyano terkenal sebagai seorang pembully, yang tak segan-segan menyiksa dan melukai teman-temannya.

Penolakan Furuta membuat Miyano berang. Harga dirinya sebagai seorang berandal yang ditakuti runtuh seketika. Di suatu malam di bulan November 1988, Miyano menculik Furuta yang baru saja pulang dari pekerjaan paruh waktunya. Furuta kemudian dibawa oleh Miyano dan ketiga temannya, termasuk salah seorang yang bernama Minato.

Furuta dibawa ke rumah Minato dan disekap selama berbulan-bulan oleh keempat anak muda berandal tersebut. Orangtua Minato tak berani berbuat apa-apa, sebab mereka takut pada anak mereka sendiri, sebab Minato bergabung dengan Yakuza.

Selama penyekapan, Furuta mengalami kekejian yang sulit dipahami akal sehat manusia pada umumnya. Pemerkosaan dan penyiksaan fisik adalah makanannya sehari-hari. Ia juga dipaksa memakan kecoa dan kotorannya sendiri, serta kehilangan kendali atas kandung kemih dan kesulitan mengontrol buang air besar, akibat anus dan kemaluannya sering dimasuki pelbagai benda asing.

Membaca deskripsi kasus Furuta membuat saya tertegun dan istighfar berkali-kali.

Bulan Januari 1989, fisik Furuta sudah sangat payah. Catatan kepolisian kelak menemukan bahwa Furuta meninggal setelah mengalami penyiksaan selama dua jam penuh. Setelah meninggal, keempat pelaku membungkus tubuh Furuta dengan selimut dan memasukkannya ke dalam sebuah drum bervolume 200 liter dan mengisinya dengan semen basah. Mereka kemudian membuang drum tersebut ke sebuah truk semen. Bulan Maret 1989, drum tersebut ditemukan.

— untuk kasus lengkapnya silakan gugling, salah satu yang lengkap menyajikan kronologis kisahnya adalah Tirto.id —

MARY BELL

Di bulan Mei tahun 1968, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-11, Mary Bell mencekik mati Martin Brown, bocah berusia empat tahun di Newcastle, Inggris. Beberapa hari setelahnya, Mary mengajak temannya Norma Joyce (13) untuk mengunjungi salah satu tempat penitipan bayi di daerah yang sama.

Di atas salah satu tempat tidur, Mary meninggalkan pesan pengakuannya sebagai pembunuh Brown. Polisi, yang kemudian menemukan kertas bertuliskan “We did murder Martin Brown, fuck of you Bastard!” tidak menganggapnya penting, dan mengira itu hanya sebuah lelucon.

Sekitar dua bulan kemudian, Mary kembali melakukan pembunuhan. Kali ini korbannya adalah Brian Howe, bayi berusia tiga tahun, yang ia cekik di sebuah lapangan kosong. Saat itu, Norma Joyce ikut menyaksikan. Setelah meninggalkan mayat Howe, mereka pulang ke rumahnya masing-masing.

Sejam kemudian, Mary kembali ke lapangan tersebut dengan sebilah gunting. Dengan tenang, ia menggunting sebagian rambut Howe, menyayat kakinya, dan memotong penis bocah tak berdosa tersebut. Tindakan terakhirnya adalah mengukir huruf “M” di perut korban.

Mary kemudian tertangkap polisi, karena tingkahnya yang mencurigakan saat pemakaman Howe, yang kematiannya menggegerkan seantero kota. Norma ikut ditangkap sebab dianggap sebagai kaki tangan Mary. Di persidangan, Mary berkelit dengan mengatakan bahwa Norma lah yang melakukan semuanya.

Mary dijatuhi hukuman penjara selama 12 tahun. Saat bebas dari tahanan, usianya baru 23 tahun.

Mary, menurut laporan psikiater, mengalami kerusakan prefontal cortex, seperti yang saya sebutkan di awal tulisan. Di usianya yang masih belia, ia tak mampu memroses banyak fenomena, terutama berkaitan dengan sosialisasi atau hubungan antar manusia. Bila manusia pada umumnya paham dengan aturan sosial dan memiliki kompas moral, Mary tidak.

Apa yang menyebabkannya begini?

Betty McCrickett, Ibu Mary adalah seorang pekerja seks komersial dengan spesialisasi BDSM (Bondage, Discipline/Domination, Sadism, Masochism), pendek kata, ia terbiasa melayani permintaan seksual yang menyimpang. Mary tak pernah tahu siapa ayah biologisnya, sebab Ibunya punya banyak partner seksual.

Mary pernah bertanya pada Ibunya, apakah ibunya dihamili oleh ayahnya sendiri (kakeknya Mary), dan Betty tak pernah menyangkal, ia malah mengatakan “Kamu adalah bibit setan.” Sementara, setelah ia agak besar, Mary percaya bahwa ayah biologisnya adalah Billy Bell, seorang penjahat kambuhan. Billy pernah menikahi Betty, meski tak bertahan lama.

Mary pun kerap disiksa oleh Ibunya dengan pelbagai cara yang tidak manusiawi, seperti mendorongnya lewat jendela atau memberinya pil tidur dalam dosis banyak. Ketika Mary berkali-kali selamat, Betty akhirnya menyerah untuk mencoba membunuh Mary, dan memutuskan menjual anaknya tersebut untuk menambah pemasukan finansial. Sejak usia empat tahun, Mary sudah terbiasa melayani laki-laki pengidap pedofil.

Perilaku Mary di sekolah juga tak luput dari perhatian guru dan teman-temannya. Ia dikenal sebagai anak yang senang menyiksa binatang dan tak segan menyakiti teman-temannya secara fisik.

Membaca latar belakang Mary Bell, sama pedihnya dengan membaca kejahatan yang kemudian ia lakukan.

Untuk kasus-kasus di Indonesia sendiri, salah satunya yang kami baca hari itu adalah Ryan Jombang, yang membunuh 11 orang. Ryan adalah seorang homoseksual yang menghabisi para korbannya, karena desakan ekonomi dan perasaan terhina. Ada beberapa korban yang sebelum ia habisi, melontarkan banyak hinaan yang menyakiti perasaan Ryan.

Jika ditelusuri hingga ke masa kecilnya, Ryan tak berbeda jauh dari Mary Bell. Ia sering disakiti secara psikologis karena perilakunya yang menjurus seperti perempuan sejak kecil. Perilaku ini tak hanya ia terima dari teman-teman dan gurunya, namun juga ibunya sendiri. Khusus Ibunya, Ryan juga mendapat kekerasan fisik dari orang yang telah melahirkannya ke dunia tersebut.

Ada begitu banyak kasus lain yang saya dan si sulung diskusikan hari itu, namun semuanya mengerucut pada satu kesimpulan. Bahwa “kejahatan bukan dilahirkan, melainkan dibentuk.” Bahwa faktor “nurture” alias pengasuhan (dipengaruhi faktor lingkungan dan lain-lain) terbukti berkontribusi lebih besar dibanding hanya sekadar factor “nature” atau genetis.

Bahwa film Joker yang sedang heboh-hebohnya itu, memang merepresentasikan kondisi sebenarnya dari seorang manusia, yang lahir dari perundungan dan kesendirian. Bahwa banyak sekali terjadi kekerasan fisik maupun psikis di sekitar kita, yang akar permasalahannya tak pernah jauh dari orang-orang terdekat.

Dan yang terakhir, segala rupa kekerasan dan fenomena mengerikan ini sebetulnya jangan hanya menggiring kita pada sebuah kemarahan, kesedihan atau pengutukan. Sebab mungkin saja kita tidak menjadi korban, melainkan menjadi salah satu pelaku.

Hati-hati dengan hati dan perbuatanmu.

We always create our own monster …” ucap Ironman a.k.a Tony Stark. (Ironman 3)

 

 

 

 

Posted in 30 Hari Menulis 2019, Sosial Issues

65.8 Juta


#30HariMenulis2019_Hari_3

Tema : The (plastic) World We Live Today

 

65,8 juta.

Angka apa itu? THR? Wow bakal jejingkrakan kalau dapat tunjangan hari raya sebesar ini. Bukan sih.

Berat badan? Mak-mak bisa ngamuk nih ngomongin masalah ini. Ngomongin berat badan bagi mak-mak adalah sebuah kemustahilan, kecuali kau rela disambit tatapan jahat ala Ibu Subangun selama sekitar 10 menitan. Siapa itu Ibu Subangun? Kalau kalian tahu nama ini, berarti kalian tua. Kalau ndak tahu, ya gugling lah. Punya smartphone sekali-kali dipakai buat gugling, jangan selfie pake beauty touch mulu.

Jadi, 65,8 juta itu apa?

Itu adalah tak lain dan tak bukan, jumlah sampah yang kita produksi setiap tahun. Lengkapnya 65,8 juta ton per tahun. Kita? Iya, saya dan kamu, dan mereka … dari Sabang sampai Merauke tanpa nyanyi jingle Indomie.

Banyak sekali ya.

shutterstock-712781533.jpg

Jumlah sebanyak itu, membayangkannya saja saya tak sanggup. Apalagi negara kita ini negara kepulauan, banyak sampah yang muara akhirnya tertambat di hatimu … eh di laut maksudnya.

Terbayang kan sampah di laut kita sebanyak apa. Tidak heran, banyak sekali binatang laut yang mati dan ketika dibedah, di dalam perutnya terdapat sampah dalam jumlah massif tapi tidak terstruktur. Rata-rata yang ditemukan adalah plastik. Sedih ga sih, kelean?

Berbicara soal plastik, sebuah artikel yang dimuat di thestreet.com menyebutkan daftar 30 negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Nomor satu diduduki oleh negara dengan populasi terbanyak di dunia, yaitu China. Urutan terakhir ada Aljazair. Tebak Indonesia ada di urutan berapa? Urutan 11, pemirsah. Memang ga masuk 10 besar sih, tapi kan semua mata pelajaran tuntas tanpa remedial. (Ya kalee abis bagi raport nih emak-emak)

Indonesia ada di urutan 11, dengan menyumbang 5,5 ton sampah plastik per tahunnya. Sampah ini kemudian banyak mencemari sungai dan laut. Cik nyaaa aduuuh

Udah mah kita ada di urutan 61 dari 62 negara dalam kriteria minat baca/literasi, sekarang soal sampah malah termasuk yang paling buruk sedunia. Beruntung masih punya muka di bidang bulutangkis sama rendang sebagai makanan paling enak sedunia. Masih ketolong lah.

Sebetulnya, memang wajar sih kita memproduksi sampah sebanyak itu, wong kelakuan kita sehari-hari aja begitu kok. Ngaku deh, paling tidak pasti pernah liat orang buang sampah seenaknya. Kadang buang air juga. Kadang buang sampah sambil buang air. Ya kan?

Di jalan, di bioskop, di sekolah, di toilet mall, di mana-mana. Sepertinya orang Indonesia ini gatel kalo ga nyampah setiap hari. Ya nyampah beneran, ya nyampah bully-an di medsos. Nyampah teruuus.

Anehnya lagi, perilaku nyampah ini ga berbanding lurus dengan strata sosial atau tingkat pendidikan loh. Ibaratnya (maaf kalo kasar) yang kaya sama yang misqueen sama-sama nyampah. Yang sekolahan sama yang bego, sama-sama nyampah juga. Ndak ngerti lagi, pembedanya di mana.

789-ilustrasi_pengemudi_yang_buang_sampah_sembarangan.jpg

Sering saya saksikan, banyak penumpang atau pengemudi mobil mewah (harga mobil di atas 300 juta-an, maklum sering baca brosur kredit mobil wkwkwk) yang dengan watadosnya membuang sampah dengan elegan di jalan raya. Mungkin dalam benaknya yang bebal itu, ‘yang penting mobil saya yang bagus ini bersih, bodo amat orang lain.’ Gitu meureun ya.

Kalau lihat kondisi begitu, saya suka putus asa. Asa hopeless lah, ga ada harapan. Manusia tak hanya kejam pada manusia lainnya (homo homini lupus) tapi juga jahat pada lingkungan (homo hobi nyampahus). Timbul sebersit harapan sih, kalau lihat ibu-ibu atau teteh-teteh yang belanja memakai tas kain. Atau anak-anak belia yang minum pakek sedotan stainless steel (beli di Miniso). Jumlahnya memang masih sedikit dibandingkan total populasi 250 juta penduduk Indonesiaaa … ada Jawa … ada Sunda … ada Batak …

Padahal populasi penduduk Indonesia sekarang sudah mencapai 267 juta jiwa, loh. Bang Haji ga up to date nih. T.E.R.L.A.L.U

Di bawah ini, saya sertakan tautan dua artikel yang saya sebutkan di atas. Dibaca ya, biar jadi mikir, kalau masih banyak menggunakan plastik, atau ketika berniat membuang sampah. Sesungguhnya bumi ini sudah terlalu rapuh untuk kita lecehkan terus menerus. Sudah saatnya hidup lebih baik, berbuat yang lebih baik. Sesuai dengan pendidikan yang kita terima.

Sederhana saja kok. Buanglah sampah pada tempatnya dan kurangi penggunaan plastik.

Jangan lupa banyak senyum dan tetap ramah. Setidaknya soal itu, bangsa kita masih ada di urutan teratas.

 

Word count : 649

sumber bacaan:  di sini  dan di sini

sumber gambar : ini dan ini

 

 

Posted in Sosial Issues

Baiq Nuril, yang kuasanya terampas


Tempo hari, di sebuah grup whassap, saya berbincang lama dengan teman-teman yang juga sudah lama saya kenal.

Entah kenapa di dua hari itu, topik yang kami bicarakan adalah mengenai pelecehan seksual yang terjadi pada perempuan maupun lelaki. Tanpa bermaksud untuk menjadikannya lelucon tentu, atau demi membandingkan kisah mana yang lebih durjana. Lebih karena berbagi sejatinya menularkan aura positif, dan dengan berbagi, ada rasa empati dan saling mendukung dengan hati.

Para korban pelecehan ini tersebar dimana-mana. Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis tentang pengalaman pelecehan yang pernah saya alami di usia SMP. Tak pernah menyangka, bahwa kemudian ada banyak pesan masuk, dari orang asing maupun teman sendiri, yang memilukan. Bercerita bahwa mereka pun para penyintas, “survivor” yang berjuang menyembuhkan luka dan depresi pasca kejadian tersebut.

Pelecehan seksual, pencabulan atau pemerkosaan, bukan saja soal fisik, namun lebih kepada persoalan “Showing Power”. Para predator seksual menyiksa korbannya, tak hanya sekadar fisik, namun juga merampas kemerdekaan berpikir dan menguasai ketakutan mereka, memberikan mereka rangkaian mimpi buruk sampai bertahun-tahun lamanya.

Baiq Nuril adalah seorang penyintas. Tenaga honorer SMA 7 Mataram tersebut sering menerima pelecehan seksual secara verbal dari atasannya sendiri, yaitu Bapak Kepala Sekolah. Kepsek sering menyuruhnya dan seorang bendahara sekolah untuk kerja lembur serta menginap di sebuah hotel di Mataram.

Suatu hari, menginaplah mereka di hotel, dengan tujuan bekerja lembur. Kepsek menyuruh Ibu Baiq Nuril untuk pergi bermain di luar kamar hotel (kolam renang) sebab ia membawa serta anaknya yang masih kecil. Sebelumnya, Kepsek juga sudah memberikan kode bahwa ia akan mengobrol mengenai suatu hal lain dengan ibu Bendahara. Kepsek kemudian berdua di dalam kamar bersama Ibu bendahara dengan kondisi pintu tertutup.

Ketika kembali ke kamar hotel, Kepsek menunjuk seprai tempat tidur dengan bercak spe**a  di atasnya, dan mengatakan pada Nuril bahwa ia sudah berhubungan badan dengan ibu Bendahara.

Sepulangnya ia ke rumah, Kepsek meneleponnya dan menceritakan gayanya berhubungan seksual dengan ibu Bendahara. Nuril kemudian merekam percakapan tersebut tanpa sepengetahuan Kepsek. Nuril pernah diisukan memiliki hubungan istimewa dengan Kepsek, sebab ia kerapkali keluar masuk ruangan atasannya tersebut. Nuril ingin menjadikan rekaman tersebut bukti bahwa ia tak bersalah.

Rekaman tersebut mungkin akan tersimpan selamanya dalam ponsel Nuril, seandainya seorang rekan guru tak meminjamnya. Imam, rekannya sesama guru, menemukan rekaman tersebut, menyalin isinya ke dalam laptop dan kemudian melaporkan temuannya ke rekan-rekan yang lain, kemudian melapor ke dinas pendidikan dan DPRD kota Mataram. Hasilnya, Muslim, Kepsek bejat penderita eksibionisme plus megalomania mesum itupun dicopot dari jabatannya.

Tentu Muslim tak terima dengan itu sehingga ia menuntut Nuril dengan UU ITE pasal 27 tentang penyebaran rekaman dengan konten asusila. Di pengadilan negeri, Nuril dinyatakan tak bersalah. Pun begitu, 14 bulan setelahnya, terbitlah putusan MA yang membatalkan putusan sebelumnya, dan menyatakan Nuril bersalah dan didakwa dengan hukuman enam bulan masa kurungan dan denda sebesar 500 juta. Kepseknya? ia justru diangkat menjadi kepala bidang kepemudaan di Dinas Olahraga dan Kepemudaan kota Mataram.

baiq-nuril.jpg

Membaca kasus Ibu Baiq Nuril membuat pening kepala. Betapa lagi-lagi, hukum tumpul dan tak berpihak pada korban. Saya bayangkan rasanya menjadi seorang Nuril, yang sudah sekian lama menahan diri dari pelecehan yang dilakukan atasannya, demi pekerjaan. Ia takut dipecat. Meski kemudian santer isu ia memiliki hubungan khusus dengan Kepsek, karena sering pulang lebih telat dibanding pegawai lain dan sering terlihat keluar masuk ruangan kepsek. Ia mencoba bertahan.

Bahwa kepsek bejat tersebut menggunakan kekuasaan yang ia miliki untuk menekan dan mencengkeram Nuril dalam genggamannya. Mengajaknya bermalam di hotel, berhubungan badan, dan senang menceritakan petualangan seksnya dengan perempuan lain.

Sungguh sakit jiwa.

Pelecehan adalam sebuah relasi kekuasaan, dimana pihak pertama berusaha menunjukkan kepongahan dan kedigdayaannya kepada pihak kedua. Pihak kedua, biasanya ada di posisi lebih lemah secara status social, hierarki karir,usia atau apapun. Oleh karenanya, banyak predator seksual adalah orang terdekat dengan kuasa lebih dominan; atasan, guru, keluarga dekat, kakak senior, dan lain sebagainya.

Maka, jika pelaku pelecehan/pemerkosaan menunjukkan kekuasaannya, ia tak lebih dari seorang perundung (bully) yang butuh pembuktian diri. Jalan satu-satunya adalah melawan, jangan diam.

Saya bersama para penyintas, dan pemberani.

Saya bersama BAIQ NURIL.

 

 

 

Posted in Sosial Issues

(Semangat) Kolektivitas


Apa yang membuat orang bisa saling tertarik untuk kemudian berkelompok?

Kesamaan hobi dan kesenangan, biasanya.

Alasan saya bergabung dengan klub pecinta film, tentu bukan karena cari link gratisan buat nonton (eh) tapi lebih dari itu, mencari orang-orang dengan minat yang sama. Orang-orang yang selalu bisa tenggelam di kedalaman rumitnya pemikiran seorang Christopher Nolan atau sekadar membahas trailer Wiro Sableng terbaru yang sudah mengalami peningkatan dari segi CGI (dibahaaas).

MV5BMGRjYjA4NGQtYWU5NS00YTkyLTk3NDAtMmMyNGU4OWUyYTEzXkEyXkFqcGdeQXVyNzkzODk2Mzc@._V1_.jpg

 

Alasan lainnya, adalah kesamaan visi, tentu saja.

Di salah satu grup whassap yang saya ikuti, dimana anggota-anggotanya jarang off (ada mulu tiap jam), kami punya banyak kesamaan (dan juga perbedaan).

Grup yang terlahir sebagai sempalan grup film yang lebih besar ini, menjadi katalisator yang menggabungkan kami semua untuk membahas segala macam isu. Dari mulai yang ringan macam promo buy one get one sampai yang agak berat macam politik, agama dan ideologi. Bahasan paling berat tentu masalah klasik, apakah kau lebih memilih bubur diaduk atau tidak. Bikin pening kepala, dan mengancam stabilitas persahabatan.

038534600_1466658929-IMG_7184.JPG

 

Ada yang bergabung di grup tertentu, sebab para anggotanya membuatnya jadi manusia yang lebih baik. Warbiyazak. Jika Anda termasuk dalam kelompok ini, tetaplah di sana. Sebab, jadi manusia yang lebih baik itu, sulit. Jika didukung, hebat banget kan.

Seorang murid, mahasiswa tingkat akhir sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung, pernah bercerita soal salah satu grup yang ia ikuti. Nama grupnya saja sudah bikin saya mengatupkan mulut, sebab tak ingin berkata kasar.

Ia tergelak.

Bikin kesel ya Miss, namanya.”

Grup itu ia dan teman-temannya juluki ‘tempat sampah’; sebab di sanalah mereka menyumbang unek-unek setiap harinya. Mengutuk dan memaki, menumpahkan kekesalan dan kebencian. Ibaratnya, jika sedang ingin ngamuk, ngamuklah di sana, sebab semua anggotanya takkan ada yang menghujat. Soalnya semuanya juga begitu.

Saya tidak tahu harus berkomentar apa. Namun saya tahu, bahwa ada banyak titik jenuh dalam hidup ini yang terkadang membuat kita ingin berteriak kencang, tanpa membuat keributan. Membuat kita ingin memaki sebebasnya, tanpa dihujat sebagai pendosa.

Mungkin baginya, grup itu pelepas stress.

Saya mengingat ini, setiap kali membaca komentar atau postingan yang agak di luar kebiasaan. Pemikiran setiap orang tak hanya dipengaruhi oleh pola asuh, tingkat pendidikan, wawasan, dan lingkungan dimana ia tinggal; namun juga dengan siapa dan kelompok mana ia berada dan bergaul akrab.

Manusia sebagai makhluk sosial dengan semangat kolektivitas yang tinggi. Jangankan bergaul akrab setiap hari, bahkan hanya karena merasa sama-sama emak-emak, maka bisa saling bahu membahu bertukar info soal tumbuh kembang anak. Hanya karena merasa pernah mengalami kejadian yang sama, kemudian saling bertukar simpati.

Sederhana dan mudah.

Bagi orang Indonesia, semangat kolektivitas ini menjalar, menjulur, merangkul, menggamit, dan berkelindan di semua lini. Tak hanya dengan alasan primordialis, macam sesuku, atau satu adat istiadat, namun juga alasan ideologi, agama, pandangan, sampai idol figure yang sama.

Bagi masyarakat barat yang lebih individualis, semangat kolektivitas ini mungkin hanya ada dalam tatanan lebih luas, tidak sampai menjangkau ranah privasi. Ya, mereka berkelompok membentuk grup anu dan anu, geng ini dan itu, but personal life? No way.

Berbeda dengan kultur kita, dimana semangat kolektivitas ini saking kuatnya, bisa menjangkau ke ranah pribadi maupun keluarga. Maka kita tumbuh dengan pelbagai norma yang campur aduk dan kadang bikin pusing. Selain norma umum dalam masyarakat, kita juga terikat dengan norma lingkungan, norma komplek/perumahan tempat kita tinggal, norma keluarga besar kita, norma keluarga besar pasangan kita. Satu-satunya yang tidak menjangkau hidup kita adalah Norma Yunita. Meskipun banyak dari kita senangnya belanja ke Borma.

Krik krik.

34482874_zAzuhKnp5aZMKSbbH5n-96fsPWod9BM-0jXJ6WoHDAw.jpg

 

Semangat kolektivitas sebagai entitas bagian dari sebuah grup itu menyenangkan. Sebab hanya sedikit manusia Indonesia yang tak senang berkelompok. Kelompok yang sedikit inipun, kemudian biasanya, akan membuat kelompok juga.

Sama seperti zaman SMA. Ada kelompok anak-anak populer, anak-anak yang modis dan suka dandan, anak-anak kutu buku dan langganan juara kelas, anak-anak basket, anak-anak Paskibra, anak-anak Pramuka, Osis, dsb. Sampai ke anak-anak yang ke sekolah cuma mau nongkrong di kantin saja.

Maka, jangan heran ketika perasaan menyenangkan sebagai bagian dari grup ini kemudian berevolusi menjadi lebih dari sekedar itu. Ada perasaan memiliki, saling mendukung satu sama lain, yang berujung (biasanya) memiliki musuh bersama. Atau minimal pihak berseberangan yang dianggap tak sejalan.

Ikutan grup? Punya musuh?

Oh, please, jangan sok inosen begitu.

Grup/kelompok/geng yang tidak punya musuh itu bisa dihitung. Misalnya para peserta kursus jahit, para peserta tur keliling kota, para pengrajin batik, dst, dst.

#SaranDanKritikBagiPenulisSangatDianjurkan

Jadi demikianlah, yang kita saksikan setiap hari di lini masa media daring kita. Ribut si ini sama si itu. Meributkan tukang bakso yang belum dibayar, meributkan Presiden yang katanya ngajak berantem, meributkan vaksin dan anti vaksin, mempermasalahkan pemberian sosis dan nugget sama anak, semuanya masalah.

Ternyata … setelah diintip-intip, semua punya grup, yekaaaan.

Jadi kalo menilik kata-kata teman saya,

Kok komennya gitu sih? Cek profil ah … oh yaaa dia deketnya sama si nganu sih, pendukungnya yang onoh siih … wow dia kan duta (bukan Sheila on 7) itu …”

Jadi, demikianlah.

Yah, namanya orang hidup berkelompok. Tak mungkin kalau tak saling berbagi. Tak bisa bertahan tanpa support system dari satu sama lain.

Satu saja yang mungkin harus diingat.

Bahwa bergabung di grup manapun, tetap minumnya teh botol sosro, eh … bukan.

Bergabung di grup manapun, tetaplah jaga kewarasanmu. Tetap ingat bahwa semua yang berjalan di muka bumi sejatinya adalah makhluk Allah, maka bersikaplah adil pada mereka, dalam sikap, perbuatan maupun lisan.

Sekiranya bergabung dalam sebuah grup hanya membuatmu menjadi manusia pencaci, lebih baik dikaji kembali. Daripada sering bikin orang sakit hati. Janganlah berlaku keji. Sungguh sangat ironi.

Hey, It’s rhyming!

 

sumber gambar:

  1. Wiro Sableng
  2. Bubur Diaduk
  3. Borma
Posted in 30 Hari Menulis 2018, Pendidikan, Sosial Issues

Mental Miskin (orangtua)


Ini pengalaman saya sewaktu masih mengajar di sebuah sekolah swasta.

Suatu hari seorang anak perempuan menjumpai kawan saya, yang merupakan wali kelasnya. Ia saat itu duduk di bangku kelas empat.

“Bu … aku puasa loh hari ini.” Saat itu antara hari Senin atau Kamis; memang bukan sesuatu yang aneh, baik guru maupun murid banyak yang melaksanakan puasa sunnah.

“Waah subhanallah …” sambut rekan saya.

“Aku disuruh nanya sama mama,”

“Tanya apa, sayang?”

“Kan, aku puasa nih, berarti hari ini aku ga ikut makan siang di sekolah. Kata Mama, uang makannya bisa diminta ke sekolah, buat tambahan jajan aku.”

Baik kawan saya, maupun saya, jadi terdiam.

Bingung.

“Oh nanti Ibu tanya sama Manajer dulu ya,” kata kawan saya. Manajer, adalah sebutan untuk Kepala Sekolah.

Setelah itu, kabarnya, Ibu anak tersebut menghubungi pihak sekolah untuk benar-benar menanyakan perihal uang makan siang yang menurutnya patut dikembalikan kepada putrinya tersebut.

Saya tidak tahu, bagaimana harus menimbang masalah tersebut. Memang uang SPP di sekolah itu sudah termasuk makan siang karena anak-anak ada di sekolah dari pagi sampai sore. Hanya, jika memang mau melaksanakan puasa sunnah, rasanya sih tak ada kebijakan “refund”. Seolah ketika puasa, jadi semacam ada perasaan “sayang” karena jadi tidak mendapat jatah makan siang.

Entahlah.

images (3)

 

Hal serupa sempat dikemukakan seorang siswa SMP (MTs) di sekolah yang sama. Bedanya, ia meminta izin untuk mengambil jatah makan siang, dan membawanya sebagai bekal ke rumah (Ia bawa Tupperware). Ini tentu tak masalah, sebab toh ia memang punya jatah nasi dan lauk pauk di situ.

Di kesempatan yang berbeda, seorang teman yang mengurusi administrasi siswa (SPP dan lain-lain), mengeluhkan orangtua yang menelepon dan memohon keringanan SPP. Di sekolah tersebut, terkadang hal ini terjadi, karena misalnya, orangtua tiba-tiba di-PHK, atau usahanya bangkrut.

Saat awal saya mengajar di sana (2005) kabarnya memang banyak orangtua yang meminta keringanan, sebab banyak dari mereka yang dirumahkan oleh sebuah perusahaan penerbangan di Bandung. Pihak yayasan kemudian mengabulkan dan memberi jangka waktu lebih lama, supaya mereka bisa melunasi pembayaran SPP anak-anak.

Kasus yang dikeluhkan teman saya berbeda, sebab orangtua yang bersangkutan, baru saja pindah dari sebuah komplek perumahan ‘biasa’ ke perumahan elit. Si ibu beralasan, keuangan keluarga mereka agak ‘mengkhawatirkan’ sebab “sudah habis dipakai beli rumah baru dan biaya pindahan”.

chloe-moretz-confused-gif.gif

 

Setelah diminta untuk mengajukan langsung ke pihak yayasan, saya tak pernah mendengar kabarnya lagi.

Orangtua model begini, banyak.

Kalau saja mereka bukan orangtua, bodo amat.

Masalahnya, sebagai orangtua, segala tingkah polah mereka, tentu akan ditiru oleh anak-anak.

Tetangga saya pernah bercerita tentang anak sulungnya saat masuk kuliah, beberapa tahun yang lalu.

Tetangga saya berprofesi sebagai guru sekolah negeri (baik suami maupun istri), dengan tanggungan empat orang anak. Anak sulungnya berkuliah di salah satu universitas negeri di Jawa Timur, lewat jalur SBMPTN.

Salah satu kawan anaknya adalah penerima beasiswa bidikmisi, program bantuan pemerintah yang DITUJUKAN untuk mahasiswa dari golongan masyarakat bawah. Kawannya anak saya? Begitu pencairan, uangnya langsung dibelikan tablet.

Luar biasa.

tenor.gif

 

Mental seperti ini, banyak.

Kalau tidak merugikan banyak orang, bodo amat.

Masalahnya, mereka seringkali dengan sengaja dan kesadaran penuh, merampas hak orang lain.

Beberapa hari terakhir ini, dinding media sosial saya riuh oleh postingan mengenai ricuhnya PPDB. Selain karena (katanya) misinformasi dan misinterpretasi dari aturan PPDB tersebut, juga karena lagu lama diputar kembali.

Banyak orangtua yang hanya bisa jadi orangtua (tanpa bisa dituakan dan menumbuhkembangkan kebijakan dalam diri mereka), yang menyalahgunakan SKTM (Surat Keterangan Tak Mampu). Banyak oknum aparat pemerintah yang masih bisa ‘dibujuk’ untuk meloloskan SKTM buat orangtua yang bermobil mewah dan memiliki mobil mentereng.

Kabarnya bahkan ada satu sekolah di Jawa Timur yang seluruh pendaftarnya bermodalkan SKTM. Seolah “menjadi miskin” adalah salah satu mata pelajaran yang diujikan saat UN.

Saya tidak tahu bagaimana perasaan anak-anak yang orangtuanya, gampang menghalalkan segala cara tersebut.

Apakah dengan kalimat,

“Tenang aja, Nak. Pokoknya beres, serahin aja sama Bapak/Ibu.”

Atau

“Pokoknya asal kamu masuk sekolah favorit ya …”

Besok-besok, jika anaknya pandai berbohong dan berkelit, serta sulit berprestasi, tidak usah menyalahkan micin, ya Bapak Ibu.

download (2)

Sebab buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya (kecuali pohonnya di pinggir jurang, kata teman saya).

Sebab anak adalah refleksimu, fotokopimu, cetak biru-mu, cermin-mu.

Dan, kata-katamu, adalah doa-mu.

Camkan itu, sobat misquen! *eh … horangkayah yang pura-pura misquen!

Judul FTV baru :

“Hartaku bukan hartaku, sebab SKTM yang Kutuju”

download (3).jpg

 

Makanya, punya anak itu susah (yang gampang prosesnya, eh). Dikira setelah mbrojol, langsung bisa dibentuk sesuka hatimu? Situ punya anak, apa main lego?

Sangat memalukan.

Jangan pernah mengajari anakmu untuk berbohong, apalagi dengan entengnya mengambil hak orang lain. Sesuatu yang kau anggap hal kecil, bisa jadi berdampak besar pada perkembangannya sebagai anak. Suatu hari, ia akan menjadi orang dewasa, sepertimu, dan akan memikul tanggungjawabnya sendiri. Didikanmu, entah baik atau tidak, akan terpampang jelas di sana.

Mulailah menjauhkan anakmu dari perilaku menyesatkan kecil-kecilan.

Seperti, stop menikung antrean dimanapun, apalagi sambil memasang badan anakmu sebagai tamengnya, memalukan.

Stop memberi kendaraan pada anakmu sebelum waktunya, sebab ia belum dewasa dan besar kemungkinan ia bisa membahayakan nyawa orang lain.

Stop mengajari anakmu untuk meminta-minta. Suatu hari, hanya itu satu-satunya cara yang ia tahu untuk bertahan hidup.

Stop melakukan hal-hal yang kau tahu, seharusnya tidak kau lakukan. Membentuk akhlak anak adalah tujuan utamamu sebagai orangtua. Sebelum semuanya terlambat.

Stop jadi orangtua, kalau memang susah.

498477-chat-line.png

#MenolakMentalMiskin

#OrangtuaTidakMengajarkanKebohonganPadaAnak

#SelamatkanAnak-anakDariOrangtuaGaBener

 

sumber gambar/gif

  1. I don’t get it
  2. Chloe Moretz
  3. Heidi Klumz
  4. Justin Timberlake
  5. qasidah
  6. Cak Lontong
Posted in 30 Hari Menulis 2018, Sosial Issues

Paket Combo Mix


Kepribadian seseorang banyak dipengaruhi oleh intensitas “cairan” yang ada dalam tubuh, seperti darah, lendir dan empedu. Jika seseorang memiliki darah yang berwarna menyala dan kental, maka diperkirakan orang tersebut berwatak berani.

Oleh karenanya, pengobatan bagi pasien gangguan jiwa banyak menggunakan metode lintah (menyedot dan mengeluarkan ‘darah kotor’ dari tubuh). Ini terjadi  2500 tahun yang lalu, menurut kepercayaan orang Yunani kuno.

Sementara orang-orang Babylonia yang pertamakali memperkenalkan astrologi,  percaya bahwa tindak tanduk manusia amat dipengaruhi oleh peredaran planet. Dari sinilah awal mula kita memiliki 12 lambang zodiac yang menandai bulan kelahiran kita.

Pun begitu, saat ilmu modern (biologi, psikologi, dll) berkembang, ternyata ditemukan bahwa kepribadian manusia diwariskan secara hereditas dari kedua orangtua. Orangtua tidak hanya mewariskan warna mata, warna rambut atau karakteristik fisik lainnya, namun  juga banyak yang percaya bahkan kepribadian pun dipengaruhi faktor genetis.

Jika kau termasuk anak yang ceria dan supel, mungkin ayahmu atau ibumu juga dulu begitu. Sehingga ketika kita menemukan ada anak yang berbeda jauh dari orangtuanya, seringkali kita mengatakan, “Ih beda ya sama ayahnya/ibunya.”

Anda boleh saja tidak percaya teori “nature” yaitu tumbuh kembang (plus kepribadian) anak sangat dipengaruhi oleh orangtua dan pola asuh yang dikembangkan. Mungkin Anda lebih yakin pada teori “nurture” bahwa anak terbentuk oleh lingkungan. Ada banyak campur tangan lain yang ikut memenuhi ‘kertas kosong’ seorang anak, selain kedua orangtuanya.

Saya meyakini kedua teori tersebut. Kombinasi antara pola asuh (bahasa Inggrisnya “upbringing”) dan pengaruh lingkungan saling berkelindan satu sama lain, dan menghasilkan manusia yang lengkap dengan segala sifat, cara pandang dan prinsip hidupnya.

Maka, saya selalu mengingatkan diri sendiri, bahwa siapapun yang berhadapan dengan saya adalah paket kombo genetis dicampur kearifan lokal yang terbentuk dari pengalaman bersekolah, berinteraksi dan bergaul. Paket lengkap ini juga ditambah “topping” yang didapat dari pengalaman membaca dan belajar. Toppingnya tak selalu ada, sebab tak semua orang mendapat kesempatan belajar apatah lagi membaca. Maka ia serupa plain product.

*analogi yang aneh

Ingatlah ini, saat Anda mangkel gara-gara membaca postingan orang yang menurut Anda –oh-tulisan-yang-bodoh-dan-tak-penting-sekali, dan orang itu menolak argumen Anda yang menurut Anda sudah sangat hebat dan berwibawa.

Tunggu dulu, mamen.

Semua orang membawa paket kombo mix ini kemana-mana.

Orang yang kita anggap ‘dangkal’ itu mungkin bergaul dengan orang-orang yang sama, sepemikiran dengannya. Mungkin ia tak banyak membaca dan menganggap wawasan sebagai sebuah hal yang tak lebih penting dari tahu bulat lima ratusan yang digoreng enyoy-enyoy.

Orang yang kita anggap tidak mandiri, barangkali tak pernah diberikan cukup banyak kesempatan oleh kedua orangtuanya untuk berkembang. Sebab masih banyak orangtua (bahkan sampai hari ini) yang merasa anak adalah produk yang wajib ia urusi, awasi dan tetapkan tetek bengeknya, dari mulai A sampai Z, dari mulai sekolah sampai memilih pasangan dan pekerjaan. Masih banyak orangtua yang lupa bahwa yang menjalani hidup anaknya, adalah anak itu sendiri.

Orang yang Anda anggap “bebal” itu mungkin keseringan dipuji dan tidak mendapat banyak kesempatan untuk “kalah”. Dunia selalu (seperti) menyetujui tindakannya, sehingga ia tak bisa tidak, harus selalu menang. Padahal pengalaman “kalah” dan “gagal” itu penting, supaya kepribadian jadi seimbang, tidak melulu merasa adiluhung.

Orang yang Anda anggap cengeng dan baperan itu mungkin hidupnya memang selalu dicemooh. Ayah Ibunya sering mengejeknya di depan orang banyak. Jangan menyangkal, sebab saya sering melihat contoh ini dimana-mana. Orangtua seringkali tak sadar ejekan yang mereka maksudkan sebagai “bercanda” mungkin efeknya akan terentang lama.

Orang yang mulutnya gampang sekali memaki dan komentarnya mudah membenci, mungkin sering dimarahi dan dicurigai. Makanya, jika Anda temui anak atau remaja yang mulutnya penuh dengan cercaan, mungkin itulah contoh yang ia lihat setiap hari.

Maka, jika Anda sudah jadi orangtua, ingatlah ini. Apapun yang Anda lakukan pada anak, hasilnya akan Anda lihat sendiri, cepat atau lambat. Anda mendidiknya dengan lembut, ia akan pemurah dan baik hati. Anda mendidiknya dengan gaya diktator negara berkembang, ia akan menjadi manusia penindas, setidaknya pada anak lain yang seumuran dengannya. Begitu terus, yang Anda ajarkan, contohkan, katakan dan sebagainya, akan membentuknya dan melengkapinya.

Anda juga paket kombo mix, saya juga. Semua orang juga.

Barangkali inilah yang harus diingat saat kita mesti bersabar dengan kelakuan banyak orang. Atau jangan-jangan, saat orang lain harus bersabar dengan kelakuan kita.

Kita tak pernah tahu kisah apa yang membentuknya menjadi sedemikian minus di mata kita. Pengalaman hidup macam apa yang harus ia lalui, dan mungkin masih ia jalani.

Percayalah, orang dengan kelakuan negatif, sebetulnya sadar kok bahwa ia begitu. Ia cuma tak mampu mengubahnya saja. Seperti kita juga sering menyangkal suara hati yang kadang berbisik,

“Kamu kok gitu sih?”

Sebab lari dari kenyataan lebih mudah ketimbang menghadapinya.

Saat cermin dengan jujurnya memerlihatkan borok kita, tentu jauh lebih mudah memecahkan cermin tersebut. Padahal keluar dari rumah, masih ada pantulan kita dimana-mana. Kita saja yang terus menerus menolak melihatnya.

Anda itu paket kombo mix, saya juga.

 

word count : 777

Posted in 30 Hari Menulis 2018, Family, Sosial Issues

Perjalanan Seumur Hidup


Kelen tau Bowo ga sih?”

Tiga kepala anak gadis usia 11-17 tahun itu, terangkat semua dari buku dan gawai yang sedang mereka pegang.

“Siapa tuh?”

“Tiktok ceunah …”

“Ooh teteh tau, iya yang tiktok itu” akhirnya Aisha yang baru naik kelas 6 mengangguk. Pernah liat, katanya.

Tiga anak gadis saya tidak kenal Bowo dan tidak peduli dengan tiktok. Perkembangan kreativitas orang-orang di media sosial memang ga ada matinya. Selalu ada tren baru setiap harinya. Mulai aplikasi yang bisa memoles wajah menjadi lebih mencrang alias kinclong, sampai yang membuat para penggunanya memutuskan meninggalkan rasa malu di sudut rumah (contohnya BIGO live).

Beberapa teman di Facebook sempat mengeluhkan aplikasi tiktok yang meresahkan ini. Beberapa kali pula saya melihat tautan gambar dari entah akun Facebook atau twitter atau instagram, tentang kekaguman para remaja putri, kepada Prabowo Mondardo, alias Bowo Alpenliebe, alias Bowo Tiktok.

Wajar ketika banyak emak-emak merasa resah, sebab kekaguman yang dicetuskan para gadis kinyis-kinyis itu bisa membuat ulu hati tertohok. Dari mulai yang rela jual ginjal sampe menawarkan keperawanan kepada Bowo, sang idola.

750xauto-duh-8-status-fans-berat-bowo-tik-tok-ini-bikin-ngelus-dada-180629e.jpg

(sumber gambar di klik )

*langsung-migren

Tadi malam saya iseng mencari si Bowo yang sedang ngeheitz ini.

*tambah-migren

Anak seumur jagung ini … cuma goyang-goyang jari, lip-sync lagu apalah-apalah itu, sambil senyam-senyum, bisa ngadain meet and greet berbayar 80K?

Sungguh halusinasi tingkat pilkada ini.

are-u-frustrated.jpg

(sumber gambar di klik )

Apapun itu, sebagey emak-emak anak empat yang kebanyakan gaya ini, saya hanya ingin memberi semangat kepada emak-emak lainnya,

Seloow saja … anak-anakmu ga akan termasuk penyembah Bowo, kan kau ibu mereka.

*saya sebut penyembah, soalnya salah satu fans katanya ingin bikin agama baru, dan Bowo mau dijadikan Tuhannya, mmh nyaaa … blom pernah di-sleding Messi tuh anak.

00214786s1.jpg

(sumber gambar di klik )

Saya selalu bilang kepada para orangtua, yang memiliki anak abegeh, harus percaya diri jadi orangtua. Mau ada fenomena seaneh apapun, jika komunikasi kita bagus sama anak, Insyaallah takkan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Gawai adalah sesuatu yang sulit dihindarkan di era sekarang. Menyeleksi dan menyaring adalah solusinya. Kecuali kalau Anda jenis orangtua luar biasa yang sanggup menjauhkan gawai dan sejenisnya dari anak, mengisinya dengan hal-hal positif, seperti bermain kreatif,  olahraga dan hapalan Quran. Percayalah, saya tahu ada banyak orangtua yang seperti ini. Saya kenal beberapa diantara mereka.

Tak ada orangtua yang sempurna, tentu saja. Anak-anak kita adalah proses trial and error kita sepanjang masa. Seperti halnya mereka berproses menuju kedewasaan, kitapun menjalani proses menuju kematangan sebagai orang yang lebih tua dan hidup lebih dulu.

Anak-anak adalah peniru ulung. Apa yang mereka lihat dan dengar, itu yang akan mereka contoh. Perjalanan tiru-meniru ini berlangsung sepanjang hayat dikandung badan. Anda suka membentak, mereka akan melakukannya juga. Anda suka mengejek, oh mereka juga. Anda suka berbohong, meremehkan orang, menyepelekan proses, mengambil jalan pintas, dan sebagainya dan sebagainya; mereka akan melakukannya.

Maka cermin adalah guru yang baik.

Bercerminlah, maka kita akan tahu sudah seberapa banyak yang kita abaikan, dan baru sedikit yang kita lakukan.

Perjalanan ini masih panjang.

Sebab menjadi orangtua bukan kontrak kerja tahunan, apalagi cicilan kendaraan, yang ketika beres Anda akan merasa lega dan merasa kewajiban telah tunai. Ini komitmen hidup yang Anda setujui saat janin mulai berkembang di Rahim. Terima saja, dan bertanggungjawablah.

Jadi, mau ada Bowo kek, mau ada “istri sah Iqbaal” yang fenomenal di Instagram, mau ada aplikasi baru yang lebih aneh lagi, santai aza kek di pantai.

Percayai anak-anakmu, sebab Anda orangtua mereka.

Jangan khawatir mereka jadi punya idola aneh-aneh, kan Anda Ibu Bapaknya.

Kecuali kalau Anda sendiri begitu, ya itu beda kasus.

Mari, kita bercermin.

 

* am sipping my coffee and thinking how weird this whole world has become

 

Word count : 582