Posted in Sejarah

Bab 1 : Penjelajah, Pedagang dan Dongeng Tentang Rempah


Jika saja tak pernah ada yang disebut “penjelajah” di dunia ini, maka takkan pernah kita akan mengetahui banyak tempat di dunia.

Andai saja tak pernah ada yang disebut “pedagang” di dunia ini, maka takkan pernah satupun manusia mengetahui pelbagai kabar dari seluruh penjuru bumi.

Dua premis inilah yang kemudian menjadi latar belakang datangnya orang-orang berkulit putih ke tanah nusantara, yang kelak melahirkan apa yang kita sebut sebagai “kolonialisme”.

Mari, berkisah.

MARCO POLO

download

Entah kenapa, dalam sejarah, yang disebut sebagai penjelajah rata-rata adalah orang Italia atau Spanyol. Yang disebutkan belakangan, konon kabarnya selalu membawa misi 3 G (Gold, Gospel, Glory) sambil menjelajah atau berdagang.  Sebelum berlayar, mereka biasa diberikan “berkat” oleh para pendeta dan biarawati.

Marco Polo (1254 – 1324), adalah salah satunya. Tak hanya dikenal sebagai pedagang dan penjelajah, ia juga selalu dinantikan oleh orang-orang Eropa, setiap kali pulang berlayar, karena ia selalu menuturkan kisah-kisah yang menarik dan aneh bagi warga di sana.

Kisah-kisah Marco Polo begitu memikat bangsa Eropa, yang pada zaman itu, tidak mengenal dunia Timur, saking jauhnya. Di sisi lain, Marco Polo (berdasarkan jurnal yang ia tulis) diperkirakan telah berkunjung ke Tiongkok, bahkan Indonesia.

Salah satu kisahnya yang paling aneh, adalah ketika ia menceritakan pertemuannya dengan seekor Unicorn, hewan legendaris dari mitologi Yunani, berupa kuda yang memiliki tanduk di kepalanya.

Marco Polo mengatakan, ia melihat Unicorn saat berkunjung ke pulau Sumatera. Kelak, ketika dicocokkan dengan habitat hewan di Sumatera dan penelusuran sejarah, besar kemungkinan yang ia lihat adalah badak Sumatera (bercula dua).

Menurut catatan sejarah, Marco Polo adalah orang Italia pertama yang menyusuri jalur sutera. Jalur Sutera sendiri adalah istilah yang pertamakali dikenalkan oleh Ferdinand Van Richthofen, seorang ahli Geografi di abad 19, untuk menandai jalur perdagangan yang menghubungkan dunia timur dan barat. Disebut “sutera” sebab mayoritas komoditas yang diperjualbelikan pada masa itu adalah sutera, oleh para pedagang Tiongkok.

8327.jpg

Pun begitu, Marco Polo bukan orang yang menginisiasi kolonialisme di Indonesia. Ini hanya permulaan.

Kabar tentang dunia timur yang betulan ada, diperkuat dengan jalur perdagangan hilir mudik, diantaranya oleh para pedagang Tiongkok. Di sisi lain, sejak abad ke-5, para pedagang di Nusantara sudah aktif menjualbelikan beragam rempah-rempah, seperti cengkih dan pala. Dari abad 8 sampai 10, Kerajaan Sriwijaya menjadi pengontrol penuh atas lalu lintas perdagangan rempah-rempah dari Nusantara ke negara-negara lain, dan sebaliknya, melalui selat Malaka.

Bisa dibayangkan, bahwa pada zaman itu, sebetulnya Indonesia sudah sangat maju dalam hal perdagangan. Rempah-rempah ini sangat disukai oleh bangsa Eropa, untuk bahan Afrodisiak (zat penambah gairah seksual). Baru pada abad ke-15 lah, rempah-rempah mengubah citarasa kuliner bangsa Eropa.

VASCO DA GAMA

download (1)

Kabar soal rempah-rempah dari Timur ini, salah satunya ingin dibuktikan oleh Vasco Da Gama (1469 – 1524). Da Gama ditugaskan Raja Manuel I dari Portugal untuk membuka jalur bisnis Portugis baru, tanpa bersinggungan dengan para pedagang timur tengah yang mereka sebut “kafilah”. Da Gama meneruskan misi pendahulunya, Bartholomeu Diaz, yang pernah berlayar sampai Tanjung Harapan di Afrika.

Dengan semangat menemukan jalur bisnis dunia timur, sekaligus mengkristenkan penduduknya, Da Gama berangkat pada tanggal 8 Juli 1487.

Selain Da Gama, terdapat pula para penjelajah lain, yang ditugaskan melalui jalur yang berbeda-beda, mengikuti catatan para pendahulu mereka.

Tercatat, ada tiga perjalanan Vasco Da Gama. Yang pertama, ia sampai ke tanah India dan berhasil memeroleh semacam surat perjanjian dengan penduduk setempat atas pos-pos perdagangan Portugis di sana. Pada pelayaran yang kedua, Da Gama kembali ke India dan berhasil menaklukan Calicut, kota pelabuhan di sana. Sekembalinya ke Portugis, ia mampu membuktikan kebenaran rumor soal “rempah-rempah dari Timur”.

Pada pelayaran ketiga sekaligus terakhirnya, Vasco Da Gama meninggal akibat serangan malaria, setelah sebelumnya hendak dinobatkan sebagai “raja muda” perwakilan kerajaan Portugal.

FERNANDO DE MAGELHAENS

download (2)

Fernando Magelhaens (1480-1521) lahir dari kaum bangsawan Portugis, yang kemudian direkrut menjadi ajudan di istana kerajaan. Di sini ia mempelajari langsung catatan tentang prestasi para penjelajah Portugis, juga penjelajah Italia yang terkenal karena dianggap sudah menemukan jalur perdagangan ke Amerika, Christopher Columbus. John, raja Portugal pada zaman itu, memang menyukai segala sesuatu tentang penjelajahan, dan selalu menyemangati para penjelajah muda.

Sayangnya, Raja John terbunuh di tahun 1495, dan Manuel, penggantinya, lebih menyukai harta tinimbang penjelajahan. Raja Manuel tidak pernah menyukai Fernando muda, yang selalu tertarik dengan kisah-kisah petualangan.

Kepulangan Vasco Da Gama dari dunia timur (India) dengan membawa rempah-rempah, membuat Manuel sadar akan potensi kekayaan berlimpah. Ia akhirnya mengirim Fernando, di tahun 1505, untuk berlayar lebih jauh, ke Malaka bersama ekspedisi militer, untuk merebut kekuasaan perdagangan dari para saudara Arab.

Fernando berangkat dari Afrika Timur, namun di Maroko, ia terlibat pertikaian yang menyebabkan lututnya cedera parah, sehingga cara berjalannya mun menjadi timpang. Raja Manuel tambah membencinya dan menolak memberinya kenaikan pensiun.

Pada masa ini, Fernando bertemu dengan navigator terkenal, Joao de Lisboa, yang memberitahunya soal El Paso, selat yang merupakan jalan pintas melewati Amerika Selatan. Jalur ini juga akan menyeberangi sebuah samudera yang ditemukan Balboa. Lisboa yakin di balik samudera inilah, terletak kepulauan rempah-rempah.

Fernando Magelhaens sangat bersemangat ingin mencoba jalur baru ini, yang ia yakini akan lebih pendek dari rute biasanya. Namun, ia membutuhkan dukungan finansial. Dan karena yakin takkan didanai oleh Raja Manuel yang membencinya, ia meniru apa yang dilakukan Colombus sebelumnya, meminta bantuan dari raja Spanyol.

Charles I, Raja Spanyol, berhasil diyakinkan Fernando tentang jalur baru ini. Ia memberinya lima kapal tua untuk diperbaiki sebelum digunakan dalam ekspedisi.

Perjalanan ekpedisi Fernando Magelhaens memakan waktu enam kali lebih lama dibanding ketika Columbus mengarungi samudera Atlantik. Ia berlayar menuju Brasil, kemudian Argentina, untuk menemukan jalur El Paso, yang konon sulit ditemukan tersebut.

Setelah melewati insiden pemberontakan dan kehilangan beberapa kru, mereka tiba di lintang kutub. Di daerah ini sering terjadi badai ganas, namun untunglah semua kru Magelhaens selamat. Di sana, mereka menemukan sebuah selat sempit yang kelak dinamakan orang “Selat Magelhaens” yang mereka yakini sebagai jalur menuju kepulauan rempah-rempah.

Setelah melewati lima minggu, mereka berlayar menuju sebuah samudra yang sedemikian tenangnya sehingga Magelhaens menamakannya Pasifik, dari kata “Pasifico” atau lautan teduh. Di sini, meskipun lautnya tenang, namun anginnya berembus sangat kuat. Kapal Magelhaens terombang-ambing, ketika akhirnya mencapai kepulauan Mariana. Di sini Magelhaens harus kehilangan nyawa 19 orang krunya.

Setelahnya, mereka tiba di Filipina, untuk memulihkan kesehatan dan mendapat bantuan makanan dan obat-obatan dari penduduk lokal. Seluruh rangkaian kejadian ini dicatat rapi oleh salah seorang kru bernama Pigafetta dalam jurnal hariannya.

Setelah pulih dari kelelahan, Magelhaens berusaha mengajak penguasa dan penduduk lokal untuk memeluk agama Katolik. Pertikaian pun sulit dihindari, hingga akhirnya Magelhaens tewas di tangan penduduk setempat.

Beberapa kru yang masih selamat kemudian mengisi dua kapal yang tersisa dengan rempah sebanyak-banyaknya. Satu kapal Trinidad ditangkap oleh kerajaan Portugal, sementara Victoria, berhasil tiba dengan selamat hingga ke Spanyol, mengangkut 26 ton rempah-rempah.

Fernando Magelhaens  tidak pernah sempat mencapai tanah nusantara, namun perjalanannya kemudian menjadi jalur pembuka bagi Alfonso Albuquerque, pelaut Portugis yang menjadi cikal bakal kolonialisme Portugis di Indonesia.

 

—- bersambung —

 

sumber gambar:

  1. Marco Polo di sini
  2. Vasco Da Gama di sini
  3. Fernando Magelhaens di sini
  4. Jalur Sutra di sini