Posted in books, Review

AROMA KARSA : Puas Menciumi Isinya, yang Membahagiakan


28828516_10213672727104932_6358055225116179226_o

Baca buku teh meni ripuh!

(baca buku kok rempong banget)

Suami saya berkomentar, ketika sepagian ini saya berkali-kali berganti posisi duduk. Dari duduk, setengah duduk, berbaring, menyamping, terus begitu.

“Soalnya jarang-jarang bisa baca buku bagus begini, novel Indonesia lagi.” Balas saya.

Pasangan hidup saya sudah sangat paham kalau sedang memegang buku bagus, lagak saya seperti cacing kepanasan. Antara kepengen terus baca, berusaha menekan ekspektasi biar ga ketinggian (soalnya suka kecewa, hiks) dan ketakutan dengan ending.

Apa?

Ketakutan macam apa itu?

Ending sebuah tulisan, asli, sering membuat saya jeri. Baik menuliskan tulisan sendiri, atau membaca karya orang lain.

Buat saya, menuliskan sesuatu itu tidak susah, yang sulit itu menuntaskan kisah.

Berapa sering coba, ketika kita asyik membaca sebuah kisah yang hebat, kemudian ketika tiba di ending, reaksi kita adalah, “Duuuuh … kok gini sih??” atau endingnya berupa satu kata alay yang bergema di kepala “B-ajah”.

Saya adalah penggemar Dee dari sejak awal. Waktu “Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh” terbit, saya penasaran setengah mati, karena ada begitu banyak referensi ilmiah yang Dee masukkan ke sana, yang saya tidak paham. Setelah membaca Akar, Petir, Partikel, Gelombang, akhirnya saya baru bisa merangkai apa maunya Dee. Buat saya, dia hebat sekali. Bisa membuat semacam “universe” ala-ala Marvel/ DC, menggabungkan pelbagai folklore, ilmu empiris dan dibumbui drama percintaan dan kehangatan hubungan antara manusia.

Superb!

Tiba di “Intelijensi Embun Pagi” (IEB) yang merupakan penutup serial “Supernova”, saya deg-degan. Sebab untuk kisah se-grande Supernova, endingnya harus semanis tanah basah dan wewangian setelah hujan.

Setelah membacanya, jujur saya katakan, ekspektasi saya ketinggian.

Meskipun IEB tetap saya nikmati, dan kuliti dari awal sampai akhir, ending yang saya harapkan berbeda dari yang Dee sajikan. Kurangnya adegan action yang saya rindukan, cerita yang greget di awal sampai pertengahan menjelang akhir, namun ditutup dengan ending yang … oh ya udah.

Maafkan saya, Mbak Dee. Saya memang pembaca yang terlalu rakus. Dikasih hati, eh mintanya jantung.

Tak lama setelah gaung IEB perlahan memudar, saya mendapat kabar tentang novel baru.

Ya ampun, produktif sekali Mbak Dewi Lestari Simangunsong ini.

“Aroma Karsa” (AK) adalah buku Dee yang ke-12. Lewat buku ini, Dee ingin menghidupkan kembali rasa deg-degan ketika dulu menantikan cerita bersambung di majalah Hai!.

Untung Dee ga bilang, “menantikan cerita bersambung di sinetron”, kalau iya, saya batal ngefans kayaknya.

AK diterbitkan pertamakali dalam bentuk digital secara bersambung. Lucu ya? Semacam “Dilan” yang dulu tayang di blognya Surayah Pidi Baiq, sebelum akhirnya dibukukan.

Saya menahan diri untuk tidak ikut-ikutan berlangganan si buku digital ini.

Mengapa?

Sebab saya ingin menikmati bukunya secara utuh dalam wujud, kertas dan sampul. Membauinya seperti kebahagiaan menikmati uang saat gajian tiba. Ehh.

Dasar Hedonis.

Kemarin siang, buku AK datang diantarkan mamang ekspedisi ke depan pintu rumah. Eksekusi membaca baru bisa saya mulai pukul 21.00 tadi malam, setelah beres mengerjakan semua tugas, baik domestik maupun profesional.

Membaca pukul 21.00 – 24.00. Saya sulit berhenti. Hanya kantuk yang kemudian membuat saya menyerah.

Pukul 08.00 pagi saya mulai lagi, di halaman 300-an.

Mulai gelisah, sebab ini buku terlalu bagus untuk diabaikan, namun saya terlalu takut untuk menghadapi ending. Tidak seperti rangkaian Supernova, yang ketika saya beres membaca “Petir” misalnya, saya tidak usah khawatir sebab nanti masih ada lanjutannya.

AK tidak, ia hanya berjumlah 696 halaman saja.

Pukul 10.30 Aroma Karsa selesai dibantai.

Saya bernapas lega.

Selamat, Mbak Dee. Kamu sudah membuatku bahagia.

Awalnya, saat membuka beberapa lembar awal, saya otomatis teringat pada Jean Baptiste Grenouille dari “Perfume: A story of a Murderer”. Kemampuannya untuk membeda-bedakan bau, sekaligus mengklasifikasikannya, terlalu mirip dengan karakter Jati Wesi di Aroma Karsa.

Saya sempat tertegun, sebab saya tak ingin penulis kesayangan saya terjebak meniru gaya penulis lainnya. Namun toh, tak ada lagi yang namanya originalitas murni di dunia ini.

Everyone is basically writing/saying/singing something that they have read/seen/listened.

Dugaan saya salah, Alhamdulillah.

Jati Wesi memang mirip Jean Baptiste Grenouille. Selebihnya, semuanya berbeda.

Sekali lagi saya terbuai dengan kisah yang Dee bangun. Membaca Aroma Karsa seperti didongengi dengan suara jernih dan lembut. Bersama berlembar-lembar halamannya, saya ikutan menyelam ke kedalaman wawasan seorang Dee. Folklore, filosofi, budaya, humanisme, kekayaan diksi. Semuanya melebur, ibarat nikmatnya makan Cheese Cake, yang baru keluar dari kulkas, lembut di mulut, meleleh di hati.

Tempo hari saya pernah menulis soal pentingnya kebiasaan membaca bagi seorang penulis. Saya yakin, Dee adalah salah satu penulis yang amat gemar membaca. Sebab semua jalinan kata yang ia kelindankan bersama-sama, membunyikan lebih dari sekadar diksi yang menarik, tema yang kuat digarap, melainkan juga luasnya pengetahuan yang Dee punya.

Kekuatan Dee tak hanya terletak pada cermatnya ia memilih kata, namun juga proses kawin silang yang ia lakukan ketika mengkombinasikan pelbagai genre dalam tulisan. Petualangan, romance, misteri dan filosofi kehidupan. Seakan membaca Dan Brown dengan gaya Lima Sekawan.

Pagi ini, setelah 5 jam saja menamatkan Aroma Karsa, saya bisa tersenyum dengan senang. Sebab beres membaca novel yang bagus itu, seperti mendapati tanggal merah di akhir pekan. Lega sekaligus bahagia. Tak peduli kau lagi punya duit atau tidak.

Terima kasih ya Mbak Dee.

 

*kemudian menatap buku “Origin” nya Dan Brown, yang sudah sebulan dan belum juga selesai ditamatkan.

 

Premis cerita:

Raras Prayagung, pewaris kerajaan bisnis “Kemara” sudah lama mencari-cari sesuatu yang dinamai “Puspa Karsa”. Tanaman yang diyakini memiliki aroma yang begitu memabukkan sehingga bisa menaklukan siapapun yang ia mau (mirip cincin di TLOTR).

Nasib membawa Raras berkenalan dengan Jati Wesi, pemuda liat yang besar diantara gunungan sampah TPA Bantar Gebang, Bekasi. Jati memiliki hidung sakti yang bisa memilah-milah aroma, bahkan mengklasifikasikannya. Raras percaya Jati bisa membantunya, menyibak misteri Puspa Karsa sekaligus menemukannya.

Perjalanan keduanya, kemudian juga memertemukan Jati dengan Tanaya Suma, putri satu-satunya Raras, yang sama sepertinya. Memiliki penciuman yang berbeda dari manusia pada umumnya.

 

 

Posted in Review

Kegagalan Menjadi Agen Rahasia (review)


d14fb3251f25727d035331fd7f03f39a
 
Judul Buku : The Doomsday Conspiracy (Konspirasi Hari Kiamat)
 
Tahun Terbit : 1991
Penulis : Sidney Sheldon
 
Buku ini salah satu buku paling saya ingat. Meskipun terbit di tahun 1991,
saya baru membacanya di sekitar 1994, itu pun meminjam di Taman Bacaan sepulang sekolah (SMA).
 
Saya membacanya selama sehari saja dan kemudian membacanya ulang untuk beberapa kali. Kisahnya sendiri tentang Robert Bellamy, seorang mantan anggota Navy (angkatan laut), yang direkrut menjadi agen NSA. Belakangan, Bellamy malah diburu pemerintah (CIA) karena dianggap berbahaya, bisa membocorkan sebuah rahasia sangat penting.
 
Tau kisah Edwin Snowden? Mungkin dia ngikutin jejak Bellamy Hahahaha.
 
Setelah Pasukan Mau Tahu, buku inilah yang membuat hasrat saya semakin menggebu-gebu untuk belajar bahasa asing. Tokoh Robert Bellamy, dikisahkan menguasai pelbagai bahasa sehingga ketika ia harus berlari dan bersembunyi di beberapa tempat, ia tak kesulitan untuk menjalin kontak dan pertemanan.
 
Dari buku ini pula, saya tahu bahwa Kantor pusat CIA terletak di Langley, Virginia. Sementara pusat pelatihannya yang disebut “The Farm” ada di Quantico (ini juga ada di film The Silence of The Lambs).
 
Sementara, kantor pusat KUA kota Cimahi waktu itu ada di Masjid Agung Cimahi (sekarang sudah pindah ke Jl Terusan). Informasi tidak terlalu penting. Okesip.
 
Saya juga ingin jadi agen rahasia seperti Bellamy di sini. Karena buku ini, saya sempat ingin melamar ke BAKIN (sekarang disebut BIN) yaitu Badan Intelijen Negara. Saya mau jadi agen rahasia yang jago beladiri, menguasai banyak bahasa asing dan melanglang buana.
 
Sampai-sampai saya gugling, eh tunggu. Jaman itu belum ada, saya baca di buku entah apa. Oh, Tempo kalau tidak salah. Iyes, majalah Tempo cyiin. Ada liputan mengenai Mata Hari agen rahasia orang Indonesia yang dikenal di era Perang Dunia Kedua.
 
Saat memutuskan berhijab di awal tahun 1995, saya mengubur dalam-dalam keinginan menjadi agen rahasia. Soalnya nanti penyamaran saya terbatas hanya ke negara-negara Timur Tengah aja dong … krik krik krik (1).
 
Seandainya fashion hijab dan kosmetika halal Wardah sudah ada, mungkin saya bisa jadi agen rahasia yang menyamar jadi pemilik olshop,
“Dicek Hijabnya sis, banyak warna baru, plus dapat bonus wardah intense matte lipstick”
Krik krik krik (2)
 
Apa yang menarik dari buku ini?
Plotnya cepat, kalimat-kalimatnya pendek.
Efeknya?
Saya jadi seperti ikut ngos-ngosan saat Bellamy sedang berusaha menghindari kejaran agen-agen lainnya. Kalau di zaman now, mungkin kayak Jason Bourne lah begitu.
 
Setiap ada negara baru yang disinggahi, Bellamy akan berbahasa asing, dan tidak diterjemahkan.
Ih, kan ga tau artinya.
Kalau kamu suka gaya penceritaan Sidney Sheldon, kamu pasti tahu bahwa aspek ini malah menjadi pemanis dan malah menjadi gaya baru dalam penulisan (waktu itu).
 
Sheldon juga senang memberikan twist yang tidak bisa diduga. Lupakan Nolan, Nolan belum ada. Twist Sheldon lebih nendang ketimbang Nolan.
Cih, siapa itu Nolan? Ga kenal.
 
*lalu dirundung fanbasenya Christopher Nolan*
 
Kalau kamu penggemar Dan Brown, kamu juga pasti suka baca Sheldon.
Hey, Dan Brown terinspirasi dari Sidney Sheldon, loh.
Enelan.
 
Dan Brown menulis bukunya yang pertama, Digital Fortress, setelah membaca buku Sidney Sheldon yang ini! Iya, yang ini, kamu ga salah denger kok.
 
*efek Mata Berbinar*
 
Waktu saya tau fakta itu, rasanya bangga banget, sebab saya juga suka The Doomsday Conspiracy ini. Dan Brown juga suka. Mungkin kami memang ditakdirkan bersama.
 
Krik krik krik (3)
 
Overall, ini buku bagus,dalam arti seru dan menghibur, juga banyak memberikan pengetahuan.
 
“Baca novel terus, ngehayal terus, baca tuh buku pelajaran!”
 
Kata seseorang zaman saya masih unyu-unyu dulu.
 
Helooooow … novel-novel itu banyak yang ngasih ilmu dan pengetahuan tauuuu. Novel yang keren itu, bukan jenis novel yang setelah kamu selesai baca kemudian kamu ngahuleng ( =bengong) karena merasa
 
“udah? Gitu doang?”
 
Melainkan novel yang sanggup membuat kita mikir dan pengetahuan kita nambah.
Begituuuu …
Ga setuju?
Gapapa. Santai saja.
 
Terakhir, buku ini juga membuat saya jadi menyukai teori konspirasi.
Meskipun kadang membuat saya kesakitan, karena susah ‘mengeluarkan’ dan pada akhirnya harus menemui dokter.
 
Wait,
 
Itu mah “konstipasi” namanya.
 
Maap.
 
Saya banyak salah.
 
*salamin satu-satu*
Posted in Film, Review

Review Film (K3G, Cek Toko Sebelah, Ngenest, Perahu Kertas, Munafik)   – panjang dan mengandung spoiler, bahaya bisa mangakibatkan KZL kalo belum nonton


Beberapa hari terakhir ini saya lagi rajin menonton film gratis di saluran HOOQ. Provider seluler yang saya pakai kasih bonus sekian giga untuk menonton. 
Biasanya kalau dapat gratisan begini, saya manfaatkan untuk menonton film Indonesia. Sebab saya jarang nonton film Indonesia. Sebab, bukannya sombong, saya cuman pemilih aja. #lah
Pergi ke bioskop juga saya pilih-pilih sih. Sekiranya filmnya masih bisa dinikmati di rumah, saya ga terlalu nafsu buat ke bioskop, film apapun itu. Kecuali kalau filmnya saya perkirakan bagus sekali dan digadang-gadang bakal sukses memanjakan mata dan perasaan ya pasti pergi lah.

 Bayangkan, menonton film yang sinematografinya ciamik dengan diiringi suara bisikan mbak-mbak,

“All around you”

(Bikin merinding)
Kali ini saya akan bahas 5 film sekaligus; 1 film India, 3 film Indonesia, 1 film Malaysia.
Yuk …

KABHI KUSHI KABHI GHAM (2001)
Entah sudah berapa banyak orang yang menyarankan saya menonton film ini sejak saya terkagum-kagum dengan 3 Idiots. 
Masalahnya, jumlah film India yang saya tonton tidak lebih dari hitungan sebelah jari. Mmph … sombong banget emang. Masalahnya, saya tidak suka dengan durasi filmnya yang bertele-tele macam sambutan pejabat. Masalahnya, itu masalahnya.
Konon katanya, orang India sudah terbiasa menonton bioskop dengan durasi 3-4 jam diselingi istirahat diantaranya.
Jadi bayangkan, Anda menonton adegan Cliffhanger, kemudian ada suara berkata,

“Oke guys, kita break dulu yaaa”

Kemudian semua orang membuka bekal timbel komplit dan teh botol. Sambil makan balakecrakan, mereka sibuk membahas adegan sambil deg-degan menantikan kelanjutannya.

Skip
Setelah nonton K3G ini (maap judulnya kepanjangan dan susah ngetiknya), perasaan saya gimana ya. B ajah alias so so. 

Sempat saya buat status pendek mengenai ini dan rata-rata orang terkaget-kaget. Ya sih, saya anti mainstream. Sebab saya tahu jutaan orang suka film ini. Tapi kan hati ini tak bisa bohong, jenderal! 
K3G memiliki premis kisah sangat biasa dan agak old school. Shakrukh Khan adalah anak angkat seorang keluarga kaya dan terhormat. Ia jatuh cinta pada gadis jenaka dari keluarga bersahaja (hey, it’s rhyme! Kata temen saya, Koko). 
Percintaan Khan dan Kajol (cantik bangeuud) tidak disetujui Ayahnya Khan (Amitabh Bachchan). Khan pun terusir dengan syahdu diiringi backsound petir menggelegar di pertengahan film. Setelahnya, adik Khan (Hrithrik Roshan) berusaha menyatukan kembali kakaknya yang ia idolakan dengan ayah dan ibunya.
Terus terang, saat menonton film ini, saya banyak mempercepat adegan menari dan menyanyinya. Duh, saya tahu ini budaya mereka. Tapi ya kali, semua masalah bisa selesai dengan cara dinyanyikan dan ditarikan. Duh.
Khan mainnya bagus, apalagi adegan dengan Bhachan saat mereka terpaksa berpisah. Tapi sisanya membuat saya bosan. Tema cerita yang Siti Nurbaya banget itu bikin ‘plis atulah’. 

Saya tengok pembuatan filmnya di tahun 2001. Memang sudah terlambat 16 tahun saya. Apakah kalau saya nonton tahun itu, pendapat saya akan sama? Ga tau juga sih. Mungkin tidak. Hahaha.
Adegan Khan turun dari helikopter (saking kaya nya ni orang) sambil berjalan dengan macho dan rambutnya tergerakkan angin sepoi-sepoi itu aduh jadulnyaaaa. Serasa saya kembali ke era tahun 80-an.
Dan Roshan (yang jadi adiknya) ya ampun. Ngomong sedikit, berkaca-kaca, ngomong sedikit mbrebes mili. Cowok kok cengeng.

Eh maap, komentar di atas agak seksis.
Buat saya, adegan sedih tidak harus direpresentasikan dengan deraian airmata seember. Cukup tatapan terluka, rahang yang mengeras, kerutan dahi. Tapi jika ditampilkan dengan pas, malah bikin efek nyeuri hate yang lebih dahsyat daripada sekedar mata merah menahan tangis.
Oke, cerita biasa. Plot pas pas aja.

Shakhruk Khan dan Amitabh Bhachan bagus, sisanya biasa.

Kesan : biasa aja.
Plis, jangan musuhi saya karena berbeda pendapat 😝😝😝😝

Plis, jangan umpankan saya pada 2PFBI – persatuan pecinta film Bollywood se-Indonesia.

CEK TOKO SEBELAH (2016)
Semua orang yang sudah nonton film ini bilang bagus. Tapi ya, itu tadi. Saya yang pilih-pilih, ditambah jadwal harian yang bentrok atau saat lagi bokek, jadi film ini terlewatkan.
CTS bercerita tentang Engkoh paruh baya (A Fuk) yang punya toko kelontong. Engkoh A Fuk punya dua anak, Dion Wiyoko dan Ernest Prakasa. Dion sering dianggap gagal (kuliah DO, menikah ga disetujui, kemana-mana cuma pakai motor) dan Ernest yang sukses (kerja kantoran jadi esmud dan kuliahnya dapet beasiswa ke Sidney).
Inti ceritanya sih drama keluarga. Tapi sungguh, ini film kok bagus banget. Perasaan saya dibawa naik turun sebab selain nyesek karena masalah internal keluarga, berkali-kali saya juga dibuat ngakak karena banyak komedinya.
Cerita disusun rapi. Tidak ada twist, sebab ini drama biasa yang ga perlu main tebak-tebakan, tapi enak, mengalir dan manis di akhir. 

Kehadiran para komika pun memberi penyegaran. Kecuali Dodit Mulyanto dan Arafah yang biasa ajah. Komika yang paling saya suka itu yang lagi adegan main judi. Kocak banget.
Ernest sebagai sutradara saya nilai cukup berhasil. Tapi sebagai pemain ga terlalu (kezam). Akting Dion Wiyoko masih jauh lebih bagus. Ernest lumayan sih, apalagi pas adegan sama Giselle. Mungkin karena Giselle aktingnya lebih parah. Ehh
Tapi secara keseluruhan,  CTS bagus dan mungkin jadi film yang masih enak ditonton berulang kali. Apalagi adegan di rumah sakit yang ada satpamnya itu. 😂😂😂😂😂

NGENEST (2015)
Kerennya film Cek Toko Sebelah, membuat saya jadi gugling banyak soal Ernest. 

Saya sudah tahu dia, sejak sering nonton Stand Up Comedy Indonesia sih dan menurut saya, dia termasuk yang punya ciri khas dengan materi ILUCINATI-nya.
Dan Ngenest adalah film yang dibuat setahun sebelum CTS. Produktif kali Ernest ini, bah!
Ngenest ternyata adalah kisah hidup Ernest yang diangkat dari buku tulisannya sendiri dengan judul yang sama. 

Kesesuaian antara isi cerita dengan kisah hidupnya sendiri mungkin hanya Ernest dan Allah yang tahu. Yang saya tahu, akting Ernest di sini jauh lebih bagus dibanding di CTS.
Ceritanya, Ernest sudah bosan dibully terus sejak kecil sebab ia orang Cina. Oleh karena itu, ia bercita-cita untuk memutuskan mata rantai ke-Cina-annya dengan cara menikahi pribumi. 
Konflik di film ini tidak dibuat agak rumit seperti CTS. Konflik baru terasa di paruh akhir saat Ernest takut anak yang dilahirkan istrinya bakal sama sipitnya dengan dia. Singkatnya, Ernest takut anaknya kelak dibully juga sebab ia terlahir sebagai half-blood, eh … half-Chinese maksudnya.
Ada adegan yang bikin saya tersentuh saat Ernest bertengkar dengan Meira, istrinya di pinggir jalan. Meira memaksa pulang naik bajaj. Di rumah mereka duduk berdua di lantai dan Ernest berbisik,

“Jangan pernah tinggalin aku kayak gitu lagi.”

Mungkin karena ini beneran soal hidupnya Ernest (karena ternyata nama istri benerannya Ernest juga Meira).
Secara keseluruhan, cukup bisa dinikmati. Istimewa sih tidak, pas saja.


PERAHU KERTAS (2012)
Menonton film ini entah kenapa ga beres-beres. Rasanya pernah sekilas nonton di RCTI, tapi malas melanjutkan. TV lokal yang iklannya bejibun melebihi cucian selama 3 minggu itu sudah lama saya peti es kan.
Plus, film ini dibuat dalam dua bagian. Memang wajar sih, ceritanya panjang. Novelnya sih saya nilai sebagai salah satu novel romance yang paling bagus. Manis tanpa menya-menye dan romantis tanpa banyak dialog maksa.
Dan seperti pembaca pada umumnya, saya akan rewel sekali. Sebab buku yang diadaptasi ke bentuk film punya resiko dicaci bahkan sebelum filmnya tayang. 
Maudy Ayunda saya lihat pas banget memerankan Kugy. Di sini, Maudy terlihat natural dan ga takut kelihatan jelek. Which is something good. Sebab pembaca Perahu Kertas tahu, Kugy anaknya slenge an dan kucel, bukan tipe cewek yang tiap 5 menit sekali menyemprotkan evian water spray dan tahu semua shade wardah Intense Matte
Sayangnya, akting Maudy kok saya ngerasanya naik turun. Di beberapa adegan sangat bagus tapi di adegan lain malah kayak orang bingung. Eh mungkin perasaan saya aja sih. Perasaan sih … nah iya, itu perasaan saya.
Yang memerankan Keenan adalah pendatang baru (waktu itu),namanya Adipati Dolken. Dulu,  di bayangan saya pas baca Perahu Kertas, Keenan itu tipe-tipe Darius Synatria yang jangkung dan bule. Tapi Darius yang ga akting ya. Sudalah, Darius cocoknya di iklan aja. Ehh.
Ternyata, di film ini saya malah terpesona sama aktingnya Adipati Dolken yang menurut saya ‘nih anak auranya keren banget’. 

Tokoh Keenan yang pasti meluluhlantakkan hati abegeh abegeh yang baca Perahu Kertas, ia perankan dengan ekspresi wajah yang membuat pilu. Matanya berbicara dan dialognya jadi bermakna.
Maudy, seperti saya bilang tadi, aktingnya naik turun. Pas adegan dengan Reza Rahardian, malah pas banget. Chemistry-nya dapet pet pet. 

Mungkin karena sudah kenal dengan Reza? Bisa jadi. Mungkin sebelumnya sudah whassap-an dan kirim-kiriman meme lucu sama Reza? Teuing atuh.



Secara keseluruhan, filmnya cukup baik. Saya ga terlalu keberatan sih sama kualitas akting para figuran. Sebab kekuatan Perahu Kertas berpusat pada Kugy dan Keenan saja, ceuk saya mah

Eh tapi, Tio Pakusadewo (seperti biasa) main apik sebagai mantan gebetan mamanya Keenan yang punya galeri seni di Bali.

Munafik (2016)
Bosen scrolling film-film Indonesia di HOOQ, saya memilih film Malaysia yang kata semua teman saya bagus. 
Saya agak menguatkan hati, sebab ini film horor. Bukan apa-apa, nonton HOOQ itu kan di HP, kalo ada adegan yang bikin kaget, bisa-bisa, HP saya banting. Kan gawat. Alhamdulillah sampai akhir film, HP aman. 
Teman-teman saya benar. Ini film bagus sekali. Ceritanya rapi, twistnya mengejutkan (multiple twists loh!) dan akting para pemainnya pas.

 Saya ga bisa menilai dengan benar sebab saya ga terlalu memahami budaya Malaysia dan buat saya, mengerti akting itu butuh background knowledge tentang orang-orang yang berakting.
Ecieeee … emang penelitian yang pake latar belakang masalah 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️

“Munafik” bercerita tentang Ustadz Adam, yang baru kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan mobil. Ustadz Adam sangat terpukul sampai berhenti membantu me-ruqiah penduduk kampung yang sering diganggu makhluk halus (kesurupan). 

Agak mirip dengan tokoh yang diperankan Mel Gibson di “The Sign” yang berhenti jadi pendeta setelah istrinya terbunuh. Bedanya, Gibson jadi atheis, ustadz Adam depresi berat tapi tidak sampai meninggalkan Allah.
Saat Ustadz Adam masih galau dengan kesedihannya, penduduk kampung meminta bantuannya untuk menolong Maria, seorang gadis yang kesurupan. 
Dalam usahanya menolong Maria inilah, ustadz Adam pun sedikit demi sedikit memahami lapisan demi lapisan benang merah antara kau, aku dan bekas pacarmu 

Eh bukan.
Antara dia, Maria, keluarganya dan orang-orang kampung termasuk kematian istrinya.

Adegan ustadz Adam saat menolong Maria termasuk adegan yang breathtaking bangeud. Sangat mengingatkan pada “The Exorcist” , dengan adegan Maria yang badannya berderak-derak bikin ngilu, kepalanya yang hampir berputar 180 derajat, plus adegan ngerayap di dinding ala ala Peter Parker.
Bedanya, ini versi Syariah. Ustadz Adam melantunkan ayat Qursy dan dibalas oleh iblis di dalam tubuh Maria dengan …. bacaan Arab juga doong … gimana ga horor.
Jadi ingat perkataan guru ngaji bahwa syetan pun bisa hapal bacaan-bacaan Quran tapi hanya keimanan yang bisa menghancurkannya. Masya Allah. #BenerinHijab
Sosok horor nya ada pisan. Dan nyebelin sebab serem. Scoring musiknya ga begitu menghentak-hentak ala Hollywood atau sunyi sepi sendiri ala Korea atau Thailand. Ada suara-suara mengagetkan tapi pas. Bikin tegang dan takut juga. Dan ini hantu Asia yah, sodara-sodara. Artinya bikin merinding plus plus.
Ada adegan ustadz Adam membongkar kuburan istrinya dan membopong mayat yang masih terbungkus kain kafan (pocong). 

Demi semua Dragon nya Daenerys Stormborn, itu bikin ngeri.
Satu-satunya kendala saya saat menonton film ini adalah tidak ada subtitle, hiks. Bahasa orang Malaysia itu seperti yang gampang tapi sebenarnya tidak. Saya harus mengira-ngira ceritanya apaan sih ini. Alhamdulillah diberikan petunjuk untuk paham garis besarnya. (Plus setelah itu gugling lagi, ngecek bisi pemahaman eikeu salah haha)
Jadi, secara keseluruhan, “Munafik” sangat keren. Dan kalian tau engga, di film ini tokoh-tokoh perempuannya berjilbab rapi dan tetap tidak terbuka bahkan saat Maria tergoncang-goncang dikuasai iblis laknatullah. 

Tak ada adegan ustadz Adam memegang Maria saat proses ruqiah. Keren. Dijaga lah, syariah yang ga setengah-setengah. Meskipun mungkin hanya untuk konsumsi film. 
Semoga kalau kalian nanti menonton, kalian lebih ngerti dari saya. Supaya tidak menahan tawa sebab saat ustadz Adam mengobrol serius, kok kayak Upin Ipin yekaaan. 

Sukur-sukur ada subtitle lah. Biar hidup terasa lebih mudah.
Jadi, demikian review 5 film yang saya tonton. Entahlah ini berfaedah atau tidak. Ataukah kalian membaca tulisan ini sampai akhir atau tidak.

Hihi
Salam.

Posted in english, Film, Review

More Reasons to watch “13 Reasons Why” (Movie Review)


13 reasons why

Mr Potter : “How Did you get these tapes?”

Clay Jensen: “Because I’m number 11.”

 

Netflix’s latest TV series “13 Reasons Why” has been discussed among all movie lovers for the past couple of weeks. Knowing that another Netflix’s series “Stranger Things” did not fail me, I intended to watch this one as well, naturally.

 

After being absorbed in a distraught family drama called “Shameless USA” (7 seasons), I finally got my hand on these ‘high school type drama’.  Most of my friends said that this has a very emotional message, which is something that I always like from a movie.

 

‘13 Reasons Why’ took us to a dead-girl, Hannah Baker. A seventeen years old girl who killed herself and left something after she died. Just before she slashed her own wrist, Hannah made thirteen tapes (recorded tapes, like the old ones) to tell people the reasons why she decided to end her own life.

 

As it’s title, the series consists of 13 episodes, where each episode is revealing one tape at a time. When I started to watch it, I could not help to notice that it was probably just another teen movie, with a bunch of showing-too-many-skin-cheerleaders and a pack of school athletes showing their muscles. The pace of story that was pretty slow for the first five episodes (5, people!) made it worse. Then I was wrong.

 

“13 Reasons Why” might seem to be just-another-boring-but-with-many-beautiful-faces teen drama, but the message is extremely powerful. Things were revealed layer by layer per episode. My emotion was critically fluctuated, especially after the 9th episode. This is an absolutely mind blowing young adult movies/TV Series.

 

Okay, I will tell you what the main idea is.

One word.

BULLYING.

 

One word that everyone knows but rarely aware. Hannah Baker is a high school teenager girl who tried so hard to fit in everyday and failed. She got bullied because of one person. An inappropriate picture of her was spreading throughout the school and not so long after that, almost every guy in the school called her slut and treated her unrespect fully.

 

Hannah might be you or I. Just someone who is trapped in a bad situation. She was smart, yet she did not have friends to be with. Friends to spill secrets with and to share everything with. She did okay in the beginning but somehow lost track somewhere along the way. She tried very hard to fix everything but people called her ‘drama queen’ instead (including me at the first episode, hiks hiks).

 

I remember that almost in every class I teach, there usually one or two students that seemed to be lost. They sat in front of me, listened to whatever shit I delivered, and somehow I know that their minds were not even there with me.

 

Through many stories from my students, I learned that being an adolescent is rough. They live complicated life. Their parents’ demands, society’s demands and school demands. Countless teenagers and young adults (age 13-22 years old) confessed that they did not like what they had in life. They hated their parents for always insisting them to do something. They detested school’s regulations and education system that most of the time is not really helping them.

And having friends are not as easy as it may seem. Tell me about it. Even at this age I am still trying to figure out what to do and how to react to my friends, sometimes. Humans are complicated, the relationship is even more.

 

Overall, “13 Reasons Why” is a kind of series you need to watch if you really want to understand how teenagers face their life every day. The series depicted the life of American high schoolers, yet, the message is similar. It could happen to anyone, any teenager on earth, whatever language and culture they have.

 

Watch it.

 

Be good to other people.

 

That’s it.

Posted in books and movies 2016, Review

Predator Berakal Tinggi


Green-Room-UK-Banner-Poster

********* maaf, SPOILER ********

The Green Room (2015)

Director : Jeremy Saulnier

Cast : Anton Yelchin, Imogen Poots, Patrick Stewart

IMDB rate : 7.3

 

Memang benar, menonton sebuah film selayaknya tidak usah terpengaruh dengan review yang sudah ada, pun meninggikan ekspektasi. Harapan saya cukup tinggi saat membaca ulasan tentang bagaimana tegangnya film ini. Yaah, thriller sih memang. Tegangnya kadang dapet siih. Tapi ya udah. Ibarat baca novel yang dipuja-puji orang, eh pas baca sampe bingung dan pengen nanya sama penulisnya, beneran nih? cuman gini doang?

Oke, saya akan stop di situ, sebelum di-bully seluruh penulis se alam raya.

 

The Green Room bercerita soal empat anak remaja anggota Punk Band yang manggung dari kota ke kota, berdasarkan panggilan, dengan bayaran beberapa dolar ditambah bensin untuk mobil. Suatu saat, mereka memenuhi panggilan sepupunya salah seorang teman untuk manggung di sebuah tempat, yang adalah markas kaum skinhead, anak-anak muda yang senang berkepala plontos dan menganut paham neo nazi.

Nah, jangan berharap akan dapat sesuatu dari neo nazi itu. Filmnya bukan soal itu. Kalo itu tonton saja American History X (1998).

Beres manggung, ndilalah, si empat sekawan malah menyaksikan pembunuhan di lokasi tersebut. Bisa ditebak, selanjutnya adalah perjuangan mereka keluar dari sana hidup-hidup karena boyben nazi ga mau satupun buka mulut. Ya sudah deh, kejar-kejaran, papinter-pinter siapa yang bisa bunuh siapa.

Jadi, bapak dan ibu, ini film sadis ya. Yang jantungan dan ga kuat liat bacok-bacokan, ga usah nonton. Juga anak-anak kecil di bawah umur jangan nonton.

Sudah bisa ditebak lah yaa, tipe filmnya seperti apa. Pada akhirnya kezaliman dikalahkan oleh pemeran utama. Track lurus cerita film dijalankan, yang namanya boga lakon mesti menang. Karena hanya Game of Thrones saja yang iseng tidak begitu.

 

Filmnya sih biasa saja menurut saya. Soal ketegangan malah lebih terasa waktu Owen Wilson sekeluarga harus bertahan hidup dari segerombolan makar pembenci kulit putih di No Escape (2015). Atau bahkan The Purge dan The Purge Anarchy. Atau, mungkin saya sudah terlalu sering menonton film dengan premis cerita serupa. Mirip sekali sih tidak, tapi ya begitu begitu saja. Intinya survival game. Di saat kondisi terdesak, mau tak mau yang diburu pun akan berubah menjadi pemburu. It’s all about live or die. Simpel.

Berbicara mengenai film yang bikin tegang yang masih melekat di ingatan, salah satunya adalah film ini.

download

The Experiment (2010)

Director : Paul Scheuring

Cast :  Adrien Brody, Forest Whitaker, Cam Gigandet

imdb rate : 6.4

*********** SPOILER ALERT ***********

 

The Experiment aslinya adaptasi dari film Jerman berjudul sama Das Experiment (2001). Bercerita tentang 26 pria pengangguran dan yang sedang butuh uang. Mereka ditawari bayaran uang banyak asal mau menjalani serangkaian eksperimen yang dilakukan sebuah perusahaan tertentu. Untuk bayaran sekian ribu dolar, siapa sih yang ga mau. Cuss lah mereka diberangkatkan ke sebuah tempat terpencil dan terisolir dari dunia luar.

 

Tiba di tempat karantina, mereka dibagi ke dalam dua kelompok peran. Role play begitulah. Satu kelompok jadi sipir penjara, satu kelompok lagi jadi narapidana. Horeee  …  main peran kita, nanti kita saling akting marah-marahan yaaa, begitulah yang ada di benak para peserta, awalnya.

 

Bermain peran yang tadinya cuma haha hihi ternyata berkembang menjadi sesuatu yang serius. Eskalasi ketegangan meningkat semakin hari karena para sipir ternyata diberikan privilege lebih dibanding para narapidana. Yang terjadi kemudian, lagi-lagi survival game. Siapa yang kuat, dia yang menang. Saya bunuh kamu duluan, daripada kamu bunuh saya.

 

Film ini mengerikan karena menyajikan contoh nyata bagaimana manusia begitu gampangnya berubah. Disodori uang, menjadi motivasi kuat. Diberi kekuasaan sedikit, hasrat showing power menggelora. Para subyek eksperimen di sini sudah lupa bahwasanya mereka sedang main peran. Yang ada, mereka ‘memerankan’ karakter yang diberikan secara nyata. Para sipir jejadian yang bengis dan diktator. Para narapidana bohongan yang jadi korban bullying setiap hari sehingga muak dan memutuskan untuk membalas.

Jangan tanya apakah ini aman tidak untuk anak di bawah umur. Sedangkan yang dewasa saja, mungkin bisa ga kuat lihat manusia berubah bentuk jadi predator berakal yang buas.

Jika kamu kuat lihat yang agak-agak brutal bin sadistik, tonton saja. Yang menarik, ya itu tadi. Manusia memang gampang dikendalikan, gampag diberi umpan, gampang diprovokasi. Makanya jangan heran sama orang-orang yang cepet banget naik emosi, kesulut sedikit bakar! kesel sedikit, bunuh! Kadang hanya butuh sedikit porsi saja motivasi untuk memunculkan wujud asli barbarnya manusia.

Karakter ke 26 manusia di sini juga semua tipe manusia kelas dua yang desperado. Perjaka tua yang tinggal di rumah ibunya dan dibully setiap hari. Orang-orang yang terlilit utang piutang dan butuh uang cepat dalam waktu singkat. Benar-benar definisi kekufuran dekat dengan kekafiran.

#edisiSyariah

 

13-sins

13 Sins (2014)

Director : Daniel Stamm

Cast : Mark Webber, Devon Graye, Rutina Wesley

imdb rate : 6.3

************** SPOILER ALERT **************

Film berikutnya yang senada seirama (satu tone) adalah film orang-orang putus asa, 13 Sins. Rated R untuk adegan kekerasan dan bahasa vulgar.

Eliott, seorang salesman rendahan memiliki beban hidup berat. Tidak hanya harus menanggung biaya panti jompo ayahnya yang sudah sepuh, ia pun mesti mengurus adik laki-lakinya yang berkebutuhan khusus. Tak cukup sampai di situ, suatu hari, Shelby, sang tunangan, mengabarkan kehamilannya. Otomatis Eliott harus bertambah pusing karena pernikahan yang harus diurus.

Hidup di bawah tekanan berat, plus utang-utang yang menumpuk membuat Eliott hampir putus asa. Suatu hari, seseorang meneleponnya. Mengabarkan bahwa Eliott terpilih menjadi peserta game show berhadiah jutaan dolar. Jangan salahkan Eliott jika ia kemudian setuju untuk ikut bermain. Hidup ini susah. Kesempatan baik takkan datang dua kali, begitu pikirnya.

 

Si penelepon hanya mengatakan bahwa Eliott harus menyelesaikan 13 instruksi. Tugas pertama adalah membunuh seekor lalat yang nemplok di dekatnya, hadiahnya seribu dolar. Gampaaaaang … easy money. Kapan lagi sih bisa begitu.

Tak dinyana, tugas kedua adalah menelan lalat yang tadi ia bunuh. Euughh, mual sih, tapi demi dua ribu dolar yasud telan saja.

Padahal, eh di tugas-tugas berikutnya ternyata makin lama makin aneh dan makin berbahaya. Eliott kemudian menjadi kecanduan untuk melaksanakan tugas demi tugas, meski itu artinya nyawa yang harus ia hilangkan, lebih besar dari sekedar seekor lalat.

Saya bilang film ini satu tone dengan dua film sebelumya, karena temanya sama. Mengupas sisi gelap manusia yang diberi umpan berupa keadaan putus asa.

Jika anda ditawari uang 10 juta untuk membunuh cicak yang nempel di dinding rumah, mau tidak? 10 juta looh, dan cicak itu hewan yang ga gampang punah, mati satu temennya masih banyak.

Nah, kalo Anda sudah mau membunuh cicak, bagaimana jika ditawari 40 juta untuk bunuh tikus yang suka curi-curi makanan di dapur? Mau kan? Jiaaah cuma tikus, ga berguna. Bikin bau.

Trus, satu milyar untuk berlagak gila di depan Pak RT? Mau?

Trus, 5 milyar untuk mencuri jemuran tetangga?

10 milyar untuk membunuh musuh Anda?

 

Kira-kira begitulah premis ceritanya.

Sebagai manusia beradab pasti kita semua akan menggeleng. Nehi yaa .. kita kan makhluk bermoral, apaan bunuh-bunuh .. semua makhluk hidup itu ciptaan Allah, tauu.

Oh ya? trus kalo hidupmu berantakan? banyak utang? dikejar-kejar debt collector serem, gimana? sementara ayah jompomu ga mau tau dan banyak menuntut.

lelaaaaah …

Makanya jangan salahkan Eliott kalo kemudian dia terjebak hiks hiks

 

Menonton film ini, kita dibuat sadar bahwa hey, uang bukan segalanya, meski segalanya membutuhkan uang. Realitas dan imajinasi liar hanya setipis celana dalam harga 10 rebu tiga. Hidup sungguh pedih, dan terkadang jalan tersulit dan dilematis yang terpaksa ditempuh.

 

Ketiga film yang saya ulas malam ini memang menampilkan kekerasan. Namun sesungguhnya ketiganya menyelipkan kepedihan. Betapa manusia begitu mudah rapuh sekaligus gampang meledak.

juga membuat saya sadar bahwa psikopat bisa saja lahir setiap hari, dari hal remeh temeh yang terkadang sulit diterima akal.

Begitu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in 30 Hari Menulis 2016, Film, Review

Shawshank (and humanity) Redemption


#30HariMenulis

Day 2

Tema hari kedua itu membahas film.

Dari kemarin saya mikir terus mau membahas film apa, secara saya ini penonton film akut. Hampir tiap hari menonton film, sehingga jika ada yang meminta rekomendasi film, langsung bisa murudul.

Akhirnya saya bertanya sama si Cinta. Bukan Cinta-nya Rangga, apalagi Cinta-nya Bapak Walikota. Ah, kenapa jadi ikut-ikutan manggil Cinta, ya sudah kita sebut saja dia, Mawar (kebanyakan baca kasus kekerasan tahun 90-an).

Lelaki itu dipanggil “abi” oleh anak-anak saya. Saya dipanggil umi. Entah kenapa jadi abi dan umi. Mungkin waktu kami rapat dulu itu, panggilan umi-abi dirasakan anti-mainstream, beda dari yang lain. Sekarang? Dih, yang masih pacaran pake baju atas putih bawah abu-abu pun panggilnya umi-abi.

So anyway,

Saya tanya abi.

“Bi, bahas film apa ya buat hari ke-2?”

Dese langsung nyahut yet, “Shawshank Redemption!”

Yasud, bahas itu ajah.

(ini prolog ga penting, boleh dilewat)

519NBNHX5BL

THE SHAWSHANK REDEMPTION (1994)

Cast : Tim Robbins, Morgan Freeman

Director : Frank Darabont

(hati-hati yang belum nonton, banyak spoiler)

Jika kamu membuka situs IMDB (Internet Movie Data Base), kamu akan tahu bahwa film ini menuai rating 9.3. Rotten Tomatoes, sebuah situs kritisi film memberinya 91 %. Sekedar gambaran, biasanya rating 7/70 saja sudah menandakan filmnya bagus, apalagi setinggi ini. Kadang malah film yang ratingnya 6/60 saya nilai bagus, tapi memang tidak banyak.

The Shawshank Redemption dirilis tahun 1994 (hayooo kamu umur berapa? Sudah lahir belum?), tahun saya baru masuk SMA. Menontonnya sendiri malah baru sekitar 6 tahun yang lalu. Maklumlah, jaman SMA yang ditonton malah film hu lala yeyeye macam Jumanji dan Mighty Morphin Power Rangers.

Andy Dufresne(Tim Robbins), seorang akuntan, dijebloskan ke penjara dengan tuduhan membunuh istri dan selingkuhan istrinya di suatu malam. Andy bersikukuh tidak pernah melakukannya. Namun semua bukti berkata lain. Plus, pada malam kejadian Andy mabuk berat. Mungkin Andy tidak tahu bahayanya khamr (minuman yang memabukkan).Makanya boys and girls, jangan mabuk kalian yaa. Minum Antimo sebelum berangkat. Kalau Mabuk Janda, nah itu lagu dangdut.

yuuuuuk

Andy ditempatkan di sebuah penjara yang disebut “Shawshank”, kalo di kita semacam Nusakambangan, soalnya yang dijebloskan ke situ biasanya kriminal kelas parah, yang hukumannya minimal berpuluh-puluh tahun atau bahkan seumur hidup.

Kehidupan penjara yang muram dan tidak menjanjikan harapan sempat bikin mental Andy down. Apalagi ancaman yang datang bukan hanya dari para sipir yang kejamnya bisa bikin Death Eater terkesan kayak cheerleader, tapi juga dari sesama inmate (narapidana) yang hobi main perkosa. Hiyy …

Di sini Andy bertemu dengan Red (Morgan Freeman), narapidana Shawshank yang sudah terampil menyelundupkan berbagai barang dari luar penjara untuk para narapidana, saking lamanya dia di sana. Bersama Red, Andy jadi punya teman, siksaan penjara jadi agak tertahankan. Itulah makanya kita mesti berteman,jangan cuma main bobonekaan koboy sama space ranger. Etdaaah, itu Andy nya berbezaaa.

Dari awal film bergulir, saya dibuat amat kagum dengan cerita yang kuat.  Dari sekian banyak hal penting dari film seperti acting, sinematografi, special effect, scoring dll, saya selalu merasa cerita yang kuat memegang inti penting.

Aslinya film ini diadaptasi dari cerita pendek karya Stephen King, berjudul”Rita Hayworth and the Shawshank Redemption”.Mengapa ada nama Rita Hayworth? Kamu tonton sendiri lah filmnya, jangan manja.

Stephen King itu penulis cerita horror/thriller/misteri yang sepertinya otaknya penuh dengan hal-hal di luar logika manusia normal yang menjalani hidup membosankan.

Lanjut ke isi film …

Bertahun-tahun Andy menjalani hidup yang bukan hidup sebenarnya di Shawshank. Di kemudian hari, melalui pertemuan tak terduga dengan seseorang, Andy akhirnya tahu bahwa dia sebenarnya memang tidak bersalah. Andy ingin menjerit, menangis, lari ke hutan, belok ke pantai. Tapi memangnya Andy bisa apa sih? Para sipir yang nyebelinnya bisa bikin Voldemort nangis dan Kepala Sipir yang matre di sana malah menghalang-halangi Andy untuk mengungkap kebenaran.

Ini kan isu aktual banget.

Berapa banyak coba orang tak bersalah yang dipenjarakan karena kesalahan penyidik, ketidakcermatan penyelidikan,tekanan polisi, dan hakim sembrono?

Beberapa waktu lalu, kasus pelecehan seksual yang menimpa sejumlah anak usia SD di sebuah sekolah internasional kembali mencuat. Masyarakat dibuat kaget dengan adanya temuan sejumlah pihak yang menyebutkan kasus tersebut sarat kebohongan. Para pelaku yang sudah dipenjarakan disinyalir tidak bersalah.

Gilaaaaaa !!

Hampir ga kuat akika baca perkembangan kasusnya kakaaaa !! Ternyata dunia ini memang kejam hiks hiks hiks

Dunia yang dikendalikan segelintir orang yang punya duit dan power. Camkan itu, kisanak!

Beberapa tahun lalu, saya merasa mual di angkot. Kisah ini sudah sering saya ceritakan. Jangan bosan yaa.

Jadi, ada dua orang Ibu paruh baya yang duduk di angkot bersama saya. Awalnya mereka tidak saling kenal. Tapi you know lah the magic of emak-emak. Dari awalnya berkomentar soal harga bawang merah dan cabe keriting, tidak sampai lima menit mereka sudah seperti BFF yang seminggu sekali ketemuan di café sambil ngopi.

Nah, salah satu ibu membanggakan anaknya yang berprofesi sebagai polisi (ini juga penyakit emak-emak, seneng banget endorse anak, ga peduli orang suka apa engga dengernya)

“Anak saya mah, waaah pokoknya mah semua orang kenal lah. Tugas di Polsek XXX ituuu .. pokoknya tiap ada yang baru masuk, kalo udah disiksa sama anak saya mah langsung ngaku! Geus lah ga bisa apa-apa!”

Dan si ibu satunya lagi manggut-manggut. Bergulirlah cerita lainnya seputar dunia interogasi dengan tokoh sentral anaknya si ibu yang bak John McClaine di Die Hard, yang hobi main bakbikbuk jeder.

 

Saya yang duduk di pojokan angkot serasa tak menjejak di bumi. Are you f*cking kidding me??

Ya iya lah pasti pada ngaku, lah disiksa. Siksaan nya pasti bukan model kitik-kitikan kayak anak TK.

Ah, mungkin si ibu lelah.

Mungkin ia hanya ingin show off di depan ibu yang satu lagi. Cerita soalkekerasan interogasi memang lebih seksi dibanding membahas bahan-bahan untuk membuat rendang lebih bagus diblender atau diulek.

Shawshank Redemption bertutur tentang ketidakadilan yang sering terjadi dalam tatanan masyarakat kita pada umumnya yang memegang teguh norma kemanusiaan.  Masyarakat yang judge mental, aparat yang sewenang-wenang, orang-orang yang secara sadar ataupun tidak  memunculkan keiblisan dari dasar sanubari mereka yang paling dalam.

Ah lelah pokoknya, lelaaah.

Kamu ingin tahu apakah Andy bisa bebas atau tidak? Ya tontonlah filmnya. Jangan manja.

Masih banyak sebenarnya film-film dahsyat yang meninggalkan kesan mendalam. Yang selesai nonton bikin saya menarik nafas entah nyaman,entah bahagia,entah depresi (karena bagi saya film yang spekta keren  itu yang sanggup bikin penontonnya merasakan sensasi rasa yang berbeda).

Hari ini, cukuplah Shawshank Redemption saja. Supaya para bocah di luar sana yang hobi nonton keluarga Kardashian bisa agak tercerahkan dengan menonton film ini.

Salam.

 

 

 

Posted in Film, Review

Kerja Keras Si Kepala Batu – Review of The Imitation Game (mengandung SPOILER)


 

IMITATION GAME

Sometimes it is the people who no one imagines anything of who do the things that no one can imagine” – Alan Turing (1912-1954)

Bisa dikatakan jarang ada film yang mampu memaku saya tetap setia duduk manis untuk menonton. Film ini adalah salah satunya, lainnya adalah Gone Girl (sepanjang akhir 2013 sampai awal tahun ini). Sehabis menonton ini, saya resmi menjagokan Benedict Cumberbatch untuk meraih Oscar sebagai pemeran utama pria terbaik.

The Imitation Game berkisah tentang seorang nerd bernama Alan Turing. Sebagai ahli matematika jenius, Alan bekerja sebagai seorang kriptograf untuk pemerintah Inggris di Perang Dunia II saat Hitler sedang hobi ngebom sana sini. Bersama beberapa ahli pemecah kode lainnya, tugas Alan adalah memecahkan kode Enigma, sebuah mesin eksripsi buatan Jerman yang dipakai untuk mengirim kode rahasia.

Di menit-menit awal, saya sempat tersenyum simpul melihat Cumberbatch berperan sebagai Alan Turing yang jenius dan anti-sosial, sangat mengingatkan pada tokoh Sheldon Cooper di serial The Big Bang Theory. Mungkin memang sudah jadi semacam stereotype, seorang yang demikian pintar dalam matematika dan logika namun begitu gagap ketika harus berhubungan dengan manusia lainnya dalam konteks kehidupan sosial.

Plot film disajikan maju mundur, terbagi menjadi tiga waktu; masa kecil Alan Turing, masa ketika bekerja di Bletchley Park sebagai pemecah kode (1939), dan masa ketika perang berakhir (1951). Jadi Anda mesti cermat menonton film ini, karena terkadang perpindahan waktu tidak begitu kentara, jadi mungkin saja Anda akan tercengang ketika menyangka Alan sedang berbicara pada saat perang, eh padahal itu setelahnya. Petunjuk dari saya, perhatikan gaya rambut Alan di dua masa itu, sementara ketika masa kecil tidak akan terlalu sulit.

Kilasan-kilasan masa kecil Alan memang penting ditampilkan, supaya penonton memahami mengenai jati diri Alan sesungguhnya dan mengapa kemudian mesin raksasa yang ia ciptakan untuk mengenkripsi kode dinamainya Christopher.

Seperti sebagian besar jenius lainnya, Alan sering tidak dianggap oleh gurunya di sekolah. Di bocoran Wikipedia yang saya baca, orangtua Turing malah pernah dikirimi surat oleh salah seorang gurunya, yang menyatakan kekhawatiran akan Alan yang dianggap tidak serius dan sering ‘membuang-buang waktu’ di sekolah. Dan seperti banyak anak pintar lainnya, yang sering dianggap beda, Alan juga habis-habisan di-bully oleh geng anak nakal di sekolahnya (Damn you bullies!).Satu-satunya teman yang Alan punya adalah Christopher, sesama anak pintar yang dekat dengannya.

Beranjak dewasa, Alan kemudian bekerja di Universitas King, Cambridge. Bagian ini tidak terlalu disinggung di film, Anda bisa mendapatkan penjelasan lengkap mengenai perjalanan karir Turing dari hasil googling.Jadi, singkat cerita, Alan kemudian direkrut menjadi salah satu ahli pemecah kode yang bekerja untuk pemerintah Inggris. Tugas Alan dan kawan-kawan tidak main-main, mereka harus berhasil menerjemahkan kode-kode yang dikirim Jerman supaya bisa memenangi perang. Semakin mereka berusaha, semakin mereka frustasi karena tidak cukup banyak waktu untuk memecahkan semua kode.

Turing hadir sebagai salah satu anggota tim yang dengan pedenya mengatakan bisa membuat mesin yang akan sanggup mengurai semua kode secara sekaligus. Ide yang dianggap mustahil dan menghabiskan banyak uang. Meski akhirnya Alan Turing mendapat restu langsung dari Winston Churchill untuk mendesain mesin yang kemudian ia namai Christopher itu, masalah tidak begitu saja selesai. Frustasi akan hasil yang tidak kunjung memuaskan dan kecurigaan bahwa Alan hanya membuang-buang waktu dengan mesin ‘aneh’ , rekan-rekan setim Alan yang dari awal memang sudah memandangnya sebelah mata, makin membencinya. Belum lagi intimidasi dari Komandan Danniston sebagai pemimpin tertinggi militer, yang mengancam akan memecat Alan jika tidak berhasil dengan kerjanya. Danniston diperankan dengan apik oleh Charles Dance, yang agaknya memang cucok memerankan semacam pejabat militer dengan sorot mata dingin dan sikap tegasnya. Charles Dance merupakan salah satu aktor gaek favorit saya, setelah menyaksikannya berperan sebagai Tywin Lannister di serial The Game of Thrones.

Penolakan dari rekan sejawat yang tak jua memahaminya dan ketidakpercayaan pimpinan akan kerja Alan Turing mengingatkan saya pada nasib ngenesnya John Nash yang dianggap gila di A Beautiful Mind, meski untuk alasan yang berbeda. Maka, hanya perjuangan keras, banyak keras kepala dan (sedikit) dukungan (pada akhirnya) dari teman-temannya lah yang akhirnya berhasil menggiring Alan Turing sukses menciptakan ‘Christopher’, mesin sakti yang mampu mengurai kode rahasia.

The Imitation Game tidak hanya menyajikan seorang Alan Turing yang sering berkerut-kerut keningnya gara-gara kesulitan memecahkan bahasa kode, namun lebih dari itu. Di luar pekerjaannya sehari-hari, dalam kehidupan pribadinya, Alan Turing adalah seorang homoseksual, orientasi seksual yang dianggap biasa hari ini, tapi tidak di masa itu. Inggris pada tahun 1950-an masih menganggap homoseksual sebagai sesuatu yang terlarang dan wajib dihukum. Pelaku homoseksual bisa dikirim ke penjara atau menjalani terapi yang dinamakan suntikan estrogen (pilihan kedua adalah yang diambil oleh Turing). Begitu kejamnya para homoseksual diperlakukan, sehingga salah seorang rekan setim Alan memeringatinya dengan keras supaya tidak bercerita pada siapapun mengenai orientasi seksualnya tersebut.

Overall, saya sangat menikmati film The Imitation Game, terutama akting Benedict Cumberbatch yang super duper memikat. Kita tidak akan hanya tercengang menyaksikan Oh-begitu-ternyata-cara-orang-pinter-mikir, tapi juga sampai menahan napas karena ada scene dimana moralitas dipertaruhkan saat perang, apakah lebih baik menyelamatkan ratusan nyawa manusia atau sabar menunggu hingga hasil yang dinanti (yaitu berakhirnya perang) tiba. Dari para penggemar crosswords dan puzzles, para pemecah kode ini berubah menjadi penentu nasib manusia. We decided who lived and who died.

Pada akhirnya, pekerjaan yang dilakukan oleh Alan Turing dan kawan-kawan sukses memangkas perang menjadi lebih singkat saja (dua tahun). Dan seperti kodratnya para superhero yang harus selalu menyamarkan identitas mereka (kecuali di The Avengers), Alan Turing en de geng mesti rela untuk tidak dikenal sebagai mereka yang sejatinya membuat Jerman bertekuk lutut.

Saksikan pula pergulatan batin Alan yang tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia memang tidak normal. Alan tidak pernah berhasil mencintai Joan Clark (Keira Knightley) rekan setimnya, karena cintanya sudah habis ditelan bumi saat Christopher meninggal, pasca liburan akibat kena TBC. Di biografi Turing, saya membaca, memang Christopher lah cinta pertama Alan, dan Alan hanya mengenalnya selama dua tahun saja.

Nah, banyak sekali spoiler yang saya kasih di sini, you’d better watch it to enjoy it.

Oh ya, Alan Turing dikenal sebagai Bapak Ilmu Komputer, dan mesin penemuannya adalah cikal bakal komputer yang kita kenal sekarang. Dan seperti Galileo Galilei yang baru diakui kejeniusannya oleh Gereja pada tahun 1974, pemerintah Inggris, melalui Perdana Menteri pun secara resmi meminta maaf (baru) pada tahun 2009 kepada Alan Turing atas ‘perlakuan tidak menyenangkan’ yang pernah ia terima sebagai seorang homoseksual. Sementara Ratu Elizabeth memberi maaf di tahun 2013.

Di ending, saya nyesek dan berkaca-kaca. Anda harus nonton untuk tahu alasannya.