Posted in menulis, Ramadhan 1439 H

30 Hari Menulis is BACK!


 

Modal pertama yang harus dimiliki oleh orang yang suka menulis dan ingin tulisannya bagus, adalah dengan belajar menulis rapi.
 
PERTAMA, belajarlah menulis tanpa singkatan, atau minimal dikurangi. Plus, jangan memakai bahasa alay, kecuali kalau sekadar postingan Instagram, dan pembacamu adalah orang-orang yang se-frekuensi, yang senang membuat caption dengan banyak bahasa gahol yang lagi ngeheitz.
 
Banyak sekali orang yang mengganti “nya” hanya dengan “x”, “dia” dengan “dy” dan banyak lagi. Entah aturan darimana, yang jelas tidak disarankan jika kamu senang menulis dan tidak ingin bikin pembaca emosi.
 
KEDUA, mulai lirik KBBI. Periksa Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Mengapa penting? Bukankah itu tujuanmu menulis? Supaya pesan tersampaikan dengan rapi dan kamu memberikan nilai plus? Kalaupun kamu menulis dengan gaya informal (bahasa gaul), sesekali tunjukkan bahwa kamupun bisa menulis rapi. Nyaman loh membaca tulisan rapi itu, seperti datang mengunjungi restoran yang menyediakan “welcome drink and snack” sambil menunggu pesanan tiba.
 
KETIGA, jika ingin memasukkan bahasa asing atau daerah, lebih baik dalam satu kalimat utuh. Jangan dicampur per kata. Meski itu menunjukkan bagaimana mekanisme caramu berpikir, jangan buat orang depresi dengan gaya menulismu.
contoh:
“Aku tuh excited bangeud pas find out kalo dia ternyata charming.”
 
terlihat biasa, namun apa salahnya kamu buat dalam kalimat utuh:
“I was very excited when I found out that he was charming.”
 
Setelahnya bisa diberikan terjemahan (atau tidak). Keuntungannya, biar pembaca tidak juling bacanya, campur-campur macam kenangan pahit dan manis menggores hati.
 
Plus, kamu bisa belajar membuat kalimat bahasa Inggris yang juga rapi.
 
KEEMPAT, jangan menulis dalam paragraf yang panjang-panjang. Membuat lelah, padahal beban hidup aja sudah melelahkan, ya kaaaan. Buatlah paragraf yang tidak terlalu panjang. 4-5 kalimat per paragraf cukup. Kalau kepanjangan biasanya jadi masalah, lebih baik selesaikan saja. #apaseh
 
Demikian tips menulis untuk tulisan yang lebih baik dan tingkat literasi yang lebih tinggi.
 
Jangan lupa 30 Hari Menulis akan dimulai 20 Juni, yuk Ikut!
 
#RamadanHariKetujuhbelas

Posted in Ramadhan 1439 H

HAYFA


 

Pertengahan Juli tahun lalu, sebuah pesan whassap muncul di ponsel saya.
“Miss, bisa ngajar anak saya? Usianya 4 tahun …”

Sedikit bingung, saya balas, “Bu, saya ga banyak pengalaman ngajar anak kecil …”

Sejurus kemudian, si pengirim pesan mengirimkan video, sambil mengatakan anaknya tidak bisa bahasa Indonesia, hanya bisa berbahasa Inggris.

What??

Dan begitulah … awal mula perjumpaan saya dengan Hayfa, yang sudah hampir setahun ini menjadi murid terkecil saya.

Hayfa berbahasa Inggris aktif setiap hari. Bukan dalam potongan kata, namun kalimat-kalimat lengkap dan natural.

Bagi yang tidak familiar, pasti menyangka Hayfa pernah tinggal lama di luar negeri. Atau Ayah Ibunya memang berbahasa Inggris aktif setiap hari. Jawaban dua-duanya adalah tidak.

Hayfa dilahirkan sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Hingga usia 3 tahun Hayfa mengalami “Speech Delay” atau keterlambatan bicara. Tidak seperti anak pada umumnya yang mengalami proses tumbuh kembang bahasa, misal periode “babbling”, memproduksi kata-kata sederhana sampai merangkai kalimat, Hayfa tidak mengalami itu semua.

Ibunya Hayfa, harus mencolek anaknya setiap kali mengajak ngobrol sebab Hayfa selalu diam, tak pernah memproduksi kata-kata. Jika pun menginginkan sesuatu, ia akan menunjuk atau hanya mengeluarkan bunyi seperti “aaah”.

Keajaiban terjadi di usia 3 tahun. Saat sedang bermain bersama Ibu, Hayfa mengagetkan Ibu.
“Aduuh Ibu kaget …”kata Ibu.

Kemudian, tanpa keraguan sedikitpun, Hayfa mengatakan,
“Don’t scared, Ibu. It’s me, Hayfa.”

Dari situlah Hayfa aktif ngomong (bahkan cerewet hehe) namun semuanya disampaikan dalam bahasa Inggris.

Darimana asalnya?

Keluarga Hayfa sendiri berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, sesekali malah diselingi bahasa Sunda.

Ternyata Exposure yang didapat Hayfa dari menonton film kartun anak-anak di TV memicu perkembangan bahasa Inggrisnya menjadi sangat hebat, jauh melebihi anak-anak seusianya.

Hampir setahun ini, dua kali seminggu saya menyambangi Hayfa. Berdua kami akan menggambar, bermain doll house, mengerjakan project (menggunting, melem, melipat membuat ini dan itu) sambil mengobrol.

Perkembangan bahasanya luar biasa mengagumkan. Ia merespon secara cepat setiap kata yang saya berikan. Tak cukup waktu lama, kata-kata baru biasanya langsung nempel.

Lucunya, seperti anak-anak lain; Hayfa akan bersemangat jika mendapat kata baru. Tempo hari, saya asumsikan ia mendapat ujaran ini dari salah satu film yang ia tonton,
“Come on, bro!”

Sehingga sepanjang kami menggambar, ia terus menerus mengucapkan “come on bro!” Sambil terkikik-kikik geli sendiri.

Di lain hari, ia bertanya,
“What do you have there?”
Saat saya mengecek ponsel yang berbunyi.
“Messages from my friends,” jawab saya.

“Hmm … I’m confused with your friends” katanya.

Saya terbahak.

Baru minggu sebelumnya saya bilang, “Please speak slower, I ‘m confused.” Karena memang Hayfa sering nyerocos sendiri kalau ngomong.

Ibunya Hayfa aktif mencari teori-teori mengenai keistimewaan anaknya tersebut. Meski sempat disangka mengidap autisme, ternyata apa yang dialami Hayfa disebut sebagai “Gifted Disinkroni” (GD).

Dr. Purboyo, spA adalah orang pertama yang mengetes IQ Hayfa dan mengatakan bahwa Hayfa mengalami Gangguan Berbahasa Ekspresif.

Istilah GD sendiri, pertamakali diperkenalkan di Indonesia oleh seorang dokter gigi sekaligus doktor psikologi, Julia Maria Von Tiel.

GD merupakan kondisi yang terjadi pada anak-anak cerdas (IQ di atas 130) yang perkembangan kecerdasannya jomplang atau tidak sinkron.

Anak-anak GD, mengalami lompatan perkembangan di salah satu bidang dalam jumlah besar dan waktu singkat namun tidak sinkron dengan bidang yang lain.

Pada kasus Hayfa, perkembangan bahasanya melompati banyak periode dalam tahapan teori language acquisition (pemerolehan bahasa) yang biasanya dialami anak-anak pada umumnya. Kemampuan berbahasa Hayfa melesat jauh lebih cepat namun perkembangan emosi dan kecerdasan bersosialisasinya tidak secepat kemampuan ia berbahasa.

Tak hanya bahasa, kemampuan Hayfa dalam bangun ruang juga mencengangkan. Ia bisa membayangkan sebuah benda tiga dimensi dan membuatnya dari kertas, tanpa meniru. Ia juga punya ketertarikan tinggi terhadap sains. Buku favoritnya adalah kisah tentang terjadinya Volcano atau gunung berapi.

Jika ada yang bertanya, materi apa yang saya ajarkan ke Hayfa, jawabannya ; tidak ada. Setiap datang, saya hanya menemaninya bermain sambil ngobrol dan sesekali memberi kosa kata baru yang ia butuhkan.

Seperti anak lainnya, Hayfa juga moody. Kadang tersinggung atau pundung. Kalau sudah begitu ia akan bilang,
“Ok, we’re done. You go home.”
🤣🤣🤣

Seringnya, ia ceria. Senang bercerita dan suka tiba-tiba menari-nari menggoyangkan bokongnya, “look at my wiggling butt!” 😁😁😁

Dan Hayfa sayang sekali kepada Ibu dan Abu (ayahnya). Sering ia menggambar dan menunjukkannya pada Ibu. Gambar yang penuh lope-lope.

“Who’s that?” Hayfa menunjuk wallpaper ponsel saya.

“That’s Baim, my son.”

“Your son? Ooh … he plays with you too?”

“Of course, I play with him and I love him.”

“Me too! I love Ibu … and Abu ….”

“And Aa?” (Hayfa punya empat kakak laki-laki)

“Hmm … No!”

🤣🤣🤣🤣

#RamadanHariKeenambelas

Posted in Ramadhan 1439 H

Dari ZIZOU ke MO SALAH, dan Aksi yang Tak Perlu


 

Final piala dunia tahun 2006 di Berlin, mungkin selamanya akan melekat dalam kenangan para penikmat pertandingan sepakbola. Hari itu berlangsung pertandingan pamungkas antara Italia dan Prancis untuk memenangi gelar juara, tentu saja.

Pertandingan bola, apa sih menariknya? Ya sama saja, 22 orang berlarian ke sana ke sini demi memerebutkan sebuah bola, dan membuat gol. Simpel.

#DigetokFansBola

Oh 2006 piala dunia itu heboh sejagat raya, saudara sebangsa dan setanah air. Apa pasal?

skysports-real-madrid-zinedine-zidane_4321569

Zinedine “Zizou” Zidane, pemain Prancis menanduk (mendorong dengan kepala) Marco Materazzi, pemain Italia hingga terjengkang. Karenanya, Zizou dikenai kartu merah oleh wasit. Lucunya, tahun itu Zizou tetap dianugerahi gelar pemain terbaik, sebab selain insiden “headbutt” tersebut, Zizou dinilai bermain baik dan selalu menjunjung tinggi sportivitas.

Aksi penandukan (halah) yang dilakukan Zizou kepada Materazzi, ternyata dipicu dari isu agama dan ras. Zizou mengatakan, Materazzi menghina Ibu dan saudara perempuannya, dengan mengatai mereka pelacur, dan menghina identitasnya sebagai imigran dan juga muslim (mengatainya sebagai teroris). Sempat terjadi simpang siur pemberitaan. Materazzi sendiri belakangan mengakui, bahwa ia “hanya” menghina saudara perempuan Zizou saja.

Jagat persepakbolaan pun gempar. Kecaman terhadap Materazzi datang dari setiap sudut. Untung belum ada media sosial (Facebook baru tren sekitar 2008), kalau tidak, pasti semua netizen akan memasang tagar #KamiBersamaZizou.

Zinedine Zidane memang sebuah fenomena. Dilahirkan di kota Marseille, yang multikultur, ia berasal dari keluarga imigran Aljazair yang hijrah ke Prancis di tahun 50-an.

Meskipun ia pemain jempolan (tercatat sebagai pemain terbaik FIFA sebanyak tiga kali), kenyataan bahwa ia seorang imigran dan muslim, selalu menjadi sorotan media asing. Permainan cantiknya dan karakternya yang tak banyak bicara justru membuat kagum.

Bagi muslim di seluruh dunia, Zizou adalah kebanggaan. Pasca serangan WTC tahun 2001, masyarakat dunia sedang gencar-gencarnya menyoroti Islam. Zizou, yang adalah seorang muslim yang baik (kabarnya jika sedang berlatih di bulan Ramadan, ia tetap berpuasa), menjadi simbol wajah Islam yang sesungguhnya.

12 tahun setelah insiden Zidane-Materazzi, final liga Champions musim 2017/2018 juga mengisahkan drama yang serupa pada pertandingan antara Liverpool dan Real Madrid.

Mohamed-Salah-964789

Adalah Mohamed Salah Ghaly, pesepakbola asal Mesir berusia 25 tahun, yang memperkuat klub Liverpool yang memang dicintai para fans sepakbola. Seperti Zizou, Mo Saleh (nama akrabnya) juga seorang muslim taat. Di saat teman-temannya merayakan kemenangan dengan minum-minum atau bercinta dengan para supermodel, Mo Salah selalu dikunjungi istrinya, yang berhijab rapi, Magi. Di banyak kesempatan, pelatihnya sering melihat Mo Salah duduk nyaman membaca Quran sambil menikmati segelas minuman coklat hangat.

Apa yang terjadi saat pertandingan?

Pada menit ke-27, terjadi benturan keras antara Mo Salah dan Sergio Ramos (pemain Real Madrid), yang menyebabkan Mo Salah terjatuh dan mengalami cedera. Cedera serius di bagian bahu tersebut membuat fans khawatir, Mo Salah tidak bisa bermain di Piala Dunia 2018 di Rusia, bulan Juni mendatang.

Pasca kejadian ini, peristiwa Mo Salah vs Sergio Ramos menjadi “trending topic” dunia. Banyak pihak menyalahkan Ramos yang dianggap sengaja mencederai Mo Salah, sebab Ramos seperti sudah “mengincar” Mo Salah sejak awal.

Hasil akhir pertandingan kemudian mensahkan Real Madrid sebagai Juara liga Champion 2018, setelah mengalahkan Liverpool dengan skor 3-1. Lucunya, pelatih Real Madrid, tak lain dan tak bukan adalah Zinedine Zidane.

Zizou dan Mo Salah, sama-sama menempati tempat spesial di hati penggemar bola. Khusus bagi para muslim, keduanya menjadi kebanggaan tersendiri, sebab mampu membawa nama Islam dengan elegan. Di tengah gempuran berita buruk tentang citra Islam yang (selalu disebut) lekat dengan terorisme dan kekerasan, Zizou dan Mo Salah menepis anggapan banyak orang tersebut. Fans Liverpool kabarnya sering menyanyikan pujian untuknya di stadion dengan kata-kata,
“Is he’s good enough for you, then he’s good enough for me, if he’s score another few, then I’ll be muslim too”
(Jika dia baik untukmu, maka ia baik juga untukku, jika ia mencetak beberapa gol lagi, maka akupun akan jadi muslim).

Zizou dan Mo Salah telah mengajari kita, bagaimana bisa berdakwah lewat perbuatan, tanpa koar-koar tanpa pernyataan apapun. Cukup menjadi muslim dengan akhlak yang baik, dan membuat semua orang jatuh hati.

Pun begitu, apa yang terjadi di lapangan, yang telah membuat Mo Salah cedera, janganlah dianggap sebagai perbuatan yang ditujukan untuk menganiaya muslim. Saya yakin, cedera seperti ini terjadi di banyak pertandingan, yang menimpa banyak pemain lain.

Maka, kabar soal rencana “Aksi Bela Salah” di beberapa media pagi ini sedikit mengusik. Sebegitu urgent nya kah, peristiwa ini sehingga merasa perlu dilakukan aksi? Sebab berbeda dengan kasus Zizou tahun 2006 yang sarat isu agama dan ras, apa yang terjadi pada Mo Salah hanyalah sesuatu yang biasa terjadi (meskipun fans Liverpool pasti akan selalu dendam kepada Ramos hehe).

Saya berharap ini berita hoax, namun setidaknya ada dua media yang cukup kredibel (secara umum) memberitakannya. Entahlah, bakal betulan terjadi atau tidak. Kita lihat saja.

#RamadanHariKeempatbelas

Tautan berita:
https://www.cnnindonesia.com/…/aksi-bela-mohamed-salah-baka…
http://www.tribunnews.com/…/dua-tuntutan-saat-aksi-bela-moh…
https://www.wartaekonomi.co.id/…/liverpool-kalah-di-final-c…

Posted in Ramadhan 1439 H

Mengenai Postingan Nganu (Elena’s Fans Attacks)


 

“Plothole” adalah istilah dalam fiksi yang berarti sesuatu yang di luar logika atau tidak mungkin terjadi atau inkonsistensi dengan jalinan peristiwa di sekitarnya.

untuk definisi lebih lengkap, silakan di-gugling

Misal:
Dalam film “Habibie Ainun”, ada beberapa scene dimana kita bisa melihat adanya penampakan gery chocolatos, yang amat sangat ganjil, sebab di zaman mereka pacaran, belumlah ada itu. Jelas sisipan iklan.

Atau di film “Jilbab Traveler”, tokoh yang diperankan Bunga Citra Lestari adalah gadis yang sering pergi traveling ke luar negeri dalam waktu lama. Ala backpacker. Which is okay. Masalahnya, itu model hijab yang ia kenakan bisa berganti-ganti, padu padan dengan pakaiannya macem-macem. Plus wajahnya sehat berseri-seri, cantik jelita sepanjang hari. Saya tidak yakin para backpacker bisa secantik BCL saat traveling dan mampu mengemas sekian banyak hijab+tunik+whatever dalam ransel mereka.

Eh maaf, contohnya film Indonesia. Karena yang saya bahas sekarang karya Indonesia. Untuk film luar atau fiksi luar, tentu banyak juga plothole nya.

Jika plothole nya tidak terlalu mengganggu, seperti si gery chocolatos tadi (yah anggap aja udah ada), ya ndak masalah. Tapi masalah plothole atau cacat logika, saya sering sebut begitu; seringkali terabaikan oleh para penulis atau sutradara dengan asumsi, ah penonton/pembaca pasti ngerti lah.

Mengapa fiksi harus logis?

Sebetulnya tergantung ukuran logika mana yang dipakai.

Untuk genre fantasi, logika berpikir tidak mengurusi soal keanehan-keanehan yang terjadi. Jadi jika Harry Potter adalah penyihir yang bisa terbang memakai sapu ajaib, atau di Middle Earth, ras manusia hidup berdampingan dengan elf, dwarf dan hobbits, ini termaafkan. Sebab genre-nya fantasi. Imajinatif.

Logika yang dipakai nanti lebih pada plot cerita. Mengalir ga, kontradiktif ga, pesan tersampaikan ga.

Nah mari masuk ranah romance atau drama.

Di sini logika sangat penting.

Contoh:
Anda pernah nonton sinetron dimana pemeran perempuannya baru bangun tidur dan bermake up lengkap? Atau peran orang miskin tapi bajunya compang camping keterlaluan? Sebab orang miskin beneran, tidak harus sebegitu compang campingnya. Baju lusuh mungkin. Tapi sobek-sobek, tidak. Itu anak punk, bukan orang miskin.

Nah contoh-contoh di atas yang saya maksud sebagai cacat logika. Illogical flaws yang membumbui alur kisah dan kadang membuat kening kita berkerut. Eh kenapa kok begitu?

Menyangkut postingan saya sebelumnya, setidaknya ada 2 poin penting yang ingin saya sampaikan. Pertama masalah kecacatan logika ini. Kedua masalah tema.

Di postingan sebelumnya saya membahas sinetron “Orang Ketiga”, sinetron Si Doel (Si Boy juga disinggung), AAC2 (hanya nonton film, tidak baca novel kedua) dan cerbung ELENA yang sedang ngehits.

Sayangnya, secara personal, saya juga memiliki plothole sendiri. Yaitu, saya belum membaca cerbung Elena secara lengkap. Saya membacanya loncat-loncat dan secara skimming. Jika dengan begitu penilaian saya dianggap prematur, ya tidak apa-apa.

Nah sekarang ke soal tema.

Perselingkuhan, dan poligami. Saya tuliskan bahwa nampaknya emak-emak menyukai tema tersebut. Meski memang AAC dan Elena dibungkus secara islami. Ini, untuk saya sangat menarik. Sebab dalam kehidupan nyata, pelakor dan aksi poligami, nyata-nyata ditentang oleh mayoritas emak-emak Indonesia. Namun di dalam tulisan, ternyata tema ini paling digemari.

Bukankah itu menarik?
Setidaknya buat saya. Jika menurut Anda tidak, ya gapapa. Saya juga tidak memaksa Anda setuju dengan saya. Sebab saya pun boleh jadi salah. Sebab saya manusia, sama seperti Anda.

Untuk yang menuduh saya tidak pro karya Islami dan nyinyir, ya silakan juga, interpretasi bebas. Semua bebas berpendapat, toh?

Saya cukup banyak membaca pelbagai bacaan, Islami ataupun tidak. Dan di postingan sebelumnya, di salah satu komentar, saya mengatakan pada seorang penulis, bahwa mbak penulis Elena ini gaya menulisnya sudah mengalir, flow nya sudah dapet, tinggal ditambal sana sini saja.

And I mean it, when I said it.

Mbak Ellya Ningsih yang menulis Elena ini keren, sebab katanya beliau penulis pemula, tapi karyanya sampai ngeheitz. Pre order bukunya sudah ribuan. Satu opini dari perempuan random macam saya tidak ngaruh juga terhadap kesuksesannya.

Oh ya, yang saya tulis sebelumnya bukan review ya buibu. Itu membahas tema perselingkuhan dan poligami, sesuai judulnya. Jadi bukan review buku/film AAC maupun Elena maupun Orang Ketiga atau Si Doel.

Postingan sebelumnya akan saya buka, silakan bila mau membaca. Saya sudah edit bagian yang dikoreksi pembaca Elena. Silakan berkomentar jika berkenan, dan jika saya tidak membalas komentarnya, jawabannya hanya dua; saya tidak tahu harus menanggapi bagaimana atau saya tidak ingin memancing perdebatan.

Saya tahu mungkin ini sangat anti mainstream, sebab banyak orang terutama emak-emak menggemari film/karya fiksi Islami, namun saya mengambil risiko untuk mengupas ini. Sebab saya ingin ke depannya akan lebih banyak lagi karya-karya lain yang bisa mengeksplorasi tema yang lebih kompleks, yang lebih unik.

Saya bukan penulis sungguhan, hanya penulis status saja. Tulisan sebelumnya dan tulisan ini hanya curahan hati yang semoga tersampaikan dengan baik.

Elena hanya satu sampel yang saya sematkan dalam tulisan. Dan saya tidak ada maksud untuk menyerang Elena sebagai sebuah karya maupun penulisnya sebagai sebuah persona.

Pun jika setelah ini, saya masih dianggap nyinyir, ya sudah. Mohon maaf saja, saya tidak mampu membuat semua orang senang.

Demikian.

Salam Literasi.

Posted in Ramadhan 1439 H

Antara Emak-emak, Poligami dan Perselingkuhan


Kata siapa emak-emak tidak suka dengan (tema) perselingkuhan dan poligami?
Konon kabarnya sinetron yang sedang ngeheitz zaman sekarang ini adalah “Orang Ketiga”. Teman saya bilang, premis ceritanya adalah “Istri si A disukai ama B, A nya suka ama C, C nikah ama D tapi nggak bisa move on dari A, si B mau tunangan ama E tapi cintanya ke A, E akhirnya nikah ama F, eh si F cinta mati ke si C..” (dinukil langsung dari pembicaraan di grup whassap).
Ondeh mandeh tuesday, baca premis ceritanya aja, butuh parasetamol. Nolan bersaudara pasti malu membaca premis macam begini. Kenapa kok ga kepikiran ya? Shame on you, Nolan brothers!
Mau lebih spesifik lagi?
Tema poligami dan perselingkuhannya diramu dengan gaya Islami.
Contohnya, novel epik Ayat-ayat Cinta (AAC). Meskipun dalam AAC, isu perselingkuhan tidak ada. Pembaca (dan penonton) dibuat kagum dengan tokoh Fakhri yang guanteng dan saleh (plus kaya raya, di novel kedua).
Fakhri adalah perpaduan sosok Si Boy dan Si Doel, dengan gaya syar’i. Kemanapun ia pergi, semua perempuan pasti menoleh dan jatuh kagum. Ujung-ujungnya banyak yang susah move on, bahkan menghiba-hiba minta dinikahi. Persis tokoh Zaenab yang semakin dimarahi enyak-nya, semakin cinta dia, sama Bang Doel. Kasihan Zaenab, tak pernah disediakan pemeran lain dengan standar yang selevel Bang Doel, jadi jatohnya ke situ lagi, ke situ lagi.
Jika dalam (film) AAC pertama, isu yang diolah murni poligami, yang hingga level tertentu, okelah bisa diterima. Maka film AAC2 adalah blunder. Fakhri yang sudah mapan, kembali bertemu dengan sederet perempuan yang kemudian (lagi-lagi) mengidolakannya. Plus, Fakhri kebingungan karena Aisha meninggalkannya untuk menjadi relawan di Palestina.
Saya pernah mengatakan AAC2 itu cacat logika, dan sukses dirundung para fans, hehehe.
Dimana letak kecacatan itu?
Look, istrimu pergi ke negara konflik nun jauh di sana, lalu apa yang kamu lakukan?
Kalau kau ga bisa nyusul, minimal pastikan istrimu di sana selamat. Lihat instagram, siapa tahu dia apdet foto seperti Teh Melly Goeslaw.
Ga main sosmed?
Oke, telepon deh. Skype-an deh. Yahoo messenger deh.
Hilang kontak?
Susul dong ke sana, ngapain masih bengong di mari? Ngopi napa ngopi? Diem-diem bae …
Sungguh ku tak paham, Rhoma!
Persoalan kehilangan istri baru satu hal. Masih banyak hal lain; seperti ketidakmampuan mengenali istri sendiri (padahal cuman sepelemparan kuaci jaraknya, alias serumah), gampangnya membeli rumah di Edinburgh, menerima perempuan yang disodor-sodorkan untuk jadi istri, sampai membiayai seorang asing les biola, yang berujung si perempuan (yang les biola) minta dinikahi pula.
Oke, stop.
INI FIKSI, OKE. FIKSI.
Iyes, ini fiksi. Tapi fiksi yang baik itu yang believable. Bisa diterima secara nalar, bukan yang ngawang-ngawang. Meski banyak orang bersikukuh sosok Fakhri adalah contoh idola Islam yang sesungguhnya, saya kok merasa ini sosok yang keterlaluan penggambarannya. Ganteng, saleh, muda, pinter, kaya. Berapa persen kemungkinannya kita bisa bertemu dengan sosok seperti itu di dunia nyata?
Aa Gym itu termasuk dai muda, cukup tampan, pinter, dan pengusaha sukses. Waktu beliau poligami, apakah ibu-ibu terharu melihatnya? Oh tidak, ibu-ibu begitu gemas dan esmosi. Mengutuk dan mencaci. Aa Gym sampai harus rela kehilangan banyak penggemar.
Fantasi versus realita. It sucks, I know.
Baik, cukup dengan AAC dan luka lama yang dikorek kembali. Aiih.
Beberapa minggu terakhir ini, dinding media sosial saya dimampiri oleh beberapa emak-emak yang baper maksimal dengan satu kata: “Elena”.
Apa itu?
Tak lain dan tak bukan, sebuah cerita bersambung yang dibagikan di sebuah komunitas menulis. Karena begitu larisnya, pre order bukunya sampai mencapai angka 9 ribu setiap harinya. Uwow banget.
Saya pun penasaran kepingin mengintip.
Premis ceritanya sendiri adalah: Elena dan Ibnu adalah sepasang suami istri yang harus menghadapi prahara rumah tangga. Ibnu memutuskan poligami setelah tahu bahwa Elena pernah berselingkuh dengan pria lain (entahlah mana yang terjadi duluan). Elena berselingkuh dengan pria bule sampai hamil dan melahirkan anak. Kelak, Elena sendiri yang akan memberitahu Eugene bahwa Al adalah anaknya. Ibnu dan Elena kemudian berusaha mempertahankan nahkoda rumah tangga mereka, sementara Eugene akhirnya mendapat hidayah dan masuk Islam.
Di lain bab, diceritakan adegan ketika Eugene ujug-ujug berkunjung ke sekolah Al. Satpam mencegah sebab Eugene bukan siapa-siapanya Al (horeee), kemudian satpam membawa Eugene ke ruang Bu Kepsek.
Oleh Bu Kepsek Eugene ditanya apa maksud kedatangannya. “Saya datang ke sini untuk memenuhi janji kepada Al,” kata Eugene.
Setelahnya, Bu Kepsek mengijinkan Eugene menemui Al.
BAIQUE.
Duh, bu ibu tolong jangan masukkan anak ke sekolah model begini. Meni hariwang. Bu Kepsek kok gampang saja sih mengijinkan orang asing masuk begitu saja? hah? Kenapa? Apa karena dia ganteng dan bule, Ibu?? Jawab Ibuuuu.
Singkat cerita, Al kemudian membawa Eugene ke kelasnya. Kebetulan sekali, pada hari itu adalah hari kunjungan ayah. Para ayah diminta untuk menceritakan pekerjaan mereka masing-masing kepada anak-anak. Eugene kemudian diperkenalkan Al dan dianggap sebagai “ayah”.
Tunggu.
Ini sekolah di mana sih?
Dulu pernah ketika saya masih mengajar di sebuah sekolah swasta Islam, kami ada program guru tamu. Para orangtua (terutama Ayah) kami undang untuk ikut berbagi dengan anak-anak, mengenai pekerjaan mereka. Programnya sendiri berjalan satu bulan sekali. Seringnya malah kami harus mengundang orang lain (bukan orangtua murid) untuk jadi guru tamu.
Mengapa? Ya rata-rata orangtua sibuk bekerja. Biarpun hanya dijadwalkan sebulan sekali, tidak semua Ayah punya waktu dan mau untuk menjadi guru tamu.
Saya hanya pernah melihat program “Hari Bersama Ayah” di film-film Hollywood. Para Ayah datang ke sekolah dan bercerita, sambil dipandangi dengan bangga oleh anak-anak. Di sini? Mengundang semua ayah? Mungkin bisa, kalau diadakan ketika libur lebaran.
Ah nyinyir aja, kayak bisa bikin tulisan bagus …
(saya sering mendapat komen seperti ini sewaktu mengomentari AAC2)
Mohon map, jika menuruti logika seperti ini, maka kita tak boleh mengkritik makanan restoran (kayak bisa masak enak aja!) ga bisa kritik guru (kayak mampu ngajar aja!), ga bisa kritik pemerintah (kayak ngerti soal pemerintahan aja!) dan lain sebagainya.
Secara keseluruhan, saya tidak menikmati Elena dan ikut terhanyut bersama rombongan emak-emak yang kabarnya sampai termehek-mehek dibuatnya. Mungkin ini masalah selera saja sih. Atau memang saya rewel sekali.
Sebab kalau sudah urusan romance, logika entah menguap kemana.
Apalagi kalau sudah membayangkan sosok bule kasyep yang akhirnya dapat hidayah dan masuk Islam. Uuugh … sosok impian banget kaaan.
Jadi, lupakan soal perselingkuhan itu dibenci, pelakor dicaci, perzinahan apa lagi.
Ketika sudah diramu dengan kisah cinta Islami, semuanya menjadi termaafkan.
Selamat ya, buku Elena yang fenomenal! selamat membaca!
#Catatan Keseharian
#RamadanHariKetigabelas
Posted in Ramadhan 1439 H

MAKHORIJUL HURUF


 

Saya lupa lagi, kapan pertamakali saya belajar mengaji. Mungkin usia 6 atau 7 tahun.

Di masa ketika TVRI satu-satunya penguasa channel di Indonesia, semua anak muslim, pada saat itu, pergi ke Masjid sebelum adzan Maghrib berkumandang, dan pulang ke rumah sehabis Isya.

Kami belajar membaca Quran memakai sistem “mengeja”. Belum ada metode Iqra atau apapun itu sebutannya zaman sekarang. Guru ngaji saya adalah seorang pria yang senang bercanda dan disukai anak-anak. Kami menyebutnya Mang Qodir, asal Garut.

Setelah agak besar, kira-kita kelas 6 SD, entah kenapa Mang Qodir hilang dari kehidupan kami, anak-anak kampung yang tinggal di pinggir jalan utama di kota kecil itu.

Sempat terhenti sejenak program mengaji, hingga akhirnya saya berguru pada Pak Daud, guru ngaji kedua. Usia SMP kira-kira. Setelahnya berturut-turut Ibu Ida dan Kang Dani. Nama terakhir mengajari saya Qiroah, meski gagal terus 😅. Setelah dewasa, pelajaran saya beralih ke tahsin (cieeee). Jangan dites tapi, maluuu. 🙈

Pak Daud adalah orang pertama yang mengenalkan saya dengan sistem mengaji Quran yang disebut tajwid. Artinya, bagaimana membunyikan huruf-huruf yang ada, berikut aturan panjang dan pendeknya (memakai sistem ketukan atau penanda lainnya). Beda panjang pendek, bisa beda pula artinya.

Untuk saya yang senang memelajari bahasa, Tajwid ini amat menarik. Sebab fungsinya mirip dengan grammar, meski kata teman-teman yang lulusan pesantren, grammar itu sebutannya nahwu shorof.

Dalam tajwid, ada yang disebut dengan “Makhorijul Huruf” atau tempat keluarnya huruf. Dalam sistem bahasa secara umum, ini seperti Fonologi. Dimana setiap huruf bisa dibunyikan dari kerongkongan atau tenggorokan, dengan bantuan bibir, hidung (nasal), langit-langit mulut, lidah, dsb.

Sebelum belajar tajwid, saya sudah mengenal bahasa Inggris. Sehingga buat saya tajwid mengasyikkan sebab seperti bunyi-bunyian yang sering dikeluarkan oleh para aktor di film barat yang suka saya tonton, membunyikan huruf arab membutuhkan konsentrasi dan latihan.

Kelak, ketika dewasa, saya masuk jurusan bahasa Prancis, yang lucunya, sering mengingatkan saya dengan pelajaran “makhorijul huruf”.

Dalam bahasa Prancis, huruf “r” dibunyikan secara cadel dan mirip dengan hukum membaca “ra” secara tarqiq (tipis).

Ketika huruf “r” bertemu dengan huruf vokal seperti “eu” membacanya seperti huruf “kho” dalam tajwid.
Contoh ;
“Heureux”

😅😅😅😅

Sekarang pun, terkadang untuk membedakan dua kata yang sering mirip bunyinya namun beda arti, saya sering menggunakan “makhorijul huruf” sebagai referensi.

Contoh;

Kata “beach” dan (maaf) “bitch”

Saya bilang sama murid-murid, jika mereka tahu aturan tajwid, maka membaca “beach” itu seperti “mad thobi’i”, yaitu dua harokat lebih panjang dibanding “bitch”.

🤣🤣🤣

Dan itu selalu membuat mereka tertawa. Mereka yang paham tentu yang sudah mengenal tajwid.

Beruntungnya saya, bertemu dengan banyak guru ngaji yang mengajari saya membaca Quran dengan baik. Tak hanya mendapat pahala dari segi bacaan namun juga memberi manfaat dari sisi pembelajaran bahasa.

Jadi, jika kamu ingin pintar bahasa asing, pelajari dulu makhorijul huruf-mu, Insyaallah membantu.

Ini pengalamanku, mana pengalamanmu?
#RamadhanHariKelima

*catatan;
pengalaman ini didapatkan setelah belajar bahasa asing, Inggris dan Prancis, kemungkinan bahasa-bahasa Eropa lain mirip-mirip juga, tapi saya tidak paham dengan makhorijul huruf nya bahasa Asia, seperti Jepang atau Mandarin*

Posted in Ramadhan 1439 H

KETEPATAN DIKSI


 

*takmir secara bahasa berarti “memakmurkan”; takmir masjid dalam hal ini berarti pengurus atau organisasi yang mengelola Masjid*

Salah satu berita yang membuat heboh seminggu belakangan ini adalah “Risma bersujud kepada Takmir Masjid Surabaya”.

Alkisah, pasca serangan bom, Walikota Surabaya, Bu Risma mengumpulkan seluruh Takmir Masjid di kota Surabaya, untuk membicarakan banyak hal terkait serangan bom tersebut.

Seorang Takmir Masjid kemudian memprotes dengan bertanya, mengapa dalam surat undangan disebut kata “pembinaan”. “Memangnya salah kami apa?” Tanyanya.

Spontan, Bu Risma menghampirinya kemudian bersujud sambil berkata, “Saya mohon maaf, undangannya mendadak.”

Di luar kontroversi sujudnya sendiri, tentu ini pemberitaan yang menghebohkan. Tidak saja menunjukkan bahwa Bu Risma orang yang sangat rendah hati dan tidak merasa lebih tinggi derajatnya dibanding para Takmir, namun juga kemudian,ketika kedua pihak kemudian saling paham bahwa ini hanya masalah pemilihan diksi yang mungkin kurang tepat.

Meski kata “membina” tidak berarti negatif, sebab ada unsur pengembangan, dan pembelajaran di sana; namun memang kata “pembinaan” sendiri bisa disalahartikan.

Oh ya, ada frasa “pembinaan generasi muda” atau “pembinaan akhlak bla bla”. Namun juga ada frasa “pembinaan terhadap para PSK pasca terjaring operasi”. Atau “pembinaan bagi para mantan narapidana”. Jadi ya memang berpotensi untuk disalahartikan.

Buat saya, masalah diksi selalu menarik. Pemilihan kata bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele, sebab seringkali teririsnya hati bukan karena sabetan pedang, namun akibat ujaran kata-kata. Salah paham sering terjadi saat pesan komunikasi tidak tersampaikan.

Salah satu contoh yang marak terjadi adalah, ketika di beberapa universitas tertentu, pihak kampus sampai merasa harus membuat contoh template “mengirim SMS kepada dosen pembimbing”, sebab para mahasiswa zaman digital ini seringkali tidak mampu memilah diksi yang tepat, bahkan sekadar untuk menanyakan jadwal bimbingan.

Buat para orangtua, sungguh luar biasa pemilihan diksi yang (seharusnya) digunakan. Menurut para pakar psikologi perkembangan anak, orangtua seyogyanya berbahasa dengan baik, memilih diksi yang tepat, sehingga anak merasa dihargai dan nantinya anak akan mampu berbahasa dengan baik pula.

Maka, ucapan-ucapan seperti di bawah ini tidak seharusnya ada lagi;

“Jangan nangis terus, nanti ada polisi loh!”
“Kalau kamu nakal, mama tinggal nanti!”

Mengapa tidak boleh? Yang pertama orangtua tidak seharusnya mengancam, yang kedua, orangtua tidak boleh mengajarkan kebohongan.

Pun, dalam berinteraksi di media sosial. Pemilihan diksi menunjukan jati diri. Sebab ini bahasa tulisan, maka tak ada wajah yang kita lihat, tak ada ekspresi yang bisa diukur.

Maka, pemilihan diksi akan benar-benar mencerminkan siapa kita ketika menuliskan sesuatu.

Saya sering diingatkan sahabat terdekat untuk tidak baper ketika ada orang yang tidak sepakat dengan postingan saya. Sebab itulah diksi yang saya pilih.

Diksi menunjukkan jati diri.

Diksi yang dipilih dengan hati-hati, sampainya juga ke hati.
#RamadhanHariKetujuh