Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, books, History, politik

Membaca Pilu


 

“Kalau teman-temanmu tanya kenapa bapakmu dicari-cari polisi, bilang saja: karena bapakku orang berani,” tulisnya dalam pelarian, untuk anaknya, Fithri Nganthi Wani.

*kutipan buku*

Saya mungkin termasuk orang yang selalu mengerenyit setiap kali ada orang memuji Soeharto, diktator 32 tahun di negara ini.

“Tapi harga bahan pokok dulu lebih murah!”

“Dulu tidak ada perilaku pembantaian sekejam sekarang!”

“Dulu generasinya sopan-sopan!”

Untuk saya, ujaran-ujaran semacam di atas seperti membodohi diri sendiri. Harga stabil namun kemudian tiba-tiba kita dikejutkan dengan utang negara sampai ber trilyun-trilyun. Kita hidup berutang. Enak di awal, sepet di akhir.

Pembantaian kejam bukan karena jamannya yang berbeda, melainkan arus informasi dan teknologi yang tak sama. Sekarang saja, semua serba terlihat, serba ketahuan. Sebab kita mengakses internet hampir setiap saat. Televisi punya banyak saluran, berita tersampaikan dari mana-mana hanya dalam hitungan detik.

Dan bicara soal generasi. Generasi dulu dianggap sopan-sopan. Sebab generasi dulu diajari segala macam penataran P4. Generasi sekarang dianggap bobrok dan kurang ajar. Lalu, para orangtua anak jaman sekarang itu generasi yang mana?? Jawab saja sendiri.

Ngomong-ngomong, semalam saya membaca buku ini. Buku setebal 160 halaman ini memuat laporan investigasi soal Wiji Thukul, salah satu aktivis era 98 yang hingga hari ini hilang.

Bukunya sendiri merupakan bagian dari “Seri Buku Tempo”. Kumpulan dari penelusuran wartawan Tempo atas beberapa kasus. Buku Wiji Thukul sendiri adalah satu dari seri Prahara-prahara Orde Baru.

Wiji Widodo lahir di Surakarta pada tahun 1963. Kelak, ia lebih dikenal dengan nama Wiji Thukul.

Thukul (begitu ia biasa disapa), pernah bersekolah hingga kelas dua SMA, untuk selanjutnya berhenti. Ia lebih memilih bekerja untuk bisa membiayai sekolah adik-adiknya. Ayah Thukul hanyalah seorang penarik beca.

Meskipun tanpa pendidikan formal, Thukul tak berhenti belajar. Bacaannya sering dinilai “gila” oleh teman-temannya. Ia membaca banyak buku sejarah, ekonomi dan filsafat.

Sejak awal 1990, Ia sudah aktif berpuisi dan berkesenian. Ia dan istrinya, sama-sama berprofesi sebagai buruh.

Jauh sebelum peristiwa Semanggi 1998, Thukul sudah sering dicari-cari aparat pemerintah orde baru. Sebab mulutnya dianggap tajam dan berbahaya. Puisi-puisinya disinyalir mampu menggerakan banyak orang untuk melakukan revolusi. Kata yang amat sangat ditakuti pemerintah orba pada masa itu.

Membaca buku ini, kau akan mengikuti perjalanan pelarian Thukul dari kota ke kota. Hanya berbekal beberapa buku dan beberapa lembar pakaian, ia meminta (dan diberi) suaka oleh teman-teman dan orang-orang yang kasihan kepadanya.

Membaca buku ini, hati saya pilu. Sebab Thukul meninggalkan anak dan istrinya di kampung. Hidup menumpang di rumah orang, bersembunyi jangan sampai menarik perhatian. Begitu terus berbulan-bulan.

Seperti itulah orde baru.

Di saat kau tak bisa punya idealisme. Saat kau sekedar ingin memprotes namun tak bisa. Sebab nyawamu taruhannya. Tak hanya itu, orang-orang terdekatmu juga jadi terancam.

Saat terjadi peristiwa semanggi 1998, kemudian Soeharto lengser, orang-orang belum ngeuh dengan hilangnya Thukul. Karena, beberapa orang aktivis yang diculik, dikembalikan lagi. Lainnya, sebanyak sekitar 103 orang diketemukan sudah menjadi mayat.

Banyak orang mengira Wiji Thukul masih bersembunyi. Sebab ia tak gampang ditemukan. Namun hingga awal tahun 2000, keluarga dan kerabat mulai gelisah. Thukul tak jua kembali. Pada saat ia hilang, usianya sekitar 34 tahun.

Banyak aktivis yang diculik percaya bahwa Wiji Thukul termasuk orang yang paling dicari. Sebab saat mereka disiksa, tentara yang menyekap terus menerus bertanya mengenai keberadaan Thukul.

“Apa yang kamu tahu tentang Wiji Thukul?”

“Kemana Wiji Thukul?”

Tim Mawar (kopassus) yang menjadi eksekutor penculikan di kemudian hari dijatuhi hukuman penjara dan dipecat dari ketentaraan. Namun setelahnya, mereka tetap bisa hidup tenang karena diberi pekerjaan oleh komandan mereka dulu.

Nezar Patria, salah satu korban penculikan yang selamat menuturkan. Beberapa tahun setelah ia dipulangkan, Nezar bekerja sebagai jurnalis. Suatu hari, ia ditugaskan untuk meliput seorang Jenderal yang ditenggarai sebagai komandan tim Mawar.

Di lobby kantor, ia bertemu dengan seorang lelaki berperawakan gagah yang menyuruhnya menunggu. Lelaki itu ia kenali sebagai salah satu tentara yang dulu menculik dan menyiksanya. Tak ada pembicaraan mengenai penculikan, namun saya membayangkan betapa remuk redamnya hati Nezar.

Mungkin bagi sebagian orang, yang saya tuliskan ini tidak penting. Dan mungkin diragukan kebenarannya. Saya memang hanya orang yang gemar menuliskan segala sesuatu yang melintas di pikiran. Seringkali tanpa pikir panjang, apakah orang akan suka atau tidak.

Saya menuliskan ini untuk siapapun yang mungkin tidak punya kesempatan untuk belajar banyak tentang sejarah. Untuk siapapun yang masih mau belajar. Menimbang tidak hanya dari sisi yang ia setujui/sukai, melainkan dari sisi lainnya.

Wiji Thukul adalah satu orang. Lelaki cadel yang hanya ingin memprotes kebijakan pemerintahnya. Namun nyawa satu orang yang hilang, atas alasan apapun, tak segampang itu bisa diterima.

You killed one man, you just killed the entire humanity.

Banyak-banyaklah belajar dari sejarah. Supaya kau tahu, dunia tidak melulu hitam putih. Supaya kau sadar, sesuatu yang mungkin diamini oleh banyak orang sebenarnya adalah bumerang bagi yang lain.

Supaya kau perhatikan, bahwa selalu ada orang-orang yang menarik keuntungan dari kisruhnya dunia.

Kau dan aku hanya pion kecil di atas papan catur. Ada orang yang bermain di atas kita. Hanya jika kau mau tahu.

Bacalah. Kisah tentang Marsinah. Tentang Udin Bernas. Tentang Sum Kuning. Tentang kerusuhan Tanjung Priok.

Bacalah.

Salam.

#30DWCJilid10 #Day8

Posted in politik

Komunisme, G30S/PKI dan teori konspirasi


1. MENGENAI KOMUNISME (dan ateisme)

Banyak orang salah paham meletakkan komunisme sebagai dogma sejajar dengan agama. Padahal, komunisme merupakan sistem komunitas yang merujuk pada tatanan stabilitas ekonomi.

Tahun 1848, Seorang jurnalis (yang juga ahli sosiologi dan filosofi) bernama Karl Marx menulis buku berjudul “The Communist Manifesto”. Buku yang sampai berabad-abad kemudian menjadi hantu di kalangan banyak orang, sebab ia menjadi landasan bagi paham komunisme.

Dasar paham komunisme menyatakan bahwa, setidaknya ada dua jenis golongan manusia. Kaum proletar dan kapitalis (atau borjuis pada masa tersebut). Kaum proletar adalah mereka yang harus bekerja untuk bisa survive. Sementara, kapitalis kerjanya hanya menikmati hasil kekayaan yang diusahakan oleh proletar. Istilah lainnya; kaum pekerja dan tuan tanah.

Kedua pihak ini pada satu titik akan bersinggungan dan menciptakan perubahan. Dalam bahasa komunisme, perubahan tersebut disebut sebagai “revolusi”.

Dalam perjalanannya kemudian, komunisme yang berkembang tidak hanya bersumber dari Karl Marx (yang kemudian disebut Marxisme) namun juga dari Lenin, Stalin dan Mao Zedong.

Vladimir Lenin, adalah pendiri USSR atau Uni Soviet. Tahun 1917, melalui peristiwa “February Revolution”, ia menggulingkan kekuasaan Tsar Rusia. Sebagai seorang yang menganut Marxism, ia percaya bahwa kapitalisme harus didepak dan diubah menjadi sosialis.

Mao Zedong atau Mao-tse Tsung adalah pemimpin Republik Rakyat Cina (RRC) dari tahun 1949 – 1976. Di masa kekuasaannya, Mao memimpin reformasi negerinya sendiri, mengubah tatanan perekonomian RRC dari negara agraris menjadi industri.

Perubahan yang dilakukan Mao menyeluruh hingga ke budaya dan agama. Selama kepemimpinannya, diyakini, 70 juta orang menjadi korban atas keinginannya untuk “memurnikan revolusi kaum buruh”. Diantaranya dengan menghancurkan situs sejarah, menghapuskan dan melarang agama dan ritual.

Jika Anda mau membaca banyak perihal komunisme ini, ada banyak bahan bacaan di internet yang akan dengan gamblang menjelaskan panjang lebar mengenai apa itu komunisme.

Komunisme adalah sistem ekonomi yang ingin menghapuskan kelas-kelas manusia secara ekonomi. Sistem perekonomian diserahkan pada rakyat dan dikelola bersama dan dinikmati bersama secara merata.

Kesalahpahaman banyak orang adalah menghubungkan komunisme dan ateisme. Padahal ini jelas dua hal yang berbeda.

Atheism/ateisme adalah pandangan yang menolak prinsip ketuhanan. Sementara komunisme adalah soal paham sosial ekonomi.

Agaknya yang membuat banyak orang terkecoh adalah kenyataan bahwa Karl Marx, sang Bapak komunis adalah seorang atheis dan pernah mengatakan bahwa “agama adalah candu” semata-mata karena Marx melihat agama hanya dijadikan alat untuk menghibur diri dari kesulitan ekonomi.

Jadi, sekali lagi. Komunisme dan ateisme itu BERBEDA.

Apakah mungkin seorang komunis beragama?

Sangat mungkin.

Malah ada istilah “religious communism”

Silakan di baca di sini https://en.m.wikipedia.org/wiki/Religious_communism

Meskipun begitu, sejarah mencatat rata-rata, penganut paham komunisme biasanya tidak beragama, sebab sistem yang mereka yakini bertabrakan dengan dogma keagamaan.

Walentina Waluyanti de Jonge, penulis yang pernah membuat buku tentang Soekarno menyebutkan bahwa seorang atheis belum tentu komunis. Namun seorang komunis hampir bisa dipastikan ia seorang atheis.

Bisa dibaca di sini http://walentina.waluyanti.com/history-politics/302-penyebab-mengapa-komunis-harus-atheis

2. G30S/PKI ;antara Soekarno, Soeharto, CIA dan Freeport

Jika ada film Indonesia yang tercatat memiliki rekor penonton terbanyak, saya yakin film garapan Arifin C. Noer “Penumpasan G30S/PKI” adalah juaranya.

Diputar setiap tanggal 30 September setiap tahunnya, film ini sukses menjadi mimpi buruk bagi anak-anak generasi 70-90 an.

Pasca reformasi 1998, anak-anak Indonesia bisa bernapas lega, sebab film fenomenal ini tak lagi tayang sebab mulut yang asalnya diberangus tiba-tiba dapat bersuara. Banyak pihak memertanyakan keabsahan fakta-fakta yang tertuang dalam film tersebut. Sampai hari ini, fakta tersebut sebetulnya tak juga muncul (yang sebenarnya).

Setelah ketenangan selama kurang lebih 19 tahun tanpa film horor tersebut, tahun ini masyarakat Indonesia dibuat tercengang sebab Panglima TNI, Gatot Nurmantyo mewajibkan seluruh korps militer menonton ulang film ini.

Selama seminggu terakhir ini pula dinding media sosial saya ramai dengan pelbagai pembahasan PKI.

Saya pun ikut banyak membaca. Topik komunisme dari dulu selalu menjadi daya tarik tersendiri, sebab revolusi tahun 1965 barangkali adalah peristiwa terbesar kedua setelah kemerdekaan kita pada tahun 1945.

Almarhumah Nenek saya, dulu sering bercerita mengenai kekejaman PKI. Kakek yang adalah guru agama, menjadi musuh PKI, yang kabarnya membenci kaum beragama.

Dari nenek pula, saya tahu banyak sekali orang Indonesia (termasuk tetangga) yang pasca G30S/PKI tidak tahu menahu, tiba-tiba dituduh antek-antek PKI dan ditangkap tentara.

Selebihnya, saya yakin Anda sudah tahu. Kita semua sudah dicekoki sejarah yang sama selama bertahun-tahun.

Beberapa hari terakhir ini, saya banyak berdiskusi dengan sahabat saya di rumah. Kami banyak membaca pelbagai referensi (baik lama maupun baru) mengenai peristiwa ini. Mungkin saja kami salah, namun inilah pemahaman yang kami dapat.

Komunisme di Indonesia

Indonesia mungkin salah satu negara yang terkena imbas paham kiri yang berkembang pesat pada tahun 1960-an.

Partai Komunis Indonesia (PKI) didirikan pada tahun 1914 dan tercatat sebagai partai ketiga terbesar di tahun 1965. Dengan jumlah pengikut diperkirakan mencapai tiga juta orang, Indonesia menjadi negara yang menerima paham komunisme terbesar setelah Rusia dan Cina.

Soekarno, pemimpin kemerdekaan sekaligus presiden Indonesia adalah alasan mengapa komunisme diterima. Ajaran Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis) adalah ide Soekarno yang menginginkan ketiga paham ini hidup damai harmoni.

Pada bulan Februari 1965, Soekarno membuat sebuah gagasan yang disebut “demokrasi terpimpin”. Soekarno menginginkan kabinet Menteri diisi dengan jumlah orang-orang seimbang dari ketiga kelompok tersebut (Nasionalis, religius, komunis).

Di luar pemerintahan, PKI sudah menyelusup ke pelbagai lapisan masyarakat. Dengan jargonnya “sama rata sama rasa”, PKI berhasil meraih simpati masyarakat yang merasa hidup tertindas sistem kapitalis. PKI menggeliat dan merangkul banyak simpatisan, sadar atau tidak sadar (yang betulan ikut atau cuma ikut-ikutan).

Para petinggi militer sendiri, merasa gerah dengan kondisi ini. Jendral Ahmad Yani dan Jendral Nasution dikabarkan tidak berkenan dengan susunan kabinet yang “penuh dengan orang-orang kiri”.

Intrik di dalam pemerintahan juga dirasakan oleh mereka yang tergabung dalam PKI. Tak lama kemudian, tercium kabar bahwa para petinggi militer telah membentuk sebuah kelompok yang disebut dengan “Dewan Jendral”. Pihak PKI percaya bahwa kelompok ini bermaksud melakukan makar untuk melakukan reshuffle kabinet dan (kemudian) menggulingkan kepemimpinan Soekarno. Isu yang entah benar atau tidak.

Tak mau ketinggalan start, PKI kemudian melakukan tindakan penculikan terhadap ketujuh petinggi militer di subuh hari tanggal 30 September 1965 atau menjelang 1 Oktober 1965.

Keenam jenderal dan satu ajudan (Lt. Pierre Tendean) berhasil mereka eksekusi dan buang ke Lubang Buaya. Sedangkan Jendral Nasution berhasil kabur ke rumah tetangganya, kediaman Dubes Irak. Meski begitu, Nasution harus rela kehilangan anak bungsunya, Ade Irma yang tertembak senjata pasukan Tjakrabirawa yang datang ke rumahnya.

Keberadaan pasukan Tjakrabirawa ini merupakan plothole yang ada dalam skenario coup-d’état ini. Sebab Tjakrabirawa adalah pasukan khusus pengawal Presiden (hari ini kita mengenalnya sebagai Paspampres).

Pihak yang punya akses tehadap pasukan Tjakrabirawa tentulah Presiden (atau orang yang dekat). Sehingga ada kalangan yang menduga bahwa Soekarno sendiri lah yang memerintahkan pasukan Tjakrabirawa untuk “membawa” para jendral untuk diajak “bicara” mengenai situasi negara yang sedang dianggap genting.

Kalangan lain berspekulasi, bahwa Soekarno hanya ingin bertemu dengan para Jendral (dalam film diperlihatkan bagaimana pasukan tentara mengatakan pada Jendral Ahmad Yani bahwa ia ditunggu oleh Bapak Presiden). Namun pemanggilan para jendral ini kemudian disusupi kepentingan PKI yang menyabotase pasukan Tjakrabirawa hingga melaksanakan apa yang sudah mereka rencanakan.

Plothole lainnya adalah sosok Soeharto, yang disebut anak emas Soekarno. Soeharto adalah perwira Pangkostrad dengan pangkat Mayor Jendral. Soeharto diyakini memiliki persamaan sikap dengan Yani dan Nasution, yaitu berseberangan dengan PKI. Mengapa Soeharto tidak ikut diculik? Itu menjadi salah satu pertanyaan banyak orang. Sumber tertentu menyebut Soeharto sempat melakukan pertemuan dengan Kolonel Untung yang adalah komandan Tjakrabirawa. Pertemuan apa dan bahasan apa masih menjadi misteri.

Soeharto sendiri sempat menuturkan bahwa pada malam 30 September, ia mendampingi Bu Tien di RS karena Tommy Soeharto mengalami kecelakaan berupa tersiram kuah panas sup kaldu ayam yang dimasak Bu Tien.

Apapun itu, peristiwa berdarah penculikan tujuh jenderal terjadi. Enam jenderal berhasil diciduk dan dibunuh, berikut ajudan Nasution bernama Pierre Tendean.

Kurang dari 24 jam kemudian, aksi PKI yang dipercaya sebagai upaya kudeta ini berhasil digagalkan oleh militer. Tercatat Soeharto sebagai panglima pangkostrad dibantu Sarwo Edhi Wibowo (ayah Ibu Ani Yudhoyono) berhasil memimpin militer untuk menumpas PKI. Aidit, Nyoto, Syam dan Kolonel Untung berhasil dieksekusi.

Bola tidak berhenti bergulir. Setelah situasi ibukota dinilai aman, militer mulai bergerak untuk menghabisi PKI hingga ke akar-akarnya. Semua orang yang “dinilai” terlibat langsung maupun tidak langsung dihabisi saat itu juga.

Sejarah mencatat sekitar satu juta rakyat Indonesia mengalami genosida, pembersihan masal disebabkan mereka dicurigai sebagai bagian dari PKI atau simpatisan. Sungai-sungai di Jawa, Sumatera dan Bali disebut-sebut berubah warna menjadi merah karena banyak korban penembakan yang dibuang ke sana.

Tak cukup sampai situ, semua keturunan PKI dan simpatisannya kemudian diberikan kutukan seumr hidup. Gelar “eks tapol” mereka dapatkan bahkan sejak lahir. Kesulitan mendapat pekerjaan dan dipandang rendah oleh masyarakat adalah harga mahal yang harus mereka terima, hanya karena leluhur mereka dianggap bersimpati dan atau terlibat dengan PKI.

Pasca September 1965 sendiri, Soeharto berhasil naik menjadi Presiden melalui Supersemar. Polemik Supersemar sempat mencuat sebab ada kalangan yang menganggap Soeharto melakukan “modifikasi” terhadap surat Supersemar yang asli.

Wallahu’alam.

Teori konspirasi

Yang sempat mengejutkan dunia adalah (lagi-lagi) kebocoran informasi CIA yang menyebutkan peristiwa G30S/PKI disutradarai oleh Amerika Serikat.

Kata kuncinya : Freeport.

Forbes Wilson adalah direktur perusahaan Freeport Sulphur, perusahaan tambang Amerika yang awalnya melakukan ekspansi ke Kuba.

Tahun 1959, perusahaan ini terancam gulung tikar karena Fidel Castro naik menjadi Pemimpin Kuba. Kebijakan Castro menasionalisasikan seluruh perusahaan di seantero Kuba membuat perusahaan Wilson sulit berkembang. Berkali-kali Castro mengalami percobaan pembunuhan, namun semuanya gagal.

Tahun 1960, Forbes Wilson bertemu dengan Jan Van Gruisen, direktur perusahaan East Borneo Company. Gruisen mengungkapkan adanya dokumen mengenai kekayaan gunung Ersberg (gunung tembaga) di Irian Barat. Dokumen ini tersimpan selama bertahun-tahun di perpustakaan pemerintah Belanda tanpa ada yang melirik.

Tertarik dengan hal ini, Wilson melakukan penjelajahan ke Irian Barat pada tahun yang sama. Bersama beberapa anak buahnya, Wilson menjelajahi Irian Barat selama 17 hari untuk membuktikan kebenaran kisah mengenai gunung tembaga. Di sana, ia tercengang karena menemukan bahwa; bukan hanya tembaga yang tersimpan sebagai kekayaan Gunung Estberg melainkan juga bijih emas dan permata. Petualangannya kelak ia tuliskan dalam bukunya berjudul “The Conquest of Copper Mountain” (diterbitkan tahun 1981).

Dengan temuan sepenting ini, Freeport Sulphur merasa mendapatkan peluang untuk kembali melakukan ekspansi. Sayangnya, seperti di Kuba, hal ini tidak dimungkinkan terjadi di Indonesia. Pada tahun tersebut, Soekarno sudah berkuasa dan sedang gencar berusaha merebut Irian Barat dari Belanda.

JFK yang saat itu menjabat sebagai presiden AS, banyak membantu Soekarno untuk merebut kembali Irian Barat. JFK mendesak Belanda untuk menarik mundur pasukannya dengan ancaman akan menghentikan bantuan ke pemerintah Belanda. Belanda yang saat itu porak poranda akibat kekalahan perang sedang sangat membutuhkan suntikan dana. Mundurlah Belanda dari Irian Barat.

Para petinggi Freeport Sulphur bersorak melihat hasil ini, namun tidak lama. Soekarno ternyata sangat tegas mempertahankan sumber daya alam yang Indonesia miliki. Soekarno menolak melepaskan sumber daya apapun kepada pihak asing dan mewajibkan sedikitnya 60 % keuntungan perusahaan asing untuk menjadi hak bangsa Indonesia. Kebijakan ini jelas membuat rugi perusahaan asing yang sebelumnya sudah mulai beroperasi, salah satunya Caltex.

JFK yang asalnya menjadi andalan untuk memuluskan jalan, ternyata malah mendukung penuh niat Soekarno dan kabarnya siap membantu memberikan dana hingga 11 Juta dollar untuk Indonesia.

Pada 22 November 1963, John F. Kennedy, tewas tertembak.

Presiden Johnson, pengganti JFK memiliki sikap berseberangan dengan pendahulunya. Bantuan pada Indonesia drastis dikurangi, kecuali untuk militer. Salah satu orang yang sebut berada di belakang Johnson adalah Augustus C. Long, salah satu direksi Freeport juga pemilik Texaco (yang membawahi perusahaan Caltex).

*Long disebut-sebut sebagai aktor intelektual di balik peristiwa G30s/PKI demi memuluskan jalan bisnis di Indonesia.*

Sejak tahun 1964, berkali-kali perusahaan asing dan para taipan berusaha mendekati Soekarno untuk menanam modal di Indonesia. Semuanya ditolak halus oleh Soekarno. Soekarno benar-benar ingin kekayaan alam Indonesia dikelola oleh anak bangsa. Oleh karenanya, periode 1960-an Soekarno banyak mengirim anak muda Indonesia untuk belajar ke luar negeri, dengan harapan mereka akan sanggup membangun Indonesia saat mereka kembali nanti. Salah satunya adalah Jenderal Sukendro, salah satu petinggi militer yang sering disebut sebagai “the best Indonesian spy” karena kemampuan intelijen nya yang mengagumkan. Kelak pada September 1965, Sukendro luput dari penculikan sebab ia sedang belajar di negeri Cina.

Kembali ke masalah Freeport.

Para petinggi Freeport Sulphur tidak tinggal diam dengan penolakan Soekarno yang terus menerus. Skenario perlu dibuat untuk menumbangkan kekuasaan Soekarno. PKI kemudian dijadikan kambing hitam yang akan menculik para jendral dan kemudian mendiskreditkan posisi Soekarno.

Di luar semua itu, Soekarno memang sudah dianggap berbahaya bagi Amerika Serikat. Tahun 1958 dikabarkan para petinggi CIA sudah sering gerah dengan manuver politik Soekarno yang anti Amerika dan condong ke Rusia dan Cina. Padahal Amerika jelas sedang dalam masa perang dingin dengan Rusia.

Lisa Peace, seorang penulis dan peneliti berkebangsaan Amerika Serikat, pernah menuliskan jejak keterlibatan CIA pada peristiwa 30 September 1965 di Indonesia.

Lisa menulis, pada bulan November 1965, hanya berselang sebulan dari peristiwa berdarah G30S/PKI, Forbes Wilson mendapat telepon dari Langbourne Williams, salah satu petinggi Freeport Sulphur lainnya.

Longbourne bertanya, “Is it now the right time to pursue our project in West Irian?”

(Apakah waktunya sudah tiba untuk memulai proyek kita di Irian Barat?)

Wilson saking kagetnya dikabarkan tidak bisa menjawab apa-apa.

I was so startled that I didn’t know what to say.

Darimana Longbourne bisa tahu bahwa Freeport akan disetujui, padahal saat itu Soekarno masih berkuasa? Dikabarkan bahwa para taipan bisnis sudah menunggu waktu hingga kekuasaan Soekarno berakhir.

Hingga pada 11 Maret 1966, keluarlah Supersemar yang menandai keruntuhan Soekarno dan dimulainya rezim Soeharto.

Pada tahun 1967, perjanjian Freeport pertamakali disetujui.

3. Mengenai Film Arifin C Noer dan polemik PKI dan anti PKI

Fakta sejarah sampai hari ini masih simpang siur. Jika Anda hobi membaca pelbagai teori konspirasi, peristiwa pemberontakan PKI di Indonesia adalah salah satu topik yang amat sering diperdebatkan dan diperbincangkan.

Orang bilang, “sejarah selalu ditulis oleh sang pemenang”, sehingga fakta-fakta yang tertuang dalam film Pemberontakan dan Penumpasan G30S/PKI besutan Arifin C Noer menjadi kabur.

Banyak pihak menilai Arifin membuat film berdasarkan pesanan saat itu, yang adalah pemerintah Orde Baru. Pendiskreditan atas PKI dan pengagungan tokoh Soeharto sebagai pahlawan dalam film itu membuat banyak orang menduga banyak hal yang disembunyikan.

Terlebih setelah pada tahun 2012, film dokumentary “The Act of Killing” dan pada tahun 2014 film “The Look of Silence” dibuat oleh sutradara Inggris kelahiran Amerika, Joshua Oppenheimer.

The Act of Killing (Jagal) adalah film dokumentary hasil wawancara Oppenheimer kepada salah seorang eksekutor yang ikut melakukan “pembersihan” masal terhadap Antek-antek PKI. Sementara The Look of Silence (Senyap) berfokus pada sisi korban yang mengunjungi orang-orang yang pernah melakukan pembunuhan pada anggota keluarganya.

Kedua film tersebut membuka mata banyak pihak selama ini yang sering menyayangkan dan mempertanyakan peristiwa genosida pasca tragedi 30 September. Satu juta nyawa manusia Indonesia harus dibayar karena sebuah paham yang diharamkan untuk berkembang.

Namun, secara pribadi; menurut saya kedua film Oppenheimer tidak bisa dibandingkan dengan film Arifin C Noer sebab implikasi mereka berbeda.

Arifin mencoba mendokumentasikan peristiwa penculikan para jenderal yang memang betulan terjadi, terlepas dari lebay tidaknya unsur-unsur yang dimasukkan di situ.

Belakangan beredar hasil otopsi para jendral yang tidak mengalami penyiksaan, melainkan hanya luka tembak. Berbeda dengan adegan di film yang memerlihatkan penyiksaan luar biasa yang dilakukan oleh PKI (dan Gerwani).

Karya Arifin C Noer, hanya berdasarkan pada sumber yang ada pada saat itu (tahun 1982 pada saat filmnya dibuat). Semua fakta yang dicoba dimasukkan adalah apa yang berhasil ia dapatkan. Apakah film ini sarat pesanan Orba atau tidak, mungkin hanya sang pemesan dan Arifin yang tahu. Namun untuk menilai bahwa film ini 100 % omong kosong adalah kesimpulan yang terburu-buru.

Tahun 1982, tidak ada akses terhadap arsip sejarah. Pemerintahan Orde Baru memberangus kesempatan siapapun yang ingin mengutak-atik atau sekedar ingin tahu mengenai masa lalu. Berbeda dengan Oppenheimer yang membuat kedua filmnya di era tahun 2000-an, dimana arus informasi mengalir deras dan keberadaan ia sebagai orang asing di Indonesia memungkinkannya untuk bebas mengeksplorasi film ini (kabarnya kemudian Oppenheimer dilarang datang ke Indonesia karena kedua filmnya ini).

Dari semua artikel, sumber yang saya baca (plus kisah-kisah yang nenek kakek ceritakan), saya berkesimpulan PKI benar adanya. Keberadaan partai komunis yang ingin menguasai Indonesia adalah nyata. Sebelum pecah peristiwa G30S/PKI sudah banyak terjadi peristiwa lainnya. PKI dan kaum beragama tidak pernah akur, itu betul. Para ulama dan pemuka agama selalu menjadi target PKI, karena dianggap bisa menghalangi cita-cita PKI yang ingin membuat Indonesia menjadi sama dengan Rusia dan Cina.

Pun begitu, peristiwa G30/S PKI juga meninggalkan kutukan yang tak pernah lekang oleh waktu. Negeri ini nyaris mengalami perang saudara karena seluruh rakyat yang ditenggarai berafiliasi secara langsung maupun tidak, dihabisi.

Tidak terbayangkan oleh saya, seandainya leluhur saya dulu termasuk orang yang ikut-ikutan “neken surat” (memberikan cap jempol) yang isi suratnya sendiri mereka tidak tahu, dan di kemudian hari diburu dan dibunuh.

Hari ini, berkembang polemik pro PKI dan anti PKI. Dinding media sosial saya dipenuhi pelbagai sikap yang ingin diambil oleh banyak orang. Di satu sisi, ini gejala yang bagus, sebab kita perlu kembali mengkaji sejarah. Tidak serta merta menerima begitu saja doktrin yang selama ini kita dapat.

Pun begitu, terselip kekhawatiran dalam diri saya, bahwa disintegrasi bangsa akan kembali terjadi.

Persoalan beda agama yang sebelumnya mencuat, kini digantikan dengan pancasilais dan tidak pancasilais. Komunis dan anti komunis.

Siapapun Anda, saran saya adalah: silakan pelajari sejarah. Jangan cepat mengambil kesimpulan. Di internet ada banyak artikel dan sumber yang bisa Anda baca dan Anda renungkan.

Kita mungkin belum juga tahu kebenarannya. Namun banyak membaca sumber dan mau kembali membaca runutan sejarah akan membuat kita mampu membuat keputusan yang lebih matang.

Bukan hanya sekedar, teriak “A!” Namun sebetulnya kita tak paham dan belum banyak tahu.

Film G30S/PKI karya Arifin C Noer hanyalah satu sumber. Dan di luar kontroversi fakta sejarah, sebagai penikmat film, saya harus objektif mengatakan bahwa film Arifin salah satu film Indonesia terbaik. Sinematografi, akting dan make up nya termasuk bagus sekali (apalagi jika diingat film ini dibuat tahun 80-an).

Sampai tanggal 29 September kemarin saat TvOne menyiarkan ulang film tersebut, saya masih merinding mendengar music scoring nya.

*ditulis setelah membaca pelbagai sumber*

Sumber bacaan:

https://www.cia.gov/library/readingroom/docs/esau-40.pdf

http://www.nybooks.com/daily/2015/11/02/indonesian-massacre-what-did-us-know/

http://www.tribunal1965.org/en/the-1965-mass-killings-in-indonesia-cia-blames-the-victims-for-being-murdered/

https://www.google.co.id/amp/s/indocropcircles.wordpress.com/2013/05/29/bongkar-konspirasi-antara-sukarno-suharto-dan-freeport/amp/

https://simple.m.wikipedia.org/wiki/Communism

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Vladimir_Lenin

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mao_Zedong

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Religious_communism

http://walentina.waluyanti.com/history-politics/302-penyebab-mengapa-komunis-harus-atheis

https://www.google.co.id/amp/medan.tribunnews.com/amp/2017/09/19/di-mana-soeharto-saat-penculikan-para-jenderal-tni-ad-pada-30-september-1965

http://www.miningfoundationsw.org/Forbes_Wilson

https://www.realhistoryarchives.com/collections/hidden/freeport-indonesia.htm

Posted in belief, humaniora, politik

Rohingya, Ashin Wirathu dan Aung San Suu Kyi


Rohingya adalah etnis muslim yang menghuni wilayah Rakhine Utara (juga disebut “Arakan”) Myanmar. Rohingya diyakini sebagai pengungsi dari Bangladesh yang datang ke Burma (nama sebelum Myanmar) di awal abad 16-18.

Pun begitu, ahli sejarah meyakini mereka adalah turunan dari orang Moor (dari barat Laut Afrika, keturunan Arab). Oleh sebab itulah agama mereka Islam.

Alih-alih diterima, Rohingya malah dianggap sebagai “penumpang gelap” yang menjadi beban ekonomi bagi Rakhine. Plus, pada saat pecah perang Inggris-Burma tahun 1942, Rohingya ada di pasukan Inggris, dan turut membantai ratusan ribu penduduk Rakhine. Saat itu Inggris mempersenjatai Rohingya muslim yang berhadapan dengan penduduk Rakhine, diantaranya Para pendeta Buddist. Peristiwa ini dikenal sebagai “Arakan Massacre” atau “pembantaian Arakan”.

Dendam lama antara Muslim dan Buddhis kembali tersulut ketika di tahun 2012, seorang pemuda muslim dituduh memerkosa dan membunuh seorang perempuan Buddhis. Tak pelak, sejak itu wilayah Rakhine tak pernah benar-benar aman. Konflik diperburuk dengan adanya ajakan untuk “membersihkan kaum muslim dari tanah Burma” yang diserukan oleh Ashin Wirathu.

Siapakah Ashin Wirathu?

Wirathu pernah dipenjara tahun 2003 karena tergabung dalam gerakan anti muslim di Myanmar. Ia dihukum penjara 25 tahun sebagai tahanan politik, namun di tahun 2012 ia bebas.

Mulai tahun 2012, Wirathu aktif menyerukan gerakan boikot Muslim dari tanah Myanmar. Berkali-kali ia mengatakan pada wartawan betapa ia takut suatu hari muslim akan memimpin Myanmar.

Wirathu kemudian menjadi sangat terkenal, sampai dijadikan cover depan majalah TIME tahun 2013 dengan tajuk berita “The Face of Buddhist Terror”. Lucunya, Wirathu menjuluki dirinya sendiri dengan nama “The Burmese Ben Laden”.

Para biksu yang manut pada Wirathu berpendapat setiap manusia itu ada yang baik dan tidak, namun muslim itu jahat (dapat dilihat di video yang ada di tautan bawah).

Jelaslah bahwa kisruh yang awalnya terpicu dari sejarah kelam dan motif ekonomi berkembang menjadi sentimen antar penganut agama. Sesuatu yang sangat biasa terjadi saat sebuah konflik dipolitisasi.

Dari pelbagai artikel yang saya baca, cukup dipahami bahwa isu agama memang amat sangat seksi untuk digoreng dan diolah menjadi sebuah topik utama. Meskipun para buddhis pengikut Wirathu mungkin merasa tindakan yang mereka lakukan adalah sebuah perang suci, bisa jadi yang sebetulnya terjadi bukan seperti itu.

Sejarah dunia yang panjang telah banyak membuktikan ada banyak motif berbau (lagi-lagi) sosial ekonomi, bisnis dan politis yang mewarnai pelbagai perang dan konflik yang dianggap sebagai perang agama.

Keberadaan seorang Penganut Budha yang membuat ngeri semua orang, sebab dia kejam, menurut saya simpel saja, sebab dia manusia.

Dan kita tahu betul betapa manusia bisa lebih kejam daripada binatang.

Dulu, penganut Katolik selalu dikaitkan dengan perilaku cinta kasih dan mudah memaafkan. Kemudian Klux Klux Klan yang mengaku Katolik puritan melakukan kekejaman terhadap etnik kulit hitam di Amerika Selatan. Buyarlah citra Katolik yang santun.

Dulu, Muslim selalu dinisbatkan pada perilaku damai, wong arti katanya saja “selamat”. Kemudian terorisme di pelbagai belahan dunia yang mengatasnamakan jihad memporak-porandakan imej Islam yang teduh.

Itulah yang sekarang terjadi pada agama Budha. Maka, stop mengeneralisir perilaku sebagian kecil umat beragama sebagai representasi keseluruhan.

Konflik Rohingya sekarang mungkin memang telah berkembang menjadi konflik agama yang diperuncing oleh pelbagai berita sana sini, namun ada baiknya kita mulai memahami akar permasalahan dan tidak melulu berteriak keras menyalahkan satu agama tertentu.

Beberapa hari terakhir ini dinding media sosial saya dipenuhi kabar soal Rohingya, bahkan khotib di Sholat Iedul Adha pun meminta para jamaah untuk ikut mendoakan Rohingya.

Bagi saya, ungkapan simpati dari kita besar artinya, minimal untuk diri kita sendiri.

Mengapa? Sebab bersimpati itu butuh hati.

Di luar fakta bahwa Rohingya terpisah sekian ribu kilometer jaraknya dari kita. Di luar fakta bahwa kita mungkin memiliki perbedaan keyakinan dengan mereka. Di luar fakta bahwa di negeri kita sendiri banyak terjadi konflik horizontal yang masih butuh dibereskan.

Konflik tidak untuk dibandingkan, tak ada gunanya. Jikapun kita masih menganggap masalah di dalam negeri masih terlalu banyak hingga masalah luar negeri tak penting lagi, tidak apa. Namun jangan mengejek. Sebab kau tak pernah tau siapa diantara teman-temanmu yang doa dan keikhlasannya menyentuh langit dan Allah mendengarnya.

Saya mendukung penuh kecaman terhadap Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar secara de facto yang sampai detik ini tidak melakukan tindakan apapun untuk menyudahi konflik Rohingya.

Suu Kyi bahkan tidak mengijinkan perwakilan PBB dan media untuk meliput apa yang sebenarnya terjadi. Rohingya sedang mengalami genosida dan seorang peraih Nobel Perdamaian Dunia tahun 1991 tidak melakukan apapun untuk mengubahnya.

Lebih dari selusin pemenang nobel perdamaian lainnya dikabarkan menulis surat berisi kecaman dan kritikan terhadap Suu Kyi yang mereka kirimkan pada Dewan Keamanan PBB di tahun 2016. Juga tak ada tanggapan.

Suu Kyi bahkan menuduh media membesar-besarkan berita mengenai Rohingya, padahal fakta di lapangan menunjukkan bahwa Rohingya telah mengalami “etnic cleansing” sejak tahun 2012.

Pagi ini saya melihat banyak orang menandatangani petisi untuk meminta nobel perdamaian untuk Suu Kyi dicabut kembali. Entah apakah akan berhasil atau tidak, tapi setidaknya sebagai bangsa Indonesia yang pernah membaca pembukaan UUD 1945, kita sepenuhnya sadar:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan”

Catatan:

⁃ Saya sempat memposting artikel di sebuah blog yang menuliskan kemarahan Aung San Suu Kyi atas Indonesia yang dianggap ikut campur. Setelah saya cari kembali tak ada satupun artikel media resmi yang mendukung artikel tersebut, oleh karenanya postingan itu saya hapuskan. Mohon maaf kepada teman-teman yang sudah membaca.

⁃ Saya tidak mencantumkan banyak tautan video, hanya satu saja yang memuat wawancara dengan Ashin Wirathu. Untuk video-video lain tentang Rohingya, teman-teman bisa cari di youtube.

Sumber:

https://www.rappler.com/indonesia/data-dan-fakta/153228-siapa-rohingya-mengapa-termarjinalkan

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Arakan_massacres_in_1942

http://www.bbc.com/news/magazine-22356306

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ashin_Wirathu

http://www.smh.com.au/world/myanmar-crisis-a-human-catastrophe-that-betrays-suu-kyis-nobel-prize-20170902-gy9f5a.html

https://www.google.co.id/amp/www.independent.co.uk/voices/aung-san-suu-kyi-rohinga-muslims-not-the-liberal-made-herself-out-a7920296.html%3famp

http://theconversation.com/life-in-limbo-the-rohingya-refugees-trapped-between-myanmar-and-bangladesh-71957

Posted in humaniora, politik

peace, no conflict


Jika begini keadaannya, lebih baik tak ada agama

Agama penyebab kehancuran!

Agama mengajarkan kebencian dan haus darah!

 

Begitulah kira-kira teriakan putus asa orang-orang yang merasa agama menjadi penyebab banyak masalah di dunia. Seperti halnya John Lennon di tahun 70-an sudah mengutuk agama dalam Imagine, hal yang sama sekarang berulang. Agama dilekatkan dengan kekerasan dan kebencian. Damai, cinta kasih, akhlak mulia yang dulu diagung-agungkan semuanya musnah akibat ulah para penganutnya.

namun, benarkah agama menjadi penyebab semua konflik dan peperangan di muka bumi?

Dalam Encyclopedia of Wars (Phillips & Axelrod), hanya tercatat 123 dari 1763 total peperangan yang penyebabnya adalah agama. Hanya sekitar tujuh persen dari total keseluruhan perang. Selebihnya, penyebab peperangan adalah perebutan daerah perbatasan, perebutan jalur perdagangan atau alasan politis.

Sebuah penelitian dari Institute for Economics and Peace yang bermarkas di New York dan Sidney dilakukan pada semua konflik dan peperangan yang terjadi di dunia pada tahun 2013 (sample lebih terbatas). Dari 35 konflik bersenjata yang terjadi, hanya 14 % saja yang memiliki elemen agama, sementara sisanya disebabkan karena banyak hal. Penyebab paling umum yang biasanya terjadi adalah perlawanan terhadap pemerintah, dan kesenjangan sosial ekonomi.

Dalam penelitian yang sama juga disebutkan bahwa negara yang tidak banyak memiliki umat beragama tidak menjamin bahwa negara tersebut akan lebih damai. Proporsi ateis di sebuah negara tidak berbanding lurus dengan tingkat kedamaian.

Negara-negara berpenghuni ateis terbesar – semisal negara komunis atau eks komunis (Russia) ternyata tidak lebih damai dibanding negara-negara lainnya. Korea Utara yang memiliki penganut agama terkecil, ternyata masuk ke dalam daftar 10 negara paling tidak damai di dunia sepanjang tahun 2013-2014.

Konflik Palestina dan Israel yang tak ada habisnya pun awalnya sama sekali tidak dipicu oleh masalah agama. Pada tahun 1948, Inggris sebagai pihak yang bertanggungjawab (baca = menjajah) terhadap palestina, memberikan ijin bagi bangsa Yahudi untuk bermigrasi ke tanah Palestina.

Lord Balfour, sebagai perdana menteri saat itu, mengirimkan sepucuk surat pada Baron Rothschild, salah satu ketua pergerakan zionis. Kelak, surat ini dikenal sebagai “Balfour Declaration”. Dalam suratnya, Balfour menjanjikan “rumah” bagi bangsa Yahudi di tanah Palestina. Surat yang ujug-ujug ini dibuat tanpa mengindahkan keberadaan warga Muslim dan Kristen Palestina yang merupakan penduduk asli. “Hebatnya” lagi, surat ini dibuat bahkan sebelum Inggris berhasil merebut semua wilayah Palestina.

Semacam kalau kita mau menang lomba, kemudian sudah berkoar-koar akan mentraktir teman-teman.

Konflik Palestina-Israel yang kemudian bergulir menjadi perang antara dua agama, hanya ekses yang kemudian timbul. Apalagi, Yerusalem dikenal sebagai “A city of three Gods”, sebab ia dianggap suci bagi tiga agama samawi di dunia; Islam, Kristen dan Yahudi.

Elemen-eleman keagamaan yang sering disebut-sebut sebagai penyebab utama perang, seringkali ditampilkan ke permukaan. Sedangkan bila digali lebih dalam, permasalahan yang muncul seringkali lebih rumit, seperti apa yang terjadi di Syriah hari ini. Syriah digempur oleh perang saudara isu sunni-syiah, kepentingan USA, kepentingan Russia, tentara ISIS, Al-Qaeda, dll. Sungguh ketumpangtindihan yang rumit.

Perang Dunia pertama, kedua, dan Perang Vietnam merupakan contoh peperangan dimana adu kekuasaan menjadi penyebab. Padahal PD II  kabarnya mengakibatkan korban jiwa terbanyak sepanjang sejarah (55 juta orang terbunuh).

Rachel Woodcock, seorang penulis muslim berkebangsaan Australia menulis dalam bukunya yang berjudul “For God’s Sense”, bahkan para ateis-komunis pun melakukan genosida secara brutal di abad 20 melalui rejim-rejim yang dipimpin Stalin, Tito, Mao Zedong, dan Pol Pot.

(catatan : ateis merupakan sikap menolak Ketuhanan, sementara komunis adalah paham yang bersumber pada Karl Marx, yang meletakkan kekuasaan tertinggi pada rakyat)

Pol Pot sendiri, menorehkan ‘prestasi’ cukup signifikan dalam sejarah rejim bangsa timur. Dalam kurun waktu 1979-1975, sedikitnya tiga juta jiwa manusia dihabisi Pol Pot sebagai pimpinan Khmer Merah yang memenangi perang saudara di Kamboja pada waktu itu. Kekejaman Pol Pot sampai hari ini terdokumentasikan dengan baik di museum Tuol Sleng yang dulunya penjara tempat Pol Pot menyiksa para korbannya.

 

Bulan Agustus 1990, pemimpin Irak Saddam Hussein memerintahkan serangan ke Kuwait  dengan alasan memblokir perluasan kekuasaan Iran yang dipimpin Imam Khomeini. USA sebagai negara yang tabiatnya seperti emak-emak rempong tukang ikut campur, latah menggempur balik Irak dengan alasan kemanusiaan, melindungi bangsa Kuwait. Begitulah yang tampak di permukaan. Kenyataannya adalah karena Kuwait memiliki sumber daya minyak yang diendus banyak pihak, termasuk USA (tentunya). Hal yang sama juga terjadi pada Iran, pada Irak. Negara demi negara dibenturkan, dihancurkan dengan dalih terorisme, peperangan sunni-syiah, padahal sejatinya di balik itu semua, UUD. Ujung-ujungnya duit.

Tentu dari sekian banyak peperangan yang terjadi, ada juga yang disebabkan karena konflik beragama. Namun, di dunia yang dipenuhi milyaran umat beragama ini, bolehlah kita mengambil kesimpulan bahwa yang berperang atas nama agama dengan membunuh jiwa-jiwa tak bersalah hanya seperti debu di lautan pasir. Jumlah yang tidak signifikan jika dilihat secara makro.

Jelaslah, agama menjadi isu terseksi yang gampang dijual. Sebab tingkat militansi penganut terhadap agama pasti tinggi; tinggal digarap masalahnya, tambahkan bumbu, jadilah isu panas yang siap meluluhlantak.

Posisi saya dan Anda saat ini masih aman, sebab Indonesia seperti air tenang yang tak bergelombang. Namun bagi beberapa orang yang  percaya teori konspirasi, justru sekarang ini lah saat-saat genting bagi bangsa kita. Persatuan kita yang sudah teruji selama beberapa dekade, bahkan jauh sebelum itu sejak jaman sebelum kemerdekaan, sekarang sedang teruji hebat.

Perbedaan suku bangsa dan agama yang biasa kita banggakan sebagai salah satu kelebihan kita hari ini berbalik menjadi pisau bermata dua yang mengancam. Perbincangan di warung kopi mulai melipir hati-hati, takut ada yang tersakiti. Pertemanan menjadi merenggang dan kikuk karena sama-sama tahu bahwa masing-masing berdiri di pihak yang berbeda.

Indonesia sedang digempur psywar, perang psikologis yang diembuskan untuk menerobos masuk dan menghantam sistem nilai yang kita anut.Teman jadi lawan, dan lawan tidak menjadi teman, sebab musuh bertambah. Naudzubillahimindzalik.

Dan salah satu manusia paling bertanggungjawab yang semakin membuat kisruh jagat perdamaian adalah mereka yang tanpa tedeng aling-aling membagikan pelbagai kabar berita yang belum tentu sahih kebenarannya.

Golongan manusia kedua yang juga tidak ikut membantu terciptanya keajegan hidup bermasyarakat adalah mereka yang menelan semua informasi tanpa filter. Golongan malas membaca dan cenderung mudah terprovokasi, plus ingin cepat dianggap ter-update.

Maka, tetap tenang, kawan.

Bacalah sebentar kabar-kabar yang terpercaya, pelajari semuanya. Tanyalah pada siapa yang kau percayai. Sebab satu klik berita yang kau sebar, dan ternyata hoax, siap-siap lah kau dengan tanggungjawabmu kelak, telah menyesatkan umat manusia.

Bersiaplah, sebab sudah banyak negara kacau karena apa yang mereka miliki. Dan kita memiliki banyak hal di sini. Kita punya harta yang dilirik banyak pihak. Mereka sedang menunggu, lengahnya kita. Sementara kita bertengkar, diam-diam mereka mulai bergerak. Jangan sampai nasib kita sama dengan bangsa-bangsa yang lain, yang harus mengemis-ngemis suaka sampai ke negeri asing; atau bahkan terjajah dan terbunuh di negeri sendiri.

Tengoklah sejarah.

Agama hanyalah alat. Sebab bagi orang-orang jahat, keyakinan itu tidak berarti apa-apa. Bagi mereka, agama hanya menjadi pemulus aksi. Jangan-jangan kita ikut memuluskan mereka karena sikap kita.

Didiklah anak-anakmu untuk senantiasa berhati-hati, banyak belajar dan membaca. Supaya kelak mereka tumbuh menjadi generasi hebat yang tidak hobi main jempol untuk mengklik atau me-twit sembarangan. Supaya mereka jadi generasi santun yang ketika menulis, maka mereka menulis dengan akhlak. Ketika berbicara, mereka berbicara dengan akhlak.

 

Jangan biarkan orang-orang jahat itu menang. Sebab mereka tak pantas mendapatkannya.   Bahagianya mereka adalah ketika melihat kita jatuh. Jangan biarkan itu terjadi. Jalan kita masih panjang. Dan kita amat sangat layak untuk hidup damai.

Some men just want to watch the world burn” (Alfred to Bruce Wayne, TDK)

 

referensi

http://www.huffingtonpost.com/rabbi-alan-lurie/is-religion-the-cause-of-_b_1400766.html

http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/middleeast/palestinianauthority/9645925/Britain-must-atone-for-its-sins-in-Palestine.html

http://history1900s.about.com/od/warsconflicts/a/Wars-And-Conflicts.htm

http://www.huffingtonpost.co.uk/2014/11/14/religions-war-cause-responsible-evidence_n_6156878.html

https://easybackpacking.blogspot.co.id/2014/10/tuol-sleng-penjara-rezim-pol-pot-yang.html

http://kampungmuslim.org/uang-kertas-bretton-woods-petrodollar-suriah-dan-perang-dunia-ketiga/

http://www.history.com/topics/persian-gulf-war

Posted in humaniora, politik

Belajar dari Sejarah


Abad ke-5 Kekaisaran Romawi runtuh. Wilayah Eropa perlahan bangkit dan bersatu. Aroma kebebasan menguar di udara. Sayangnya masyarakat Eropa masih harus bersabar, karena ada rezim baru setelah imperium Romawi. Rezim itu bernama doktrin Gereja Katolik.

Gereja menguasai tidak hanya perihal peribadatan, melainkan merasuk hingga intervensi ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat, gereja selalu (pada masa itu) berdiri di sisi berseberangan dengan hipotesa para ilmuwan. Namun jangan dikira gereja juga bebas dari musuh. Invasi tentara Islam sudah mulai mengancam. Pasukan muslim sudah berhasil membangun peradaban moderen di Cordoba, Spanyol. Di saat wilayah Eropa miskin budaya, perpustakaan Cordoba dipenuhi oleh karya-karya megah para ilmuwan dan sastrawan. Perang Salib meletus. Pasukan inkuisisi Katolik merebut kembali Cordoba dan membakar semua yang bisa mereka temukan. Kabarnya, Laut yang dikenal sebagai Laut Hitam itu memeroleh namanya dari banyaknya tinta yang melebur ke dalam air laut hingga menghitam. Tinta dari buku-buku perpustakaan Cordoba yang dihancurkan.

Di saat  Gereja sibuk memerangi Muslim, di dalam wilayah Eropa sendiri, keadaan tidak jauh lebih baik. Kesenjangan sosial terjadi begitu mencolok,sehingga demontrasi rakyat mulai sering terjadi. Kekuasaan Gereja Katolik yang terlalu membelenggu tak lagi tertanggungkan oleh sebagian umat. Di abad 14, terjadilah reformasi protestan yang diprakarsai oleh Martin Luther. Agama Kristen Protestan lahirlah saat itu.

Masa-masa yang saya ceritakan di atas, digelari abad kegelapan (Dark Ages) oleh para sejarawan.Masa-masa ketika jalanan Eropa tidak lebih aman daripada jalanan Bandung Timur di malam hari ketika Geng Motor sedang kumat. Perampokan dan pemerkosaan. Penindasan dan kriminal merajalela. Meskipun istilah “abad kegelapan” sendiri lebih merujuk pada matinya kebudayaan yang mewabah di seluruh penjuru Eropa.

Abad 15 menjadi titik tolak kebangkitan masyarakat Eropa. Dimulai di Florence, Italia dan menjalari kota-kota lain di seluruh Eropa. Era ini dikenal dengan masa Rennaisance (Prancis) atau Rebirth dalam bahasa Inggris. Rennaisance adalah gerakan budaya yang terjadi karena kezelnya orang-orang dengan dogma agama yang lebih banyak mendokrin ketimbang mengasihi. Terjadi perkembangan signifikan di hampir semua bidang; seni, filsafat, politik, ilmu pengetahuan, agama.

Stop di situ dulu yaa. Saya tidak akan mendongeng Sejarah. Kisah di atas hanya sebagai prolog saja.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan History always repeats itself yang artinya “sejarah selalu berulang”.

Siapa yang pernah menyangka kalau negara-negara Eropa yang begitu  indah, bersih, dihuni oleh orang-orang dengan disiplin tinggi dan tingkat kriminalitas rendah ternyata pernah memiliki sejarah kelam.

Sejarah yang tidak jauh berbeda dengan kita, Indonesia. Mungkin berbeda secara kejadian, secara sebab akibat tapi esensinya sama.

Suatu hari di mata kuliah Histoire de France (Sejarah Prancis), ribuan purnama lalu, dosen saya pernah berkata, “Kalian tau ga, apa yang terjadi sekarang di Indonesia, adalah yang terjadi di Prancis ratusan tahun lalu,” Beliau merujuk pada peristiwa Mei 1998 dan mengaitkannya dengan revolusi Prancis.

Apa pula itu revolusi Prancis? Silakan browsing.

kata kunci : revolusi prancis, napoleon bonaparte, marie antoinette.

Tempo hari ada yang bertanya kepada saya, ‘seandainya rezim orde baru tidak turun, apakah kondisi sekarang akan sama atau berbeda?’ ini terkait tulisan saya sebelumnya tentang rezim orde baru. Beberapa orang berpendapat jaman sekarang lebih parah. Dollar naik gila-gilaan, korupsi merajalela, kriminalitas mengancam di setiap sudut kehidupan.

Saya tidak punya jawaban atas pertanyaan di atas. Saya bukan cenayang yang punya bola kristal yang sekali sentuh langsung bisa menentukan apakah besok akan hujan atau tidak.

Yang saya tahu adalah, sejarah selalu berulang. Manusia tidak diberikan kemampuan meramal, tapi manusia bisa belajar dari peristiwa yang sudah terjadi. Saya setuju dengan perkataan dosen saya saat itu. Indonesia mengalami yang sudah pernah dialami oleh banyak bangsa di dunia. Keruntuhan dan kebangkitan. Perpecahan kemudian pergerakan. Semua terjadi sesuai lingkaran alami.

‘tapi jaman dulu tidak ada perkosaan mengerikan, semua aman’

Itu betul.

Kita hanya lupa bahwa jaman dulu sosial media belum lahir. Mark Zuckerberg masih terlalu belia untuk bisa menciptakan Facebook, mungkin Mark masih sibuk main layangan di halaman belakang rumahnya. Semengerikan apapun peristiwa jaman dulu, boleh jadi kita takkan pernah tahu. Tidak ada broadcast message atau share gambar di timeline yang harus dikomen aamin kalau mau masuk surga. Media yang ada hanyalah koran dan majalah. Terbatas pula penyebarannya.

Silakan googling pernyataan almarhum dr. Mun’im idris pakar bedah forensik. Beliau adalah salah satu tim dokter yang melakukan autopsi atas tubuh buruh Marsinah, korban penindasan orde baru. Laporan autopsi menyebutkan tulang kemaluan Marsinah kiri dan kanan pecah karena sodokan benda tumpul. Sekujur tubuhnya penuh dengan bekas luka. Jaman dulu memang belum ada orang bejat yang menusukkan gagang pacul ke (maaf) vagina perempuan, tapi kalaupun ada, mungkin kita tidak pernah tahu.

Jaman dulu jalan-jalan kemanapun lebih aman. Itu juga betul.

Jaman itu orang belum sebanyak sekarang. Jaman itu belum ada teknologi yang meluncur deras ke rumah-rumah kita melalui tayangan alay di televisi. Jaman itu, jempol kita belum terbiasa bebas mengklik situs apapun di internet yang bisa kita temukan. Bahkan internet saja belum ada.

Jaman itu belum ada acara infotainment yang memerlihatkan artis kinclong sedang memamerkan berapa banyak tas Louis Vitton dan Prada yang ia punya. Jaman itu belum ada orang-orang sengklek yang berhubungan seks kemudian merekam dan menyebarkannya di dunia maya.

Teknologi maju membawa dua dampak, positif dan negatif. Seperti dua sisi mata uang. Kesejahteraan meningkat, kesenjangan sosial ikutan ngesot. Akses teknologi makin canggih, kebutuhan hidup juga meroket. Jaman dulu mana ada butuh beli smartphone, laptop, power bank dll.

Jaman itu bisa makan cokelat bengbeng dan minum Fanta di hari Lebaran rasanya sudah serasa jutawan. Jaman sekarang belum pernah makan steak belum pas dilabeli anak gahol (katanyaaa).

Jadi, begitulah. Saya merasa, siapapun pemimpinnya, jaman terus berubah. Semua terus berubah, yang tidak pernah berubah hanyalah perubahan itu sendiri. Perubahan melahirkan gaya baru, kebutuhan baru, tantangan baru. Begitu terus.

Kriminalitas terjadi karena perut lapar, karena ketidakpuasan atas hidup, karena pengaruh perkembangan lingkungan sekitar yang tidak kompatibel dengan kemampuan diri. Siapa yang salah?

Pemerintah? Iya. Masyarakat? Iya. Orangtua? Iya. Guru? Iya.

Nah, semuanya salah dong? Lah memang .. kalau mau ditinjau dari kacamata makro, semua berkontribusi untuk melahirkan manusia tidak puas, butuh aktualisasi diri, frustasi sosial dan mental. Kalau mempersempit sudut pandang ya salah pelakunya saja.

Lieur jadi kemana-mana.

Anyway,

kembali lagi ke sambungan tulisan saya sebelumnya, mana yang lebih baik orde baru atau pasca reformasi? Bergantung bagaimana Anda menilai. Saya adalah jenis manusia yang reaktif, tidak mau didoktrin, anti terkungkung. Maka saya katakan saya bahagia pasca orba turun, karena saya mencintai kebebasan. Jika Anda memilih stabilitas ekonomi dan rasa aman, mungkin memang Anda cocok hidup pada jaman itu. Meskipun mungkin Anda akan protes lagi kalau saya bilang stabilitas ekonomi pada jaman itu kamuflase semata, karena efeknya berimbas hingga hari ini.

“jaman dulu enak masa kecilnya ..”

pastilah Anda sudah lihat postingan-postingan generasi 90-an yang ngehits itu. Itu memang keren banget. Tumbuh di era tanpa tayangan manusia yang bersalin wujud jadi serigala dan anak-anak kebanyakan duit yang hobi pake motor dan menggandeng cewek cantik, memang menyenangkan.

Tapi kita takkan pernah kembali ke masa lalu (Kecuali Einstein bangkit dari kubur dan meneruskan eksperimennya, itu juga kalau berhasil).

Menurutmu, anak-anak jaman sekarang tidakkah mungkin untuk hidup seperti dulu? Jawabannya sangat mungkin. Tidak akan mendekati 100 % memang. Caranya gimana? Kan kita orangtua cerdas dong kakaaaa … Saya sering tuh bahagia lihat teman-teman saya yang memposting kegiatan-kegiatan yang ia ciptakan sendiri di rumah untuk anak-anaknya.

Jadi begitulah.Sejarah berulang. Tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi dan mengkhawatirkan yang belum terpampang. Belajar dari yang sudah terjadi lebih baik. Eropa membutuhkan waktu berabad-abad untuk bisa berdiri kokoh gilang gemilang di atas peradaban manusia yang manusiawi. Mungkinkah sejarah tidak perlu berulang, supaya tujuan bisa tercapai lebih cepat? Sangat mungkin. Caranya adalah dengan belajar dari kesalahan yang lalu. Berterimakasihlah pada siapapun yang pertama kali mencetuskan pemeo “jangan seperti keledai yang selalu jatuh pada lubang yang sama’

Those who do not learn history, are doomed to repeat it – George Santayana (filsuf dan penulis Italia).

salam …

 

 

Posted in humaniora, politik

Enak jaman si mbah? Yakin??


Saya masih ingat tahun itu. 1998. Saya masih semester dua perguruan tinggi. Setiap hari Ibu melepas kami (saya dan kakak) kuliah dengan cemas. Ibu tahu, sesampainya di kampus, kami pasti ikutan demo.

Iya, demo yang itu.

“I am a part of the history” begitu saya kadang bilang sama para murid, ketika mereka terperangah saat menyadari saya adalah angkatan yang itu. Angkatan mahasiswa yang berdemonstrasi menentang orde baru.

Rasanya, tidak ada hari tanpa demonstrasi. Meskipun setelah long march (biasanya kami berjalan kaki dari kampus menuju Gedung Sate Bandung untuk bergabung dengan rekan-rekan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lainnya), saya dan teman-teman malah keasyikan bercanda sana sini. Maklum, meskipun demonstran, kami juga mahasiswa biasa yang kegirangan jika bisa tidak harus kuliah. Saat demonstrasi saya malah senang karna bisa kenalan dengan anak-anak kampus lain. Sementara para orangtua cemas membayangkan kami digempur militer, kami malah tertawa-tawa saat dikasih tau senior,”hati-hati sekarang mereka pakai gas air mata, siap-siap odol”

Entah siapa yang pertamakali memberitahu kalau melawan gas airmata bisa pake odol (pasta gigi).Caranya dioleskan ke mata.Saya tidak pernah tahu berhasil tidaknya. Saya selalu ada di barisan aman. Para mahasiswi biasanya ada di barisan tengah atau belakang.Paling depan adalah mahasiswa dan para orator.

Tapi jangan dikira kami tidak serius. Saya serius. Kami sudah muak dengan penindasan orde baru. Sudah muak ditipu mentah-mentah. Dengan janji bawang gondol yang kadang naik kadang turun. Dengan kelompencapir dan sinetron berbau transmigrasi yang sejatinya propaganda. Dengan pemutaran G30S/PKI yang wajib ditonton setiap tahun, pada tanggal 30 September. Jika komnas perlindungan anak sudah eksis dari dulu,pastilah anak-anak era 90-an semua wajib diterapi karena dicecoki film horor sepanjang masa, setiap tahun. Sehingga kami fasih menyebut, “Darah itu merah, Jenderal!”

Setiap hari saya bisa browsing di internet dan tertawa terbahak-bahak menikmati lelucon meme yang menyindir berbagai kalangan, dari mulai artis sinetron alay sampai pemimpin negara. Jaman orde baru? Mimpi kau!

Jangankan mencela orangnya, jangankan membuat meme-nya (kalau meme itu sudah eksis), sekedar berbisik-bisik menggosipkan anggota keluarga tertentu saja kau sudah gemetaran.

Sudah bosan kau dengar mars partai salah satu pemilik televisi ? yang katanya sering sekali diputar berulang-ulang itu?

Dulu kami harus menelan muntah karena semua berita mengenai keluarga tertinggi mestilah yang bagus-bagus. Jika ada diantara pembalap, pastilah dia juaranya, setiap tahun. Semua pejabat bersih,tanpa cela. Siapa peduli kotor yang terselip, jika kotoran itu semua orang segan membicarakannya?

Pernah dengar kasus Sum Kuning? Belum? browsing sanah.

Sum Kuning adalah gadis penjual telur yang diperkosa bergiliran sekelompok pemuda di Yogyakarta di tahun 70-an. Para pelaku disinyalir adalah anak-anak pejabat, yang sampai sekarang tidak terpecahkan. Saat melapor ke polisi,Sum Kuning malah kena tuduhan terlibat PKI. Tubuhnya diperiksa karena diduga memiliki tato palu arit. Kau dengar itu? Tidak terpecahkan. Petinggi militer saat itu sampai harus rela kehilangan jabatan karena ingin menyelidiki kasus Sum Kuning.

Masih kurang?

Ada seorang model papan atas bernama Ditje. Ia dibunuh karena kabarnya ia simpanan menantu “seseorang”. Apakah pelakunya masuk penjara? Tidak pernah. Yang dijebloskan malah seorang paruh baya, berjuluk “pakde” yang justru sudah menganggap Ditje seperti anaknya sendiri.

Masih kurang juga?

Bacalah kasus-kasus jaman itu. Ada Udin Bernas, wartawan yang terbunuh karena mencoba mengungkit kasus korupsinya seorang kepala daerah. Ada Marsinah,buruh yang mencoba mencari keadilan.

Baca sana.

Saat hari ke sekian kami demonstrasi, situasi semakin genting. Banyak aktivis mahasiswa yang hilang tiba-tiba. Kabarnya, di kampus saya pun, senior kami dibawa paksa pasukan “intel”.Untunglah tak lama ia kembali. Yang lainnya? Sukur-sukur bisa kembali. Banyak yang hilang, vroh. Sampai sekarang.

Saat akhirnya kepemimpinan orde baru turun, meski diwarnai insiden semanggi yang memilukan, penyerangan warga keturunan tionghoa yang masih membuat trauma, tapi kami lega. Persoalan, katanya si mbah turun karena ada desakan pihak asing dan campur tangan CIA, itu monggo yang suka teori konspirasi untuk dicerna.

Buat kami artinya kebebasan.

Kami tidak perlu takut lagi menyampaikan pendapat, kritik. Kami tidak perlu lagi hidup waswas takut diculik hanya karena kami tidak setuju dengan penguasa.

Persoalan apakah pasca reformasi kemudian kita mesti merangkak dari bawah lagi. Belajar berdemokrasi lagi, belajar berpolitik lagi, terimalah. Negeri ini baru saja lepas dari cengkeraman serigala berbulu domba. Negeri ini baru saja menghela nafas. This is the new beginning. New era.

Saya menulis ini karena tergelitik dengan berbagai gambar beserta postingan “enak jamanku, toh?”  yang berseliweran di dinding akun media sosial saya. Gambar si mbah pemimpin orde baru terpampang jelas, beserta caption”Engkau dianggap pelanggar HAM, tapi berkat dirimu … bla bla bla ”

Saya akhirnya tertarik untuk komen di postingan seorang anak muda yang saya yakin, kalaupun dia sudah lahir di jaman itu, dia pasti masih sangat kecil. Kebetulan saya kenal dengannya, kebetulan kami pernah berinteraksi, sehingga saya harap ia mengerti ketika saya berkomentar melawan statusnya.

Jika yang memposting gambar itu seumuran saya, atau lebih tua, saya masih maklum. Mungkin jaman itu beliau punya pendapat yang beda dengan saya. Tapi jika yang mempostingnya masih muda, mohon maaf, bukan meremehkan, tapi  mereka memang tidak tahu. Mereka belum ada, atau kalaupun sudah ada, mereka masih terlalu belia untuk paham apa itu propaganda. Perlukah saya cari mesin waktu dan mengajak mereka kembali ke jaman itu? Jaman saat berurusan dengan pejabat, pemerintahan, militer,Anda lebih baik diam. Kalau tidak …

Jaman sekarang jika kita menemukan sesuatu yang salah, tak sampai 24jam berikutnya, kita sudah bisa posting foto, peristiwa dll di sosial media. Saat seorang siswa SMA berkoar-koar mengatakan ia anak pejabat kepolisian, detik berikutnya ia di-bully habis-habisan. Di jaman orde baru, kita yang mungkin diserang secara fisik dan mental. Jaman ketika yang bisa mem-bully hanyalah orang-orang tertentu.

Saya menulis ini tidak dengan tujuan apapun. Saya tidak tergabung dalam sebuah partai, kelompok atau golongan. Saya tidak pro pemerintah maupun oposisi. Saya hanyalah seorang mantan mahasiswa yang merasa lega hidup di era yang lebih bebas, lebih terbuka.

Tapi, jika Anda termasuk orang yang ingin perubahan drastis dan ingin menikmati nilai tukar dollar yang dulu sempat  2500 rupiah dan harga beras murah seperti jaman itu,silakan. Silakan menjadi orang yang rela diberangus hak-hak pribadinya.

masih yakin??

 

 

 

Posted in Artikel Kompasiana, humaniora, politik

Belajar Dari Tukang Sate dan Trio Macan


MA (24 tahun) seorang tukang sate (atau tukang tusuk sate, sebagian berita menyebut) menjadi trending topic di twitter hari ini karena keisengan yang pernah  dilakukannya, yang menyebabkan ia ditangkap polisi pada 23 Oktober 2014 lalu. Dengan menggunakan tagar #SaveTukangSate, para tweeps (sebutan bagi pengguna twitter) menyatakan dukungannya agar MA segera dibebaskan.

MA dilaporkan oleh kuasa hukum PDIP karena dianggap telah melakukan penghinaan bagi Jokowi pada saat pilpres kemarin. MA mengunggah gambar dua insan yang sedang berhubungan badan dan mengganti wajah keduanya dengan wajah Jokowi dan Megawati Soekarnoputri. Berbagai reaksi kemudian bermunculan, dari yang menganggap MA memang patut ditahan atas kelakuan minusnya sampai yang menganggap tindakan penahanan ini sebagai sesuatu yang lebay.

Belum pernah negeri ini sedemikian heboh dan gonjang-ganjing sejak pemilihan presiden kemarin. Tentu Anda semua masih ingat betapa hiruk pikuknya hampir semua orang ikut mengompori, mengomentari, mendukung, tidak mendukung sampai beradu argumen demi membela pilihannya masing-masing. Media sosial yang memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki andil yang besar terhadap fenomena ini. Saya sendiri sudah lelah menghitung berapa banyak status, komentar maupun gambar dan foto yang semuanya berkaitan dengan pilpres. Anehnya, pilpres sudah selesai, wara wiri status dan komentar masih berlangsung, meski dengan topik yang berbeda namun “rasa yang sama”; mengkritisi (katanya) pemerintahan baru. Pihak yang mendukung pemerintahan yang baru juga sama-sama belum bisa move on dari luka lama, begitu terus setiap hari. Sungguh kumpulan orang-orang pemarah yang saya curiga sebenarnya sedang berkeluh kesah tentang diri mereka sendiri, dalam bingkai demokrasi.

Banyak rekan mengaku terpaksa harus memutuskan pertemanan dengan banyak orang saat kisruh pilpres di sosial media. Saya juga mengalaminya. Malas rasanya setiap online mendapati kalimat-kalimat kemarahan, cacian, makian yang membuat hati jadi tak nyaman. Berbagai tautan berita dan foto menghiasi beranda akun kita setiap hari, dari yang bernada lucu sampai yang membuat mual. Tak terbayang ada begitu banyak manusia yang dengan entengnya berbuat begitu, dengan alasan apapun.

MA sepertinya salah satu dari mereka. Menurut pengakuannya pada polisi, ia hanya meng-copy gambar tersebut dari internet dan mengunggahnya di akunnya sendiri. Saya yakin, meski belum bertemu langsung, MA bukan jenis pemuda nyinyir yang menghabiskan 24 jam harinya untuk mem-bully orang lain di sosial media. Dia hanyalah korban. Korban kegagapan penduduk negeri ini atas teknologi. Harus diakui, masih banyak diantara kita yang merasa keren ketika berani memuat atau memposting sesuatu yang kontroversi. Ada rasa kebanggaan ketika postingan kita dikomen sekian ratus orang, diacungi jempol pula. Tanpa kita peduli dengan apa yang kita posting, urusan baik atau buruk, itu belakangan. Kita masih gagap dengan kecanggihan teknologi yang melenakan. Lupa kita bahwa awalnya Mark Zuckerberg menciptakan Facebook karena ingin membuat semacam buku tahunan yang memungkinkan para lulusan Harvard (tempat ia berkuliah) untuk tetap saling berkomunikasi. Itulah gunanya sosial media, untuk mendekatkan, untuk silaturahim, saling bertukar informasi dan ilmu.

MA hanyalah satu dari sekian orang di negeri ini yang mungkin merasa enteng ketika memposting sesuatu di akun mereka tanpa sadar akan bahayanya. Mereka mungkin merasa invisible di dunia maya, tidak akan tertangkap karena dunia maya mampu menyamarkan apapun yang ingin kita samarkan. Sayangnya, mereka tidak bisa lagi berpikir seperti itu, karena memang ada pihak yang dirugikan, Bagaimana kalau misalnya foto yang diunggah itu adalah ayah mereka? ibu mereka? saudara atau anak mereka? Maka wajar saja menurut saya jika kemudian MA dilaporkan dan ditahan. Ini penting, supaya jadi pembelajaran bagi semua orang agar lebih berhati-hati dan bijak.

Meski begitu, saya termasuk orang yang mendukung agar MA dibebaskan. Cara satu-satunya adalah bila kuasa hukum PDIP mencabut laporannya. Mengapa MA lebih baik dibebaskan? Anggaplah bahwa MA adalah contoh hukuman bagi semua orang yang selama ini meremehkan penghinaan dan celaan yang mereka lakukan, tapi cukup sampai situ saja. MA hanyalah seorang tukang sate (tanpa bermaksud merendahkan), saya tidak yakin ia sebenarnya memahami apa yang sudah ia lakukan. MA bukan seorang Jonru yang dengan lihainya bermain kata sehingga celaannya bisa “terbungkus rapi”. MA juga bukan Trio Macan, admin akun twitter yang followernya sudah seperti Syahrini saking banyaknya. MA saya duga hanyalah pemuda biasa yang ikut-ikutan di saat yang tidak tepat, melakukan hal yang juga tidak tepat.Jika semua orang yang mencela kandidat presiden atau presiden harus ditangkap,  saya khawatir saya akan kehilangan sebagian teman-teman saya yang memilih masih setia untuk tidak (baca = belum) move on.

Pun begitu, ini sebaiknya jadi pelajaran penting bagi kita semua. Mulutmu harimaumu. Kau adalah yang kau ucapkan. Janganlah sekali-sekali gampang terseret arus untuk ikut-ikutan mendukung ini itu, termasuk kemudian mencela ini dan itu. Macam sudah benar saja hidup kita ini. Segala sesuatu mesti dikomentari. Semua seolah-olah menjadi ahli politik dadakan yang rela ngomong sampai berbusa-busa padahal tidak dibayar dan takkan pernah diundang ke acara Mata Najwa.

Lihatlah sepak terjang si trio macan (akun twitter maksud saya) yang juga akhirnya mesti masuk bui. Saya masih ingat begitu banyaknya orang yang menjadi follower trio macan di twitter hanya karena ia rajin berkicau mencela dan memaki. Ternyata admin trio macan (kabarnya ada tiga atau empat orang) tidak lebih dari sekedar penipu yang mencoba memeras salah satu BUMN. What a shame. Tidak terbayang saya jika pernah menjadi salah satu pendukungnya. Malu pasti.

Sudah terlalu lama kita semua pandai menjelekkan orang lain. Tak hanya seorang menteri perempuan bertato dan hanya lulusan SMP yang sempat kita cela, seorang ustadz santun pun habis kita bully hanya karena ia mengutarakan pendapatnya yang menurut kita tidak oke. Sungguh bangsa ini sudah terlalu terbuai dengan tayangan sinetron yang merusak otak setiap hari. Membuat orang gampang berprasangka, gampang mengecilkan orang lain, gampang menilai, gampang ngomong, gampangan.

Kasihanilah teman-teman kita yang sebenarnya sudah muak namun tak juga mampu menghapus kita dari pertemanan karena ada rasa segan. Kembalilah ke masa ketika sosial media dijadikan tempat curhat masal, sharing ilmu atau sesuatu yang menarik serta foto selfie 😀

Bagaimanapun, mengatakan sesuatu yang positif lebih enak dan nyaman. Jangan bangga karena kita berhasil memengaruhi semua orang untuk ikut membenci pihak yang kita benci. Bangga lah karena kita setiap harinya belajar untuk menjadi tambah dewasa sejalan dengan pertambahan umur kita yang makin tua.

Salam.

#StopMenghinaOrangDiSosialMedia

#SaveTukangSate