Posted in parenting, Pendidikan

Winner Syndrome


Setiap akhir pekan, saya punya beberapa kelas di salah satu BUMN milik pemerintah. Dari awalnya satu kelas, berkembang menjadi beberapa kelas dengan kebutuhan bahasa Inggris yang berbeda.
Beberapa pekan sebelumnya, saya sudah dikabari tentang sebuah kelas baru, siswanya hanya satu orang (kelas-kelas lain ada yang sendiri maupun berkelompok). Siswa ini juga salah seorang karyawan di sana, perempuan. Kita sebut saja namanya, Bunga.
Bunga dan saya berkirim pesan lewat whatsapp sebelum pertemuan pertama kami. Ia butuh belajar IELTS untuk kebutuhan studi ke luar negeri. Bunga sudah pernah mengambil tes IELTS sebelumnya, dan sekarang ingin meningkatkan skornya yang dulu. Kami kemudian berdiskusi mengenai durasi pembelajaran dan skill mana yang akan lebih diasah.
Pada hari H kami bertemu pertama kali, saya baru selesai makan siang. Mulut saya barangkali masih cemong dan tampang saya pasti terlihat amat bodoh. Maklum, saya penganut asas laper brutal-kenyang bego.
Bunga memasuki ruangan, dan kami berjabat tangan. Ia kemudian duduk di hadapan saya. Saya minta maaf dan buru-buru membereskan piring bekas makan saya. Dari sudut mata, saya menangkap kesan gugup yang coba ia sembunyikan. Sebelah tangannya gemetaran.
Saya menatapnya sambil tersenyum. “So, we finally met.”
Ia mengangguk, juga tersenyum, meski ujung matanya berkedut-kedut, ekspresi wajahnya setengah meringis. Apakah saya semenakutkan itu? Saya membatin.
Saya ajak ia mengobrol hal-hal remeh temeh dulu, apa kabar, di mana rumah, sudah lama kah bekerja di sini, dan lain-lain. Ia menjawab semuanya dengan bahasa Inggris yang sangat bagus, lancar dan tertata. Perkiraan saya, kemampuan speaking Bunga ada di kisaran 7 atau 7.5.
Tentu ini perkiraan, sebab kriteria penilaian IELTS itu banyak dan rumit, disajikan dalam tabel dengan banyak indikator. Namun, jika kalian mengenal tipe tes ini, kalian akan paham bahwa skor 7 itu artinya sudah bagus.
Kemampuan bahasa Inggris Bunga bagus sekali, tapi ia tidak percaya diri. Ini menarik.
Are you nervous, right now?” tanya saya.
Yes, Miss. I am sorry.” Ia menarik napas. Tangannya masih gemetaran, hanya sesekali ia menatap mata saya.
Why?”
Ia tersenyum kecil, tangannya menyentuh kacamata yang bertengger di hidungnya. Saya mengawasinya selama sekian detik. Pada dahinya yang berkeringat, pada sikap duduknya yang seperti oleng, pada kedua kakinya yang sebentar-sebentar bergerak. Di usia akhir 20-an, ia tampak sangat rapuh.
Am I intimidating?” Saya sudah siap memundurkan kursi, memberinya jarak lebih lebar. Terkadang tak semua orang nyaman dengan kedekatan fisik.
No, no Miss. It’s okay. It’s me, it’s not you.” Lucu sekali, kalimatnya seperti yang sering diucapkan di film roman percintaan. It’s me, not you. Akulah yang menjadi masalah sayangku, bukan kamu.
Are you always nervous meeting new people?”
Yes.” Ia mengangguk kuat-kuat.
Saya mengangguk paham. Ini sering terjadi pada banyak orang. Mereka akan merasa gugup bertemu dengan orang baru. Cemas dengan penilaian orang, takut dengan reaksi orang, begitulah.
Bunga kemudian bercerita tentang pengalamannya sewaktu mengambil tes IELTS. Tanpa ditanya, ia berkisah betapa ia menyesali skornya yang tidak tinggi untuk writing dan speaking (padahal dua skills ini yang paling tinggi tingkat kesulitannya). Dan tanpa ditanya pula, ia mengatakan skornya rendah karena kelalaiannya sendiri. Saat disodori pertanyaan yang (padahal) mudah baginya, ia malah membuat jawabannya rumit dan tidak sesuai pertanyaan.
You were overthinking.”
I was, Miss. That’s correct.” Ia mengangguk.
Seorang perfeksionis, saya menilainya dalam hati. Jenis orang seperti ini sering kali menyiksa dirinya sendiri, sebab ia meletakkan standar yang bahkan sering terlalu tinggi untuk dirinya sendiri. Hal-hal sederhana biasanya akan mereka buat menjadi rumit, sebab mereka ingin hidup sesuai standar yang lebih tinggi dari kebanyakan orang. Bunga, saya simpulkan adalah salah satunya.
Why do you do that, to yourself?” tanya saya penuh selidik. Kalian harus tahu, dalam pekerjaan ini, hubungan saya dan murid harus ada dalam kondisi senyaman mungkin. Sebab kami akan sering bertemu, dan harus saling menumbuhkan rasa saling percaya antara satu sama lain.
Sesuai dugaan saya, Bunga terjangkit winner-syndrome (sindrom pemenang). Entah apakah ada istilahnya dalam psikologi, tapi ini sebutan saya untuk mereka yang selalu jadi nomor satu. Orang-orang ini adalah mereka yang terbiasa menang dan selalu tak siap dengan kekalahan. Untuk mereka, pilihannya hanya dua; menjadi juara atau tidak sama sekali. Bunga pun seperti itu. Sejak kecil, ia selalu berprestasi dengan cemerlang. Ia langganan juara kelas, dan juara berbagai perlombaan.
What happened when you didn’t win? Back then?”
Ia terdiam.
Did you get punishment? Were you humiliated?”
Ia mengangguk. Aaah … sudah kuduga (saya menyipitkan mata dan memiringkan kepala, meniru tingkah polah Sherlock Holmes versi Benedict Cumberbatch).
Ibunya Bunga adalah tersangka dalam kasus ini. Setiap kali Bunga gagal mendapat gelar juara, maka ia akan mendapat hukuman dan omelan. Baiklah.
Kami menghabiskan beberapa menit setelahnya, mencoba membahas apa yang bisa Bunga lakukan untuk mengatasi penyakit psikologisnya ini. Sebab di usia dewasa, pada akhirnya, Bunga merasa lelah dengan standar ketinggian yang ia terapkan sendiri. Pada jam kedua pertemuan kami, ia sudah tak lagi gemetaran. Yaaay, saya sudah tak lagi menyeramkan baginya.
***
Sindrom pemenang ini sering sekali saya temukan, baik pada murid seusia Bunga, atau lebih muda. Biasanya dikarenakan kebiasaan yang ditanamkan orangtua. Mereka didorong sangat keras, untuk bisa mencapai posisi puncak.
Jika gagal, berlaku sistem punishment atau hukuman. Jika berhasil, mereka terkadang mendapat reward (hadiah), kadang juga tidak. Banyak orangtua yang merasa, keberhasilan adalah sebuah kewajaran, namun kekalahan adalah sebuah kesalahan.
Bertahun-tahun lalu, saya pernah bertemu dengan seorang anak usia 11 tahun, yang menangis terisak-isak sebab mendapat nilai bahasa Inggris 85.
Ia takut pulang ke rumah, sebab seharusnya ia mendapat nilai 100. “85 itu jeleeek …. yang bagus itu 100, kata Mama.” ujarnya di antara cucuran airmata.
Luar biasa itu orangtua. Luar biasa konyol.
Para anak penderita sindrom ini, biasanya tumbuh menjadi seseorang yang sangat pintar dalam akademis, namun gagap bersosialisasi dan seringkali malah gagal karena hal-hal kecil.
Kondisi ini bisa lebih parah, jika kemudian mereka menerapkan standar yang sama untuk semua hal. Maka, kemudian mereka hanya memiliki sedikit teman (sebab terlalu pemilih), sedikit pengalaman (sebab tak berani mencoba hal baru, kecuali sesuatu yang mereka yakin bakal menang) dan hal-hal lainnya.
Ini tentu menyedihkan, sebab hidup selayaknya dinikmati sebagai sebuah paket lengkap up and down, baik di kala susah maupun senang. Sindrom ini telah membuat mereka terkunci pada standar yang mereka ciptakan sendiri, yang kesenangannya ditentukan oleh kemenangan, dan tidak boleh karena kekalahan.
Padahal, kalah dan bahagia bisa seiring sejalan, kok.
Ketika kita mendapat nilai kecil dalam sebuah pelajaran, dan kita santai, kita akan menganggap itu sebagai sebuah pengalaman menarik. Sesuatu yang bisa kita tertawakan dan kelak, mungkin menceritakannya pada anak cucu.
Kita pernah jatuh, terguling, semaput, hampir putus asa, dan seterusnya; semuanya menjadi potongan puzzle yang membuat hidup kita menjadi lebih berwarna.
Sebab hidup tak melulu soal kemenangan.
Jika Anda sudah menjadi orangtua dan membaca tulisan ini, plis … sayangilah anak-anak Anda, dengan tidak membebaninya seperti itu.
Suatu hari waktu kita akan habis di dunia, sementara anak-anak kita (mungkin) masih ada dan terpaksa menjalani hidup dengan cetak biru yang kita lekatkan pada mereka.
 
☕️
Posted in parenting, Pendidikan

(Mengubah) Perspektif Orangtua


You, Asian parents, you don’t raise your kids, you race them …”

Ini kata-kata seorang teachers trainer yang pernah melatih saya, beberapa tahun silam. Ia seorang ekspatriat, yang barangkali bingung melihat kebiasaan kita sebagai warga negara berkode + 62.

Jika diterjemahkan, “raise” = membesarkan, sementara “race” = melombakan. Kurang lebih maksudnya, orang-orang Asia bukan membesarkan anak-anak mereka, melainkan menjerumuskannya dalam persaingan terus menerus (seperti perlombaan).

Saya selalu teringat kalimat ini, saat mengajar di kelas, atau saat membaca atau menyimak diskusi para orangtua. Betapa, terkadang sebagai pendidik, saya pun tak lepas dari dosa ‘melombakan’ murid-murid saya di kelas. Bahwa seharusnya, “reward” saya berikan pada semua murid, tanpa kecuali.

Kalo gitu, ga ada bedanya dong, yang pinter sama yang bodoh?

Mari luruskan terlebih dahulu.

Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada, adalah kemampuan yang berbeda-beda.

Bangsa kita sudah terlalu lama menyandingkan kata “pintar” bagi mereka yang memiliki nilai akademis tinggi. Akademis yang mana? Ah ayolah akui saja. Matematika, sains. Itu saja. Itulah mengapa sampai detik ini, di tahun 2019 ini, masih banyak orangtua yang bangga dan memaksa anak-anak mereka masuk jurusan IPA, meski mereka tak suka dengan pelajarannya.

Tempo hari, secara tak sengaja saya bertemu kawan lama di salah satu tempat berbelanja. Dia bercerita, baru saja berbelanja, sekian banyak keperluan anaknya. Maklum, si anak akan mulai bersekolah di boarding school alias sekolah berasrama. Biaya per tahunnya bisa dipakai untuk membeli rumah tipe 21 di pinggiran kota.

“Eh, nih temen Mama, guru bahasa Inggris …” katanya, setelah menyuruh anaknya bersalaman dengan saya.

Entah kenapa, setiap bertemu teman atau saudara yang bawa anak, ini kalimat yang sering mereka ucapkan. “Tante/Teteh Irma ini guru bahasa Inggris loh, sok sana ngobrol, praktekin …” yang selalu membuat saya nyengir. Semacam uji coba untuk anak barangkali, “Emang bener anakku bahasa Inggrisnya bagus, suruh ngobrol dulu aah sama guru bahasa Inggris.” Begitulah.

Kembali ke kisah di atas: saya, kemudian menjabat anak perempuan usia belasan tahun itu.

“Ini kemaren pas tes masuk, bahasa Inggrisnya 96 loh …” teman saya melanjutkan.

“Wow, keren …”

“Tapi matematikanya cuman 52. Makanya besok saya suruh dia ikut ekskul math aja …”

Oh wait …                      

*Kemarin saya baru saja membaca status seseorang di timeline (or was it a meme?) “Everything before the word BUT is bullshit”.*

Si anak menatap saya sambil tersenyum. Mulutnya sudah monyong-monyong, ingin menukas ibunya.

“Lah, ngapain ikut ekskul? Ekskul tuh harus yang disukai, bukan karena nilainya kecil …” sambut saya.

Kemudian kami semua tertawa.

Ini yang sering (sekali) saya temui.

Saya selalu mengatakan pada siapapun, bahwa tak semua orang wajib pintar matematika, tak semua orang harus mencapai nilai sempurna dalam Fisika, tak semua harus pintar cas cis cus berbahasa asing. Mengapa? Yah, karena setiap orang memiliki kecenderungan dan bidangnya masing-masing.

“Miss, kok bahasa Inggrisku ga bagus terus ya …” seorang murid mengeluh.

“Orang ngerti ga kalo kamu ngomong?”

“Ya lumayan sih …”

“Trus? Kamu butuh nulis jurnal internasional? Butuh skor TOEFL/IELTS tinggi?”

Ga sih, di kerjaanku cuman butuh percakapan aja.”

“Ya sudah.”

Sekilas, barangkali Anda akan menilai saya sebagai guru yang tidak memotivasi. Padahal yang saya lakukan adalah memberikan apa yang dibutuhkan orang. Tujuan belajar bahasa itu untuk apa? Berkomunikasi saja atau lebih dari itu?

Itulah mengapa, sampai detik ini, saya tak pernah paham mengapa standar soal dalam ujian nasional tingkat SMP-SMA itu memakai genre-based text. Anak-anak diberikan soal berupa teks panjang, kemudian berbuah banyak pertanyaan, yang kesemuanya membutuhkan keterampilan membaca dan analisa.

Sebetulnya tujuannya apa sih, orang-orang yang bikin kurikulum bahasa Inggris ini? Seriusan saya nanya. Karena jenis soal seperti itu cocoknya untuk yang sudah pandai berliterasi. Ujung-ujungnya, anak-anak akan diajari cara cepat strategi menjawab soal ala bimbel. Pemahaman? Jangan harap.

*Tiap bicara masalah kurikulum pasti ujung-ujungnya bikin lieur*

Kembali ke soal orangtua, inilah pentingnya mengubah perspektif seorang ayah dan ibu. Alih-alih memaksakan anak-anak untuk meraih nilai bagus dalam (hampir) semua pelajaran, mengapa tidak mengoptimalkan potensi anak saja?

Anak Anda tidak suka matematika, sukanya gambar. Ya sudah, belikan alat-alat menggambar, dukung terus. Besok lusa, mungkin dia akan kuliah di Fakultas Desain dan Seni Rupa. Memang, apa salahnya? Nilai matematikanya jelek, ya sudah. Toh kita juga tak tahu seberapa sulitnya matematika anak sekolah zaman sekarang. Kalau mampu, dampingi dan ajari. Kalau ga mampu, ya ga usah dimarahi.

Jangan jadi orangtua yang gampang marah, dikit-dikit marah. Kita selalu merasa “Susah tau jadi orangtua.” Padahal anak juga mikirnya, “Susah tau jadi anak, begini salah, begitu salah.”

Anak Anda ga mau ke IPA, males mikir. Maunya ke IPS saja, biar santai. Biarkan saja. Nanti juga dia tahu kalau di IPS harus banyak baca. Sebab hanya ada dua trik yang bisa dilakukan oleh anak IPS : beneran banyak baca dan pintar, atau banyak nyontek dan hidup dengan cueknya. Itu aja kok. Anak Anda bakal pilih yang mana, kira-kira?

Saya pikir, di zaman milenial seperti sekarang, yang lebih penting dikuatkan pada anak adalah mental. Akademis itu nanti menyusul. Kuatkan mental anak-anak, ajari moral value, didik dengan sentuhan agama. Persoalan apakah nanti anak bisa jadi dokter atau insinyur, lihat anaknya juga dong. Lagian di masa sekarang, profesi yang menghasilkan banyak uang sudah banyak sekali, tidak terbatas seperti zaman baheula.

Nah ini juga.

Orangtua selalu menanamkan bahwa “Kamu harus pintar, kalo kamu pintar nanti dapet sekolahnya bagus, nanti kalo sekolahnya bagus, kerjaannya juga bagus, dapet duit banyak deh.”

Ga ada sangkut-pautnya dengan mencari ilmu. Sama sekali.

Semuanya berujung pada duit – duit – duit. Makanya, banyak orangtua yang menutup mata walau tahu anaknya tukang nyontek. Gapapa deh, yang penting nilainya tinggi. Ya memang gapapa, toh nanti sampai dewasa dia akan terbiasa mencari jalan pintas kok, dalam hidupnya. Kan, Anda yang ngajarin.

Padahal, indahnya tersentuh pendidikan itu sejatinya adalah bercengkerama dengan ilmu dan menikmati enaknya belajar. Belum. Masih banyak orangtua yang pola pikirnya belum sampai ke sana. Kurikulum negeri ini, apalagi.

Itulah mengapa sistem zonasi sekolah menjadi isu yang sangat seksi dan membuat orangtua menjadi buas. Sebab premis ‘sekolah bagus’ masih membayangi pikiran. Nanti-gimana-dong-kalo-anak-saya-sekolahnya-di-sekolah-biasa-aja. Padahal yang menentukan masa depan anak, bukan semata bagusnya sekolah, namun juga kualitas dirinya sendiri sebagai seorang pembelajar.

*Ini diperparah dengan ketidaksiapan pemerintah untuk menyediakan keseluruhan pendukung sistem zonasi, dari mulai sistem pendaftaran sampai ketersediaan sekolah*

Ketakutan bahwa anak takkan mencapai prestasi akademis masih menjadi mimpi buruk orangtua. Sebab masih ada anggapan prestasi akademis akan langsung menjamin masa depan anak. Padahal, tidak. Kita sebagai orang dewasa sangat tahu, bahwa di dunia nyata, ada begitu banyak faktor yang bisa memengaruhi kerja dan kinerja seseorang.

Menurut ngana, anak yang IPKnya tinggi, pasti bisa langsung kerja dengan gaji sekian digit?

Belum tentu.

Menurut sampean, anak yang prestasi akademiknya biasa-biasa aja, pasti akan meluncur jatuh di bidang pekerjaan yang dianggap sebagai kasta sudra?

Belum tentu.

Jadi, mengapa kau masih memaksakan anakmu untuk mengikuti apa maumu, untuk meneruskan cita-citamu yang tertunda, Alejandro? Mengapa?

Mereka anakmu secara darah dan daging, namun mereka bukan dirimu.

Dan pada setiap anak, ada potensi besar yang bisa sangat maksimal tergali. Sayangnya, masih banyak orangtua yang kurang menggali, atau bahkan menutup potensi tersebut.

Jangan membuat anakmu, di kemudian hari menyesali hari ketika Anda tidak mengizinkannya menari atau melukis, atau membaca komik, atau bermain game. Hanya karena Anda merasa semua kegiatan tersebut tak berguna. Sebab mungkin saja mereka amat berbakat menjadi seorang seniman atau illustrator atau game creator.

Makanya, jangan terlalu sering terpancing orangtua lain yang senang menyombongkan anak mereka.

Anda tau kan, jika beberapa orangtua berkumpul; hanya butuh satu orang sebagai pemicu,

“Alhamdulillah anak saya baru saja juara … bla bla bla …”

Bisa dipastikan orangtua-orangtua yang lain akan ikut komentar.

Dan kalau sudah begitu, biasanya ada dua macam orangtua:

Orangtua anak yang berprestasi : “Waaah hebaaat … Alhamdulillah anak saya juga ….” (menyebutkan prestasi anak).

Orangtua anak yang (tidak memiliki) prestasi : “Wah anaknya hebat-hebat, ga kayak anak saya, disuruh mandi aja susah, apalagi kalau bla bla bla (kemudian menjelek-jelekan anak sendiri).

Anda termasuk yang mana?

Semoga bukan keduanya.

Sebab prestasi anak patut disyukuri, dihargai, namun tidak untuk diklaim sebagai ‘hasil orangtua’, kemudian diumumkan ke seluruh negeri.

Dan kejelekan anak patut diurusi, dibenahi, namun tidak untuk dijadikan perbandingan dengan anak yang lain.

Mari, mengubah perspektif kita sebagai orangtua.

Mengapa?

Sebab, dulu kita juga pernah jadi anak, sebelum jadi orangtua.

 

Posted in parenting

Didikan Cinderella pada Anak-anak Kita


“Oh cuma segini? Kirain saya, kamu cantik!”

Perempuan berkulit putih itu memandangi saya dari atas sampai bawah. Mungkin tak percaya melihat penampakan fisik saya, yang jauh dari kata menarik. Ia tak tau, bahwa ia bukan satu-satunya yang merasa begitu. Sayapun jatuh minder ketika ia muncul di depan saya. Kulitnya putih, giginya rapi berjajar, matanya jernih. Dia cantik.

Petikan adegan di atas bukan dari cerpen atau novel saya, melainkan betulan terjadi di suatu hari agak mendung, di depan pos ronda, dekat SMP saya.

Perempuan cantik itu, siswi sekolah lain yang mendatangi saya, untuk kemudian mengintimidasi. Sebabnya? Silakan jika mau tertawa. Sebabnya karena laki-laki. Memalukan, memang.

Lelaki yang dimaksud, sering membuntuti saya ketika pulang mengaji, di sekitar lingkungan rumah. Si perempuan, yang ternyata, tempat nongkrongnya di lingkungan yang sama, menaruh hati pada si lelaki, dan mendatangi saya. Kisahnya panjang, dan saya tak mau membebani kalian dengan kisah asmara pret yang sama sekali tak menarik, kecuali untuk diceritakan ulang sebagai kekonyolan saya di masa remaja.

Mungkin tak semua perempuan mengalami ini, namun sesungguhnya hidup perempuan sejak awal sudah diwarnai aroma kompetisi. Akarnya tak jauh dari urusan fisik dan lawan jenis. Jikapun bukan keduanya, maka ada begitu banyak hal lain yang sama-sama bisa diperdebatkan di kalangan perempuan.

Kelak, jika si perempuan itu dewasa dan bekerja, kemudian punya anak, lingkaran kompetisi yang ia ikuti melebar menjadi; kompetitif dalam hal punya anak, menyekolahkan anak, membanggakan anak, membanggakan suami, dan sebagainya.

Jika kita telusuri sebab musababnya, boleh jadi berakar pada budaya kita sendiri, pada kebiasaan yang ditanamkan orangtua. Bahwa perempuan itu harus cantik secara fisik, kulitnya mesti halus, jalannya harus diatur, ketawa tidak boleh ngakak, anggun, harus pandai memasak dan sebagainya.

Intinya, anak-anak perempuan kita, dipersiapkan menjadi seorang putri Disney. Pandai beberes seperti Cinderella, sekaligus cantik supaya tak bikin malu kalau dibawa ke mana-mana. Anak-anak perempuan kita, disiapkan untuk menjadi tandem laki-laki, untuk dilirik dan diperistri.

Tak ada yang salah, sebetulnya. Sebab mencari suami dan menikah adalah bagian dari siklus kehidupan seorang perempuan, mau dijalankan atau tidak. Hanya memang, tuntutan tanpa sadar untuk selalu peduli dengan fisik dan tampilan-lah yang kemudian menjadikan para perempuan (setidaknya) selalu bergantung pada hal tersebut.

Keadaan ini juga disokong oleh propaganda iklan yang selalu menerapkan standar tertentu atas kecantikan seorang perempuan. Berbadan tinggi semampai, bertubuh proporsional, berkulit putih terang, bergigi rata, rambut panjang tergerai, dan sebagainya. Jangan heran, bahwa dari dulu hingga sekarang, banyak perempuan terobsesi untuk memiliki kulit lebih mulus dan lebih putih.

Pada zaman saya remaja, standar kecantikan perempuan ada pada para finalis Gadis Sampul. Tak peduli banyak di antara mereka yang ternyata pintar secara akademik atau berbakat seni, yang kami kagumi 90 % adalah fisik.

Maka lihatlah, rata-rata korban bully dihina secara fisik. Di sekolah-sekolah, banyak bentukan geng “Plastic Girls” yang terdiri dari anak-anak perempuan cantik dan popular, yang senang “ngegencet” anak-anak perempuan lain yang mereka nilai sebagai jelek, gendut, bodoh. Sebab itulah standar yang mereka tahu. “Kalo kamu cantik, kamu pasti banyak dilirik.” Titik.

Boleh jadi, awal terbentuknya premis ini adalah dari rumah. Kita sering sekali memuji kecantikan anak perempuan kita, dan lupa menunjukkan bahwa seorang perempuan tidak melulu dinilai dari sebentuk rupa. Bahwa, kalau kamu perempuan, kamu juga harus pinter loh, harus dewasa loh, harus bisa independent loh, sama seperti laki-laki, tak ada bedanya.

Tapi, tidak. Masyarakat kita masih mendidik perempuan seperti Cinderella. Bahwa kamu harus cantik, dan menarik, supaya nanti gampang dapat suami. Jangan lupa dandan, biar suami senang, kalau tidak nanti digaet orang. Bla bla bla.

Maka, demikianlah rangkaian kompetisi antara perempuan dengan perempuan lainnya menjadi sebuah derita tiada akhir. Perempuan menjadi predator bagi perempuan lainnya, sebab mungkin ia terbiasa dibandingkan. Jika tidak dengan saudara sendiri, dengan anak tetangga. Ia terbiasa berkompetisi untuk mendapatkan perhatian.

Maka Ibu-ibu, berhentilah membandingkan anak-anak perempuanmu dengan anak-anak lain. Sebab anakmu nanti akan merasa, “Oh Mama memuji terus anak itu, yang lebih cantik itu, yang lebih pintar itu, Oh ternyata aku tak cukup cantik, tak cukup pintar.”

Membandingkan anak dengan anak lainnya, saya pikir bisa dikategorikan sebagai salah satu kesalahan terbesar orangtua. Perbandingan yang terus menerus, akan membuat anak selalu merasa ia tak cukup baik untuk mendapatkan pujian dan perhatian. Oleh karenanya, jangan heran ada begitu banyak anak perempuan yang haus perhatian, ingin dibilang cantik, dibilang “cool”, dibilang populer, kemudian ujung-ujungnya, menjadikan dirinya sendiri sebagai komoditi dalam bentuk kenakalan kecil-kecilan. Untuk apa? Biar eksis, dan dapat pujian. Dan karena para remaja sedang dalam fase sangat memercayai apa kata teman, maka mereka ingin mendapat pujian dan perhatian dari teman-temannya (apalagi jika dari lawan jenis).

Semoga setelah ini, akan ada banyak orangtua yang mendidik anak-anak perempuan mereka untuk percaya bahwa “Perempuan sukses karena karyanya” bukan karena cantiknya, populernya, kerennya.

Ajarkan bahwa tujuan hidup mereka bukan semata-mata kompetisi menggaet suami, namun menjadi manusia yang berguna bagi manusia yang lainnya. Menjadi manusia seutuhnya, tak harus selalu dilambangkan dengan memiliki suami ganteng, anak-anak yang dilahirkan dengan cara normal tanpa operasi, atau bisa menyekolahkan anak ke sekolah favorit.

Bahwa perempuan memang dinilai sebagai pribadi yang utuh, luar dan dalam. Bukan hanya semata jargon “inner beauty”, yang ujung-ujungnya dipopulerkan oleh model jelita, yang wajah mulusnya hasil perawatan skin care.

Memangnya kenapa, kalau kamu tidak putih, tidak kurus, tidak punya kaki jenjang? Tidak ditaksir cowok satu sekolahan, tidak punya sederet mantan pacar?

Malu-lah kalau kamu perempuan dan otakmu kosong. Sebab suatu hari kamu akan punya anak, dan kamulah sekolah pertama anak-anakmu.

Perempuan itu wajib pintar, cantik mah bonus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in parenting

Pusing Jadi Orangtua


Menjadi orangtua betulan tidak ada sekolahnya. Ga ada sekolahnya, tapi tiap hari ada ujian. Boro-boro ada kisi-kisi, sekadar memahami step-stepnya saja macam dikasih kuis dadakan sama dosen setiap hari.

Untunglah selalu ada remedial, dalam bentuk trial and error berulang-ulang pada konsep dan penerapan yang sama. Mata kuliah bisa diulang tahun berikutnya atau berikutnya lagi, jika anak kedua atau ketiga lahir. Semua jawaban ujian yang dulu salah ketika diberikan pada anak pertama, direvisi dan diperbaiki untuk anak berikutnya.

Kalau yang anaknya cuma satu, bagaimana?

Remedial terus-terusan, mungkin. Hahaha.

Sejak awal 2000-an mulai muncul banyak lembaga yang menyelenggarakan seminar pra-pernikahan, kursus menuju pernikahan dan lain-lain. Semakin ke sini, semakin banyak kursus, seminar, workshop, yang membahas soal kesiapan pernikahan, parenting, cara mendidik anak, dsb.

Namun saya bisa katakan, tak peduli sebanyak apapun pelatihan yang Anda ikuti, kekagetan dan ketidaksiapan mengenai pendidikan anak akan selalu ada. Mengendap-endap di sudut hari, setiap saat.

Saya tidak mengatakan, ikut pelatihan itu salah. Awas, seringkali beberapa orang salah memahami tulisan saya. Dibacanya pelan-pelan, ya.

Saya bilang, tak peduli sebanyak apapun pelatihan yang kita ikuti, mendidik anak itu, tetap menjadi tantangan berat. Padahal kita sudah menyiapkan banyak amunisi berupa pengetahuan dan kesiapan mental. Ibaratnya mau pergi perang, kita sudah menjalani wajib militer dua tahun dan siap berangkus.

Orangtua yang berilmu saja masih sering kewalahan, apalagi yang tidak, dan malas mencari ilmu.

Padahal anak memang diberikan sebagai rezeki, dan juga ujian.

Untungnya, makhluk di muka bumi yang sanggup berkorban demi makhluk lainnya, adalah orangtua. Jangankan hanya mengeluarkan uang buat seminar parenting, mempertaruhkan nyawapun rasanya sanggup.

Anak, di sisi lain; memang dikaruniai kemampuan ekstra untuk (selalu) membuat orangtua ketar-ketir.

Punya anak perempuan, takut salah pergaulan, kemudian hamidun, kemudian bla bla bla.

Punya anak lelaki, takut tidak tumbuh jadi cowok macho, kemudian resiko menjadi korban sesama lelaki, kemudian na na na.

Sesungguhnya, jika para orangtua memikirkan segala kekhawatiran soal anak-anak mereka, maka mereka takkan bisa tidur di malam hari. Sebab dunia begitu kejam, pengaruh lingkungan begitu sulit dilawan, dan anak semakin lama semakin tumbuh menjadi dirinya sendiri, bukan lagi anak kecil yang bisa kita atur jam bermain dan jam bobok siangnya.

Namun bukan “orangtua” namanya, jika mereka tidak tabah.

Bukan “Ayah” namanya jika ia tak kuat menanggung beban.

Bukan “Ibu” namanya, jika ia tak pemaaf dan penuh cinta. Karena itulah, anak disimpan di sebuah tempat istimewa bernama “Rahim” yang artinya “kasih sayang”.

Maka, senakal apapun kamu, orangtuamu pasti memaafkan. Seaneh apapun tingkahmu, mereka akan sanggup menutupi. Sesakit apapun kamu, mereka akan selalu ada untuk membalut luka.

Orangtua, juga punya cara mereka sendiri untuk mendidik dan mengasuh. Pelatihan parenting boleh jadi diikuti berbarengan dengan geng ibu-ibu komplek, namun percayalah tak ada penerapan pola parenting yang sangat identik, sebab setiap keluarga terlahir unik.

Sejatinya, semua pola pendidikan anak didesain oleh orangtua demi kebaikan anak-anak mereka. Jalannya mungkin berbeda, rumusnya mungkin tak sama, namun tujuan akhirnya bermuara di tempat serupa.

Menurut saya, tak ada istilah “Caramu mendidik anak lebih baik dariku” atau sebaliknya. Yang ada hanyalah, “Caramu mendidik anak ternyata memiliki kelebihan di segi A B C, maka, ijinkan aku meniru.”

Anak-anak yang dibesarkan oleh Ibu rumah tangga penuh waktu, tak selamanya lebih baik dari yang dibesarkan oleh Ibu bekerja. Pun demikian, dengan anak-anak korban perceraian. Mereka barangkali timpang di satu sisi, namun jika sisi yang utuh bisa menggenapkan ketimpangan, bisa jadi mereka malah berkembang lebih utuh dibanding yang lain.

Kuncinya ada di orangtua, lagi-lagi.

Mau bagaimana lagi.

Bagaimanapun kondisi kita; apakah bekerja penuh waktu, freelance, ayah-ibu dua-duanya sibuk, atau anak dititipkan di neneknya; premis ini tetap berlaku. Tidak ada terms and condition, sebab syaratnya hanya jadi orangtua, dan ketentuannya seumur hidup.

Pusing memang jadi orangtua.

Seharusnya orang-orang yang belum punya anak bisa paham ini, sebelum menciptakan sakit kepala baru, berupa “punya-anak-tapi-ga-bisa-didik”.

Produk yang dihadapi bukan barang sih. Ingat ya. Ga ada tombol reset-nya itu anak. Ga bisa dipencet-pencet pake remote.

Yang ada hanya penyesalan ketika ternyata, anak tidak sama dengan harapan kita. Dan kita terlalu besar kepala, untuk menyadari bahwa letak kesalahannya, mungkin sebagian besar, ya karena kita juga.

Penyesalan kan datangnya terakhir, ya.

Kalau datangnya duluan, namanya pendaftaran.

 

 

 

Posted in parenting

Pop Culture (memandang dari sisi lain)


Saya mau bercerita tentang Lupus, seorang remaja anak SMA yang popular di era tahun 80-an. Gayanya urakan dengan rambut gondrong yang menyisakan sejumput rambut lebih panjang di belakang kepala. Saat itu, di Bandung, kami menyebutnya gaya rambut “okem”.

Lupus luar biasa populer di kalangan anak muda. Setidaknya para remaja yang menyukai tulisan Hilman Hariwijaya.

Tokoh Lupus yang senang mengunyah permen karet dan memandang dunia dengan cara sederhana, menjadi ikon remaja 80an untuk bisa santai saja menghadapi hidup.

Sebuah antithesis terhadap kehidupan di zaman itu, ketika semua anak muda diharapkan disiplin, taat aturan dan menghormati orangtua dan guru tanpa membantah.

Lupus; sering bolos sekolah, sering tidak mengerjakan PR dan bisa dengan santai mengobrol dengan orangtua serta senang menjahili guru-gurunya.

Lupus, adalah salah satu contoh pop culture yang merasuk ke kehidupan masyarakat.

Budaya pop bisa diartikan sebagai budaya masal dengan tujuan komersialisasi. Penyebarannya berlangsung sangat cepat dan masif, sebab biasanya dibantu oleh media massa. Tak hanya sekadar tokoh dalam novel, budaya pop juga meliputi musik, bahasa, teknologi, film, makanan, serta peniruan perilaku.

Banyak orang menganggap Amerika-lah yang menjadi kontributor budaya pop terbesar di Indonesia. Sejak era 60-70an, anak muda Indonesia sudah mengidolakan John Lennon, dan berjoget diiringi “The Dancing Queen”-nya ABBA.

Di awal 90-an, rasanya gaya rambut Amy Search yang panjang kriwil macam  Daniel Sahuleka itu keren sekali. Dan demikianlah, sederet panjang pelbagai budaya pop yang datang silih berganti, menjadi trendsetter di kalangan dedek-dedek emeush pada zamannya.

Buat yang suka nonton, siapa yang tak kenal Chuck Norris? Yang kalau ditembakin, pelurunya yang belok, bukan dianya yang jatuh. Steven Seagal, Jackie Chan, Jet Lee dan sebagainya, dan sebagainya. Setiap genre menawarkan wajah baru, gaya baru, yang kemudian diadopsi dan ditiru.

Pertanyaannya: Mungkinkah si budaya ngepop ini ditangkas? distop, apalagi diberangus?

Jawabannya: kemungkinan besar sih tidak, Esmeralda!

Selama kita masih melek dengan perkembangan teknologi, masih mengikuti kekinian dan masih membutuhkan campur tangan teknologi dalam hidup ini, maka kemungkinan budaya pop masih akan terus berakulturasi dengan budaya kita sendiri.

Siapa di sini, yang kalau merasa berhasil, kemudian mengepalkan tangan, dan menariknya dari atas ke bawah sambil berteriak, YES!

Ada?

Tahukah kamu, kalau gerakan itu juga termasuk budaya pop yang dipopulerkan Macaulay Culkin di film Home Alone? Ya, Home Alone yang ituu … yang selalu diputer ulang di TV kalau menjelang akhir tahun. Gosah pura-pura ga tau deh, pasti setidaknya pernah nonton.

Harusnya pemerintah dong, yang membatasi derasnya arus budaya asing yang masuk!”

Jika yang kamu maksud adalah tentang penyiaran, setahu saya, malah di televisi kita; budaya pop yang ada adalah dari siaran negeri kita sendiri, bukan?

Berapa memangnya prosentase tayangan asing di televisi kita?

Silakan koreksi jika salah, sebab saya sudah lama tidak menonton TV lokal. #apelo #apelo

TV kita memang layak diprotes, tapi bukan karena arus budaya asing, melainkan tayangan dari negeri kita sendiri. KPI sendiri sebetulnya sudah memiliki acuan rating tontonan. Bisa di-gugling saja di internet yess … ada pelbagai rating usia dan mana yang harus didampingi orangtua.

Masalahnya memang penerapan ini masih sangat kurang maksimal. Saya pernah menyalakan TV di siang hari (jam anak-anak ada di rumah) dan di salah satu saluran, ada tayangan sinetron dewasa yang engga banget. Tapi sudahlah ya, bahas sinetron ga akan ada ujungnya. Segimanapun dibenci, penontonnya selalu banyak. Jadi diterima sajalah fakta, bahwa memang masyarakat kita sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk menonton sinetron Azab dan kehidupan pribadinya Rafi dan Gigi (ala-ala Keeping Up With The Kardashian).

Itu televisi ya, Mbak. Nah kalau Youtube, lain lagi masalahnya.

Ngomong-ngomong, sudah tahu belum kalau Youtube bisa di-setting agar ramah-anak? Kalau belum, gugling dulu atuh, biar aman sentosa si dedek nonton video Tayo-nya.

Youtube dan pelbagai media daring lainnya memang bergantung pada kebijakan penggunanya. Sebagai pengguna, memang diharapkan filter ada di diri kita sendiri. Begitupun terhadap anak-anak. Sekali kita memberi mereka kebebasan untuk mengakses internet, itu (seharusnya) sudah sepaket dengan pengetahuan dan batasan macam apa yang kita sepakati dengan mereka.

Internet sangat membantu kok, jika digunakan secara positif. Budaya pop yang masuk juga bisa jadi wawasan kok, jika kita mencari banyak tahu tentangnya.

Ini akan menjadi sangat subyektif dan narsis; namun saya akan bercerita tentang dua anak saya: si sulung dan si nomor dua.

Si sulung (perempuan) senang membaca dan menggambar. Kesukaannya adalah anime dari Jepang. Mungkin karena kebiasaan di keluarga kami untuk selalu ingin mencari tahu, maka itulah yang ia lakukan. Hasilnya, ia banyak tahu soal budaya Jepang, bahkan ia paham sebagian besar bahasa Jepang yang digunakan dalam anime yang ia baca atau tonton. Padahal tak ada yang mengajarinya. Internet ia gunakan, untuk gugling segala sesuatu yang menarik baginya. Sama seperti saya, ia amat tertarik pada bahasa, budaya dan sejarah. Ini sangat membantu wawasannya ketika melakukan case building ketika berdebat. Anak sulung saya adalah seorang debater. Ia pernah mewakili kota kami sebagai salah satu tim debat Bahasa Inggris untuk tingkat SMA.

Anak kedua kami, ia seorang penari. Hingga SMP (juga perempuan), ia aktif menari tradisional dibimbing guru sekolahnya. Di tingkat SMA, atas kesepakatan bersama, ia berhenti menari karena satu dan lain hal. Sekarang, ia sedang senang memelajari Bahasa Korea, otodidak saja. Kemungkinan besar, ini akan jadi jurusan yang ia ambil saat kuliah nanti. Ia juga senang bercerita mengenai pelbagai pengetahuan soal budaya dan sejarah Korea.

Di bagian ini, silakan untuk muntah dulu, sebab dua paragraf di atas sangat mengandung konten narsistik.

Jadi, demikianlah memang kontrol ada di tangan kita, Moms and Dads. Semua tontonan, bacaan, dan lain-lain; sebetulnya sudah mengandung rating tertentu, tinggal kitanya yang mencari tahu. Mau dibawa kemana anak-anak ini, terserah kita. Setiap orangtua, saya yakin, memiliki pola parenting yang unik dan menjadi kekhasan keluarganya masing-masing. Boleh jadi tidak cocok untuk diterapkan secara umum.

Setelah tulisan kemarin, saya suka ketika banyak orangtua kemudian berbagi mengenai gaya parenting mereka. Saya tidak akan mengatakan cara saya yang paling baik, atau cara Anda yang lebih buruk. Sebab tak semua sama, dan tak selamanya berbeda itu jelek.

Masalah penandatanganan petisi atas iklan Black Pink yang tempo hari ramai-ramai dibicarakan, secara personal, saya tidak ada masalah. Protes, adalah bagian dari hak berpendapat, dan itu dijamin oleh UU (pasal 28). Maka silakan saja lanjutkan petisi, sebab itu bisa jadi kontrol terhadap penyiaran iklan.

Saya, hanya mencoba menulis dari sisi lain, sebab memandang sebuah masalah dari pelbagai sisi itu perlu. Memandang dari sudut pandang orang lain, juga perlu. Supaya akal terasah dan emosi tertahan. Boleh jadi langit yang saya anggap berwarna biru itu, ternyata berbeda di mata Anda. Padahal kita memandang langit yang sama.

Di bawah basah langit abu-abu, kau dimana

Oke, skip

Mungkinkah budaya asing ditangkal? Bisa, secara individual. Matikan TV, matikan internet, hiduplah dalam dunia nyata tanpa komen netijen dan trend hijab terbaru. Saya yakin, masih banyak masyarakat yang hidup dalam kepolosan dunia tanpa tahu Freddie Mercury itu siapa.

Keputusan ada di tangan Anda. Jreng … Jreng …

 

Nobody ever becomes an expert parent. But I think good parenting is about consistency. It’s about being there at big moments, but it’s also just the consistency of decision making. And it’s routine.

  • Sebastian Coe –

 

 

Posted in parenting

Budaya Asing (yang sama, dengan bungkus yang berbeda)


Tahun 2002, Indonesia dilanda demam lagu “Asereje” dari girlband asal Spanyol; The Last Ketchup. Lagunya yang catchy disertai dengan gerakan dance-nya yang menarik untuk diikuti, menjadikan lagu ini diputar dimana-mana.

Tak sampai lama, berembus kabar bahwa lagu The Last Ketchup ini merupakan bagian dari ritual pemujaan setan. Tak sampai lama juga, kabarnya, tarian yang ada di dalamnya, yang merupakan bagian ritual satanisme. Meski pada tahun itu belum ada aplikasi pesan seperti whassap atau BBM, kabar ini beredar dari mulut ke mulut, dari pelbagai grup ke grup. Meskipun, hingga hari ini, The Last Ketchup menyangkal soal keterlibatan satanisme dalam karya mereka.

The Last Ketchup bukan satu-satunya pesohor yang pernah terkenal karena kontroversi karyanya. Ricky Martin juga sempat membuat heboh dengan video “Livin’ La Vida Loca” nya di tahun 2007, sebab memertontonkan banyak tarian erotis.

Madonna, juga termasuk penyanyi yang paling sering dikritik. Album “Livin’ like a prayer” miliknya sempat menuai protes sebab beberapa liriknya dinilai menghina gereja katolik Roma. Belum lagi banyak video klip Madonna yang dinilai seronok, dan itu di tahun 80-an, jauh sebelum anak zaman now jadi Army (sebutan untuk fans BTS).

Di kalangan aktris, Demi Moore sempat membuat geger dunia persilatan, sebab berfoto telanjang saat hamil di majalah Vanity Fair di tahun 1991. Sebagian kalangan menilai foto besutan Annie Leibovitz itu sebagai “art”, yang lain mengutuknya sebagai pornografi.

Semua contoh di atas hanya sedikit dari sekian banyak contoh tentang bagaimana kehebohan yang ditimbulkan para pesohor sudah berlangsung lama, dan masyarakat Indonesia yang setia dengan Pancasila ini mengetahuinya. Menjadi sedikit berbeda, mungkin, karena zaman dulu belum ada internet, belum ada media sosial dan netizen yang keminter belum lahir.

Di era 80 sampai 90-an akhir, banyak kabar tentang dunia selebriti (apalagi internasional) hanya diketahui oleh mereka yang memang rajin membaca majalah atau senang mendengarkan lagu barat dan menonton film barat.

Masih “barat”, sebab dulu budaya asing yang masuk melulu dari Amerika.

Anak-anak muda yang tahu Madonna, berjoget “I am a barbie girl … in a Barbie world …”  dan nonton serial FRIENDS, hanya mereka yang memang menyukai tayangan asing, dan rata-rata tinggal di kota besar. Setahu saya sih begitu.

Hari ini, jangankan kota besar, anak muda di kampung terpencil saja kemungkinan pernah mengakses salah satu video selebriti favoritnya melalui Youtube, thanks to Internet.

Hari ini pula, rasanya hampir semua orang merasa amat dekat dengan Kroya, eh, Korea. Serangan budaya Korea memang sangat bombastis, tak hanya mencengkeram emak-emak pecinta drakor, namun juga menarik hati para anak muda dengan musiknya, dengan tariannya.

Buat saya, ini hanya beda bungkus.

Dulu, banyak orangtua khawatir dengan begitu masifnya penetrasi budaya barat lewat tayangan sitkom dan film (dengan budaya kumpul kebo, LGBT, kehidupan bebas) serta lagu (lirik cabul, kehidupan bebas, video klip seronok). Sekarang penetrasi tersebut masih ada, hanya berganti judul: Korea.

Apa yang orangtua dulu lakukan untuk menangkal budaya barat?

Beda-beda pastinya. Ada yang mengomel seharian ketika melihat anaknya nonton MTV setiap saat. Ada yang semakin panjang durasi omelannya, ketika tahu rapor anaknya jelek, karena terlalu sering nonton Sara Sechan dan Jamie Aditya.

Ada yang membiarkan, dengan pembatasan. Ada yang cuek, sebab orangtua tak paham. Ada yang woles saja, sebab anaknya lebih suka dengerin Darso, ketimbang Backstreet Boys.

Persis seperti sekarang.

Bedanya, sekarang dengan adanya medsos, orangtua bisa lebih meluaskan jangkauannya terhadap anak. Sebab selalu ada brodkes berbau kepanikan dari orangtua lainnya, untuk kemudian dibagikan beramai-ramai oleh semua orang.

Bapak, Ibu, yang diberikan keistimewaan menjadi orangtua:

Akan selalu ada gempuran budaya dari pelbagai sisi kiri dan kanan, atas dan bawah. Dulu, ia bernama budaya barat, hari ini kita menyebutnya K-Pop. Esok, entah apa lagi. Mungkin budaya suku Eskimo atau Amazon.

Masalahnya adalah, apapun budaya yang masuk, sekuat apapun gempuran yang masuk, pihak mana yang seharusnya lebih kuat?

Anda, sebagai orangtuanya.

Tak mungkin kita berharap dunia akan menjadi tempat yang ramah sebagai tempat anak-anak kita bertumbuh. Sebab itu mustahil. Beres dengan gempuran budaya nganu, akan ada fenomena baru lagi, yang membuat kita panik dan berteriak.

Anda tidak lelah?

Heboh film “The Raid” tahun 2012 yang katanya ndak cocok ditonton keluarga, ya eyaaalaaah, menurut ngana, rating film fungsinya buat apa? Stiker lucu-lucuan?

Sekarang soal K-Pop. Sayapun agak terguncang dengan kenyataan ini, sebab ternyata di mata anak muda, definisi kegantengan seorang lelaki itu sudah sangat jauh bergeser. Mengenai musiknya, saya tak paham; barangkali memang yang seperti itulah yang mereka sukai zaman sekarang.

Soal cara berpakaian mereka yang seksi-seksi (girlband-nya berarti ya), bukankah banyak penyanyi lainnya, bahkan penyanyi Indonesia yang juga melakukan hal yang sama?

Jika Anda agak emosi membaca ini, tahan dulu. Saya tidak hendak membuat justifikasi dengan mengatakan bahwa hal yang demikian itu wajar.

Saya pun orangtua, dari empat anak, yang masih harus terus update dengan masalah kekinian. Pun begitu, saya melihat budaya KPop ini sama dengan budaya barat yang dulu menggempur sejak saya remaja. Saya sampai harus ikut menonton beberapa video klip KPop, untuk tahu “apa sih yang bikin mereka suka”, dan saya tetap gagal paham. Sampai akhirnya di rumah, kami sering membicarakan tentang suka duka para idol menggapai impiannya menjadi Boyben atau girlben. Ternyata sangat menarik, kapan-kapan saya cerita, deh.

Soal anime, komik, Webtoon, hallyu, otaku, wibu, dan lain-lain … adalah sekian kosa kata baru yang terpaksa saya lahap dan saya cari dan baca, sebab saya ingin tahu dunia macam apa yang sedang dihadapi anak-anak saya.

Intinya, gempuran budaya asing akan terus ada, Moms and Dads. Dan jika kita menganggapnya sebagai musuh, bukankah akan lebih baik jika kita mengetahui siapa musuh kita?

Most of the times, people are afraid of something that they do not know, and this is dangerous.

Sebelum Anda marah-marah soal KPop, bukankah akan lebih baik jika Anda tahu dulu? Setelah tahu, tak masalah Anda akan melarangnya. Yang lebih penting, Anda duduk bersama anak dan membahas ini.

Mengapa penting sekali untuk membahas ini?

Sebab anak, apalagi menginjak remaja; takkan cukup dengan kata “Ga boleh!”, mereka butuh tahu kenapa tidak boleh. Bukankah kita dulu (juga) sering merasa orangtua sangat otoriter ketika melarang sesuatu? Padahal kita hanya ingin tahu.
ga usah ingin tahu, nanti kebablasan.”

Jika Anda jenis orangtua yang sering mengatakan kalimat di atas, silakan. Namun percayalah, anakpun layak diberikan kepercayaan. Mereka tahu kok, mana yang benar dan salah. Kan Anda sudah mengajarkan, toh?

Gimana kalo anak saya iya-iya di depan saya, namun melanggar di belakang saya?”

Berarti ada yang salah dengan pola komunikasi Anda dengan anak, simpel.

Anak saya jadi malas belajar, itu gara-gara KPop.”

Pertanyaan saya: yang kasih gawai, siapa? Personel Black Pink? Tetangga depan rumah?

Jika ingin lebih ekstrim lagi, jangan ada televisi di rumah. Kondisikan rumah Anda bebas dari gawai, dan pelbagai tontonan. Sediakan banyak buku bacaan dan permainan. Kembalilah ke era tahun 70-80an dengan banyak permainan tradisional. Mengenai buku bacaan, syaratnya cuma satu: Anda sebagai orangtuanya juga suka baca, ga cuma suka nyuruh.

Saya mengagumi beberapa teman, yang konsisten memiliki cara mendidik anak-anak mereka. Ada yang meniadakan televisi dan menyediakan pelbagai aktivitas bermain untuk anak-anak di rumah. Ada yang memaksa diri menjadi pembaca buku dan rajin membelikan buku bacaan.

Intinya, ada banyak jalan menuju Roma, Ani!

Menjadi orangtua itu hak istimewa, sebuah privilege. Anda itu manusia terpilih yang diserahi amanat berupa manusia. Andalah yang harus mendidik mereka menjadi manusia yang berguna.

Sebab nanti yang bertanggungjawab di dunia dan ditanyai di akhirat bukan gawai, bukan Youtube, bukan guru di sekolah, bukan personil Black Pink, bukan yang bikin medsos.

Anda.

Repot ya?

Emaaang. Baru tahu?

Jangan pernah berharap dunia akan bermanis-manis pada anak-anak kita, sebab sejatinya dunia ini kejam dan penuh tipu daya. Kitanya sebagai orangtua yang harus berilmu, dan harus pede.

Katakan pada semua orang,

“Mau digempur budaya apapun, saya siap. Sebab saya orangtua yang hebat.”

Begitu.

Sok, silakan dilanjut nyetrika sambil nonton drakornya. Saya mau ngopi dulu.

 

Posted in parenting

What we have here, is a failure to communicate …*


*kutipan kata-kata JFK*

Morgan Freeman dalam film “The Bucket List” curhat pada Jack Nicholson soal hubungannya dengan istri.  Ia seorang yang cerdas dan pekerja keras, terpaksa mengubur banyak impiannya agar keempat anaknya bisa sekolah. Setelah keempat anaknya dewasa, Morgan Freeman malah merasa canggung menghabiskan waktu dan berbincang bersama istri. Morgan baru menyadari bahwa selama puluhan tahun bersama dengan istrinya, ia seringnya berbincang mengenai anak-anak, sehingga saat tinggal mereka berdua, habislah materi pembicaraan.

Can you relate to this?

Saya tak tahu sebetulnya presentase seberapa banyak perbincangan suami istri yang membahas soal anak-anak, dan seberapa banyak soal hubungan berdua. Satu hal yang pasti, saya yakin banyak sekali pasangan yang bahkan tidak paham bagaimana cara berkomunikasi dengan pasangan, apalagi dengan anak.

Seberapa banyak Anda mengobrol dengan pasangan setiap hari? Mengobrol tanpa memerhatikan gawai di tangan, mengobrol sambil benar-benar memerhatikan raut wajahnya dan gesture tubuhnya?

Seberapa banyak Anda mengobrol bersama anak setiap hari? Mengobrol lebih dari sekadar mengatakan, “Ada PR hari ini?” atau berupa perintah, “Belajar sana!”

Saya tahu banyak sekali pasangan yang bahkan tak paham cara mengobrol antara satu sama lain. Kebutuhan mencari nafkah, jam kerja yang membuat sibuk, kebutuhan anak-anak yang harus dipenuhi, adalah sekian barrier yang biasanya menjadi penghalang.

Padahal, ini penting.

Komunikasi memegang peranan penting dalam sebuah hubungan. Antar pasangan, orangtua dan anak.

Sebentar lagi, semua orangtua harus meluangkan waktunya barang setengah sampai sejam untuk mengambil rapor putra-putri mereka.

Sudah siap untuk mengomel?

Ah lebay, masak suuzon gitu sih.

Lah, saya jarang lihat ada orangtua yang woles aja begitu nerima rapor anak-anak. Mesti ada yang kurang.

Makanya, udah dibilangin belajar, malah maen gem mulu … tuh kan nilainya cuman segini.”

Yang nilainya kurang kayak kamu, ada berapa orang di kelas?”

Mau jadi apa kamu, nilai minim begini …”

Mengomel bukan mengobrol ya. Sebab mengobrol berarti two ways of communication. Ada hubungan saling berterima antara dua belah pihak. Dalam kasus ‘mengomel’ atau ‘marah-marah”, yang terjadi adalah relasi antara pihak yang lebih berkuasa dibanding pihak yang tertindas.

Loh, trus ga boleh marahin anak?

Kata siapa? Sangat boleh.

Pun begitu, “marah yang seperti apa”, yang harus digarisbawahi.

Orangtua dimanapun, seringkali lupa bahwa anak-anak mereka bertumbuh. Sesuai dengan perkembangan usianya, sejatinya ikut berkembang pula pendekatan parenting yang dilakukan. Misalnya, Anda tidak bisa memarahi remaja usia 14-15 tahun dengan  peran “Saya lebih tahu, kamu lebih baik nurut”. Sebab di usia seperti itu, yang mereka anggap hanya “teman”. Bukan orang lebih tua, yang selalu nyerewetin dan ngomel-ngomel. Maka, jadilah teman baginya.

Ini tentu tidak mudah.

Tak semua orangtua sanggup menjalani peran seperti ini. “Being friends’ role play” bisa dilakukan oleh mereka yang memang mau membuka diri dan menurunkan standar ke-orangttua-annya, supaya bisa sejajar dengan anak.

Mengapa penting untuk sejajar?

Untuk bisa menghilangkan relasi kekuasaan. Bahwa “saya dan kamu sama loh, maka yuk kita ngobrol” dan “saya ga akan nge-judge kamu loh, sebab saya juga pernah sepertimu.”

Inipun tak bisa dilakukan oleh sebelah orangtua, maksudnya, Ayah saja, atau Ibu saja, mesti keduanya. Oleh karena itulah, pasangan sebaiknya memang punya komunikasi yang bagus dan kesepakatan yang kuat. Adu argument boleh dilakukan di balik pintu tertutup, tidak di depan anak. Jika tidak, maka siap-siap menghadapi kenyataan bahwa anak Anda sudah tahu harus merengek minta jajan ke siapa, sebab ia tahu salah satu orangtuanya lebih permisif disbanding yang lain.

Jika komunikasi sudah bagus antar pasangan, dan mengobrol dengan anak sudah bisa sangat alamiah terbangun, sebetulnya tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Dunia boleh jadi menjadi tempat yang sangat mengerikan, dengan penjajahan K-Pop dan ancaman LGBT yang di-brodkes dimana-mana. Namun jika komunikasi Anda dengan anak sudah sangat bagus, ibaratnya, serangan zombie dalam post-apocalyptic war saja, bisa Anda hadapi.

Memang ada apa dengan semua serangan budaya luar ini? Pergeseran nilai moral dan degradasi akhlak terjadi dimana-mana, memang. Apakah semata karena pengaruh budaya luar? Coba pikirkan lagi. Jangan-jangan kita jenis orangtua kagetan yang terlalu rusuh dengan pelbagai perkembangan dunia modern, malah kita sendiri yang mengalami cultural shock alias gegar budaya.

Jangan-jangan kita sendiri yang pola komunikasi dalam keluarganya masih harus dibenahi. Jangan-jangan kita sendiri yang tidak mengenal anak-anak yang lahir dari rahim kita. Segala ketakutan ini berakar dari sesuatu yang kita tidak paham. Maka mencobalah untuk paham.

If you know your own children and talk to them every day, there is nothing you have to be afraid of.

Hanya satu saja yang perlu kita pikirkan.

Anak-anak itu cetak-biru-nya kita. Copy paste-nya kita.

Jadi, jika terjadi sesuatu. Benar atau salah. Itu adalah mengenai kita.