Posted in menulis

Benarkah Originalitas Sudah Hilang?


Salah satu tokoh di “Lady in The Water” (2006) adalah seorang penulis skenario film. Lelaki setengah baya berkacamata ini selalu mengaitkan semua peristiwa yang ia alami dengan plot kisah dari berbagai film.

Jika kalian belum menonton film ini, tidak usah merasa bersalah. Film ini ratingnya b-ajah, meskipun saya menyukainya. Mungkin karena sang sutradara M. Night Shyamalan adalah salah satu sineas favorit saya.

Menurut saya, Shymalan selalu memiliki ide yang di luar kebiasaan orang pada umumnya. Publik barangkali lebih mengenal karyanya yang lain, seperti “The Sixth Sense” (1999), dan yang paling anyar “Glass” (2019).

Anyway.

Ada sebuah kalimat yang diucapkan tokoh penulis skenario ini. “There is no originality left in the world, Mr. Heep – that is a sad fact I have come to live with.”

Tak ada lagi yang dinamakan originalitas di dunia ini.

Entah kenapa penggalan kalimat ini tiba-tiba muncul dalam percakapan kami (saya dan suami) kemarin. Mungkin karena kami sama-sama sedang menonton dua film yang berbeda. Kadang suka begitu memang, padahal kami ada di ruangan yang sama, hahaha.

Saya baru selesai menonton dua episode pertama serial TV dari Korea berjudul “Tell Me What You Saw”. Ini genre-nya detektif thriller. Sebentar-sebentar saya harus pause tayangan dan menghela nafas.

“Kenapa?” tanya suami.

“Ini ada karakter yang mirip pembunuh di The Silence of The Lambs, dan ada satu adegan mirip Se7en. Dan secara keseluruhan, hubungan dua karakternya mirip sama The Bone Collector.”

“Oh ya, mungkin penulis dan sutradaranya nonton juga.”

“Iya.”

Begitulah, beres menonton dua episode, saya malah kurang menikmati karena sedikit-sedikit mesti teringat adegan nganu, buku ngono, kalimat dari sana sini. Mungkin ini (lagi-lagi) kesombongan saya, sebab jika kalian sudah membaca sampai sini, kalian pasti mengambil kesimpulan bahwa saya sudah banyak membaca buku dan menonton film. Iya, sih.

Tidak ada lagi yang namanya originalitas. Originalitas telah hilang. Loh, kok hilang? Kalau hilang, berarti sempat ada, dong. Hmm … ini menarik.

Saya jadi teringat bahwa setiap kali menulis apa pun, sebetulnya yang saya lakukan adalah meramu apa yang saya tahu, yang pernah saya baca ke dalam tulisan. Semua orang juga pasti sama. Apakah itu berarti saya tidak dan belum pernah menulis mengenai sesuatu yang original? Yang indigenous? Genuine? Apakah dengan begini saya dikategorikan plagiator? Gusti nu agung .…

Siapa ya yang pernah bilang, “Sejatinya yang kita lakukan hanyalah tiru-meniru.” Setelah dipikir-pikir, eh iya betul juga. Mengapa gaya menulis saya begini, misalnya; ini sudah hasil dari sekian banyak “tiruan” yang saya lakukan pada sepaketan lengkap pengetahuan dan kecenderungan saya sendiri, yang didapat dari banyak orang lainnya.

Tapi soal plagiasi, tunggu dulu. Sebab ada akronim yang terkenal dengan nama ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Tahu, kan? Entah dari mana saya dapat akronim ini, tapi saya sering mengatakan pada para peserta pelatihan (jika sedang mengisi), inilah yang harus dilakukan. Amati orang-orang yang kau kagumi karyanya, tiru metodenya, kemudian modifikasi dengan gayamu sendiri. Oh, pelatihan guru yang saya maksud, metodenya juga metode mengajar.

Rasanya, menulis juga bisa memakai teknik yang sama. ATM. Siapa sih penulis favorit kalian? Amati gaya dia menulis, tiru metode dan gayanya, kemudian modifikasi, kawinkan dengan gayamu sendiri, jadi deh.

Trus, membedakan meniru dan memplagiasi, di mana dong?

Meniru itu, berasal dari kata “tiru”. Menurut KBBI, artinya adalah “melakukan sesuatu seperti yang diperbuat orang lain dan sebagainya; mencontoh; meneladani”.

Artinya, jika kita meniru (gaya) tulisan orang untuk dimasukkan pada tulisan kita, ini bukan plagiasi. Plagiasi terjadi ketika kita mentah-mentah menyalin tulisan orang dan mengakuinya sebagai karya sendiri. Cih!

Lalu, apa kabar dengan originalitas?

Yah, menurut saya sih, originalitas tetap ada, buktinya jika kita telaah lebih jauh, banyak kok buku-buku atau film-film yang dari segi cerita, sangat original, dalam arti: belum pernah ada orang yang membuat seperti itu sebelumnya.

Lagipula, originalitas bergantung pada wawasan juga. Sebagai contoh; terkadang ada orang yang bercerita, “Eh saya baru baca buku A loh, ceritanya bagus, idenya original banget.” Dan tanpa merasa bersalahnya, saya suka bilang, “Ah engga juga, itu kan tahun sekian, ada di buku nganu, atau film ngono.”

Ya, saya memang kejam. Suka bosan jadi orang baik. Eh.

Originalitas dalam bentuk ide, tentu masih ada. Tapi inspirasi di balik ide tersebut, bisa saja tidak pernah original. J.R.R Tolkien, penulis cerita fantasy saga “The Lord of The Rings” mendapat banyak inspirasi dari perang dunia pertama. Pada PD I, Tolkien ikut berperang sebagai salah satu anggota pasukan British Army. Adegan-adegan kolosal peperangan antara para makhluk di Middle Earth, seperti manusia, Elf, Dwarf dan sebagainya, diambil dari pengalaman pahitnya ikut bertempur di The Battle of Somme, di mana Inggris harus kehilangan 400 ribu anggota pasukan.

Toh, ketika kita membaca atau menonton kisah TLOTR, tetap saja ide Tolkien begitu mengagumkan. Ia membangun sebuah dunia fantasi, yang ia sebut “Middle Earth”. Ia menciptakan berbagai karakter aneh dan menarik, serta membangun plot cerita yang solid.

Menutup curhatan pagi ini, teruslah menulis hai kalian. Pelajari banyak tulisan, bacalah banyak buku atau bacaan lainnya, dan banyaklah berlatih.

Siapa tahu suatu hari, ada satu atau banyak tulisan kita yang bisa menggugah dunia. Mana tahu originalitas ide kita, yang terinspirasi dari sesuatu atau seseorang, mampu membuat kita menjadi penulis hebat.

Jika belum, paling tidak kita takkan menyesal, sebab sudah melakukan apa yang kita sukai secara maksimal.

Dan jangan lupa, menulis itu menyenangkan. Maka, bersenang-senanglah. Jangan dibawa baper.

 

 

Posted in menulis

Benarkah Isi Tulisan Mewakili Keseluruhan Penulisnya?


Kecurigaan Pembaca

“Any resemblance to persons living or dead is purely coincidental. This is a work of fiction and are either products of the author’s imagination or used in a fictitious manner.” (Houghton, HuffPost, 2015).

Anda mungkin sering membaca rangkaian kalimat di atas sebagai pembuka sebuah novel atau film. Rangkaian kalimatnya bisa serupa atau sedikit bervariasi, namun intinya menyampaikan pesan yang sama: “Ini cuma fiksi loh, jadi kalo ada kesamaan dalam bentuk apapun, percayalah itu hanya KEBETULAN belaka.”

Dulu, saya sempat menyangka kalimat model begini hanya diperuntukkan untuk karya fiksi yang diangkat dari kisah nyata. Untuk menghindari ghibah mengenai tokoh asli atau kejadian aslinya, namun ternyata tidak begitu. Pasalnya, karena masih banyak dari kita, sebagai pembaca atau penonton, yang saking terhanyut dalam cerita, menyebabkan kita bertanya-tanya : “Ini beneran?”

Fiksi yang sejatinya dianggap sebagai imajinasi, bisa sangat berpengaruh dan memberikan banyak pengaruh. Di tahun 1938, terjadi kepanikan di New Jersey, salah satu negara bagian di Amerika. Dari siaran salah satu radio, penyiar mengumumkan telah terjadi serangan makhluk Mars ke bumi. Penyiar menyebutkan makhluk Mars muncul dari sebuah pesawat aneh dengan bentuk fisik yang mengerikan. Semuanya disampaikan dengan iringan musik yang mencekam.

Malam itu juga, banyak warga panik dan memutuskan untuk melakukan evakuasi. Kantor polisi diserbu banyak orang yang meminta perlindungan. Tak berapa lama, barulah terungkap bahwa siaran radio yang dimaksud adalah sandiwara radio, “The War of The Worlds” yang diadaptasi dari novel H.G Wells.

Ini membuktikan bahwa memang pembaca atau penonton atau pendengar, selalu diliputi kecurigaan bahwa ‘jangan-jangan ini benar’. Maka jangan heran, bila selama menulis, pembaca Anda akan selalu bertanya kebenaran dari apa yang Anda tulis.

Ketika saya menulis “Ros dan Chandra” (2019), beberapa teman suami menanyakan, apakah kisah cinta di sana adalah kisah cinta kami. Ketika suami menjawab “Bukan”, salah seorang temannya bertanya kembali, “Apakah ini kisah cinta istrimu dan mantannya?”

Kami tertawa saja waktu itu, dan tidak menyalahkan siapapun yang mengajukan pertanyaan apapun. Saya jadi membayangkan pertanyaan macam apa yang selalu mampir di Direct Message atau kotak pesan para penulis terkenal. Mungkin tidak jauh-jauh juga dari situ.

Saya sangat menyukai tokoh Lintang dalam kisah “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata. Hingga, saat Andrea Hirata berkunjung ke Masjid Salman ITB Bandung, saya menjadi salah satu penanya. Pertanyaan saya adalah, “Apakah Lintang tokoh nyata atau fiksi?” Andrea hanya menjawab, “Lintang itu ada.” Pendek saja.

Mengingat kejadian itu, rasanya saya ingin tertawa. Sebab sebetulnya itu pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan. Pada saat itu memang saya sedang bertindak sebagai salah satu penggemar. Andaikan saya bertemu J.K Rowling, barangkali pertanyaan saya adalah, “Mbak, nanya dong: uang bangunan Hogwarts bisa dicicil berapa kali? Kok saya belum dapet surat penerimaan, sih?”

Mengapa sebagai pembaca, kita selalu curiga bahwa apa yang ditulis penulis merupakan kisah asli? Bisa jadi karena saking menariknya tulisan itu, sehingga membuat pembaca terhanyut, atau karena deskripsinya yang terlalu nyata.

Salahkah ini? Menurut saya, tidak. Sebagai penulis, ini hanyalah satu dari sekian risiko yang harus dihadapi. Selain saran, dan kritik pedas karetnya dua, tentu saja.

Sisi Penulis

Membahas kecurigaan pembaca, tentu akan lebih seimbang jika kita juga membahas dari sisi penulis. Mari kita mulai dengan pertanyaan: “Apakah penulis mengambil tema yang memang dekat dengan kehidupannya?”

Pertanyaan susulannya sebagai berikut:

  • Apakah karakter dalam tulisannya didasarkan pada tokoh nyata?
  • Apakah kisah yang ia tulis adalah betulan kejadian yang ia alami?
  • Apakah kisah yang ia tulis ia maksudkan untuk tujuan tertentu?
  • Apakah kisah yang ia tulis MEWAKILI keseluruhan dirinya sebagai penulis?

Jika Anda mengira saya akan menjawab semua pertanyaan di atas, Anda keliru. Sebab yang bisa menjawab hanya penulis yang bersangkutan.

Pun begitu, dari dua artikel yang saya baca pagi ini, ada ulasan di Huffington Post yang cukup banyak membahas soal ini.

Memang betul, para penulis menciptakan karakter fiksi, sebagai hasil dari imajinasi mereka. Entah setelah bertapa tujuh hari tujuh malam, atau dapat dari wangsit mimpi. Namun, sifat-sifat yang mereka lekatkan pada karakter ciptaan, boleh jadi tidak jauh-jauh dari dunia mereka sendiri.

Winnie The Pooh, adalah tokoh beruang baik hati yang bersahabat dengan beberapa binatang lainnya. A.A Milne menciptakan tokoh ini dari anaknya sendiri, Christopher Robbin Milne. Milne sering memerhatikan Christopher memainkan boneka-boneka kesayangannya, memberinya nama-nama. Bahkan nama anaknya sendiri kemudian ia jadikan salah satu tokoh dalam kisah yang sama. Jadi, jika Anda suka membaca atau menonton kisah ini, ingatlah bahwa Christopher Robbin adalah anak asli penulisnya sendiri.

Anne Rice, penulis Vampire Cronicles  menyatakan tokoh Lestat (ingat film Interview with A Vampire?) ia buat berdasarkan suaminya sendiri, yang juga berambut pirang dan memiliki tanggal ulang tahun yang sama. Mirip dengan J.K Rowling dan Harry Potter yang sama-sama berulang tahun pada 31 Juli.

Stephen King, selalu “menitipkan” emosi dan ketakutan personalnya pada setiap kisah yang ia tulis. Ketakutannya pada laba-laba, kegelapan, elevator dan lain sebagainya. Setelah membaca memoarnya “Stephen King on Writing”, setiap kali saya menonton ulang film-filmnya, saya serasa beneran masuk ke alam bawah sadarnya King. Ya ampun seperti ini toh, ia bereksplorasi dengan ketakutannya sendiri.

Penulis juga mau tak mau akan memasukkan banyak pengetahuan dan latar belakangnya sendiri ke dalam tulisan. John Grisham berlatar belakang pengacara, oleh karenanya, novel-novelnya selalu mengusung genre hukum. Mira W, berlatar belakang kedokteran, maka tokoh-tokoh ciptaannya selalu seorang dokter. Meskipun tak menutup kemungkinan, karena ketidakterbatasan imajinasi, tokoh apapun bisa diciptakan seorang penulis.

Apakah setiap tulisan dimaksudkan untuk tujuan tertentu? Bisa jadi. Para penulis fiksi Islami, membatasi diri mereka untuk selalu menulis dalam koridor yang sama. Sebab mereka ingin berdakwah lewat tulisan. Ini tentu tidak salah. Sama seperti saya, yang selalu ingin semua pembaca yang mampir ke tulisan saya, paling tidak mendapatkan sedikit manfaat dari yang saya tulis. Setidaknya wawasan bertambah.

Setiap penulis memiliki kebebasan untuk menulis apapun, membuat karakter apapun, menyematkan sifat apapun, menyertakan latar belakang dan pengetahuan apapun, dalam genre apapun. Namun penulis juga harus mau menerima, bahwa apa yang ia tulis, boleh jadi menciptakan ‘jejak’ yang akan dilihat pembaca. Ada cetak biru yang mewarnai, sehingga mau tidak mau pembaca akan mampu melihat cara pandang dan wawasan yang memengaruhi si penulis.

Yah, kecuali penulis tipe bunglon, sih. Jenis yang bisa menulis dalam pelbagai genre sehingga pembaca kesulitan menyelami aslinya dia seperti apa. Di luar itu, ini sebuah premis yang menurut saya, sah-sah saja untuk dibuat. Tentu, ini bukan tuduhan, sebab ini pun asumsi yang saya buat. Jika memang penulis menyatakan itu fiksi, ya sudah diterima saja.

Sebagai penutup: meskipun kedalaman karakter seorang penulis bisa kita selami dari tulisannya, namun membuat kesimpulan bahwa itu adalah perwakilan diri si penulis seutuhnya, adalah kurang tepat. Sebab Agatha Christie bukan seorang pembunuh atau detektif, Dan Brown bukan seorang profesor simbologi yang jago berenang, James Patterson bukan psikolog profiler FBI, Thomas Harris bukan seorang psikopat, dan seterusnya.

Sejumput warna yang terlihat, tak selalu menggambarkan keseluruhan lukisan.

Salam.

 

*saya pernah menulis soal “Fakta atau Fiksi” dalam bahasan yang agak berbeda di sini*

 

 

Posted in menulis, tips menulis

Pengenalan dan Pengembangan Karakter Fiksi -tips menulis


Ketika memutuskan menulis cerita fiksi, apa yang Anda lakukan pertamakali?

Memikirkan jalan cerita atau menentukan karakter?
Pada umumnya orang akan memikirkan jalan cerita terlebih dahulu. Paling tidak, kita sudah tahu kisah yang akan kita sajikan, berikut konflik dan penyelesaiannya. Pun begitu, dalam kesempatan berbeda, keputusan kita menulis fiksi, boleh jadi dilatarbelakangi karena sebuah karakter.

Misalnya, ketika melihat seseorang yang sangat menarik (dalam kehidupan nyata), mungkin kita jadi penasaran, bagaimana menuangkan tokoh tersebut menjadi seorang karakter fiksi. Artinya, kita berangkat dari tokoh, untuk kemudian kita kembangkan menjadi cerita utuh.

Karakter tokoh adalah hal yang krusial dalam cerita fiksi. Bagaimana tidak? Mereka adalah para pelaku yang mengalami pelbagai kejadian imajiner yang kita timpakan. Entah itu karakter protagonis, antagonis atau sekadar pemeran pendukung.

Dalam setiap cerita, tokoh utama memegang kendali atas kisah yang diceritakan. Jika ia adalah tokoh baik alias antagonis, maka ia akan menyandang beberapa “nilai” yang penulis sematkan. Entah itu tampan, cantik, pintar, baik, atau teraniaya. Ia mewakili sisi positif superhero yang menjadi sentral cerita. Sisanya kemudian akan ada tokoh protagonis, yang biasanya dibenturkan dengan si superhero dalam sebuah konflik. Sisanya, pemeran pendukung.

Apakah pemeran utama selalu harus memiliki moral value?

Dulu, mungkin iya. Sekarang, tidak juga.

Jika Anda perhatikan, banyak karya-karya lama yang diterbitkan dalam bentuk tulisan atau ditayangkan dalam bentuk tontonan, menganut asas hitam versus putih. Tokoh baik akan digambarkan sebagai pemuda tampan yang baik hati dan kaya raya (kalau bisa, jago berantem juga). Sementara, tokoh antagonis adalah kebalikan darinya. Tidak begitu tampan, mungkin kaya tapi sombong, dan jahat. Seolah dunia hanya terbagi dua warna saja, hitam dan putih.

Contohnya: tengoklah novel-novel angkatan lama, sampai sekitar awal tahun 2000. Film juga sama. Hitam dan putih dalam perfileman terasa sangat kental hingga awal tahun 90-an.

Bagaimana dengan sekarang?

Banyak tokoh utama dalam cerita, yang malah sengaja ditonjolkan sisi kemanusiaannya. Mungkin ia agak psycho, mungkin rapuh, mungkin punya banyak kelemahan. Dengan kata lain, karakter seperti ini betul-betul dibuat humanis, sehingga pembaca atau penonton akan merasa dekat dengan para tokoh semacam ini.

Zaman sekarang, bahkan tokoh penjahat pun bisa menjadi tokoh utama.

Anyway, mau berpijak pada pakem manapun, ada hal yang lebih urgen lagi, yaitu tak lain dan tak bukan, masalah pengenalan dan pengembangan karakter tokoh fiksi.

Maksudnya, apa sih?

Ya, tokoh yang Anda ciptakan itu, harus memiliki pijakan yang kokoh sebagai seorang tokoh. Seperti layaknya manusia normal, ia harus punya “hidup”. Ini nantinya berkaitan dengan alur cerita dan logika yang terbangun di sepanjang kisah.

Bagaimana cara mengembangkan karakter tokoh fiksi kita? Apakah dengan cara memberikan narasi lengkap tentang biodata dirinya kepada pembaca di awal tulisan, atau dibuat deskripsi lengkap seperti latar belakang yang Anda buat dalam proposal skripsi?

Sini, Alejandro, saya bisikkan tips dan trik membangun karakter fiksi, supaya terkesan “smooth” dan tidak dipaksakan.

  1. Deskripsi

Teknik ini sepertinya paling umum digunakan. Deskripsi tokoh harus sampai sejauh mana sih? Tergantung penulisnya. Mau lengkap atau selintas, itu adalah keputusan si penulis.

Contoh:

1.Lelaki berkulit legam itu bernama Eman. Eman, saja. Tanpa ada nama belakang. Jangankan nama belakang, hari kelahirannya saja dia tak tahu. Maklum, dibesarkan di panti asuhan, telah merampas haknya untuk mengetahui latar belakang hidupnya. Eman kini duduk di hadapanku, dengan wajah pucat pasi. Baju dan celananya yang penuh noda tanah dipastikan akan mengotori sofaku yang baru dibeli dua bulan lalu. Napasnya yang ngos-ngosan menandakan ia langsung berlari dari lokasi proyek, untuk menemuiku.

2.Kulirik Rolex Daytona 40 mm, yang melingkari pergelangan tangan kananku. Oh, shit! Pada terlambat nih orang-orang sialan. Kulonggarkan dasi di leherku yang tiba-tiba terasa mencekik. Tengah hari belum juga datang, namun tubuhku sudah lelah bahkan sebelum board meeting dimulai. Aku mencoba memusatkan konsentrasiku kepada dua lembar kertas yang ada di saku celana panjangku. Dua tiket konser Java Jazz Festival malam nanti. Untukku, dan Joana.

Dalam deskripsi di atas, apa yang bisa kita simpulkan?

Pada deskripsi pertama, kita mengenal Eman. Eman adalah seorang pekerja bangunan berusia paruh baya. Mungkin 40-50 tahun, kita tidak tahu pasti. Kita tahu bahwa ia berasal dari masyarakat golongan bawah, dan ia dibesarkan di panti asuhan.

Sedangkan pada deskripsi kedua, kita diperkenalkan pada seorang tokoh lelaki (sebab ia memakai dasi dan celana panjang, konsepsi umum), yang belum ketahuan namanya, selain ia memiliki seseorang yang spesial bernama Joana. Kita tahu bahwa lelaki ini bekerja di sebuah perusahaan dan jabatannya mungkin sudah tinggi, menimbang jam tangan yang ia kenakan adalah merek mahal.

Kedua deskripsi di atas sangat bisa dipahami pembaca, tanpa harus melakukan pemaparan terlalu gamblang.

  1. Dialog : Mengembangkan karakter tokoh juga bisa dilakukan melalui dialog.

Contoh:

“Lex! Tungguin! Hosh … hosh …” Wajah Tito kemerahan.

“Cepatan siih … lelet amaaat … baru juga segitu.” Alex mencibir.

“Gu… gua blom sarapan Lex … duh perut kosong nih …”

“Dusta aja lo! Itu lontong sayur sama bakwan, lu sebut apa?”

Tanpa narasi apapun, kita tahu bahwa Tito dan Alex adalah teman (mungkin sahabat, sebab gaya bicara mereka sudah sedekat itu). Alex lebih bugar, dan Tito senang mencari alasan. Mungkin juga Tito lebih banyak makannya dari Alex.

  1. Ciri dengan diksi tertentu

Kita juga bisa menyematkan diksi tertentu yang berfungsi sebagai “ciri” dari tokoh kita. Diksinya bisa apa saja, tergantung kita sendiri.

Contoh:

  • Gadis remaja yang selalu kulihat berjalan di depan rumahku itu, selalu mengikat rambutnya dengan seutas pita merah.
  • “Cuh!” Entah sudah yang keberapa kali, namun kebiasaan Herman meludah ke tanah itu, sungguh menjijikkan.
  • Aku mengenalinya, dari cara dia menggeser kacamatanya ke atas hidung. Untukku, dia terlihat sangat seksi.
  • Pak Agus, guru olahraga kami, yang masih terlihat fit di usianya yang tak lagi muda, senang sekali memamerkan ‘roti sobek’ alias six pack perutnya. Kemudian ia akan menyombongkan prestasinya di kala muda, menjadi atlet Porda.

Pada semua contoh di atas, karakter yang kita ciptakan kita bekali dengan ciri khusus, berupa sesuatu yang biasa mereka kenakan, atau lakukan.

  1. Perantara tokoh lain

Terkadang, kita bisa ‘meminta bantuan’ tokoh lain untuk memperkenalkan tokoh utama kita, atau sebaliknya. Dengan kata lain, memakai point of view yang berbeda.

Contoh:

  • “Dion? Oh dia kakak kelasku di SMA. Baik orangnya, termasuk siswa berprestasi loh,” kedua mata Dinar berbinar-binar saat menceritakannya.
  • Sudah lima tahun kami tak bertemu, namun perempuan itu masih terlihat sama di mataku. Seolah waktu tak pernah beranjak pergi dan memenjarakannya dalam keabadian. Rambutnya masih tergerai indah hingga ke belakang punggung, langkahnya masih terlihat anggun.
  1. Penjabaran perasaan

Teknik ini melibatkan eksplorasi panca indera untuk menjabarkan karakter lewat perasaan mereka. Gunakan diksi yang akan membuat pembaca merasa seolah-olah mengalami apa yang dialami karakter kita.

Contoh:

“Kejadian mendadak barusan sukses menyisakan sesak di dadaku. Masih bisa kurasakan sentuhan tangannya di bahuku saat ia melangkah pergi. Aku memejamkan mata, merengkuh semua kenangan yang pasti menyakitkan, namun selalu kurindukan. Kerongkonganku tiba-tiba tersumbat, membuatku tersedak. Aku terbatuk, dan menyadari pandangan mataku mengabur tertutupi cairan bening airmata tanpa kuundang.”

Sejujurnya teknik-teknik di atas barangkali bukan hal baru. Saya percaya, teman-teman yang suka menulis sudah pernah mencobanya dalam tulisan, meski tanpa dilabeli ‘teknik’.

Uraian di sini pun masih sangat kurang, sehingga saya sangat menyemangati kalian untuk terus membaca dan memelajari lebih banyak ragam tulisan beserta panduan “how to” nya, alias bagaimana melakukannya.

Seperti biasa, kritik dan saran dianjurkan.

Mari berdiskusi.

 

 

 

 

 

Posted in 30 Hari Menulis 2019, menulis, tips menulis

Eksekusi cerita supaya bagus : Sebuah persoalan


Seringkah Anda merasa, sudah punya ide cerita yang oke, tapi ketika dituliskan dan dibaca kembali, kemudian tiba-tiba Anda merasa depresi?

Sebab ketika sudah tertuang dalam bentuk tulisan, ide Anda yang gilang gemilang itu ternyata b-ajah. Se-b ajah segala rupa makanan yang selalu diselipkan green tea.

*kemudian diserang jamaah penyuka green tea*

Ide cerita oke yang tidak kompatibel dengan eksekusi menawan, memang sebuah hal yang sering terjadi pada kita, para penulis banyak gaya.

Kita??? Yakin??

Mengapa itu bisa terjadi, Marimar?

Karena eh karena, kita tidak atau lupa memerhatikan hal-hal berikut ini.

Saya coba mendatanya dalam daftar, beserta solusinya. Berhasil tidaknya nanti, kita lihat saja.

1. Pengembangan ide kurang maksimal
Prolog oke, bahkan cenderung mencengangkan, bikin pembaca penasaran. Setelah paruh kedua cerita, apalagi menjelang ending, malah melempem. Hasil akhir :  antiklimaks.

Solusi:
Biasanya ini terjadi ketika penulis kurang berani mengekplorasi cerita. Maka, pelajari kisah-kisah yang menurut Anda bagus, lihat sampai sejauh mana atau seberani apa si penulisnya mengembangkan kisah.
Bila perlu, dengan ide yang sama, buatlah beberapa plot alternatif, kemudian bandingkan; mana yang lebih keren.

Buatlah sinopsis cerita lengkap, kalau perlu buat timeline. Jadi, kita sudah tahu mau nulis apa dari awal.

2. Bingung meneruskan cerita, akhirnya mentok di tengah jalan, alhasil cerita ga ke sana ataupun ke sini. Persis rangorang yang terjebak antara dua kubu : bubur diaduk vs tak diaduk.

Ada beberapa penulis yang tak suka membuat kerangka cerita, melainkan langsung eksekusi. This is totally fine. Saya juga sering seperti itu. Namun bila Anda jenis penulis yang tidak pandai berimprovisasi, sebaiknya jangan.

Solusi:
Biasakan membuat kerangka atau outline cerita
Secara sederhana, cerita apapun hanya terdiri dari tiga tahap : prolog cerita – konflik (dan penyelesaiannya)- ending cerita.

Misal:
Tokoh A dan B, hubungan Ibu dan anak.

Konflik : bagaimana A dan B harus bertahan hidup berdua di tengah kemiskinan, sebab si ibu seorang single parent, mereka memiliki banyak masalah.

Ini premisnya sudah bagus. Anda tinggal memikirkan bagaimana cara menyampaikan konflik dan mengeksplorasinya.

Apakah si tokoh akan dibuat menya -menye dan hobinya nangis tiap diintimidasi oleh debt collector? *ceritanya mereka banyak utang*

Atau mau dibuat tangguh meski diterjang badai (bukan Kerispatih)?

Endingnya belum ketahuan nih. Ya gapapa, nanti juga keliatan apa mau dibuat happy ending, sad ending atau open ending (apaan itu banyak banget jenis endingnya? Gugling atuh Bapak, Ibu … jangan manja!)

3. Pemilihan diksi yang tidak tepat.
Terkadang ada banyak ide cerita yang menarik, namun ketika dibaca kok membosankan ya?

Bisa jadi masalahnya ada di DIKSI.
Diksi itu adalah jenis kata yang kita pilih. Ini satuan KATA loh ya, bukan kalimat.

Contoh;
Untuk aktivitas “melihat” yang dilakukan panca indera bernama MATA, ada begitu banyak diksi yang bisa kita pilih:

Melihat, memandang, melirik,menatap, melotot, mengerling, bersitatap, bersirobok, membelalak, menyipit, dll.

Percaya atau tidak, semua kata yang saya contohkan di atas, jika kita sematkan dalam kalimat, punya efek yang berbeda-beda.

Contoh:
Kita ingin menggambarkan seorang pemuda yang kaget melihat penampilan baru pacarnya yang tiba-tiba aneh, kira-kira kalimat mana yang lebih cocok dipakai di bawah ini:

a. “Surprise!” gadis centil itu memamerkan rambut barunya yang di-highlight dengan pelbagai warna, membuat pacarnya melotot tiba-tiba.

b. “Surprise!” gadis centil itu memamerkan rambut barunya yang di-highlight dengan pelbagai warna, membuat pacarnya membelalak tiba-tiba.

Kedua kata di atas sah-sah saja dipakai.

Pada kata “melotot”, sebagai pembaca, kita paham bahwa si pacar merasa marah karena penampilan gadisnya. Mengapa kita tahu ia marah? Sebab “melotot” biasanya berkonotasi dengan amarah.

Sedangkan pada kata “membelalak” kita tahu bahwa si pacar kaget luar biasa. Marah atau tidaknya, belum tentu.

PR buat penulis : Anda ingin menghasilkam efek yang mana?

4. Gaya menulis yang itu-itu saja.

Banyak penulis mengawali kalimat pembukanya dengan “ pada suatu hari” atau “ketika” atau deskripsi panjang membosankan. Sehingga belum membaca sampai paragraf kedua, pembaca sudah menguap dramatis dan memutuskan untuk tidur saja.

Ini bisa disiasati dengan banyak mengeksplorasi kalimat awal (saya sudah pernah menulis soal ini) dan atau memerhatikan gaya para penulis yanh sudah jempolan. Kemudian banyak berlatih. Sebab, konon kabarnya bakat itu hanya 1 %, sisanya kerja keras.

5. Bacaan kurang, sehingga yang ditulis jadi hambar, kurang gizi. (makanya jangan makan MSG teroos-kata mamak)

Pernah tidak, Anda membaca tulisan dengan ide yang sama persis dengan kepunyaan Anda, namun entah kenapa tulisan orang yang Anda baca itu, berkali-kali lipat lebih bagus dari punya Anda?

Nah boleh jadi, Anda kurang banyak membaca.

Penulis yang banyak membaca, kualitas tulisannya cenderung lebih jernih, runut dan enak dibaca. Pemilihan diksinya beragam, flow tulisan mengalir, logika cerita terjaga dan penulisan rapi.

Nah tuh, sudah dijembrengin!
Sudahkah Anda melakukannya?

Dengan banyak membaca, kosa kata kita bertambah, artinya ketika nanti kita menulis, tulisan kita akan terasa lebih kaya dan bergizi.

Menulis itu kan ibarat menuang (kalo kata salah satu mentor menulis saya) nah dari mana kita punya bahan untuk menuang? Ya dari membaca. Membaca itu proses mengisi.

Apa yang mau dituang kalau isinya saja tak ada?

Apa yang mau dimasak kalo bahan makanannya saja kita belum beli ke pasar?

Gimana mau dilamar atau melamar sedangkan usaha pendekatan aja ga pernah?

Begitulah kura-kura.

6. Hal-hal teknis yang sering diremehkan

Deuuuh ini nih penyakit banyak orang.

KZL.

TANDA BACA, TYPO atau salah ketik, SPASI terlalu rapat, PARAGRAF terlalu panjang, banyak EJAAN yang salah.

Ingat, tujuan kita menulis itu minimal menghibur pembaca, syukur-syukur pembaca bisa mendapatkan pesan moral kek, ilmu baru kek.

Ini boro-boro menghibur, yang ada nyiksa.

Ketika dibaca, langsung depresi lihat tanda baca amburadul, spasi bikin mata kelilipan, paragraf gemuk bikin ngantuk.

Ondeh mandeh Tuesday
Bertobatlah HEY!

Ingatlah bahwa pembaca itu seperti klien yang memakai jasa kita, dan jika mereka puas, kita pun senang,yekaaaan.

Siapa sih yang tidak senang ketika tulisan dibaca orang kemudian ada yang komen:

“Kak tulisannya keren, deh!”

Seneng kaaan.

“Kakak kok, tulisannya bagus, bikin hatiku hangus …”

“Eh?”

“Hangus oleh api asmara.”

uwuwuwu

Posted in 30 Hari Menulis 2019, menulis

Tips Menulis : Logika Bercerita


#30HariMenulis2019_Hari_14

“Setidaknya ada beberapa cacat logika dalam kisah ini:

  • tokoh Istri memutuskan pergi menjadi relawan ke negara yang sedang mengalami konflik, dan suaminya mengijinkan, hmm …. Kok agak aneh ya, dan karena ini embel-embel kisah Islami, bukannya harusnya tidak diijinkan pergi tanpa mahram? Kemudian setelah istrinya hilang, kok ga dicari? Kalo saya jadi suaminya, sudah saya ubek-ubek itu negara, buat cari istri saya.
  • ada tokoh yang kesulitan membayar les musik, kemudian dibayari secara diam-diam oleh si tokoh utama laki-laki. Di kemudian hari, si pemusik itu sukses dan berjanji akan mencari orang yang membiayainya bermusik. Sebagai rasa terima kasih, di sebuah wawancara TV, ia mengatakan jika yang menolongnya itu perempuan, maka akan dijadikan sodara, kalau laki-laki maka akan ia jadikan suami.
  • Ini cerita DAYANG SUMBI?? Sewajarnya, orang kalau dikasih pertolongan ya paling mengganti biaya yang sudah dikeluarkan, ga ujug-ujug minta dinikahin. Kalo yang bayarin ternyata sudah beristri empat, atau beda keyakinan, atau simply ga menarik, emang masih mau?”

Uraian di atas, adalah komentar saya, yang pernah disematkan dalam sebuah diskusi mengenai salah satu film Indonesia.

Film yang dimaksud (rahasia haha) memang diperdebatkan, sebab untuk banyak masyarakat Indonesia, kisahnya dianggap mengandung zat halusinasi tingkat tinggi (saya termasuk yang beranggapan begini). Sementara sebagian lainnya malah memuji film ini sebagai film Islami yang sarat akan nilai-nilai moral.

Saya menyebut film ini, memiliki banyak “cacat logika”. Seorang komentator kemudian membalas tulisan saya dengan mengatakan, “Memangnya film-film lain, misalnya Hollywood, tidak cacat logika? Contohnya, Mission Impossible? Ga mungkin dalam kehidupan nyata orang bisa melakukannya.”

Saya memutuskan tidak menjawab, sebab yang dia maksud dan yang saya maksud sudah jauh berbeza. Seperti kau dan aku, serta jurang perbedaan diantara kita, yang membuat kita tak mungkin bersatu (h.a.l.u).

Baik, mari kita bahas;  apa sih yang dimaksud dengan logika cerita? Ini khususnya untuk tulisan FIKSI ya.

FIKSI vs LOGIKA

Fiksi adalah cerita yang berdasarkan imajinasi. Maka ia tidak terikat erat dengan fakta. Artinya, jika Anda ingin menulis kisah mengenai:

  • superhero yang bisa menghilang, terbang, sangat kuat, bisa berubah jadi apapun yang dia mau.
  • Kerajaan fantasi, yang tak hanya dihuni oleh manusia, tapi juga makhluk-makhluk lainnya.
  • Dunia binatang, dimana semua binatang bisa bicara dan berkehidupan layaknya manusia.

INI BOLEH.

Mengapa tidak? Namanya juga fiksi.

Meskipun nanti ada pelbagai genre fiksi, seperti FIKSI ILMIAH, FIKSI SEJARAH atau FIKSI BIOGRAFIS.

Dalam fiksi ilmiah, penulis banyak menggabungkan fakta pengetahuan/sains dan mengembangkannya dengan imajinasi. Misalnya film-film seperti Interstellar, Arrival, Independence Day, dll. Untuk buku, misalnya Time Machine (H. G Wells), Timeline (Michael Crichton), Supernova series (Dee).

Fiksi Sejarah, berarti menulis kisah imajiner dengan latar belakang sejarah. Semua fakta sejarah yang dimasukkan penulisnya betulan terjadi, namun tokoh utama dan plot kisah yang ia tulis, tidak harus nyata.

Novel Senopati Pamungkas, karya Arswendo Atmowiloto, saya rasa adalah contoh yang bagus untuk genre ini (berlatar kerajaan Singosari).  Atau novel-novel Dan Brown, yang spesialisasinya soal teori konspirasi. Brown banyak memasukkan fragmen-fragmen sejarah dunia yang memang pernah terjadi.

Fiksi Biografis, adalah soal hidup seorang tokoh. Film-film biopic (tentang hidup seseorang) banyak yang memasukkan unsur ini. Apakah semuanya fiksi? Tidak. Tapi mungkin ada unsur dramatisasi lebih mengenai hidup si tokoh, supaya lebih menarik.

Film Victoria and Abdul, yang berkisah tentang persahabatan Ratu Inggris dan seorang pelayan muslim India, banyak mengalami dramatisasi. Artinya, betulan terjadi, tapi beberapa unsur di dalamnya ditambahkan dengan tujuan membuat film lebih menarik.

Sampai sini kita paham ya, apa yang dimaksud dengan “fiksi tidak harus berdasarkan logika”.

Nah, kalau begitu apa sih yang dimaksud dengan LOGIKA CERITA?

Logika yang kita maksud di sini adalah penalaran umum yang berlaku dan menjadi common sense yang kita tahu dan kita sematkan dalam kisah yang kita tulis. Ingat, dalam kisah yang kita tulis.

Contoh :

Tokoh Harry Potter dalam kisah J.K Rowling adalah seorang anak yang tidak tahu bahwa ia sesungguhnya seorang penyihir. Harry hidup bersama paman dan bibinya sejak ia bayi, karena orangtuanya dibunuh oleh penyihir jahat, Lord Voldemort. Setelah berusia 11 tahun, Harry akhirnya mengetahui tentang dunia sihir dan sekaligus mengetahui rahasia hidupnya. Harry akhirnya menjadi penyihir yang berkali-kali bertemu dan berduel melawan Voldemort.

Jika Anda hanya berpikir soal logika, tok. Artinya, logis atau tidak logis, maka tentu kisah Harry Potter sama sekali tidak logis. Mana ada penyihir di dunia ini? Mana ada topi bisa ngomong? Tidak mungkin kita bisa menaiki sapu kemudian terbang.

Tapi secara logika cerita, hubungan sebab akibat yang terjadi dalam kisah Harry Potter, logis tidak? Runut tidak? Pembaca paham tidak?

Saat ia lahir, orangtuanya dibunuh. Karena khawatir, penyihir lain menitipkannya pada muggles (manusia non penyihir) agar ia tumbuh jauh dari jangkauan penyihir jahat. Setelah besar, ia kemudian membalas dendam.

Ada hubungan sebab akibat, ada timeline yang menjelaskan semua hal. Sehingga logika ceritanya nyambung.

Kita tidak harus repot-repot berpikir kenapa Harry bisa parseltongue, atau kenapa tikusnya Ron ternyata bukan tikus biasa. Tidak usah.

Seperti kita tak usah bingung memikirkan agent Ethan Hunt yang bisa gelantungan di Burj Kalifa, gedung tertinggi di Dubai, hanya mengenakan sarung tangan ajaib yang bisa nempel ke kaca. Kok bisa John McLane di Die Hard, sudah dibom, ditembak, dipukul berkali-kali tapi tidak mati. Tidak usah.

Selama logika ceritanya runut, nyambung, enak diikuti, kita bisa menulis bebas semaunya.

Memikirkan logika dalam cerita itu sederhananya adalah soal sebab dan akibat.

Misal, ketika Anda menulis tokoh seorang CEO perusahaan yang jatuh cinta pada gadis miskin (Cinderella complex, detected). Pasti Anda akan gambarkan CEO itu sebagai pemuda tampan dan kaya. Sah-sah saja. Tapi jika Anda menuliskan bahwa selain tampan dan kaya, ia sama sekali tak punya kelemahan, menurut Anda, itu mungkin tidak?

Akan lebih menarik jika, si CEO tampan dan kaya ini ternyata jutek dan tidak pedulian. Mengapa? Oh ternyata di masa lalunya, ia selalu diperlakukan tak adil di keluarga, atau pernah dibully saat sekolah.

Atau si CEO tampan dan kaya ini ternyata takut menikah. Mengapa? Mungkin trauma ditinggal pacar, atau tuntutan orangtua terlalu tinggi, atau apalah. Ketika kita mengembangkan kisahnya, misalnya: Bagaimana pertemuan si CEO dengan gadis miskin yang nanti ia cintai?

Beberapa alternative pertemuan:

  1. Bekerja di perusahaan yang sama = oke.
  2. Dikenalkan teman = oke
  3. Mereka ternyata pernah satu sekolah = oke.
  4. Si gadis pernah menemukan dompet CEO di jalan dan mengembalikan = oke.

Alternatif-alternatif di atas bisa jadi berpotensi cacat logika, bila:

  1. Si gadis miskin sebetulnya tidak memiliki kualifikasi untuk diterima bekerja, tapi karena iba, setelah melihatnya makan nasi campur garam, akhirnya HRD memutuskan menerimanya. TETOOOT!
  2. Si gadis miskin dikenalkan lewat temannya si CEO. Karena tertarik dengan bajunya yang lusuh, akhirnya CEO tak berhenti memikirkan gadis ini, kemudian minta nomor teleponnya dan jatuh cinta. TETOOOOOT! Ini mah kalo kasian, ya dikasih duit aja, bukan dijadikan pacar. Akan lebih logis, ketika misalnya ada banyak pertemuan berikutnya yang membuat CEO merasa gadis ini menarik.

Untuk contoh C dan D bisa dibayangkan kira-kira mana yang lebih masuk nalar/logika untuk plot kisahnya.

Paling penting adalah bagaimana bisa menyajikan kisah yang runut dan tanpa plothole. Plothole itu lawannya logika dalam cerita.

Plothole apaan sih?

In fiction, a plot hole, plothole or plot error is a gap or inconsistency in a storyline that goes against the flow of logic established by the story’s plot. Such inconsistencies include such things as illogical or impossible events, and statements or events that contradict earlier events in the storyline. (sumber dari Wikipedia di sini)

Jika diterjemahkan:

Plothole adalah ketidakkonsistenan dalam plot cerita yang bertentangan dengan alur logika yang terentang di dalamnya. Contoh ketidakkonsistenan ini misalnya, kejadian-kejadian yang tidak logis, atau pernyataan yang kontradiktif dengan kejadian sebelumnya dalam cerita.

Contoh paling gampang adalah, dari sinetron Indonesia.

X : “Halo? Halo? Apaaa?? Dirawat di rumah sakit??”

Kemudian X berlari tergesa-gesa. Adegan berikutnya ia sudah berdiri pucat pasi di depan pasien, mengobrol dengan dokter.

Pertanyaannya : di rumah sakit mana yang dimaksud? Apakah Borromeus, atau Advent atau RSHS?

Contoh lain mengenai ketidakkonsistenan misalnya:

Seorang tokoh yang dingin, jutek, tukang marah-marah, dibenci semua orang di kantor. Saat bertemu seorang gadis, ia tiba-tiba berubah drastis menjadi baik hati karena jatuh cinta padanya.

Pembaca bingung. Ini kenapa tiba-tiba berubah? Oh, keknya dia dapet hidayah.

Sebetulnya, premis cerita di atas oke-oke saja, asal misalkan ada adegan-adegan ketika si tokoh dingin mengalami konflik batin ketika bertemu si gadis, sebab si gadis berbeda dari gadia-gadis lainnya. Atau ia menjadi jutek karena kehilangan adik perempuannya, yang ternyata mirip dengan si gadis, atau bla bla bla. Intinya, bangunlah logika sendiri dengan syarat konsisten dengannya.

Khawatir kepanjangan, saya cukupkan dulu sampai di sini, berikutnya kita akan bahas soal “mengeksekusi ide cerita supaya menarik.”

Tetap menulis dan disiplin melakukannya.

Salam literasi!

Word count : 1423

 

*ini ada tautan soal logika dalam cerita, ditulis dengan menyertakan contoh-contoh yang bagus*

https://forum.idws.id/threads/masalah-logika-di-dalam-cerita-fiksi.35322/

 

 

Posted in 30 Hari Menulis 2019, menulis

Sejiwaku


#30HariMenulis2019_Hari_1

Sejiwa-Coffee-Bandung

Di Bandung, ada kedai kopi dengan interior modern, bernama “Sejiwa Coffee”. Kedai yang terletak di Jalan Progo ini, pertamakali saya dengar, karena Presiden Jokowi sempat berkunjung ke sana. Kali kedua, saat dua orang teman mengajak saya ke sana untuk ngopi-ngopi cantik. Tak hanya itu, saya juga ditraktir. Bagian terakhir memang yang paling penting.

Saya penggemar kopi hitam, terima kasih. Alasannya sederhana, sebab saya tak bisa minum susu. Maka, segala macam minuman manis dengan aneka latte art dan sebagainya itu, bukan pendamping nongkrong yang cocok untuk saya.

Kopi Americano di Sejiwa Coffee, termasuk kopi hitam yang saya suka. Ia pekat, tidak encer dan pas sekali ketika ditambahkan gula satu sachet. Oh ya, saya tetap memasukkan gula, entah kenapa. Padahal tetap rasa yang saya cari adalah pahitnya, mungkin ada semacam tombol otomatis dalam otak saya, yang memerintahkan untuk menambahkan gula, meski sedikit saja. Semacam aksen yang butuh untuk ditambahkan. Seperti jerawat di wajah seorang gadis belia yang beranjak remaja : manis.

Menikmati kopi hitam di Sejiwa Coffee, biasanya ditemani aneka pastry yang ada di sana. Ada berderet-deret potongan cake mungil dan roti hangat di dalam etalase di dekat kasir. Favorit teman saya adalah croissant, atau chocolate cake. Favorit saya adalah mencomot pilihannya. Begitulah terkadang diri ini. Tiada rasa malu sama sekali.

Kopi hitam dan cake yang rasanya manis lumer di lidah itu perpaduan yang amat sangat serasi, dunia dan akhirat.

Begitu pula perasaan saya terhadap menulis.

Mengapa saya merasa butuh untuk menulis? Sampai-sampai berani menyematkan tagline “Menulis Setiap Hari” di salah satu blog yang saya punya? Ya, karena itu.

Saya, tanpa menulis, seperti kopi hitam panutanku, tanpa cake manis, atau croissant, atau “bala-bala haneut”, atau pisang goreng, atau apapun camilan yang sekarang melintasi kepalamu saat kau membaca ini. You name it.

Menulis, membantu saya mengurai benang-benang kusut yang berkelindan di otak, yang perlu diluruskan, dibentangkan, disatukan atau malah dipisahkan. Hal-hal yang tadinya hanya berupa lintasan hati atau perasaan atau hanya sekadar ide yang tiba-tiba CRING! melintas di lobus frontal[1], kemudian bisa menjelma menjadi sesuatu yang lebih bermakna.

Menulis juga menjadi terapi emosi saya pribadi. Segala gejolak rasa yang butuh pelampiasan, semua keresahan jiwa yang butuh tersalurkan. Cobalah ini, kapan-kapan ketika kau merasa sedih atau galau, menulislah. Setelahnya, mungkin kau akan merasa lelah, sebab sejatinya kau baru saja curhat kepada dirimu sendiri dengan sebebas-bebasnya.

Menulis adalah salah satu serpihan jiwa saya, selain si dia. My other half. Ahiw!

“30 Hari Menulis” adalah salah satu portal dimana saya menulis. Setiap tahun, selama bulan Juni (meski mungkin tak ditemani puisinya Sapardi Joko Damono), saya akan bersama-sama dengan banyak orang lainnya, mencoba menulis dan belajar. Sebab sejatinya semua orang adalah pembelajar, dari sisi manapun dan apapun yang sedang dikerjakan.

Menulis terus menerus tanpa jeda selama 30 hari, disertai tenggat waktu yang hanya 24 jam, itu berat. Tak semua orang mampu melaksanakannya. Maka, saya yakin siapapun yang sudah berani menerima tantangan ini, bukanlah warganet kelas biasa, melainkan sudah luar biasa.

Semoga semua peserta kegiatan 30 Hari Menulis 2019 bisa terus menulis dan semakin mencintai menulis.

Sebab sejatinya, ketika membaca adalah proses menggenapkan pengetahuan, maka menulis seharusnya menjadi proses menorehkan peradaban.

Selamat menulis, semuanya.

Salam literasi.

 

Word count : 560

Catatan : bukan untuk promosi tempat ngopi

[1] Lobus Frontal merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan dari Otak Besar. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat alasan, kemampuan gerak, kognisi, perencanaan, penyelesaian masalah, memberi penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol perilaku seksual dan kemampuan bahasa secara umum.

picture is taken from here

 

Posted in Literasi, menulis

Ngobrolin Penulis


Menurut hemat saya (yang lebih sering borosnya), penulis sejatinya harus seperti seorang peneliti (researcher).

Seorang peneliti, tidak pernah melekatkan emosinya kepada subjek yang sedang ia teliti, sebab akan memengaruhi hasil penelitiannya nanti.

Bayangkan, ketika ia sedang meneliti “meningkatnya konsumsi ayam pejantan dibanding ayam broiler.” Kemudian, ketika menyebarkan kuesioner kepada para peternak ayam broiler, ia terbawa emosi. Kemudian ia akan menulis,

“Masyaallah, hasil dari penelitian ini ternyata membuat hati peneliti sangat terenyuh, ketika membaca hasil kuesionar dari para peternak ayam broiler yang merasa terzalimi akibat persaingan dengan ayam pejantan. Airmata mereka bercucuran membasahi halaman kuesioner, dan membuat peneliti seperti ikut merasakan kepedihan mereka.”

Tentu, dalam sidang pembuktian risetnya nanti, para penguji akan saling mengerutkan kening. Kemudian berujar,

“Seriusan lo? Ini skripsi, apa naskah FTV?”

Ini, saya sedang bicara tentang penulisan nonfiksi, tentu saja. Fiksi sih, sah-sah saja mau menguras airmata berember-ember juga.

Ember cyiiin.

Selain ‘no string attached’, seorang penulis juga seyogyanya (seriusan pengennya nulis “sebandungnya”) punya etika dalam tulisannya. Jikapun ia ingin menuliskan sesuatu yang berbau argumentatif atau persuasif, hendaklah ia menulis dengan jernih dan bernas.

Dan yang penting, memakai data.

Sebab, tulisan persuasif tanpa data yang mendukung itu ibarat memendam perasaan tapi tanpa pedekate beib. Ngambang, kek si kuning jago berenang.

Ini jelas soal tulisan nonfiksi. Fiksi sih, tanpa data … ga masalah … eh tergantung fiksi apa dulu sih. Fiksi banyak juga yang pake riset. Bahkan romansa saja mesti ada risetnya. Riset ke hatimuuuuu … cieeee …

Poin terakhir, menurut saya juga, penulis itu mesti menjaga etika untuk tidak menjatuhkan penulis lain atau gaya kepenulisan lain. Ini pernah saya lakukan di suatu masa kelam, di kehidupanku, hiks. Alhamdulillah, sekarang saya taubatan nasuha. Tak mau lagi mengomentari karya orang lain semau-maunya saya. Toh tulisan sendiri juga ga bagus-bagus amat. Mohon maaf, sekadar mengingatkan.

Ahiw.

Ibaratnya, sesama bus jangan saling mendahului, bahaya. Sudah banyak kejadian, kecelakaan beruntun di jalan, karena para sopir bus merasa sedang jadi Baby Driver.

Satu lagi (jadi yang di atas itu bukan yang terakhir, abaikan saja), penulis yang baik juga adalah pembaca yang andal. Semakin banyak referensi bacaannya, biasanya tulisan yang ia hasilkan akan lebih berisi dan bergizi. Ga kopong, gitulah.

You know kopong?

Kek persahabatan bagai kopong gituu … garing kan.

Iyaaaa, tauuu.

Kenapa coba, saya menulis yang begini?

Mungkin karena sudah terlalu sering menemukan tulisan yang ingin dikritisi tapi selalu ragu.

Yah, barangkali ada yang senasib. Meskipun senasib tak selalu sepenanggungan. Sebab beda nasib, beda pula tanggungan utangnya.

Selamat menulis, atau membaca.

Atau keduanya.