Posted in about me, KETIK - Kelas Artikel, Literasi, menulis

Empat Jampi-jampi Ingat


Pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan di depan mata, sementara Anda tak bisa berbuat banyak?

Saya pernah.

Pernah ingin ‘menyentil’ seseorang atau sekumpulan orang dengan cara halus tapi mengena?

Saya sering.

Pernah ingin mengubah sebuah sistem besar dengan ide gila yang ada di benakmu saja?

Count me in.

Itulah mengapa saya suka menulis.

Ada banyak hal yang tidak cukup hanya disampaikan secara lisan. Sebab lisan terbatas dan ingatan bisa tidak panjang.

Ada begitu banyak hal yang tidak cukup rapi dan runut jika disampaikan dalam pembicaraan. Sebab bicara biasanya meloncat-loncat dan orang cepat bosan mendengarkan pembicaraan yang terlalu panjang.

Saya menjembataninya dengan menulis.

Menulis barangkali satu-satunya zona dimana saya merasa bebas mengutarakan apapun, tanpa khawatir akan disela oleh lawan bicara. Tempat dimana saya bisa sangat sistematis menjelaskan segala sesuatu, disusun dan direvisi, sebab saya bisa bolak-balik mengerjakannya.

Apa yang sudah saya kerjakan dengan menulis?

Sejauh ini saya memang baru selepas menuliskan kegundahan hati menjadi sebuah opini di blog pribadi. Kemudian saya bagikan di postingan akun media sosial saya. Lama kelamaan, saya menjadi percaya diri untuk mengirimkannya ke forum terbuka seperti Kompasiana.

Apa yang saya tulis?

Pada dasarnya, apapun.

Apapun yang mampir menari-nari dalam benak saya, minta dituntaskan supaya saya bisa tidur nyenyak. Dari mulai kegerahan atas situasi politik, mengomentari trending topic sampai membedah tuntas isu linguistik.

Awalnya saya pikir, tulisan-tulisan yang saya tuangkan hanya sekadar pengisi blog maupun status. Ketika kemudian mulai banyak orang membagikan, saya baru menyadari satu hal yang sering sekali dikatakan banyak orang.

Tulisan memiliki kekuatan untuk menggerakkan banyak orang.

Tulisan saya paling banyak yang dibaca dan dibagikan orang adalah kritik saya terhadap Viking, bobotoh Persib atas kejadian meninggalnya salah satu bobotoh di bulan Juni 2017 silam.

berikut tautannya https://www.facebook.com/irma.tafasha/posts/10211885443383956

Tulisan tersebut dibagikan oleh 2000-an  orang di Facebook, membuat saya mendapat banyak mendapat simpati juga caci maki. Tulisan-tulisan lainnya yang sempat menjadi trending topic adalah opini saya terhadap fenomena Awkarin, kritisi terhadap penerjemah Dr. Zakir Naik dan tulisan berjudul Gegar Budaya Bule.

Tulisan yang terakhir dibaca sekitar 5000kali di Kompasiana, dan masuk ke tulisan utama di Campuspedia, LINE. Gegar Budaya Bule saya tuliskan untuk mengkritisi kelakuan segelintir orang, yang sering memandang bule dengan pandangan negatif.

berikut tautannya

https://www.kompasiana.com/irmasusantiirsyadi/5a25e14e45480266ea632d72/gegar-budaya-bule

Hingga hari ini, bukan hanya tanggapan beragam dari pelbagai pembaca yang saya dapat, melainkan juga ilmu baru.

Semakin banyak saya menulis, semakin saya sadar bahwa ada banyak hal yang seharusnya bisa saya lakukan dengan lebih baik.

Setidaknya ada empat hal penting yang harus terus saya tingkatkan untuk tulisan-tulisan saya. Ini mungkin berguna juga buat Anda, yang saat ini, sedang kebetulan membaca tulisan saya.

Sebab saya sering lupa, maka empat hal penting ini saya beri nama  “Empat Jampi-jampi INGAT.”

  1. INGAT bahwa tulisan kita adalah tanggungjawab kita dan perwujudan identitas kita.

Saya lebih sering menulis nonfiksi, khususnya opini. Namanya opini, bisa berkembang kemana-mana. Saya kemudian mewajibkan diri sendiri untuk selalu mendasarkan opini saya kepada fakta. Banyak fakta, jika memungkinkan.

Mengapa? Toh bukan karya ilmiah?

Ya, tapi para pembaca kita bukan orang bodoh. Banyak dari mereka yang mungkin lebih tahu daripada kita.

Saat saya membedah mengenai putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak kriminalisasi perzinahan dan LGBT, ada beberapa orang yang memang mengerti hukum, yang kemudian ikut berdiskusi dalam tulisan saya. Artinya, seandainya saya menyampaikan tidak dengan ilmu, sudah habislah diri ini, menjadi target sasaran tembak para sarjana hukum se-Indonesia. Intinya, lakukan research sedalam mungkin, dan bertanggungjawablah atas apa yang Anda tulis.

Kemudian, ingatlah juga bahwa tulisan kita adalah representasi dari diri kita sendiri. Maka sampaikan tulisan dengan bahasa yang baik dan cara yang juga baik. Jangan sampai kita diingat sebagai penulis yang tulisannya banyak dibaca, bukan karena kualitas tulisannya, melainkan banyaknya kepongahan dalam tulisan kita. Attitude is a must!

  1. INGAT bahwa tidak semua orang akan suka dengan tulisan kita.

Jika kita menuliskan opini, apalagi menyangkut kasus yang sedang hits, pro dan kontra adalah sebuah hal yang alami. Maka bersiaplah dengan adanya orang yang mendukung dan tidak. Boleh jadi, Anda kemudian banyak dibenci orang setelah selesai menulis, karena pendapat Anda berseberangan dengan kebanyakan orang.

Saya mengalami ini, setiap kali menuliskan hal-hal berbau kontroversial, baik politik maupun human issues. Jika saya mudah baper, sudah tamatlah saya di dunia persilatan ini. Sayangnya, meski berat, risiko untuk dihujat dan ditantang adu argument memang harus dihadapi. Like it or not.

Salah sendiri, nulis yang kontroversi mulu!’ kata salah seorang sahabat.

  1. INGAT bahwa menulis itu berdialog, maka terbukalah dengan para pembaca.

Ketika menulis, saya selalu membayangkan bahwa saya dan pembaca sedang duduk berhadapan di suatu tempat. Mungkin seperti sedang duduk di café menikmati kopi hitam pekat dan sepiring camilan. Kami sedang mengobrol.

Dalam obrolan, harus ada rasa saling menghargai. Berlakukan juga dalam hal menulis. Tempatkan pembaca di tempat yang sejajar dengan Anda. Jangan mentang-mentang Anda sudah merasa oke dalam menulis, kemudian menganggap pembaca tidak tahu apa-apa. Asal pembaca mendebat Anda, kemudian Anda pundung dan marah. Tidak begitu.

Sertakan pembaca sebagai pihak kedua, yang tak kasat mata saat Anda sedang menulis, dan menjelma menjadi teman yang siap mengajak diskusi ketika Anda selesai menulis.

  1. INGAT bahwa penulis butuh senjata.

Jika Karna punya senjata Konta, maka penulis seperti saya (dan Anda) memiliki senjata namanya : MEMBACA.

Oh yes, baby.

You cannot write well, if you don’t read.

Tahukah Anda, perbedaan penulis yang banyak membaca dengan yang tidak?

Jika Anda membaca sebuah tulisan, kemudian merasa bahwa tulisannya biasa, bahkan cenderung datar, dengan kosa kata yang tidak membuat pembacanya penasaran untuk menamatkan bacaan, maka bisa dipastikan si penulis kurang banyak membaca.

Penulis yang banyak membaca, akan mampu menyajikan ide yang lain daripada yang lain. Ia akan mampu membuat pembaca ‘terikat’ di tempatnya dan terus membaca sampai tulisannya tamat. Pilihan kata-kata yang akan ia gunakan, terasa enak dan nyaman. Tulisannya pun ‘berirama’, seperti nada lagu. Penceritaannya jernih dan mengalir. Membuat pembaca tidak jenuh dan merasa senang.

Membaca adalah mengisi, dan menulis adalah menuang’, Brili Agung (CEO Inspirator Academy).

Analogi yang pas.

Bagaimana mau menuang, kalau isinya saja tak ada?

Perjalanan saya menulis belumlah usai. Masih teramat banyak yang ingin saya sampaikan. Teramat banyak yang mesti saya tuangkan.

Mengapa?

Verba Volent, Scripta Manent.

“Sebab yang terucap akan menghilang, sedangkan yang tertulis akan abadi.”

 

 

 

 

 

Posted in KETIK - Kelas Artikel

Ide Gila : Revolusi Pendidikan


“Kamu mau milih jurusan apa sehabis lulus SMA ini?”

“Hmm … ga tau.”

“Kok ga tau sih?”

“Hehe … iyaaa bingung … gimana ya, kata Mamaku pilih jurusan yang gampang kerja, tapi aku ga tau, apa yaa … tapi temen-temenku banyaknya ke jurusan itu … gimana yaa hehehe …”

Percakapan dengan anak SMA di atas sering saya alami. Biasanya si anak sambil cengengesan tidak akan memberikan jawaban pasti.

Paling parah ketika yang berbincang dengan saya adalah seorang mahasiswa, yang sudah berkuliah sekian semester.

“Kuliahnya jurusan apa?”

“HI”

“Apa aja yang udah dipelajari?”

“Apa ya hehe … ga tau … soalnya aku ga terlalu suka jurusannya juga sih … itu pilihan mamaku.”

 

Pendidikan kita sudah sedemikian gamangnya, sehingga menyisakan anak-anak yang kebingungan, bahkan sesudah mereka menyelesaikan minimal 12 tahun di bangku sekolah.

Campur tangan orangtua dalam memilihkan jurusan/sekolah, atas persetujuan anak maupun tidak tambah membuat kisruh.

Hasilnya?

Kita punya banyak lulusan SMA yang bahkan tak tahu banyak tentang apapun yang sudah mereka pelajari.

Kita memiliki banyak sarjana yang masih bingung mau ngapain setelah wisuda.

Bukankah sudah saatnya melakukan perubahan?

Pendidikan itu apa sih?

Mencerdaskan kan? Supaya cerdas, tidakkah kau seharusnya menikmati prosesnya?

Pendidikan itu seharusnya membentuk pola pikir, supaya si pembelajar memiliki pemikiran yang ajeg, yang membuatnya matang tidak hanya secara keilmuan, namun juga kedewasaan.

Pendidikan juga seharusnya mampu mengarahkan dan membentuk si pembelajar untuk memiliki keahlian yang kelak dapat ia gunakan untuk hidup.

Menurutmu, apakah pendidikan di Indonesia sudah mampu mengakomodasi itu semua?

Jika kamu menjawab ‘sudah’, selamat. Kamu sudah berhasil selamat dari tekanan pendidikan kita yang lebih banyak melatih hapalan ketimbang memahami konsep.

Jika jawabanmu ‘belum’, mari kita toss sama-sama dan kemudian memikirkan, apa yang harus ditambal, mana yang harus dibuang.

Saya sudah memikirkan ini. Sejak lama.

Saya menyebutnya Revolusi Pendidikan.

Ini bukan soal angkat senjata atau demonstrasi. Ini masalah merombak sistem Pendidikan secara total.

A bit extreme, I know.

Well, really extreme, actually.

Sedikitnya ada tiga revolusi sakti yang menari-nari di pikiran saya sejak belasan tahun lalu.

Mari kita bedah satu-satu.

SATU – Anak-anak mulai bersekolah formal di usia tujuh tahun, sebelum itu, tidak diwajibkan sekolah dan orangtua disarankan untuk membiarkan anak-anak bebas bermain.

Ini penting. Sebab orangtua jaman sekarang ini tidak akan nyenyak tidurnya sebelum bisa menyekolahkan anak-anak mereka sedini mungkin. Menjejali para anak-anak belia dengan kursus calistung dan kumon.

Waktu bermain sudah digantikan dengan les piano dan menggambar. Padahal menggambar itu seharusnya sesuatu yang menyenangkan, bukan yang dijadwalkan. Dunia tidak membutuhkan banyak Salvador Dali atau Basuki Abdullah.

Dunia membutuhkan banyak anak-anak yang bahagia.

DUA – Pendidikan dasar – pondasi kuat

Di kelas 1-3, selain penanaman nilai agama dan budi pekerti, pendidikan difokuskan hanya untuk membaca, menulis dan berhitung. Saja.

Calistung itu semacam sesuatu yang mudah, padahal implikasinya bisa sangat jauh. Membaca dan menulis, jika dilakukan dengan benar akan membuat anak terbiasa berliterasi sejak dini.

Agar kelak ketika mereka dewasa, takkan gampang digoyang berita hoax dan pandai menuliskan pikiran dan perasaannya.

Supaya kita nanti memiliki banyak anak yang tidak hanya pandai membaca berita di line today, namun juga mampu menyelesaikan tumpukan buku sastra dan mengkritisinya.

Di tingkat kelas 4-6, mulai diberikan beberapa mata pelajaran dasar seperti matematika, sains dan sosial. Berikan lebih banyak pembelajaran eksperimental ketimbang banyak mencatat di dalam kelas.

Anak-anak tidak butuh catatan dan hapalan, mereka butuh pengalaman dan pemahaman konsep.

TIGA – Pendidikan menengah – persiapan penuh

Masuk usia SMP, diperkenalkan lebih banyak mata pelajaran. Biarkan selama setahun di kelas 7, anak-anak mengenal ragam pelajaran. Pelbagai sempalan sains dan ilmu sosial. Kenalkan pada mereka apa yang bisa mereka lakukan dengan ilmu-ilmu tersebut.

Jika kamu senang memelajari fisika, kamu akan lebih mengerti mengenai proses hampir semua hal di dunia ini, semua konversi energi dan gaya.

Jika kamu senang memelajari geografi, kamu akan menjelajah ke kedalaman bumi, mengenal banyak jenis bebatuan dan proses terjadinya lempengan dan patahan.

Begitu seterusnya.

Masuk kelas 9 SMP,  anak-anak sudah siap dengan apa yang ingin mereka pelajari.

Apa yang mereka sukai dan ingin pelajari.

Tentukan mata pelajaran wajib yang harus mereka ambil, sisanya mereka boleh mengambil pelajaran suka-suka.

Misal, pelajaran wajib terdiri dari Agama, Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika dasar dan Bahasa Inggris.

Agama dibutuhkan untuk pondasi budi pekerti. Kewarganegaraan agar anak-anak ngeuh dengan hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara dan mengerti paling tidak hukum positif yang ada di Indonesia.

Bahasa Indonesia mereka butuhkan sebagai bekal untuk mematangkan literasi. Matematika dasar agar mereka setidaknya bisa berhitung secara cepat dan tepat. Bahasa Inggris agar mereka siap menghadapi persaingan global. Jika di kemudian hari, ternyata kita membutuhkan bahasa asing lain untuk bisa go internasional, maka pelajarannya bisa disesuaikan.

Jadi, di tingkat SMA mereka sudah kokoh dan fokus belajar mata pelajaran yang mereka sukai dan ingin mereka matangkan saja. Di tingkat Universitas, tentu mereka takkan kesulitan untuk menentukan jurusan yang mereka inginkan.

Titik kuat dari tiga revolusi ini ada di awal sekolah menengah, oleh karenanya saya menyebutnya sebagai pondasi kuat.

Semua pelajaran hendaknya dikenalkan dengan seluas-luasnya supaya anak-anak tahu.

Ibarat supermarket, semua pelajaran ini dipajang dengan indah supaya anak tahu plus minusnya.

Harapan saya, tidak akan ada lagi siswa kebingungan selepas SMA. Takkan ada lagi wisudawan yang setelah beres wisuda masih galau kemana akan melangkah.

Takkan ada lagi orangtua yang memaksakan anak-anak mereka untuk menelusuri jalan yang mereka pilih.

Tidak semua anak wajib pandai matematika. Tidak semua anak harus jadi dokter dan insinyur. Tidak semua anak suka dipaksa memahami 16 tenses yang selalu diajarkan guru Bahasa Inggris, yang lebih sering mereka tulis dan hapalkan, tanpa ada kesempatan mempraktekkan.

Begitu banyak yang (seharusnya) diubah. Jika kita ingin mindset anak-anak kita berubah, mindset kita duluan lah yang seharusnya diubah.

Sudah saatnya anak-anak merasa senang belajar sebab mereka memang menginginkannya. Bukan supaya mereka bisa lulus tes ini itu, yang lebih sering menguji ingatan, bukan pemahaman.

Ini tentu ide gila yang belum tentu kesampaian.

Namun, hey … mimpi itu terkadang menjadi nyata.

Mungkin.

Suatu saat.

 

 

Posted in KETIK - Kelas Artikel

Bu Anny dan Panggilan Jiwanya


Rambutnya pendek saja, hampir tak menyentuh bahu. Wajahnya berbalut riasan, tak menor, cukup saja. Tubuhnya kurus tinggi, kulitnya terang. Ia memakai sepatu pantofel tertutup yang lazim dipakai oleh semua guru perempuan pada jaman itu. Kakinya terbungkus stocking sewarna kulit. Stocking yang selalu menjadi bahan pembicaraan kami, para bocah di akhir tahun 80-an yang terheran-heran melihat seorang guru mengenakannya.

Tutur katanya tegas, membuat segan. Ia disiplin dan menerapkan disiplin, tapi sungguh ia mengajar dengan asyik. Matematika, Bahasa Indonesia, IPS dan lain-lain ia sampaikan dengan cara mengagumkan.

Di usia kurang dari 11 tahun ketika saya pertama bertemu dengannya, saya sudah tahu bahwa ia lebih pintar dari guru kebanyakan. Gelar “Dra” di depan namanya semakin mengukuhkan itu. Maklum, pada jaman itu, sangat sedikit sekali guru sekolah yang lulusan S1, lebih banyak dari SPG.

Ia, bagaimana ya mendeskripsikannya. Ia sangat moderen untuk orang jaman itu, sangat kekinian dengan kecerdasan di atas rata-rata. Saya ingat bahwa saya selalu ingin mengerjakan semua pekerjaan saya sesempurna mungkin, sebab saya ingin mengukir senyum di wajahnya ketika mengatakan, “Bagus sekali, Irma!” kalau sudah begitu saya serasa menjadi anak paling bahagia di dunia, lebih keren daripada anak-anak Lima Sekawan yang suka saya baca buku-bukunya.

Selepas sekolah dasar, tentu saya sibuk jadi remaja di kehidupan SMP. Menghadapi tumpukan PR dan mulai (juga) mengkhawatirkan hal-hal berbau abege, melewati hari-hari yang membingungkan karena perubahan hormon.

Kabar tentang guru SD kami yang sangat saya cintai itu, datang di akhir masa SMP. Saya yang tak pernah mengunjunginya sekalipun sejak kelulusan, harus rela dihantam kenyataan bahwa kabar yang saya terima adalah duka. Bu Anny, guru favorit saya sepanjang masa itu tutup usia.

Tubuh saya lemas ketika itu. Bersama dengan teman-teman lain, kami kunjungi rumah Bu Anny di bagian utara kota kami. Terhenyak kami mendapati bahwa lantai rumahnya sebagian belum diberi ubin, sebagian dinding rumahnya masih berupa bilik. Di belakang rumahnya ada sumur, yang membuat saya sadar bahwa dari sanalah sumber air di rumahnya. Kenyataan bahwa Bu Anny harus menimba air terlebih dahulu sebelum menggunakannya, sungguh membuat saya ngilu.

Saya menuliskan ini masih dengan perasaan sesak yang sama. Betapa kenyataan telah menjungkirbalikkan perasaan saya di usia belasan tahun. Sungguh tak mudah menemukan sisi lain dari orang yang kita kagumi dengan kondisi begitu rupa. Apalagi setelahnya, saya tahu bahwa Bu Anny meninggal karena tumor otak yang terlanjur tak bisa disembuhkan. Ia dan suaminya (yang juga guru) harus berjuang membesarkan ketiga anak mereka hanya dengan mengandalkan gaji guru dan kondisi sakit. Suami Bu Anny sudah meninggal terlebih dulu dengan sakit yang kurang lebih serupa.

Hingga hari ini, saya masih menyesal mengapa tak pernah mengunjunginya lagi setelah lulus sekolah. Mengapa tak pernah sekalipun kami berfoto bersama, sehingga jika saya kangen, saya bisa melihatnya walau hanya di selembar foto kusam.

Namun, saya menyimpanmu Ibu, di hati ini. Sehingga selalu berat rasanya saat mengingatmu.

————————————

Saat dewasa, saya mengetahui bahwa kisah Bu Anny hanyalah satu dari sekian kisah lain tentang guru-guru yang masih harus pontang-panting mencukupi kebutuhan hidup mereka dengan gaji hanya beberapa lembar rupiah saja.

Loh kan guru jaman sekarang enak, ada gaji, ada sertifikasi.

Memang. Jika Anda PNS dan sudah tersertifikasi, mungkin nasib Anda sebagai guru akan jauh lebih baik ketimbang mereka yang masih harus rela menjadi honorer dengan gaji 250-500 ribu sebulan. Atau jika Anda bekerja sebagai guru di institusi swasta yang bisa memberikan penghasilan lebih besar dibanding rata-rata.

Sisanya, nasib guru masih saja tragis. Dibutuhkan, tapi kurang diapresiasi. Disanjung sekaligus ditekan.

Belum dengan beban pekerjaan administrasi dan standar keilmuan yang harus dicapai. Jika Anda awam dengan pekerjaan guru, saya bisa katakan, jika guru berkutat dengan pekerjaan adminitrasinya (saja), mungkin ia takkan pernah punya waktu untuk mengajar, saking banyaknya.

Sayangnya, pekerjaan administrasi bukan satu-satunya beban. Seorang guru juga harus mengajar, dan (ini yang sulit) mendidik. Sementara di sebuah kelas, di rata-rata sekolah, ada 40-55 anak yang harus dipenuhi kebutuhannya. Dari jumlah ini, tentu tak semua manis dan pintar seperti Shizuka. Ada juga yang seperti Nobita, Suneo, Giant dan lain-lain. Itu contoh paling sederhana. Kadang ada juga anak-anak model gangster seperti murid-muridnya Michelle Pfeiffer di Dangerous Minds.

Kan sekarang udah kurikulum 2013, dong, kerjaan guru jadi lebih sedikit.

Dari segi pekerjaan mengajar, iya. Sebab siswa dituntut lebih mandiri dan sebagainya. Namun ini artinya lebih banyak pekerjaan yang harus diperiksa, direkap.

Maka kalau masih ada yang bilang mengajar itu gampang, silakan mengantri nanti saya getok pake kamus tebal Prancis-Indonesia yang disusun Farida Soemargono.

 

Maka, jika Anda memilih jalan untuk menjadi guru, setidaknya ada tiga hal yang bisa saya sarankan:

  1. Jadilah guru yang pintar

Loh, kan semua guru pasti pintar .

Jika yang Anda maksud adalah ‘hapal materi’ jawabannya adalah iya. Guru pintar, lebih dari sekadar menghapal materi, dan menguasai bidang ilmunya. Ada begitu banyak trik dalam mengajar yang perlu guru kuasai. Ada classroom management, ada metode anu dan anu, ada teknik penyampaian ini dan itu.

Jika Anda hanya bisa berdiri di hadapan kelas, sambil menyampaikan ulang materi yang sudah Anda hapal tanpa ada nilai plus, maka lupakan. Murid-murid Anda akan butuh lebih dari itu. Mereka akan butuh pembelajaran padat bergizi dan menyenangkan diantara tumpukan PR dan godaan bermain-main seharian.

Jadilah guru yang luar biasa, bukan yang biasa-biasa. Guru biasa sudah basi, bahkan sebelum negara api menyerang.

 

  1. Pintar cari peluang

Saat Anda selesai kuliah dan ingin mengajar, kemana lamaran akan Anda ajukan? Ke sekolah manapun? Atau sekolah tertentu?

Jika Anda cukup puas dengan mengajar di sekolah mana saja, dengan status honorer, tak apa. Namun jika Anda menginginkan lebih, mulailah mencari-cari sekolah tertentu. Banyak sekolah swasta yang biasanya sanggup menggaji guru dengan standar sangat baik. Kirimkan lamaran Anda ke sana, dengan satu syarat: Anda harus berkualitas.

Sekolah swasta biasanya sangat selektif dalam menjaring calon guru. Mereka beroperasi dengan standar perusahaan, sehingga untuk mereka, biasanya kenyamanan dan kepuasan siswa (dan orangtua) adalah yang utama.

Maka, Anda harus berkualitas. Jika perlu, Anda harus stand out di antara yang lain, harus menonjol. Apa yang Anda punya? Gaya mengajar santai tapi oke? Gaya mengajar yang dipenuhi joke dan gimmick yang bisa membuat siswa senang belajar? Yang mana?

 

  1. This is more like a ‘calling

Menjadi guru itu lebih seperti panggilan jiwa. Saya sering katakan pada semua orang : “Kalau kamu ga serius jadi guru, lebih baik ga usah.”

Panggilan jiwa, itu saudara sebangsa setanah air, memuat banyak hal. Anda harus sadar bahwa Anda harus ikhlas mengajar. Siapapun yang nanti duduk di kelas Anda, harus Anda perlakukan sama. Harus Anda berikan kebutuhannya.

Satu lagi yang tak kalah penting (dan susah).

Anda harus mencintai pekerjaan ini. Anda harus menyayangi murid-murid itu. Jika tidak, Anda pasti takkan betah.

Produk yang Anda hadapi itu manusia, perlakukan dan terimalah sebagai manusia.

Saya sungguh percaya bahwa masih ada orang-orang di muka bumi ini yang tulus mengajar seperti Bu Anny, guru saya. Guru-guru hebat yang bisa mengajar dan mendidik dan menghasilkan generasi yang juga hebat. Mungkin Pendidikan kita belum sekelas dengan Finlandia, negara yang selalu kita puji karena kualitas pembelajarannya. Namun, jika semua guru Indonesia berkualitas dan ikhlas mengajar, tak ada yang menjadi tak mungkin.

Mengajarlah, dan ikhlaslah.

 

“Nama saya Anny. Tulisnya pake ‘y’ ya. A-N-N-Y.” Ia menulis di papan tulis di pagi pertama pertemuan kami.

Sungguh saya merindukanmu, Ibu. Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik, sebab kau begitu baik.

 

 

 

 

 

 

Posted in KETIK - Kelas Artikel

The Scary King


GettyImages-843521194

(picture is taken from http://mentalfloss.com/article/22813/10-terrific-facts-about-stephen-king)

 

 

Jika Anda penggemar film dan sering mengecek situs IMDB (Internet Movie Data Base), Anda akan tahu bahwa Shawshank Redemption ada di daftar film dengan rating paling tinggi. Filmnya menceritakan tentang perjuangan seorang lelaki untuk hidup bertahan dalam sebuah penjara dengan hukuman seumur hidup.

Tak banyak orang tahu bahwa Shawshank Redemption diadaptasi dari sebuah cerita pendek berjudul Rita Hayworth and Shawshank Redemption. Ini adalah satu dari sekitar 200 cerita pendek karya Stephen King.

Stephen Edwin King, lahir di Portland, Maine, Amerika Serikat. Maine, kemudian sering dijadikan setting untuk kisah-kisah yang ia ceritakan. Berikut kota fiktif yang ia namai Derry.

Stephen dilahirkan dari keluarga sederhana. Ayahnya meninggalkan keluarga saat ia berusia dua tahun. Ibu Stephen harus menjadi single parent untuk kedua anaknya, Stephen dan David dalam kondisi ekonomi sangat kekurangan.

Di masa kanak-kanaknya, Stephen King sempat menyaksikan salah seorang temannya terlindas kereta api. Ia tak pernah menceritakan ulang hal ini, dimanapun, termasuk dalam memoir yang ia tulis. Pun begitu, banyak orang berspekulasi bahwa tulisan-tulisan Stephen yang berbau satir lahir dari pelbagai peristiwa traumatis yang ia alami saat kecil.

Selepas universitas, Stephen King bekerja sebagai guru sastra di salah satu sekolah menengah di Maine. Ini adalah satu dari sekian pekerjaan yang ia lakoni untuk keluarga. Pekerjaan lainnya diantaranya adalah menjadi janitor atau petugas kebersihan. Pekerjaan inilah yang kemudian mengilhaminya untuk menuliskan Night Shift, tentang terror yang dialami para pekerja malam. Sedari kuliah, ia memang aktif menulis cerita pendek yang ia kirimkan ke harian lokal.

Tahun 1973, ia menulis naskah Carrie, seorang anak perempuan yang memiliki kekuatan telekinesis. Ia sudah hampir membuang draf naskah Carrie ke tempat sampah, jika saja Tabitha, istrinya tidak membujuknya. Tabitha King membujuk Stephen untuk menyelesaikan naskah Carrie dan membawanya ke penerbit.

Carrie kemudian menjadi kunci dikenalnya seorang Stephen King oleh dunia. Kisah horror Carrie membuat banyak orang ngeri dan tak lama buku ini diadaptasi ke dalam film yang dibintangi oleh Sissy Spacek di tahun 1976.

Beberapa buku lain seperti Salem’s Lot, The Shining, Pet’s Sematary, Misery hingga It, juga diadaptasi ke layar lebar dan menuai sukses. Menjadikan Stephen King, menjadi ‘raja’ yang sebenarnya, sesuai namanya sendiri. The King of Horror Story.

Ciri khas Stephen King yang melekat adalah keberaniannya bersentuhan dengan tema-tema yang cenderung tabu dan (mungkin) sulit dieksplorasi penulis lain. Tema hantu, terror psikologis, kedatangan makhluk asing (alien) sampai mimpi buruk adalah karakternya. Meski tidak semua tema buku Stephen King berkutat di genre horror, sebab beberapa yang lain malah ditulis dengan mengambil genre drama. Contohnya The Green Mile dan Bag of Bones.

Dalam perjalanan hidupnya setelah dewasa, Stephen King sempat jatuh bangun mengatasi masalahnya dengan ketergantungan alkohol dan narkoba. Ia mengaku alkohol dan obat bius adalah satu-satunya pelarian yang bisa ia dapatkan demi menghapus sekian banyak pengalaman buruk di masa kecilnya. Stephen kecil hidup dalam kemiskinan dan ia sering bermimpi buruk, melihat ibunya sendiri terbaring di dalam peti atau bermimpi ia menggantung dirinya sendiri. Ia biasa mengatasi gangguan mimpi-mimpi tersebut dengan menuliskan para ‘monster’ yang mengganggu hidupnya.

Dalam memoir yang ditulisnya Stephen King on writing, Stephen menulis bahwa ia masih sering merasa gelisah dan terjaga beberapa kali di malam hari. Ia menolak menemui psikiater untuk mendiskusikan masalah psikologisnya dan memilih untuk terus menulis. Hingga banyak orang mengatakan, bahwa monster yang ditakuti olehnya adalah ahli kejiwaan.

Stephen King merupakan penulis yang sangat produktif. Setidaknya ada 108 buku yang tercatat sebagai karyanya. Tak terhitung cerita-cerita pendek yang mencapai jumlah 200-an. Bahkan, agar tidak terlalu ‘overpublished’, Stephen King sempat menulis dengan memakai nama pena Richard Bachman. Diantara semua buku King, 59 diantaranya sudah diadaptasi ke layar lebar.

Tahun 2017, dunia disuguhi film “It” yang merupakan remake dari mini seri berjudul sama di tahun 1990. Sosok Pennywise, badut mengerikan yang ‘memangsa’ anak-anak di kota kecil Derry kembali menghantui. Sekali lagi, Stephen King membuktikan kekuatannya dalam menciptakan kengerian. Dengan dirilisnya film It, penjualan buku-buku King kian melonjak tajam (dari yang sebelumnya memang sudah best seller). Orang beramai-ramai ingin membaca kisah-kisah lain yang juga tak kalah mengerikan.

Stephen King, kini berusia 70 tahun, masih tinggal di Portland, Maine bersama istrinya, Tabitha King. Dua anak lelakinya Joe King dan Owen King, mengikuti jejak sang Ayah untuk menjadi penulis.

Hingga saat ini, buku-buku Stephen King sudah terjual sebanyak 350 juta kopi, diterjemahkan ke dalam 54 bahasa. Menjadikannya salah satu penulis terlaris sepanjang masa.

 

sumber bacaan:

http://www.openculture.com/2013/10/stephen-king-writes-a-letter-to-his-16-year-old-self.html

https://www.britannica.com/biography/Stephen-King

http://www.dailymail.co.uk/tvshowbiz/article-1178151/Stephen-Kings-Real-Horror-Story-How-novelists-addiction-drink-drugs-nearly-killed-him.html

Posted in KETIK - Kelas Artikel

Saingan dengan Gawai


“Sedikit sekali waktu ngobrol berdua, dia lebih asyik dengan game dan teman-temannya,  ngobrol di hp pun saat jauh susah sekali …”

Seorang ayah dua anak menitipkan keluhan ini lewat pesan di media sosial. Pekerjaannya, yang membuatnya harus menjalani hubungan jarak jauh dengan anak istri di rumah, menciptakan jurang komunikasi dengan anak sulungnya yang kini sudah beranjak remaja.

Masalah ini, saya yakin, tidak hanya terjadi padanya saja. Anak-anak jaman sekarang begitu bergantung pada gawai. Tidak hanya sebagai alat komunikasi, namun juga sarana entertainment mereka. Jangan menyalahkan siapapun, sebab yang memberikan gawai adalah kita. Apakah kita salah? Bergantung seberapa sering anak kita terlena dengan gawai di tangannya. Sebab saya pikir, di era serba digital seperti sekarang, memiliki gawai adalah sebuah keniscayaan. Gawai memberikan banyak manfaat positif, dari alat komunikasi sampai sarana pembelajaran. Kita lah kemudian yang memiliki kendali atas gawai tersebut. It is us who control it, not the other way around.

Kembali ke masalah persaingan dengan gawai ini; sebagai orangtua saya cenderung akan ikut main game dengan anak-anak dan mencoba untuk masuk ke dunia mereka. Jika ada yang bilang, kita harus waspada pada game-game yang menyesatkan, karena begini dan begitu, mungkin sudah saatnya kita turun langsung untuk mengalami sendiri. Supaya kita sebagai orang dewasa yang sudah matang ini, jadi tahu, yang mana boleh, mana tidak.

Saya terkadang memerhatikan beberapa teman yang memiliki hubungan sangat baik dengan orangtua mereka. Dengan ibu, dengan ayah, atau keduanya. Ada teman-teman saya yang saya lihat bisa dengan enaknya merangkul orangtua, mencandai bahkan merajuk seperti anak umur lima tahun.

Dari cerita-cerita mereka, saya bisa simpulkan kedekatan ini bukan sesuatu yang instan. Bukan hasil briefing 15 menit langsung jadi. Tidak sesimpel bikin telor ceplok. Hubungan ini adalah hasil bertahun-tahun dekat bersama. Ngobrol bersama, bercanda bersama, hingga main game bersama.

Ada seorang teman semasa sekolah, yang jika saya ke rumahnya, Ayah dan Ibunya menyambut saya dengan hangat. Mereka akan memeluk saya dan bertanya kabar tentang keluarga saya, membuat saya terperangah antara malu dan tersanjung. Belakangan, saya baru tahu bahwa teman saya telah begitu banyak bercerita tentang saya pada mereka. Di lain kesempatan, saya melihat si ayah asyik bermain game dengan adik lelaki teman saya. Jaman itu, game nya masih Nintendo. Berteriak bersama-sama, saling meledek dan menertawakan.

Bagi orangtua yang menganut sistem feodal, dimana orangtua lebih tinggi kedudukannya dari anak, dan ada tuntutan bahwa anak harus hormat pada orangtua, tentu ini tidak gampang untuk dilakukan. Ada anggapan bahwa nanti anak akan ‘ngelunjak’ pada orangtua.

Namun, pikirkanlah.

Apakah Anda akan membiarkan anak Anda tenggelam bersama gadgetnya, atau Anda akan memutuskan untuk ‘masuk’ ke dunianya? Awalnya mungkin hanya sekadar main PS bareng, hanya sekadar main catur bareng. Awalnya Anda akan terpaksa main game online, demi mengejar perhatiannya dan membuat Anda terlihat cool di matanya. Lama-lama, melalui semua level permainan itu, Anda bisa membangun percakapan yang nyata dengannya. Anak, jika diajak ngobrol serius, seringkali hanya akan menggumamkan kata-kata, “biasa ajah.” Atau “lumayan.” Namun jika ia sedang merasa nyaman, ia takkan berhenti berbicara.

Cobalah dan lihat hasilnya.

Orangtua seringkali menyepelekan hal-hal kecil, yang sebetulnya bisa dimanfaatkan secara maksimal. Khususnya untuk orangtua pekerja dan atau yang tidak tinggal serumah dengan anak (karena alasan pekerjaan dan lain sebagainya).

Momen bertemu dan bersama dengan anak, jika tidak dimanfaatkan akan tersia-sia. Sudah saatnya orangtua tidak lagi menentukan apa yang akan dilakukan versinya sendiri. Alih-alih mengatakan, “Yuk jalan-jalan ke anu, sambil makan sate!”, orangtua bisa mulai bertanya kepada anak terlebih dahulu, “Kira-kira hari ini kita ngapain ya? Kamu ada ide?”.

Keterikatan orangtua dan anak juga bisa dibangun secara one-on-one. Sesekali, bolehlah Ayah mengajak anak lelaki untuk punya “A guy’s out”, dengan pergi ke tempat permainan berdua. Mencoba pelbagai game tembak-tembakan dan balapan mobil. Ibarat agen rahasia, Ayah harus bersabar menunggu hingga anak mau ‘membocorkan’ dirinya sendiri. Seperti bawang yang dikupas lapis demi lapis, tidak akan terkelupas semua cerita anak tanpa kesabaran menunggu, kepandaian menyimak dan memberi perhatian. Pun begitu, Ibu bisa membuat kegiatan seharian penuh bersama putri kecilnya. Ada begitu banyak kegiatan ‘cewek’ yang bisa dilakukan Ibu dan anak. Shopping berdua, pergi ke salon, dan lain sebagainya.

Saat anak mulai mencair, jangan lupakan satu hal penting.

Dengarkan benar-benar semua kisah yang ia ceritakan. Tak peduli menurut kita, kisah-kisah itu sangat membosankan atau kekanak-kanakan.

Saatnya orangtua mengingat kembali masa ketika mereka masih menjadi anak.

Supaya mereka bisa lebih mudah menjalani peran sebagai orangtua.

 

 

 

Posted in KETIK - Kelas Artikel

Fakta Versi Brown


She rests at last beneath starry skies.”

Robert Langdon memandang langit luas, kemudian berlutut di atas lantai kaca, menatap ke bawah lantai transparan yang memerlihatkan piramida terbalik. Ia kemudian menangkupkan kedua kepalan tangan, dengan raut wajah merenung, diiringi scoring music dari Hans Zimmerman yang megah.

Itulah potongan adegan terakhir film Da Vinci Code yang dibintangi oleh Tom Hanks dan disutradarai oleh Ron Howard di tahun 2006. Film ini termasuk yang ditunggu kemunculannya di tahun tersebut, sebab novelnya yang terbit tiga tahun sebelumnya, penuh dengan kontroversi.

Adalah Dan Brown, seorang penulis berusia 53 tahun, berkebangsaan Amerika Serikat yang membuat dunia terkejut di tahun 2003.

Brown menulis sebuah novel fiksi berjudul Da Vinci Code (novelnya yang keempat), berkisah mengenai perjalanan Robert Langdon, Professor Simbologi dari Harvard University untuk menguak pelbagai simbol demi menyelesaikan sebuah kasus pembunuhan.

Brown membuat kehebohan sebab dalam bukunya tersebut, ia menuliskan banyak fakta sejarah dan agama. Publik paling tercengang dengan disebutkannya fakta bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki keturunan yang kemudian beranak pinak di Prancis. Brown juga menyinggung banyak perihal agama Katolik yang disebut-sebut banyak menutupi fakta sejarah, salah satunya mengenai Holy Grail.

Tak pelak sejak kemunculan Da Vinci Code di tahun 2003, novel ini dicekal di banyak negara-negara Katolik, bahkan beberapa negara Timur Tengah. Juru bicara Gereja Katolik Vatikan menyerukan semua umat untuk tidak membeli atau membaca Da Vinci Code, sebab dinilai “penuh dengan kebohongan”. Brown dianggap telah menyerang kepercayaan agama Katolik dengan berani.

Saya ingat ketika menonton film ini di bioskop, beberapa gadis muda di sebelah saya meributkan adanya subtitle yang hilang di beberapa dialog. Dialog-dialog tersebut adalah ketika para karakter memperbincangkan  konsep ketuhanan dalam agama Katolik, termasuk Yesus sebagai seorang manusia.-

 

Hukum alam berlaku.

Semakin kontroversi, semakin dicari. Semakin dilarang malah semakin dibicarakan.

Dan Brown sukses menjadi penulis papan atas karena booming-nya Da Vinci Code. Bahkan sebelum adanya pelarangan pihak gereja, buku Dan Brown telah dibeli banyak.Tercatat hingga saat ini, Da Vinci Code telah terjual sebanyak 80 juta kopi dan sudah diterjemahkan ke dalam 56 bahasa.

Banyak orang memercayai fakta-fakta yang dituliskan oleh Dan Brown, sebab ia meramunya dengan begitu apik. Semua rangkaian ritual, organisasi dan tempat-tempat yang ia sebutkan benar adanya. Bahkan di awal tulisan ia menuliskan pernyataan bahwa semua yang ia tulis mengenai sejarah, ritual dan tempat adalah benar.

 

Dan Brown sendiri saat diwawancara mengatakan bahwa apa yang ia tuliskan adalah fakta. Semua fakta sejarah dan pelbagai teori konspirasi adalah hasil dari penelitian yang ia lakukan. Meskipun begitu, Brown tidak menampik bahwa bukunya adalah juga karya fiksi. Ia menyebutnya sebagai “cerita hiburan yang mendukung diskusi spiritual” dan ia mengatakan bahwa buku ini merupakan katalisator positif untuk merenungi dan menjelajahi keimanan seorang umat Katolik. Dan Brown sendiri dibesarkan dengan kepercayaan Episcopalian, salah satu sempalan agama Katolik. Ia mengaku beragama dan menganggap ateisme adalah sesuatu yang tak mungkin, dengan begitu banyaknya bukti-bukti ketuhanan lewat pembuktian sains di dunia ini.

Saya membaca Da Vinci Code di tahun 2004, dan berhasil menamatkannya dalam waktu dua hari saja. Selesai membaca buku tersebut, saya masih terkagum-kagum dengan kepiawaian Brown meramu fakta dan fiksi sehingga menghasilkan bacaan yang begitu bergizi.

Di luar kontroversial keagamaan, saya menyenangi buku-buku Dan Brown sebab ia selalu murah hati menyelipkan pelbagai fakta dan ilmu pengetahuan. Tak mengherankan, sebab ia memiliki hobi mengerjakan crosswords dan anagram sejak kecil. Dan Brown kecil beserta saudara-saudaranya sering kali harus memecahkan simbol dan mengikuti ‘peta harta karun’ yang orangtua mereka buat untuk bisa mendapatkan harta karun yang dimaksud, yaitu kado-kado Natal. Hubungan Brown dan orangtuanya adalah yang mengilhami hubungan antara karakter “Sophie Neveu” dan kakeknya, “Jacques Saunière” dalam Da Vinci Code.

Brown juga jago mendeskripsikan tempat dan kondisi yang menjadi latar belakang kisahnya. Sedikit mirip dengan gaya Sidney Sheldon yang selalu lengkap ketika bercerita. Di kemudian hari, saya menemukan bahwa Brown mendapat ide untuk menuliskan novel pertamanya, Digital Fortress setelah membaca buku Sidney Sheldon yang berjudul The Doomsday Conspiracy (yang juga buku favorit saya).

Hingga hari ini, hampir semua buku-buku Dan Brown menjadi best seller, berturut-turut: Digital Fortress, Deception Point, Angels and Demons, Da Vinci Code, The Lost Symbol, Inferno dan Origin.

Menebak-nebak bagian mana yang fakta dan fiksi dari karya seorang penulis adalah bagian yang paling menarik.

Sampai sejauh mana seorang penulis diharapkan untuk bisa bertanggungjawab dengan tulisannya?

Apakah hanya ranah nonfiksi yang seratus persen wajib menyertakan fakta, dan fiksi bisa bebas mengeksplorasi?

Teman saya pernah mengatakan,

Kamu bikin yang kontroversial aja, trus bikinnya genre fiksi, jadi orang ga mungkin marah, kan namanya juga fiksi!

Menurut saya, itu namanya ngeles.

Sampai hari ini, memang tidak ada hukum yang mengikat secara penuh perihal penyajian fakta dalam fiksi. Sebab namanya saja fiksi. Dibuat-buat, didramatisasikan.

Pun begitu, pembaca yang pintar tentu ingin juga mendapatkan riset fakta yang lengkap, meskipun yang mereka baca adalah fiksi.

Fakta bisa meliputi apa saja, dari yang rumit hingga sederhana seperti kondisi tempat. Jika Anda menulis sebuah karya fiksi dengan latar tempat di luar negeri, misalnya, pastikan bahwa tempatnya memang betulan ada. Latar tempatnya kota Milan, tapi nama gerejanya Notre Dame, tentu pembaca akan berkerut keningnya, sebab Notre Dame adanya di Paris, bukan Milan.

 

Itu, tentu saja contoh sederhana. Contoh yang lebih rumit disajikan oleh banyak penulis terkenal. Tak hanya setting tempat dan kondisi, melainkan juga budaya yang mereka masukkan ke dalam tulisan. Ketika Andrea Hirata menuliskan budaya menjemur batu baterai radio supaya baterainya terisi kembali, saya sebagai pembaca langsung tersenyum dan membayangkan jejeran batu baterai yang ditaruh di atap rumah. Generasi sekarang mungkin tidak mengenal kebiasaan itu, namun bagi kami yang sempat mencecap kehidupan tahun 80-an, tradisi menjemur batu baterai adalah benar adanya.

Jika memang fiksi wajib disertai fakta yang lengkap, sejauh mana fakta tersebut layak disajikan?

Dan Brown bukan satu-satunya penulis yang pernah mengalami pencekalan atas karyanya. Harry Potter karya J.K Rowling pun sempat disebut-sebut menyesatkan sebab mengajarkan sihir kepada anak, sesuatu yang dilarang oleh ajaran agama.

Lolita (1955), novel fiksi karangan Vladimir Nabokov, juga masuk ke dalam daftar buku kontroversial. Lolita mengetengahkan jalinan hubungan ‘tak sepantasnya’ antara seorang pria paruh baya dengan seorang anak perempuan di bawah umur. Banyak kalangan menilai buku ini menularkan kecenderungan seksual pedofilia, yaitu kecenderungan hasrat seksual kepada anak kecil.

Buku-buku lainnya yang juga pernah dinilai kontroversial adalah The Communist Manifesto, The Catcher in The Rye, Huckleberry Finn, The Lord of Flies, dsb. Di tanah air sendiri, buku-buku Pramoedya Ananta Toer pernah dilarang peredarannya, sebab dinilai memuat ajaran komunisme. Larangan ini kemudian hilang sendirinya sejak peristiwa reformasi tahun 1998.

 

Fiksi seringkali dipandang sebagai bacaan ‘bohongan’ dan ditujukan sebagai hiburan. Namun fiksi, seperti halnya genre nonfiksi, juga wajib padat dan bergizi, dengan memasukkan unsur fakta secara jelas dan bernas. Seorang penulis bertanggungjawab penuh atas apa yang dituliskannya, fakta maupun fiksi. Sebab boleh jadi pembaca akan terpengaruh melakukan apa yang ia tuliskan dalam bukunya.

Sementara pembaca, selain menikmati karya fiksi maupun nonfiksi, seyogyanya menjadi pembaca yang kritis dan cerdas. Apapun yang kita baca, selalu ada dua sisi baik dan buruk. Penulis menunaikan tugasnya dengan melakukan riset, berpikir dan menulis. Pembaca, melaksanakan tugasnya dengan membaca, berpikir dan mencerna.

“Sebab buku yang sempurna adalah buku yang belum ditulis,” – anonymous

*mendapat ide setelah mulai membaca beberapa halaman pertama Origin – Dan Brown *

 

Sumber bacaan:

http://www.nbcnews.com/id/7205300/ns/world_news/t/cardinals-plea-dont-read-da-vinci-code/#.WltuJ6iWaUk

http://www.beliefnet.com/entertainment/movies/the-da-vinci-code/an-interview-with-dan-brown.aspx

https://en.wikipedia.org/wiki/Dan_Brown

https://electricliterature.com/24-most-controversial-books-of-all-time-70e484941082

 

 

 

Posted in KETIK - Kelas Artikel

Perempuan dalam Pernikahan


download (1)

(picture is taken from http://churchofchristarticles.com/blog/administrator/the-marriage/)

 

Seorang lelaki berbincang dengan seorang perempuan, sebut saja mereka Budi dan Wati.

“Sudah siap nikah, mbak?” tanya Budi pada Wati.

“Ga lah Mas, masih jauh …” elak Wati.

“Loh kenapa?”

“Masih ingin bahagiakan orangtua,” begitu jawaban Wati.

Whaaat?! Budi membatin.

Bukannya membahagiakan orangtua salah satunya dengan menikah? Kemudian memberi cucu? Supaya orangtua bisa tenang karena tidak usah mengkhawatirkan anak-anaknya yang belum laku?

Begitu pikiran Budi.

Trus, kalau tiba-tiba ada yang melamar, gimana?” Budi bertanya lagi.

“Belum siap lah, Mas …” Wati mulai merasa risih.

“Siapnya kapan?” kejar Budi.

“Ya … mungkin usia 26 tahun …”

“Yakin sudah ada yang langsung mau? Ga mudah loh mbak, menuju pernikahan itu butuh proses. Kalau nanti ga ada yang mau, bagaimana? Malah orangtua Mbak ga bahagia …”

Begitu seterusnya Budi mendesak Wati untuk memikirkan pernikahan, meskipun Wati sudah mengelak dengan mengatakan ia ingin bersekolah sampai ke jenjang tinggi terlebih dahulu.

“Mbak, kalau sudah di atas tigapuluh tahun, laki-laki bukannya tidak mau. Tapi berpikir masalah keturunan. Menurut medis, semakin bertambah usia, semakin mengecil kemungkinan punya anak. Memang semua takdir Allah, tapi laki-laki berusaha agar punya keturunan …”

Budi terus memaparkan alasan demi alasan saat Wati terus menerus mengelak dan mengatakan tidak masalah jika ia harus menikah di usia 30-an.

Percakapan di atas saya sarikan dari status seseorang di media sosial Facebook, yang dibagikan oleh salah seorang teman.

Kening saya berkerut.

That doesn’t sound right.

Ini mengingatkan saya pada seseorang yang saya kenal. Ia perempuan yang belum juga menikah hingga usia akhir 30-an. Pun begitu, tak pernah saya melihatnya galau, atau tiba-tiba menuliskan postingan dengan kata-kata macam, “ku ingin kamu di penantianku yang tak berujung ini”.

Sungguh, setiap kali saya membaca postingan merindu macam itu, benak saya melayang ke video klip musik tahun 80-an dengan latar belakang pantai dan hembusan angina, kamera menampilkan wajah si penyanyi yang sendu dengan lagu mendayu-dayu.

Si teman saya ini sangat santai menjalani hidupnya. Orangtuanya pun begitu. Tidak pernah saya dengarnya minder, karena di usianya yang sudah menjelang 40 ia mesti bersaing dengan dedek-dedek emeush yang tidak hanya lebih junior tapi juga lebih memiliki manuver menukik tajam dalam hal pencarian jodoh.

Dia sangat santai dan menikmatinya.

“Aku mah percaya sama Allah aja, da berusaha mah udah maksimal.”

“Mamah kamu pernah nanya?” tanya saya.

Ga … mamah aku mah bilangnya, ya udah lah kapan aja si jodoh datangnya, yang penting mah anak mamah jadi anak yang baik, jadi perempuan yang sanggup menjaga kehormatannya.”

Saya langsung mengacungkan dua jempol.

Saat saya menuliskan ini, saya belum mendapat kabar lagi darinya. Semoga apapun statusnya hari ini, ia masih seceria dan sebahagia ketika saya mengenalnya.

Sebab tak ada yang lebih mengharukan ketimbang menyaksikan sesosok manusia yang begitu woles menghadapi hidup (plus jutaan pertanyaan dan tuntutan masyarakat), sebab ia pasrah sepenuhnya atas hasil yang akan diberikan Tuhan padanya.

Saya sendiri menikah di usia yang terbilang muda untuk jaman sekarang. Usia 21 tahun, saat teman-teman saya masih bergelut dengan beban SKS di kampus, saya malah sudah menghadapi beban tambahan yang berjudul pernikahan.

Setiap ada yang bertanya mengapa saya menikah cukup belia, saya selalu menjawab ‘yah mumpung ada yang mau’, sambil cengegesan. Sebab kuantitas perempuan semakin lama semakin jauh melebihi laki-laki, saya katakan. Jadi siapa cepat dia dapat. Ini jawaban tak serius tentu saja. Sebab saya tidak menikah karena dapat undian dari Chiki. Proses menuju pernikahan itu, mungkin sudah dimulai secara mental dari sejak saya menjejakkan kaki di bangku Universitas. Sesuatu yang tidak saya bagi dengan siapapun, melainkan hanya dengan Allah yang menggenggam hati dan jiwa saya.

Towards marriage is a long process, and after marriage is a never ending story.

Salah satu artikel di BKKBN.co.id bulan Maret 2017, disebutkan bahwa usia pernikahan ideal adalah 21 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria. Sementara,   berdasarkan Pasal 7 ayat 1 UU No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, menyebutkan  batas usia menikah bagi wanita adalah 16 tahun dan pria adalah 19 tahun.

Batas usia pernikahan untuk wanita ini pernah dimohonkan untuk ditingkatkan menjadi 18 tahun oleh Yayasan Kesehatan Anak dan Yayasan Pemantauan Hak Anak. Sensus nasional pemerintah yang bekerjasama dengan UNICEF menyebutkan satu dari empat anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun, yang biasanya berujung ke perceraian. Permohonan ini ditolak Mahkamah Konstitusi dengan alasan tidak ada jaminan ketika usia dinaikkan, kemudian angka perceraian akan turun. MK juga menyebutkan, bahwa secara hukum agama, tidak ada penjelasan mengenai batas usia.

Pada kenyataannya di lapangan, ada begitu banyak faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk menikah, dan tidak menikah.

Secara demografis misalnya, ada perbedaan antara warga yang tinggal di kota besar dan pedesaan. Perempuan desa cenderung menikah lebih cepat ketimbang sesamanya di kota besar. Meskipun belum ada penelitian lengkap mengenai ini (sejauh yang saya baca), bisa kita asumsikan bahwa para gadis di kota cenderung memutuskan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi, sehingga pernikahan kemudian tidak lagi menjadi prioritas utama.

Dari sisi kultur dan agama, ada anggapan bahwa menikah di usia tua dianggap tidak elok, sebab nantinya perempuan akan melahirkan keturunan, hamil dan melahirkan di usia 35-an ke atas dikatakan akan lebih sulit dibanding di usia muda. Agama pun menganjurkan pernikahan disegerakan untuk menghindari perzinahan.

Pun begitu, ada juga banyak alasan mengapa banyak orang menunda pernikahan. Ketidaksiapan mental dan ekonomi adalah salah duanya.

Bohong ketika ada orang mengatakan pernikahan itu gampang dan tidak susah. Pasti ia belum pernah menyaksikan pasangan menikah yang saling menyalahkan karena salah satu salah membeli merek diaper anak. Pernikahan itu tidak mudah, maka dibutuhkan mental sekuat baja untuk bisa menaklukannya.

Faktor ekonomi juga mendominasi alasan orang menunda pernikahan. Di Indonesia ini, pernikahan itu mahal. Sebab yang harus disiapkan tidak hanya biaya KUA, melainkan juga biaya sewa gedung, catering, souvenir,  sampai seragam pagar ayu.

Maka, kembali ke cuplikan tulisan di bagian pertama, sungguh saya terperangah dengan pola pikir “Budi” yang ingin meyakinkan “Wati” bahwa perempuan idealnya menikah sebelum usia 26 tahun, karena semakin tua perempuan, maka ia akan semakin tidak laku. Dan laki-laki mengharapkan keturunan yang mungkin tidak bisa diberikan oleh para wanita di usia ‘senja’.

Seolah-oleh nilai perempuan hanya terletak pada bentuk fisik dan endurance dalam menghadapi kehamilan dan persalinan.

Emang perempuan cuman jadi pabrik anak? Begitu komentar salah seorang teman saya.

Menyoal kebahagiaan orangtua pun menjadi sesuatu yang sangat relatif. Bahagianya orangtua itu ketika apa?

Melihat anaknya menang lomba maraton? Mendapat rangking satu? Lulus tepat waktu? Lolos tes LPDP? Dipinang anak orang kaya? Yang mana?

Saya yakin setiap orangtua pada dasarnya akan bahagia ketika anaknya juga bahagia.

Jadi, ungkapan “nanti orangtua ga bahagia kalau kamu nikahnya telat” menjadi asumsi yang terlalu pendek.

Pernikahan itu tidak sesederhana membuat tahu bulat yang digoreng di atas wajan secara dadakan. Maka, wajar jika banyak orang (terutama perempuan, sebab perempuan lah lucunya, yang menjadi topik pembicaraan dari sejak awal) kemudian memikirkan soal pernikahan dengan sangat lama dan mendalam.

Because this is a lifetime decision.

Tidak ada proses trial and error, tidak ada remedial jika tidak lulus.

Menikah di usia berapapun, tidak menjamin kedewasaan pasangan, yang akan membuat pernikahan menjadi langgeng. Menikah di usia muda dengan alasan menyegerakan pernikahan jika tidak siap mental juga tidak bijak. Salah-salah, masalah rumah tangga malah diumbar di media sosial. Pun, menikah di usia ‘cukup’ (berapapun itu) juga belum tentu. Sebab usia tidak pernah menjadi jaminan atas kematangan jiwa siapapun.

Merasa takut ‘tidak laku’ karena sudah tidak muda lagi juga sejatinya diembuskan oleh hegemoni kultural dengan jargon “perawan tua”, seolah keindahan perempuan untuk ‘dinikmati’ dalam pernikahan berbatas bilangan angka. Seolah semua lelaki di dunia ini hanya memikirkan fisik perempuan yang diharapkan tetap ‘kencang’ dan fresh di usia tertentu. Seolah wanita usia 30-an harus pasrah takkan dilirik lagi oleh lelaki manapun, sebab ia kalah bersaing dengan dedek-dedek eumeush usia awal 20 yang lebih atraktif dan cute.

Sementara, di sisi yang berseberangan, tak ada batasan usia berapapun untuk pria. Sungguh mengherankan. Lelaki cenderung memilih perempuan muda, sementara perempuan harus pasrah dipilih oleh lelaki usia berapapun.

Seolah pendidikan bagi anak lelaki dan perempuan itu berbeda.

Hey, nak … karena kamu perempuan, kamu harus tetap muda dan segera menikah ya! Nanti ga punya anak loh

Dan kau, nak … karena kamu laki-laki, tenang saja dengan jodoh, sebab lelaki di usia berapapun, masih laku-laku aja tuh. Jadi orang kaya saja, supaya bisa menyiapkan mahar yang mahal.

Sungguh sangat miris, sebab semua asumsi tidak berbasis penelitian empiris.

Mengapa tidak mengatakan pada anak lelaki dan perempuanmu,

“Jadilah manusia yang bermanfaat bagi sesama, nak. Usia berapapun kamu menikah nanti, jangan lupa untuk terus belajar. Terutama belajar menghargai setiap orang.”

Dan jika Anda sudah jadi orangtua, yakinkan mereka bahwa kebahagiaan Anda tidak diukur dari kecepatan mereka membuat panitia menancapkan janur kuning atau kesigapan memberi cucu. Agar kelak, mereka bisa tenang menjalani hidup tanpa harus dikejar-kejar pertanyaan ‘kapan menikah’.

 

 

Sumber:

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/03/06/omduca359-bkkbn-usia-pernikahan-ideal-berkisar-2125-tahun

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150618_indonesia_mk_nikah