Posted in 30 Hari Menulis 2019, Keseharian

What’s on Your Mind?


#30HariMenulis2019_Hari_21

 

What’s on your mind, Irma?

Facebook selalu bertanya begitu, setiap kali saya hendak menulis sesuatu.

Sesaat saya teringat beberapa kalimat narasi pembuka dalam film “Gone Girl”.

What are you thinking? How are you feeling? What have we done to each other? What will we do?” – Nick Dunne (diperankan dengan sangat pas oleh Ben Affleck).

Dulu di tahun 60 atau 70-an,  saya juga ingat ada film dengan judul : “Apa yang Kau Tjari, Palupi?”

*Tolong jangan menyangka saya tua. Ini hanya soal wawasan saja*

Semua kutipan di atas berkelindan, menari-nari di kepala saya akhir-akhir ini.

Baim, anak bungsu saya, tempo hari, mentas dalam sebuah acara kelulusan TK. Sebagai orangtua yang ingin selalu mengabadikan penampilan anak, saya datang dong. Apalagi Baim sudah berlatih lama. Selain menyanyi bersama-sama, Baim juga menari. Ziggy Zaga dance, namanya.

Belakangan, saya baru tahu kalau dance tersebut diciptakan oleh keluarga ngehits se-Indonesia, yaitu keluarga Halilintar. Awalnya saya merasa “meeh” banget lah. Apa siih. Tapi ya sudahlah, lagian lucu lihat anak-anak usia lima-enam tahun menari ala-ala hiphop.

Okeh, ga masalah.

Rundown acara yang diberikan di WAG orangtua, menyebutkan sekian banyak penampilan anak-anak dan guru-guru mereka. Wajar sih, semua anak memang patut diberikan kesempatan untuk tampil.

Okeh, ga masalah.

Setelah sekitar tiga sambutan (yang masing-masing durasinya cukup lama), sarkasme saya sudah mulai muncul. Saya mengetik begini di salah satu WhatsApp Group:

Kenapa sih ga ada yang pernah kepikiran untuk mengetik semua isi sambutan, dibundel trus dibagikan aja ke para tamu undangan?”

(Akhirnya saya tidak mendengarkan sambutan, malah sibuk ngobrol di grup)

I mean, seriously.

Saya terkadang diminta untuk menjadi MC di pelbagai acara, dan bahkan sebagai MC pun saya males kalo sudah bagian sambutan. Orang Endonesah ini segala sesuatu mesti disambut, pengen diuraikan, dijelaskan.

Kapan sih, bisa bikin acara yang to the point, langsung ke inti acara yang ingin dilihat semua orang?.

What’s on your mind, Irma? I was bored to death.

Oh, dan masalah sambutan ini bukan satu-satunya. Ada lagi penampilan anak-anak cewek yang … nge-dance K-Pop, tepatnya lagu Black Pink, yang tempo hari iklannya bikin marah banyak mak-mak sampe harus dibuat petisi.

Anak-anak bau kencur itu melenggak lenggok manjah di hadapan para tamu undangan, berlatar spanduk : MENCETAK GENERASI FASTABIQUL KHAIRAAT.

I hit you with a ddu ddu ddu …

Ah yeah … ah yeaah ….

What’s on your mind, Irma? Got an aspirin, anyone?

————-

Pulang dari pementasan, saya melanjutkan hidup, tentu saja. Memeriksa email dan chat yang masuk berkaitan dengan pekerjaan, mengurusi event #30HM, menulis, membaca dan lain sebagainya.

Saat menengok percakapan di grup: sidang MK terkait aduan kecurangan pilpres.

*sigh*

Tema politik masih menjadi pengalaman traumatis buat saya. Padahal sebelumnya, saya aktif menulis dengan tema ini. Semata sebab saya ingin berkontribusi, paling tidak dalam hal fact-checking untuk menangkal hoaks.

Hasilnya? Saya kehilangan banyak teman. Literally.

What’s on your mind, Irma? Politics has ruined so many people’s lives till I couldn’t even find the worst swearing words to describe it. Damn you!

Saya masih banyak membaca, masih berdiskusi setiap hari. Jika tidak bersama suami, pasti dengan teman-teman di WAG yang sama-sama open minded. Paling banter, saya lari (baca = selalu lari) ke buku dan film. Sebab kedua benda ini setidaknya tidak pernah bersikap sok tahu, tidak pernah menyalahkan, tidak pernah menurunkan standar untuk menaikkan mutu diri sendiri, if you know what I mean.

Banyak orang barangkali belum bisa move on dari pilpres nista durjana yang sudah membuat dikotomi besar-besaran di masyarakat, biarlah.

Beberapa orang masih senang menulis dan memposting masalah pribadi mereka di media sosial, entah untuk tujuan apa. Mencari perhatian atau pembuktian identitas diri, saya menduga. Biarlah.

Beberapa masih senang berada dalam jamaah julita zahara, yang selalu, tak pernah absen, julid terhadap segala sesuatu. Biarlah.

Deddy Corbuzier masuk Islam, dilarang disiarkan oleh KPI, ini sungguh keterlaluan!”

Seharusnya ga boleh itu bentuk bangunan begitu, symbol dajjal!”

What’s on your mind, Irma? Get a life, people. Get a life!

Ada satu kalimat dari film entah apa yang saya pernah tonton, “Take three seconds, before you speak up your mind!”

Itulah yang kira-kira sering saya lakukan, akhir-akhir ini.

Berpikir keras, sebelum berkomentar atau menulis atau berbicara. Toh tiga detik tidak lama, tapi efeknya bisa sangat berbeda. Seringkali kita terpelatuque hanya karena sesuatu yang kepingin sekali kita utarakan, apapun caranya. Padahal tak semua butuh diuraikan, tak semua perlu dijabarkan.

Some things are better left unsaid.

*ditulis dalam 728 kata, dengan segala kegalauan karena laper di tengah malam*

 

 

Posted in 30 Hari Menulis 2019, Keseharian

Just another sweet love story


#30HariMenulis2019_Hari_2

Saya sering mengatakan (dengan jumawa, tentu saja) bahwa genre tontonan favorit adalah thriller atau yang beraroma teka-teki. Semakin dibuat rumit dengan tontonan, semakin saya suka. Semakin dieksplorasi kegilaan nalar manusia, semakin saya tertantang.

Namun, tentu saja genre itu bukan satu-satunya yang saya suka. Sesungguhnya, di lubuk hati yang paling dalam, saya ini berjiwa sangat lembut, seperti Obbie Messakh sewaktu menyanyikan lagu “Kisah Kasih di Sekolah” sambil menatap dinding yang banyak semutnya.

Ya, saya penggemar kisah cinta.

Semakin mendalam dan membuat jantung berdebar-debar seperti ikut marathon tujuhbelasan semakin bagus. Semakin sedih dan tersiksa, semakin baik.

I’m just another hopeless romantic.

hqdefault

Saya punya daftar film-film romantis, juga novel-novel cinta menya-menye, yang terkadang saya rekonstruksi ulang. Maka, jangan salahkan saya, jika novel pertama saya yang amat sangat cheesy itu juga bertemakan romance. Yes, I am talking about “Ros dan Chandra”. Sambil promosi, uhuk.

Saya pikir, dunia takkan pernah kehabisan kisah cinta untuk diceritakan. Mau itu yang menyesakkan seperti pasangan Josh Harnett dan Diane Kruger di “The Wicker Park” atau yang manis seperti “The Lake House” nya Keanu Reeves dan Sandra Bullock. Dari yang sangat cheesy tapi bikin banjir air mata seperti Gong Yoo dan Kim Go Eun di “Goblin” atau yang bikin ngakak seperti Ryan Gosling dan Emma Stone di “Crazy Stupid Love”. Atau kisah remaja sederhana di dalam novel Rainbow Rowell “Eleanour and Park”.

I could go on and on about this, until you wish you’ll die soon.

Romansa cinta yang berdasarkan kisah nyata? That’s even better.

Saya terisak-isak membaca kisah cintanya B.J Habibie dan Ainun. Menangis lagi sewaktu menonton filmnya, meski kehadiran gery chocolatos sedikit mengganggu (saya itu rewel soal detail, duh).

scivis_screentime.jpg

Saya tercenung saat menonton “The Theory of Everything” yang di dalamnya juga berkisah mengenai cinta antara seorang Stephen Hawking dan Jane Hawking. Meski dengan muatan yang berbeda, dengan romantisme yang tidak bikin termehek-mehek. Sama seperti saya merasa nyesek melihat seorang Freddie Mercury, yang sesungguhnya amat mencintai Mary Austin.

Menonton pasangan kakek dan nenek di film animasi “UP” saja saya mbrebes mili. Ah, saya memang cengeng.

*elap ingus

Hari ini, ada kisah cinta lain yang membuat dada saya sesak seperti tertindih tiga keranjang setrikaan. Kisah cinta seorang putri jenderal dengan seorang lelaki yang secara ‘kasta’ jauh di bawahnya. Keduanya menjadi salah dua tokoh yang dikenal di Indonesia. Sang pria sempat menjabat Presiden negeri ini, sementara si wanita menjadi Ibu negara yang dikenal sangat artistik dengan hobi fotografinya.

Di luar segala kontroversi pasangan ini dalam konstelasi politik Indonesia yang sering sekali nista durjana, saya selalu melihat mereka sebagai salah satu pasangan paling romantis.

“Pepo dan Memo” begitu keduanya saling memanggil. Lucu sekali. Rasanya hanya pasangan ini yang memiliki panggilan seunik itu.

Kemarin siang, perjalanan Memo terhenti, dan hati saya patah melihat Pepo, separuh jiwanya yang tertinggal di bumi, tentu dengan hati porak-poranda. Dengan nalar yang belum sepenuhnya sadar, bahwa hari-hari ke depan tentu akan berat. Sebab terbang hanya dengan satu sayap membutuhkan energi luar biasa.

Ketika ditinggal pergi Ainun, Habibie mengatakan, selama berminggu-minggu beliau masih sering “menunggu” dan “merasa” bahwa Ainun masih ada. Hancur perasaannya ketika menyadari, istrinya takkan ada lagi di sana, duduk mengobrol dengannya. Entah kenapa saya teringat penggalan wawancara BJ Habibie yang ini, ketika melihat foto Pepo bertebaran di jagat media sosial.

Seperti menyaksikan sad ending dalam film romance, hati saya remuk redam.

Wait, is it sad? Or the other way around?

Sebab dalam “One Day”, Jim Sturgess dan Anne Hathaway juga akhirnya tidak lagi bersama, namun tidak berarti kisah cinta mereka sama berakhirnya.

Entah happy ending atau sad ending, kisah cinta selalu meninggalkan jejak yang melekat.

Selamat jalan Memo, selamat beristirahat.

Bersabarlah Pepo, ada jejak Memo di keseluruhan jalan hidupmu.

kisah-haru-ani-yudhoyono-jualan-es-karena-gaji-letnan-sby-tak-cukup.png

There are always sweet love stories to be told to the world.

 

Word count : 606

 

pictures sources:

wicker park here

the theory of everything here

SBY dan Ani Yudhoyono here

 

 

Posted in Keseharian

Narasi Emak-emak


Perempuan muda di depan saya itu sibuk menenangkan anak bungsunya yang berusia kurang lebih tiga tahun, sambil juga membujuk anak lelakinya (7 tahun). Si anak lelaki marah sebab penganan kesukaannya diberikan Ibunya kepada sang adik. Meski sudah dibujuk dan dikatakan, bahwa ‘di kulkas masih banyak’, ia tetap kesal dan merasa Ibunya tak adil. Adiknya, menangis sementara Ibunya sibuk tergopoh-gopoh kesana kemari, diantara puluhan mainan yang berserakan di lantai, ceceran slime dan coretan spidol dimana-mana.

Ibu muda itu, ia beranak tiga, bertemu dengan saya dalam hubungan guru dan murid. Diantara segala hiruk pikuknya mengurus rumah tangga, ia masih berusaha meningkatkan kualitas dirinya dengan belajar lagi. Terkadang ia belajar dengan tenang, saat anak terkecilnya sedang ada yang mengasuh (dua anak lagi sudah bersekolah). Hari itu, ia berkali-kali minta maaf sebab sesi kami banyak terganggu oleh tingkah dua anaknya yang hobi berantem (who doesn’t in that age?).

Saya sama sekali tidak terganggu. Situasi chaos yang sering dihadapi emak-emak, memang hanya dapat dipahami oleh emak-emak lainnya. Sebagai tambahan, saya kagum padanya, sebab tak sekalipun ia meninggikan suaranya ketika menghadapi kerewelan anak-anak. Tambah kagum lagi, sebab saya tahu ia melakukannya dengan biasa saja, tanpa bermaksud membuat pencitraan di hadapan saya, yang statusnya sebagai tamu.

Ada banyak emak-emak lain, yang juga sering saya intip kegiatannya, dimana lagi, jika bukan media sosial.

Ada emak yang rajin bercerita mengenai kesehariannya bersama anak-anak, dari mulai bangun pagi hingga tidur di malam hari. Seakan membaca diary yang tergeletak dimana saja, saya menikmati keseruan harinya.

Ada ibu-ibu yang senang berbagi resep masakan, kemudian mengunggah foto bekal anak ke sekolah. Luar biasa kreatif, meski mungkin indahnya foto yang dia unggah, tak selalu sebanding dengan usaha yang sudah ia lakukan. Emak’s work is a never ending story. It is known.

Bersyukur saya, masih ada banyak emak-emak yang menarasikan perasaan dan kehidupannya dengan cara sederhana namun sering bikin terpana.

Terkadang kita hanya butuh sederhana saja kok, meski definisi ‘sederhana’ sudah terdistorsi maknanya akibat rumah makan Padang yang harganya tidak sesederhana judulnya. Sungguh sangat click-bait sekali.

download (1).jpg

Tempo hari, saya membaca ulasan sebuah artikel (was it? Yeah I think so), yang menyatakan bahwa peta perpolitikan hari ini ada di tangan emak-emak.

Serius? Emak-emak yang mana? Yang suka dasteran itu?

images.jpg

Saya tergelak ketika membacanya, sekaligus mengiyakan dalam hati. Mungkin juga frasa “peta perpolitikan” termasuk terlalu bombastis. Mungkin jika diganti dengan “media sosial” akan lebih terasa gaungnya. Emak-emak memang menjadi ratu di media sosial kok. Lemparlah isu apapun, yang nyamber kebanyakan pasti mereka semua.

Setiap ada postingan yang viral pasti ada emak-emak, dan anehnya, postingannya bisa tentang apapun. Apapun. Dari ilmu vaksin sampai ekonomi makro, emak-emaklah yang menjadi penyumbang komentar paling banyak. Dari yang komentarnya berbobot dengan ilmu dan data, hingga ke yang sering bikin hati berbisik, “ini gimana ngedidik anak-anaknya sih?” Hahahaha.

Maka wajar saja menurut saya, ketika salah satu timses Cawapres menjadikan emak-emak sebagai “gimmick” dalam penokohannya. Wong ini kelompok yang memang prospektif untuk dijadikan pasukan militan kok.

partai-emak-emak_20180903_132023.jpg

Memangnya kau pikir siapa yang bikin Sangkuriang sampe menendang perahu hingga terbalik? Emak-emak lah. Dayang Sumbi itu bukan perawan kinyis-kinyis, dia sudah ibu-ibu yang punya anak remaja. Bedanya, dia ga pake daster.

Itu baru satu emak-emak, gimana kalo banyak?

Pasti Indonesia kebanyakan bukan lautan, melainkan daratan; dengan banyak perahu yang ditendang jadi gunung.

#Wagelaseeeh
Kemarin, menikmati kembali narasi emak-emak yang disampaikan dalam bentuk keluhan terhadap pemimpin negeri ini.

Seorang emak berhijab, merekam dirinya sendiri di dalam mobil. Ia mengeluhkan tentang bagaimana perekonomian di era ini begitu sulitnya hingga ia mesti tertatih-tatih menopang perekonomian suaminya, demi supaya mereka bisa menyekolahkan anak mereka ke Amerika.

Ibu Utami, demikian ia memperkenalkan diri, kemudian juga bercerita bahwa ia sebagai seorang wanita karir dengan 44 anak buah, menerapkan prinsip kepemimpinan di dalam perusahaannya. Ia mengkritik dengan memberi contoh bagaimana seharusnya ini dan itu dilakukan.

Ibu Utami, menarasikan kritikannya dengan mengambil contoh dari kehidupannya sendiri. Bagaimana ia, ibaratnya mesti rela makan hanya dengan tempe tahu, supaya anaknya bisa tetap sekolah di Amerika sana.

Sesuatu yang dekat, personalized context, memang bisa menjadi senjata ampuh dalam berorasi, pun dalam beragumentasi. Talk about something you really know about, not other things that you are unfamiliar with, begitu prinsip yang saya tahu dalam banyak hal.

Satu saja saran saya untuk Ibu Utami. Mungkin lain kali, ia sebaiknya membuat draft terlebih dahulu, sebab narasinya jadi berkembang kemana-mana. Tak ada satu angle yang ia fokuskan. Mau mengkritik yang mana? Dollar naik dan terpaksa makan tempe tahu? Kepemimpinan yang ia katakan salah satunya dilihat dari gesture? Atau keberpihakan terhadap kelompok tertentu?

Saya menuliskan ini tidak dengan kebencian maupun kejulidan terhadap Ibu Utami maupun kelompok yang ia bela (jika ada). Ini hanya soal membuat narasi yang lebih baik. Supaya lebih sistematis dan logis. Runut dan jernih. Supaya pesan tersampaikan dengan baik.

Menjawab video Ibu Utami, kemudian ada video seorang Ibu berambut pirang, yang dari logatnya, sepertinya berasal dari tanah Sumatera (jika tak salah tangkap).

Ibu pirang kemudian menanggapi video pertama dengan narasinya sendiri, yang sayangnya, juga jatuhnya sama-sama emosional. Ini seperti kebiasaan para musisi di tahun 70-80 an, senangnya berbalas lagu. Lagu Betharia Sonata dibalas sama Obie Mesakh.

broerymarantikadlm
“Engkau begini … aku begitu … sama sajaaa ….” kata Broery Marantika/Pesolima mah.

*maap yang nulis agak jadul, vintage tapi ngangenin, begitulah*

 

Emak-emak, saya kira, memang kelompok yang menarik. Di tengah kesibukan mereka sebagai ibu rumah tangga dengan jam kerja sepanjang waktu, mereka masih sempat menyediakan waktu untuk ikut serta dalam pengajian, geng botram, arisan, plus memantau pergerakan isu kekinian di media sosial.

Emak-emak berdaster itu kini banyak yang melek fakta. Bukan sekadar ucapan “hmmm” yang keluar dari mulut DJ Butterfly yang sama-sama pake daster, emak-emak kita lebih dari itu. Merekalah pemilik sejati media sosial yang kita pantengin setiap hari.

Saya agak ngeri-ngeri gimana gitu menghadapi 23 September besok. Sebab itu awal kampanye pemilu 2019. Bisa dipastikan medsos akan berpesta pora dan emak-emak militan akan menjadi salah satu yang ikut berjoget di dalamnya. Entah tarian elegan macam ballet atau jungkir balik macam break dance campur hip hop, kita tak tahu. Mungkin keduanya.

Saya berdoa saja, semoga emak-emak sederhana, yang suka berbagi ilmu baik resep maupun parenting itu tidak punah karenanya. Sebab boleh jadi, kewarasan kita (baca = saya) salah satunya dibantu oleh mereka.

Emak-emak tentu bisa bernarasi, dan boleh bernarasi.

Asal berisi.
Hail, emak-emak!

 

sumber gambar:

  1. RM Sederhana di sini
  2. Keanu Reeves di sini
  3. Sandiaga Uno di sini
  4. Broery Marantika di sini
Posted in Keseharian

Apresiasi Positif


Seorang teman yang baru pulang dari menuntut ilmu di London, membawa beberapa oleh-oleh untuk dibagikan di kantor. Selain gantungan kunci, ia memberi saya sebentuk pin, yang jika bukan karena kata-katanya, saya takkan terlalu ngeh (karena ukurannya yang kecil sekali).

Irma, I bought this for you, because you’re a writer …”

 

37224074_10214594572550492_3189688703966511104_n.jpg

Diantara cengiran lebar dan candaan saya padanya hampir setiap hari, sesungguhnya hati saya langsung mengharu biru.

Pin ini kecil saja, namun karena ia memilihnya khusus untuk saya di London (dimana gantungan kunci atau pin yang lain biasanya bergambar Double Decker, England Phonebooth atau Big Ben), membuatnya amat istimewa.

Pin ini tanda apresiasinya untuk saya, meskipun agak terperanjat, sebab tak menduga ia ternyata membaca tulisan saya.

Ada begitu banyak apresiasi, dalam bentuk ucapan atau hanya sekadar tulisan kecil di atas kertas post-it, yang sering membuat saya merasa amat beruntung, dikelilingi oleh orang-orang yang tak susah memberi penghargaan, meski hanya sekadar ucapan, “Selamat ya!” disertai emoticon hati yang berkedip-kedip atau ketjup-basah.

37245026_10214594573030504_7833653823984893952_n.jpg

Apresiasi, sebuah hal yang mahal di negeri ini sekarang. Alih-alih apresiasi, orang lebih banyak mencaci. Padahal, memuji tentu lebih menyenangkan ketimbang membenci.

Tidakkah begitu menurutmu?

Pernahkah kamu memuji seseorang, kemudian pipinya memerah, matanya berbinar-binar karena bahagia? Jika iya, kamu akan tahu bahwa setelahnya hatimu akan menghangat, sebab kamu mengatakan dengan sungguh-sungguh, dan ia yang kamu puji menjadi sangat tersanjung, dan itu menyenangkan sekali.

Di sebuah perjamuan akhir tahun, saya berkesempatan menikmati hidangan di sebuah hotel di tengah kota Bandung. Saat pramusaji datang membawa makanan, suami menyenggol dan berbisik,

Look at her name.”

Tertera di atas name tag-nya : “Embun”.

Nama Mbaknya Embun, how lovely.

Sambil lalu, saya berkata padanya, “Mbak, namanya cantik sekali, secantik orangnya.” Kontan ia tertawa kecil, sambil tersipu-sipu. “Ah Ibu, bisa aja …”

Saya tahu, itu pasti kedengarannya norak sekali, dan ia orang asing. Tapi percayalah, saya tak tahan untuk tidak mengatakannya. Nama “Embun” itu luar biasa efeknya, mengingatkan saya pada padang rumput terbentang luas di pagi buta, setelah hujan semalaman, dan sisa embun bisa saya sentuh di atas dedaunan.

Luar biasa. Dan saya hanya seorang pecinta kata-kata.

Suatu kali di kelas, saat diskusi bebas, saya mengusulkan semua murid untuk menuliskan satu kalimat pujian terhadap teman-teman sekelasnya, dan tidak diberi nama. Anonymous. Setelahnya, semua kertas dikumpulkan, dan diacak. Setiap orang mengambil satu kertas dan membacakannya.

Semua murid merasa senang dan tertawa-tawa, sebab ada beberapa kalimat unik yang nyempil.

Dear X, I like when you lent me your pencil, thank you.

Your English is really good.

XXX, You always help me when I don’t know the answer and too embarrassed to ask the teacher.

I like you because you’re here.

I think I like you because we’re in the same class.

Err … you’re nice.

Bukankah itu sesuatu yang indah, dan membuat kita senang?

Kemarin, seorang teman yang lain menelepon saya menggunakan whassapp. Karena Baim ikut-ikutan riweuh, teman saya menyarankan untuk video-call. Akhirnya Baim bercakap-cakap dengan anaknya teman yang kira-kira seusia. Saat video diarahkan ke ibunya (teman saya itu), Baim sontak berteriak,

“Eeh … cantik!”

Teman saya tertawa-tawa dan merasa senang. Meskipun setelahnya saya godai, bahwa Baim memang anaknya suka lebay. Melihat apapun itu, ia akan menggunakan kalimat seperti, “Waaah …. Itu bagus banget, cantik banget!” hehehe.

Tapi biarlah, saya bersyukur Baim di usianya yang baru 5 tahun sudah bisa sangat ekspresif mengutarakan perasaannya. Seperti ketika Ibu saya membelikan sesisir pisang kesukaannya dari pasar, kemudian Baim bilang,

“Mamah pinter banget beli pisang itu!”

*anak-anak saya memanggil neneknya dengan sebutan “mamah”*

Jadi, sudah berapa banyak ucapan apresiatif yang kamu katakan hari ini?

37234315_10214594572630494_5393020151018815488_n

37211946_10214594573110506_4690062299631714304_n.jpg

37249569_10214594574750547_5444537596539568128_n

Posted in 30 Hari Menulis 2018, Keseharian

(Harga) Hijab Kekinian


Di era tahun 80-90 an para muslimah yang menutup aurat, tak bisa bergerak terlalu banyak, dalam arti, leluasa dalam kebebasan mereka berhijab.

Boro-boro mau gonta-ganti model gamis atau abaya, sekadar bisa berjilbab sesuai tuntunan saja sulitnya bukan main. Diejek “ninja” lah, dituduh penganut Islam garis keras lah, sampai ke foto ijazah yang tak boleh pakai jilbab. Pelarangan jilbab di banyak sekolah-sekolah dan universitas bukanlah sesuatu yang aneh di era Pak Soeharto.

3360888_20130730045756.jpg

Saya barangkali, adalah salah satu orang yang paling bersyukur, ketika hijab atau jilbab alias pakaian muslimah, mulai marak dan diterima secara terbuka di negeri ini. Sejak tahun 2000 an, tak sulit menemukan wajah muslimah berbalut kerudung di manapun kamu melangkah. Remaja, tua, muda semua kompak mengenakan hijab, bahkan anak-anak perempuan cilik yang belum baligh.

Lima tahun terakhir ini bisa dibilang, hijab sudah masuk ranah fashion, sejajar dengan tren-tren pakaian kekinian lainnya. Beberapa perancang Indonesia, malah membawa hijab ke level yang lebih tinggi, ke ajang internasional. Masyarakat dunia sedikit demi sedikit, diperkenalkan dengan hijab fashion yang sudah jadi salah satu haute couture, di tangan banyak desainer beken. Bahkan ada istilah kekinian “hijabers” yaitu para muslimah berhijab dengan gaya trendy.

Ramaikan-London-Fashion-Week-Dian-Pelangi-Jadi-Sorotan.jpg

*Dian Pelangi, desainer Indonesia di London Fashion Week 2016*

 

Kini model hijab tak hanya gamis tanpa potongan yang mirip karung terigu, seperti zaman dulu. Sekarang sudah ada model gamis lebar dengan potongan manis, abaya panjang yang meski gombrong namun tetap fashionable.

Begitu banyaknya model hijab sekarang, terkadang kita tak diberi waktu untuk terkejut. Apalagi setelah banyaknya pesohor yang berhijrah menutup aurat, dan turut serta dalam memeriahkan perkembangan fashion hijab di tanah air.

49540-gaya-jilbab-ala-zaskia-sungkar.png

Masalahnya, busana yang sudah menjadi tren, tentu tak hanya mengalami perubahan dalam hal model, tapi juga harga.

Dulu, waktu SMA, saya hanya memakai kemeja lengan panjang dan celana panjang atau rok panjang, plus kerudung polos dari bahan kaus. Harga kerudungnya murah sekali, mungkin hanya sekitar 10 ribu rupiah untuk zaman sekarang.

Hari ini, sehelai kerudung harganya paling murah 15 ribu rupiah (segiempat ukuran standar, 110×110 cm). Namun, bahannya mudah lusuh dan mengkerut setelah dicuci. Maka kerudung yang “agak bagusan” itu sekitar 30-60 ribu rupiah per helai. Harga di atas itu, tentu banyak. Kerudung premium (tanpa subsidi) dihargai sampai 400-500 ribu rupiah per helai.

Itu baru kerudung segiempat, ada lagi yang disebut khimar, kerudung langsung yang biasanya dipadu-padan dengan gamis syar’i yang panjangnya hingga menyapu lantai. Harga paling miring untuk khimar, berdasarkan penelusuran di akun-akun olshop Instagram adalah 150-200 ribu.

lyra-virna-instagramjilbabSyari.jpg

 

Belum atasan baik abaya atau tunik, belum gamis, belum outer. Saya pernah menghitung harga satu set gamis syar’i yang terdiri atas gamis dan kerudung saja, itu ada di kisaran 600 ribu rupiah paling murah. Gamis 400 ribu, khimarnya 200 ribu. Belum kalau ukhti ingin memakai ciput atau bandana rajut premium, tambahkan sekitar 35 ribu, plus hand sock, 30 ribu. Belum kalau mau pakek outer lagi, total bisa sejuta rupiah yang nempel di badan

Sejuta sih memang kalau diukur dari endorse para seleb hijaber ga ada apa-apanya. Mereka mungkin minimal pake satu setel seharga empat-lima juta rupiah, tapi kan masyarakat muslimah tak semua tajir melintir macem Zaskia Mecca atau Shireen Sungkar, jadi gamis syar’i harga 300 ribu aja udah bikin bengek.

Maka, jangan salahkan siapapun, jika ada muslimah yang kepengen hijrah tapi masih beralasan  “ngumpulin baju dulu” atau “ngumpulin uang dulu”, sebab pada kenyataannya, menutup aurat juga butuh komitmen; komitmen finansial adalah salah satunya.

download

Berhijab teh mahal ya?

Keluh beberapa teman yang kalau nurutin keinginan, pengennya beli gamis syar’i tadi. Apa daya, ujung-ujungnya pake kemeja flannel lagi, rok model A lagi.

Saya pribadi tidak menyalahkan desainer, sebab karya itu kadang tak bisa diukur pakek uang. Kreativitas menciptakan model busana itu seni luar biasa.

Hanya memang, sebagai mak-mak banyak gaya tapi pengen ngirit, besar harapan saya pada para desainer hijab dan olshop yang bisa membuat harga subsidi rakyat lemah, alias murah banget buat kami.

Udah ada sih ya beberapa, patut diapresiasi.

Sehingga ke depannya, para muslimah yang sedang menelusuri jalan hijrahnya, tak perlu lagi khawatir menghitung kocek, sebab harus mengeluarkan hingga ratusan ribu rupiah (bahkan lebih).

Meskipun harga memang ga bohong, yekaan.

Pasar baru versus butik itu, seperti kue klepon bertanding melawan macaroon.

Beda model, beda selera.

Beda juga harganya.

 

word count : 668

sumber gambar/gif

  1. Soeharto
  2. Dian Pelangi
  3. hijab artis
  4. Lyra Virna
  5. Britney
Posted in Keseharian

Zohri (tentu) Tak Sendiri


IMG_20150423_165117.jpg
Tiga tahun lalu, saat kami menaiki vaporetto (water bus) di Venesia, mamang sopirnya bertanya pada kami,
Where are you from?”
Tentu, jangan membayangkan mamangnya pake jersey ala-ala sambil ngudud jarum super. Yang ini bapak-bapak usia 50 an (sepertinya), dengan pakaian rapi plus jaket plus kacamata hitam.
IMG_20150423_135040.jpg
*mamang drivernya*
“Indonesia,” suami jawab. Saya udah merasa “meh” sebab rata-rata jika dijawab begitu, reaksi orang-orang akan mikir agak lama, baru manggut-manggut, sebab mereka taunya Bali bukan Indonesia.
Di luar dugaan, mamangnya mengangguk sambil tersenyum lebar.
“Aaah Indonesia! I know!
Eh?
“Erik Tohir! Very rich! You, Indonesian, very rich!” Katanya sambil tergelak menunjuk kami. Jempolnya terangkat.
Eh? (Lagi).
Siapa pulak itu Erik Tohir? Kalo Indra Tohir saya tahu, itu pelatih Persib.
Saat santai, kami pun googling dan ketawa barengan. Kemana aja yekaaan, ga tau kalo pemilik klub sepakbola Intermilan asal Italia ternyata adalah pengusaha kaya asal Indonesia.
Erick Tohir juga pernah menjadi pemilik klub Philadelphia Lakers (NBA), DC United (sepakbola) dan Satria Muda (basket).
hi-res-85a1a852aa7984b66594c97d1b62042c_crop_north.jpg
#tepokjidatnyamuk
Sesi Throwback ini, entah kenapa tiba-tiba mampir, saat saya baca kabar mengenai Bob Hasan.
Siapa pulak itu Bob Hasan?
Oh tenaaang … kalau itu saya tau.
Makleum, sempat hidup di zaman orde baru. Om Bob (ciyee sok akrab) dulu pernah jadi Menteri Perindustrian zaman Pak Harto, selain juga sebagai pengusaha.
Bob-Hasan.jpg
Om Bob yang kini berusia 87 tahun adalah Ketua PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) periode 2016-2020.
Om Bob adalah orang yang berjasa di balik kemenangan Lalu Mochammad Zohri, yang mengusahakan agar Zohri bisa bertanding di Finlandia.
Kondisi Zohri yang yatim piatu, sempat membuat pengajuan visanya ke Finlandia terancam gagal. Om Bob kemudian mengurusi semua persyaratan plus biayanya. Aslinya ada tiga anak muda yang akan diikutsertakan namun yang dua gagal berangkat karena masalah teknis dan cedera.
Sebagai orang yang disebut sebagai “Bapak Atletik Indonesia”, Om Bob memang terus menerus berjuang untuk memajukan atletik Indonesia, sejak tahun 1976.
Sebelum Zohri masuk Pelatnas dan berada dalam bimbingan Bob Hasan, Ia tinggal di Pemusatan Pendidikan Latihan dan Pelajar (PPLP) NTB di bawah naungan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTB. Dan ini sudah ia lakukan sejak bersekolah di SMA 2 Mataram.
*ini sekaligus menepis anggapan bahwa pemerintah NTB sama sekali tidak tanggap terhadap Zohri*
Siapa yang pertamakali jeli menemukan bakat Zohri? Ia adalah Bu Rosida (46), guru olahraga di SMP 1 Pemenang, tempat Zohri bersekolah sebelumnya.
5b48448132ac7-guru-smp-muhammad-zohri-rosida_663_372.jpg
*Yes, it’s a woman!
Zohri menyenangi sepakbola, namun Rosida melihat Zohri memiliki bakat alamiah menjadi pelari; dari segi postur tubuh, tungkai dan cara jalannya (kok bisa kleatan yak). Rosida yang selalu membujuk-bujuk Zohri, agar mau ikut latihan meski awalnya Zohri enggan.
Demikian, sebuah prestasi tak lepas dari campur tangan banyak pihak. Selalu ada jalinan yang terbentuk dari orang per orang, berkelindan satu sama lain.
Maka, tak elok rasanya jika mengatakan, “Zohri berjuang sendirian, tak ada yang peduli, pemerintah tutup mata,” dan lain sebagainya. Sebab ada begitu banyak kisah di luar track dan podium yang kita tak tahu.
Salah satu contohnya adalah, seorang warga Indonesia yang tinggal di Finlandia, yang ternyata sempat merekam detik-detik penganugerahan gelar juara Zohri di podium (Q terharu).
Dan kita juga patut berterima kasih pada kawan-kawan yang sudah banyak menyebarkan klarifikasi kabar hoaks soal bendera Zohri yang katanya bendera Polandia dibalik. Sudah saatnya kita perangi hoaks bersama-sama.
Keep calm, and stay positive.
*bersiap untuk final piala dunia
Saya pegang Prancis
Vive la France, allez les bleus!
😁
Berikut klarifikasi kisah bendera Zohri  yang dituturkan wartawan 




Tulisan rekan saya di media, yang kini koresponden TV di Jerman. Menurutku ini sangat menjawab pada mereka yang mempertanyakan seputar penampilan Lalu Muhammad Zohri di Finlandia. Sebagai bangsa Indonesia, saya bangga. 🙂Kalau saya mau dibilang sotoy ya silakan. Saya cuma mau nostalgia sedikit saat liputan IAAF 2009 di Berlin. Kalo mungkin masih ingat, itulah saat Usain Bolt pecah rekor lari 100 meter putra dengan 9,58 detik.

IAAF baik world championship maupun IAAF world u20 selalu dilaksanakan saat musim panas, sekitar bulan Juli. Durasinya sekitar seminggu , karena partai partai pertandingannya banyak banget. Yang unik, pertandingan pertandingan ini hanya dilaksanakan pagi dan sore, sekitar jam 17 mulai lagi hingga malam. 

Apa yang terjadi diantara pertandingan pagi dan malam? Pastinya matahari lagi terik teriknya. Tidak ada pertandingan. Saat IAAF Berlin, di Olympia Stadion, wartawan yang terkakreditasi mendapatkan akses bebas menggunakan kolam renang yang lokasinya berdampingan. Habis berenang, mereka berjemur, pepe kayak ikan asin, mandi, baru meliput lagi hingga malam hari. Wartawan yang diijinkan masuk lintasan lari? Mereka adalah wartawan televisi dan fotografer yang nota bene media partner. Ada panggung khusus buat fotografer dan campers yang bukan media partner. 

Walau sudah 9 tahun berlalu saya pikir aturan pertandingan dan akreditasi buat wartawan bukannya makin longgar pastinya makin ketat. Pertama IAAF world champion apaan sih ya. International Association Athletic Federation. Ya semacam FIFA di cabor sepakbola. Atlet yang tanding di IAAF harus memenuhi berbagai kualifikasi. Salah satunya pernah ikut dan punya performance dalam pertandingan tingkat nasional atau regional. 

Di tahun 2009 itu saya sempat nonton partai partai pertandingan babak penyisihan awal dimana atlet Indonesia Serafi Anelies Unani dan Fernando Lumain bertanding. Saat itu ada pengurus PB PASI mendampingi. Dimana mereka saat itu? PB PASI walaupun anggota delegasi duduk jauh dari panggung, sementara pelatih pun tidak diijinkan mendampingi hingga lintasan lari. Mereka hanya dapat mendampingi hingga area tertentu. Selebihnya mereka menunggu di tribun penonton. Sama seperti saya saat itu. Walau saya sudah berdiri di ring terdepan di area para awak media, yang lumayan dekat dengan lintasan lari, tetap saja masih ada pagar pagar pembatas di lintasan lari. 

Saya ngga habis pikir mengapa yang diributkan netizen malah bendera saat pengumuman kemenanan Lalu M Zohri di Tampere Finlandia. Hasil bincang bincang dengan Ibu Wiwiek Setyawati Firman, Duta Besar RI untuk Finlandia mengatakan saat pertandingan final 100 meter putra itu, kedua pelatih pendamping sibuk memasang kamera untuk merekam performance Lalu Zohri, untuk dibahas nantinya menghadapi pertandingan di Asian Games. 

“Bendera sudah kita bawa, untuk dibagikan pada supporter Indonesia, bahkan bendera dari ruang kerja saya yang biasanya dipasang bersebalahan dengan bendera Finladia itu tak bawa sekalian mbak,” kata ibu Dubes. Ada berapa WNI di Tampere? “Sekitar 30 termasuk bayi bayi,” sambung bu Dubes. T-i-g-a p-u-l-u-h. Dan pertandingan itu pada hari kerja. Dimana bu Dubes dan staf KBRI duduk? “Dalam stadion, beli tiket 12 euro tapi sayangnya dapatnya jauh dari lintasan lari, jadi nonton lewat layar raksasa itu”. 

Jarak Tampere-Helsinki? Sekitar dua setengah jam bermobil. Kalau WNI di Helsinki mau nonton pertandingan? “Ya beli tiket kereta satu jalan 50 Euro lalu tiket 12 euro, pulangnya 50 euro lagi”. 120 Euro untuk WNI di Helsinki kalau mau nonton pertandingan. Itupun kalau tertarik sama atletik. 

Indonesia meledak saat Zohri mampu memenangkan pertandingan. Tapi kenapa banyak hal hal kecil yang diributkan? Ya kenapa pelatih cuma sedikit yang ikut? Lho, bagus kan? efektif!! Finlandia emang dimana? Pernah iseng cari penerbangan ke Finlandia? Jauh lho. Jauh dari mana mana. Sumpah. Ntar kalo banyak delegasi katanya buang buang duit. Sedikit, eh salah juga. 

Kenapa Ketua PB PASI Bob Hasan begitu keras dalam menanggapi kemenangan Zohri? Kenapa yang dicari bukan saat Zohri latihan sebulan di Amerika dan pertandingan di UCLA Drake Stadium Mei lalu? Kenapa bukan kehebohan WNI dan PPI di Finlandia yang ikut mensupport Zohri dan Moan? Moan siapa? nah lo, siapa ya? … 

Lalu Zohri, pemuda sederhana dari NTB, tak pernah absen shalat 5 waktu, setia menunggu kiriman nasi dan lauk dari bu Dubes Wiwik bahkan di hari pertandingan. Para pelatih sempat khawatir karena Zohri ngotot menunggu kiriman nasi dengan hanya makan roti roti dan selai kiriman wisma duta yang tersisa, tak mau roti Finlandia, tak mau salad Finlandia. 

Kini wajahnya langsung dikenali para pramusaji di Hard Rock Cafe Helsinki “Hey! Indonesia? You are the world champion!”. Ia mendapat hadiah segelas es krim besar dengan kembang api diatasnya dan para pramusaji HRC yang cantik cantik itu minta berfoto dengannya. 

Sekali lagi selamat buat Lalu Zohri. Mudah mudahan kemenangan ini hanya awal untuk kesuksesan dan keberhasilan berikutnya. Saat ini, Zohri menghindar dari sorot kamera media. Nomer telepon yang tak ia kenal tak diangkatnya. Kadang ia berikan hpnya pada pelatih. Ia memilih menikmati batang batang coklat Finlandia sebagai hadiah kecil untuk kemenangannya. 

(Miranti Hirschmann)

sumber gambar:
Posted in 30 Hari Menulis 2018, Keseharian

Emak Lelah


Teman-teman yang ikut #30HariMenulis sudah mulai merasa lelah. Wajar, sebab hari ini sudah menginjak hari ke-20, dimana mereka dipaksa untuk  selalu bisa menyetorkan tulisan setiap harinya.

Belum lagi harus siap menerima saran dan kritik dari sesama peserta, sesuatu yang tadinya saya canangkan hanya agar tumbuh kepekaan dan tanggung jawab berbahasa di antara mereka.

Ndilalah, malah banyak peserta yang nampaknya menikmati dan ketagihan membuat kritik sampe ke perintilan, macam bibik Titi Teliti di majalah Bobo.

download.jpg

Selama mereka tak saling menyakiti, secara harfiah maupun figuratif, saya kira masih aman.

Hadaah.

Speaking of tiredness, I kinda had a bit mental breakdown last night.

Bukan salah bunda mengandung, namun salah ayah menaruh burung, eh …

Bukan salah siapa-siapa sih, salah saya sendiri.

Makanya jadi emak-emak normal aja, bahas drakor, bahas harga telor dan ayam yang meroket, pakek sok-sok bahas politik, nyiksa diri sendiri!”

Ini kata teman kerja saya, sambil ngunyah ayam geprek Bensu di suatu siang di kantor.

ayam-geprek-bensu.jpg

Bener sih. Harusnya.

Entah kenapa saya tydac mampu bergabung di dalam geng emak-emak yang bahasannya muter-muter di wacana,

Wahai para istri, inilah yang membuat suamimu betah di rumah.

Atau

Hati-hati pelakor mengintai di setiap kelokan jalan, waspadalah!

Screenshot_8.jpg

Masyaallah.

Seandainya saya masuk ke geng di atas, mungkin hidup ini akan jauh lebih mudah. Takkan dicap liberal dan diragukan keislamannya.

Hiks.

Mungkin malah akan banyak bahan untuk tulisan, semisal “menuju rumah tangga bahagia” atau “kiat-kiat terbebas dari jerat pelakor”.

Tapi aku tak sanggup, Rhoma!

Jangan paksa aku!

meme roma.JPG

*scoring music – menyayat*

Berperan sebagai emak-emak sok apdet dan sok ngikut politik di era medsos di negeri tercincah ini memang berat, Dilan juga pasti nangis.

Mendedikasikan seluruh tulisan setiap hari untuk setidaknya mencerdaskan rangorang, meski hanya seupil gajah, memang tak mudah.

Ini padahal akutu udah mikir lama loh nulis begini, udah make baca pulak, tapi kenapa kamu kok tetap qeras qepala bagai quda? (err …. Keknya bukan gitu deh)

Akutu ga bisa diginiin.

Yeuh nya … bapak ibu sodara-sodara, mun sakirana teu ngarti duduk persoalannya mah geus tong sotoy, soalna matak salah. Nu aya pikaseurieun. Jeung ambek.

#ngomongNgapa

Literasi itu tempo hari, kata Dekput adalah kombinasi dari menulis, membaca dan berpikir. Tentu bukan sembarang mikir. Sebab anak saya umur 5 tahun juga sering bilang,

Bental ya, Baim mikil dulu …

Ini tentu yang dimaksud adalah critical thinking yekaaan.  Berpikir kritis, bray. Ga hanya mikir,

Loh logikanya, kalo ekonomi dibilang maju, rupiah harusnya menguat dong?”

Yasiiikalo pen gampang mah yaaaa.

Tapi kaaan … kalo baca detik finance tiap berapa hari sekali, mata lu pasti jereng lama-lama, nemu yang namanya kebijakan ekonomi, harga minyak dunia, penanaman modal asing dan sebagainya dan sebagainya.

Kemudian karena merasa “nih pasti gue ga ngerti gegara sumbernya make bahasa endonesah nih” lalu situ pindah ke reuteurs untuk tahu lebih banyak. Trus frustrasi. Udah sok-sokan mbaca bahasa Inggris, gagal pula.

Menyedihkan.

failed.gif

Kadang kita (rasanya) sudah mengoptimalkan literasi semampunya. Baca ini, baca itu. Kalau perlu semua masalah yang sedang jadi polemik, kita baca dari pelbagai sudut pandang. Jangan dua, terlalu sedikit itu. Lima sudut pandang, lah; biar mabok sekalian. Lalu kita manggut-manggut,

oh ya ya jadi begitu toh, ai si ai si

Kembangin deh jadi tulisan, didandanin biar tjakep.

Muncul komentar,

Cieeee yang belain pihak onoh mulu … pengennya nampilin yang manis-manis aja sih.”

Berusaha tenang. Tetap tampilkan senyum cantik, meski hanya lewat emoticon.

girl-smiley-face.png

Kemudian nyasar ke postingan orang, dan membaca komen,

“Hahahaha, dasar negeri komedi, ini pasti salah Mukidi!”

Si senyum cantik sudah memudar, ibarat cahaya lampu yang berpendar, konsentrasi jadi buyar.

#HeyItsRhyme

Bikin kopi ah.

Sugan jadi waras.

Besok bikin postingan yang aman aja lah, yang ngadem.

Kan ada tuh yang bilang, “Situ senengnya kontroversi mulu ya, bikin postingan gaduh terus.”

Giliran kita nulis soal pendidikan, bahasa, sosial, review film, eh dese ga muncul. Munculnya pas politik mulu.

Fix ini mah nalarnya ga nyampe.

Kaan kaan jadi kejam kaaan.

#tutupMulut

download (1).jpg

Deseu = D

Emak = E

D : Tau darimana bahwa nganu adalah nganu?

E : dari sini dan sini dong, intinya banyak baca dah.

D : emang ada sumber yang terpercaya? Apa aja?

E : *jembrengin sekian situs berita lokal maupun interlokal

D : Yakin itu teh?

E : Yah, yakin mah sama Allah atuh, tapi ikhtiar mah harus. Selalu baca dulu sebelum nulis.

D : Kalau yakinnya sama Allah mah, baca Quran atuh.

*antara pengen lempar HP tapi sayang, belom tentu kebeli lagi*

Akhirnya pasrah.

Idupin computer.

Mari jadi emak-emak normal aja.

*Nonton Dear John*

Channing Tatum meni kasyep.

Dear_John_9_L.jpg

 

sumber gambar/gif

  1. good job
  2. geprek bensu
  3. pelakor
  4. Rhoma
  5. you failed
  6. smile
  7. zip it
  8. Dear John