Posted in Film

Kemenangan dan Kesederhanaan PARASITE


*hati-hati, mungkin mengandung spoiler untuk yang belum nonton*
 
“Baru kali ini degdegan nonton Oscar!”
Demikian komentar salah satu kawan di grup pecinta film. Sepagian kemarin, saya pun menatap layar komputer (live streaming dari salah satu portal berita) dan jari bergerilya mengetik balasan chat di grup. Hahahaha.
Penyelenggaraan Academy Awards ke-92 tahun ini memang penuh kejutan, meski beberapa pertanda sudah terlihat di awal-awal. Apa seeh.
Dilihat secara keseluruhan, jajaran film yang masuk nominasi bukanlah lawan main-main. Biasanya selalu ada film yang (terlihat) jauh lebih unggul disbanding yang lain.
Tidak tahun ini.
 
Ada Joker yang disajikan indah sekaligus mencekam, mengobrak-abrik emosi penonton ketika menyaksikan kehidupan Arthur Fleck yang seperti mewakili sebagian masyarakat kita. Tumbuh dalam lingkungan yang tidak kondusif, mengalami perundungan, berujung pada depresi hebat. Akting Joaquin Phoenix memukau disertai script cerita yang solid, menjadikan film ini (salah satu) jagoan saya untuk mendapatkan Oscar.
Lalu ada The Irishman, film besutan salah satu legenda Hollywood, Martin Scorsese, yang memasang jajaran cast uwow macam Robert De Niro, Al Pacino, Joe Pesci dan Harvey Keitel.
Saya sempat bilang ke suami, jika merujuk pada kebiasaan Oscar yang suka agak-agak “nyeni” dan anti film box-office, The Irishman seharusnya bisa menang. Dengan durasi sepanjang tiga jam lebih, Scorsese sukses mengarahkan para pemain kawakan ini untuk menyajikan akting kelas dewa.
Di akhir, muncul 1917, film bertema perang (PD I) garapan Sam Mendes. Meski leading actors di sini adalah para pemain muda (Dean Charles Chapman dari Game of Thrones, dan George McKay dari Captain Fantastic), tapi film ini unggul secara teknis.
Saya sangat suka dengan pengambilan kamera di sini, seolah tak terputus dan tanpa editing sama sekali. Istilahnya “one shot”. Kadang ketika menonton film, kita pasti tersadar bahwa ada pergantian “shoot” yang halus atau tersamar (atau bahkan jelas sekali). Di 1917, pengambilannya sangat mulus, sampai-sampai gaya “single take style” nya Sam Mendes ini dibahas di beberapa artikel.
Saya sendiri cukup menyukai gaya Sam Mendes, sejak ia menyutradari American Beauty (1999). Saya tak begitu tahu istilah sinematografinya, tapi Mendes bisa menyajikan gambar yang tak hanya indah namun sarat dengan muatan emosi, kira-kira begitulah.
Saingan berikutnya ada Jojo Rabbit, Marriage Story dan Ferrari versus Ford. Saya belum menonton semuanya, namun dalam ulasan yang saya baca, masing-masing juga memiliki kelebihan. Terutama Jojo Rabbit dan Marriage Story. Yang pertama berkisah tentang masa pendudukan NAZI, dari sudut pandang seorang anak bernama Jojo. Yang kedua berkisah tentang kehidupan rumah tangga, yang katanya inspiring sekali.
Khusus untuk Marriage Story, entah kenapa saya menunda untuk menontonnya, sebab ingin menyiapkan mental yang tangguh dulu. Wuahahahaha.
 
Kemudian, yang terakhir akan saya bahas adalah, tentu saja Parasite. Film asal Korea Selatan yang mencatat sejarah di Oscar ini, sudah menawan hati sejak saya menyaksikannya pertama kali.
Apakah Parasite istimewa sebab ia dari Asia?
Tunggu, dalam sejarahnya, sudah ada beberapa nama orang Asia dan film dari Asia yang masuk nominasi Oscar.
 
Tercatat Ang Lee, sutradara asal Taiwan yang pernah masuk nominasi Oscar untuk karya-karyanya seperti Crouching Tiger Hidden Dragon (2000), Life of Pi (2012) dan Brokeback Mountain (2005). Pada judul terakhir, Ang Lee menyabet gelar sutradara terbaik.
Nama Asia lainnya yang pernah masuk nominasi adalah Asghar Farhadi, sutradara asal Iran lewat film “A Separation” (2011). Ken Watanabe, aktor berkarakter asal Jepang juga masuk nominasi aktor pendukung terbaik lewat “The Last Samurai” (2011).
Paling anyar adalah sutradara Hirokazu Koreeda asal Jepang yang mempersembahkan Shoplifters (2018), salah satu film paling mengguncang secara emosional (setidaknya menurut saya). Shoplifter masuk nominasi Oscar pada kategori Best Foreign Picture, meski akhirnya dikalahkan Roma dari Meksiko, karya Alfonzo Cuaron.
Tentu kita juga masih ingat dengan kemenangan Slumdog Millionnaire di tahun 2008, yang disambut gembira banyak warga Asia, karena merasa terwakili, meski aslinya film ini dibuat oleh sutradara asal Inggris (Danny Boyle), sebuah entertainment company asal Inggris dan didistribusikan oleh Fox dan Warner Bros asal Amerika.
 
Mengapa kemenangan Parasite, yang menyabet empat penghargaan Oscar menjadi begitu istimewa?
Terlepas dari serangan hallyu (demam Korea) yang begitu masif di industry hiburan internasional, Parasite memang sebuah masterpiece.
Jika Joker membuat nama Joaquin Phoenix menjadi melekat padanya (seperti Heath Ledger di The Dark Knight), maka Parasite membagi rata kualitas akting para pemainnya. Joker is a one man show, kalau kata teman saya. Bukan berarti ia hasil kerja satu orang, tapi kesan itulah yang kita dapatkan. Joker ya Joaquin Phoenix.
Secara tema global, 1917 barangkali yang paling menarik, sebab ia mengangkat tema perang. Terkait sinyal-sinyal perang yang sudah dicanangkan Amerika-Iran, seharusnya 1917 menjadi relatable dengan penonton. Namun, tak semua orang suka isu politis. Meskipun suka, barangkali tidak banyak (yang peduli). Sementara Parasite menyuguhkan tema yang lebih universal : kesenjangan sosial.
Terbukti, meskipun disajikan dalam bahasa aslinya (Korea), Parasite mampu menyampaikan pesan ke hati penonton. Hidup si Kaya dan si Miskin, ternyata tak sesederhana itu. Bahwa pada suatu ketika, kita akan dibuat bingung, ke pihak mana kita mesti lebih bersimpati.
 
Plot kisah Parasite dibuat rapi, menyisakan banyak layers of twists, yang meskipun mungkin penonton sudah bisa agak menebak, tetap nendang juga. Secara keseluruhan, Parasite menyajikan tontonan yang dapat dimengerti semua kalangan, tanpa melupakan teknik storytelling yang mencengangkan, penyajian sinematografi yang indah dan akting chemistry antara para pemainnya yang begitu kuat.
Suami saya sempat mengatakan, dibandingkan Parasite, Shoplifters lebih rapi dan tak terduga. Namun kemudian kami bersepakat, bahwa Parasite menang dari segi teknik penggarapan. Lagipula, Shoplifters dan Parasite tidak bertemu di ajang dan tahun yang sama. Sekadar membandingkan saja.
 
Setelah berturut-turut memenangi Best Foreign Picture (film asing) dan Best Original Screenplay (skenario), saya belum yakin Parasite akan mendapatkan penghargaan lagi. Namun setelah Bong Joon Hoo (BJH) dianugerahi sutradara terbaik (WHAAAAT), saya jadi punya feeling, Parasite akan jadi film terbaik. Terbukti sudah.
BJH naik ke podium dengan wajah tak percaya. Bukan tanpa alasan, saingannya ya Allah, ada Martin Scorsese, Quentin Tarantino, Sam Mendes dan Todd Phillips.
Siapalah ini, sutradara berwajah Asia, yang mirip Didi Petet, ini? Orang mungkin hanya mengingatnya dari film Okja (2017) yang sempat tembus pasar internasional dan memenangi beberapa penghargaan. Tapi bisa mengalahkan Tarantino dan Scorsese? Cuih.
But then, he did.
 
Dengan wajah polosnya, sambil tersenyum malu-malu, ia bercerita bahwa ada satu kutipan yang selalu ia ingat hingga merasuk ke jiwa. “When I was young and studying cinema, there was a saying that I carved deep into my heart, which is that, The most personal is the most creative.”
JBH kemudian menyebutkan kutipan tersebut datang dari Martin Scorsese. Sontak semua tamu undangan pada perhelatan Oscar berdiri dan memberikan aplaus pada Opa yang tersenyum-senyum.
JBH juga melanjutkan dengan berterima kasih pada Quentin Tarantino yang sudah membantu memperkenalkan film-filmnya ke public Amerika. “When Americans were not familiar with my films, Tarantino always put my films on his list.” JBH kemudian menyampaikan pujian kepada Sam Mendes dan Todd Phillips sambil mengatakan, seandainya diperkenankan, ia ingin membelah piala Oscar menjadi lima bagian, sehingga setiap nominee bisa mendapatkannya.
Bagian pidato JBH ini favorit saya dari semua perhelatan Oscar kemarin. Sama halnya dengan Joaquin Phoniex yang menyampaikan pidato bersahabat di ajang SAH Awards, ketika ia memuji beberapa aktor lain, dari mulai Leonardo DiCaprio, Adam Driver, Christian Bale, hingga mendiang Heath Ledger yang menjadi inspirasinya. Baik JBH maupun Phoenix menunjukkan contoh sikap membumi mereka, meskipun mereka hebat dan terkenal.
 
Parasite total menyapu empat penghargaan di ajang Oscar, ditambah 198 penghargaan dari ajang lainnya, termasuk dari Cannes Film Festival.
Kemenangan Parasite boleh jadi ditenggarai sebagai salah satu bentuk kampanya ‘diversity’ yang akhir-akhir ini gencar dilakukan Amerika lewat Hollywood.
Barangkali.
Sudah sedemikian lama, ajang Oscar juga disebut-sebut bermuatan politis, dengan isu Yahudi, segregasi kulit hitam dan putih, dan yang paling akhir adalah emansipasi perempuan dan kaum LGBT. Konon kabarnya.
Barangkali begitu.
 
Namun sebagai penikmat film, saya sendiri senang dan mengapresiasi kemenangan Parasite, sebagai sebuah karya seni yang memang mumpuni. Ibaratnya, kalo kita menang lomba, biarpun digosipin tetangga kanan kiri, tapi kalo memang karya kita bagus, memangnya kenapa?
 
Parasite bukan saja bukti bahwa film berbahasa selain Inggris bisa menang di penghargaan internasional, namun juga bahwa kesederhanaan dan kerendahan hati sineasnya juga membuat simpati. JBH dengan senyum simpul di wajahnya dan memerlukan penerjemah untuk membantunya berbahasa Inggris, tidak kalah pamor dengan sutradara dunia lainnya yang sudah menelurkan lebih banyak karya.
 
Once again, way to go, Parasite!
Chukkae !
_110845856_hi059851856
 
 
Posted in Film

Kiranjit, perempuan yang merasa bebas di dalam penjara


Bersyukurlah di ponsel saya ada aplikasi HOOQ dan IFLIX, jadi ketika insomnia melanda, bosan membaca, saya bisa nonton film di sana. Tempo hari sempat menonton dua film Indonesia yang bagus “Posesif” dan “Bukaan 8” di IFLIX.

Kemarin ini, saya scroll-scroll, semua film, rata-rata sudah ditonton, iseng saya klik “Bollywood” di HOOQ. Teman-teman saya sering bilang, referensi film Bollywood saya kurang haha. Maklumlah, malas kalau harus nonton dengan durasi 3-4 jam, dengan banyak nyanyian dan tarian, duh.

Eh, ndilalah ketemu sama film ini.

 

download

(http://www.impawards.com/2007/provoked.html)

 

Judul : Provoked : A True Story

Tahun rilis : 2006

Sutradara : Jag Mundhra

Cast     : Aishwarya Rai, Naveen Andrew, Miranda Richardson, Robbie Coltrane

 

Sebetulnya ini bukan film Bollywood, melainkan produksi Inggris. Hanya, memang kisahnya tentang seorang perempuan India yang tinggal di London.

Secara sinematografi, ini film yang biasa saja, sudut-sudut pengambilan gambarnya, cukup-cukup saja, sampai saya sempat bingung, ini kok biasa banget ya bikinnya. Tidak special, tata rias biasa saja, visual efek tidak ada, music juga sekadarnya. Ternyata memang kekuatan film ini ada di cerita.

Kiranjit, adalah gadis Punjabi, India, yang menikah dengan Deepak Ahluwalia, pria yang baru dikenalnya selama satu hari saja. Di tahun 1979, Kiranjit yang yatim piatu dan merupakan bungsu dari Sembilan bersaudara, tidak memiliki pilihan lain selain menikah. Semua orang yang membantu memersiapkan pernikahannya selalu mengatakan, ia akan bahagia, sebab Deepak punya pekerjaan tetap di London, dan ia pria yang baik. Deepak juga akan mendukungnya tetap melanjutkan pendidikan.

provoked-a-true-story

(https://www.justwatch.com/uk/movie/provoked-a-true-story)

Takdir berkata lain. Hanya dalam hitungan hari setelah pernikahan, sifat asli Deepak mulai muncul. Ia mengatur semua hal yang bisa dilakukan Kiranjit. Makanan dan minuman yang boleh ia makan, siapa saja yang boleh bergaul dengannya, baju apa yang boleh ia kenakan. Tak hanya itu, Deepak senang menyiksanya secara verbal, fisik dan psikologis. Rambut dijambak, leher dicekik, diancam dengan pisau, ditinju, diancam dengan setrika panas adalah makanan Kiranjit sehari-hari. Seringkali semua siksaan ini dilakukan ketika Kiranjit hamil dan di hadapan anak-anaknya (mereka punya dua anak).

10 tahun pernikahan, pada tahun 1989, akhirnya Kiranjit tak tahan lagi. Saat suaminya tidur, ia menuangkan bensin dan membakarnya. Kiranjit tidak berniat membunuh Deepak, Kiran hanya ingin Deepak merasakan sakit yang ia rasakan. Pun begitu, karena 40 % luka bakar yang dideritanya, Deepak Ahluwalia akhirnya meninggal 10 hari kemudian.

Kiranjit Ahluwalia, ditangkap dan dikenakan tuduhan pembunuhan. Hakim memvonisnya bersalah dan menjebloskannya ke penjara dengan hukuman seumur hidup. Anehnya, saat seorang aktivis perempuan menjenguknya di penjara, dan bertanya apa yang ia rasakan, Kiranjit menjawab, “I feel so free.”

Ini bukanlah akhir dari kisah Kiranjit, tapi sebaiknya kalian nonton juga. Sekadar informasi, kasus Kiranjit Ahluwalia telah menambahkan hukum baru, pada penyelenggaraan persidangan di Inggris. Kasus ini menjadi sangat viral pada zamannya, sebab melibatkan kekerasan pada perempuan, sesuatu yang seringkali dipandang sebelah mata.

Saya sendiri, menonton film ini dengan perasaan ngilu. Sebab masih ada begitu banyak perempuan yang belum bisa lepas dari kubangan domestic violence. Para perempuan yang memilih diam demi anak-anak, atau demi memertahakan pernikahan. Supaya tidak jadi bahan omongan para tetangga, dan keluarga sendiri.

Sedih.

 

1435496451aishwarya_provoked.jpg

Kiranjit Ahluwalia yang asli (kanan) dan Aishwarya Rai, yang memerankannya di film.

(https://www.indiatvnews.com/entertainment/bollywood/bollywood-divas-who-played-real-life-characters-22305.html/page/3)

 

Posted in Film, tulisan di Media

Rekomendasi 10 Film Bertema Pendidikan, Sudah Nonton yang Mana?


tulisan ini sudah dimuat di https://hype.idntimes.com/entertainment/irma-susanti-irsyadi/rekomendasi-10-film-bertema-pendidikan-sudah-nonton-yang-mana-c1c2

 

Film yang bagus, bukan hanya film yang dibintangi oleh para aktor/aktris dengan akting mumpuni atau sinematografi yang memanjakan mata.

Film yang bagus juga berarti plot cerita yang ciamik serta pesan moral yang tersampaikan dengan baik. Salah satunya, yang membuat penonton merasa mendapat “sesuatu” yang berbeda.

Pendidikan adalah salah satu selipan yang sangat bisa disematkan dalam sebuah film untuk menyampaikan pesan. Beberapa film Hollywood yang berpesan soal pendidikan, menjadi film-film abadi yang akan selalu dikenang karena penyampaian pesan pendidikannya yang keren sekali.

Berikut 10 film Hollywood bertema pendidikan yang nancep di hati, gaes, kalian sudah menontonnya belum? Wajib ditonton lho.

Urutan didasarkan pada pemerolehan rating yang dilansir oleh imdb.com

3idiots_t2jtrl

https://qrius.com/eight-years-on-checking-on-rajkumar-hiranis-3-idiots/

 

  1. 3 Idiots (2009) – 8.4

Satu-satunya film produksi Bollywood dalam daftar ini memang film fenomenal. Menonton film ini, kita akan sadar bahwa sekolah selama ini banyak memperbudak pikiran para muridnya, ketimbang mencerahkan. Ketiga “idiot” yang diceritakan di sini juga akan banyak mengisahkan mengenai sistem pendidikan di India, yang sedikit banyak mirip dengan Indonesia.

good_will_hed

http://mentalfloss.com/article/66975/14-wicked-smart-facts-about-good-will-hunting

  1. Good Will Hunting (1997) – 8.3

Ben Affleck dan Matt Damon menuliskan kisah tentang Will Hunting, seorang anak muda jenius yang bekerja sebagai janitor (petugas kebersihan) di MIT, salah satu institute terkemuka di Amerika. Bakat Will kemudian ditemukan oleh salah seorang Profesor yang mengajar di sana, dan ia diarahkan untuk menemukan tujuan hidupnya, dibantu oleh seorang psikolog. Kisah drama yang mengharukan ini membuat Ben Affleck dan Matt Damon memenangi penghargaan Oscar untuk kategori scenario terbaik pada tahun tersebut.

front-of-class-1200-1200-675-675-crop-000000

https://letterboxd.com/film/front-of-the-class/

  1. Front of The Class (2008) – 8.2

Tahukah kamu, apa yang dimaksud dengan Tourette Syndrome? Ini adalah sejenis penyakit syaraf yang menyebabkan penderinya mengeluarkan pelbagai bunyi dari mulutnya atau menggerak-gerakkan anggota badannya secara tak sadar. Apa yang terjadi jika seorang penderita Tourette kemudian menjadi guru sekolah? Apakah murid-muridnya bisa menerima? Bagaimana dengan para orangtua dan sekolahnya? Kisah nyata Brad Cohen, seorang guru SD yang menderita Tourette disampaikan dengan indahnya di sini.

dps-pic

http://schmoesknow.com/back-school-series-dead-poets-society/43546/

  1. Dead Poets Society (1989) – 8.1

Bagi para movie mania, film ini adalah sebuah tontonan wajib. Robin Williams berperan sebagai seorang guru sastra yang mengajarkan kebebasan berpikir kepada murid-muridnya. Perjuangannya untuk membuat murid menantang kungkungan sekolah yang terlalu kaku membuatnya kemudian menghadapi banyak kesulitan. Film ini adalah salah satu film yang paling banyak dikutip kata-katanya dalam kehidupan keseharian. “Carpe diem”, adalah salah satunya. Artinya adalah “Seize The Day”.

blind-side

https://www.trend-chaser.com/entertainment/movies/the-true-story-behind-the-blind-side/

  1. The Blind Slide (2009) – 7.7

Ini adalah kisah nyata Michael Oher, seorang pemuda yang mengalami kesulitan belajar namun jago bermain American Football. Lahir dari seorang Ibu pecandu dan lingkungan yang tak sehat, Michael bertemu dengan keluarga Tuohy, yang kemudian mengadopsinya menjadi salah satu anak mereka. Sandra Bullock, aktris yang memerankan Mrs. Tuohy, Ibu angkat Michael di sini, diganjar penghargaan Oscar untuk aktingnya yang memukau.

freedomwriters_pic1

https://www.fandango.com/freedomwriters_98294/moviephotosposters

  1. Freedom Writers (2007) – 7.5

Erin Gruwell (diperankan oleh Hillary Swank) mendapati dirinya sendiri terjebak dalam ruangan kelas yang berisi murid-murid SMA yang amat rasis. Sebagai guru sastra, ia kemudian melakukan pendekatan melalui buku-buku bacaan, untuk mengajari para muridnya, bahwa tak ada salahnya menerima perbedaan. Sebagai seorang guru, Erin benar-benar mengabdikan seluruh waktu dan tenaganya untuk mencerdaskan para murid.

download

http://myglowingscenes.com/5-things-akeelah-and-the-bee-taught-me/

  1. Akeelah and The Bee (2006) – 7.4

Akeelah Anderson adalah seorang anak perempuan yang pintar. Sayangnya, tak ada satupun orang di keluarganya yang memberikan motivasi saat ia diminta gurunya untuk mengikuti kompetisi “spelling bee” atau mengeja. Ibunya seorang single parent yang sibuk bekerja untuk menghidupi anak-anaknya setelah Ayah Akeelah meninggal. Akeelah kemudian dipertemukan dengan seorang Profesor, pelatih bahasa. Sanggupkah Akeelah mencapai keinginannya untuk menjadi juara Spelling Bee Internasional? Tonton saja, biar kamu tidak penasaran.

finding-forrester

http://vulturehound.co.uk/2017/03/finding-the-one-film-gus-van-sant-keeps-making-finding-forrester-duel-format/

  1. Finding Forester (2000) – 7.3

Forester adalah seorang penulis terkenal yang memilih hidup sendiri jauh dari keramaian. Suatu hari ia berjumpa dengan seorang anak muda kulit hitam yang kemudian ia ajari untuk menulis. Hubungan antara Forester dan si anak muda ini lah yang menjadi kekuatan film ini, yang akan menunjukkanmu, bahwa dalam belajar, kamu butuh keteguhan untuk tidak cepat menyerah.

lkvnT8SShNsdqM2AR1Lyp15PFrk

https://www.empireonline.com/movies/mona-lisa-smile/review/

  1. Monalisa Smile (2003) – 6.5

Di zaman sekarang, seorang perempuan bisa saja memiliki pola pikir yang bebas dan memilih untuk tidak menikah karena mengutamakan karir. Di tahun 1950-an, ini adalah sesuatu yang aneh dan menakutkan. Julia Roberts, berperan sebagai dosen Seni yang mencoba membuka wawasan para mahasiswi di sebuah sekolah elit di Amerika pada tahun 1950-an. Para mahasiswi yang awalnya memusuhi dosen ‘aneh’ tersebut akhirnya mulai bisa memahaminya. Sebuah film yang sarat pesan, apalagi untuk kamu, yang ingin memotivasi perempuan untuk lebih maju.

dangerous-2

http://mauiwatch.com/2015/06/looking-back-dangerous-minds-1995/

  1. Dangerous Minds (1995) – 6.4

Seorang mantan Marinir bernama Louanne Johnson (Michelle Pfeiffer), beralih profesi menjadi seorang guru SMA. Ia harus mengajar sebuah sekolah yang terletak di daerah Bronx yang cukup menantang, karena rata-rata muridnya tinggal di wilayah tempat peredaran narkoba. Sepak terjang seorang Louanne untuk mengajari murid-muridnya memahami mata pelajaran Bahasa Inggris menjadikan film ini sangat menarik dengan scoring music yang juga cantik. Meskipun dibesut pada tahun 1995, film ini tidak pernah terasa jadul, karena tema yang dibawakannya sesuai untuk ditelaah pada zaman apapun. Ngomong-ngomong, film ini diangkat dari buku karya Louanne Johnson sendiri lho, jadi ini adalah kisah asli yang ia alami.

 

Demikian Kesepuluh film bertema pendidikan yang akan membuat kamu merasa tercerahkan setelah menontonnya.

Ingat, film yang baik adalah yang sarat dengan pesan moral.

Selamat menonton!

 

Posted in Film, tulisan di Media

Dua Film Pendidikan yang Tak Biasa


*artikel ini sudah dimuat di https://www.brilio.net/creator/2-film-bertema-pendidikan-yang-tak-biasa-030444.html*

1200x630bb

(https://itunes.apple.com/au/movie/captain-fantastic/id1114445273)

Bosan menonton film bertema pendidikan yang itu-itu saja?

Bacalah premis mengenai dua film ini, dijamin penasaran!

Bagaimana rasanya dibesarkan di alam bebas, diberikan banyak latihan fisik supaya kuat dan banyak buku supaya pintar? Syaratnya mudah, jangan hidup berbaur dengan masyarakat dan tak usah ikut daftar ke sekolah formal.

Captain Fantastic (2016) bercerita tentang Ben Cash (Viggo Mortensen), seorang Ayah yang mendidik keenam putra-putrinya dengan cara yang tidak biasa. Alih-alih mengirim mereka bersekolah, Ben malah mengajari sendiri semua anak-anaknya. Keenam anak Ben tumbuh menjadi anak-anak yang tidak mengenal sistem sekolah formal namun cerdas luar biasa karena sedari kecil sudah dijejali dengan buku-buku bacaan bermutu.

Ben dan keenam anak-anaknya membangun sebuah tempat tinggal di dalam hutan, bercocok tanam dan berburu. Semua makanan yang mereka makan dihasilkan dari usaha mereka sendiri. Ben juga melatih mereka dengan keras, untuk memanjat tebing, bertarung dan lari lintas hutan.

Masalah baru muncul, saat ada suatu hal penting yang mengharuskan mereka untuk pergi ke kota, dan mencoba berbaur dengan banyaknya aturan tatakrama yang biasa dianut orang kebanyakan.

Menonton film ini, akan membuat kita tersadar bahwa selama ini kita memang hidup di dunia yang sangat hedonis, dimana semua hal diukur dari nilai uang dan materi. Sebaliknya, film ini juga mengajarkan bagaimana sebaiknya orangtua membuat keputusan terbaik buat anak-anak mereka. Sebab di ending cerita, ada kejutan yang membuat Ben Cash harus memertanyakan kembali sikapnya selama ini.

the-glass-castle

(http://www.mcmillanlibrary.org/movie-20180115)

Setahun setelahnya, The Glass Castle (2017) dirilis. Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama ini, mengisahkan pengalaman nyata yang dialami oleh Jeanette Walls. Jeanette beserta ketiga saudaranya, hidup nomaden dari satu tempat ke tempat lainnya. Terkadang mereka harus tinggal di rumah kosong yang dibiarkan terbengkalai, di saat lain mereka malah terpaksa tidur di atas tanah di sebuah padang yang sangat luas.

Ayah Jeanette adalah mantan marinir yang membenci kapitalisme. Ibunya adalah seorang seniman pelukis yang nyaman dengan hidup berantakan ala hippies. Pun begitu, Jeanette dan ketiga adiknya dididik dengan cara yang amat baik. Dijejali pelbagai buku bacaan bermutu dan dibebaskan untuk memiliki pola pikir sendiri.

Serupa dengan Captain Fantastic, film ini membukakan mata kita tentang pendidikan anak-anak yang selama ini kita ketahui dan alami. Bahwa sekolah tidak hanya melulu ruangan kelas tempat kita bisa menulis dan mendengarkan guru. Bahwa ilmu bisa didapat dari mana saja, dan alam adalah tempat terbaik untuk menempa diri kita.

Kedua film ini, banyak membuka wawasan kita, yang mungkin selama ini sempit terkungkung kebiasaan dan tradisi humanis turun temurun.

Sangat direkomendasikan, untuk kalian yang menyukai film yang mencerahkan.

Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, Film

Picky Moviegoer


#Film

Saya ini penonton yang pilih-pilih. Tidak seperti sebagian teman se-geng (geng tukang nonton) yang bisa menonton film apapun, saya tidak.

Terutama, *uhuk, film Indonesia.

Untuk yang satu ini, saya amat sangat pemilih. Pasti baca ulasan dulu, pasti liat trailernya dulu.

Jika ulasan banyak orang tidak terlalu bagus, saya takkan nonton. Jika dari trailer saja sudah gampang ditebak, makin malas.

Saya termasuk sering sekali menonton film. Seingat saya, sejak kecil saya sudah terkagum-kagum melihat layar di televisi. Terpukau dengan dialog berbahasa asing yang tidak saya mengerti. Terikat dengan cerita yang mungkin terlalu dewasa untuk saya pada waktu itu. Hingga menangisi sesuatu yang terjadi di dalam film tersebut. Film yang sangat bagus bahkan bisa menganggu mood saya hingga beberapa hari setelahnya.

Hollywood dengan segala “sihir” yang mereka miliki, budget yang sering tak masuk akal saking besarnya, terbukti mampu membuat penonton seperti saya setia menantikan tayangan-tayangan berikutnya.

Untuk urusan dana, memang masih jauh perfileman Indonesia dengan luar. Hingga kalau Anda menonton film action kebut-kebutan, jangan harap bisa melihat adegan tabrak-tabrakan mobil seperti di The Transporter. Atau kejar-kejaran seperti Baby Driver. Belum ada produser yang kelihatannya sanggup berkorban sekian banyak mobil.

Jadi, lupakan dulu masalah dana.

Mari kita bahas masalah acting.

Pemain Indonesia jaman dulu, banyak sekali yang aktingnya mumpuni. Christine Hakim, Ikranagara, Meriam Bellina dan banyak lainnya yang membuat banyak orang terkenang, salah satunya saya.

Aktor dan aktris jaman sekarang, maaf-maaf, sedikit sekali yang aktingnya bisa bikin sesak napas.

Kalau tidak terlalu lebay ala sinetron, pasti terbatas seperti ga niat akting.

Jangan bandingkan dengan Jack Nicholson di A Few Good Men. Atau Anthony Hopkins di The Silence of The Lambs. Yang mungkin berhasil saya kenang dari aktor Indonesia adalah almarhum Didi Petet di film Catatan si Boy.

“Mas Boy …” dengan gaya khasnya.

Sekarang, setiap kali saya lihat Reza Rahardian, pasti ingat sama Habibie. Yang menurut saya pencapaian akting Reza yang paling bagus.

Soal cerita, nah ini dia masalahnya. Indonesia ini sumber dayanya banyak, negerinya kaya. Tidak mungkin orang-orangnya bisa kehabisan ide.

Tapi coba tengok film-filmnya. Berapa persen sih yang ceritanya kuat? Yang idenya original? Yang plotnya rapi?

Rata-rata masih berkutat di gaya sinetron. Banyak nangis, banyak di- bully, banyak berdoa.

Kisah cintanya?

Kalau tidak terlalu berani, pasti agak-agak berbau syariah.

Yang terakhir ini paling laku dijual. Ciptakan tokoh yang ganteng, dan saleh, pertemukan dengan beberapa tokoh perempuan, ciptakan konflik supaya ujung-ujungnya, si ganteng berpoligami, dengan banyak deraian airmata, selesai.

Kalau tidak, kisahkah seorang perempuan berhijab yang pintar membawa diri dan senang bertualang. Jatuh cinta pada tokoh lelaki yang berbeda agama. Konflik lah, masalah deh. Ujung-ujungnya kemudian si tokoh lelaki mau berpindah agama demi si pujaan hati. Selesai.

Tidak penting konflik yang berat. Sebab tak semua orang bisa mengerti. Tidak penting pendalaman tokoh, yang penting kasih soundtrack yang bikin terharu.

Mendadak saya rindu Pengantin Remaja garapannya Wim Umboh. Atau Ramadhan dan Ramona.

Ah.

#30DWCJilid10 #Day20

Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, books, Film

The “King”


(Picture is taken from Jack Dylan Grazer’s Instagram)

#books

#writer

Jika ada penulis yang sampai hari ini, sering membuat saya takut, maka ia adalah Stephen King.

Setiap selesai membaca bukunya, atau menonton film yang diadaptasi dari bukunya, saya selalu terdiam sejenak. Hanya untuk memikirkan darimana King ‘kepikiran’ untuk menulis seperti itu.

Tahun 1973, ia menuliskan novel pertamanya, berjudul “Carrie”. Novel ini sudah dua kali diadaptasi ke versi layar lebar. Sissy Spacek adalah pemeran Carrie di versi 1976, dan di film yang lebih anyar (2013), peran Carrie dipercayakan pada Chloë Grace Moretz.

Ide cerita Carrie termasuk ‘gila’ untuk saya. Seorang gadis yang memiliki kemampuan telekinesis yang mengguncang seisi kota dengan kemarahannya. Jika menurutmu, ini ide sudah basi (sebab makhluk-makhluk yang punya super power sudah sering berseliweran dimana-mana), pikirkan lagi. Sebab Carrie ditulis tahun 1973.

Saya ingat, betapa deg-deg annya menonton Carrie (saya menonton versi 1976, baru membaca bukunya). Betapa akibat di-bully teman-temannya dan dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat fanatic, bisa menciptakan gadis seperti Carrie, yang mendendam. Para orangtua jaman now bisa belajar dari buku Carrie tentang bagaimana pesan moral yang terselip adalah gagalnya gaya parenting.

Kemudian, saya terpaku dengan Misery (1987). Setahun sebelum Thomas Harris menuliskan karakter Hannibal Lecter yang sakit secara psikis, King sudah menghentak pembaca dengan sosok Annie Wilkes, seorang psikopat yang mengerikan. King menulis dan menggambarkan sosok psikopat dengan begitu hidup, sehingga terkadang saya sering menyangka, jangan-jangan Stephen King juga seorang psikopat. 😀

IT, badut yang menghantui anak-anak di kota fiktif, Derry mengguncang bioskop-bioskop di seluruh Indonesia, bulan September lalu. Bukunya sendiri ditulis tahun 1986, dan sudah pernah diadaptasi sebelum 2017. Jika Anda menontonnya, Anda akan sadar bahwa banyak ‘gaya’ dan ‘gimmick’ yang sering dipakai banyak penulis/sutradara lain, yang ternyata ide orijinalnya dari King.

Ada begitu banyak buku-buku Stephen King lainnya, yang jika saya tuliskan, niscaya takkan terlalu berfaedah. Anda akan kesal sebab tulisan saya tambah lama tambah panjang dan tidak penting. Saya pun akan lelah mengetik. Jadi sudahlah. Kita sudahi saja hubungan ini. #eeaa

Karya-karya King, tidak hanya berkutat di karakter sakit jiwa dan kemampuan psychic saja. Di buku-buku lain, ia banyak menulis soal alien (misal: The Tommyknockers, The Mist, Dreamcatcher) dan ritual sihir kuno dan horror (misal: Pet Sematary, Cujo).

Sewaktu kecil, Stephen King disebut-sebut pernah menyaksikan kematian seorang temannya sendiri. Banyak orang menduga bahwa pengalaman inilah yang kelak banyak mengilhami King untuk menulis soal rasa kesakitan dan pergolakan jiwa manusia dalam buku-bukunya. Di masa dewasanya, King juga sempat jatuh bangun mengatasi masalah ketergantungannya pada alkohol.

Hingga hari ini, Stephen King masih tinggal di kota Maine, AS. Di buku-bukunya, setting tempat yang ia pakai selalu Maine, dengan tambahan kota fiksi, Derry. Dua anak lelakinya kemudian juga menjadi penulis.

Hingga hari ini, Stephen King masih menjadi salah satu penulis favorit saya.

Ia agak gila. Saya juga.

Agaknya, kami memang cocok.

😊

#30DWCJilid10 #Day15

/p>

Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, books, Film

Tak Melulu Hitam dan Putih


#Film

#Buku

Pada era 90-an, Boy yang ganteng, tajir, rajin salat dan baik hati adalah idola para remaja Indonesia. Mas Boy yang begitu ikonik (diperankan oleh Onky Alexander) menjadi benchmark anak muda pada jaman itu.

Penokohan protagonis pada era sebelumnya juga tak berbeda. Tengoklah film-film yang dibintangi Rano Karno (Reza Rahardian-nya jaman dulu). Selalu saja ia memerankan anak muda yang baik hati, rajin beribadah, pintar dan banyak teman. Jikapun ada kelemahan, biasanya dari sisi ekonomi. Dalam sinetron Si DoelAnak Sekolahan, misalnya; kelemahan satu-satunya Doel adalah (jika memang bisa disebut sebagai kelemahan) ia berasal dari keluarga sederhana. Selebihnya, ia ganteng, umat yang taat dan luar biasa pintar.

Jika Anda perhatikan, pakem seperti ini lah yang ideal dipakai dalam penokohan protagonis (film ataupun buku) pada jaman itu. Film-film Hollywood pun begitu. Wajah tampan, gagah, otak pintar disematkan pada tokoh protagonis yang jadi pujaan penonton. Sementara antagonis harus rela “dikutuk” menjadi seseorang yang jelek, bertato, bermulut kasar, berpendidikan rendah dan lain sebagainya.

Di era yang sama juga, muncul tokoh Lupus, rekaan Hilman Hariwijaya yang juga merebut perhatian remaja Indonesia. Lupus, lucunya, tidak tampan atau bergelimang harta. Ia anak SMA yang cenderung biasa-biasa saja. Ia juga tidak digambarkan rajin beribadah. Semua biasa-biasa saja. Tapi justru di situlah kekuatan Lupus. Dari “biasanya aja”, semua orang suka dia. Sebab Lupus punya banyak teman dan sangat penolong. Kehidupan remaja Lupus yang penuh tawa digambarkan dalam buku-bukunya menjadi penyeimbang tokoh-tokoh protagonis lain yang biasanya “serba bagus”.

Hingga hari ini, saya masih kagum kepada Hilman yang telah berhasil menciptakan tokoh Lupus yang lucu dan bersahaja.

Aturan tak tertulis “protagonis harus baik dan cakep sementara antagonis harus jelek dan kasar” masih dianut hingga ke sinetron-sinetron awal tahun 2000 an.

Sinetron “jaman now” saya tak tahu, sebab TV lokal sudah saya kasih pensiun dini sejak 12 tahun yang lalu.

Dulu, di dunia perfileman maupun penulisan, hitam dan putih masih menjadi acuan. Semua orang terbagi dalam dunia warna tersebut. Itulah sebabnya jaman saya remaja, melihat orang bertato itu sudah ngeri. Stigma “yang tatoan pasti brengsek, jahat, ga pernah solat, pasti tukang mabok” melekat kuat dalam ingatan. Sementara orang-orang yang kelimis, berpakaian necis dan berwajah tampan pastilah menyandang gelar sebagai “orang baik”.

Semakin ke sini, pandangan itu makin bergeser. Sebelumnya, penjahat itu pasti gondrong, bertato, mulutnya bau alkohol. Sekarang, ada juga penjahat yang berjas rapi dari butik dan kemana-mana pakai mobil mewah. Mungkin karena jaman orde baru istilah koruptor belum dikenal, adanya penjahat kroco sekelas maling ayam atau jambret.

Di dunia perfileman dan perbukuan juga berubah. Para tokoh protagonis tak lagi digambarkan “sempurna”. Selalu ada sisi gelap yang ditonjolkan. Tokoh antagonis yang jahat ternyata juga punya sisi humanis yang membuatnya lebih natural.

Dunia hitam putih lenyap sudah. Selain hitam dan putih, sekarang muncul grey area, atau abu-abu. Setiap orang ternyata punya sisi gelap dan terang. Karena memang begitulah hidup yang sesungguhnya.

Di novel-novel karya Robert Galbraith (pseudonym dari J.K Rowling) diceritakan seorang tokoh utama bernama Cormoran Strike. Cormoran tidak ganteng, ia cenderung tinggi besar dengan wajah yang engga-banget. Jalannya timpang karena luka jaman perang. Meskipun begitu ia detektif yang hebat.

Miss Marple, salah satu tokoh fiksi karya Agatha Christie, adalah perawan tua yang membosankan. Ia berusia 60-an dan hobi merajut dan bergosip dengan tetangga. Pun begitu, bagi para penggemar Agatha, mengikuti perjalanan Miss Marple mengungkap pelbagai kasus kriminalitas menjadi sangat mengasyikan. Buyar lah sudah imej mengenai tokoh perempuan cantik nan seksi ala ala Buffy The Vampire Slayer.

Mengapa pergeseran ini bisa terjadi?

Wajar saja. Dulu memang fantasi orang mengenai tokoh superhero/protagonis memang begitu. Ekspektasi orang begitu tinggi.

Seseorang yang “punya lakon” memang mesti ganteng/cantik dan wajib punya akhlak baik. Harta yang banyak dan pergaulan yang luas menjadi bonus. Sehingga orang kemudian bisa menyematkan harapan pada si tokoh ini. Sebab pahlawan kan cocoknya memang kudu ganteng, jangan seperti Shrek.

Mungkin itu juga yang ada di pikiran Bob Kane dan Bill Finger saat menciptkan tokoh Bruce Wayne/Batman yang ganteng, jagoan dan bergelimang harta. Meskipun jika Anda penggemar Christipher Nolan dan sudah menonton trilogi “The Dark Knight”, Anda akan tahu bahwa di situ Bruce Wayne ternyata bisa rapuh dan klepek-klepek.

Untuk tokoh antagonis, mau tak mau saya akan selalu teringat Muni Cader dan Toro Margens. Dua aktor ini, entah kenapa di otak saya selalu lekat dengan imej penjahat atau pemerkosa. Kalau Anda tidak tahu siapa mereka berdua, silakan gugling, dan selamat, berarti Anda masih muda.

Tapi, tunggu dulu.

Ternyata tokoh Antagonis tidak sejahat dan sejelek itu. Lihatlah Lord Voldemort, musuh abadinya Harry Potter. Dalam kisah hidupnya, kita tahu bahwa ia tidak sejelek itu awalnya. Banyak faktor yang menjadi penyebab Tom Marvollo Riddle berubah jahat. Mungkin ia terlambat konsultasi dengan guru BP jaman sekolah di Hogwarts. Terlambat ditangani oleh Bunda Elly Risman dan Ayah Eddy.

See?

Every human has his own story.

Oleh karena itulah, maafkan saya jika saya sempat tertawa terbahak-bahak melihat seorang tokoh yang digambarkan di buku (dan filmnya) sebagai seorang yang nyaris sempurna.

Tokoh ini saleh, taat beribadah dan disukai semua perempuan. Semua perempuan. Bolak-balik saya mencoba mencari celah dimana si tokoh ini akan terlihat rapuh tak berdaya, tidak ada pemirsa. Ia sempurna tak bercela, hingga dalam kisahnya ia tak kuasa menolak perhatian banyak perempuan.

Luar biasa.

Maafkan, mungkin saya terlalu skeptis. Padahal si tokoh ini disukai jutaan orang lain. Mungkin saya saja yang aneh. Saya saja yang terlalu banyak membandingkan buku ini atau film itu. Saya saja yang terlalu realistis, padahal mungkin penonton tidak butuh realita, mereka haus dengan fantasi dan suka terjebak dalam dunia mimpi. Jebak aku Bang … jebaaaak …

Ah, baiklah.

Inilah keinginan sederhana saya terhadap para penulis dan pembuat film. Penokohan antagonis dan protagonis ini sudah tidak jaman lagi dibuat di dua sisi yang saling tolak menolak. Protagonis tak mungkin selamanya sempurna dan antagonis tak seluruhnya cacat norma.

Lihatlah kiri dan kanan. Semua orang itu berwarna. Apa yang kita lihat belum tentu kondisi sebenarnya. Semua orang memakai topeng. Semua orang berusaha menampilkan kondisi terbaik di hadapan orang-orang lainnya.

Saya ingin melihat banyak sisi kemanusiaan dalam sebuah kisah, mau itu buku atau film.

Buatlah protagonis yang manusiawi. Tokoh yang mungkin punya sedikit kelemahan, jangan terlalu sempurna, sebab sempurna sudah diklaim oleh Andra and The Backbone.

Antagonis, di sisi lain; berilah ia sedikit ruang untuk menunjukkan bahwa ada begitu banyak alasan yang menyebabkan seseorang menjadi jahat.

Bad people weren’t born, they were made.

Sebab begitulah hidup. Tidak melulu soal hitam dan putih. Selalu ada gradasi diantara keduanya.

Salam.

#30DWCJilid10 #Day3