Posted in 30 Hari Menulis 2018, Family, Sosial Issues

Perjalanan Seumur Hidup


Kelen tau Bowo ga sih?”

Tiga kepala anak gadis usia 11-17 tahun itu, terangkat semua dari buku dan gawai yang sedang mereka pegang.

“Siapa tuh?”

“Tiktok ceunah …”

“Ooh teteh tau, iya yang tiktok itu” akhirnya Aisha yang baru naik kelas 6 mengangguk. Pernah liat, katanya.

Tiga anak gadis saya tidak kenal Bowo dan tidak peduli dengan tiktok. Perkembangan kreativitas orang-orang di media sosial memang ga ada matinya. Selalu ada tren baru setiap harinya. Mulai aplikasi yang bisa memoles wajah menjadi lebih mencrang alias kinclong, sampai yang membuat para penggunanya memutuskan meninggalkan rasa malu di sudut rumah (contohnya BIGO live).

Beberapa teman di Facebook sempat mengeluhkan aplikasi tiktok yang meresahkan ini. Beberapa kali pula saya melihat tautan gambar dari entah akun Facebook atau twitter atau instagram, tentang kekaguman para remaja putri, kepada Prabowo Mondardo, alias Bowo Alpenliebe, alias Bowo Tiktok.

Wajar ketika banyak emak-emak merasa resah, sebab kekaguman yang dicetuskan para gadis kinyis-kinyis itu bisa membuat ulu hati tertohok. Dari mulai yang rela jual ginjal sampe menawarkan keperawanan kepada Bowo, sang idola.

750xauto-duh-8-status-fans-berat-bowo-tik-tok-ini-bikin-ngelus-dada-180629e.jpg

(sumber gambar di klik )

*langsung-migren

Tadi malam saya iseng mencari si Bowo yang sedang ngeheitz ini.

*tambah-migren

Anak seumur jagung ini … cuma goyang-goyang jari, lip-sync lagu apalah-apalah itu, sambil senyam-senyum, bisa ngadain meet and greet berbayar 80K?

Sungguh halusinasi tingkat pilkada ini.

are-u-frustrated.jpg

(sumber gambar di klik )

Apapun itu, sebagey emak-emak anak empat yang kebanyakan gaya ini, saya hanya ingin memberi semangat kepada emak-emak lainnya,

Seloow saja … anak-anakmu ga akan termasuk penyembah Bowo, kan kau ibu mereka.

*saya sebut penyembah, soalnya salah satu fans katanya ingin bikin agama baru, dan Bowo mau dijadikan Tuhannya, mmh nyaaa … blom pernah di-sleding Messi tuh anak.

00214786s1.jpg

(sumber gambar di klik )

Saya selalu bilang kepada para orangtua, yang memiliki anak abegeh, harus percaya diri jadi orangtua. Mau ada fenomena seaneh apapun, jika komunikasi kita bagus sama anak, Insyaallah takkan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Gawai adalah sesuatu yang sulit dihindarkan di era sekarang. Menyeleksi dan menyaring adalah solusinya. Kecuali kalau Anda jenis orangtua luar biasa yang sanggup menjauhkan gawai dan sejenisnya dari anak, mengisinya dengan hal-hal positif, seperti bermain kreatif,  olahraga dan hapalan Quran. Percayalah, saya tahu ada banyak orangtua yang seperti ini. Saya kenal beberapa diantara mereka.

Tak ada orangtua yang sempurna, tentu saja. Anak-anak kita adalah proses trial and error kita sepanjang masa. Seperti halnya mereka berproses menuju kedewasaan, kitapun menjalani proses menuju kematangan sebagai orang yang lebih tua dan hidup lebih dulu.

Anak-anak adalah peniru ulung. Apa yang mereka lihat dan dengar, itu yang akan mereka contoh. Perjalanan tiru-meniru ini berlangsung sepanjang hayat dikandung badan. Anda suka membentak, mereka akan melakukannya juga. Anda suka mengejek, oh mereka juga. Anda suka berbohong, meremehkan orang, menyepelekan proses, mengambil jalan pintas, dan sebagainya dan sebagainya; mereka akan melakukannya.

Maka cermin adalah guru yang baik.

Bercerminlah, maka kita akan tahu sudah seberapa banyak yang kita abaikan, dan baru sedikit yang kita lakukan.

Perjalanan ini masih panjang.

Sebab menjadi orangtua bukan kontrak kerja tahunan, apalagi cicilan kendaraan, yang ketika beres Anda akan merasa lega dan merasa kewajiban telah tunai. Ini komitmen hidup yang Anda setujui saat janin mulai berkembang di Rahim. Terima saja, dan bertanggungjawablah.

Jadi, mau ada Bowo kek, mau ada “istri sah Iqbaal” yang fenomenal di Instagram, mau ada aplikasi baru yang lebih aneh lagi, santai aza kek di pantai.

Percayai anak-anakmu, sebab Anda orangtua mereka.

Jangan khawatir mereka jadi punya idola aneh-aneh, kan Anda Ibu Bapaknya.

Kecuali kalau Anda sendiri begitu, ya itu beda kasus.

Mari, kita bercermin.

 

* am sipping my coffee and thinking how weird this whole world has become

 

Word count : 582

 

Posted in Family

Bully!!!


Setelah “salim”, Baim memanjat tangga menuju kelasnya. Di selasar ia berbalik, dan melambaikan tangan. Saya masih di sana, menunggunya hingga menghilang di balik selasar, yang memisahkan tangga menuju kelas dan tangga ke luar. Saya memutar jalan ke seberang sekolah Baim, supaya bisa mengawasinya dari jauh. Ia terlihat ragu-ragu, mengintip jendela kelas sebentar, baru kemudian masuk. Hati ini sedih melihatnya, namun Baim harus berani. Sebab Baim harus tahu hidup itu berat, sekarang dan nanti.

Pagi ini ia menolak bersekolah. Setelah dibujuk, akhirnya mau juga, sebab hari ada ada cooking class di TK-nya Baim. Baim tidak mau sekolah, sebab beberapa hari ini ia selalu dipukul oleh temannya. Entahlah apakah “dipukul” atau “terpukul”, apakah sedang main-main atau memang sengaja. Saya sendiri sudah memberitahu gurunya mengenai ini, agar disampaikan kepada anak-anak, bahwa memukul bukan bagian dari permainan.

Suatu hari, pernah saat menjemput, Baim langsung terisak memeluk saya. Menunjuk satu orang anak yang berada tak jauh dari sana. “Dipukul sama ituu …” si anak yang memukul sedang memakai sepatu dibantu oleh Ibunya. Saya menatap Ibunya, menunggu respon. Hingga sepatu selesai dipasangkan, saya hanya termangu di sana, serasa di PHP-in. Hari-hari selanjutnya, Ibunya anak itu, kalau bertemu dengan saya selalu memalingkan wajah atau menunduk, tak berani bersirobok pandangan.

Baiklaaaah.

Sepanjang karir saya sebagai Ibu beranak empat, masalah perundungan (bullying) ini selalu ada. Dari Tazkia anak tertua, hingga Baim yang bungsu. Macam-macam jenis perundungannya, dari yang sekadar ngomong (verbal) hingga ke memukul secara fisik.

Menariknya, meski tipe perundungannya macam-macam, tipe para Ibu perundung justru hanya satu macam. Tipe yang selalu mengatakan,

“Yah dimaklum aja, namanya juga anak-anak,”

Atau tipe yang pura-pura tak tahu kalau anaknya telah menyebabkan anak orang lain menderita.

Percayalah. Para perundung itu eksis sebab dibiarkan dan dimaklumi.

Ungkapan “namanya juga anak-anak” itu kedengarannya dan kelihatannya benar. Semacam justifikasi bahwa anak, dengan usia belianya memang belum mengerti yang benar dan salah.

Dan ini justifikasi yang mengerikan.

Jangan-jangan banyak para perundung yang hingga dewasa masih sering melakukan itu, sebab mereka berbekal mantra “namanya juga anak-anak”, hingga kemudian batas antara yang benar dan salah itu kemudian mengabur.

Contoh-contoh lain yang lebih ekstrim dikisahkan oleh teman-teman saya. Ada anak yang sampai mencekik anak lainnya, kemudian Ibunya (yang mencekik) justru marah-marah dan memusuhi Ibu yang satunya lagi.

Ibu yang gila.

Maafkan, jika bahasa saya kasar. Sebab, anak bagaimanapun refleksi orangtua nya. Mengapa senang memukul? Mengapa senang mengasari? Itu yang perlu dicari jawabannya, bukan malah membuka jalan untuk bermusuhan dengan sesame orangtua.

Di saat orangtua perundung bisa dengan cueknya menikmati hidup, orangtua anak yang dirundung, seperti saya, harus pandai-pandai menahan hati.

Memangnya ada, Ibu yang tidak sedih jika anaknya dirundung? Baik verbal maupun fisik? Setelah itu, saya juga harus mengajak anak saya mengobrol,

“Iya … teman-teman memang banyak macemnya, kan. Ada yang baik, ada yang nakal. Yang nakal mungkin lagi lupa, dimaafkan aja ya. Yang penting kamu jangan begitu sama orang lain.”

Sementara anak saya masih terisak, berulang-ulang saya harus melakukan sounding supaya ia bisa bersabar dan menguatkan hati.

Padahal inginnya saya mengatakan, “Iya! Temanmu nakal! Main mukul aja! Ga tau dia betapa sayangnya Umi sama kamu, jangankan membiarkan kamu dipukul orang, nyamuk gigit kamu aja, Umi marahin!”

Tapi tentu saja saya tidak bisa mengatakan begitu. Satu, karena itu tidak mendidik. Dua, karena itu konyol.

Korban perundungan bisa sangat lama sembuh dari luka yang ia alami. Anak saya nomor tiga, baru di kelas lima sekarang ia mulai kelihatan senang dan percaya diri. Sebelumnya, dari sejak playgroup, sudahlah tak usah ditanya. Kisah-kisahnya panjang berderet-deret. Kisah yang mungkin takkan pernah diketahui oleh para orangtua dari anak-anak yang pernah merundungnya. Berat sekali cobaan untuk si nomor tiga ini, sehingga saya sering mengatakan padanya,

“Kalau Teteh dibegitukan lagi, teteh dipukul, pukul balik. Lawan!”

Nasihat yang sama pernah saya katakan pada anak sulung saat ia mengalaminya. Saya tidak ingin anak saya main pukul, saya ingin anak saya sanggup membela dirinya sendiri. Sebab jika terus bersabar menerima pukulan demi pukulan, baik verbal maupun fisik, mau sampai kapan? Sementara anak-anak saya suatu saat takkan punya kami lagi sebagai orangtua mereka. Suatu hari, mereka akan berdiri sendiri, mau tak mau harus menghadapi kejamnya dunia ini.

Sungguh, para orangtua yang anak-anaknya tukang bully itu seharusnya merasakan juga. Merasakan bagaimana perihnya saat melihat anak menangis, dan kemudian berdampak pada rasa tidak percaya diri. Di saat anak-anak lain menyukai sekolah, mereka malah merasa sekolah adalah neraka. Menyedihkan.

Anak-anak kamu meureun, elehan! (anak-anakmu tipe yang suka ngalah kali)

Sumpah ya, mau saya tantang duel aja ini orang yang bilang begini. Saya membesarkan anak, bukan petinju. Mencibiri anak orang lain yang dianggap ‘lemah’ sebenarnya hanya menunjukkan bahwa yang mencibir lah yang lemah, secara moral.

Di sekolah itu Miss, kalau ga jadi tukang bully, ya jadi korban bully!

Itu kata-kata seorang murid saya di kelas, suatu hari saat kami membahas bullying. Ia duduk di bangku SMA dan bercerita betapa perundungan adalah sesuatu yang biasa terjadi.

Bagaimana ini?

Mengapa hukum rimba kemudian merambah dunia pendidikan? Sekolah bukan hutan dimana predator yang lebih kuat kemudian bisa seenaknya memangsa binatang yang lebih kecil.

Sesungguhnya, kalimat “namanya juga anak-anak” perlu serta merta dihapuskan dari mulut semua emak-emak.

Kau mendidik anakmu untuk menjadi baik, bukan menjadi pemangsa. Ini sekolah, bukan arena pertandingan sumo.

Suatu hari, jika anakmu dengan tak acuhnya melakukan sesuatu yang lebih mengerikan dari sekadar memukul temannya tanpa rasa salah, mohon jangan menyalahkan siapapun.

Kau sudah tahu jawabannya.

Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, Family, humaniora

Nilai Seorang Anak


#Humaniora

#Family

 

You’ve got four children?? Four??” Mark mengacungkan keempat tangan di depan wajah saya.

Tawanya lepas terbahak.

“Irma … you’re baby’s factory!”

Hingga hari ini, terkadang julukan ‘pabrik bayi’ masih melekat, thanks to Mark.

Teman-teman sekantor masih suka menggodai saya dengan,

“Bakal ada yang kelima ga?”

Nope.” Kata saya, mantap. “Pabriknya udah tutup.”

“Aaah … tutup sementara kaaan … ntar juga dibuka lagi.”

Kurang ajar memang.

Jangankan bagi orang non-Indonesia, bahkan untuk orang lokal pun, punya anak empat seperti saya adalah ‘sesuatu’.

Rekan kerja suami (ekspatriat), dulu terheran-heran ketika tahu kami punya empat anak. Sementara ia sudah menikah selama sekitar tujuh-delapan tahun dan belum memutuskan untuk memiliki momongan. Ia menyangka kami ini kaya raya, sebab punya anak empat bagi masyarakat barat bisa  berarti sudah gemah ripah loh jinawi. Seandainya ia tahu, bahwa kami ini sudah mengalami begitu banyak tanjakan dan turunan dalam hidup, termasuk urusan finansial.

Howard Wolowitz, tokoh engineer dalam serial The Big Bang Theory, suatu hari panik saat mengetahui istrinya, Bernadette, hamil. Meskipun mengaku senang, namun ia panik sebab membayangkan ada banyak hal yang harus disiapkan saat memiliki anak. Terutama soal uang.

Monica dan Chandler dari serial Friends, kaget waktu mengetahui wanita hamil yang akan memberikan anaknya untuk mereka adopsi, ternyata hamil anak kembar. Pasangan kocak ini tidak siap, sebab mereka hanya menyiapkan dana untuk satu orang anak saja.

Okay … let’s just raise them, then we pick which one our favorite, and send that one to college!” kata Chandler.

😀

Sementara orang kulit putih begitu berhati-hati dan sangat terencana dengan rencana kehamilan, rata-rata orang Indonesia begitu banyak beranak dan cuek-cuek saja. Seperti saya. Haha.

Sebetulnya ada hal mendasar mengapa ‘nilai kepemilikan’ seorang anak bisa begitu berbeda antara timur dan barat.

Di masyarakat barat, semua orang yang bekerja, wajib membayar pajak. Kabarnya malah rata-rata pajak di negara-negara barat cukup tinggi. Sehingga memang harus pintar-pintar mengatur keuangan. Kesadaran mereka akan pendidikan juga sudah sangat bagus. Punya anak, berarti wajib menyekolahkan minimal hingga lulus SMA. Rata-rata orangtua bahkan menyekolahkan anak hingga tingkat universitas.  Tabungan untuk kuliah anak bahkan dipersiapkan dari sejak si anak dalam kandungan. Terencana dan bertarget.

Dari sisi sosiologi, masyarakat barat cenderung individualis dan mandiri. Mereka terbiasa tidak bergantung kepada siapapun. Usia 17-18 tahun, anak sudah dilepas untuk memiliki tempat tinggal sendiri, tidak lagi bergantung pada orangtua. Sukur-sukur sudah bisa cari uang sendiri.

Masyarakat kita, hidup cenderung menganut prinsip “gimana nanti”. Kesadaran pajak dan asuransi baru bergaung beberapa tahun terakhir saja. Itupun hanya menyentuh kalangan ekonomi menengah ke atas. Perencanaan keuangan hanya bersandar pada penghasilan setiap bulan. Sukur-sukur bisa punya tabungan.

Masyarakat kita senang hidup berkelompok. ‘Mangan ora mangan sing penting ngumpul’. Sehingga banyak orangtua yang merasa ingin memiliki banyak anak, supaya ‘rame’. Supaya nanti pas tua, hidup takkan sepi, dikelilingi anak cucu.

Masalah pendidikan anak, hanya kalangan ekonomi menengah ke atas saja yang berusaha keras supaya anak bisa mengecap bangku perguruan tinggi. Sisanya masih susah payah mendorong anak supaya bisa lulus SMA.

Lucunya, makin ke sini, saya makin sering menemukan orang-orang yang apatis dengan pernikahan, apalagi punya anak. Beberapa teman saya, baik laki-laki maupun perempuan, sudah bertekad untuk tidak menikah.

‘Ga mau nambah penduduk Indonesia yang udah kebanyakan’

‘kalo sendiri aja bisa bahagia, ngapain berdua? Bikin masalah’

Begitulah dua dari sekian banyak alasan yang mereka kemukakan.

Entahlah, apakah pengaruh dari globalisasi dan perkembangan jaman yang kemudian mendorong mereka untuk mengambil keputusan tersebut.

Di satu sisi, menurut saya ini peningkatan. Sebab orang-orang tersebut, ketika saya tanya soal anak, rata-rata menjawab; ‘tidak mau punya anak, sebab takut ga bisa mendidik’.

Ini bagus. Berarti telah tumbuh kesadaran bahwa anak bukan hanya sekedar hasil percampuran sperma dan sel telur saja, melainkan aset yang harus dididik supaya berguna. Bukan sekedar tempelan dalam foto keluarga, supaya kelak tidak ditanyai, “Sudah punya anak berapa?”

Mungkin banyak kasus yang melibatkan anak, terutama parenting, yang membuat banyak orang ngeri punya anak.

Saya sering bercerita lewat tulisan-tulisan saya, kisah mengenai anak-anak yang ‘terbuang’. Tidak secara fisik, namun mental. Orangtua ada, namun sebenarnya tiada.

Aku punya ragamuuu … tapi tidak hatimuuuu …” begitu kata Armada.

Punya empat anak itu memang ‘sesuatu’. Namun sejatinya, punya berapa anak pun, itu investasimu. Bukan saja pada anakmu, namun juga pada dunia. Sebab, kelak anakmu akan menghibahkan sesuatu kepada dunia. Satu antara dua hal; kebaikan atau kejahatan.

Saya sudah pernah menulis bahwa ‘anakmu bukan robot sebab ia manusia, maka perlakukan ia sebagai manusia’. Banyak orangtua lupa, bahwa anak punya akal dan pikiran, punya hati dan perasaan. Yang mereka sentuh seharusnya hati, bukan tombol reset seperti game console.

Dan hati hanya bisa disentuh oleh hati.

Punya anak satu, atau banyak, yang penting adalah kita. Sebab mereka adalah cetak-birunya kita. Baiknya mereka, adalah kebaikan kita. Begitu juga sebaliknya.

Ingin mereka baik, kita harus baik.

Ingin mereka sopan, kita harus sopan.

Hanya bermodalkan memasukkan mereka ke sekolah elit dan berharap mereka akan keluar menyandang predikat siswa terbaik secara instant adalah mimpi. Hanya meyakinkan mereka atas pilihan Anda, tanpa bertanya apa keinginan mereka adalah bencana. Sebab nanti mereka akan punya kehidupan sendiri, berbeda dengan kehidupan kita. Dan kita tidak usah berharap akan selalu ada di sana, melihat mereka berkiprah sana sini. Sebab kita ini orangtua. Orang-orang pilihan yang dianugerahi kesabaran dan kasih sayang berlimpah, yang takkan habis-habis, mencintai mereka. Tidak usah berharap mereka akan membalas jasa pada hari kita tua nanti, sebab sejatinya cinta tulus tidak berharap balas. Mereka akan baik-baik saja, begitu juga kita.

Sebab memiliki anak itu investasimu.

Padanya dan pada dunia.

Sebab punya anak bukan sekedar kebanggaan. Untuk dipamerkan pada teman dan kolega.

Mereka akan jadi pengharapan dan cita-cita kita.

Supaya kelak ketika waktu kita sudah habis di dunia, kita tahu bahwa kita telah meninggalkan generasi hebat di dunia.

Punya anak berapapun, bertanggungjawablah.

Sebab kelak, kita lah yang dimintai pertanggungjawaban.

Bukan sekolah, bukan TV, bukan internet, bukan pemerintah.

Kita.

 

#30DWCJilid10 #Day13

 

 

 

 

Posted in Family, Pendidikan

Mengapa Anak Tak Suka Baca? Jangan keburu menyalahkan sekolah


Sebuah tulisan mampir ke dinding media sosial saya malam ini. Isinya cukup menggelitik. Penulis memertanyakan kiprah sekolah dalam menumbuhkembangkan budaya membaca (dan menulis) di kalangan anak-anak (murid).

Silakan dibaca sendiri, jika penasaran dalam tautan di bawah ini.

https://beritagar.id/artikel/telatah/pertanyaan-untuk-bapak-presiden

Saya tercengang dengan tulisan di atas sebab bagi saya apa yang disampaikan penulis seperti fantasi awang-awang. Penulis total menyalahkan sekolah sebagai institusi yang ia nilai GAGAL dalam mendidik harapan terendahnya, yaitu menjadikan murid gemar membaca dan menulis.

Bapak Ibu yang budiman, minat baca orang Indonesia tercinta kita ini ada di urutan 60 dari 61 negara di dunia. UNESCO bahkan dengan lebih kezamnya lagi mengatakan minat baca kita hanya 0.0001 persen saja.

Siapa yang salah?

Mari, kita runut asal muasalnya. Sambil ngopi boleh.

BUDAYA –

Bangsa kita ini budayanya sosialisasi bukan penyendiri. Orang Indonesia dari jaman polisinya masih berseragam oranye, sudah suka nongkrong di warung kopi sambil bahas politik dan kekinian. Duduk anteng di taman atau perpustakaan sambil memegang buku bukan kebiasaan kita.

EKONOMI –

Harus dipahami, sebanyak apapun Jaguar dan Ferrari yang pernah Anda lihat melintasi jalan raya, tetap saja sebagian besar masyarakat Indonesia adalah kaum menengah ke bawah. Membaca seringkali diartikan sebagai aktivitas MAHAL, yang hanya terjangkau oleh mereka yang berduit.

Pemahaman masyarakat pun adakalanya memandang buku sebagai benda yang percuma. Sebab nasi dan lauk pauk lebih penting. Mendingan perut kenyang ketimbang menghabiskan waktu membaca.

HARGA BUKU –

Harga buku di Indonesia ini menurut saya mahal, tidak terjangkau oleh semua kalangan. Saya yakin masih banyak sekali orang yang saking kepinginnya membaca mesti menabung berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk dapat membeli buku. Jika pun tidak, menyewa buku ke taman bacaan menjadi solusi.

FUNGSI PERPUSTAKAAN

Semua sekolah pasti punya ini. Semua kota, kabarnya juga punya ini. Sayangnya,menurut pengalaman saya, dua-duanya tidak difungsikan dengan baik.

Perpustakaan sekolah? Isinya hanya deretan buku pelajaran pelbagai tahun yang tidak menarik. Tak ada novel atau biografi. Beruntunglah Anda jika perpustakan sekolah Anda jauh lebih baik dari zaman saya dulu.

Ada begitu banyak alasan yang tergali jika ingin paham apa sebenarnya yang membuat kita malas sekali membaca.

Kita ini masyarakat penonton, bukan pembaca. Masyarakat kita gemar menonton sinetron dan membicarakannya sambil arisan atau memilih terong di pedagang sayuran. Masyarakat kita tidak paham apa itu bedah buku. Sebab buat sebagian besar orang, buku adalah kebutuhan sekunder, atau bahkan tersier.

Lalu, siapa yang salah??

(Kembali ke pertanyaan semula)

Apakah pemerintah?

Pemerintah masalahnya berjibun bukan hanya sekedar menaikkan minat baca namun ribuan hal lainnya. Kemendikbud mungkin bisa ditanyai mengenai ini. Dan saya yakin mereka akan mengatakan sudah ada program untuk ini. Minimal “diselipkan” dalam kurikulum diknas.

Apakah sekolah, seperti tuduhan penulis di atas?

Bisa saja.

Namun untuk saya, menyalahkan pihak sekolah atas sesuatu yang adalah “kebiasaan” agak kurang tepat.

Silakan hitung:

Berapa jam anak kita di sekolah?

Ada berapa mata pelajaran yang mereka dapat?

Berapa jam yang mereka dapat untuk setiap mata pelajaran?

Berapa banyak pekerjaan rumah dan atau ulangan setiap minggu?

Ada berapa siswa dalam satu kelas?

Pun jika guru Bahasa Indonesia mewajibkan setiap anak untuk membaca setiap hari, bacaan seperti apa yang harus mereka baca? Apakah gurunya hanya meminta anak membaca (saja)? Apakah guru mengajarkan keterampilan membaca pada anak? Apakah gurunya JUGA SUKA MEMBACA?

Bisa dilihat bahwa soal gemar membaca ini rumit dan membingungkan. Sebab tak semua sekolah, maaf saya ganti kalimatnya:

Hanya sedikit saja sekolah yang mampu menyediakan buku bacaan yang banyak dan beragam (serta cocok untuk usia murid).

Program membaca ini membutuhkan sosialisasi yang lama dan kerjasama semua pihak. Ingat, di sebagian besar sekolah, jumlah murid bisa mencapai 50 orang dalam satu kelas.

50 orang anak ini memiliki daya baca yang berbeda. Kecepatan membaca yang berbeda. Pengetahuan yang berbeda.

Mengapa pengetahuan?

Sebab membaca juga butuh common ground; butuh latar belakang pengetahuan.

Contoh:

Saat anak membaca kisah segerombolan anak muda yang nongkrong di Starbuck sambil menyesap cappucino.

Apa itu starbuck? Apa itu Cappucino?

Apakah anak-anak yang tinggal di desa terpencil akan langsung paham?

Mengenai keterampilan membaca.

Membaca juga membutuhkan keterampilan. Sebab ada yang disebut intensive reading, dan extensive reading. Membaca untuk menemukan informasi detail atau membaca secara global. Yang mana?

Apakah membaca untuk kesenangan (reading for pleasure) atau membaca untuk mencari informasi umum (reading for gist)?

Seorang guru yang akan mengajarkan ini, pertama ia harus paham dulu. Kedua, ia harus SUKA MEMBACA. Sebab tak mungkin Anda mengatakan bahwa mendaki gunung itu menyenangkan kalau pergi ke kaki gunung saja Anda belum pernah.

Dan dengan sedih saya bisa katakan, banyak guru-guru yang saya temui, tidak suka membaca.

Sekarang,

Anda menyekolahkan anak dengan harapan begitu tinggi terhadap sekolah. Harus bisa ini dan itu. Harus terampil ini itu.

Singkatnya, Anda menyodorkan “produk mentah” ke sekolah, dengan harapan saat produk tersebut lulus quality control, Anda bisa mengambil kembali produk tersebut, kali ini sudah jadi, dan Anda tinggal membanggakannya pada semua orang.

Hey Bung,

Sekolah itu bukan pencetak laminating instan!

Membaca itu dimulai secara personal. Dan harus dimulai dari lingkungan terdekat.

Siapa lingkungan terdekat anakmu? Ya kamu!

Sekarang saya tanya:

Situ pengen anaknya seneng baca, situ suka baca nggak?

Suka beli buku nggak?

Suka mengajak anak ke toko buku nggak?

Kita boleh saja menyalahkan sekolah yang kita anggap tidak kompeten dalam mendidik anak kita, tapi kita selalu lupa satu hal;

Yang wajib mendidik itu orangtuanya.

Yang wajib mendidik itu orangtuanya.

Yang wajib mendidik itu orangtuanya.

Saya ulang sampai tiga kali biar Anda tahu betapa gemasnya saya dengan orangtua yang sukanya menyalahkan terus.

Sekolah itu fungsinya merangsang kemampuan anak supaya muncul. Setelah muncul, diajarkan banyak hal, dikenalkan dengan teman sebaya supaya bersosialisasi. Diberikan ujian supaya kemampuannya terukur.

Anda harus paham bahwa guru pekerjaannya banyak. Administrasinya numpuk, dengan tuntutan kurikulum yang bolak balik berubah macam tren hijab. Mending jika ada perubahan sumber daya gurunya cepat tanggap. Lah, yang gagap, kumaha?

Kita boleh dan harus menggantungkan harapan kepada sekolah (dan guru). Namun bersikap adil lah. Lihat lah dari pelbagai sisi sebelum mengacungkan jari.

Dan sebagai orangtua, oh sungguh sangat berat tugas kita.

Tapi mau bagaimana lagi.

Makanya pikirkan dulu sebelum punya anak. Niatkan dulu. Supaya, ketika “produknya” keluar, kita tidak gagap dan gugup.

Katanya ingin sukses mendidik anak hingga ke surga. Masak mau enteng jalannya?

Yang bener aja.

Posted in 30 Hari Menulis 2017, Family, humaniora

Tentang Dia


#30HariMenulis 2017

Hari 6

Hidup sebagai perempuan di Indonesia itu berat. Banyaknya tuntutan dan tekanan dari masyarakat yang tak habis-habis bisa membuat siapapun stres. Perempuan dituntut luwes dan anggun, tapi tidak boleh manja dan cengeng. Harus cantik tapi sering dianggap sok cantik, hahaha.

Belum punya pasangan, dianggap kurang laku. Sudah punya pasangan, dicurigai ini dan itu. Sudah menikah, ditanya kapan mau punya anak. Sudah punya anak, ditanya kapan mau nambah, dan lain sebagainya. Deretan pertanyaan ini tidak habis-habisnya, berhubung banyaknya acara yang memungkinkan orang untuk bertanya. Pesta pernikahan, Lebaran, liburan, arisan keluarga, dsb.

Kehadiran anak pasca pernikahan itu sesuatu yang ditunggu-tunggu. Anehnya, kadang orang lain lebih bersemangat untuk punya, dibanding pasangan yang baru menikah itu sendiri. Sehingga pertemuan keluarga jadi horor, perbincangan arisan jadi menyeramkan. Pertanyaan menjurus yang sering diperhalus sebagai “perhatian” menjadi penyebabnya.

Saya pernah membaca status seseorang di sosmed. Lupa lagi siapa orangnya. Intinya ia menyatakan bahwa diberi tidaknya anak adalah hak prerogatifnya Tuhan. Mau lo jungkir balik sambil tangan menghadap ke langit dengan gaya jurus Tapak Dewa seperti di Kungfu Hustle, jika Tuhan belum ridho ya belum. Allah belum ngasih, ya mau gimana.

Saya ada beberapa teman yang setelah sekian tahun menikah belum dikaruniai momongan. Saya tahu di balik senyuman mereka tersimpan pilu. Sebab budaya manusia kita yang menilai ‘perempuan belum sah jadi perempuan’ jika belum bisa beranak. Dan ketika ketidakhamilan terjadi, cenderung selalu yang dicari salahnya adalah perempuan. Entah kenapa. Padahal pembuahan terjadi karena dua orang, bukan hanya salah satu.

Ketika ada ungkapan, “Yah mungkin saya belum dipercaya untuk punya anak,” saya kok miris mendengarnya. Seolah yang diberi anak lebih bisa dipercaya.

Orangtua pun seringkali memberi tekanan secara tak sadar. “Udah kepengen nimang cucu” terdengar seperti kalimat biasa saja. Namun untuk mereka yang belum juga dianugerahi anak pasti menyesakkan.

Saya senang sekali mendengar bahwa rata-rata teman-teman saya yang belum memiliki anak, mereka mempunyai orangtua yang pengertian. Malah orangtua mereka seringkali ‘melindungi’ mereka dari pertanyaan orang. Orangtua yang menyayangi dan memahami psikologis anak.

Saya aslinya bingung mau menulis apa hari ini. Namun tadi siang mendengar kabar gembira di kantor, hingga akhirnya terpikir untuk menuliskan ini.

Teman sekantor saya, sudah 13 tahun menikah. Sudah segala upaya pasangan ini lakukan namun tak jua membuahkan hasil. Ada masalah tertentu dengan mereka yang saya tak bisa ceritakan di sini. Pun begitu, mereka selalu terlihat ceria (yang sekantor dengan saya itu si istri).

Saya pernah bertanya pelan-pelan, apakah mereka tidak terpikir untuk mengadopsi anak. Si istri bilang, ‘Saya sih mau aja, tapi dia (suaminya) engga.”

Kemudian si istri melanjutkan,

“Dia (suaminya) bilang, biarlah kalau kita ga dikasih anak, kita habiskan hidup berdua saja,”

Bahkan saat menuliskan ini, airmata saya jatuh.

Tahun ini, mereka memaksakan untuk mencoba program bayi tabung yang mahal. Saya tahu mereka berkorban banyak sekali untuk ini. Minggu kemaren mereka kabarnya sudah memulai programnya.

Tadi sore, pertanyaan saya padanya adalah,

How was it? the baby program?

We’ll see” jawabnya sambil tersenyum.

Have they put … it … in you?”

Ia mengangguk.

If it works well, I might have a triplet!”

Saya ikut tersenyum lebar sambil bertepuk tangan.

Ini kabar yang hebat sekali.

Saya ingin sekali mereka berhasil. Biarpun Alloh lah yang Maha menentukan segala sesuatu. Tapi jika saya boleh meminta, saya harap mereka mendapatkannya. Sebab penantian selalu butuh tujuan. Saya selipkan sepotong doa untuk mereka sore tadi dan Insya Alloh malam ini.

Minta doanya juga teman-teman …

 

*Selamat menulis teman-teman, yang semangat yaa. Untuk #30HariMenulis tahun ini saya membagi beberapa tema. Minggu pertama saya akan menulis soal budaya, minggu kedua pendidikan, minggu ketiga Human’s interest, dan minggu keempat saya akan menulis soal sejarah dan perjalanan. Ini juga kalau kalian kepo. Mungkin tidak*

Posted in 30 Hari Menulis 2017, about me, Family

Saya Seorang Ibu


#30HariMenulis2017

Hari 3

Tema : “Menulis dari sudut pandang seorang Ibu”

Saya diberi kemudahan dengan tema hari ini. Sebab saya tidak perlu berimajinasi. I’m a mother of four. Anehnya, tulisan ini tidak juga dibuat dari pagi, padahal tinggal prung. Dasar pemalas saja.

Menjadi ibu itu gampang-gampang susah (dih .. pernyataan orang males nih kayak gini).

Gampang, sebab perempuan yang (maaf) sudah dibuahi dan hamil kemudian melahirkan, otomatis akan jadi ibu. Sakit ketika melahirkan yang luar biasa itu dialami jutaan ibu di seluruh dunia. Sakit? Tentu. Tapi buktinya ibu-ibu ga kapok untuk terus melahirkan. Hihi.

Susah, sebab menjadi ibu bukan hanya sekedar melahirkan, membuka kancing baju untuk menyusui dan menyuci popok. Bukan hanya sekedar memandikan dan membuatkan sayuran atau nasi tim. Bukan hanya sekedar berdaster dan menawar harga ayam di mamang sayur.

Menjadi ibu berarti siap berjibaku demi makhluk yang ia hadirkan ke dunia. Siap menderita bahkan bertaruh nyawa demi anak. Sampai memiliki anak, saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan sanggup menderita untuk seseorang. Nyatanya, memang memiliki anak mengubah perspektif saya sebagai manusia.

Saya rela begadang ketika anak saya demam. Rela menghabiskan sisa makanan yang tak habis ia makan. Rela menyisihkan uang untuk membelikannya barang-barang yang ia butuhkan, meski terkadang barang itu hanya bertahan 10 menit di tangannya. Saat anak mulai sekolah, saya rela kedudukan istimewa saya ‘digantikan’ oleh ibu gurunya. Sebab anak usia 5-11 tahun menempatkan gurunya sebagai “yang serba tahu” dan “serba bisa” sehingga seorang Ibu atau Ayah tidak ada apa-apanya dibanding Ibu gurunya itu.

“Kata Ibu Guru …” begitu terus yang ia ucapkan.

Beranjak remaja, saya harus menahan kecemasan hati saat anak perempuan saya mulai baligh. Saat ia mulai cekikikan saat melihat aktor atau penyanyi ganteng. Sekaligus lega. Alhamdulillah anak saya suka sama laki-laki, hahahaha.

Saat Ia sudah beranjak dewasa, saya harus setia menemaninya bercerita. Soal cita-citanya, soal apa yang ia sukai atau tidak sukai. Sembari menahan diri untuk tidak berkata, “Tapii, kalau kata umi lebih baik kaka …”

Tidak.

Saya tidak mau melangkah ke dunia anak saya. Ia punya kebebasan penuh untuk memilih apa yang ia sukai dan meninggalkan yang dia tidak sukai. Itu hidupnya, bukan hidup saya. Tugas saya di sana hanya sebagai pemeran pembantu. Membantunya dengan menjawab pertanyaan dia. Mengarahkannya jika ia tersesat.

Saya akan terus menjadi bayangan mereka, anak-anak saya. Ada, saat mereka mau saya ada. Sebab suatu hari, mungkin mereka takkan butuh saya lagi. Akan ada orang lain yang mereka senderi, yang akan mereka ceritai setiap hari. Saya mau menjawab semua pertanyaan mereka dan mendengarkan cerita mereka. Meski terkadang saya lelah, seringkali lelah. Dan kadang saya mengatakan,

“Duh. uminya capek … nanti dulu ya”

Untuk ini sungguh saya berdosa. Menyia-nyiakan wajah mereka yang berbinar penuh cinta. Mata mereka yang berkerjap dengan harap.

Saya pun akan bangga dengan mereka. Saya bangga dan akan terus bangga. Atas prestasi mereka, atas perilaku mereka, atas semua hal baik yang mereka lakukan. Meski dengan begitu saya harus menekan ego, menahan diri untuk tidak memamerkan kebanggaan pribadi saya ke masyarakat umum. Anak-anak saya tidak suka jika saya bercerita tentang kebaikan mereka, prestasi mereka, seperti ibu-ibu pada umumnya. Setelah lama baru saya memahami, bahwa bagi mereka, hal-hal tersebut terlalu bernilai, terlalu pribadi. Kau takkan serta merta memamerkan perhiasanmu di depan umum kan? Buat apa?

Saya harus membekap mulut untuk tidak menceritakan kejelekan mereka kepada orang lain. Untuk tidak membanding-bandingkan mereka. Sebab mereka tak suka, seperti saya juga takkan suka jika dibegitukan.

Saya juga harus menahan kepalan tangan saya untuk tidak meninju orang-orang yang seenaknya. Yang suka membandingkan anak, yang senang sekali judging.

“Sebaik-baiknya ibu adalah yang tinggal di rumah …”

“Kerja? Anak-anak sama siapa? Kasian ih …”
“Jarang dong ketemu anak-anak?”

“Kenapa ga berhenti kerja aja dan kerja di rumah, biar anak-anak bisa terperhatikan?”

SHUT UP!

Tentu itu tidak saya katakan. I wish I could say that. Saya biasanya hanya tersenyum dan berlalu. Sebab komentar mereka tidak penting.

Sebab yang penting adalah anak-anak saya.

Sebab yang akan saya jawab adalah pertanyaan anak-anak saya.

Sebab mereka tidak berkontribusi terhadap tumbuh kembangnya anak-anak saya.

Mereka boleh berkiblat pada Ayah Edy atau Bunda Elly Risman dan meng-copy paste semua isi wejangan kedua pakar parenting itu di laman sosial media mereka. Seolah mereka yang paling paham parenting, seolah mereka duduk seharian di rumah memerhatikan anak-anak mereka dan mengisi grafik perkembangan tumbuh kembang anak lengkap dengan target harian dan agenda tahunan.

Mohon maaf, tanpa bermaksud tidak sopan kepada Ayah Edy dan Bunda Elly Risman. Saya menaruh hormat pada mereka berdua.

Saya hanya ingin katakan bahwa menjadi ibu itu berat. Namun bisa dijalani, amat bisa dijalani. Syaratnya hanya satu: komunikasi. Dengarkan anakmu, jangan paksakan keinginanmu, beri arahan, perbanyak reward bukan punishment. Ini pun belum tentu bisa berlaku untuk Anda. Sebab tidak ada formula baku untuk parenting. Setiap anak itu unik dan berbeda. Begitupun orangtua. Begitupun saya dan Anda.

Saya bukan orangtua ideal. Saya tidak membuat menu makan untuk seminggu yang berisi cakupan 4 sehat 5 sempurna. Anak-anak saya makan indomie, terkadang minum soda. Saat di rumah, kerjaan mereka hanya ngobrol, nonton bersama (bukan TV) dan membaca. Saat lelah, saya dengan senang hati akan menyuruh mereka istirahat saja, tidak usah masuk sekolah. Saya tidak menyuruh mereka mengerjakan PR, sebab itu tanggungjawab mereka sendiri. Dikerjakan bagus, tidak dikerjakan mereka sudah tahu konsekuensinya.

Parah memang saya sebagai orangtua.

Tapi selain kenyataan bahwa saya mencintai mereka, saya pun mengenal mereka luar dalam. Saya tahu apa yang mereka sukai dan tidak. Saya paham apa yang menjadi ketakutan mereka dan apa yang membuat mereka bahagia.

Saya bahkan sering bisa tahu apa yang mereka pikirkan sebelum mereka ngomong.

Weird enough?

No, It’s called “mother and child’s connection”.

Jadi, demikianlah cuap-cuap ga jelas saya, di sela kesibukan mengaduk masakan dan menahan mata yang sudah belel karena kangen sama bantal dan kasur.

Salam dari saya, Ibu beranak empat.

(16 thn, 14 thn, 10 thn, 4 thn)

 

Posted in 30 Hari Menulis 2016, Family, humaniora

Saya, takut


#30HariMenulis

Day 27

tema : menulis sesuatu yang membuatmu takut

5d97566a2470504ebfd5abd863784bd4.jpg

 

TAKUT NOMOR SATU

“Apakah semua orang Kristen, jahat??”

Saya pernah terhenyak dengan pertanyaan yang terlontar dari anak SD ini. Saya langsung bertanya mengapa ia sampai punya pemikiran seperti itu. Tak usahlah saya ceritakan siapa si anak dan apa jawabannya. Tapi satu hal saya tahu. Ada beberapa orang yang dengan entengnya mengumbar  pendapat pribadinya tanpa tedeng aling-aling dan membaginya dengan anak kecil.

Seorang teman lain pernah bercerita. Saat ia sedang berada di rumah familinya, terdengar suara orang mengetuk pintu. Anak pemilik rumah, juga usia SD,berlari dan membuka pintu. Tak lama, ia terdengar berteriak,

“Mamaaaaaaa …. takuuuuut ada orang Cinaaaaa !!!”

Tak terbayang bagaimana wajah si tamu saat itu.

Di lain hari, seorang murid bercerita pada saya. Ia mempunyai darah Tionghoa dari ayahnya. Ia bilang, di sekolah ia tidak punya banyak teman, hanya beberapa orang saja (ia sekolah di sekolah menengah kristen).

Why?” saya bertanya. Sulit membayangkan gadis di hadapan saya sulit bergaul, karena ia sangat supel dan pintar.

I don’t like most of my friends,” jawabnya.

Kemudian dia bercerita bahwa teman-teman di sekolahnya mayoritas keturunan Tionghoa beragama Kristen. Meskipun begitu terdapat pula kaum minoritas, siswa beragama selain Kristen dan bukan Tionghoa.

‘temen-temen aku tuh pilih-pilih, temenan sama orang yang bukan Chinese, ga mau. Sama yang muslim ga mau. Males kan Miss, ya udah aku juga ga mau temenan sama mereka.’

 

Ini salah satu ketakutan saya.

Semakin lama, rasisme, diskrimasi antar agama dan golongan, chauvinisme berkembang seperti jamur di musim hujan. Sedari lama kita sudah terbiasa mengkotak-kotakkan orang. Setiap orang ada kelompoknya, ada tempatnya. Yang berani berada di tengah-tengah biasanya dijauhi, apalagi yang menyeberang. Siap-siap lah di-bully.

Mengingatkan sama film Divergent, dimana semua manusia digolongkan ke dalam faksi-faksi.

Saya teringat masa kecil di sebuah SD negeri di kota kecil. Sebagian dari kami adalah Muslim, sebagian kecil lainnya dari agama yang berbeda-beda. Suku kebanyakan adalah Sunda, sisanya campuran.

Saya ingat punya teman sekelas yang pintar sekali. Namanya Ucok. Kami tahu dia orang Batak tapi kami selalu tertawa saat pembagian raport dan Ibu Guru memanggilnya dengan nama asli. Namanya Perdamaian Sitompul. Walaupun, Ucok bilang di keluarganya, namanya dilafalkan ‘pardamean’.

Waktu kami godai dia, Ucok senyum-senyum saja, tapi kami tetap bermain, tetap rukun.

Di kelas 3 SMP, ada teman sebangku saya seorang anak perempuan tomboy, namanya Lina. Kami panggil dia RX, lagi pas jaman-jamannya Ksatria Baja Hitam RX. RX orang Manado, agamanya Katolik.

Setiap pelajaran agama Islam, RX kadang malas  keluar. Ia duduk barengan kami mendengarkan guru agama. Surah Al-Fatihah ia hapal. Kami mentesnya suatu hari. Saat ia beres melafalkan surah itu, kami bertepuk tangan. Iseng, teman laki-laki ada yang menyuruh RX untuk melafalkamn syahadat. RX mau aja, dasar anak-anak. Beres bersyahadar, kami menyelamatinya,

“Selamat ya, Kamu udah masuk Islam,’

kemudian kami semua tertawa-tawa.

Mungkin akan ada yang bilang kelakuan kami di atas keterlaluan. Mungkin bahkan bisa digolongkan penistaan terhadap agama. Tapi, sungguh saya rindu saat-saat itu. Saat pretensi cenderung tak ada. Kami terpesona saat teman kami bisa melafalkan surah al fatihah berikut syahadat dengan baik, simply because we didn’t expect her to do so. Sama seperti RX berkali-kali meminta saya mengulang bacaan Qur’an saat saya hendak dites mengaji. RX bilang, “Kamu ngaji itu suaranya enakeun”

Sampai hari ini RX masih Katolik.

Okay, mungkin contoh di atas tidak terlalu representatif dan signifikan. Bagaimanapun, benang merah yang ingin saya tarik adalah hari ini, manisnya perbedaan amat sangat jarang saya rasakan.

Entahlah, dunia yang semakin moderen, teknologi yang semakin canggih, semakin jauh pula manusia antara satu dan lainnya.

Suatu hari, saya mengkhawatirkan datangnya masa ketika kita semua benar-benar tinggal di ghetto-ghetto ekslusif yang jauh dari satu sama lain. Dikelompokkan berdasarkan agama, ras atau golongan.

Di luar ghetto, terdapat mansion megah yang dihuni Donal Trump dan antek-anteknya.

naudzubillahimindzalik.

hiyy

 

evey-child-deserves-a-parent-but-not-every-parent-deserves-a-child-children-quote.jpg

TAKUT NOMOR DUA

 

Jika ada golongan orang yang paling sering saya nyinyiri selain para for-no-reasons -haters, itu adalah para orangtua yang tidak pernah tahu bagaimana seharusnya ia sebagai orangtua. Maunya saya sih menggunakan kata yang lebih kasar, tapi asa ku teu kudu.

 

Banyak orang yang diberi kepercayaan oleh Allah berupa anak, tapi mereka tidak tahu atau tidak mau tahu bagaimana ‘mengelola’ kepercayaan tersebut. Pengalaman saya sebagai tenaga pengajar selama bertahun-tahun menorehkan pelbagai pengalaman bersama anak-anak didik yang notabene adalah cerminan orangtua mereka.

yes, you heard me right. CERMINAN.

jadi, kalau kamu orangtua, dan anak kamu bermasalah, ga usah capek-capek nunjuk. Berjalanlah ke depan cermin dan tataplah orang yang kamu lihat di sana. Ia lah alasannya.

Saya kasar, iya saya tahu.Tapi silakan kamu jadi orangtua dulu. Supaya tahu.

Banyak orang yang merasa sudah oke ketika sudah bisa membelikan berbagai barang yang anak perlukan. Tanpa mereka sadari, yang anak perlukan adalah mereka, keberadaan mereka. Banyak orangtua yang memerlakukan anak mereka menjadi semacam tropi, yang senang mereka bangga-banggakan di pelbagai kesempatan. Padahal yang anak-anak mereka perlukan hanyalah stop membandingkan mereka dengan anak orang lain dan stop menekan mereka menjadi seseorang yang bukan mereka.

“Nilai aku cuma 80, Bu” seorang muridku mengadu sedih.

“Bagus dong,” balasku.

“Engga, papaku selalu bilang, nilai bagus itu 100” wajahnya mengkerut hendak  menangis.

Saat itu juga, rasanya saya pengen nyeret ayahnya dari padalarang sampai Gedung Sate, sambil ditusuk-tusuk pake tusukan sate.

ai maneh cageur??

Mahasiswa-mahasiwa yang mampir di kelas saya banyak yang mengadu tentang jurusan kuliah yang tidak mereka suka. Hanya karena keinginan orangtua mereka terpaksa di sana. Lebih parah, mereka dipaksa mengambil jurusan yang dulu gagal dimasuki orangtua mereka.

How sick is that?

Seorang teman bercerita betapa adik laki-lakinya menderita selama 4 tahun karena harus berkuliah di jurusan pilihan ibunya. Beres wisuda, ia menghadap ibunya dan menyerahkan ijazah berikut transkrip nilai pada ibunya.

“Kan mamah yang dulu pengen aku kuliah dan jadi sarjana, Nih, buat mamah saja.Aku ga butuh. Boleh ya aku bebas sekarang??”

Ibunya menangis hebat.

Saya bingung, antara kasihan atau tidak sama ibunya.

Saya tidak pungkiri banyak juga anak yang memang menjadi ujian bagi kedua orangtuanya. Berapa banyak anak nakal yang membuat kita heran karena ayah ibunya terlihat perfect.

tapi, please … every child born innocent. Think. Think smart.

Apa yang menjadi ketakutan saya?

Ngapain kamu jadi seniman? tukang mengkhayal!

Saya takut suatu hari, anak-anak tak lagi mampu bermimpi karena mimpi mereka keburu dihempas egoisme orangtua.

 

Kamu kalo lagi nyetir di jalan, tiap ada kesempatan sikat aja, kalo ga, ketinggalan!

Saya takut anak-anak tumbuh menjadi pribadi egois, karena orangtua tidak mengajarkan mereka untuk berbagi dan mengasihi.

 

kamu kalo mau bahagia, harus punya uang banyak, bisa beli apapun!

Saya takut anak-anak menjadi generasi snob yang mengukur segala sesuatu dari materi, karena itulah yang mereka lihat dari para orangtua.

 

Kalau Ibu anu nelepon, bilangan Mama ga ada ya?

Saya takut anak-anak tumbuh sebagai pembohong karena itu yang diajarkan orangtua mereka.

 

Masa gini aja ga bisa?? lihat tuh anak si anu, bisa ini bisa ituuu ga kayak kamu!

saya takut anak-anak tumbuh tidak percaya diri dan cenderung membenci diri sendiri.

 

Sungguh, saya takut.

 

Karena memiliki anak yang hebat bukan untuk dibanggakan. Bukan untuk dipamerkan apalagi dibandingkan.

Memiliki anak yang hebat adalah investasi.

supaya suatu hari, ketika masa kita habis di dunia, kita bisa sedikit lega dan tenang.

karena kita tahu, kita telah meninggalkan generasi tangguh di belakang kita.