Posted in books and movies 2016, Review

Predator Berakal Tinggi


Green-Room-UK-Banner-Poster

********* maaf, SPOILER ********

The Green Room (2015)

Director : Jeremy Saulnier

Cast : Anton Yelchin, Imogen Poots, Patrick Stewart

IMDB rate : 7.3

 

Memang benar, menonton sebuah film selayaknya tidak usah terpengaruh dengan review yang sudah ada, pun meninggikan ekspektasi. Harapan saya cukup tinggi saat membaca ulasan tentang bagaimana tegangnya film ini. Yaah, thriller sih memang. Tegangnya kadang dapet siih. Tapi ya udah. Ibarat baca novel yang dipuja-puji orang, eh pas baca sampe bingung dan pengen nanya sama penulisnya, beneran nih? cuman gini doang?

Oke, saya akan stop di situ, sebelum di-bully seluruh penulis se alam raya.

 

The Green Room bercerita soal empat anak remaja anggota Punk Band yang manggung dari kota ke kota, berdasarkan panggilan, dengan bayaran beberapa dolar ditambah bensin untuk mobil. Suatu saat, mereka memenuhi panggilan sepupunya salah seorang teman untuk manggung di sebuah tempat, yang adalah markas kaum skinhead, anak-anak muda yang senang berkepala plontos dan menganut paham neo nazi.

Nah, jangan berharap akan dapat sesuatu dari neo nazi itu. Filmnya bukan soal itu. Kalo itu tonton saja American History X (1998).

Beres manggung, ndilalah, si empat sekawan malah menyaksikan pembunuhan di lokasi tersebut. Bisa ditebak, selanjutnya adalah perjuangan mereka keluar dari sana hidup-hidup karena boyben nazi ga mau satupun buka mulut. Ya sudah deh, kejar-kejaran, papinter-pinter siapa yang bisa bunuh siapa.

Jadi, bapak dan ibu, ini film sadis ya. Yang jantungan dan ga kuat liat bacok-bacokan, ga usah nonton. Juga anak-anak kecil di bawah umur jangan nonton.

Sudah bisa ditebak lah yaa, tipe filmnya seperti apa. Pada akhirnya kezaliman dikalahkan oleh pemeran utama. Track lurus cerita film dijalankan, yang namanya boga lakon mesti menang. Karena hanya Game of Thrones saja yang iseng tidak begitu.

 

Filmnya sih biasa saja menurut saya. Soal ketegangan malah lebih terasa waktu Owen Wilson sekeluarga harus bertahan hidup dari segerombolan makar pembenci kulit putih di No Escape (2015). Atau bahkan The Purge dan The Purge Anarchy. Atau, mungkin saya sudah terlalu sering menonton film dengan premis cerita serupa. Mirip sekali sih tidak, tapi ya begitu begitu saja. Intinya survival game. Di saat kondisi terdesak, mau tak mau yang diburu pun akan berubah menjadi pemburu. It’s all about live or die. Simpel.

Berbicara mengenai film yang bikin tegang yang masih melekat di ingatan, salah satunya adalah film ini.

download

The Experiment (2010)

Director : Paul Scheuring

Cast :  Adrien Brody, Forest Whitaker, Cam Gigandet

imdb rate : 6.4

*********** SPOILER ALERT ***********

 

The Experiment aslinya adaptasi dari film Jerman berjudul sama Das Experiment (2001). Bercerita tentang 26 pria pengangguran dan yang sedang butuh uang. Mereka ditawari bayaran uang banyak asal mau menjalani serangkaian eksperimen yang dilakukan sebuah perusahaan tertentu. Untuk bayaran sekian ribu dolar, siapa sih yang ga mau. Cuss lah mereka diberangkatkan ke sebuah tempat terpencil dan terisolir dari dunia luar.

 

Tiba di tempat karantina, mereka dibagi ke dalam dua kelompok peran. Role play begitulah. Satu kelompok jadi sipir penjara, satu kelompok lagi jadi narapidana. Horeee  …  main peran kita, nanti kita saling akting marah-marahan yaaa, begitulah yang ada di benak para peserta, awalnya.

 

Bermain peran yang tadinya cuma haha hihi ternyata berkembang menjadi sesuatu yang serius. Eskalasi ketegangan meningkat semakin hari karena para sipir ternyata diberikan privilege lebih dibanding para narapidana. Yang terjadi kemudian, lagi-lagi survival game. Siapa yang kuat, dia yang menang. Saya bunuh kamu duluan, daripada kamu bunuh saya.

 

Film ini mengerikan karena menyajikan contoh nyata bagaimana manusia begitu gampangnya berubah. Disodori uang, menjadi motivasi kuat. Diberi kekuasaan sedikit, hasrat showing power menggelora. Para subyek eksperimen di sini sudah lupa bahwasanya mereka sedang main peran. Yang ada, mereka ‘memerankan’ karakter yang diberikan secara nyata. Para sipir jejadian yang bengis dan diktator. Para narapidana bohongan yang jadi korban bullying setiap hari sehingga muak dan memutuskan untuk membalas.

Jangan tanya apakah ini aman tidak untuk anak di bawah umur. Sedangkan yang dewasa saja, mungkin bisa ga kuat lihat manusia berubah bentuk jadi predator berakal yang buas.

Jika kamu kuat lihat yang agak-agak brutal bin sadistik, tonton saja. Yang menarik, ya itu tadi. Manusia memang gampang dikendalikan, gampag diberi umpan, gampang diprovokasi. Makanya jangan heran sama orang-orang yang cepet banget naik emosi, kesulut sedikit bakar! kesel sedikit, bunuh! Kadang hanya butuh sedikit porsi saja motivasi untuk memunculkan wujud asli barbarnya manusia.

Karakter ke 26 manusia di sini juga semua tipe manusia kelas dua yang desperado. Perjaka tua yang tinggal di rumah ibunya dan dibully setiap hari. Orang-orang yang terlilit utang piutang dan butuh uang cepat dalam waktu singkat. Benar-benar definisi kekufuran dekat dengan kekafiran.

#edisiSyariah

 

13-sins

13 Sins (2014)

Director : Daniel Stamm

Cast : Mark Webber, Devon Graye, Rutina Wesley

imdb rate : 6.3

************** SPOILER ALERT **************

Film berikutnya yang senada seirama (satu tone) adalah film orang-orang putus asa, 13 Sins. Rated R untuk adegan kekerasan dan bahasa vulgar.

Eliott, seorang salesman rendahan memiliki beban hidup berat. Tidak hanya harus menanggung biaya panti jompo ayahnya yang sudah sepuh, ia pun mesti mengurus adik laki-lakinya yang berkebutuhan khusus. Tak cukup sampai di situ, suatu hari, Shelby, sang tunangan, mengabarkan kehamilannya. Otomatis Eliott harus bertambah pusing karena pernikahan yang harus diurus.

Hidup di bawah tekanan berat, plus utang-utang yang menumpuk membuat Eliott hampir putus asa. Suatu hari, seseorang meneleponnya. Mengabarkan bahwa Eliott terpilih menjadi peserta game show berhadiah jutaan dolar. Jangan salahkan Eliott jika ia kemudian setuju untuk ikut bermain. Hidup ini susah. Kesempatan baik takkan datang dua kali, begitu pikirnya.

 

Si penelepon hanya mengatakan bahwa Eliott harus menyelesaikan 13 instruksi. Tugas pertama adalah membunuh seekor lalat yang nemplok di dekatnya, hadiahnya seribu dolar. Gampaaaaang … easy money. Kapan lagi sih bisa begitu.

Tak dinyana, tugas kedua adalah menelan lalat yang tadi ia bunuh. Euughh, mual sih, tapi demi dua ribu dolar yasud telan saja.

Padahal, eh di tugas-tugas berikutnya ternyata makin lama makin aneh dan makin berbahaya. Eliott kemudian menjadi kecanduan untuk melaksanakan tugas demi tugas, meski itu artinya nyawa yang harus ia hilangkan, lebih besar dari sekedar seekor lalat.

Saya bilang film ini satu tone dengan dua film sebelumya, karena temanya sama. Mengupas sisi gelap manusia yang diberi umpan berupa keadaan putus asa.

Jika anda ditawari uang 10 juta untuk membunuh cicak yang nempel di dinding rumah, mau tidak? 10 juta looh, dan cicak itu hewan yang ga gampang punah, mati satu temennya masih banyak.

Nah, kalo Anda sudah mau membunuh cicak, bagaimana jika ditawari 40 juta untuk bunuh tikus yang suka curi-curi makanan di dapur? Mau kan? Jiaaah cuma tikus, ga berguna. Bikin bau.

Trus, satu milyar untuk berlagak gila di depan Pak RT? Mau?

Trus, 5 milyar untuk mencuri jemuran tetangga?

10 milyar untuk membunuh musuh Anda?

 

Kira-kira begitulah premis ceritanya.

Sebagai manusia beradab pasti kita semua akan menggeleng. Nehi yaa .. kita kan makhluk bermoral, apaan bunuh-bunuh .. semua makhluk hidup itu ciptaan Allah, tauu.

Oh ya? trus kalo hidupmu berantakan? banyak utang? dikejar-kejar debt collector serem, gimana? sementara ayah jompomu ga mau tau dan banyak menuntut.

lelaaaaah …

Makanya jangan salahkan Eliott kalo kemudian dia terjebak hiks hiks

 

Menonton film ini, kita dibuat sadar bahwa hey, uang bukan segalanya, meski segalanya membutuhkan uang. Realitas dan imajinasi liar hanya setipis celana dalam harga 10 rebu tiga. Hidup sungguh pedih, dan terkadang jalan tersulit dan dilematis yang terpaksa ditempuh.

 

Ketiga film yang saya ulas malam ini memang menampilkan kekerasan. Namun sesungguhnya ketiganya menyelipkan kepedihan. Betapa manusia begitu mudah rapuh sekaligus gampang meledak.

juga membuat saya sadar bahwa psikopat bisa saja lahir setiap hari, dari hal remeh temeh yang terkadang sulit diterima akal.

Begitu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in books, books and movies 2016, english, Film

Second Week :


I had a really bad mouth ulcer in the second week of January.  I barely could speak so I decided not to go work. I have tried to write every instruction on board for students but eventually, I had to speak anyway, explaining things. And believe me, that was really hurt. On my second day at home, I had got fever and headache. It was presumably since I rarely eaten due to the ulcer and I got the “masuk angin”. Perfect.

Anyway, as I promised myself to write review on every single book and movie I read and watch, so here it goes the list.

Books :

Divortiare – Ika Natassa

Twivortiare -Ika Natassa

divortiare twivortiare.jpg

these are two books, yet I put them as one since they are written by the same writer and they are actually a package.

Following my satisfaction overb “Antologi Rasa” from Ika Natassa, I moved on to read these two books from her. And it turned out that “Antologi Rasa” is so much better.

I don’t know if Ika uses the same ingredient for all her books as her secret magic. For me, it is not really work. Her way of storytelling is fascinating, she really knows how to drag women to feel loved and betrayed and hated in the same way, then give this romantic feeling toward the ending. But then, it was okay for only one book, it gets dull for the second and the third and …

But, if you this type of woman (or man) who likes to be treated that way, then fine, these are your type of books, then.

As for me, I’ll read some other books, then 🙂

oh yeah, this is book review, so I maybe have to tell you a bit about the story.

So there were a couple, Alexandra and Beno. They loved each other, happily married, for while, and got divorced. After the divorce, Alex and Beno moved on with their own life but eventually their path crossed again, and voila! they still madly in love with each other.

so that’s it folks, two books to describe it.

the good thing is, you’ll love on how Ika Natassa illustrate young people with a great job and fabulous social life. And if you are the kind of person who does not really like when a writer mix up languages, then prepare, Ika uses a lot of English as much as Indonesian, which I found interesting since I can see that Ika’s English is very good. Just wondering, if all readers feel the same way.

Along Came a Spider – James Patterson

Along_Came_A_Spider_1993_cover.jpg

Actually I finished this book when I was in high school. However, reading only two books this week seems a bit embarrassing for me, so I decided to go through my collection and picked this. One of my favourite books, I rephrase, one of the books that tells about my hero.

Yup, Alex Cross is definitely my hero. I spent my teenager life thinking of how cool it was to be in the book, as one of the character along  with Alex Cross.

For you whom not familiar with him, I’ll brief you:

Alex Cross is a detective in Washington PD. He is not only a detective but also a psychologist, since he had degree of psychology from John Hopkins University. His daily job is to uncover criminal cases in Washington, most of them are done by a psychopath or a socio path, or both.

In this book, Cross faced his eternal enemy, Gary Soneji, just like every other superhero who always had their arch enemy. Soneji is a socio path who is also genius and manipulated. Cross was meeting Soneji for the first time in this book, because of kidnapping case in one fancy private school.

This book was adapted into motion pictures in 2001. Morgan Freeman played as Alex Cross. Freeman was okay, I guess, although I still hope for the better cast. You see, if you know Alex Cross well, you’ll agree with me that Freeman is too old and less athletic to become him. But then, Freeman is way better than Tyler Perry who was the cast in the 2012 version. Way better.

So, if you want to know the whole story, read the book.

Posted in about me, books and movies 2016, Film

First Week of “Baper”


Resolusi 2016 yang (benar-benar) ingin dicapai adalah menulis lebih banyak.  Ada sih resolusi lain seperti menurunkan berat badan yang (biasanya) lebih sering gagalnya ketimbang berhasil. Yeah well …

So anyway,

tahun ini ingin mencoba merekam jejak membaca dan menonton, supaya akhir tahun 2016 nanti bisa ikut-ikutan keren seperti orang lain; memajang sejumlah buku yang berhasil dibaca dan film yang sudah ditonton sepanjang tahun.

Ambisi saya sih, membaginya dalam minggu. Saya targetkan setiap minggu minimal satu buku dan satu film, syukur-syukur bisa lebih. Biar apa? ga apa-apa sih … biar terdokumentasi saja semua yang sudah saya lakukan dengan kedua hobi (yang mungkin) agak kurang penting itu.

Ini sudah hari Minggu, minggu pertama bulan Januari, meskipun baru terhitung tiga hari, soalnya 1 Januari jatuh di hari Jumat. Nah kan, ngapain coba bahas yang seperti itu. Soalnya saya ingat bertanya pada Aa Epul petugas JNE langganan,

“A, buka ga pas tanggal 2?”

“Ga Bu, soalnya kan Sabtu, sekalian we libur sampe Senin.”

Nah, dari situlah saya sadar bahwa 1 Januari itu hari Jumat.

ga penting lagi.

Yuk, ah dimulai.

Buku yang dibaca minggu pertama bulan Januari:

Bulan Terbelah di Langit Amerika – Hanum Rais & Rangga Almahendra

images.jpg

Saya sudah membaca “99 Cahaya Islam di Eropa”, buku yang membuat saya terkenang Austria, negeri indah  yang aromanya seperti rumah. Waktu saya menonton filmnya, agak kabur semua yang dibaca. Ya klise lah, film Indonesia, ambil setting di luar negeri, tokoh bulenya dipaksakan aktor Indonesia juga. Seperti Surya Saputra yang pernah jadi orang Jerman dan Zaskia Adya Mecca yang jadi orang Mesir di “Ayat-ayat Cinta”. Pemaksaan yang asa ku teu kudu.

Saya asalnya ga terlalu tertarik baca sekuelnya ini. Namun, kemudian seorang teman bilang, “Mbak Irma harus nonton filmnya.” Kenapa? saya tanya. “Biar Mbak Irma bisa jawab pertanyaan-pertanyaan bule-bule non muslim itu”. Yah mungkin ini berkaitan dengan tulisan saya soal muslim beberapa waktu lalu. Saya memang mendapat beberapa pertanyaan kelewat berat dari orang-orang yang baca. Resiko, menulis sesuatu yang besar dengan kapasitas otak yang masih kecil.

Jadi, ya sudah sih, hari pertama liburan memang kami sekeluarga berencana mengunjungi Taman Bacaan favorit kami di Cimahi. Cuss lah ke sana. Pulang-pulang membawa satu keresek besar ukuran Yogya Supermarket (keresek paling besar) dan satu keresek sedang. Salah satunya buku ini.

Saya selesai membaca buku ini dua hari. Bukunya ternyata lebih menarik dibanding “99 Cahaya Islam di Langit Eropa”. Hanum dan Rangga sudah lebih natural (menurut saya) di buku ini. Di buku pertama, entah kenapa rasanya seperti reportase yang dipaksakan jadi novel, mungkin karena Hanum dulu jurnalis, persis seperti “Negeri 5 Menara” nya A. Fuadi. Persis sih tidak ya, mungkin berasa sama lah begitu.

Jadi, buku ini menceritakan Hanum yang tiba-tiba ditugasi Bosnya untuk membuat liputan soal peristiwa 9/11 di Amerika, dan di saat yang sama Rangga pun diminta mempresentasikan makalahnya di Washington DC. Jalinan cerita selanjutnya, bisa ditebak, banyak kebetulan (karena Hanum menulis di pengantarnya, memang ini campuran antara pengalaman, riset dan fiksi) terjadi. Ujung-ujungnya, bagaimana Hanum dan Rangga menyaksikan (dan menuliskan) wajah sebenarnya Islam di Amerika sana.

Bukunya cukup membuat saya terharu, di seperempat bagian terakhir dan ditutup dengan ending yang pas. Tidak memaksakan dan tidak lebay (lagi). Pas saja. Sementara judulnya sendiri sebenarnya tidak terlalu berkaitan secara keseluruhan dengan ceritanya. Hanya diambil dari salah satu fakta sejarah, dan diambil menjadi judul, supaya catchy kayaknya.

Buku ini memuat misi dakwah, sederhana saja. Jadi jangan tertipu dengan kata “Amerika” di judulnya. Maksudnya, jangan berharap kamu akan dibawa keliling-keliling USA dan diperkenalkan dengan banyak hal seperti buku-bukunya Trinity, soalnya ini bukan travelling-fiction.

The Undomestic Goddess – Sophie Kinsela

download.jpg

Yap, buku ini saya dapat dari Taman Bacaan juga. Dulu pernah punya tapi ada di koleksi jualan dan udah keburu sold. Hehe, begitulah kalau jualan buku. Lagi iseng, pengen baca eh sudah dibeli orang.

Saya lagi butuh buku yang ringan, ga ngajak mikir dan lucu. Sophie Kinsela jawabannya. Bagi yang belum tahu, Kinsela adalah penulis “The Confession of a Shopaholic” yang sudah difilemkan itu. Kinsela selalu menulis mengenai perempuan masa kini yang (biasanya) punya segudang masalah, bergulat dengan perjuangan mendapatkan cinta dan dibumbui adegan slapstick sana sini yang entah kenapa pas saja.

Di buku ini, ada kisah soal Samantha Sweetings, seorang pengacara jempolan yang hidupnya sebentar lagi akan berubah, karena ia sudah digadang-gadang akan menjadi salah satu rekanan di firma hukum tempat ia bekerja. Hidupnya memang berubah, tapi tidak sebagai rekanan, melainkan pengangguran, karena ia membuat satu kesalahan kecil yang membuatnya harus rela kehilangan karir. Dalam kebingungannya terdamparlah ia di sebuah desa di Inggris (dia naik kereta dari London), dan karena kesalahpahaman, sepasang suami istri kaya mempekerjakannya sebagai asisten rumah tangga. Yes, you heard me right. Pengacara keren, jadi pembantaian bok.

Nah, dari situ saja kalian pasti sudah tahu bahwa tujuan saya tercapai. Haha hihi sana sini saat membaca sepak terjang Samantha yang bahkan tidak tahu cara mengoperasikan oven. Baper saat ia bertemu seorang cowok di desa yang membuatnya merasa istimewa. Daan, sudah pasti happy ending lah Sophie Kinsela itu. She really made my day.

Antologi rasa – Ika Natassa

941039_10206991511518718_7560234434945692928_n

Saya sudah mengenal Ika Natassa sebagai salah satu penulis Indonesia. Tapi saya tidak pernah terlalu tertarik baca bukunya, karena saya pikir dia sejenis Daniel Steel nya Indonesia. Baca Daniel Steel itu harus siapin tisu sekotak. Nangis mulu.

Suatu hari, beberapa bulan lalu, saya baca “The Critical Eleven” buku terbarunya Ika, itupun karena ada pelanggan yang nanya, jadi saya beli dua bukunya. Tebakan saya benar, dan juga salah. Benar secara, Ika, seperti Daniel Steel, punya bakat bikin orang baper akut. Salahnya, karena Ika ternyata ga se-menya-menye Daniel Steel. Plus, Ika memajang tokoh-tokohnya sebagai tokoh muda kosmopolitan. Muda, ganteng/cantik. kehidupan kota, konflik cinta. Klise? Ga juga sih … pinter aja Ika meramunya.

Tadi malam saya iseng mengambil buku ini. Antologi Rasa. Perkiraan saya sih, ah paling kayak si “Critical Eleven” itu. Baper ajah. Eh, saya salah lagi. This book is even better. Baper nya masih (itu kayaknya kekuatan Ika deh), tapi konflik perasaannya diperas habis-habisan. Alhasil, tisu sekotak sih ga diperlukan, tapi rasa sakit menghunjam di dada saya rasakan sepanjang membaca. Lebay memang. Tapi kayaknya itu tujuannya Ika, biar kita lebay hehehe.

Omong-omong saya beres baca buku ini dua jam saja,

Well Done, Ika.

 

Nah, yuk beralih ke film.

Film yang saya tonton di minggu pertama bulan Januari:

The intern – Nancy Meyers (2015)

actors : Robert De Niro, Anne Hathaway, Rene Russo

The_Intern_Poster

Sutradara film ini Nancy Meyers. Dia tidak hanya menyutradarai tapi juga menulis. Film-film Meyers lain yang saya tonton (dan sukai) adalah “The Holiday” dan “What Women Want”. Meyers sepertinya memang mengkhususkan pada film-film ‘cewek’ yang tidak menye menye seperti novel harlequin.

Kamu pernah magang?

Di Indonesia, istilah ‘magang’ biasanya ditujukan bagi para mahasiswa di tahun ke-3 atau 4, yang ditugasi dosen untuk mencoba bekerja di perusahaan-perusahaan tertentu. Magang bisa juga dilakukan seorang pegawai baru sebelum akhirnya diangkat sebagai pegawai tetap. Biasanya orang-orang magang usianya muda.

Bagaimana perasaanmu jika yang magang adalah orang-orang tua seumuran ayah ibu kita atau bahkan nenek kakek kita?

Ben Whittaker (Robert de Niro) adalah pensiunan usia 70 tahun yang bosan dengan hidupnya setelah pensiun. Ia akhirnya melamar menjadi tenaga magang di sebuah perusahaan anak muda di kota tempat ia tinggal, Brooklyn. Lowongan pekerjaan magang tersebut memang dikhususkan untuk “senior internship” atau program magang bagi manula. Sesuatu yang tidak mungkin, di Indonesia.

Singkat cerita, Ben diterima bekerja di “About The Fit” sebuah perusahaan online fashion site. Semacam lazada atau Bukalapak tapi khusus Fashion. ATF dilahirkan dan dikembangkan oleh Jules Ostin (Anne Hathaway)seorang perempuan muda yang energik dan mencintai pekerjaannya. ATF sukses besar hanya dalam waktu 18 bulan saja. Di film ini kita akan dibawa ke kantor ATF yang isinya anak-anak muda berpakaian kasual, ruangan besar kantor yang lapang tanpa sekat, tidak kaku dan kekinian. Mirip kantor Google di film “The Internship” (Vince Vaughn). Walaupun tanpa fasilitas bermain seperti Google.

Ben, kemudian ditugasi sebagai asisten Jules, pemilik sekaligus direktur ATF. Bisa dibayangkan kemudian, bagaimana seorang Ben, yang masih menenteng koper era tahun 70-an harus bekerja bersama anak-anak muda berusia di bawah 30 tahun dengan segabreng gadget yang mereka taruh di atas meja. Ada adegan yang mengulas senyum ketika Ben duduk di mejanya. Anak muda di samping Ben membuka ranselnya, menyiapkan laptop, mengeluarkan earphone, USB, dan iphone. Sementara Ben, membuka koper jadulnya yang berisi kalkulator, buku agenda tebal, pulpen dan koran. HP nya HP jadul yang hanya bisa SMS dan teleponan saja.

Tidak, tidak. Jangan mengira kamu akan mengira salah satu dari mereka mengorbankan dirinya dan menjadi yang lain. Maksudnya, karena bekerja dengan anak muda kemudian Ben tiba-tiba berubah jadi hip hop dengan celana gombrong dan topi terbalik atau Jules yang bertransformasi jadi ibu-ibu direktur dengan make up sempurna, tas Prada dan kalung mutiara. Mendadak ingat Steve Martin yang pernah bergaya hiphop di “Binging Down The House” dan Jennifer Gardner yang sangat chic di “13 Going on 30”.

Film ini mengajarkan bagaimana dua orang dari latar belakang dan usia yang berbeda kemudian bekerjasama. Ben tidak berusaha menceramahi Jules yang pantas jadi anaknya, dan Jules pun tidak meremehkan Ben yang tidak tahu bagaimana cara mengisi biodata di akun Facebook. Selangkah demi selangkah Meyers berhasil membangun cerita yang akan membuat kita (saya, lebih tepatnya) berulangkali jatuh cinta dengan Ben dan Jules. Dengan De Niro dan Hathaway. Keren film ini.

Sederhana tapi indah. Demikianlah.

Joy – David O Russell (2015)

actors : Jennifer Lawrence, Bradley Cooper, Robert de Niro

download (1).jpg

Kamu punya alat pengepel yang bisa diperas ujungnya itu? Yang tidak harus dipegang (zizik) dan bisa dibersihkan dengan cara memasukkannya ke mesin cuci?

Saya punya alat pel yang biasa, yang masih harus dipegang bawahnya kalau mau dibersihkan. Tapi saya pernah lihat alat serupa di Ace Hardware. Keren banget, dengan kain katun yang menyerap noda, bisa digunakan untuk mengepel hingga ke sudut-sudut ruangan. Sayang, harganya mahal.

Nah, kenapa saya malah cerita soal alat pel?

Karena film ini bercerita tentang perjuangan Joy Mangano (Jennifer Lawrence) si pencipta alat pel itu!!!

Kenapa saya membubuhkan tiga tanda seru di kata di atas? Soalnya sampai sekarang saya masih kagum bahwa memang ada seseorang di luar sana yang kepikiran menciptakan alat pel seperti itu, dan dia ibu-ibu! Ih luar biasa.

Jenlaw seperti biasa, bermain apik sebagai Joy, seorang Ibu beranak dua dengan segudang masalah. Ia akhirnya menciptakan alat pel ajaib itu dan berjuang untuk menjualnya dan mematenkannya. Film nya sendiri sederhana dan tidak memerlihatkan banyak konflik. Ada sih, tapi ketebak semua. Seperti halnya film-film biopic lain, tidak banyak bumbu layaknya fiksi.

Beres nonton, saya jadi pengen googling soal Joy Mangano yang asli, yang saat ini usianya 59 tahun, Presiden Direktur Ingenous Design dan pemegang 100 hak paten. Beberapa penemuannya yang terkenal adalah Miracle Mop (yang ada di film), Huggable Hangers dan Clothes it All Luggage System (semacam koper pakaian serupa organizer yang banyak kantongnya itu). Tak kurang dari Oprah Winfrey dan Serena Williams pernah memberikan endorsement untuk produk Joy,

Film ini cucok buat yang sedang ingin diboost motivasinya. Joy yang seorang ibu rumah tangga dengan konsisten dan keras kepalanya berjuang supaya penemuannya dibeli orang dan sukses. Meski tidak banjir airmata seperti waktu nonton “The Pursuit of Happiness”, film ini cukup bikin semangat naik.

Keren.

Dan film terakhir yang saya tonton (lagi) minggu ini adalah:

Failure to Launch – Tom Dey (2006)

actors : Sarah Jessica Parker,  Matthew McCoghnahey, Bradley Cooper, Justin Bartha, Zoey Deschanel

download (2).jpg

Failure to Launch adalah salah satu dari sekian film yang tidak pernah bosan saya tonton. Romcom atau Romantic Comedy ini berkisah soal Tripp (Matthew McCoghnahey), bujangan berusia 35 tahun yang ‘keenakan’ tinggal di rumah orangtuanya sehingga membuat ayah ibunya kesal. Di Indonesia, tidak ada batasan usia untuk bisa tinggal di rumah orangtua. Jika perlu, sampai beranak pinak masih serumah dengan orangtua. Namun, bagi orang bule, tentu tak wajar pria usia 35 tahun masih ‘merepotkan’, karena sejatinya di usia 18 anak laki maupun perempuan biasanya sudah cari apartemen/tempat tinggal sendiri.

Setelah ngobrol dengan tetangga mereka yang pernah mengalami masalah serupa, ayah ibu Tripp kemudian menyewa jasa Paula (Sarah Jessica Parker), seorang wanita cantik yang pekerjaannya membuat anak cowok mau dengan sukarela pindah dari rumah orangtuanya. Tentu tanpa sepengetahuan Tripp.

Konflik nya sudah bisa ditebak, kisah cintanya juga bisa ditebak. Namun jalinan kisahnya yang lucu dan fresh akan membuatmu terpaku di kursi untuk menonton. Di sini juga saya pertama kali melihat Zoey Deschanel sebelum menontonnya di film-film lain. Zoey berperan sebagai Kit, housemate Paula yang aneh dan ceplas ceplos.

Film ini cocok ditonton sambil makan cemilan. Ringan dan mengundang tawa, baper dan puas hingga akhir.

Jadi, begitulah. Tiga buku dan tiga film, sukses bikin baper minggu ini.