Posted in belief, humaniora, politik

Rohingya, Ashin Wirathu dan Aung San Suu Kyi


Rohingya adalah etnis muslim yang menghuni wilayah Rakhine Utara (juga disebut “Arakan”) Myanmar. Rohingya diyakini sebagai pengungsi dari Bangladesh yang datang ke Burma (nama sebelum Myanmar) di awal abad 16-18.

Pun begitu, ahli sejarah meyakini mereka adalah turunan dari orang Moor (dari barat Laut Afrika, keturunan Arab). Oleh sebab itulah agama mereka Islam.

Alih-alih diterima, Rohingya malah dianggap sebagai “penumpang gelap” yang menjadi beban ekonomi bagi Rakhine. Plus, pada saat pecah perang Inggris-Burma tahun 1942, Rohingya ada di pasukan Inggris, dan turut membantai ratusan ribu penduduk Rakhine. Saat itu Inggris mempersenjatai Rohingya muslim yang berhadapan dengan penduduk Rakhine, diantaranya Para pendeta Buddist. Peristiwa ini dikenal sebagai “Arakan Massacre” atau “pembantaian Arakan”.

Dendam lama antara Muslim dan Buddhis kembali tersulut ketika di tahun 2012, seorang pemuda muslim dituduh memerkosa dan membunuh seorang perempuan Buddhis. Tak pelak, sejak itu wilayah Rakhine tak pernah benar-benar aman. Konflik diperburuk dengan adanya ajakan untuk “membersihkan kaum muslim dari tanah Burma” yang diserukan oleh Ashin Wirathu.

Siapakah Ashin Wirathu?

Wirathu pernah dipenjara tahun 2003 karena tergabung dalam gerakan anti muslim di Myanmar. Ia dihukum penjara 25 tahun sebagai tahanan politik, namun di tahun 2012 ia bebas.

Mulai tahun 2012, Wirathu aktif menyerukan gerakan boikot Muslim dari tanah Myanmar. Berkali-kali ia mengatakan pada wartawan betapa ia takut suatu hari muslim akan memimpin Myanmar.

Wirathu kemudian menjadi sangat terkenal, sampai dijadikan cover depan majalah TIME tahun 2013 dengan tajuk berita “The Face of Buddhist Terror”. Lucunya, Wirathu menjuluki dirinya sendiri dengan nama “The Burmese Ben Laden”.

Para biksu yang manut pada Wirathu berpendapat setiap manusia itu ada yang baik dan tidak, namun muslim itu jahat (dapat dilihat di video yang ada di tautan bawah).

Jelaslah bahwa kisruh yang awalnya terpicu dari sejarah kelam dan motif ekonomi berkembang menjadi sentimen antar penganut agama. Sesuatu yang sangat biasa terjadi saat sebuah konflik dipolitisasi.

Dari pelbagai artikel yang saya baca, cukup dipahami bahwa isu agama memang amat sangat seksi untuk digoreng dan diolah menjadi sebuah topik utama. Meskipun para buddhis pengikut Wirathu mungkin merasa tindakan yang mereka lakukan adalah sebuah perang suci, bisa jadi yang sebetulnya terjadi bukan seperti itu.

Sejarah dunia yang panjang telah banyak membuktikan ada banyak motif berbau (lagi-lagi) sosial ekonomi, bisnis dan politis yang mewarnai pelbagai perang dan konflik yang dianggap sebagai perang agama.

Keberadaan seorang Penganut Budha yang membuat ngeri semua orang, sebab dia kejam, menurut saya simpel saja, sebab dia manusia.

Dan kita tahu betul betapa manusia bisa lebih kejam daripada binatang.

Dulu, penganut Katolik selalu dikaitkan dengan perilaku cinta kasih dan mudah memaafkan. Kemudian Klux Klux Klan yang mengaku Katolik puritan melakukan kekejaman terhadap etnik kulit hitam di Amerika Selatan. Buyarlah citra Katolik yang santun.

Dulu, Muslim selalu dinisbatkan pada perilaku damai, wong arti katanya saja “selamat”. Kemudian terorisme di pelbagai belahan dunia yang mengatasnamakan jihad memporak-porandakan imej Islam yang teduh.

Itulah yang sekarang terjadi pada agama Budha. Maka, stop mengeneralisir perilaku sebagian kecil umat beragama sebagai representasi keseluruhan.

Konflik Rohingya sekarang mungkin memang telah berkembang menjadi konflik agama yang diperuncing oleh pelbagai berita sana sini, namun ada baiknya kita mulai memahami akar permasalahan dan tidak melulu berteriak keras menyalahkan satu agama tertentu.

Beberapa hari terakhir ini dinding media sosial saya dipenuhi kabar soal Rohingya, bahkan khotib di Sholat Iedul Adha pun meminta para jamaah untuk ikut mendoakan Rohingya.

Bagi saya, ungkapan simpati dari kita besar artinya, minimal untuk diri kita sendiri.

Mengapa? Sebab bersimpati itu butuh hati.

Di luar fakta bahwa Rohingya terpisah sekian ribu kilometer jaraknya dari kita. Di luar fakta bahwa kita mungkin memiliki perbedaan keyakinan dengan mereka. Di luar fakta bahwa di negeri kita sendiri banyak terjadi konflik horizontal yang masih butuh dibereskan.

Konflik tidak untuk dibandingkan, tak ada gunanya. Jikapun kita masih menganggap masalah di dalam negeri masih terlalu banyak hingga masalah luar negeri tak penting lagi, tidak apa. Namun jangan mengejek. Sebab kau tak pernah tau siapa diantara teman-temanmu yang doa dan keikhlasannya menyentuh langit dan Allah mendengarnya.

Saya mendukung penuh kecaman terhadap Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar secara de facto yang sampai detik ini tidak melakukan tindakan apapun untuk menyudahi konflik Rohingya.

Suu Kyi bahkan tidak mengijinkan perwakilan PBB dan media untuk meliput apa yang sebenarnya terjadi. Rohingya sedang mengalami genosida dan seorang peraih Nobel Perdamaian Dunia tahun 1991 tidak melakukan apapun untuk mengubahnya.

Lebih dari selusin pemenang nobel perdamaian lainnya dikabarkan menulis surat berisi kecaman dan kritikan terhadap Suu Kyi yang mereka kirimkan pada Dewan Keamanan PBB di tahun 2016. Juga tak ada tanggapan.

Suu Kyi bahkan menuduh media membesar-besarkan berita mengenai Rohingya, padahal fakta di lapangan menunjukkan bahwa Rohingya telah mengalami “etnic cleansing” sejak tahun 2012.

Pagi ini saya melihat banyak orang menandatangani petisi untuk meminta nobel perdamaian untuk Suu Kyi dicabut kembali. Entah apakah akan berhasil atau tidak, tapi setidaknya sebagai bangsa Indonesia yang pernah membaca pembukaan UUD 1945, kita sepenuhnya sadar:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan”

Catatan:

⁃ Saya sempat memposting artikel di sebuah blog yang menuliskan kemarahan Aung San Suu Kyi atas Indonesia yang dianggap ikut campur. Setelah saya cari kembali tak ada satupun artikel media resmi yang mendukung artikel tersebut, oleh karenanya postingan itu saya hapuskan. Mohon maaf kepada teman-teman yang sudah membaca.

⁃ Saya tidak mencantumkan banyak tautan video, hanya satu saja yang memuat wawancara dengan Ashin Wirathu. Untuk video-video lain tentang Rohingya, teman-teman bisa cari di youtube.

Sumber:

https://www.rappler.com/indonesia/data-dan-fakta/153228-siapa-rohingya-mengapa-termarjinalkan

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Arakan_massacres_in_1942

http://www.bbc.com/news/magazine-22356306

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ashin_Wirathu

http://www.smh.com.au/world/myanmar-crisis-a-human-catastrophe-that-betrays-suu-kyis-nobel-prize-20170902-gy9f5a.html

https://www.google.co.id/amp/www.independent.co.uk/voices/aung-san-suu-kyi-rohinga-muslims-not-the-liberal-made-herself-out-a7920296.html%3famp

http://theconversation.com/life-in-limbo-the-rohingya-refugees-trapped-between-myanmar-and-bangladesh-71957

Posted in 30 Hari Menulis 2017, belief

Yakin/Tidak Yakin, Transparansi sosial media kita


#30HariMenulis

 

Hari 23

 

Sosial Media membuat ‘halaman’ dan ‘jendela’ rumah semua orang terbuka lebar. Jika dulu kita hanya bisa mengenal orang dari obrolan dengannya, sekarang, bahkan dengan orang asing yang belum pernah bertemu muka pun, kita serasa sudah mengenalnya selama bertahun-tahun.

 

Halaman semua orang terpampang nyata (bukan fatamorgana) setiap hari, setiap kali kita masuk ke akun sosial media kita. Ada halaman orang yang tertata rapi, hanya menampilkan keindahan dan kebaikan, layaknya kebun di halaman depan rumah yang biasa ditanami bermacam tanaman sebab itulah yang pertamakali akan orang lihat.

 

Ada halaman orang yang isinya sangat random dan nano-nano. Terkadang isinya indah berbunga-bunga, terkadang perih berdarah-darah. Ungkapan suka cita dan kesedihan dating silih berganti bergantung apa yang sedang menimpa orang tersebut.

 

Ada orang yang memenuhi halamannya dengan promo MLM. Siang malam, saat panas maupun hujan, saat kisruh politik atau heboh berita artis, orang ini akan tetap istiqomah di jalurnya, promo produk.

 

Ada pula orang yang halamannya selalu penuh caci. Setiap statusnya penuh dendam dan benci. Apapun ia maki, siapapun salah di matanya. Sehingga terkadang saya sering bertanya-tanya, hidup perih macam apa yang sudah ia jalani hingga ia harus ‘menyiksa’ semua orang yang berkunjung ke beranda sosmed nya hanya untuk membaca kemarahannya.

 

Satu kesamaan dari semuanya, social media membuat semua orang transparan dan terbuka.

 

Saking terbukanya, saya sampai ngeri sendiri karena seolah semua orang ‘terbaca’ begitu jelasnya. Meskipun belum tentu juga yang dia tampilkan itu benar. Sebab membuat status di social media tentu dimaksudkan untuk mencari perhatian dan mengharapkan komentar yang membaca. Jika tidak, sudah barang tentu kita menulisnya bukan di status, melainkan di buku harian.

 

Soal keterbukaan ini bukan hanya masalah harian macam masalah pekerjaan atau rumah tangga (meskipun saya sering mengerenyit jika ada yang secara terbuka memposting segala sesuatu tentang rumah tangganya) atau anak-anak. Keterbukaan juga menyentuh ranah yang dulu jarang disentuh sebab dianggap tabu. Ranah keyakinan.

 

Jaman dulu orang beragama. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan lain-lain. Namun semua tidak ada yang berkoar-koar, semua tersimpan rapat. Candaan memang ada, celaan memang terjadi, namun hanya ada di level pertemanan dekat. Sekarang semua berubah. Era transparansi membuat banyak orang harus mendeklarasikan ulang keyakinannya, atau ketidakyakinannya.

 

Sebagian orang jaman sekarang merasa perlu mendeklarasikan kembali, eksplisit maupun tidak, keyakinan dan kepercayaan yang ia anut. Sejatinya ini bisa dipahami sebab banyak orang merasa harus menunjukkan di sisi mana ia berdiri. Supaya tidak disalahartikan. Supaya ketika saling melempar komentar, orang akan tahu ‘oh ia kan mendukung/tidak mendukung si …’

 

Sekarang yang sama keyakinannya pun kadar keimanannya terkotak-kotak. Ada yang dianggap beriman tinggi, ada yang beriman lemah, ada pula yang dikategorikan tidak beriman dana tau munafik. Luar biasa. Seolah orang punya semacam diagram yang bisa menunjukkan indicator keimanan seseorang.

 

Pun, ketidakyakinan pun diumbar parah. Seolah bangga sekali ketika menyebut bahwa dirinya tidak lagi mengakui Prima Causa, tidak meyakini sang Pencipta. Entahlah mereka yang seperti ini sedih atau senang ketika banyak orang berkomentar di statusnya, entah menyetujui atau tidak. Dugaan saya sih, senang-senang saja. Sebab, tujuan bikin status kan memang untuk dibaca dan kemudian dikomentari.

 

Ah entahlah.

Buat saya keyakinan itu amat rahasia. Hubungan indah antara manusia dengan yang menciptakannya. Dibisikkan ke langit malam yang sunyi, digetarkan di sanubari, dan dijawab dengan serangkaian pertanda dan lintasan hati. Pengakuan tak lagi dibutuhkan, sebab hanya kepada Tuhanlah, seorang hamba mengadu.

 

Indah.

 

Dan menurut saya ketidakyakinan bersifat kurang lebih sama. Ketika diri tidak yakin, simpanlah untukmu sendiri. Jika kau masih meneriakkannya pada dunia, jangan-jangan kau bimbang. Sebab tidak yakin berbanding amat lurus dengan yakin. Jika meyakini saja kita biasanya diam-diam dan meresapi, mengapa ketika kau tidak yakin, mesti berteriak? Jika kau tidak yakin, ya sudah tak yakin saja. Jika masih mengemukakan segudang alasan, apakah kau yakin bahwa kau sudah tidak yakin lagi?

 

Hidup ini sederhana. Sejatinya.

 

Yang rumit itu yang kita tampilkan di ‘halaman’ dan ‘jendela’ akun social media kita.