Posted in 30 Hari Menulis di Bulan Juni 2014

IT : a different horror film ( CONTAIN SPOILERS)


Year : 2017

Director : Andre Muschietti

Cast : Bill Skarsgard, Jaeden Lieberher, Finn Wolfhard.

Wait, Stephen King?

Yes, the King of Horror. Hold on, isn’t it supposed to be Alfred Hitchcock?

Hitchcock might be considered as the king of horror and suspense in the world of film industry, but King has his own place in the world of horror and thriller novels.

“IT” was the 22nd book of King, which was written in 1986. As some other books he wrote, “It” took place in Derry, Maine.

Derry is one of King’s fictional places, along with “Castle Rock” and “Jerusalem’s Lot” in his other books. As for Maine, it is the place where King was born and spent his entire childhood.

“It” began with the scene of a boy named Georgie. Georgie was given a paperboat made by his older brother Bill. Running happily on a rainy day, Georgie took the paper boat outside.

When his paper boat went into a sewer, Georgie, unexpectedly encountered a mysterious clown who introduced himself as “Pennywise, the dancing clown”.

The chat between Pennywise and Georgie in that scene is probably one of the scariest chat I have ever seen. It gave me goosebump to see how the clown smiled and stared with his sparkling eyes.

I am not supposed to take stuff from strangers.”

“Oh well, I am Pennywise, the dancing clown! Pennywise? Yes. Meet Georgie. Georgie meet Pennywise.”

Georgie laughed.

“Now, we aren’t strangers, are we?”

And what happened next, is the thing that made me realized, Good God! this film is so NOT FOR CHILDREN.

The story then, moved couple of months later, where we can see Bill and his fellow friends on the last day of school before summer holiday. Bill was still mourning because of the disappearance of Georgie. Bill was trying to find Georgie even though his own father asked him to let it go.

Beside Bill, we will meet another three boys. Richie ; who was really chatty, Eddie who believed that he had asthma and allergy and had to live healthy life, as what his mother told him to do. Stanley, a Jewish boy who just had his first bar mitzvah (and whose dad was a Jewish preacher). Together, they called themselves “gang of Losers”.

Later, this gang had three more members; Beverly, Ben and Mike. Beverly was a girl who was always bullied by other girls at school; because many people believed that she has had sex with lots of guys.

Ben was the new kid on the block (literally, same as the band that he liked to listen to), did not have any friend and liked to hang out in the library. And Mike, a colored boy, raised by his grandfather after his parents died in a fire.

You may think that this film reminds you a lot of “stranger things”, a TV series from Netflix. Even one of the losers gang actors was the same actor played in that series.

“Stranger Things” and “Super 8”, are two different films I suddenly remembered when I saw this. Yet, since Stephen King wrote this in 1986, it would be fair enough to say that King was the first, and those other films were the later.

The Losers Gang began to experience weird things. One similar thing was, all the things they saw were something that they were afraid of. Does it ring a bell? Yes. It is like Freddy Krueger, in “Nightmare on elm Street”. Funny is, Krueger film was played in the movie theatre in one of the scenes here.

Bill and his friends soon realized that all the things they had and all the disappearance of Derry’s inhabitants (especially children) were because of “It”, the scary clown that has been haunting the city for years.

Through the research Ben did in the library, they found out that the clown was always appeared every 27 years to feed upon children.

“Jeepers Creepers”! That was what I thought. Damn! King has given ideas to many filmmakers.

Another thing that reminded me of different film was Harry Potter. The way “It” manifested itself in the form of frightening monsters (depends on what makes us scared) is so much similar to the “Boggart” in Harry Potter. J.K Rowling must have read King’s books before she started to write.

The rest of the film was following the common patterns. The gang had to struggle to defeat the clown.

Then, what makes this film is different?

I guess, it is because of the drama. We were told the story from the beginning, layers upon layers. The director was patient enough to feed the details from the start. That is why, toward the last 20 minutes, we were captivated on our seat, experienced mix of feelings. I felt sorry for Bill who was always missing Georgie. I got depressed by the fact that there was something going on between Beverly and her dad (even between Henry and his dad, and Henry was the bully!).

Then, I fell for the friendship among these seven teenagers. How they loved and protect each other.

I even cried in some scenes. Damn it.

This is horror film.

No, this is drama.

This is one hell of a horror film.

And I did not even complain with the history of Derry, who was exactly the clown and where it came from. You would know if you have read the book, though.

Overall, this is a different type of horror movie. And I like it. A lot.

Hope you guys will like it too.

And please, please. Do not bring your children. The sadism is pretty disturbing.

*hands-down to Bill Skarsgard who has made Pennywise became frightening spine-chilling monster!*

9/10

Posted in 30 Hari Menulis di Bulan Juni 2014

Ulama yang (tak) dirindukan


#30HariMenulis

Hari 25 


*picture is taken from http://4.bp.blogspot.com/-55-uGN7lgi0/TkvPDrM7XCI/AAAAAAAABpc/HBpfCzgTMWE/s400/Quraish-Shihab-biografi-web-1.png*

Tulisan ini berkali membuat saya meragu. Sebab ini kontroversial, dan sahabat saya selalu berkomentar, “kamu itu suka banget sih nulis sesuatu yang kontroversi” namun seperti di tulisan saya tempo hari, hati ini tak bisa bohong. Tak bisa dikendalikan atau diembargo. Hati dan intuisi saya mutlak hak prerogatif saya. Maka, inilah.

Dahulu, yang namanya ulama pastilah sosok yang dipercayai dan dihormati. Ilmunya diserap, nasihatnya didengar. Orang yang tangannya selalu basah karena peluh orang-orang yang mencium punggungnya. Orang yang bahkan suara dehemnya saat masuk waktu shalat di Masjid bisa membuat banyak orang gugup dan segan.

Itu sebelum politik dan ampas-ampasnya menyerang dan melesakkan negeri ini ke jurang perpecahan lini masa lewat provokasi media sosial.

Kini, ada ungkapan, “Bergurulah pada ulama anu, anu, anu … jangan ke ulama yang itu …”

Seolah umat sedang memilih baju di Pasar Baru. Pilih kelir acak corak.
Lucunya, terkadang yang berkomentar ada juga dari kalangan non muslim, sebab politik yang merusak tadi sudah membuat nalar banyak orang tumpul sehingga menyangka bisa menyebrang semena-mena ke lintas kepercayaan yang sampai kapan pun mungkin tidak akan mereka pahami benar. 

Jika kalian merasa saya bertindak rasis saat menuliskan ini, silakan dipikirkan bahwa yang paling mengenali halaman rumah kita ya kita sendiri, bukan tetangga. 

Meskipun tidak saya bantah, jika keelokan taman depan rumah kita semerbaknya hingga ke hidung tetangga. Atau sebaliknya, tengiknya bau sampah di halaman rumah kita membuat tetangga mengerenyit muak. Entahlah, kalian mengerti atau tidak analogi barusan. Tak apa kalau tak mengerti. Percayalah, saya tidak bermaksud menghina siapapun.

Ambil contoh, seorang Quraish Shihab, pakar tafsir Qur’an lulusan Mesir yang pernah memangku jabatan Rektor, Duta Besar dan Menteri Agama. Pak Quraish mungkin salah satu ulama yang selalu jadi buah bibir sebab pandangan-pandangannya seringkali berbeda dari ulama lainnya.

Suatu ketika orang dikejutkan dengan kata-kata beliau yang menyatakan bahwa “mengucapkan selamat Natal kepada umat nasrani itu boleh”. Terbakarlah hati banyak orang, sebab ucapan itu dianggap melanggar aqidah. Sebagian muslim menganggap begitu. Sehingga kemudian, ada banyak kajian mengenai ucapan tersebut. Baik dari segi bahasa, secara aqidah sampai ke hubungannya dengan akhlak. 

Saya membaca semuanya dan yah, tidak mengapa. Sebab masing-masing punya dalil dan merasa bisa mempertanggungjawabkannya. Maka siapa sih kamu yang maunya menyalahkan terus?
Beberapa waktu kemudian, soal jilbab dipersoalkan. Sebab menurut Quraish jilbab itu tidak wajib. Efek yang ini lebih hebat dari yang pertama. Sebab mayoritas muslim percaya bahwa menutup aurat (dalam hal ini hijab) adalah wajib mutlak, tak ada celah sedikitpun. Saya termasuk yang memercayai ini.
Setelahnya, beredar tautan berita menghebohkan soal Quraish menyatakan bahwa “nabi Muhammad tidak dijamin masuk surga”. Waduh ini luar biasa mencengangkan. 

Ketika saya baca keseluruhan kabarnya, termasuk kata-kata persis yang diucapkan Quraish Shihab, baru saya pahami. Bahwa jika dipikirkan kembali, tak ada yang salah dengan kata-kata beliau. Sebab memang yang membuat kita ditempatkan di surga hanyalah rahmat dan kasih sayang Allah, bukan amalan kita.
berikut link ucapan persis nya jika kalian tertarik ingin membaca:
https://www.google.co.id/amp/m.republika.co.id/amp_version/n8rzyk

Demikianlah, pelbagai penafsiran beliau yang memang kalimat-kalimatnya termasuk tidak gampang dipahami jika hanya dibaca selintas lalu. Quraish Shihab kemudian disebut liberal, penganut syiah.

Di jaman sekarang, ketika banyak kalangan mengaku pendapatnya yang paling benar, kuping ini rasanya bisa pekak mendengar tuduhan “munafik, kafir, syiah, liberal, plural”

Tempo hari, penasaran saya mengklik tautan video ustadz Abdul Somad yang lagi ngetren itu (ustadz yang gaya bicaranya menyentak-nyentak dan humoris) di Facebook. 

Seseorang bertanya, apa pendapat Ustad Abdul Somad perihal Quraish yang mengatakan bahwa hijab tidak wajib hukumnya. Dan jawaban Ustadz Abdul Somad membuat saya tersenyum.

Beliau mengatakan,
“Saya menyaksikan sendiri pada waktu kuliah di Mesir, bahwa Quraish Shihab (pada saat itu menjabat sebagai dubes); jangankan anaknya, istrinya pun tidak menakai hijab. Dalam hal ini ia keluar dari jumhur (mayoritas) ulama. Hanya dalam hal ini saja.”
Saya merasa Ustadz Abdul Somad bijak sekali. Jikapun ia tidak menyetujui pendapatnya Quraish Shihab, ia tidak mengatakannya secara terus terang. Ia masih menjaga izzah atau kehormatan seorang Quraish Shihab sebagai seorang ulama besar. Maka siapa kamu, yang terang-terangan menyebut Quraish Shihab sebagai seorang munafik?
Maka kepandaian dan kecemerlangan Quraish Shihab ketika memaparkan Quran dalam “Tafsir Al-Misbah” dan semua karya-karyanya yang luar biasa seketika hangus sebab ia memiliki pandangan berbeda dengan kita. 

Dan kita ini, yang mengaji saja masih patah-patah, dengan entengnya menunjukkan jari, menuding dan melabeli.
Padahal kata DR. Zakir Naik, selama seseorang percaya bahwa Allah itu satu dan meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya, maka ia muslim. Dua itu saja. Preman pasar pun yang mungkin punya tato sebadan-badan dan seumur hidup tak pernah menyentuh air wudhu (mungkin ya, ini cuma dramatisasi saja) jikalau ia meyakini dua hal di atas, maka ia muslim. 
Dan DR. Zakir Naik tidak luput dari benci. Banyak kalangan menilai ia seharusnya tak dijinkan ceramah lagi karena ceramahnya selalu menyinggung umat agama lain dengan membandingkan kitab-kitab suci yang ada. 
Seorang Aa Gym yang dahulu dipuja sebagai ulama pemersatu umat sempat dicaci sebab ia memutuskan beristri dua. Segala yang baik tentangnya hilang seketika. Padahal banyak orang dimudahkan jalannya menggapai hidayah lewat beliau, termasuk saya. 

Mungkin ceramahnya terkesan biasa, mungkin sering dianggap basi. Tapi mau ngomong apa kamu, jika ternyata ia menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang?

Pada jaman dahulu kala, ulama dirindukan. Kini tidak lagi. Kini ulama ada clusternya. Ada kategorinya. Semacam bahan hijab, ada yang dianggap berkualitas tinggi ada yang KW. 

Suatu hari, di kantor kami membahas soal pilkada Jabar. Beberapa diantara kami menyayangkan adanya nama Aa Gym sebagai salah satu kandidat. Sebab kamu menganggap Aa lebih cocok jadi ustadz saja.

 Saya berujar, bahwa saya sangat hormat pada Aa tapi saya kurang setuju kalau beliau maju.
Seorang rekan mendelik,
“Ngapain lo pake respek2 segala ama dia? Dia tuh apa sih, hianatin istrinya … bla bla bla”
Terus terang saya langsung sakit hati. Sebab saya mengenal Aa sejak usia saya belasan tahun, meskipun hanya sebatas jemaah pengajian. 

Namun saya sadari bahwa pengetahuan saya dan pengetahuan teman saya tentang Aa berbeda, maka perasaan kami pun berbeda. Mungkin sama dengan banyak orang yang sangat membela dan menghormati Habib Rizieq. Betapapun kontroversialnya ia.

Menjadi orang berilmu itu tidak mudah, kawan.
Ketika kita pergi berobat ke dokter, kita tahu bahwa ongkos pemeriksaan yang mahal itu kita keluarkan sebab dokter yang melayani kita sekolahnya susah, ilmunya mahal. Ia memiliki tanggungjawab moral sebagai seorang penyembuh. Dan tanggungjawab ini mungkin sangat tidak sebanding dengan uang ratusan ribu yang kita bayar.

Demikian pula ulama. Kau pikir ia hanya tamatan sekolah agama di kampung? Kau kira ucapan-ucapannya hanya keluar dari hasil menyontek kata-kata mutiara versi hallmark?
Ingatlah bahwa orang berilmu ditinggikan derajatnya lebih tinggi oleh Allah SWT.
Dan orang berilmu, tidak akan seperti kita, yang petantang petenteng merasa sudah paling oke padahal cuma modal browsing ayat di google. 
Sedih.
Semoga nanti ulama tetap dirindukan. Dan orang-orang yang kurang ilmu seperti kita sanggup menahan mulut dan mengkaji terlebih dahulu. Sebab seringkali kecepatan mulut tidak diimbangi dengan kecanggihan otak.
Mereka ulama dengan keilmuannya, dan mereka bersandar pada Allah atas pertanggungjawaban mereka. 
sementara kau, dengan mulutmu,
bagaimana akan kau bela nanti?

Posted in 30 Hari Menulis di Bulan Juni 2014

Semoga


#30HariMenulis

Hari 24

Besok Lebaran. Anak-anak saya bersorak sebab si nomor tiga merindukan ngemil di siang hari. Maklum, ia masih 10 tahun. Meskipun banyak juga orang dewasa yang berkeinginan sama. Seperti saya yang kangen minum kopi di pagi hari sebelum memulai aktivitas.
Malam ini hingga beberapa hari ke depan perasaan sukacita pasti akan menyelimuti tanpa henti. Momen bersilaturahim dan menyantap makanan istimewa rasanya tak tergantikan oleh apapun. Apapun.
Namun setelah itu pasti kerinduan akan Ramadan terasa. Sebab Ramadan itu bulan yang aneh. Semua muslim diwajibkan berpuasa, tapi senang saja menjalaninya. Setiap hari masih harus beraktivitas seperti biasa dengan kondisi perut kosong seharian. Tapi semuanya nikmat saja. Waktu makan menjadi ratusan kali lipat lebih menyenangkan karena berkumpul bersama keluarga.
Ramadan ini cukup berliku untuk saya pribadi. Beberapa kejadian cukup melemahkan mental saya sebagai manusia yang sesekali keceplosan jadi bidadari (ehh). Tarikan napas panjang seringkali mengiringi, untunglah saya tidak punya asma hingga bernapas masih lega.
Apasih.
Ramadan ini pula untuk pertamakalinya sejak lima tahun terakhir saya rindu suasana tertentu. Mungkin karena kejenuhan yang akhir-akhir ini melanda, mungkin juga karena mumet yang menyerang hati. Butuh obat kebaikan.
Mungkin sudah saatnya saya agak memelan. Lebih banyak menimbang ketimbang menyentak. Lebih banyak berpikir ketimbang berkicau.
Sebab saya sudah dewasa. Sangat dewasa dari hitungan purnama.
Dan Ramadan harusnya berbekas di hati ini.
Semoga.

Posted in 30 Hari Menulis di Bulan Juni 2014, english essays

Say It or Shut Up


Okay, okay … I admit, the title seems a bit rash. But you’ll see my points after you read this (hopefully).

ūüôā

Once JFK said, “What we have here is a failure to communicate.” He said this years ago, We are (still) doing it.

Communication is how a message is delivered from speaker to interlocutor, from writer to reader. In order to get the message well delivered, the messenger must convey it in a clear and concise way. Once a message sent, both messenger and receiver will get either news or solution or others.

Let us narrow down the focus.

If you wish to deliver an important message to someone, make sure that you (only) say it to that person in particular. If you “hire” another messenger, don’t get surprised when¬†the outcome¬†is slightly different from your expectation.

Get it now?

No?

Here’s another example.

Sometimes, for warming-up activity, I play “Chinese whisper” with my students. I put them in groups of four or five. I asked them to stand quite far from each other. I prepared a sentence and say it to the first student, which he/she will say to the next person, and the next person will say it again to the next, and so on and so forth. Of course, they cannot write down the sentece, they just have to memorize it. The last person has a job either to repeat the complete sentence¬†to me or write it on board.

I once have given this sentence:

“Susie wants to see sunset on the sandy seashore.”

The result is quite hilarious, since the sentence is somehow incomplete (some words are missing) or the worst, the last person will say a completely different sentence.

And I usually say this to my students, “That, my friends, how gossiping is …”

Seriously.

That is what you get when you do not convey your message to the right person. You have prolem with A, but you say it to B. What will happen? B will say it to C, to D, to ….. Z. And don’t expect that the message will be still save and sound when it landed in the last person.

“What we have here, is TRULY a failure to communicate.”

I am sorry Mr. Kennedy, just couldn’t stand it.

Isn’t it what oftenly happen here, with us?

Some people, I mean.

Instead of telling the right person, these people prefer to talk in secret, behind the person’s back. They will end up not having solution for their problem, but a hot gossip.

Why is it so difficult to just say what your problem is?

If not, then shut up.

As simple as that

Posted in 30 Hari Menulis di Bulan Juni 2014

#30HariMenulis Hari 1 : Mengapa Saya Menyukai Film


Saya menyukai film SE7EN yang dibintangi Brad Pitt bukan hanya karena ceritanya yang terbangun rapi dari awal dan mengejutkan di akhir. Bukan juga hanya karena akting Brad Pitt dan Morgan Freeman, yang memang amat menawan, melainkan karena film ini berturut-turut menemani saya melahirkan sebanyak dua kali. Epic sekali bukan.

Meskipun kamu tidak akan meminta, saya akan menceritakannya, Hadeuh.

Film besutan David Fincher (Oh my God, I looove this man) ini dirilis tahun 1997, namun saya belum pernah mendapat kesempatan untuk menontonnya. Entah kenapa, lupa saya, mungkin karena tahun itu saya masih mahasiswa, dengan kantong pas-pasan. Baru di bulan Juni tahun 2001, yah telat banget memang, saya berkesempatan melihat film ini di salah satu TV swasta.

Film ini menjadi istimewa karena pada saat itu saya melihatnya di kamar perawatan klinik bersalin, sehabis saya melahirkan si sulung. Jadi, setelah lelah berjuang mengeluarkan orok, saat saya istirahat, saya melihat film ini di TV. Saya langsung bilang sama suami yang waktu itu ada di samping. “Mau nonton ituuu …” dan kemudian saya tertidur.

Setelah sempat kesal sama diri sendiri karena “berani-beraninya” ketiduran waktu niat mau nonton film bagus, saya lupa lagi sama film ini. Di tahun berikutnya, September 2002, eh filmnya nongol lagi pemirsa, di tempat yang sama, dengan kondisi yang sama. Entah kenapa sepertinya memang ada konspirasi terselubung yang membuat TV swasta itu hapal jadwal melahirkan saya dan serta merta menayangkan SE7EN yang … tidak juga sempat saya tonton. Ya elah masak iya sih abis lahiran ga capek, ya kan ya kan. Asyem.

Alhamdulillah kejadian ini tidak berulang pada dua persalinan berikutnya. Sampai hari ini entah sudah berapa kali saya menonton SE7EN dan teuteup sakit hati pas bagian ending. Ehh, spoiler ga ya ini?

Iya, saya tahu, harusnya saya menuliskan alasan mengapa saya suka nonton. Tiba-tiba barusan saya ingat kejadian itu aja. Toh masih ada hubungannya kan.

Nah, jadiii … kapan saya mulai suka film?

Kasih tau ga yaaaa … #MintaDiSiramAir

Tahun 80-an akhir itu, awal-awal saya mulai menonton. Dimana? ya dimana lagi kalau bukan TVRI. Kalau kamu senyum-senyum waktu baca ini, berarti ngaku aja, kamu seumuran saya lah hahaha.

Waktu itu film barat adalah yang paling saya tunggu-tunggu. Penayangannya, apesnya, adalah setelah acara DUNIA DALAM BERITA jam 21.30. Itu pun pakai perjuangan tingkat tinggi, karena saya usia SD, pada jam-jam itu sudah ngantuk bukan kepalang. Maklum, tidak seperti anak sekarang yang senangnya ngendon di rumah dan main gadget, saya kecil sudah pergi mengaji ke Masjid dari waktu Maghrib sampai Isya. Sebelum mengaji, sudah lelah bermain di lapangan bersama anak-anak tetangga. Jadilah, menunggu dan menonton film barat sekitar jam 10 malam itu menjadi sebuah kerja keras.

Waduh, lupa ya film-film apa saja dulu itu. Saya ingatnya Charles Bronson, Chuck Norris (hahaha) yang selalu jadi jagoan. Beberapa tahun kemudian datanglah era Jean Claude Van Damme yang membuat anak-anak satu sekolah heboh waktu ia main di film “Bloodsport”. Semua anak laki-laki mendadak ingin belajar beladiri dan anak-anak perempuan tersipu-sipu saat membicarakan betapa ganteng dan hebatnya Van Damme.

Saya kecanduan nonton, saya akui itu, dari kecil. Rasanya kalau tidak menonton sehari seperti ada yang kurang. Bukan hanya film barat yang saya suka juga film Indonesia dan sinetron Indonesia yang pada jaman itu kualitasnya di atas rata-rata. Bintang-bintang seperti Merriam Bellina, Ayu Azhari, Lidya Kandow, Ricco Tampaty bahkan Robby Sugara dan Tanti Yosepha yang generasinya lebih tua saya suka.

Perfileman Indonesia sempat hiatus sejak film “Taksi” (Rano Karno, Merriam Bellina) di tahun 1990 dan baru bangkit lagi tahun 2000 ditandai dengan munculnya “Petualangan Sherina”. Meskipun begitu, saya tidak pernah berhenti menonton. Film Indonesia mati, saya masih nonton film Hollywood. Kebetulan ada dua orang paman saya yang rajin mengajak saya nonton ke bioskop. Keduanya mengajak saya tidak dalam waktu ¬†bersamaan. Paman yang satu sukanya menonton film silat semacam “Saur Sepuh”, nontonnya di bioskop “RIO” di Cimahi. Sekarang bioskopnya sudah jadi tempat jualan. Hiks.

Sedangkan paman saya yang satu lagi, senangnya mengajak nonton film Hollywood, di bioskop Palaguna, Bandung. Bioskopnya juga sudah tinggal kenangan. Padahal dulu itu bioskop ngehits banget. Semua orang Bandung dan sekitarnya pasti tahu (dan minimal pernah ke sana).

Selain di TV dan bioskop, saya juga pernah menonton film di video. Pada jaman itu belum ada VCD, DVD apalagi Blueray, adanya kaset Video yang tebelnya mirip novel 300 halaman. Kebetulan di rumah kakek dulu ada saudara yang sempat punya. Film pertama yang saya tonton di video adalah “ROBOCOP”, itu sampai ¬†berulang-ulang nontonnya. Padahal alat pemutar video (untuk me-rewind) tidak ada, jadi terpaksa mutar baliknya pake ujung garpu. Funny, but it was true.

Mengapa saya menyukai film?

*udah panjang lebar baru deh nyampe sini*

Saya suka film, karena menurut saya film adalah salah satu kreasi manusia yang amat jenius. Cerita yang menarik, alur yang dibuat memukau, akting para pemain yang seolah nyata hingga scoring musik yang suka bikin terngiang-ngiang sanggup membuat saya terpaku dan terkesan. Jika orang lain mengatakan film itu hanya sebuah hiburan, bagi saya, ia lebih daripada itu. Film membuat saya belajar Bahasa Inggris, membuat saya belajar memahami karakter manusia, menunjukkan banyak pengetahuan lainnya kepada saya.

Semua penggila film pasti bakalan setuju  sama saya, kalau film itu sanggup mengobrak-abrik perasaan kita tanpa ampun tapi film juga dengan cepat akan mampu membuat kita bahagia. Bayangkan kamu disakiti orang habis-habisan, apakah setelahnya bahagia? Pasti engga. Nah kalau film ga gitu. Mau sebelumnya kamu mewek-mewek sampai ngabisin tissue satu kotak pun setelahnya kamu akan merasa puas. Sungguh hubungan yang menguntungkan. Apa sih ini? hahahaha.

Sekian puluh tahun hari ini usia saya, saya masih menonton. Berbagai film, berbagai genre. Meskipun meski saya akui, 90 % film yang saya tonton adalah produksi Hollywood. Film Indonesia masih milih-milih yang bagus, film Bollywood hanya yang direkomendasikaan teman, selebihnya jarang nonton yang lain. Sinetron sudah lama saya tidak tonton (mungkin sekitar 10 tahun terakhir ini), karena saya sudah muak dengan ceritanya yang enteng, akting pemain yang cuma mengandalkan tampang dan teknik kamera yang bisa bikin mata juling. Khususnya saat menyorot karakter utama, zoom in, zoom out, zoom in, zoom out. Muke gile loe.

Mana  sinetron jaman Deasy Ratnasari sama Primus Yustisio dulu? Manna??

#mendesahGundah

Beruntunglah saat menikah, saya dipertemukan dengan lelaki yang sama-sama kaum SUFI (=suka film). Alhasil, hidup saya bisa saya lanjutkan dengan tenang, sambil menonton setiap hari. Apalagi dengan kehadiran empat anak kami sekarang, tambah asiklah menonton bersama. TV di rumah hanya dinyalakan untuk menonton film di saluran berbayar, atau iseng nongkrongin berita (yang biasanya sama terus selama semingguan), sisanya TV kami mati. Di sisi lain, kalau tidak nonton DVD pasti kami menonton sesuatu di layar komputer.

Tentunya dua orang yang suka menonton, menularkan kebiasaan ini kepada generasi berikutnya. Ya, anak-anak saya semua suka menonton, dan saya tidak pernah khawatir, karena kami selalu dampingi. Sekarang malah dengan anak tertua dan kedua, kami sudah bisa berbincang seru mengenai plot film yang dirasa kurang pas, akting yang kurang natural atau cerita yang kami rasa murahan.

Tempo hari, kapan itu, saya pernah menggantikan teman mengajar kelasnya, siswanya anak-anak usia 11-14 tahun. Kebetulan temanya tentaang film. Waktu saya tanya film favorit mereka, rata-rata kalau tidak Percy Jackson pasti  Harry Potter.

Saya agak merasa serba salah, karena anak saya yang berusia sama, menyukai “The Silence of the Lambs”. Bahkan ia baru saja menamatkan membaca bukunya. Terselip sedikit kekhawatiran apakah ia terlalu matang untuk usianya? Yah, memang menurut kami ia jauh lebih dewasa dari usianya, mungkin karena pengaruh buku-buku dan film yang ia konsumsi.

Jika film adalah candu, maka saya sudah sukses membuat anak sendiri ketagihan.

Tapiii … jika kelak anak-anak saya akan merasa bahagia dan puas karena mereka sudah diperkenalkan pada film sejak kecil (seperti saya), saya tidak merasa menyesal. Banyak hal positif yang saya ketahui hari ini, yang bisa saya dapat dari menonton.

Long Live Movie Freaks!

*diposkan tepat jam 00.00

Posted in 30 Hari Menulis di Bulan Juni 2014

From Linz to Salzburg; orang Austria sungguh beruntung – Europe Trip 4


Rencananya hari ini mau menulis soal Venesia, tapi ketika lihat-lihat foto, lah kok jadi pengen cerita lagi soal Linz dan Salzburg  #penting :p

Kota Linz yang tenangKota Linz yang tenang

Menginjakkan kaki di Linz (90 menit perjalanan dari Vienna, ibukota Austria) langsung membuat saya nyaman. Pernahkah Anda merasa terkenang akan sebuah tempat, yang membuat Anda merasa aman, nyaman dan ngangenin? Biasanya kita merasakan itu terhadap kampung halaman kita. Anehnya, Linz menimbulkan rasa yang sama. Entahlah, mungkin juga karena saya sudah bosan dengan pemandangan kota di Indonesia yang selalu bising, hiruk pikuk, banyak polusi dan kotor. Mungkin memang itu alasannya, karena Linz rapi, bersih, tenang dan dipenuhi orang-orang ramah yang akan langsung tersenyum ketika kita senyumi.

Linz merupakan kota terbesar ketiga di Austria. Terbentang seluas kurang lebih 96 ribu kilometer persegi dihuni oleh sekitar 460 ribu orang (saja). Dari jumlah sekian, imigran terbanyak berasal dari Bosnia Herzegovina, sebanyak 4 ribu-an orang. Penduduknya berbahasa Jerman, yang bisa berbahasa Inggris umumnya kaum muda. Meski begitu, mereka jenis orang-orang Eropa yang ramah dan senang membantu orang.

Jika Anda muslim, tidak usah khawatir, karenaa ada beberapa restoran kebab yang dimiliki orang-orang Turki di sini. Yang paling enak yang pernah kami makan adalah di sebuah restoran di sudut jalan area Hauptplatz. Sayangnya, kami lupa memotret dan lupa namanya #tepokjidat
Tapi inilah penampakan pizza dan kebab yang sempat kami nikmati.

kebab, pizza dan kentang goreng, 7 euro sajakebab, pizza dan kentang goreng, 7 euro saja

Kebab, sepotong pizza, kentang goreng dan minuman soda seperti itu harganya 7 euro saja, atau sekitar 98 ribu rupiah. Terkesan mahal, tapi percayalah, di kota-kota lain di Eropa, harga segini termasuk murah. Makan untuk satu orang per porsi bisa mencapai 15-25 euro.

HauptplatzHauptplatz

Ini adalah hauptplatz (dibaca = hoplaz), semacam alun-alun kota Linz. Di sini berkumpul berbagai restoran maupun cafe. Kami berjalan kaki dari hotel ke sini (15 menit) atau kalau Anda malas jalan, Anda bisa naik trem dengan tiket seharga satu euro. Hauptplatz juga merupakan pusatnya anak-anak muda Linz kongkow dan menghabiskan waktu.

Saat di Linz saya juga sempat menemukan taman kecil yang cantik, pas satu blok setelah hotel. Musim semi belum mulai, tapi bunga-bunga sudah mulai merekah.

sungai Danube yang senyap dalam keindahansungai Danube yang senyap dalam keindahan

Ada juga sungai Danube, sungai cantik yang membelah kota Linz. Saking tenang dan indahnya jadi berasa pujangga yang nongkrong pinggir sungai untuk mencipta bait puisi halaaaah …

Kesimpulan saya: beruntungnya orang Austria diberikan Allah nikmat kota yang indah, yang bikin betah. Linz membuat saya meninggalkan sepotong hati di sana. Suatu hari saya ingin kembali. Insya Allah.

Back to Salzburg …

Kemarin saya menuliskan soal biara St Peter’s Abbey yang saya kunjungi di Salzburg. Nah, sebenarnya setelah dari biara menuju makan siang, ada satu tempat lagi yang kami kunjungi, cuma saya lupa karena fotonya cuman satu.

Nah yang pake payung hijau itu saya (penting), trus sebelah kanan saya, yang pake hoodie itu Christoph. Nah, bangunan di sebelah kanan Christoph (pusing yaa) adalah  Stiftsbackerei St Peter, toko roti tertua di Salzburg. Toko ini sudah memproduksi roti sejak abad ke-12. Di depan pintu masuknya (ck, sayang ga ada fotonya) itu ada water wheel . kincir air gede. Kabarnya kincir air itulah yang menjadi sumber energi jaman dulunya di Salzburg,

Di toko ini Anda bisa membeli roti-roti hangat, fresh from the oven. Kami membeli roti kismis sehargaa satu euro, yang tampilannya biasa saja tapi rasanya mengguncang dunia, udah serasa ada di novel Madre-nya Dewi Lestari dah.

Jadi, emang harus saya akui, keminiman foto di toko roti tersebut karena beringasnya kami yang sudah lapar diajak keliling-keliling sama Liza. Lupa deh difoto-foto karena HP sama kamera smua masuk saku. Tangan sibuk nyuap, mulut sibuk ngunyah. Ondeh mandeh …

Nah, satu lagi hal menarik di Salzburg yang lupa saya ceritakan di tulisan sebelumnya adalah rumah terkecil di Austria.

perhatikan rumah kecil di sebelah kiri terpal warna oranye itu. Itu adalah rumah terkecil di Austria, yang hanya memiliki dua ruangan, satu di lantai dasar dan satu di lantai atas (udah kecil, tapi dua lantai). Hebatnya, ini rumah terdaftar sebagai rumah resmi loh, dan masih ditempati hingga sekarang. Padahal bangunan kiri kanannya gede-gede dan tinggi-tinggi, dia nyempil sendiri. Kebayang saya kalo di Indonesia mungkinkah bisa seperti itu? Wong, rumah permanen aja bisa dibeli, digusur dan diganti apartemen kok? #ehh

Demikian kenangan saya akan dua kota ini; Linz dan Salzburg. Edisi berikutnya, saya mau cerita perjalanan seru ke negara yang penduduk laki-lakinya, mau bapak-bapak atau anak-anak, semuanya cakep, yaitu Italia.

Posted in 30 Hari Menulis di Bulan Juni 2014

From Linz to Salzburg; orang Austria sungguh beruntung – Europe Trip 4


Rencananya hari ini mau menulis soal Venesia, tapi ketika lihat-lihat foto, lah kok jadi pengen cerita lagi soal Linz dan Salzburg  #penting :p

<photo id=”1″ />

Menginjakkan kaki di Linz (90 menit perjalanan dari Vienna, ibukota Austria) langsung membuat saya nyaman. Pernahkah Anda merasa terkenang akan sebuah tempat, yang membuat Anda merasa aman, nyaman dan ngangenin? Biasanya kita merasakan itu terhadap kampung halaman kita. Anehnya, Linz menimbulkan rasa yang sama. Entahlah, mungkin juga karena saya sudah bosan dengan pemandangan kota di Indonesia yang selalu bising, hiruk pikuk, banyak polusi dan kotor. Mungkin memang itu alasannya, karena Linz rapi, bersih, tenang dan dipenuhi orang-orang ramah yang akan langsung tersenyum ketika kita senyumi.

Linz merupakan kota terbesar ketiga di Austria. Terbentang seluas kurang lebih 96 ribu kilometer persegi dihuni oleh sekitar 460 ribu orang (saja). Dari jumlah sekian, imigran terbanyak berasal dari Bosnia Herzegovina, sebanyak 4 ribu-an orang. Penduduknya berbahasa Jerman, yang bisa berbahasa Inggris umumnya kaum muda. Meski begitu, mereka jenis orang-orang Eropa yang ramah dan senang membantu orang.

Jika Anda muslim, tidak usah khawatir, karenaa ada beberapa restoran kebab yang dimiliki orang-orang Turki di sini. Yang paling enak yang pernah kami makan adalah di sebuah restoran di sudut jalan area Hauptplatz. Sayangnya, kami lupa memotret dan lupa namanya #tepokjidat

Tapi inilah penampakan pizza dan kebab yang sempat kami nikmati.

<photo id=”2″ />

Kebab, sepotong pizza, kentang goreng dan minuman soda seperti itu harganya 7 euro saja, atau sekitar 98 ribu rupiah. Terkesan mahal, tapi percayalah, di kota-kota lain di Eropa, harga segini termasuk murah. Makan untuk satu orang per porsi bisa mencapai 15-25 euro.

<photo id=”3″ />

Ini adalah hauptplatz (dibaca = hoplaz), semacam alun-alun kota Linz. Di sini berkumpul berbagai restoran maupun cafe. Kami berjalan kaki dari hotel ke sini (15 menit) atau kalau Anda malas jalan, Anda bisa naik trem dengan tiket seharga satu euro. Hauptplatz juga merupakan pusatnya anak-anak muda Linz kongkow dan menghabiskan waktu.

Saat di Linz saya juga sempat menemukan taman kecil yang cantik, pas satu blok setelah hotel. Musim semi belum mulai, tapi bunga-bunga sudah mulai merekah.

<photo id=”4″ />

<photo id=”5″ />

Ada juga sungai Danube, sungai cantik yang membelah kota Linz. Saking tenang dan indahnya jadi berasa pujangga yang nongkrong pinggir sungai untuk mencipta bait puisi halaaaah …

Kesimpulan saya: beruntungnya orang Austria diberikan Allah nikmat kota yang indah, yang bikin betah. Linz membuat saya meninggalkan sepotong hati di sana. Suatu hari saya ingin kembali. Insya Allah.

Back to Salzburg …

Kemarin saya menuliskan soal biara St Peter’s Abbey yang saya kunjungi di Salzburg. Nah, sebenarnya setelah dari biara menuju makan siang, ada satu tempat lagi yang kami kunjungi, cuma saya lupa karena fotonya cuman satu.

<photo id=”6″ />

Nah yang pake payung hijau itu saya (penting), trus sebelah kanan saya, yang pake hoodie itu Christoph. Nah, bangunan di sebelah kanan Christoph (pusing yaa) adalah  Stiftsbackerei St Peter, toko roti tertua di Salzburg. Toko ini sudah memproduksi roti sejak abad ke-12. Di depan pintu masuknya (ck, sayang ga ada fotonya) itu ada water wheel . kincir air gede. Kabarnya kincir air itulah yang menjadi sumber energi jaman dulunya di Salzburg,

Di toko ini Anda bisa membeli roti-roti hangat, fresh from the oven. Kami membeli roti kismis sehargaa satu euro, yang tampilannya biasa saja tapi rasanya mengguncang dunia, udah serasa ada di novel Madre-nya Dewi Lestari dah.

Jadi, emang harus saya akui, keminiman foto di toko roti tersebut karena beringasnya kami yang sudah lapar diajak keliling-keliling sama Liza. Lupa deh difoto-foto karena HP sama kamera smua masuk saku. Tangan sibuk nyuap, mulut sibuk ngunyah. Ondeh mandeh …

Nah, satu lagi hal menarik di Salzburg yang lupa saya ceritakan di tulisan sebelumnya adalah rumah terkecil di Austria.

<photo id=”7″ />

perhatikan rumah kecil di sebelah kiri terpal warna oranye itu. Itu adalah rumah terkecil di Austria, yang hanya memiliki dua ruangan, satu di lantai dasar dan satu di lantai atas (udah kecil, tapi dua lantai). Hebatnya, ini rumah terdaftar sebagai rumah resmi loh, dan masih ditempati hingga sekarang. Padahal bangunan kiri kanannya gede-gede dan tinggi-tinggi, dia nyempil sendiri. Kebayang saya kalo di Indonesia mungkinkah bisa seperti itu? Wong, rumah permanen aja bisa dibeli, digusur dan diganti apartemen kok? #ehh

Demikian kenangan saya akan dua kota ini; Linz dan Salzburg. Edisi berikutnya, saya mau cerita perjalanan seru ke negara yang penduduk laki-lakinya, mau bapak-bapak atau anak-anak, semuanya cakep, yaitu Italia.