Posted in 30 Hari Menulis 2019

Teruslah Menulis


#30HariMenulis2019_Hari_30

Hari ini, tunai sudah janji bakti dan komitmen yang terpatri di hati masing-masing peserta ajang “30 Hari Menulis”, untuk menggenapkan perjuangan selama empat pekan penuh.

Bukan perkara yang mudah, tentu. Menulis lengkap tanpa jeda, setiap hari dengan tenggat waktu begitu rapat. Saya sendiri, yang sudah ikut menggawangi kegiatan ini sejak tahun pertama saja, merasakan hal yang sama. Ini sudah tahun keenam, ngomong-ngomong.

Tahun ini, jumlah peserta cukup fantastis, mencapai 186 orang. Meskipun hingga hari terakhir, mereka yang bertahan hanya di sekitar angka 70-an, namun tetap saja berskala besar.

Ini seperti hajatan orang sekampung, selama tigapuluh hari penuh. Bedanya, yang dipestakan adalah jutaan aksara yang berkelindan, menyampaikan beragam makna. Para tetangga yang berpartisipasi, meramu dan menguar pelbagai kisah, disajikan di atas pinggan berhiaskan sebuah kata teramat syahdu: “literasi”.

Maka, saya selaku bagian dari kami, para panitia hajatan, kemudian sibuk mengatur banyak hal. Ibarat hidangan yang masing-masing disetorkan para tetangga, kami memilih dan memilah. Mengurai tiap-tiap sajian, mencecap dan mencicipi rasa yang ditawarkan, meski terkadang tak semua sempat dirasai.

Beberapa peserta dengan malu-malunya, masih sering tak percaya diri dengan tulisan mereka. “Aku masih pemula, Kak. Tulisanku jelek.” Dan saya selalu ingin menjawab, meskipun hanya dalam hati saja:

“Memangnya kalau tulisanmu jelek, kenapa? Bukankah untuk bisa dibilang bagus, kamu harus merasakan proses menjadi jelek, dulu?”

Sekarang kalian tahu, mengapa saya hanya mengucapkannya dalam hati, bukan?

Menulis adalah proses panjang, yang tak hanya melelahkan, namun juga terkadang menjemukan. Mencari ide, menulis, menyunting, memeriksa ejaan baku, menanyakan pendapat teman, merevisi, menulis lagi. Begitu terus berulang-ulang.

Saya kira takkan ada penulis hebat, yang tulisan pertamanya langsung mendapat apresiasi luar biasa, kalau perlu mendapat anugerah sastra. Semua penulis mengalami proses ini.

Proses panjang jatuh bangun, menulis, meramu, dan mencoba menemukan gaya khas. Proses tak berkesudahan dalam menerima kritik atau penolakan, atau bahkan pujian. Sebab cobaan bagi penulis, bukan hanya soal kritik, namun juga pujian. Banyak penulis yang saking seringnya dipuji, kemudian menjadi jumawa dan lupa berkembang. Melupakan proses, menjadikannya terhenti. Ia telah berproses menjadi “bagus”, namun tidak lagi berproses menjadi “selalu bagus” atau malah “bagus sekali”.

Sesungguhnya, perhelatan “30 Hari Menulis” hanyalah satu dari sekian banyak wadah yang bisa kamu huni. Sebab sejatinya, yang akan membuat tulisanmu kian hari kian mumpuni, adalah prosesmu sendiri, jalanmu sendiri.

Maka, saya selalu mengatakan berulang-ulang pada siapapun, “Jangan berkompetisi dengan orang lain, berkompetisilah dengan dirimu sendiri.” Sebab ada egomu yang harus kamu taklukan, apakah kamu menulis sekadar ingin dianggap pintar, atau karena kamu merasa, itulah jalan yang kamu pilih untuk bersuara pada dunia.

Saya akan merindukan kegiatan ini esok hari, seperti sebelum-sebelumnya. Karena di setiap kegiatan, meski diwarnai pelbagai keluh kesah dan drama dunia maya, ada banyak resapan kenangan dan nilai perjuangan di dalamnya.

Orang-orang yang seperti tak ada pekerjaan ini, setiap hari menulis, menyetor dan bergadang sampai jauh malam. Tak dibayar, pula. Jikalau memang ada hadiah yang dinantikan, rasanya tak sebanding dengan seluruh daya upaya yang sudah tercurah. Maka, sejujurnya saya percaya betul, bahwa para peserta tetap setia menulis, sebab mereka sudah cinta dengan dunia ini.

Memangnya kenapa kalau tulisan saya masih jelek? Besok saya akan ulangi kembali.

Memangnya kenapa kalau tulisan saya tidak difavoritkan panitia? Besok, saya akan coba kembali.

Memangnya kenapa kalau tulisan saya masih banyak kesalahannya? Besok, saya pastikan takkan terjadi lagi.

Begitu.

Kecuali, jika memang kamu tetap mengulangi pola dan kesalahan yang sama, maka rasanya yang harus ditunjuk batang hidungnya ya kamu sendiri. Silakan menghadap cermin. Akankah kamu berkubang di lubang yang sama, atau bangkit bangun kemudian berlari?

Kepada semua peserta “30 Hari Menulis 2019”, terima kasih untuk semua tulisan kalian setiap hari. Terima kasih sudah menghibur dan memberi banyak pelajaran. Semoga kalian semua berproses terus, untuk bisa menemukan jati diri dalam rimba literasi ini. Semoga tulisan kalian semakin hari semakin kaya, jernih dan berisi. Salah satu syaratnya sederhana saja: menulislah dari hati.

Saya bersyukur, masih bisa ikut serta dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Berhari-hari saya harus menyediakan tenaga dan waktu tambahan untuk mengawal dan mengawasi, bersama para admin yang lain. Semuanya seringkali terbayar lunas, saat menemukan satu atau dua tulisan yang menggugah, dan membuat semringah. Oh, dari duaratusan sekian juta penduduk negeri ini, tak semua terbuai dengan janji Pujabi, melainkan juga bergerak dalam literasi. Rasanya, harapan masih ada.

Setelah ini, teruslah menulis, jangan pernah berhenti. Lagipula, pertanyaannya adalah: mengapa harus berhenti? Bukankah masih banyak sekali yang ingin kalian kabarkan dan jabarkan? Bukankah masih ada jutaan diksi lagi, yang belum kalian sebar?

Seperti nama komunitas kita ini, menulis saja dulu. Pindahkan semua yang menari-nari di kepalamu ke sini. Masalah ejaan, diksi, dan lain-lain, semua akan terpetakan, asal kamu tak berhenti belajar. Tak usah jadikan komentar orang menjadi target perdana, targetmu adalah tulisanmu sendiri.

Sebab ada begitu banyak orang yang pandai berbicara, dan tak kekurangan orang-orang yang pintar menyimak. Sementara, jumlah orang-orang yang menulis, sedikit sekali.

Selamat, sudah melewati pelbagai tantangan selama tigapuluh hari ini. Banggalah pada dirimu sendiri, sebab setidaknya, sekarang kamu sudah melatih diri, untuk konsisten menulis setiap hari. Bersyukurlah pada entitas apapun yang kalian yakini, sebab semesta nyatanya memberikan dukungan penuh. Juga orang-orang dekat di sekitarmu, tanpa dukungan mereka, belum tentu kamu bisa.

Terima kasih juga kepada para admin, rekan-rekan seperjuangan, yang sudah mau berdiskusi hampir setiap hari. Teruslah menulis juga, jangan lupa. Sebab, selayaknya pisau yang membutuhkan batu asahan untuk membuatnya tetap tajam; penulis pun membutuhkan banyak latihan untuk membuat tulisannya menawan.

Teman-temanku yang baik, membacalah untuk menambal ketidaktahuan, dan menulislah untuk menggenapkan pengetahuan.

Salam literasi.

Irma Susanti Irsyadi -2019

 

*jumlah kata : 901

Posted in 30 Hari Menulis 2019

Sesederhana Itu


#30HariMenulis2019_Hari_29

Tema : The Missing Things

 

Merujuk pada tema keminggris pada tulisan ini, penggunaan “the” merujuk kepada sesuatu yang sudah spesifik, sesuatu yang sudah pasti. Orang-orang yang mempelajari grammar bahasa Inggris mengenalnya dengan istilah “definite article”.

Tenaaaang … saya takkan kasih kuliah bahasa di sini.

Hal-hal yang sudah hilang. Tema yang sangat uwow sekali, sebab perasaan saya seketika teraduk-aduk seperti adonan bala-bala sebelum dicemplungin ke minyak panas.

Sesungguhnya bala-bala haneut adalah bukti bahwa bahagia tidak perlu makan di rumah makan padang Sederhana.

Di usia sekarang, ada begitu banyak hal yang sudah hilang dari hidup saya, dan tak mungkin kembali. Masa remaja, kebebasan sebagai seorang single bermartabat, waktu me-time yang makin lama makin berkurang, kesempatan-kesempatan yang dulu sempat datang namun dengan bodohnya tersiakan. Andaikan saya tuliskan semuanya, niscaya tebalnya mungkin melebihi putusan MK atas gugatan pilpres tempo hari.

Aslinya, saya harus merenung sejenak, untuk benar-benar memutuskan hal apa yang paling saya rindukan. Sesuatu yang sudah hilang dan kecil kemungkinannya kembali.

Perenungan saya sampai pada ini:

Tahukah kalian, di zaman saya kecil (puluhan ribu purnama yang lalu), tak pernah ada masalah gesekan sosial atas nama ras, agama, dan kepercayaan? Bahwa saya usia SD-SMP, bahkan sampai SMA pun, bergaul dengan nyaman tanpa ada pelabelan apapun.

Saya mengaji ke masjid, teman-teman saya ada yang ke gereja, kelenteng, vihara atau membakar dupa setiap hari tertentu di rumahnya. Kami bermain bersama, makan bersama, tanpa perlu saling singgung tentang warna kulit atau agama.

Seorang teman di SMP beragama Katolik, pernah menyuruh saya mengulang-ulang bacaan Alfatihah, sampai ia sendiri hampir hafal. Alasannya? “Aku suka dengernya, kayaknya indah, meski ga ngerti artinya.”

Suatu hari si teman ini, tanpa disangka, melafalkan syahadat dengan lengkap di dalam kelas, dan kami semua tertawa. Teman-teman yang muslim kagum karena ia begitu mudah meniru, kawan-kawan yang bukan muslim kagum dan tercengang, sebab bunyi bahasa arab adalah sesuatu yang berbeda, eksotis di telinga.

Sesederhana itu.

Tak sampai terjadi postingan viral soal penistaan ayat Quran, atau teman saya dituduh melecehkan agama. Pun ketika kami sering sekali saling bercanda dengan bebasnya, yang untuk ukuran zaman sekarang, bisa membuat netijen negara berkode +62 meledak dalam kejulidan maksimal.

Di atas segalanya, yang paling saya rindukan adalah Indonesia yang saya dan kalian miliki sebelum negara api berjuluk “politik praktis” menyerang.

Sekarang ini, saya rasa masyarakat kita belum sepenuhnya pulih dari gontok-gontokan politik praktis yang belum juga habis. Anehnya, banyak yang kelihatannya memang sengaja tidak mau move on, melainkan tetap intens berkubang di sana. Maka, selain tim buzzer yang jelas-jelas dibayar untuk mengacaukan suasana, para pendukung capres garis keras-anti kritik adalah golongan yang saya hindari.

Padahal sebagian besar masalah yang melanda politik dunia, sebab utamanya adalah bisnis dan kepentingan. Sesederhana itu. Sementara kaum grass root yang kocar-kacir di piramida terbawah, memperebutkan pepesan kosong atas nama agama, kepercayaan, ras, kesenjangan sosial, dll; para taipan di langit ketujuh dunia mungkin sedang ngopi-ngopi syantique sambil bagi-bagi jatah.

Ah, tapi mau sampai berbusa pun saya sering mengatakan hal ini kepada banyak orang, buktinya tetap mental juga. Lebih banyak orang yang senangnya memang memerangkap diri dalam kebencian yang tak beralasan dan caci maki berkepanjangan. Kalau sudah begitu, saya pikir, merekalah sebetulnya pihak yang bermasalah. Mau politik ada atau tidak, medsos ada atau tidak.

“Kamu kangen zaman kita dulu ga, sih?” seorang teman saya bertanya.

Banget.” Jawab saya.

Kemudian kami berdua sama-sama menarik napas.

Sebab hidup sebetulnya sederhana saja, hanya memang ego dan kepentingan yang membuat segalanya rumit.

 

Word count : 556

Posted in 30 Hari Menulis 2019

Small Things We often take for granted


#30HariMenulis2019_Hari_28

 

Sejak semalam saya resah dan gelisah. Bolak-balik dari satu ruangan ke ruangan lain, demi mencari sebuah benda kecil yang keberadaannya sering dianggap tak penting. Barusan, anak nomor tiga menyodorkannya, dan langsung saya sambut dengan gembira. Benda yang saya cari adalah karet gelang. Benda yang sering kalian temui untuk mengikat bungkus nasi. Buat apa? Buat mengikat rambut.

Silakan, kalian boleh tertawa, kok.

Saya juga kadang heran mengapa saya suka pakai karet gelang untuk mengikat rambut. Yah, masalahnya setiap kali membeli ikat rambut, ujung-ujungnya hilang juga. Karet gelang adalah solusi praktis, meski mungkin tidak higienis bagi sebagian orang. Tapi hey, siapa peduli? Jika saya merasa lega ketika rambut sudah terikat dan merasa tidak kegerahan lagi.

Setelah lega karena rambut sudah lebih rapi, saya lagi-lagi tersentak dengan sebuah premis sederhana yang sering luput dari perhatian. Ada begitu banyak hal-hal kecil yang sejatinya membuat hidup saya lebih mudah dan bahagia, namun saya tak begitu memerhatikannya. Merasa tetek-bengek itu sebagai hal-hal yang memang wajar saya dapatkan. I have taken for granted of many things, for so many years.

Ketika pulang ke rumah, dan kamar saya sudah tersapu bersih dan rapi (terkadang saya punya kelas pagi, sehingga tak sempat beres-beres). Aroma dan rasa kopi atau teh yang baru diseduh dan dinikmati sambil membaca atau menonton atau mengetik. Atau hanya sekadar lagu baru yang sedang enak sekali didengar di playlist.

Beberapa minggu lalu, saat mengantar anak sulung ujian UTBK (istilah baru untuk ujian masuk perguruan tinggi negeri berbasis komputer), saya bertemu dengan seorang Bapak yang sama-sama sedang menunggui anaknya ujian. Namanya Pak Wasto, atau Narto, saya lupa, pokoknya orang Jawa. Anaknya lelaki, ingin berkuliah di jurusan Bahasa Inggris atau informatika. Oh Pak Wasto ini pekerjaannya satpam di sebuah pabrik di Padalarang. Saat saya ceritakan sistem uang SPP di perguruan tinggi negeri yang sekarang memakai sistem UKT (uang kuliah tunggal), matanya membelalak tak percaya.

“Iya toh, Bu?”

“Iya, Pak. Jadi UKT itu nanti ada beberapa grade. Nanti PT nya akan menghitung berdasarkan pekerjaan Bapak, dengan tanggungan Bapak di rumah, baru ditentukan besaran SPPnya.”

*Kakak saya yang bekerja di salah satu PTN di Bandung, sering sekali bercerita soal ini, jadi saya cukup tahu banyak*

“Jadi … SPP anak-anak bisa berbeda?”

“Iya Pak, karena subsidi silang nanti, yang mampu sama yang tidak mampu.”

Matanya berkaca-kaca. Saya paham, tentu ia berharap SPP anaknya sendiri nanti jika diterima takkan tinggi. Anak lelakinya ini, merupakan anaknya satu-satunya. Harapannya untuk membuat perubahan di keluarga, setidaknya memperbaiki kondisi finansial mereka kelak.

Saya belum bertemu dengan Pak Wasto lagi, namun obrolan sore itu cukup berbekas. Saya berharap anaknya Pak Wasto lulus ujian, sehingga binar di matanya waktu mengobrol dengan saya akan tetap ada di sana.

Bukankah ini perasaan menyenangkan?

Entah, mungkin saya sudah dalam fase lebih sering diam memerhatikan, ketimbang ricuh dan rusuh. Maybe I am just feeling old, and decide to act due to my age. Or it’s just another phase toward wisdom, I don’t know.

 

Suatu kali, saya pernah tercenung lama di pinggir jalan ketika menyadari bahwa senja itu indah sekali. Sebelum menjalani hidup santai seperti sekarang, selama bertahun-tahun saya mengajar di sebuah sekolah bahasa, yang kelas-kelasnya banyak diselenggarakan sore ke malam hari. Saya hampir tak pernah melihat senja saat matahari terbenam, dan langit mengoranye dengan syahdu. Senja adalah cara paling sederhana ketika Tuhan menyapa kita dengan sesuatu bernama keindahan.

Sejujurnya, kehidupan kita dipenuhi oleh banyak sekali hal-hal kecil yang seharusnya menjadi keberkahan, sesuatu yang patut dan wajar kita syukuri.

Alhamdulillah.

 

Word count : 571

 

 

 

Posted in 30 Hari Menulis 2019, Fiksi

Profiler


#30HariMenulis2019_Hari_27

Tema : Superhero

 

Susah payah kusamakan derap langkahku, dengan dua orang detektif polisi yang membawaku ke sini. Keduanya melangkah dua kali lebih panjang dibanding aku. Tentu saja, kedua kaki mereka lebih panjang, dengan ukuran tubuh yang juga lebih besar dariku.

Di depan pintu, Thomas Napitupulu mengulurkan sehelai topeng anak-anak bergambar Spiderman kepadaku. Aku menerimanya, kemudian memakainya.

Pintu terbuka.

Sebuah meja berwarna gelap diletakkan di tengah ruangan. Di satu sisi dinding, terpajang sebuah cermin yang sangat besar, sementara ketiga dinding lain dibiarkan kosong. Benda lain yang menemani meja tadi hanyalah dua buah kursi yang diletakkan saling berseberangan. Seseorang telah duduk di salah satu kursi. Aku mengambil kursi yang satunya lagi. Kedua polisi yang masuk bersamaku berdiri di dekat pintu. Aku mengeluarkan sketchbook yang selalu kubawa ke mana-mana, lengkap dengan sebatang spidol.

Orang yang duduk di seberangku, mengangkat wajah. Pandangan mata kami bertemu. Ia seorang lelaki, berusia sekitar 40 akhir atau awal 50. Kemeja yang ia kenakan tampak kusut, begitu juga rambutnya yang lepek dan berminyak. Kedua tangan yang ia tangkupkan di atas meja sedikit gemetaran. Kulit di sekitar ujung telunjuk dan ibu jarinya berwarna kekuningan. Saat ia mengangkat wajah, ada lingkaran gelap di bawah kedua mata. Meskipun begitu, sikap duduknya tegap, dengan bahu terangkat.

Aku menulis di atas sketchbook.

40 AKHIR, 50 AWAL.

BEKERJA DI LUAR RUANGAN, PEROKOK. KEMUNGKINAN PENSIUNAN MILITER.

SATPAM?

Ade Hidayat, rekan kerja Thomas, melirik catatanku. Ia mengangguk.

“Betul … Bapak Dadang ini satpam di pabrik XYZ. Dini hari tadi, ia dipergoki rekan sesama kerjanya, sedang membungkuk di atas tubuh Mr. Kim Park, bosnya yang berkebangsaan Korea. Mr. Kim tewas dengan banyak luka akibat senjata tajam.”

“Saya … saya cuma mau periksa nadinya Mr. Kim … waktu saya ke ruangannya, dia sudah tergeletak di sana.” Wajah Pak Dadang memucat, tatapannya berpindah-pindah dari kedua petugas polisi, kemudian melirikku takut-takut. Mungkin ia bingung dengan kehadiranku di sini, seseorang yang mengenakan topeng anak-anak dan tak bicara sedikitpun.

Aku menulis lagi di atas sketchbook.

SENJATA PEMBUNUHNYA SUDAH KETEMU?

Thomas Napitulu menggeleng.

JAM BERAPA KORBAN MATI? SUDAH ADA LAPORAN AUTOPSI?

JAM BERAPA PAK DADANG MENEMUKAN KORBAN?

Thomas membolak-balik catatan di tangannya.

“Saksi melihat Pak Dadang membungkuk sekitar pukul 23.45. Autopsi menyatakan perkiraan korban meninggal sekitar pukul 23.00-23.30. Menunjuk ke waktu, pas sekali dengan ….”

“Saya tidak membunuhnya, Pak! Demi Allah!” Wajah Pak Dadang meringis. Sedetik lagi kemungkinan tangisnya akan pecah.

DI MANA DIA BERTUGAS?

“Pos satpam di gerbang … sekitar 200 meter dari kantor korban.” Ade Hidayat menjawab.

PERNAHKAH DIA MENINGGALKAN POS?

“Saya berjaga sepanjang malam di pos, betul Paak …”

DIA BOHONG.

Thomas Napitulu tersenyum. “Sudah kuduga …” tatapannya terpancang ke Pak Dadang.

DIA BIKIN INDOMIE GORENG SEKITAR PUKUL 23.00

MANGKOK DAN SENDOK SUDAH DICUCI BERSIH.

SETELAH ITU DIA NONTON TIVI DI RUANG KARYAWAN.

DIA MENINGGALKAN POS SELAMA SEKITAR 40 MENIT SAMPAI DIA DENGAR JERITAN BOSNYA.

Wajah Pak Dadang pucat pasi.

“Ke … kenapa Bapak bisa tahu?” katanya, setelah Thomas Napitupulu mengulangi semua tulisanku di atas sketchbook.

“Kenapa Bapak berbohong?” Ade Hidayat memicingkan kedua matanya.

“Sa … saya takut dianggap teledor … saya memang salah … meninggalkan pos saat sedang bertugas … tapi … tapi … saya tidak membunuh Mr. Kim.”

Ade Hidayat menoleh padaku.

“Jadi, siapa pembunuhnya?”

Aku menulis serangkaian kalimat terakhir di atas sketchbook.

PEREMPUAN, MEMAKAI JINS DAN SEPATU BERSOL KARET.

RAMBUT PANJANG, TUBUH KURUS. DATANG KE LOKASI BERJALAN KAKI.

CEK ORANG TERDEKAT KORBAN.

Setelahnya, kutinggalkan ruangan itu, setelah sebelumnya, menyerahkan topeng Spiderman kembali ke tangan Thomas Napitupulu.

***

Namaku Fayruz, 21 tahun.

Aktivitas sehari-hariku adalah mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di kotaku.

Aktivitas sampinganku adalah membantu para polisi di kota ini sebagai salah seorang profiler. Profiler adalah tenaga yang diperbantukan di kepolisian untuk menangkap pelaku kejahatan. Ada banyak jenis profiler, dari mulai kriminolog, cenayang sampai psikolog. Aku? Aku tak tahu istilah tepat untuk orang sepertiku.

Saat melihat seseorang, aku bisa tahu apa pekerjaannya, dan apa yang baru saja ia kerjakan. Pengamatanku yang jernih dengan semua hal yang melekat pada tubuh orang tersebut akan aku gabungkan dengan apa yang kulihat ketika aku melihat kedua matanya.

Thomas Napitupulu sering menyebutku “mesin rekontruksi” karena aku seperti bisa merekonstruksi ulang kejadian kriminal tanpa harus ada di tempat. Hanya lewat apa yang aku lihat melalui mata saksi atau tersangka.

Karena pekerjaan ini berbahaya, kepolisian selalu melindungi identitasku, dengan cara memberiku topeng sebagai penyamaran. Plus, aku tak boleh mengeluarkan suara sedikitpun. Jadilah aku berkomunikasi lewat tulisan.

“Fay!” seseorang menepuk bahuku. Aku terlonjak.

Rani sahabatku, menatapku. Aku cepat-cepat menunduk. Beginilah interaksiku sehari-hari. Sering terpaksa menundukkan pandangan, menghindari kontak mata. Semata karena aku tak ingin menyaksikan apa yang teman-temanku baru saja lakukan, entah di hari kemarin, atau minggu sebelumnya. Atau kapan pun itu di masa lalu mereka.

“Aku manggil-manggil dari tadiii … semangat banget mau ke kelas hihihihi.”

Aku ikut tertawa.

Ini hari pertama masuk kuliah, setelah libur Lebaran. Semangat kuliah agaknya tak hanya menghinggapiku seorang, sebab kulihat banyak wajah semringah lainnya. Bertemu dengan teman-teman kembali, itulah tepatnya yang membuat senang, bukan karena tak sabar ingin segera mengerjakan tugas.

“Haaaai …” Seorang gadis berpakaian serba ketat menghampiri kami. Wajahnya terpulas make up. Ia cantik.

Tak sengaja, kami bersitatap sekian detik.

“Apa kabar kaliaaaaaan …” Martha, si gadis cantik menyunggingkan senyum manisnya. Aku menunduk sambil berusaha mengusir bayangan yang baru saja aku lihat. Bayangan Martha sedang bergulingan di atas tempat tidur bersama seorang lelaki. Tanpa sadar aku memukul-mukul keningku.

“Fay! Fay!”

“Eh?”
“Yaaaah dia ga dengeer …” Rani memonyongkan mulutnya.

“Apa?”

“Hari ini kuliah pertama kita digabung sama kelas B!”

Hatiku mencelos.

***

Ruangan besar ini langsung berdengung dengan pelbagai percakapan saat dosen kami menyudahi kuliah perdana. Aku menyampirkan tas di bahu kemudian melangkah perlahan. Dua kelas digabung membuat kelas ini gaduh sekali. Rani dan Martha melangkah di depanku sambil mengobrol.

Bugh! Bahuku tersenggol orang. Ponsel yang sedang kupegang, hampir saja jatuh.

Aku menoleh. Seorang mahasiswa yang tak kukenal, mengangguk, “Maaf, ga sengaja.” Tadi malam, ia menelungkup menangis di atas tempat tidurnya, perutnya kosong, ia merindukan Ibu dan adik-adiknya di kampung.

Aku mengangguk balik.

Mahasiswa itu menggamit temannya, yang memakai topi hitam. Si topi hitam menatapku sekian detik. Lelaki itu mengendap-endap di kamar yang sepi. Ia menyalakan laptop yang terletak di atas meja, kemudian mencolokkan USB yang ia bawa. Sambil menunggu data selesai dipindahkan, ia membuka-buka laci meja tersebut. Ini dua hari yang lalu.

Aku menghela napas, kemudian melanjutkan langkah sambil menunduk.

Di luar ruangan kelas, aku celingukan mencari Rani dan Martha. Tak kelihatan satu pun dari mereka.

“Ehem .. Fay?”

Tanpa menoleh pun, aku sudah tahu siapa yang barusan menyapa. Jantungku seperti mau copot dari tempatnya.

Tak urung, kubalikkan tubuh.

Seorang lelaki tinggi, dengan senyum lebar memandangiku. Aku tersenyum, masih berusaha menghindari tatap matanya.

Dito, mahasiswa dari kelas B. Seseorang yang sudah lama kuperhatikan tanpa pernah berani kudekati. Seseorang yang sering membuat hatiku mencelos, lewat sapaan dan senyumannya.

“Fay, mohon maaf lahir batin ya …” Ia menyodorkan tangannya. Aku menerimanya dengan ragu-ragu.

“Iya, sama-sama …”

Kenyataan bahwa Dito mengenalku, masih menjadi misteri dalam kehidupanku yang anti sosial ini. Saat pertamakali Dito menyapa tahun lalu, di salah satu event jurusan, aku begitu kaget. Ternyata salah seorang teman Dito pernah berpacaran dengan Martha, dari sanalah ia kemudian tahu namaku.

“Err … Fay?”

“Ya?” Dito tak bersuara. Aku mencuri pandang ke arahnya. Ia sedang menunduk menatap sepatunya, seperti orang kebingungan.

Ia kemudian menggaruk kepalanya. Aku semakin merasa resah. Rani dan Martha ke mana, sih?

“Ma … masih ada kuliah abis ini?”

Ga … cuman satu ini …”

“Ooh … itu … temenku baru buka café di …” Dito mengangkat wajahnya, membuatku terlonjak. Aku cepat-cepat menunduk.

“Café … di situ … deket … di Dipatiukur …?”

Sesuatu menubrukku dari belakang hingga aku oleng. Sebelum aku jatuh, sebelah tangan Dito menahan pinggangku, sementara sebelahnya lagi mencengkeram lengan kiriku. “Hey! Lo pikir ini arena skateboard!” wajah Dito memerah kesal. Aku gelagapan, berusaha menyeimbangkan tubuhku. Dito melepaskan tangannya dari pinggangku dengan canggung.

“Eh, Dito … ini …” aku menunjuk sebelah tangannya yang masih ada di lenganku.

“Eh, iya …” Ia menarik tangannya. Tanpa sempat kuhindari, kami bersitatap.

Ia duduk menulis sesuatu di atas buku di kamar kosan yang sempit itu. Sesekali ia tersenyum, sambil mencoret-coreti buku itu. Setiap coretan menggoreskan tiga huruf yang sama. FAY… FAY… FAY …

Kemudian ia menuliskan sebuah kalimat, “Fay, aku suka kamu.” Kemudian ia mencoret kalimat itu, lagi-lagi sambil tersenyum.

“Dito?”

“Ya?”

“Café apa tadi, namanya?”

 

Word count : 1383

 

 

Posted in 30 Hari Menulis 2019, Fiksi

My Imagination


#30HariMenulis2019_Hari_26

Oh, there she goes again

Every morning it’s the same

Tanpa perlu mengangkat kepala, aku tahu dia pasti sedang berjalan melewati depan rumahku. Mengayun langkahnya dengan riang, seirama ayunan tas di pundaknya. Tas berukuran sedang, berwarna cokelat muda, berbahan kulit imitasi, dengan hiasan gesper di depannya. Sepatunya jenis high heel dengan hak tak terlalu tinggi, mungkin hanya lima senti.

Pakaiannya selalu setelan kantoran. Seringnya blazer berwarna pastel dengan bawahan celana panjang, terkadang bawahannya rok selutut. Make up wajahnya terpulas rapi.

Sedemikian hafalnya aku dengan dia.

Oh, bagaimana dengan rambutnya hari ini? Digerai atau diikat ke belakang dengan menyisakan beberapa helai terlepas dari ikatannya?

Aku mengangkat kepala. Tatapan kami langsung bertemu. Rambutnya diikat dengan poni rapi. Kali ini tak ada helai rambut yang terlihat.

“Selamat pagi!” senyumnya yang selalu kusetel berulang-ulang di dalam kepala sebelum tidur, masih sama. Manis, seperti cake yang kunikmati bersama kopi tempo hari. Saat aku baru selesai membuat action figure pesanan klien.

Aku mengangguk, seperti biasanya. Tanganku masih memegang selang air, yang barusan kugunakan untuk mencuci motorku. Hingga ia menghilang di ujung gang, baru aku sadari, celana pendekku sudah basah kuyup, karena selang airnya malah mengarah ke sana.

***

Oh, there she goes again

Every morning it’s the same

You walk on by my house, I wanna call out your name

Tidak pernah bisa.

Takkan pernah bisa aku memanggilnya, setiap kali ia berjalan di depan rumahku. Pergi atau sepulang bekerja. Saat aku sedang termangu di teras depan, sambil membuat ilustrasi terbaru, ditemani secangkir kopi, atau saat aku menyiram tanaman.

Bagaimana mungkin aku akan memanggilnya, sedangkan namanya saja aku tak tahu.

Aku hanya tahu ia kerja kantoran, sebab terlihat dari dandanannya. Mungkin sekretaris. Aku tersenyum. Hanya karena dia cantik, dan terlihat ramah, aku langsung menyimpulkan ia seorang sekretaris. Padahal sekretaris kantor HOT-ARTS tempat aku datang sesekali untuk meeting dengan pemesan karyaku, adalah seorang lelaki tinggi besar dan berkumis. Tak ada cantik-cantiknya.

Aku kembali ke kertas ilustrasi yang sedang kukerjakan. Rambut Scarletwitch[1] yang sedang melayang di udara, kuberi arsiran halus. Biasanya pesanan yang datang selalu minta pose Scarletwitch yang biasa. Kedua tangan terentang, diberi efek bola merah, menandakan kekuatan telekinesis yang ia miliki. Kali ini, kugambar ia dalam posisi melayang, ekspresi wajahnya sedikit marah, rambutnya yang merah tergerai mengembang.

Kugerak-gerakkan pensilku di atas kertas.

“Soreee …”

Sreeeet … sebuah garis mencoreng wajah Scarletwitch, membaginya menjadi dua sisi.

Aku mengangkat kepala.

Ia tersenyum jelita dari balik pagar rumahku, melambai dengan penuh suka cita.

Aku menelan ludah.

Sebelum aku bisa pulih dari kekagetan ini, ia sudah berjalan menjauh, dengan ayunan langkahnya yang selalu ceria.

Ah

***

Oh, there she goes again

Every morning it’s the same

You walk on by my house, I wanna call out your name

I wanna tell you how beautiful you are from where I’m standing

You got me thinking what we could because

I keep craving, craving, you don’t know it but it’s true

Can’t get my mouth to say the words they wanna say to you

Aku baru saja memasukkan motor ke paviliun kecil samping rumahku, saat kulihat beberapa orang bergerombol di dekat rumahku. Ada Pak RT, dan beberapa Bapak-bapak lainnya, yang kukenal sebagai warga di sini.

Setelah menutup dan mengunci pintu paviliun, aku kembali ke depan. Orang-orang itu berjalan melewati rumahku. Aku berjalan menghampiri pagar. Tak enak juga bila tak menyapa.

“Mas Hamam …” Seorang Bapak mengangguk, Pak Faisal yang tinggal dua rumah dari rumahku. Aku balas mengangguk.

“Tumben Mas, malem banget pulangnya …” Pak RT tersenyum. Aku hanya nyengir.

“Sudah kita bubar aja Bapak-bapak …” Pak RT berpaling ke arah bapak-bapak yang lain. Saat melihat aku masih mematung di sana, ia menambahkan, “Barusan ada keributan sedikit, Mas Hamam. Pasangan yang di ujung gang itu, istrinya dipukuli suaminya … memang sering ribut mereka itu …”

“Sekarang yang terparah …” Pak Asep, yang membuka warung di mulut gang, menggelengkan kepalanya.

“Iya … padahal kan warga baru … sudah kasar begitu, istrinya ngilang baru deh menyesal …” Pak Faisal menimpali.

Hilang?

“Mas Hamam barangkali kenal? Itu loh, mbak cantik yang suka lewat sini setiap pagi. Mbak Indah, namanya.”

Jantungku seperti jatuh merosot hingga ke lutut.

“Ayo, Mas Hamam … pamit dulu.” Bapak-bapak melambaikan tangan mereka, meninggalkanku yang masih termangu di depan pagar.

Setelah mengunci pagar, aku masuk ke dalam rumah, masih dengan perasaan resah.

Indah.

Jadi, itulah namanya. Seindah orangnya, seindah bayangannya di kepalaku, setiap aku mau tidur.

“Maaf …”

Langkahku terjajar ke belakang. Di ruang tamuku, kini berdiri perempuan itu. Indah. Ia berdiri di hadapanku. Dengan rambut acak-acakan, dan wajah yang …

“Maafkah saya Mas … saya masuk lewat jendela kamar yang kebuka …” tangannya menunjuk ke arah kamarku. Ah rupanya, aku meninggalkan jendela dalam keadaan terbuka lagi, tadi siang sebelum berangkat ke HOT-ARTS.

Aku masih tak bergerak. Otakku sibuk mencerna apa yang baru saja kulihat, dan apa yang harus kulakukan.

“Saya … saya … entah kenapa terpikir ke sini … mungkin karena Mas selalu baik dan tersenyum sama saya … padahal Mas juga ga kenal saya …” Ia menangkupkan sebelah tangan menutupi mulutnya, meredam isak tangis yang kemudian berwujud menjadi suara lirih yang membuat hatiku ikut merasa pedih.

Tanpa berpikir panjang, aku melangkah menghampirinya. Kuraih sebelah tangannya, dan mendorongnya duduk di atas sofa. Aku mencari-cari kotak obat di lemari dapurku. Rasanya masih ada, dan masih utuh.

Aku membersihkan luka-luka di sekitar wajahnya. Seperti goresan bekas benda tajam. Kecil-kecil saja sebetulnya, namun cukup banyak. Ia mengerenyit setiap kali lukanya tersentuh. Aku berhenti setiap kali ia begitu. Prosesnya menjadi sangat lama. Membuatku ikut tersiksa, bukan saja melihat begitu banyak luka di wajahnya, namun juga berada sedekat ini dengannya. Embusan napasnya saja terasa menyentuh kulit wajahku.

Sebelah wajahnya lebam, menyisakan bekas membiru. Aku merendam handuk kecil dalam air hangat, dan menyodorkannya. Ia menerima kompresan itu dan menempelkannya di sana. Ia langsung mengaduh. Refleks aku membelai rambutnya, agar ia tahu bahwa aku juga ikut merasakan sakit, melihatnya sakit.

“Ma … makasih, Mas.” Sudut bibirnya juga pecah. Ya Tuhan, sungguh brengsek lelaki yang sudah melakukan ini padanya.

Aku membereskan kotak obat di atas meja. Setelah ini, aku akan menyeduh air panas untuknya. Mungkin membuat kopi atau teh.

Pergelangan tanganku ia cengkeram. Aku menoleh.

“Mas, kenapa tak pernah mau bicara denganku?”

Aku menelan ludah.

“Setiap pagi dan sore aku menyapa, sering berharap bisa mengobrol denganmu … tapi Masnya selalu diam …”

Aku melepaskan tangannya yang mencengkeram tanganku, perlahan.

“Mas kelihatannya baik, sabar … tidak seperti …” airmata mengembang kembali di pelupuk matanya.

Aku menggeleng-gelengkan kepala. This isn’t right … It doesn’t feel right.

“Mas, namanya siapa?”

Aku menggigit bibirku. Ia menatapku lekat. “Namaku Indah. Nama Masnya, siapa?”

Ada gumpalan yang mendesak di tenggorokanku, membuatku sulit bernapas. Kedua mataku memanas.

“Mas?”

Aku merogoh notes kecil yang selalu kubawa kemana-mana dari saku belakang celana panjangku. Juga sebatang pena, yang kuambil dari saku kemeja.

Aku menuliskan beberapa kalimat di sana, kemudian kutunjukkan kepadanya.

NAMAKU HAMAM.

AKU BISU.

***

In my dreams, you’re with me …

We’ll be everything I want us to be

And from there, who knows, maybe this will be the night that we kiss for the first time.

Or is that just me and my imagination

Word count : 1194

video klip Shawn Mendes – Imagination di sini

[1] Salah satu tokoh superhero Marvel

Posted in 30 Hari Menulis 2019, about me

Berbeda


#30HariMenulis2019_Hari_25

Tema : Not Me

Sambil tersenyum, saya menganggukkan kepala kepada mereka.

“Eh, Mamanya … siapa ya?” salah satu diantara mereka memandangiku.

Setelah saya sebutkan nama anak, barulah mereka ber-oooh ria. Setelahnya, saya akan duduk di kerumunan mereka, sesekali ikut menimpali obrolan dengan jawaban seadanya. Banyak senyum dan anggukan. Beres.

Saya ibu beranak empat, yang sering gagap berinteraksi dengan sesama ibu-ibu. Terutama di beberapa kegiatan seperti rapat POM atau arisan. Sewaktu anak pertama dan kedua di SMP, dua tahun berturut-turut saya aktif di POM, tapi semuanya berlangsung biasa saja. Saya tidak sering ikut mereka botram atau arisan. Setelah menunaikan tanggungjawab, saya menjauh. Seperti itu.

Apakah saya anti sosial? Rasanya tidak. Setiap minggu selalu ada kegiatan bertemu banyak orang untuk membicarakan banyak hal, atau sekadar kongkow dengan orang yang dikenal.

Apakah saya sombong? Mungkin orang akan menganggap begitu. Tapi saya memutuskan untuk tidak peduli. Sebab buat saya, lebih susah mencari obrolan yang pas dengan ibu-ibu, ketimbang mengkhawatirkan soal imej saya di mata masyarakat.

Saya sungguhan sering mati gaya di antara para emak-emak.

Padahal, salah satu pekerjaan saya adalah mengajar. Mengajar bahasa, lagi. Terkadang diminta menjadi MC atau menyampaikan presentasi di hadapan banyak orang. Saya aslinya cerewet dan banyak mendongeng. Rata-rata murid saya selalu mengingat saya sebagai “tukang dongeng” ketimbang guru bahasa mereka.

Usut punya usut, ternyata ada dua hal yang membuat saya sering terserang gagap budaya jika bercengkerama dengan para ibu-ibu.

Pertama, saya tidak nonton TV. Emak-emak kebanyakan menonton TV, terutama sinetron. Saya menonton film, dan TV di rumah saya hanya dinyalakan kalau memang ada acara talkshow yang kami tunggu. Selebihnya, monitornya hanya dipakai main game atau malah difungsikan sebagai PC.

Kedua, mereka suka sekali membanggakan atau malah merendahkan anak-anak. Anak-anak mereka sendiri, tentu saja. Saya tidak melakukan dua hal ini.

Sesekali, saya kadang mengunggah kisah soal anak-anak saya di media sosial, itupun jika mereka izinkan. Selebihnya, saya menutup mulut. Tangan ini gatal ingin bercerita banyak tentang mereka, namun saya takut bahwa nanti saya akan tergelincir pada kesombongan atau malah membuat anak-anak saya merasa terhina. Padahal prestasi mereka bukan milik saya, dan kekurangan mereka tak seharusnya saya buka di hadapan publik.

Saya tidak mengatakan bahwa semua ibu-ibu melakukan ini, tentu tidak. Namun secara alamiah, dari pengalaman saya bertahun-tahun, itulah yang sering terjadi. Ketika beberapa ibu berkumpul, hanya butuh satu orang yang berperan sebagai pemicu, sisanya akan mengikuti.

Entah menceritakan anaknya sudah bisa begini atau begitu, sampai mengomeli anaknya, tanpa kehadiran anaknya di sana.

Saya tak mungkin, kan, tiba-tiba membuka pembicaraan soal rating film anu di rotten tomatoes, atau buku bestseller bulan ini. Atau mengapa Brexit sebetulnya lebih banyak merugikan orang Inggris sendiri, ketimbang menguntungkan.

Saya sedang tidak menyombong. Saya sedang  membicarakan betapa berbedanya bahan pembicaraan mereka dengan saya.

Begitulah.

2019 ini tahun pertama saya melepaskan banyak aktivitas yang dulu aktif saya lakukan. Saya masih mengajar, namun tidak full seperti dulu. Sisanya, saya di rumah, menulis atau sesekali janjian dengan orang-orang untuk membicarakan pekerjaan. Dibanding dulu, ketika saya keluar rumah 5-6 hari dalam satu pekan, sekarang saya lebih santai. Putaran waktu beraktivitas saya bergerak lebih lambat.

Ga bosen di rumah?” tanya seorang teman.

Dulu, mungkin saya akan menjawab “iya”. Sekarang, malah tidak. Sebab saya jadi punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang dulu sulit saya penuhi. Misalnya, jam tidur lebih lama. Hahahaha.

Saya pikir, saya akan lebih bisa blending dengan emak-emak, setelah sekarang saya lebih banyak di rumah. Ternyata, tidak juga. Sebab banyak waktu di rumah, tidak membuat kepribadian saya berubah drastis.

Saya masih tidak nonton TV, tidak suka nongkrong di mamang sayur (saya lebih suka belanja ke pasar, untuk stok beberapa hari), dan tidak ikut arisan atau pengajian di rumah.

Tidak berarti saya tidak kenal tetangga, tentu kenal. Hanya mungkin sama seperti saya, mereka lama-lama menerima fakta bahwa saya memang lebih suka berdiam di dalam rumah, ketika memang sedang ada di rumah.

Saya menuliskan ini juga tanpa bermaksud merendahkan ibu-ibu yang lain, sambil menaikkan mutu diri saya pribadi.

Saya hanya emak-emak yang berada di dimensi berbeda.

Seorang pecinta kata-kata, yang sering memandang dunia dengan cara yang berbeda.

Biar apa?

Biar ga bosen, Bambaaaaaang !

Word count : 676

 

Posted in 30 Hari Menulis 2019, Fiksi

Pemberantas


#30HariMenulis2019_Hari_24

Tema : Menjadi penemu

Tantangan : menulis dengan bahasa Indonesia baku

 

Bandung, Indonesia. 2076.

Profil lelaki itu biasa saja. Berusia sekitar 40-an, bertubuh cukup tinggi dengan berat badan yang kelihatannya tidak berlebih. Cenderung atletis, malah. Rambutnya lurus, dan ia berkacamata. Kulitnya tidak terang seperti keturunan Tionghoa, namun juga tak bisa dibilang gelap. Wajahnya khas ras Melayu Mongoloid yang tersebar dari ujung ke ujung deretan kepulauan di negeri ini.

Secara keseluruhan, penampilannya tidak mencolok dan mewakili sebagian besar populasi. Jika kau berpapasan di jalan dengannya, kau takkan pernah memerhatikannya dengan saksama.

Tapi aku tahu ia berbeda. Ia sangat berbeda. Degup jantungnya lebih cepat dari manusia lain pada umumnya. Raut wajahnya yang terlihat tenang takkan pernah menipuku. Aku tahu ada butiran keringat besar-besar di keningnya. Ia gugup.

Aku berada sekitar tiga langkah di belakangnya. Meski untuk lelaki seusianya, ia bergerak cukup cepat, tapi aku lebih cepat. Sengaja kujaga jarak, sebab kami sedang berjalan di sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Suasananya ramai, sebab ini akhir pekan, waktu semua orang memilih menghabiskan uang mereka untuk pelbagai kesenangan.

Lima meter di depan gerai kosmetik bermerek internasional, lelaki itu berhenti. Aku ikut berhenti.

Seorang gadis berpakaian serba merah muda dengan logo perusahaan, berdiri di gerai itu. Wajahnya terpulas sempurna, tidak menor, namun tetap kentara. Semacam deklarasi “Hey, aku juga memakai produk kosmetik yang kujajakan lho, dan lihat hasilnya! Mencengangkan, bukan?”

Aku menyentuh gagang kacamata yang kupakai. Alat itu melakukan pemindaianselama sekian detik, kemudian wajah pimpinanku terpampang di layar. Tentu hanya aku yang bisa melihatnya, orang lain tidak.

“Target dengan profil sesuai dugaan, diawasi sejak satu jam yang lalu. Kurva emosi tak berubah. 90 % akan melaksanakan niatnya. Ijin, eksekusi target.” Dengan cepat kubisikkan serentetan kata-kata tersebut.

“Ijin diberikan.” Pimpinanku mengangguk di layar.

Si lelaki di depan gerai kosmetik sudah melangkah maju. Aku menoleh ke kanan kiri, memastikan tak ada orang lainnya di sekitarku.

Si lelaki meraba ke balik pakaiannya. Aku tahu ia menyembunyikan sebilah pisau di sana.

Setengah berlari, aku melompat dan membenturkan tubuhku ke tubuh si lelaki. Pisau yang baru ia pegang sekian detik yang lalu, terlempar sejarak beberapa meter. Kami berdua jatuh berguling-guling. Terdengar suara jeritan dari orang-orang.

Aku mencengkeram lengan si lelaki yang masih menelungkup di lantai ubin yang dingin.

Lelaki itu mengaduh, ketika kuseret ia ke posisi berdiri. Aku mengambil borgol dari balik setelan jas yang kukenakan.

“Bambang Wijanarko, 43 tahun. Alamat di Baleendah, Bandung. Anda saya tangkap atas pasal 112 tentang ‘tindak pra-kejahatan”, karena berniat akan menusuk Harnindya Redhita, 28 tahun. Anda punya hak untuk tetap diam sampai pengacara Anda datang.”

Perempuan di gerai kosmetik itu menjerit-jerit. Seorang temannya, merangkul bahunya, mencoba menenangkan.

“Koko Bambaaaang …”

“Nindyaaa … jangan percaya dia, Nin … lepaskan aku, bedebah!” Bambang meronta dalam cengkeramanku.

“Koko … maafkan aku … hu hu hu … aku sudah bilang, kembalillah pada istrimu …”

“Nindyaaa!!”

Seorang lelaki berpakaian serupa denganku, setelan jas hitam, dan sepatu pantofel, berjalan mendekat. Di tangannya, ia menenteng plastik bening berisi sebilah pisau. Barang bukti yang tadi terlempar. Ia mengangguk padaku.

Aku menyeretnya target pergi dari sana. Dari jeritan perempuan selingkuhannya itu, dan dari puluhan pasang mata pengunjung pusat perbelanjaan siang itu.

***

Redy menyodorkan kaleng minuman dingin ke tanganku. Aku menerimanya dengan penuh rasa syukur.

“Lelah?” ia menenggak minumannya lebih dulu.

“Sangat. 10 kasus dalam seminggu, sobat. Hampir gila aku, dibuat kejar-kejaran seperti ini.”

Redy tertawa kecil. “Tidakkah menurutmu ini lucu?”

“Apanya?” rasa dingin menggenapi kerongkonganku, segar sekali.

“Kita sudah mampu menciptakan alat pendeteksi kejahatan, bahkan ketika kejahatan itu belum dilaksanakan. Tetap saja semua orang masih memiliki niat melakukannya.”

“Ya … seperti jatuh cinta pada orang yang salah.”

“Heh?”

“Kau tahu akan terluka, tapi kau tetap melakukannya.”

Mulut Redy menyemburkan sisa minuman yang pasti tadi sudah di pertengahan jalan menuju ke kerongkongannya. Ia terbatuk-batuk.

“Hahahaha … hahaha …”

Aku tertawa kecut. Padahal sama sekali tidak ada yang lucu.

***

Aku dan Redy bekerja sebagai P2K (Pemberantas Pra Kejahatan). Wilayah cakupan kami adalah kota Bandung dan sekitarnya. Jam kerja kami sepanjang waktu, dengan diselingi waktu istirahat di sela-selanya. Sekitar dua sampai tiga jam dalam sehari, kami bisa bersantai, sampai akhirnya bertugas kembali. Kalian tak usah khawatir dengan kesehatan kami, sebab kami bisa mendapat pekerjaan ini pun, karena bugarnya kondisi fisik kami.

Kantor kami terletak di pusat kota, berupa gedung berbentuk segi lima, dengan sebutan seperti kantor Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Secara singkat, hanya ada dua kelompok besar yang mendominasi isi gedung kami, para peretas dan para pemberantas. Sekumpulan orang-orang yang hidupnya terjebak dalam arus teknologi informasi dan sanggup meretas sistem keamanan sesulit apapun, merekalah para peretas. Sementara kami, adalah manusia-manusia terpilih yang sudah melewati pelbagai seleksi untuk bisa menyandang tugas sebagai pengejar para pelaku pra-kejahatan.

Teknologi yang kami miliki, sudah mampu mendeteksi kejahatan, sebelum kejahatan itu sendiri terjadi. Setiap warga negara akan terdeteksi gerak langkahnya, sebab pada otak mereka tersematkan sebuah kepingan[1] yang ditanam sejak mereka lahir. Kepingan ini memberi informasi dari mulai detak jantung, sirkulasi darah hingga perubahan emosi. Analisa semua ini akan langsung terbaca di kantor pusat kami, kemudian petugas akan meneruskannya ke pusat informasi data.

Saat degup jantung seseorang terpantau lebih cepat, petugas akan langsung memeriksa perubahan emosi, hingga mengawasi pergerakan mereka secara riil. Mereka juga akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang orang yang dimaksud. Hubungannya dengan orang lain, masalah yang sedang ia hadapi dan sebagainya.

Hanya butuh waktu paling lama satu jam, bagi para peretas untuk memutuskan bahwa  ‘target’ (begitu kami menyebutnya), memiliki niat kejahatan atau tidak. Setelahnya, kami akan menerima ‘kode biru’ untuk target yang patut diawasi, dan ‘kode merah’ untuk target yang dipastikan harus disergap.

Tebak, kode apa yang paling banyak aku dan Redy terima? Tentu, yang merah.

***

Aku baru saja menyenderkan kepalaku ke sofa empuk di ruangan rekreasi. Kami menyebutnya begitu, sebab di sini disediakan pelbagai fasilitas untuk relaksasi bagi para pemberantas yang kelelahan.

Terdengar bunyi sirine panjang. Bunyi ini berulang sampai tiga kali.

Tidak mungkin!

Aku langsung bangkit berdiri.

Aku belum cerita, bahwa ada satu lagi kode yang lebih darurat dari ‘kode merah’. Kami menyebutnya ‘kode hitam’ ditandai dengan bunyi sirine sebanyak tiga kali. Kode hitam jarang sekali terjadi. Seingatku, terakhir terjadi sekitar duapuluh tahun silam, saat aku masih bocah dan hobiku masih bermain gim komputer.

Aku berlari ke pintu keluar. Di sana, Redy sudah menunggu. “Gawat!” mukanya pucat.

“Ada apa?”

“Periksa kacamatamu!”

Segera kukenakan kacamataku, dan kedua mataku langsung bergerak naik turun dengan cepat, membaca setiap informasi yang tertera di sana.

“Bagaimana mungkin??!”

Kami berlari seperti dikejar setan.

***

Perempuan itu terkekeh saat kami temui di ruang pemeriksaan.

Wajah cantiknya yang terpulas sempurna tempo hari, tak lagi berbekas. Rambutnya tergerai acak-acakan. Kedua matanya bergerak liar.

Orang-orang menangkapnya saat ia menancapkan pisau berkali-kali ke tubuh seorang lelaki. Kuperiksa catatan di tanganku. Korban : Sudirman, 43 tahun. Domisili : Tangerang. Pekerjaan : pengusaha.

Aku beradu pandang dengan Redy. Aku tahu persis apa yang ada di pikiran Redy. Bagaimana mungkin perempuan ini bisa lolos dari pindaian?

“Harnindya Redhita, Anda kami tahan atas pembunuhan terhadap saudara Sudirman.”

“Hihihihihi …”

“Keterangan saudari akan kami catat dan ajukan ke persidangan, namun besar kemungkinan, hukuman mati sudah menunggu Anda.” Suara Redy tak setenang biasanya.”

“Hahahahaha … Kalian pikir kalian sehebat itu?”

Aku mengepalkan tanganku.

“TIdakkah kalian ingin tahu bagaimana aku bisa melakukannya?”

“Mengapa Anda melakukannya?” Aku memajukan tubuhku, menatapnya dengan sengit.

“Mengapa tidak? Hahahahaha …” Kurang ajar! Kurasakan Redy menahan tanganku yang gatal kepingin menampar wajahnya.

“Tidakkah kalian merasa, kejahatan itu membuat dunia lebih berwarna?”

“Saudari Harnindya, kami ingin …”

“Mengapa kalian ingin membuat semuanya putih? Sangat membosankan!”

Redy menyentuh lenganku lagi, “Mari kita dengarkan dulu, apa maunya.”

“Kau tahu sifat dasar manusia, Pemberantas Redy Cahyadi 019?” Kurasakan tubuh Redy terlonjak. Perempuan ini baru saja menyebutkan kode rahasia yang hanya kami dan pimpinan yang tahu.

“Dan kau, Pemberantas Boy Alimudin 026?”

Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Siapa perempuan ini? Di mana pimpinan? Mengapa ia bisa …

“Manusia itu memiliki paparan emosi yang luas, jangkauan pikiran tak terbatas. Tak hanya sekadar hitam dan putih seperti yang selama ini kalian agung-agungkan. Hihihihi …”

“Katakan! Bagaimana kau bisa melakukannya? Kami menanam kepingan ke otak setiap orang sejak lahir …”

“Maksudmu, kepingan yang merekam semua aktivitas emosi dan detak jantung itu? Hihihihi … bahkan kau saja bisa dengan mudah mengelabuinya, Pemberantas Boy!”

Aku seperti tersengat arus listrik.

“Jika kusebut nama Merista Kalorin, apa yang akan kau pikirkan?”

Napasku mendadak sesak. Kepalaku pusing. Tubuhku oleng.

“Boy? Boy? Maksud dia apa?” Redy mencengkeram lenganku, mencegah tubuhku ambruk.

“Bagaimana … bagaimana kau tahu soal Merista?”

“Boy?” Redy menatapku pucat pasi.

“Hihihihihihihi … hahahahaha …”

Aku terduduk lemah di atas kursi. Perempuan itu kini perlahan mendekatkan wajahku ke wajahku. Perlahan, raut wajahnya berubah. Aku tidak sedang menatap tersangka Harnindya Redhita yang cantik dan wajahnya terpulas kosmetik rapi. Aku sedang menatap wajah wanita tua dengan banyak keriput di wajah.

Wajah itu …

“Ingatkah kau padaku, Boy?”

Aku menutup wajah dengan kedua telapak tanganku. Redy mengguncang-guncang tubuhku dengan panik, sambil memanggil-manggil namaku.

Sementara pikiranku melayang ke masa lima tahun lalu, di sebuah tempat terpencil. Tempat yang jauh dari keramaian, dimana hanya ada pepohonan bambu, semak belukar dan ilalang.

Saat aku terduduk di atas tanah yang baru saja kugali, dan kututup kembali. Saat itulah aku bertemu dengannya. Wanita tua yang melintas dan beradu pandang denganku. Ia memakai caping bambu dan berpakaian seperti petani.

“Kau … kau yang berpapasan denganku waktu itu …”

Perempuan tua itu melengkingkan tawa yang betul-betul membuat bulu kudukku meremang.

“Kau sangat pintar menyembunyikan emosi, bukan begitu, Boy? Itulah mengapa kamu bisa membunuh dan menguburkan Merista di sana, tanpa terdeteksi oleh para peretas …”

Redy terjajar ke belakang. Tanpa melihatnya, aku tahu ia pasti terkejut.

“Kau mencintai orang yang salah, Boy … hihihihihihi”

 

Jumlah kata : 1599

[1] chip

*terinspirasi dari film yang pernah dibintangi Tom Cruise di tahun 2002, ada yang bisa tebak?*