Posted in 30 Hari Menulis 2017, belief

Yakin/Tidak Yakin, Transparansi sosial media kita


#30HariMenulis

 

Hari 23

 

Sosial Media membuat ‘halaman’ dan ‘jendela’ rumah semua orang terbuka lebar. Jika dulu kita hanya bisa mengenal orang dari obrolan dengannya, sekarang, bahkan dengan orang asing yang belum pernah bertemu muka pun, kita serasa sudah mengenalnya selama bertahun-tahun.

 

Halaman semua orang terpampang nyata (bukan fatamorgana) setiap hari, setiap kali kita masuk ke akun sosial media kita. Ada halaman orang yang tertata rapi, hanya menampilkan keindahan dan kebaikan, layaknya kebun di halaman depan rumah yang biasa ditanami bermacam tanaman sebab itulah yang pertamakali akan orang lihat.

 

Ada halaman orang yang isinya sangat random dan nano-nano. Terkadang isinya indah berbunga-bunga, terkadang perih berdarah-darah. Ungkapan suka cita dan kesedihan dating silih berganti bergantung apa yang sedang menimpa orang tersebut.

 

Ada orang yang memenuhi halamannya dengan promo MLM. Siang malam, saat panas maupun hujan, saat kisruh politik atau heboh berita artis, orang ini akan tetap istiqomah di jalurnya, promo produk.

 

Ada pula orang yang halamannya selalu penuh caci. Setiap statusnya penuh dendam dan benci. Apapun ia maki, siapapun salah di matanya. Sehingga terkadang saya sering bertanya-tanya, hidup perih macam apa yang sudah ia jalani hingga ia harus ‘menyiksa’ semua orang yang berkunjung ke beranda sosmed nya hanya untuk membaca kemarahannya.

 

Satu kesamaan dari semuanya, social media membuat semua orang transparan dan terbuka.

 

Saking terbukanya, saya sampai ngeri sendiri karena seolah semua orang ‘terbaca’ begitu jelasnya. Meskipun belum tentu juga yang dia tampilkan itu benar. Sebab membuat status di social media tentu dimaksudkan untuk mencari perhatian dan mengharapkan komentar yang membaca. Jika tidak, sudah barang tentu kita menulisnya bukan di status, melainkan di buku harian.

 

Soal keterbukaan ini bukan hanya masalah harian macam masalah pekerjaan atau rumah tangga (meskipun saya sering mengerenyit jika ada yang secara terbuka memposting segala sesuatu tentang rumah tangganya) atau anak-anak. Keterbukaan juga menyentuh ranah yang dulu jarang disentuh sebab dianggap tabu. Ranah keyakinan.

 

Jaman dulu orang beragama. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan lain-lain. Namun semua tidak ada yang berkoar-koar, semua tersimpan rapat. Candaan memang ada, celaan memang terjadi, namun hanya ada di level pertemanan dekat. Sekarang semua berubah. Era transparansi membuat banyak orang harus mendeklarasikan ulang keyakinannya, atau ketidakyakinannya.

 

Sebagian orang jaman sekarang merasa perlu mendeklarasikan kembali, eksplisit maupun tidak, keyakinan dan kepercayaan yang ia anut. Sejatinya ini bisa dipahami sebab banyak orang merasa harus menunjukkan di sisi mana ia berdiri. Supaya tidak disalahartikan. Supaya ketika saling melempar komentar, orang akan tahu ‘oh ia kan mendukung/tidak mendukung si …’

 

Sekarang yang sama keyakinannya pun kadar keimanannya terkotak-kotak. Ada yang dianggap beriman tinggi, ada yang beriman lemah, ada pula yang dikategorikan tidak beriman dana tau munafik. Luar biasa. Seolah orang punya semacam diagram yang bisa menunjukkan indicator keimanan seseorang.

 

Pun, ketidakyakinan pun diumbar parah. Seolah bangga sekali ketika menyebut bahwa dirinya tidak lagi mengakui Prima Causa, tidak meyakini sang Pencipta. Entahlah mereka yang seperti ini sedih atau senang ketika banyak orang berkomentar di statusnya, entah menyetujui atau tidak. Dugaan saya sih, senang-senang saja. Sebab, tujuan bikin status kan memang untuk dibaca dan kemudian dikomentari.

 

Ah entahlah.

Buat saya keyakinan itu amat rahasia. Hubungan indah antara manusia dengan yang menciptakannya. Dibisikkan ke langit malam yang sunyi, digetarkan di sanubari, dan dijawab dengan serangkaian pertanda dan lintasan hati. Pengakuan tak lagi dibutuhkan, sebab hanya kepada Tuhanlah, seorang hamba mengadu.

 

Indah.

 

Dan menurut saya ketidakyakinan bersifat kurang lebih sama. Ketika diri tidak yakin, simpanlah untukmu sendiri. Jika kau masih meneriakkannya pada dunia, jangan-jangan kau bimbang. Sebab tidak yakin berbanding amat lurus dengan yakin. Jika meyakini saja kita biasanya diam-diam dan meresapi, mengapa ketika kau tidak yakin, mesti berteriak? Jika kau tidak yakin, ya sudah tak yakin saja. Jika masih mengemukakan segudang alasan, apakah kau yakin bahwa kau sudah tidak yakin lagi?

 

Hidup ini sederhana. Sejatinya.

 

Yang rumit itu yang kita tampilkan di ‘halaman’ dan ‘jendela’ akun social media kita.

 

 

Posted in 30 Hari Menulis 2017, Film

Alasan Mengapa Saya Tidak Menyukai Film yang “itu”


#30HariMenulis

Hari 22

 

Tema:

13 Reasons Why. Sebutkan 13 alasan mengapa kamu menyukai atau tidak menyukai buku atau film tertentu.

 

Semua orang yang kenal saya tahu bahwa saya suka film. Semua orang yang kenal saya tahu bahwa saya lebih banyak menonton film berbahasa Inggris. Semua orang yang kenal saya tahu bahwa saya suka malas nonton film Indonesia. Ehh.

Maafkan semua pencinta film Indonesia … #menjura

 

Sebetulnya alasan saya malas (bukan tidak suka) nonton film Indonesia itu karena saya sombong aja sih. Saya suka merasa tahu jalan cerita yang bagus, akting yang bagus, sinematografi yang bagus. Padahal sekolah film aja engga. Saya ini cuman salah satu penonton cerewet yang pilih-pilih.

 

Anyway, untuk film Indonesia biasanya saya akan menunggu review dari teman-teman yang sudah menonton, jika bagus ya mungkin saya akan nonton. Itupun yang bilang bagus mesti orang yang saya percaya referensi filmnya, jadi kalau hanya sekedar gerombolan orang yang rame-rame nonton kemudian bilang bagus, belum tentu saya nonton. Saya mesti lihat dulu siapa orangnya. Yes, dalam hal ini saya memang belagu.

 

Saking jarangnya nonton film Indonesia sampai-sampai bisa dihitung kurang dari 20 judul film Indonesia yang saya suka.

 

Suatu hari, tahu kan kalian jika membeli paket data internet, suka ada bonus tambahan? Nah setelah beberapa kali membeli paket dan selalu ada bonus yang saya cuekin, suatu hari saya mencoba memanfaatkan bonus tersebut. Bonusnya adalah menonton gratis di saluran H**Q.

 

Saya geser-geser semua film yang tersedia. Yang film luar sudah saya tonton semua (sombong lagi, maafin yaa, jangan muntah ya). Tinggal film Indonesia yang masih banyak stoknya.

 

Saya memilih sebuah film Indonesia yang saya tidak tega menyebutkan judulnya. Soalnya saya tahu banyak yang suka dengan film ini. Film ini diangkat dari novel karya penulis laris yang suka melahirkan karya fiksi islami. Premis ceritanya sendiri tentang cinta yang berbalut perjalanan.

Ini yang saya mau bahas. Aiiih … intro aja kepanjangan.

 

Reasons why I don’t like THIS movie:

SATU – Akting kedua pemainnya (yang aktor mantan penyanyi boyband, yang aktris penyanyi yang pernah menyanyikan soundtrack film Habibie dan Ainun) standar. B-ajah. Bagus banget engga, hancur banget alhamdulillah masih ketolong. Tapi sungguh saya greget melihat ekspresi keduanya yang masih keliatan bahwa itu tuh akting. If you know what I mean.

DUA – Premis ceritanya berkisah tentang seorang perempuan berhijab yang senang    melancong ke sana kemari, di dalam negeri maupun luar negeri. Ia didukung oleh sang ayah yang selalu menandai globe di rumahnya dengan thumbnail setiap kali si hijaber berhasil melancong ke negara atau kota tertentu. Dari awal film, disebutkan bahwa si hijaber melakukan perjalanan untuk mencari ‘sesuatu’, dan di akhir film ditunjukkan bahwa si ‘sesuatu’ itu adalah cinta yang ia dapat dari cowok yang nantinya ketemu dengannya. Luar biasa. Jauh-jauh melanglang buana, tidak sedikitpun ada perjalanan untuk menemukan holy grail, melainkan hanya sekedar itu. Saya kecewaaaaaa …

TIGA – Si hijaber ini kemana-mana menenteng ransel carrier besar, semacam ransel gunung itu loh.  Saya tahu ransel model begitu karena suka meminjam ke kakak saya tiap mau pergi kemping. Kapasitas ranselnya mungkin sekitar 10-15 kg. Nah, si hijaber ini pergi ke luar negeri (Asia, Eropa) selama berminggu-minggu, hanya bermodalkan si ransel gunung tadi. Saya bayangkan isinya pasti baju, toiletries, peralatan kamera (sebab ia kemana-mana motret), laptop (sebab ia suka berhubungan dengan kantornya dan skype-an sama keluarga), peralatan sholat. Saya perkirakan sekitar 4-5 setel pakaian saja yang bisa masuk. Itupun pasti berjejalan dengan barang-barang lainnya. Sementara si hijaber cantik ini di banyak adegan berpose ala model dengan busana hijab kekinian, dan sering ganti-ganti bajunya. Meskipun ini film, tapi plis lah jangan sampai membodohi orang bahwa ransel gunung itu sama fungsinya dengan kantong ajaib doraemon.

EMPAT – Si hijaber ini pergi dalam waktu lama dan selalu terlihat cantik, apapun kondisinya. Jadi tiap kamana-mana dia pasti touch-up, apapun cuaca di Negara yang ia kunjungi.  Tapi ini sebenarnya juga selalu saya temukan di film-film Indonesia lainnya. Dan sinetron. Oh My God … bangun tidur aja alis sama bulu mata palsu udah kepasang. Ckckck.

LIMA – Si cowok yang bertemu dengan hijaber cantik ini disebutkan sebagai orang Korea, yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada si hijaber yang ia nilai sangat mandiri. Lagi-lagi formula ‘datangnya hidayah’ gagal disampaikan secara indah, sebab setelah jatuh cinta, kangen terus, dan menolak jodoh yang disiapkan di Korea, si cowok ini kemudian masuk Islam. I mean, jikapun ingin menyoroti proses datangnya hidayah, mbok ya agak diperlihatkan perjuangannya sedikit. Sebab dalam dunia nyata, hidayah tidak datang secepat paket YES JNE.

ENAM – Ayah si hijaber menginginkan anaknya menjadi seorang penjelajah muslim, seperti Ibnu Batutah. Sayangnya ketika sang Ayah meninggal di separuh film, saya disodorkan kenyataan yang kontradiktif. Begitu Ayah meninggal, Ibu dan kakak-kakak si hijaber ini langsung keberatan ia pergi kemana-mana, sebab tidak ditemani mahram. Kemudian mereka menyodorkan seorang pemuda soleh yang baik, ganteng dan mapan (aduhaduh gampang banget) untuk ia terima sebagai calon suami. Jadi, maksud film ini apa sih?? Kok segampang itu idealisme petualang dihempas hanya karena ujug-ujug keluarga ngebet pengen make baju seragam di pesta pernikahan? Ndak paham.

TUJUH – Si hijaber ini mandiri sekali, sebab ia berani pergi keliling dunia sendiri. Namun ketika disodorkan calon suami, ia seketika lemah. Apa bedanya dengan gadis desa dalam cerita-cerita tempo dulu? Yang terpaksa menikah dengan anak orang kaya karena keluarganya berutang banyak.

DELAPAN – Si cowok pilihan orangtua dan kakak-kakaknya ini digambarkan punya pekerjaan yang mapan. Ia juga mendirikan kelompok belajar Kejar Paket A untuk ibu-ibu tetangganya. Sungguh tipikal lelaki idaman. Ia takut terbang, namun langsung memutuskan untuk menemani hijaber cantik kemana-mana karena ia cemburu dengan si cowok Korea. Dari asalnya takut terbang hingga akhirnya mereka bertemu di Korea, saya kok ga melihat perubahan ekspresi wajah, dan fobia terbangnya menguap entah kemana. Padahal fobia terbang itu sungguhan ada dan tidak segampang itu sembuhnya. Dulu di film The A-Team, ada tokoh yang diperankan Mr. T yang ceritanya fobia terbang sehingga setiap kali naik pesawat, terpaksa ia harus dibius total.

 

Saya tidak bisa menuliskan sampai 13 alasan kenapa saya tidak suka film ini. Cukuplah daftar di atas mewakili perasaan saya saat menonton film itu. Saya tahu film ini banyak sekali penggemarnya, namun seperti itulah perasaan saya. Penulis skenarionya seperti kebingungan mau membawa cerita ke arah mana. Penonton remaja pasti berbunga-bunga saat melihat adegan romantis antara si hijaber dan si cowok Korea. Namun, untuk saya rasanya semuanya terasa dipaksakan. Dengan judul film yang seolah-olah mengenai perjalanan (ada kata ‘traveler’nya) kita malah hanya dibawa menikmati pemandangan beberapa Negara (sekilas) dan Korea yang memang cantik tapi menjadi semu. Keinginan ayah si gadis agar anaknya menjadi penjelajah seperti Ibnu Batutah, malah jadi humor yang menggelikan, sebab penjelajahan seperti apa yang dimaksud malah tidak pernah jelas seperti apa.

 

Tuh kan, saya memang rewel. Maafkan para pembuat film ini. Maafkan orang-orang yang suka dengan film ini. Tapi percayalah, hati ini tak bisa dibohongi. Cieee …

 

Ngomong-ngomong, judul filmnya Jilbab Traveler. Takut kalian penasaran. Hahahahahaha.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in 30 Hari Menulis 2017

Susuk dan Santet


#30HariMenulis

 

Hari 21

 

Tema:

Menulislah tentang ANOMALI atau sesuatu yang di luar kebiasaan yang menurutmu menarik. Misalkan, fenomena hujan es, bayi kembar 6 atau apapun yang di luar kebiasaan

 

Suatu waktu, saya sedang nongkrong bersama teman-teman di rumah salah seorang dari kami. Usia kami masih belasan tahun. Seorang nenek berjalan melintasi gang di depan rumah teman saya. Tiba di hadapan kami, langkahnya terhenti.

 

Kami semua terdiam, menunggu apakah si nenek akan bertanya alamat atau yang lainnya.

Ia tersenyum.

Neng-neng nu geulis … daek ku emak dibere babacaan ..?

(Neng-neng yang cantik … mau ga dikasih mantra sama emak?)

 

Kami saling berpandangan. Tidak yakin bagaimana harus memberi tanggapan.

Si nenek masih tersenyum,

Yeuh … mun dibaca sababaraha kali sapoe, diamalkeun, lalaki kabeh bakal nurut …

(kalau dibaca beberapa kali setiap hari, diamalkan, semua lelaki akan nurut)

 

Kemudian ia mulai merapalkan semacam rangkaian kata dalam Bahasa Sunda yang mesti kami ucapkan. Setelah ia merasa yakin kami sudah cukup mengulang-ulang, ia pun berpesan untuk selalu membaca ‘mantra’ tadi supaya manjur. Setelah itu ia melangkah pergi.

 

Setelah si nenek pergi, kami malah kebingungan. Maksudnya apa ini?? Tak ada satupun yang susah-susah mau mengulang ‘hapalan’ dan berniat mengamalkan. Agaknya peristiwa ‘aneh’ itu terlalu memukau kami. Apalagi setelah teman kami yang punya rumah merasa tak mengenal si nenek, jadi ia seakan muncul begitu saja dan menghilang seketika. Akhirnya, kami hanya tertawa-tawa dan meneruskan obrolan.

 

Setelah agak lama, baru saya menyadari bahwa si nenek bermaksud mengajari kami mantra penarik laki-laki.

 

Setelah menikah, tahun 2000, saya dan suami mengontrak rumah di bilangan Bandung Utara. Alasannya biar dekat ke kampus, karena saat itu saya masih kuliah. Kami tinggal di flat atau rumah susun yang jarak antar rumah ke rumah hanya sepelemparan batu saja.

 

Persis di sebelah rumah kami, ada sebuah rumah yang dihuni oleh pasangan suami istri dengan dua anak yang sudah dewasa. Si bungsu yang perempuan saja sudah seusia saya pada waktu itu (awal 20). Awalnya saya hanya sekedar tegur sapa dan senyum setiap kali bertemu dengannya. Namun saat saya hamil anak pertama dan melahirkan jadi sering mengobrol dengannya. Ia sama-sama hamil dan melahirkan (tanpa suami), jadi anak pertama kami seumur.

 

Si teteh ini, bagaimana saya mendeskripsikannya ya? Ia berkulit putih bersih dan berperawakan agak gempal. Pakaiannya sering terbuka, namun saat itu saya mengira itu akibat tuntunan pekerjaan. Bisik-bisik tetangga sempat juga mampir di telinga saya mengenai kelakuan si teteh ini. Kemudian ia hamil di luar pernikahan, lengkaplah sudah. Hebatnya, orangtuanya menerima dia dengan kondisi hamil dan malah sayang sekali dengan cucunya itu.

 

Karena keseringan ngasuh anak barengan, jadinya si teteh sering main ke rumah saya. Sekedar mengobrol ringan sambil menyuapi anak. Lebih sering si teteh ke rumah saya dibanding sebaliknya. Mungkin karena di rumah saya sepi, sebab suami pergi bekerja, dan hanya saya sama anak saja (sesekali ada ibu saya).

 

Suatu hari si teteh memungut sesuatu dari lantai. Sehelai handuk kecil seukuran sapu tangan rupanya terjatuh dari keranjang setrikaan saya. Sambil memberikan handuk itu ke tangan saya si teteh berkata,

“Teh Irma tau ngga, kalo dulu kemana-mana saya bawa sapu tangan?”

Saya menggeleng.

“Iya, soalnya ada ‘isinya’ …” sambungnya sambil tersenyum.

Saya bingung.

 

Kemudian ia menjelaskan bahwa sejak belia ia sudah rutin berkunjung ke ‘orang pintar’. Si orang pintar ini kemudian akan memberinya jampi-jampi yang ‘ditiupkan’ ke sehelai sapu tangan.

“Buat apa?” tanya saya.

“Supaya banyak laki-laki yang suka sama saya,” jawabnya tanpa tedeng aling-aling.

Saya terdiam.

 

“Tapi sekarang saya insyaf, teh. Ga mau lagi. Sejak ada anak mah saya sadar …” ia menunduk menatap anaknya yang sedang main di atas karpet dengan anak saya.

 

Si teteh ini pemikirannya sederhana sekali. Ia ingin disukai lelaki supaya semua urusannya gampang. Ia merasa lelaki kelemahannya hanya di syahwat sehingga gampang dikendalikan. Petualangannya baru berhenti ketika ia kemudian hamil di luar nikah dan lelaki yang menghamilinya tidak bertanggungjawab. Orangtuanya pun tak mau menikahkan, sebab si lelaki menganut agama yang berbeda.

 

Dua fragmen peristiwa di atas sering mengusik kenangan saya setiap kali ada pembicaraan mengenai pelet atau susuk. Di dunia yang (seharusnya) serba logis ini ada banyak hal di luar nalar yang kita dengar atau kita hadapi. Benarkah kita bisa memantrai orang untuk suka dengan kita? Entahlah, sebab saya tidak pernah tertarik mencobanya. Namun almarhumah nenek saya dulu sering bercerita mengenai kebiasaan orang-orang jaman dulu untuk berkonsultasi kepada dukun atau hanya sekedar membuat sesajen di rumah jika punya maksud tertentu (sesajen dimaksudkan untuk persembahan terhadap karuhun atau nenek moyang).

 

Lucunya, terkadang dulu nenek suka berkomentar aneh jika melihat/bertemu seseorang. Misal nih, saya sama nenek sedang duduk di depan rumah (dulu di depan rumah nenek ada beberapa kursi yang dipasang menghadap jalan di depan, yang adalah jalan raya). Kemudian ada seseorang yang lewat, dan kami saling menyapa, sekedar hai.

 

Kemudian setelah orang itu lewat, nenek akan berkata,

“Mmh .. budak teh … meni teu sabongbrong …”

Ini ungkapan Bahasa Sunda yang artinya kurang lebih, ‘apa yang dipakai orang itu tidak sepadan dengan yang sebenarnya’. Ah, susah …

Intinya, nenek mengatakan bahwa si orang yang barusan lewat ‘memasang’ sesuatu di tubuhnya, yang tidak wajar.

Saat saya bertanya darimana nenek tahu, nenek saya akan menjawab,

Kolot mah nyaho wae,

(orangtua selalu tahu)

 

Another indefinite answer.

*sigh

 

Terkadang saya kangen masa-masa nenek bercerita, betapapun cerita-cerita itu selalu aneh dan di luar logika. Mungkin karena nenek hidup di jaman yang berbeda dengan saya. Ia hidup di dua masa penjajahan, Belanda dan Jepang. Ditambah, tradisinya sebagai orang Sunda yang penuh dengan ritual dan adat.

 

Jadi, apakah saya percaya dengan pelet/susuk?

Mmh … ga tau juga sih. Mungkin iya, mungkin tidak. Sebab kata orang, santet itu tidak ada, tapi saya sering dengar kisah mengenai orang-orang yang tiba-tiba jatuh sakit dan tidak terdeteksi penyakitnya oleh dokter. Kemudian sembuh setelah rajin mengaji dan berobat ke ustadz tertentu (misalnya).

 

Belakangan, ada sebuah kisah nyata yang menimpa orang yang saya kenal. Tidak perlu disebutkan namanya. Jika bukan ibunya sendiri yang berkisah, mungkin saya tidak akan percaya.

 

Orang ini sebut saja Batman. Batman merantau ke Jakarta untuk bekerja. Di kota itu, Batman bertemu Selena (Catwoman hahaha) dan jatuh cinta. Sayangnya, yang suka sama Selena bukan hanya Batman, hingga persaingan cinta agak sengit dan kompetitif.

 

Diantara sekian lelaki yang menaruh hati pada Selena, tersebutlah Joker yang juga sama-sama merantau dari tanah kelahirannya. Joker berasal dari sebuah pulau yang memang terkenal dengan hal-hal berbau mistis. Ketika tahu Batman juga suka sama Selena, Joker selalu berusaha agar Batman tak mendapat celah. Haduuh … sinetron yak.

Singkat cerita, Selena memilih Batman. Yaaay!

Apakah happy ending?

Tidak.

 

Sebab beberapa hari kemudian Batman terserang depresi saat menemukan bahwa organ genitalnya hilang. Hilang. Ia tidak punya p**is. Selama beberapa minggu, orangtua Batman berobat sana sini sambil kebingungan. Dokter mana yang bisa mengembalikan organ genital laki-laki yang tiba-tiba hilang?

 

Saya lupa persisnya bagaimana, tapi kemudian Batman berhasil mendapatkan ‘barangnya’ kembali (atas bantuan seorang ustadz). Dan ada bisikan dari beberapa orang (pintar) bahwa memang yang terjadi adalah atas ulah si Joker.

 

Weird, eh?

 

Dari sekian banyak tema anomali yang ada di dunia ini, inilah yang saya pilih. Sangat tidak ilmiah sekali. Namun sungguh, buat saya ini sangat anomali. Bagaimana tidak? Susuk dan santet telah mematahkan banyak sekali teori fisika yang susah payah dipelajari semua anak selama bertahun-tahun. Belum lagi norma sosial yang dilanggar karena ‘pemaksaan rasa suka’ karena susuk, bukan karena intensitas dan interaksi social.

 

Ah, entahlah.

 

Menurutmu bagaimana?

 

Posted in 30 Hari Menulis 2017

Intuisi


#30HariMenulis

 

Hari 20

 

Seorang teman pernah mengatakan,

“if prayers is the way you talk to God, then intuition is how God talks to you …”

Maknanya kurang lebih, jika doa kita panjatkan untuk bisa berkomunikasi dengan Tuhan, maka intuisi adalah cara Tuhan berkomunikasi dengan kita.

Intuisi adalah lintasan hati, isyarat yang diberikan oleh hati. Dalam psikologi ia disebut “unconcious knowledge” sebab pengetahuan ini didapat tanpa sadar. Pernahkah kau merasa bahwa seseorang tidak menyukaimu padahal ia belum pernah mengatakan apa-apa? Boleh jadi itu intuisimu yang mengambil alih. Atau saat kita yakin pada sebuah pilihan padahal kita sama sekali tidak dibekali ilmu mengenai pilihan yang kita ambil.

Jika demikian, maka intuisi bersifat amat personal. Sesuatu yang bagimu biasa, mungkin tidak bagiku. Dalam perspektif budaya lokal, intuisi bisa diasosiasikan dengan “firasat”. Saat hatimu merasa cocok atau tidak dengan sesuatu.

Teori ini mungkin saja benar mungkin tidak. Sebab  tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana cara hati bekerja atau cara jiwa meraba. Namun satu yang saya yakini, bahwa hati tidak bisa berbohong. Sebab di kala melakukan dosa pun sejujurnya kita tahu, hanya kita pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu.

Situasi politik di Indonesia yang sudah merambah ke jendela kamar sosial media kita memerangkap saya dalam sebuah tatanan yang kemudian memiliki label. Dimana saya berpijak, condong ke arah mana pikiran saya, disitulah label saya akan disematkan.

Entah sudah kali ke berapa saya harus menjawab pesan atau sekedar komentar yang mempertanyakan dimana posisi ini. Tersirat maupun terang benderang. Berkali saya harus menghela napas hanya untuk sekedar mengeluh betapa dunia tidak sepolos yang dulu saya kenal. Betapa orang-orang tak setransparan itu lagi. Lelah hati untuk bisa menangkap kalimat-kalimat bersayap yang harus saya artikan secara harafiah maupun berkias.

Dan berulangkali pula mesti saya yakinkan mereka bahwa mungkin mereka menyangka saya begini dan begitu. Mungkin mereka ingin saya mengikuti cara yang mereka tahu. Mungkin mereka ingin mengkonfirmasi keikutsertaan saya dalam semangat kolektivitas mereka. Tapi jawaban saya tetap sama. Saya sandarkan hati dan akal ini hanya pada pemilik-Nya.

Sebab hati tak pernah bohong.

Posted in 30 Hari Menulis 2017, about me

Jualan Rendang


#30HariMenulis 2017

Hari 19

Saya tidak hobi masak. Hobi saya membaca buku dan nonton film. Terakhir, tidur. Sangat tidak produktif.

Saya suka belajar tapi tidak rajin. Semaunya saja. Memang ga ada gunanya saya ini. Wkwkwkwkw.

Tapiii bulan Ramadan ini saya jualan rendang loh. Rendang istimewa sebab buatan saya sendiri. Kok bisa??

Saya aja heran.

So, saya menikah dengan orang Minang. Saya suka makan rendang. Sebab saya menikah dengan orang Minang maka saya suka rendang? Atau sebaliknya? Entahlah, sebab cucoklogi bukan area of expertise nya saya. Lah, ngapain dibahas? Biar panjang aja.

Jadi, orang Minang itu menurut saya ribet masak rendangnya. Semua bumbu harus digiling (atau direndos, kata orang Sunda mah), pantang di-blender. Jenis daging harus tertentu, tidak bisa hanya sekedar daging sapi. Santan kelapanya harus fresh bukan yang kemasan. Memasaknya sekitar 6-8 jam. Pegel, pegel dah.

Dulu saya malas banget kalo harus masak rendang. Plus mertua saya (almarhumah) selalu sedia stok rendang, maka, kenapa harus repot? yekaaan.

Namun semua berubah ketika suatu hari kami (saya dan suami) ingin berinovasi dengan rendang buatan mertua. Kami berdua bereksperimen, diam-diam. Mengapa? Sebab you know lah, kalau orangtua suka beda aturan. Saya ingin si rendang ini khas saya sendiri. Mengapa? biar beda aja, kan keren. hihihihi.

Alhasil sejak sekitar 4 tahun terakhir ini, saya selalu masak rendang untuk keluarga. Sesekali bawa ke kantor atau meminta teman untuk mencicipi. Tak dinyata tak disangka mereka sukaaa. Ramuan guna-guna saya berhasil, YES!

Ehh.

Abaikan.

Awalnya jika saya masak rendang dan berlebih, saya suka tawarkan sama teman, barangkali ada yang mau beli. Sebab sekali masak rendang biasanya saya mulai dari takaran 4 kilo daging. Bukan apa-apa cuy, ngaduk dan masaknya kan lama, ngabisin waktu, tenaga dan gas. Jadi kalo cuman sekadar sekilo dua kilo mending saya bobo cantik aja. #sombong

Akhirnya dari sekedar titip masak dari teman, saya memberanikan diri untuk menawarkan lebih banyak. Dan Ramadan tahun ini menjadi Ramadan pertama saya resmi membuka order rendang secara umum. Alhamdulillah banyak orang yang percaya. Semoga mereka senang dan saya pun senang. Semoga harga daging juga tidak mahal-mahal amat supaya harga jual rendang tidak meroket.

Sampai saya menuliskan ini saya tidak percaya bisa berjualan kuliner. Orang, jualan buku saja saya masih belang betong.

Semoga rendang menjadi jalan saya berwirausaha. Iri jika lihat teman-teman yang sudah bisa berani mengambil langkah keluar dari pekerjaan dan mulai berbisnis. Keren.

Semoga.

Posted in 30 Hari Menulis 2017, about me

Putih


#30HariMenulis 2017

Hari 18

Tema

18 Juni 2017: “Ceritakanlah KENANGAN yang paling ingin kamu hilangkan dan mana yang ingin kamu jaga hingga suatu hari kamu ceritakan pada anak cucumu. Jika terlalu pribadi, ceritakan saja mengenai KENANGAN INDAHMU. Konversikan kenangan itu menjadi sebuah WARNA yang akan menjadi judul tulisanmu”

Tema hari ini sangat berpotensi memermalukan diri sendiri. Haduh. Kenangan itu berat. Sebab kenangan itu sejatinya tidak pernah pergi, namun membeku bersama waktu. Sejauh apapun kamu berlari, ia selalu menyeruak di antara jalan yang pernah kau tempuhi, di antara tempat yang kau singgahi dan di antara wajah-wajah yang pernah kau kasihi.

Satu hal berat lagi saya kasih tau. Selain kenangan yang sulit dilupakan, akan sangat menyiksa jika kamu jenis orang yang gampang ingat dan punya ingatan panjang. Berat dan memuakkan. Sebab ia hanya berguna saat mengingat tagihan yang harus dibayar, kapan terakhir kali ngobrol soal A dengan si anu. Ia tidak berguna saat kau berusaha keras melupakan sesuatu. Hal yang menyedihkan, memalukan dan membuat hati diliputi gundah gulana.

Dan saya termasuk orang seperti itu.

Percaya atau tidak, saya gampang mengingat dan hampir selalu mengingat segala sesuatu. Tadinya mau bilang ‘selalu’ (tanpa hampir) namun beberapa kejadian jaman sekolah ternyata ada juga yang saya lupakan.

Secara umum, saya seorang pengingat. Dan ini fatal. Sebab hal-hal yang ingin saya lupakan tidak pernah bisa saya hempaskan pada ruang kosong bernama limbo (see Inception, please). Yang parah adalah dosa-dosa yang pernah saya lakukan yang sampai hari ini rasanya sanggup membuat saya tak mampu mengangkat wajah saking malunya. Semuanya saya ingat, sampai ke detil-detilnya.

Damn.

I know.

Namun tentu kenangan indah juga tidak pergi. Dan itu bagus. Penyemangat saya di kala meratapi nasib dan membenci diri sendiri. Karena setelah itu, biasanya saya akan tersadar betapa saya punya banyak hal di dunia ini. Betapa saya diberkahi dengan banyak hal. Betapa saya tidak pantas berkeluh kesah di saat banyak orang-orang lain sama sekali tak punya apa-apa.

Saya ingat semua kelahiran anak-anak saya. Detik-detik menjelang saya memeluk mereka untuk pertamakalinya di dada saya. Merasakan sakit dan berjuang untuk mereka dan untuk saya sendiri. Pertama kali mereka mengucapkan kata pertama, belajar berjalan, masuk sekolah dan lain sebagainya. Saya harus terus mengingat ini sebab banyak orang lain di luar sana (termasuk beberapa teman) yang kesulitan mendapatkan anak karena satu dan lain hal. Betapa Allah bermurah hati kepada saya. Diberi-Nya empat anak sehat secara fisik dan elok secara perilaku.

Saya ingat manis pahitnya berjuang dalam hidup bersama suami. Sebab kami menikah di usia muda. Ia 23 tahun, saya 21 tahun. Kami bukan berasal dari keluarga kaya raya hingga segala sesuatu mesti diperjuangkan. Belasan tahun hidup bersamanya, jatuh bangun, dalam senang dan susah, for better or worse. Kenangan pahit? Tentu ada. Banyak malah. Dan setiap mengingatnya, saya mengerenyit sebab saya manusia yang penuh dengan rasa malu dan cenderung ingin bersembunyi. Bersembunyi dari kekurangan diri yang menggunung dan ingin menampakkan ‘yang baik-baik saja’ di depan orang lain.

Kesulitan saat menuntut ilmu juga salah satu yang saya ingin ingat. Saya yang sangat suka belajar ini tidak melulu sukses dalam pendidikan. Banyak hal dalam perjalanan saya mencari ilmu yang membuat saya melek bahwa, ‘hey, kamu bukan yang terpintar di jagat ini, you know nothing‘. Pendidikan membikin saya tersentak dan berpaling dari fakta terpaksa bahwa saya bukanlah poros dunia. The world doesn’t revolve around me. Semakin saya tahu, sejatinya saya belum tahu apa-apa. Duh. Kenyataan yang menghentak dalam sekejap.

Saya tidak mampu dan tidak akan mau mengungkap secara eksplisit apa kenangan yang ingin saya simpan dan mana yang ingin saya usir jauh. Saya sudah lama belajar bahwa privacy adalah sesuatu yang indah dan hanya bisa terasa keindahannya jika tidak terlalu sering diumbar. Sama seperti, saya memilih untuk tidak bercerita apapun mengenai anak-anak saya di sosial media. Pertama, karena mereka tidak menyukainya. Kedua, karena kebahagiaan yang saya dapat dari anak-anak bersifat begitu intim dan terlalu murahan untuk diumbar dalam sajian berupa status yang bisa dibaca banyak orang. Ketiga, saya tidak ingin terjebak menjadi orangtua yang mengaku-aku. Membeberkan prestasi anak dan berbangga karenanya. Sebab sebagai orangtua saya masih merangkak, masih belajar dan masih salah. No offense.

Jadi demikianlah.

Kenangan yang baik dan buruk, yang membuat hati berbunga-bunga atau membuat wajah memanas adalah bagian dari hidup. Sebab kamu dan saya adalah manusia. Manusia yang adalah tempat salah dan lupa. Manusia yang sempat membuat Malaikat ragu dan bertanya pada Allah, sebab mereka tidak yakin Allah mau menciptakan makhluk yang demikian berpotensi merusak.

Kenangan itu, jangan dimusuhi. Jangan dihindari, usah disesali. Sebab ia cara pencipta-Mu mengingatkan. Bahwa kamu harus berhenti sejenak, dan merenung. Langkah apa yang sebaiknya kamu ambil, bukan sekedar gerak impulsif. Sebab kamu semestinya belajar dan kenangan memang mengajarimu. Untuk jadi lebih baik.

Semua larik warna kenangan yang membentukmu, sejatinya kau akan belajar, untuk menjadi putih.

Posted in 30 Hari Menulis 2017, about me

In the bus


#30HariMenulis
Hari 17

Tema ; Menulislah tentang kisah inspiratif yang pernah kamu alami atau temui dalam sebuah PERJALANAN.

Suatu hari di tahun 1997, saya naik Bus Damri dari Alun-alun Bandhng menuju rumah. Jurusannya Ciburuy-Alun2. Bus yang sangat melegenda untuk warga Cimahi dan Padalarang.
Saat itu saya masih mahasiswa baru semester 1 yang masih malu-malu menapakkan kaki ke ‘kota’. Maklum, Cimahi kota administratif yang kecil.
Di Bus Damri saya kebagian tempat duduk yang kemudian saya berikan pada seorang ibu tua. Keputusan yang kemudian saya sesali, tapi mau bagaimana lagi. Saya ga ada bakat jadi orang ga baik sih.
Berdirilah saya.
Makin lama penumpang makin penuh. Otomatis, jarak orang-orang yang berdiri tambah rapat. Waktu itu tas kecil yang saya bawa saya selempangkan di depan tubuh supaya aman dari pencopet.
Di samping saya ada seorang pria. Ia kadang menempel rapat, apalagi saat Bus mengerem mendadak. Namun lama-lama saya jadi merasa tak nyaman, sebab ia terus-terusan merapat mau direm atau tidak itu bus.
Saya menoleh padanya. Wajahnya lempeng. Saya bergeser, ia ikut bergeser. Yang lebih kurang ajar lagi saya bisa merasakan tangannya diam-diam menyentuh bagian paha saya.
Sempat ragu dan takut. Apalagi usia SMP saya pernah mengalami pelecehan yang tidak bisa saya adukan kemana-mana. Pelecehan yang dilakukan guru di sekolah yang membuat hidup saya hampir hancur berantakan.
Teringat kejadian itu, saya jadi terpacu untuk melawan. Saya bergeser lagi, ia ikut bergeser, begitu terus. Sampai akhirnya,

“Heh! Jangan kurang ajar ya!” Saya pelototi dia.

Penumpang yang berdiri di sekitar kami sontak memerhatikan.

“Apaaa??” Jawabnya dengan wajah menantang.

“Jangan kurang ajar ya, kamu pegang-pegang dari tadi …” saya makin melotot. Padahal jujur, hati ini lemas rasanya.

“Ih, geer pisan sih!” Di mencibir.

Geblek.

Kemudian dia memalingkan wajah dan mengomel, menyentuh pria yang ada di dekatnya dan menunjuk saya. Dia seolah ingin dapat dukungan untuk membuktikan kalau saya geer dan kecentilan.
Posisi saya tidak berubah, masih menatapnya tajam. Lama-lama ia beringsut mundur ke belakang bus, melewati beberapa orang. Mulutnya masih mengomel, namun orang-orang tak ada yang peduli.
Saya menghela napas. Mata saya sudah panas sebetulnya karena tiba-tiba ingin menangis. Antara malu dan takut.
“Neng,”

Seorang ibu mencolek saya.

“Emang kurang ajar nya Neng, ibu juga lihat dia dari tadi kayak gitu …”

Saya memandang si ibu dengan hati mencelos. Kemana dia waktu si brengsek itu bilang saya geer? Kenapa ibu tidak membela saya?
Saat itulah saya sadar bahwa bagaimanapun seorang perempuan harus mampu membela dirinya sendiri.
Di alun-alun Cimahi saya turun.