Posted in 30 Hari Menulis 2016, Uncategorized

Sampai di sini dulu


#30HariMenulis

Day 30
*tulisan hari ke 29 merupakan tulisan kolaborasi, sudah disetorkan teman, tidak saya simpan di sini*
*takut ada yang nanya*

Tempo hari serial Game of Thrones season 6 berakhir. Saya harus menunggu sekitar 10 bulan ke depan untuk bisa menikmati lanjutannya. Hati sudah mencelos. Tidak akan ada lagi hari Senin jam 8 pagi menclok depan TV untuk menonton dan kemudian membahasnya di grup film.
Seperti itu pula perasaan saya pasca berakhirnya kegiatan 30 Hari Menulis tahun ini. Terasa hampa. Besok-besok, saya tidak akan lagi memposting postingan baru sehabis sahur. Tidak akan lagi memeriksa tulisan banyak orang, haha hihi sendiri, sedih sendiri. Tidak akan lagi memberikan endorsement untuk yang tulisannya saya nilai ketje.
Kegiatan menulis selama sebulan penuh ini bukan yang pertamakalinya. Namun sekitar dua tahun terakhir, saya intens terlibat sebagai host. Tidak ada voting sih, semua terjadi begitu saja wkwkwkwkw
Setiap hari, saya menikmati proses menulis setiap peserta. Membaca tulisan-tulisan mereka terkadang memberi semacam insight seperti apa mereka di dunia nyata. Biarpun saya tidak berkomentar, atau memberikan jempol, sebenarnya saya membaca semua tulisan peserta. Karena saya ingin setiap peserta merasakan hal yang sama dan perlakuan yang sama.
Tahun ini, tema dibuat dengan lebih banyak tantangan. Saya senpat dibuat keder karena di awal banyak para penulis yang sudah saya kenal menyatakan keberatan mereka atas tema-tema yang dinilai lebay. Namun, seiring berjalannta waktu, saya malah berbangga hati karena para peserta terlihat antusias menulis tema demi tema.
Tahun ini juga saya senang melihat para peserta saling membaca karya-karya yang lain, saling berkomentar. Ini sebuah kebiasaan yang patut dipertahankan. Ada kalanya seseorang senang menulis dan senang dikomentari tapi ia malas berbuat yang sama kepada rekan sesama penulis.
Di tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh peserta. Baik yang konsisten maupun yang bolong-bolong, ataupun yang berhenti di tengah jalan. Saya yakin, kalian semua senang menulis dan pandai menulis. Persoalan telat setor, listrik mati dan sebagainya memang masalah yang di luar kemampuan siapapun.
Terima kasih juga untuk para sponsor yang sudah menyumbangkan hadiah. Semoga tahun depan hadiahnya tambah banyak biar tambah semangat. #kode
Maafkan, jika sebagai admin saya kadang mengambil sikap keras soal keterlambatan penyetoran. Saya pun mengalaminya entah di hari keberapa, karena listrik mati setelah Maghrib sementara saya belum menulis apapun. Saya ingin aturan deadline yang dicanangkan dari awal memang menjadi cambuk buat kita semua supaya lebih disiplin menulis. Tantangan juga kan, setiap hari dibuat repot mesti nulis.
Semoga tahun depan kita bisa bertemu kembali.
Terima kasih banyak.

Posted in 30 Hari Menulis 2016, about me

This is me


#30HariMenulis

day 28

tema ; “Jika kamu LAJANG, menulislah seolah-olah kamu sudah menikah. Jika sudah MENIKAH, menulislah seolah-olah kamu masih lajang”

 

download

 

Saya menikah di usia relatif muda, 21 tahun, saat masih kuliah. Di saat teman-teman masih bisa nongkrong sehabis kuliah, saya sudah harus pulang untuk memasak sayur asam yang resepnya baru saya dapat dari tetangga :D.

Sekarang, di saat rata-rata teman sedang direpotkan oleh anak pertama atau kedua dengan usia sekitar SD, anak pertama saya sudah mau masuk SMA.

Itu salah satu hal yang saya sukai dengan fakta menikah muda. Rata-rata teman-teman anak-anak saya memiliki orangtua yang berusia antara 45-50 an. Makanya terkadang sering tidak dipercaya, sebagai ibunya anak-anak. Terutama si sulung dan nomor dua. Di acara perpisahan anak saya tempo hari, dimana saya jadi panitianya, seorang ibu orangtua murid menyapa saya dengan panggilan “Neng”. Antara malu dan senang sumringah.

#ditabokseluruhPeserta

 

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa terkadang saya ngiri juga lihat orang-orang lain, yang memiliki lebih banyak waktu untuk dirinya sendiri, karena mereka masih lajang. Mereka masih bisa nongkrong lama sehabis jam kerja, bisa pergi wara wiri tanpa perlu ngecek kalender pendidikan apakah pas tidak waktu liburnya. Bisa mengerjakan hobi tanpa diganggu rengekan si kecil yang minta perhatian atau kakaknya yang kepingin curhat.

Andaikan saya masih single di usia sekarang, mmh … mungkin kegiatan yang dilakukan tidak jauh berbeda. Bedanya hanya di kuantitinya saja.

Dengan kondisi ibu beranak empat seperti sekarang pun sebenarnya saya termasuk kategori emak-emak hepi. Saya dan suami tidak terlalu memusingkan kondisi rumah yang masih acak-acak (alaasaaaan), yang penting nyaman. Saya bekerja part time di luar rumah, sesekali masih bisa nongkrong asal dapat ijin juragan, masih bisa gabung di klub film, nonton bareng dll.

Jika ibu-ibu lain mengeluhkan susahnya cari waktu untuk membaca, misalnya, saya malah heran. Karena saya masih bisa membaca setiap hari sambil ngasuh anak. Apakah saya tidak beberes rumah? Oh tentu. Masak? Saya sering masak, meski ga selalu. Kalau mepet, mending beli saja, praktis. Memang saya punya asisten dan ibu di rumah, tapi pernah suatu masa ibu saya tidak ada dan asisten belum punya, nyatanya aman-aman saja.

Jadi, jikalau saya single, sepertinya ga jauh beda.

Paling-paling saya bakal jarang pulang ke rumah hahaha. Soalnya saya orang yang ga bisa diem. Terbayang saat Ramadhan begini, jadwal bukber penuh karena social networking saya yang mewabah kemana-mana. Maksudnya, segala tawaran diterima.

yang beda lagi, mungkin saya lebih konsentrasi belajar. Nah, itu. Back to school. Saya orangnya senang belajar. Seringkali berangan kuliah ini itu (lebih dari dua jurusan #tsaah), tapi ujung-ujungnya karena mentok sama anak dan keluarga jadi mikir ulang. Seandainya single, pasti beneran itu balik lagi ke sekolah. Sekolah lagi, maksudnya ya.

 

Tapi ya, ini kan cuman berandai-andai. Saya tidak pernah menyesal sedikitpun dengan kondisi sekarang. Biarpun ngiler liat temen-teman yang single masih bisa jalan-jalan kesana kemari. Biarpun kabita liat orang yang gampang aja belanja ini itu tanpa harus memikirkan apakah susu anak udah kebeli belum. Saya sih ga mau nuker kondisi yang sekarang dengan apapun. Biarpun iming-imingnya, diajak jalan-jalan sama Josh Duhamel keliling dunia pake jet pribadi yang disupirin sama Nicholas Cage dan bisa beli semua yang saya mau di sepanjang Champs Elysee di Paris.

Being married with children has given me new breath, new life. Para lajang takkan mengerti rasanya ketika menatap bayi yang baru dilahirkan dengan penuh haru. Mereka ga akan mengerti rasanya bisa membelikan sesuatu buat anak setelah berusaha keras (karena harganya mahal) dan anak menatap kita seolah kita superhero terbaik sedunia dan akhirat. Mereka takkan tahu rasanya dipijit punggung sama suami setelah capek beraktivitas seharian.

Mereka tidak tahu, Anii !!

#DilemparinBakiakSamaParaLajangsedunia

 

Jadiii, ga tau sih yaaa … single dan married kan pilihan yaa. Dua-duanya  punya kelebihan dan kekurangan. Hanya yang kurang bersyukur yang hanya mau melihat satu sisinya saja.

jadi di luar tema hari ini, saya cuma mau bilang;

mau lajang atau sudah menikah juga, terserah

yang penting kamu bahagia

itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in 30 Hari Menulis 2016, Family, humaniora

Saya, takut


#30HariMenulis

Day 27

tema : menulis sesuatu yang membuatmu takut

5d97566a2470504ebfd5abd863784bd4.jpg

 

TAKUT NOMOR SATU

“Apakah semua orang Kristen, jahat??”

Saya pernah terhenyak dengan pertanyaan yang terlontar dari anak SD ini. Saya langsung bertanya mengapa ia sampai punya pemikiran seperti itu. Tak usahlah saya ceritakan siapa si anak dan apa jawabannya. Tapi satu hal saya tahu. Ada beberapa orang yang dengan entengnya mengumbar  pendapat pribadinya tanpa tedeng aling-aling dan membaginya dengan anak kecil.

Seorang teman lain pernah bercerita. Saat ia sedang berada di rumah familinya, terdengar suara orang mengetuk pintu. Anak pemilik rumah, juga usia SD,berlari dan membuka pintu. Tak lama, ia terdengar berteriak,

“Mamaaaaaaa …. takuuuuut ada orang Cinaaaaa !!!”

Tak terbayang bagaimana wajah si tamu saat itu.

Di lain hari, seorang murid bercerita pada saya. Ia mempunyai darah Tionghoa dari ayahnya. Ia bilang, di sekolah ia tidak punya banyak teman, hanya beberapa orang saja (ia sekolah di sekolah menengah kristen).

Why?” saya bertanya. Sulit membayangkan gadis di hadapan saya sulit bergaul, karena ia sangat supel dan pintar.

I don’t like most of my friends,” jawabnya.

Kemudian dia bercerita bahwa teman-teman di sekolahnya mayoritas keturunan Tionghoa beragama Kristen. Meskipun begitu terdapat pula kaum minoritas, siswa beragama selain Kristen dan bukan Tionghoa.

‘temen-temen aku tuh pilih-pilih, temenan sama orang yang bukan Chinese, ga mau. Sama yang muslim ga mau. Males kan Miss, ya udah aku juga ga mau temenan sama mereka.’

 

Ini salah satu ketakutan saya.

Semakin lama, rasisme, diskrimasi antar agama dan golongan, chauvinisme berkembang seperti jamur di musim hujan. Sedari lama kita sudah terbiasa mengkotak-kotakkan orang. Setiap orang ada kelompoknya, ada tempatnya. Yang berani berada di tengah-tengah biasanya dijauhi, apalagi yang menyeberang. Siap-siap lah di-bully.

Mengingatkan sama film Divergent, dimana semua manusia digolongkan ke dalam faksi-faksi.

Saya teringat masa kecil di sebuah SD negeri di kota kecil. Sebagian dari kami adalah Muslim, sebagian kecil lainnya dari agama yang berbeda-beda. Suku kebanyakan adalah Sunda, sisanya campuran.

Saya ingat punya teman sekelas yang pintar sekali. Namanya Ucok. Kami tahu dia orang Batak tapi kami selalu tertawa saat pembagian raport dan Ibu Guru memanggilnya dengan nama asli. Namanya Perdamaian Sitompul. Walaupun, Ucok bilang di keluarganya, namanya dilafalkan ‘pardamean’.

Waktu kami godai dia, Ucok senyum-senyum saja, tapi kami tetap bermain, tetap rukun.

Di kelas 3 SMP, ada teman sebangku saya seorang anak perempuan tomboy, namanya Lina. Kami panggil dia RX, lagi pas jaman-jamannya Ksatria Baja Hitam RX. RX orang Manado, agamanya Katolik.

Setiap pelajaran agama Islam, RX kadang malas  keluar. Ia duduk barengan kami mendengarkan guru agama. Surah Al-Fatihah ia hapal. Kami mentesnya suatu hari. Saat ia beres melafalkan surah itu, kami bertepuk tangan. Iseng, teman laki-laki ada yang menyuruh RX untuk melafalkamn syahadat. RX mau aja, dasar anak-anak. Beres bersyahadar, kami menyelamatinya,

“Selamat ya, Kamu udah masuk Islam,’

kemudian kami semua tertawa-tawa.

Mungkin akan ada yang bilang kelakuan kami di atas keterlaluan. Mungkin bahkan bisa digolongkan penistaan terhadap agama. Tapi, sungguh saya rindu saat-saat itu. Saat pretensi cenderung tak ada. Kami terpesona saat teman kami bisa melafalkan surah al fatihah berikut syahadat dengan baik, simply because we didn’t expect her to do so. Sama seperti RX berkali-kali meminta saya mengulang bacaan Qur’an saat saya hendak dites mengaji. RX bilang, “Kamu ngaji itu suaranya enakeun”

Sampai hari ini RX masih Katolik.

Okay, mungkin contoh di atas tidak terlalu representatif dan signifikan. Bagaimanapun, benang merah yang ingin saya tarik adalah hari ini, manisnya perbedaan amat sangat jarang saya rasakan.

Entahlah, dunia yang semakin moderen, teknologi yang semakin canggih, semakin jauh pula manusia antara satu dan lainnya.

Suatu hari, saya mengkhawatirkan datangnya masa ketika kita semua benar-benar tinggal di ghetto-ghetto ekslusif yang jauh dari satu sama lain. Dikelompokkan berdasarkan agama, ras atau golongan.

Di luar ghetto, terdapat mansion megah yang dihuni Donal Trump dan antek-anteknya.

naudzubillahimindzalik.

hiyy

 

evey-child-deserves-a-parent-but-not-every-parent-deserves-a-child-children-quote.jpg

TAKUT NOMOR DUA

 

Jika ada golongan orang yang paling sering saya nyinyiri selain para for-no-reasons -haters, itu adalah para orangtua yang tidak pernah tahu bagaimana seharusnya ia sebagai orangtua. Maunya saya sih menggunakan kata yang lebih kasar, tapi asa ku teu kudu.

 

Banyak orang yang diberi kepercayaan oleh Allah berupa anak, tapi mereka tidak tahu atau tidak mau tahu bagaimana ‘mengelola’ kepercayaan tersebut. Pengalaman saya sebagai tenaga pengajar selama bertahun-tahun menorehkan pelbagai pengalaman bersama anak-anak didik yang notabene adalah cerminan orangtua mereka.

yes, you heard me right. CERMINAN.

jadi, kalau kamu orangtua, dan anak kamu bermasalah, ga usah capek-capek nunjuk. Berjalanlah ke depan cermin dan tataplah orang yang kamu lihat di sana. Ia lah alasannya.

Saya kasar, iya saya tahu.Tapi silakan kamu jadi orangtua dulu. Supaya tahu.

Banyak orang yang merasa sudah oke ketika sudah bisa membelikan berbagai barang yang anak perlukan. Tanpa mereka sadari, yang anak perlukan adalah mereka, keberadaan mereka. Banyak orangtua yang memerlakukan anak mereka menjadi semacam tropi, yang senang mereka bangga-banggakan di pelbagai kesempatan. Padahal yang anak-anak mereka perlukan hanyalah stop membandingkan mereka dengan anak orang lain dan stop menekan mereka menjadi seseorang yang bukan mereka.

“Nilai aku cuma 80, Bu” seorang muridku mengadu sedih.

“Bagus dong,” balasku.

“Engga, papaku selalu bilang, nilai bagus itu 100” wajahnya mengkerut hendak  menangis.

Saat itu juga, rasanya saya pengen nyeret ayahnya dari padalarang sampai Gedung Sate, sambil ditusuk-tusuk pake tusukan sate.

ai maneh cageur??

Mahasiswa-mahasiwa yang mampir di kelas saya banyak yang mengadu tentang jurusan kuliah yang tidak mereka suka. Hanya karena keinginan orangtua mereka terpaksa di sana. Lebih parah, mereka dipaksa mengambil jurusan yang dulu gagal dimasuki orangtua mereka.

How sick is that?

Seorang teman bercerita betapa adik laki-lakinya menderita selama 4 tahun karena harus berkuliah di jurusan pilihan ibunya. Beres wisuda, ia menghadap ibunya dan menyerahkan ijazah berikut transkrip nilai pada ibunya.

“Kan mamah yang dulu pengen aku kuliah dan jadi sarjana, Nih, buat mamah saja.Aku ga butuh. Boleh ya aku bebas sekarang??”

Ibunya menangis hebat.

Saya bingung, antara kasihan atau tidak sama ibunya.

Saya tidak pungkiri banyak juga anak yang memang menjadi ujian bagi kedua orangtuanya. Berapa banyak anak nakal yang membuat kita heran karena ayah ibunya terlihat perfect.

tapi, please … every child born innocent. Think. Think smart.

Apa yang menjadi ketakutan saya?

Ngapain kamu jadi seniman? tukang mengkhayal!

Saya takut suatu hari, anak-anak tak lagi mampu bermimpi karena mimpi mereka keburu dihempas egoisme orangtua.

 

Kamu kalo lagi nyetir di jalan, tiap ada kesempatan sikat aja, kalo ga, ketinggalan!

Saya takut anak-anak tumbuh menjadi pribadi egois, karena orangtua tidak mengajarkan mereka untuk berbagi dan mengasihi.

 

kamu kalo mau bahagia, harus punya uang banyak, bisa beli apapun!

Saya takut anak-anak menjadi generasi snob yang mengukur segala sesuatu dari materi, karena itulah yang mereka lihat dari para orangtua.

 

Kalau Ibu anu nelepon, bilangan Mama ga ada ya?

Saya takut anak-anak tumbuh sebagai pembohong karena itu yang diajarkan orangtua mereka.

 

Masa gini aja ga bisa?? lihat tuh anak si anu, bisa ini bisa ituuu ga kayak kamu!

saya takut anak-anak tumbuh tidak percaya diri dan cenderung membenci diri sendiri.

 

Sungguh, saya takut.

 

Karena memiliki anak yang hebat bukan untuk dibanggakan. Bukan untuk dipamerkan apalagi dibandingkan.

Memiliki anak yang hebat adalah investasi.

supaya suatu hari, ketika masa kita habis di dunia, kita bisa sedikit lega dan tenang.

karena kita tahu, kita telah meninggalkan generasi tangguh di belakang kita.

 

 

 

 

 

Posted in 30 Hari Menulis 2016, Fiksi, Uncategorized

Vous venez d’où?


#30HariMenulis

Day 26

Tema : Tulislah mengenai hidupmu, seolah-olah kamu bukan WARGA NEGARA Indonesia

Kurapatkan jaket. Hari ini lebih dingin dari biasanya. Kulirik termometer di dinding. 11 derajat. Fiuuuh pantesaan. Biasanya sih kisaran 13-14 derajat. Apalagi sekarang bulan April sebentar lagi spring, tapi musim dingin masih menitipkan sisanya.
Setelah mengucapkan salam kepada nenek yang sedang merajut pakaian di ruang tengah, aku membuka pintu depan. Rumah kami hanya berjarak kurang dari satu kilometer dari menara Miring di kota Pisa, Italia. 
Di ujung jalan menuju belokan kompleks Pisa, aku bertemu dengan rekan-rekan sesama pedagang.

“Assalamualaikum!” Seruku, yang disambut mereka semua dengan sumringah.

“Ousmane, allez, vite! Cepat! Nanti kehabisan!” Yossou, temanku memanggil. Di tangannya kulihat sudah ada setumpuk scarf dan pelbagai aksesoris.

Wajarlah, kami semua bersemangat hari ini. Awal bulan April seperti sekarang, wisatawan biasanya membeludak. Cuaca yang sudah cukup ramah dari pergantian musim dingin ke musim semi adalah salah satu alasannya.
Aku segera meminta jatah jualanku. Tak lama, setumpuk pashmina dan aksesoris sudah kugenggam.

Bismillahirrahmanirrahim. Semoga ada rezeki hari ini. Aku ingin membawa nenek ke dokter. Batuknya belum mereda sejak dua minggu terakhir.
Di sepanjang jalan menuju kompleks menara Pisa sudah banyak orang. Padahal ini belum pukul 10 pagi. Bis-bis dari berbagai negara sudah terparkir rapi. Aku sering terkagum-kagum dengan bis-bis mewah itu. Kudengar di dalamnya ada toilet dan pasti rasanya nyaman sekali. Ah, kapan ya aku bisa ikut paket wisata keliling Eropa seperti mereka.
Buongiorno, senor! Selamat pagi! Souvenir?? A buon mercato! Suvenir murah!” Aku mulai berjalan sambil sesekali menawarkan daganganku pada turis-turis itu.

“Monsieur, souvenir? Moin cher! 5 euros! 5 euros!”
Teman-temanku sudah mulai dikerubungi para turis. Aku tak mau kalah. Aku harus berhasil membawa pulang uang hari ini.

Aku berteriak lebih kencang,

Souvenir!! Cheap, only 5 euros!”
Di sudut mata aku menyaksikan tetanggaku, Ismael sedang menguntil dua turis berkulit putih. Oh non, ia pasti mau nyopet. Aku mendelik ke arahnya saat kami bersirobok pandangan. Ia mengacungkan tinjunya padaku, dengan gesture mengancam. Huh, tak kapok-kapok dia rupanya. Tahun lalu, ia dan konco-konconya sesama pencopet membuat tempat tinggal kami jadi rusuh karena kedatangan polisi Italia. Polisi mendapat banyak laporan soal turis yang dicopet di daerah Pisa. Salah satu teman Ismael tertangkap tangan. Habis itu, sekampung kami sukses ditanya-tanyai polisi plus surat-surat kami diperiksa. Banyak kawan-kawan yang baru datang terpaksa menggelandang ke kantor polisi karena ketidaklengkapan surat. Alhamdulillah, aku generasi ketiga, keluargaku yang mengungsi ke Italia. Kami sudah tercatat di sini.
Kelakuanku mendelik pada Ismael cukup menbuahkan hasil, karena dua turis yang ia incar serta merta melihat ke arahku dan akhirnya menoleh ke belakang. Ismael langsung pasang wajah tak berdosa. Si dua turis langsung berjalan agak tergesa, menjauh.
Sukurin!!

Kami memang keluarga imigran tapi nenek selalu bilang padaku, untuk jujur, seperti nabi Muhammad.

Nous pourrions ne pas avoir beaucoup d’argent, mais nous devons rester honnête”

Nenek bilang mungkin keluarga kami tidak punya banyak uang, tapi kami harus terus jujur. Banyak keluarga imigran lain yang mencari jalan pintas dengan mencuri atau bahkan memalak. Penghasilan sih lebih besar, tentu. Tapi hidup tidak tenang, karena polisi bisa kapanpun muncul di depan pintu.
Tak terasa sudah mendekati waktu ashar. Aku sudah bolak balik dua kali mengambil dagangan ke agenku. Perutku lumayan hangat setelah dijejali kebab dan air mineral tadi. Kebab gratisan dari sahabatku, Khan. Khan membuka warung kebab tepat di pintu masuk kompleks Pisa. Salah satu warung sih, tepatnya. Kalau kalian sempat bertandang ke sini, jangan lupa mampir ke warung kebabnya Khan. Kalau kalian muslim, pasti gampang menemukannya, karena ada tulisan “halal” di jendela. Khan berasal dari India. Ia di sini bersama ibu dan adik perempuannya. Kami bersahabat. Tak jarang aku disuruh ya ikut menjaga warung jika ia sibuk.
Aku mulai berdiri lagi dan bersiap menjajakan barang daganganku.

Combien ça coute? Berapa harganya?” Suara seorang perempuan menyapa. Tangannya menunjuk pashmina yang kupegang.

Aku perhatikan dia. Dia berkerudung. Tapi bukan Arab sebab hidungnya tak setegas timur tengah. Warna kulitnya bukan putih tapi tidak juga hitam. Usianya sulit kupastikan. Ia tersenyum. Sebelah tangannya memegang stroller bayi. Di dalam stroller ada anak lelaki berusia, entahlah, mungkin dua tahun.
“10 euros, Madame,” jawabku.

vous avez dit qu’il était 5 euros, katanya tadi 5 euro” keningnya berkerut.

Cinq euros pour l”accesories, les veils sont 10, aksesorisnya yang 5 euro, kerudungnya 10″ kataku menerangkan.

rabais s’il vous plaît, diskon doong” katanya, tersenyum lagi.

Aku terdiam. Otakku berhitung.

25 euros, trois! 25 euros dapat tiga”

“20” jawabnya tenang.

“Mmh … Alors, 22 euros madame” kataku, tidak ingin berlama-lama.

D’accord, setuju” katanya. Ia kemudian merogoh-rogoh tas di pundaknya. Seorang pria tinggi besar, cenderung ehem, gemuk menghampirinya. Ia kemudian bercakap-cakap dengan si bayi di dalam stroller. Oh, suaminya, rupanya.
Memberanikan diri aku bertanya,

Excusez-moi, Madame. Vous venez d’où? Maaf Bu, darimana Anda berasal?”

Je suis Indonesien,” katanya sambil menyodorkan lembaran uang.

Indonesie?” Otakku berputar mengingat peta yang pernah kuliat di halaman buku sekolahku, dulu.

Oui. En Asie. Di Asia,” 

Aku mengangguk-angguk. Tanganku menerima uang dan dengan  cepat membungkus pashmina untuknya.

Vous venez d’où?” Gantian dia yang bertanya.

“Sénegal,” senyumku lebar.

Aah, je sais. En Afrique? Oh aku tau, di Afrika kan?”

Oui, oui. Vous savez! Anda tau!” Aku kegirangan sendiri. Entah kenapa jadi merasa bersalah karena aku tak tahu dimana letak negaranya.

Je suis musulman, comme vous. Aku juga muslim, sama seperti Anda.” Kataku menambahkan, cepat-cepat.

Suaminya berkerut memandang kami berdua. Wanita itu berpaling dan berbicara padanya. Seperti ha ia menerjemahkan untuk suaminya. Sang suami lalu tersenyum padaku.

Madame, les Indonesiens, ils parlent français? Orang Indonesia bicara bahasa Prancis?” Tadinya kupikir begitu, tapi setelah melihat gelagat suaminya, aku jadi ragu.

Ia tertawa.

Non, nous parlons Indonesien. Mais j’appris français à l’univérsité. Tidak, kami bicara bahasa Indonesia. Saya belajar Prancis waktu kuliah.”

Aku mengangguk-angguk.

vous n’êtes pas seul gentille , mais aussi intelligente. Anda tidak hanya baik, tapi juga pintar.”

Tawanya makin lepas. Ia berbisik-bisik dengan suaminya. Lelaki itu ikut tertawa.

Merci beaucoûp, makasih banyak” katanya.
Hingga pasangan suami istri itu berlalu menuju salah satu bus yang terparkir, aku masih termangu. Indonesia, terdengar sangat asing namun juga dekat. Jadi begitulah kulit orang Indonesia. Aneh sekali. Berbahasa Prancis pula.

“Ousmane!” Bahuku ditepuk orang.

Youssou tersenyum padaku.

“Ashar, Ousmane. ”

Aku mengangguk. Bergegas aku berlari menuju toilet di dekat situ. Bergantian menjaga barang dagangan bersama teman-teman.
Aku menggelar sajadah di atas tanah dekat tempat parkir bus. Tak ada tempat yang cukup representatif untuk kami sholat. Baru saja aku selesai merapikan sajadah, dari sudut mata aku merasa ada seseorang yang memerhatikan. Aku menoleh. Wanita Indonesia itu sedang memerhatikanku dari dalam salah satu bus. Ia tersenyum.

Aku tersenyum.
Allahu akbar!

Aku bertakbir sambil mengangkat tangan.

Pertengahan April, 2015

*kenangan bercakap bersama para pedagang asal Sénegal di Pisa, Italia. Mereka betulan sholat di jalan dekat parkir. Luar biasa*

Posted in 30 Hari Menulis 2016, Family, humaniora, Keseharian, Uncategorized

Pertanyaan Legendaris


#30HariMenulis

Day 24

Tema : Menulis sesuatu yang kamu benci

Sebentar lagi Lebaran. Hore.

Bisa kembali menikmati makanan di siang hari, makan ketupat, sholat Ied yang selalu menyenangkan dan kumpul-kumpul bersama keluarga. Khususnya keluarga besar.
Nah ini dia yang mau saya bahas.
Jeng jeng!
Kumpul-kumpul sama keluarga besar, yang kadang sudah bertahun-tahun tidak bertemu seringkali berpotensi menimbulkan masalah. Sistem kekerabatan di Indonesia yang sangat erat satu sama lain memiliki kecenderungan intervensi yang sangat tinggi.
Etdaah.
Maksudnya adalah, saat kumpul-kumpul begitu, biasanya yang akan terjadi adalah hal-hal yang selalu berulang dari tahun ke tahun.
Say Yes, if now you know what I mean.
Saat-saat kumpul bersama adalah saat-saat dimana kita akan sering mendapat banyak pertanyaan legendaris yang diawali dengan kata “KAPAN”
Kapan nikah?

Kapan lulus?

Kapan punya anak?

Kapan punya rumah?
Kemudian diikuti dengan pertanyaan yang diawali dengan “KENAPA”
“Belum nikah? Kenapa?”

“Kenapa belum lulus aja? Susah ya?”

“Kenapa anaknya banyak? Emang planningnya begini?”

“Kenapa anaknya ga sekolah di negeri?”
Kemudian setelah “kapan” dan “kenapa” nya kelar, keluarlah statement andalan “KALO SAYA SIH/KALO KATA SAYA MAH”
“Ooh gitu, kalo kata saya mah cepet atuh nikah, makin tua makin susah entar”

“Kalo saya sih dulu kuliah lulusnya 4 tahun, ga mau lama-lama, kasian orangtua”

“Kalo saya mah anak dua aja, yang penting berkualitas”
Sepintas lalu, tidak ada yang salah dengan percakapan ini, ini murni pertukaran informasi yang diakibatkan jarangnya intensitas pertemuan.
Tapi hati-hati, teman. Jangan terjebak dan menjebak. Yakinkah kamu, di balik pertanyaan-pertanyaan itu tidak ada jiwa-jiwa yang tersakiti? Tidak ada hati-hati yang tertoreh?
Ish ish ish.
Saya mafhum, biasanya pertanyaan-pertanyaan ini dilontarkan oleh kerabat yang sudah berumur atau sepuh kepada orang-orang yang lebih muda. Meskipun ada juga sih yang masih muda tapi mental kepo (baca = ikut campur) nya udah akut.
Kalo sudah begitu kan kita, sebagai pihak yang ditanyai hanya bisa pasrah dan mengandalkan survival tactic berupa 3 M:

1. Menjawab pendek

2. Melempar senyum

3. Melipir ke belakang
😂😂😂😂
Boleh dibilang saya termasuk orang yang tidak suka dengan ini. It’s okay to ask questions, but you have to realize when to stop. Kepo boleh saja, tapi harus sadar bahwa tidak semua kita butuh tahu. Dan tidak semua orang mau berbagi, seperti kita juga tidak ingin mengumbar banyak hal mengenai hidup kita ke khalayak ramai.
Apalagi jika pertanyaan yang diajukan sangat sensitif. Lulus kuliah? Siapa atuh di jagat raya yang luas ini yang tidak kepingin lulus cepet-cepet? Tapi kan kita ga pernah tahu apa saja yang dialami seseorang.

Kapan nikah? Kapan hamil?

Basi banget ini pertanyaan. Pertanyaannya sih standar tapi efeknya memalukan. Secara resmi, saya mengucapkan turut prihatin buat teman-teman yang masih mendapatkan bonus pertanyaan ini. Bersabarlah, dijawab atau tidak sebenarnya tidak ngaruh, karena pasti akan ada pertanyaan susulan. Amannya sih dijawab sekedarnya saja, karena toh kita juga tak ingin silaturahim jadi rusak dengan keluarga sendiri.
Yang lebih parah ada juga pertanyaan yang lebih memalukan. Soal berat badan, misalnya. Atau umur.

Suka ga ngerti dengan orang yang dengan entengnya bertanya berat badan atau umur secara sambil lalu. Apalagi nanyanya di hadapan banyak orang. Minta disumpel 100 lembar amplop angpaw yang kosong kayaknya. HIH
Kenapa sih kalau ketemu sodara itu, nanyanya ga yang biasa-biasa saja. Apa kabar, misalnya. Tunggu dulu sampe yang kita tanya menjawab, nah dari situ kembangkan jadi percakapan.
Misal,

“Eh, apa kabar? Dah lama ya ga ketemu.”

“Baik, alhamdulillah”

“Masih tinggal di … (Ngomongin Domisili biasanya aman)

“Waah udah pindah …”

Nah kalo gini jangan bilang “eh kenapa pindah? Rumahnya dijual?” (Kecuali kalo orangnya bilang sendiri)

“Oh gituuu, dimana atuh sekarang?”

“Di …”

“Ooh di situ tau atuh itu mah daerah …”

Nah silakan bercakap-cakap. Aman kan ujungnya kalo ngomongin alamat, trus ke daerah tertentu. Mungkin bisa juga jadi saling tukar info bakso enak daerah situ dimana aja.
Kecuali, kecuali yaaa orangnya emang sengaja mau curhat sama kamu nah itu beda lagi urusannya.
Sungguh ya, sebenarnya ada begitu banyak pertanyaan dan potensi percakapan yang bisa kita pilih tanpa menyebabkan siapapun tersakiti. Karena ya, banyak orang yang jadi males kumpul-kumpul sama keluarga gara-gara alasan ini.

“Ketemu keluarga malah jadi ajang uji nyali” kata salah seorang teman. Yah gimana dong, dibombardir sekian banyak pertanyaan, banyak yang pribadi dan sensitif pula. Sukur deh kalo pulang dari acara kumpul ga langsung depresi. You think?
Tapi kalo yang nanya itu orang yang lebih tua, beda lagi emang urusannya. Ga ada cerita kita bisa ceramahin yang nanya. Itu sih, minta dicoret dari daftar silsilah keluarga besar.

Jadi, kalau posisimu sebagai korban pertanyaan, yah bersabar lah. Pikirkan yang indah-indah, perbanyak senyum dan perbanyak ijin ke toilet. Hahahaha.
Kalau tidak kuat, buatlah kartu dari rumah. Kartunya ada empat. Ditunjukkan pada lawan bicara berurutan ya, dari mulai 1-4. Di atas masing-masing kartu, kamu tulis:

Kartu 1

“Hanya menerima SATU pertanyaan saja, terima kasih.”
Kartu 2

“Mohon maaf, tidak mengharapkan pertanyaan susulan”
Kartu 3

“Tolong jangan mulai kurang ajar ya”
Kartu 4

“Lebaran tahun depan ga usah susah-susah nanya saya ya. BHAY”
Dijamin deh manjur. Lebaran tahun depan kamu ga akan mendapat pertanyaan model begituan lagi. Soalnya kamu masuk black list.


Hahahahahaha

Posted in 30 Hari Menulis 2016, Uncategorized

Lingkaran Takdir


#30HariMenulis

Day 23

Tema : Menulis fiksi komedi/action (pilih salah satu)

 

 

“Tak! Tak!”

Anak cungkring berambut tipis itu menoleh.

“Kemana sih? Buru-buruuu …” Indra menjajari langkahnya.

“Ih ai kamu, aing kan dipesenin si mamah suruh pulang cepet.”

“Ada apaan gituh?”

“Tau euy, pokonya mah pulang cepet we.”

Euh maneh mah. Ya udah atuh. Ntar malem aing telpon ya”

“Sip.”

 
Pulang ke rumah, ternyata betul, Mamah Fetty,   ibundanya sudah menunggu.

“Kamu teh meni lama pulangnya.”

“Ih mamah teh, aku kan naik angkot mah, macet. Makanya beliin motor atuh …” Ia malah merengut.

“Yeuh, Takdir … Hidup teh harus banyak bersyukur. Dikasih segini alhamdulillah aja. Jangan banyak rewel, yang penting berkah.”

“Ai mamah teh mau ngapain nyuruh aku pulang cepet?”

“Kamu jaga rumah nyak. Mamah sama Bapa ada perlu ke rumah relasi bisnisnya si Bapa. Pulangnya malem.”

“Ih apanan ada si bibi, knapa aku disuruh jaga?”

“Euuuh kamu mah ka kolot teh … Si bibi kan asisten rumah tangga. Ari yang punya wewenang mah kan kamu sebagai yang punya rumah. Bisi aya nanaon.”

“Wewenaaaaang …”

“Udah ah, sing anteng di rumah nya, mamah udah siapin malkist kesukaan kamu di kulkas, banyak”

“Asiiik”

 

Mamah pun pergi meninggalkan Takdir yang ngemil Malkist sambil nonton konser Agnes Monica di Global TV.
Kriiiiing !!!

“Hallowww?”

“Tak, lagi apa maneh?”

“Nongton sambil ngemil”

“Nongton apa aih? Emang ada acara bagus?”

“Ada doong … Agnes Monica di Global TV aih”

 

Indra tertawa di ujung sana.

“Ga nyangka euy aing, maneh sukanya Agnes”

“Go internasional nyaho!”

Indra mesem-mesem.

“Tak, aing ke sana ya”

“Euuuh pasti mau curhat.”

“Iih penting pisan ateuuuh.”

“Sok aja, tapi bawa makanan yaa”

“Sip.”

“Sama siapa kesininya? Sandy?”

“Ga, si Sandy lagi bantuin projek adiknya. Numbuhin toge di dalem ember, buat pelajaran biologi.”

“Ooh”

“Kalo aing ngajak si Riko, gimana?”

Sok gandeng si eta teh

“Bae lah hiburan.”

“Nya sok.”

 
Jam 7 malem di teras belakang.

“Maneh mau curhat apaan?” Tangan Takdir sibuk mengeluarkan berbagai camilan yang dibawa Indra.

“Aing lagi ga semangat lah, banyak pikiran. Lelah”

“Njiir …maneh kayak sinetron aja aih ngomongna”

Riko duduk bergabung bersama mereka.

“Pasti Indra mau curhat ya?” Tangannya mencomot sukro. Tangan yang satunya lagi memeluk gitar yang sekalu ia bawa kemana-mana. Memang Riko ini terkenal senang bermain gitar. Mainnya sih jago. Jago bikin orang males, gitu.

“Serius Tak. Semangat nguap euy kayak angin. Entah dimana …”
Jeng jeng 

“🎼 entah dimanaaa, dirimu beradaaa hampa terasa hidupku tanpa dirimu… 🎼”

Tiba-tiba Riko bernyanyi sambil memetik gitarnya.

Takdir dan Indra tak memedulikannya. Mereka sudah tau adatnya Riko. Sedikit bicara, banyak bernyanyi.
“Trus kenapa ai maneh atuh bisa ga semangat gitu?”

“Aing teh penasaran …”
Jeng jeng

“🎼 sungguh mati aku jadi penasaraaan, sampai kapanpun akan kuperjuangkan …🎼”
Indra menghela napas.

“Aing penasaran sama Rosi. Perasaan aing udah kasih segala macem kode, tapi dianya diem aja gitu. Bagaimana caranya aing bisa ngasih tau ke dia bahwa aing pengen lebih dari sekedar temen”
Jeng jeng

“🎼 bagaimana caranya oh sayangku, kuingin jumpa dengan kamu

Bagaimana caranyaaaaaa🎼”
Takdir menoleh pada Riko,

“Maneh tua banget ya Ko, eta lagu taun sabaraha?”

“Jadi gitu Tak … Maleslah aing di prenjon terus sama si Rosi. Padahal udah banyak lah aing anterin dia kemana mana, bantuin ini itu.”

“Masalahna maneh pernah ngomong langsung teu?”

“Blum sih Tak. Kemaren udah mau ngomong nih, udah nekat nih, lah si Rosi malah asik becanda sama si Jepri, anak baru pindahan itu. Jeles, Tak … Jeles”
Jeng jeng

🎼 It’s hard for me to say, I am jealous of the way, you’re happy without meeee🎼
“Ko, maneh lila-lila ngehek nya! Nanaon nyanyi, nanaon nyanyi! HIH ”

Akhirnya Takdir nyolot juga ke Riko.

Yang dibentak memandang sambil kedua matanya berkaca-kaca,

“Tak, yang kamu lakukan ke saya itu jahap!”

“Gandeng, maneh, Ipul!”

Sisa malam itu mereka lewatkan dengan membully Riko dan mengusap-ngusap bahu Indra yang sedang gundah gulana.
Tiga hari kemudian, di sekolah.

Indra mendatangi Takdir yang sedang menikmati Malkist cokelatnya yang ke-tujuh di bawah pohon rindang depan kelas.

“Tak!” Senyum tersungging di bibir Indra.

“Tumben maneh gembira gitu? Baru dapet contekan buat ulangan besok?”

“Iiih …bukaaan … Aing sudah ga peduli sama ulangan. Terseraaaah …”

Keduanya terdiam.

“Aneh nya Ndra, gada si Riko. Biasana sok aya backsound

“Hahahaha”

“Jadi maneh sura seuri gitu kenapa?”

“Aing berhasil Tak, sama si Rosi!”

“Serius, maneh?”

“Iya atuuuh. Malem minggu besok yeuh, aing bakal ngedate sama Rosi di KFC BEC”

“Waaaaah … Naha bisa berhasil kitu?”

“Kuncinya, Tak. Ngomong sama orang yang tepat.”

“Hah?”

“Maneh tau Jimmy kan?”

“Nu ganti pacar siga ganti baju?”

“Taaaah! Aing ngobrol sama Jimmy kemaren. Langsung dikasih jurus bet bet bet! Lancaaaar”

Takdir manggut-manggut.

“Hmm … Takdir, maneh mau ikutan double date ga? Aing nanti minta si Rosi bawa temen lah”

“Eeh ga usah Ndra, ga usah ..”

Indra menatap Takdir dengan prihatin.

“Tak, maneh masih sedih soal dulu itu ya? Gebetan maneh ditikung? Siapa sih namanya? Ooh ku si Fadhil nyaa”

Takdir tertunduk.

“Udah atuh mup on aja ai maneh. Cewek kan ga cuma si Sissy doang.”

“Gapapa Ndra, aing masih belum kepikiran sama cewek lagi da.”

“Njiir … Maneh ke cowok ayeuna?”

“Astaghfirullah … Ga atuh!”

“Iih kirain. Maneh tau Lina ga? Anak IPS? Si eta sok merhatikeun maneh da kalo di kantin. Lumayan bro, bisa diuwel-uwel hahahaha”

Takdir ikut tertawa.

Tak lama setelah tak berhasil meyakinkan Takdir, Indra pun meninggalkan Takdir yang duduk di bawah pohon rindang depan kelas. Menikmati malkist cokelatnya yang ke-8.

 

* maap kalo ga lucu, ini dipersembahkan buat temen-teman di XP Kuadrat yang ga pernah bisa diem seharian*
*penggunaan kata “aing maneh” campur dengan Bahasa Indonesia memang marak di kalangan remaja Bandung*

Posted in 30 Hari Menulis 2016, about me, books

Hail, Rowling!


#30HariMenulis

Day 22

Tema : Menulis tentang seorang tokoh yang dikagumi

 

JK-Rowling_1002500c.jpg

 

Tahun 2000, saya membaca sebuah artikel di koran tentang sebuah buku anak-anak yang sedang banyak diperbincangkan. Iseng saya tanya taman bacaan langganan, apakah punya bukunya atau tidak. Saat itu saya langsung meminjam dua buku sekaligus. Versi aslinya yang berbahasa Inggris diterbitkan tahun 1997.

Yak betul, buku itu adalah serial Harry Potter.

Betul lagi,saya salah satu Potterhead (sebutan untuk fans Harry Potter). Untung ga “PotterBelievers” ntar ketuker sama yang grup sebelah. #eeaaaa

Hingga hari ini, saya masih merasa seri Harry Potter adalah kisah fantasi terbaik. Pasca Harpot ada banyak kisah fantasi lainnya, yang tidak satupun, menurut saya yang bisa mengimbangi Harpot. Entahlah harus menunggu berapa ratus purnama lagi untuk mendapatkan buku baru yang sama bagusnya atau malah lebih bagus.

Kesuksesan Harry Potter, tentu tak lepas dari seorang Joanne Kathleen Rowling atau J.K Rowling, sang penulis, yang kabarnya menjadi salah satu wanita terkaya di dunia saat ini. Ratu Elizabeth saja disalip kekayaannya oleh Rowling.Keren lah pokoknya.

Tapi Rowling tidak serta merta kaya seperti sekarang doong.

Sahabat saya yang sampai sekarang tinggal serumah pernah bilang, ada tiga cara untuk menjadi kaya; terlahir sebagai anak orang kaya, menikah dengan orang kaya atau bekerja keras. Cara yang ketiga adalah yang ditempuh oleh Rowling.

Rowling lahir di Yale, Inggris, 50 tahun yang lalu. Ia memiliki gelar Bachelor of Arts di bidang Literatur Klasik dan Bahasa Prancis. Selain Prancis, ia juga fasih berbahasa Jerman dan  Latin. Ia lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Masa kecil sampai remajanya cenderung tidak bahagia karena ibunya sakit-sakitan dan pernikahan ayah ibunya yang sering bermasalah. Sejak kecil, Rowling sudah sering mengarang cerita dan menceritakannya pada adiknya. Di sekolah, ia dikenal sebagai siswa yang pintar. Rowling sering mengatakan tokoh Hermione yang pintar itu sedikit mirip dengannya semasa sekolah.

Setelah lulus, Rowling bekerja sebagai sekretaris bilingual dan peneliti di Amnesty Internasional. Setelah kematian ibunya, Rowling memutuskan untuk menerima tawaran mengajar Bahasa Inggris di Portugal. Di sanalah ia bertemu suami pertamanya, seorang jurnalis televisi. Dari pernikahan mereka,Rowling memiliki seorang anak perempuan, Jessica. Pernikahan Rowling tidak lama.Dikabarkan Rowling mengalami KDRT dari suaminya.

Rowling pulang ke Inggris dengan membawa anaknya, dan menumpang tinggal dengan adik perempuannya. Di titik ini, Rowling sempat mengalami depresi dan kecenderungan bunuh diri karena tidak memiliki pekerjaan dan harus menafkahi anaknya yang masih kecil. Rowling sering nongkrong di Cafe dekat rumah sambil ngasuh anaknya. Disinilah lahir lembar-lembar pertama kisah Harry Potter. Meskipun ide awal ketujuh buku Harry Potter sebenarnya sudah ia peroleh saat perjalanan naik Kereta bertahun-tahun sebelumnya. Rowling mengakui,banyak kisah di dalam Harry Potter yang dipengaruhi kisah hidupnya sendiri. Kematian ibunya membuatnya menulis soal kesedihan Harry. Rasa depresinya ia tuangkan ke dalam sosok Dementor, yang suka menyedot kebahagiaan orang.

Beres menulis kisah Harry Potter, Rowling tidak langsung sukses di hari pertama.Harpot sempat ditolak banyak penerbit sampai akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba, atas nama takdir Allah, Rowling bertemu dengan penerbit Bloomsburry (yang memiliki hak terbit bukunya sampai sekarang).

Editor buku di Bloomsburry menyarankan agar Rowling tidak mencantumkan nama “Joanne Kathleen’di sampul buku. Alasannya, penulis perempuan cenderung dipandang sebelah mata. Maka, disingkatlah namanya menjadi J.KRowling, supaya terkesan samar apakah lelaki dan perempuan.

Strateginya berhasil.Well, besar kemungkinan juga karena bukunya bagus banget, akhirnya Harry Potter mendulang sukses. Ih,kebayang ya para penerbit yang dulu nolak pasti nyesel deh sekarang. Mungkin mantan suaminya yang abusive jugaaaa hahaha. Revenge is sweet, dear. Eh,kenapa saya jadi puas begini yaa ..skip skip …

Beres tujuh buku Harry Potter sekaligus filmnya, saya sempat khawatir dengan Rowling. Masalahnya, seperti aktor yang suka mengalami kesulitan lepas dari peran terbaiknya, penulis juga begitu. Pesona Harry Potter begitu kuat, hingga jangan-jangan Rowling kehilangan magic touch nya.

Tapi,ternyata saya salah. (Rowling langsung ketawa, hahahaha)

Beres harpot, Rowling menulis sebuah novel dewasa yang bikin agak depresi, judulnya Casual Vacancy. Awalnya, saya agak skeptis, tapi begitu baca.. Oh demi semua goblin yang bekerja di Gringot’s Bank, bukunya bagus. Lebih dewasa, dark dan satire.

Tak cukup di situ, Rowling mencoba beralih genre ke cerita detektif. Menggunakan nama alias Robert Galbraith, Rowling sukses menghidupkan karakter detektif Cormoran Strike di tiga buku yang sudah ditulisnya; The Cuckoo’s Calling, The Silkworm, The Career of Evil.

Saat ini, Rowling sudah menikah dengan seorang dokter dan memiliki dua orang anak.Total tiga orang dengan yang dari pernikahan sebelumnya. Ia dikenal banyak orang, menjadi fenomena dunia dan tidak lagi punya kecenderungan untuk bunuh diri.

J.K Rowling buat saya adalah gambaran bagaimana perjuangan hidup yang sesungguhnya. Dilihat dari sisi hidup,saya lebih beruntung dari Rowling karena tidak harus mengalami perceraian dan menjadi single parent. Tapi di sisi pencapaian, tentu Rowling jauh melampaui saya oh my God, bukan jauh lagii … langit dan bumi keuleus.

*nangis di pojokan*

 

Untuk saya, dan Potterheads lainnya (mungkin), Rowling adalah perempuan istimewa yang sanggup mengejar mimpi dan memilih jalan hidupnya sendiri. Seperti Harry Potter yang berkeyakinan penuh mampu mengalahkan Voldemort, Rowling juga punya tekad baja untuk mengalahkan semua kesulitan yang ia punya.

 

Hail, Rowling!