Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, books

Halaman Terakhir


Buku yang pernah saya tamatkan, dan setelahnya, menimbulkan perasaan kacau balau itu banyak. Setiap buku bagus selalu meninggalkan ribuan perasaan, yang kadang tak bernama, membuat saya memikirkannya berhari-hari, mencoba untuk menangkap apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya.

Untuk saya, buku bagus itu tak sekedar bercerita. Ia menyajikan ribuan kata yang ‘berbicara’, menenunnya satu demi satu, menjadi jalinan utuh, memberi ‘rasa’, menjalin makna dan meninggalkan kesan. Sesuai dengan asal kata; “teks”, dari bahasa latin “tex”, yang artinya “weave” atau menenun.

Salah satu buku terdahsyat yang berhasil membuat saya tercenung selama waktu yang cukup lama, adalah Sirah Nabawiyah, karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, edisi terjemahan.

Buku ini memutarbalikkan emosi saya, dari titik terendah hingga lebih rendah lagi. Tiba di episode akhir kisah Rasul, saya sempat menutup halamannya. Tak kuasa membayangkan hari sesedih itu, saat Fatimah membukakan pintu untuk seorang tamu.

“Assalamualaikum. Bolehkah saya masuk?” tanya orang asing itu.

Fatimah tidak mau mengijinkannya masuk. “Wa alaikumussalam. Maaf, ayahku sedang demam.”

Fatimah bergegas masuk kembali, menemani Rasulullah yang terbaring lemah di atas pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

“Siapa dia, wahai anakku?”

“Tak tahu, Ayah. Baru sekarang aku melihatnya,” jawab Fatimah lembut.

Muhammad SAW kemudian menatap wajah putrinya dalam-dalam dengan pandangan yang menggetarkan.

“Ketahuilah, Fatimah. Ia lah yang menghapuskan kenikmatan sementara, yang akan memisahkan pertemuan di dunia. Ialah sang malaikat maut.”

Fatimah tergugu dalam tangis.

Saya ingat, saya harus menutup buku itu sementara, dan terisak dalam diam.

Porak poranda perasaan ini, sebab saya bersama 1,8 milyar manusia lainya di bumi ini mencintainya. Laki-laki sederhana yang Allah utus untuk menyempurnakan agama ini. Lelaki yang bahkan belum pernah kami bertemu muka, tak pernah kami dengar suaranya, namun ia ada di hati saya, dan di hati semua orang yang telah mentasbihkan hidup mereka di jalan ini.

Perasaan yang sama saya rasakan di tahun 2012. Saat saya kehilangan kakek. Lelaki yang membesarkan saya, mengambil saya dan merawat saya dengan cinta.  Tidak ada hari, dimana ia tak pernah menyayangi saya dengan tulus. Hari itu, perasaan saya juga porak poranda. Kakek saya bukan seorang nabi, ia hanya lelaki biasa yang sesekali menjadi Imam di Masjid dan berpikiran sangat konservatif. Pun begitu, saat ia menutup buku kehidupannya; saat sudah waktunya saya harus melepaskannya untuk berpulang kepada Dia yang menciptakannya, saya juga tergugu. Saya juga terisak. Hati saya melesak ke pusaran yang lebih dalam dari sekedar patah hati. Hingga hari ini, saya selalu kesulitan bicara dan menahan gemuruh di dada jika saya melihat kakek tua yang akan mengingatkan saya padanya.

Sudah banyak sekali buku yang saya baca. Buku-buku yang meninggalkan kesan mendalam. Entah sedih, entah bahagia, entah kesal, atau campuran semua rasa yang ada. Namun buku saya sendiri belumlah habis, buku ini masih berlanjut dengan goresan pena yang saya torehkan sendiri.

Buku ini suatu saat akan habis.

Ia akan tiba pada halamannya yang terakhir.

Seperti halnya buku dari setiap helai jiwa di muka bumi ini.


أَللّٰهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمُرِىْ وَخَيْرَ عَمَلِىْ خَوَاتِمَهُ وَخَيْرَ اَيَّامِىْ يَوْمَ لِقَآئِكَ

“Ya Allah! Jadikanlah sebaik-baik umurku hingga akhirnya, dan sebaik-baik perbuatanku hinggaa kesudahannya dan sebaik-baik masaku hingga menjumpaiMu.”

 

#30DWCJilid10 #Day29

 

 

 

 

 

 

Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, humaniora

Hubungan (Seks) yang tak semestinya


 

Prolog: Saya tautkan sumber bacaan di bawah tulisan ini, sebagai tanggungjawab saya atas data yang saya tulis. Tidak untuk dibaca oleh yang berusia di bawah umur.

 

“Mahasiswa tahun pertama di sebuah Perguruan Tinggi di Jawa Barat, berusia 18-20 tahun, 37 % diantaranya sudah pernah melakukan hubungan seks dengan teman atau pacar. Sebanyak 2 % tidak pernah melakukan kegiatan seksual apapun. Sisanya pernah melakukan kegiatan yang merangsang seksual, tapi tidak sampai melakukan intercourse/penetrasi”

Kalimat tersebut di atas, saya rangkum dari hasil penelitian seseorang, yang dituangkan ke dalam jurnal. Peneliti menyebutkan bahwa, penelitian ia lakukan pada bulan November 2016. Awal perkuliahan biasanya dilakukan sekitar Agustus atau September. Bisa kita simpulkan bahwa sebagian besar remaja melakukan hubungan seks saat masih berseragam putih abu. Saya katakan sebagian besar, mengingat, tidak semua remaja lulusan SMA langsung meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi. Terbukti usia remaja yang menjadi responden di atas berentang antara 18-20 tahun.

Remaja adalah sasaran paling rentan untuk urusan ini, sebab di usia sebelia ini, mereka lebih ingin mengeksplorasi, mencobai hal-hal yang bahkan tabu untuk dilakukan. Sedihnya, banyak remaja tidak menyadari betapa berbahayanya seks sebelum menikah, apalagi di usia belia.  Seperti salah satu artikel yang pernah saya baca, mengenai remaja di Indramayu. Ia menikah di usia 14 tahun, dan setelahnya mengalami infeksi vaginal. Bukan karena perilaku seks kasar, melainkan karena tubuh mudanya belum siap untuk melakukan aktivitas tersebut.

Sebuah jurnal penelitian dari salah satu fakultas kedokteran di Jawa Barat menyebutkan sebanyak 96.4 % remaja menyatakan pengetahuan seks (juga penyakit berbahaya akibat perilaku seks tak aman) mereka peroleh dari guru di sekolah. Sisanya, informasi mereka dapatkan, berturut-turut, dari internet, teman, petugas kesehatan, koran, orangtua, majalah dan radio. Sedihnya, orangtua ada di urutan tiga dari bawah. Orangtua mana orangtua. Untuk para guru, kita patut ucapkan terima kasih karena sudah mengajari para siswanya soal pengetahuan seks. Mengapa penting? Sebab remaja butuh mengenali organ reproduksi yang mereka miliki, bukan hanya sekedar mengenai hubungan seksual itu sendiri.

Dampak lain dari hubungan seks pranikah di kalangan remaja ini salah satunya adalah kehamilan di luar pernikahan (tentu saja), dan tingkat aborsi yang tinggi. WHO menyebutkan, satu dari empat kehamilan berakhir dengan tindak aborsi. Sebanyak 56 juta perempuan melakukan aborsi setiap tahunnya di Indonesia. BKKBN mencatat, remaja putri rentang usia 15-19 tahun paling banyak melakukan aborsi. Terjadi 43 % aborsi dari 100 persen tingkat kelahiran.

Fiuuuuh ….

Penasaran, saya berselancar ke pelbagai jurnal lainnya, sekedar membandingkan angka statistik dan uraian deskriptif yang digunakan para peneliti. Selain artikel tentang seks pra nikah remaja, saya juga berhasil membaca artikel-artikel yang membahas tentang penyebaran virus HIV/AIDS karena perilaku seksual yang tidak sehat, dan penyakit infeksi seksual menular (IMS). IMS adalah meliputi HIV/AIDS, Chlamydia, Gonore, Sifilis, dsb. IMS dapat disebabkan oleh virus maupun bakteri.

Jika Anda berminat sesekali membaca pelbagai referensi, ada banyak laman yang tersedia, beberapa diantaranya tidak menggunakan kalimat-kalimat panjang, melainkan menggunakan infographic (berupa gambar dan sedikit tulisan), sehingga memudahkan orang-orang yang tak terbiasa membaca tulisan panjang.

Saya tergelitik dengan banyak polemik mengenai hubungan seksual yang dibanding-bandingkan. Ini tentu masih berkaitan dengan pembahasan soal putusan MK yang menggegerkan tempo hari. Mana yang lebih berbahaya? Heteroseksual atau homoseksual?

Berdasarkan sumber bacaan, potensi penyebaran penyakit IMS (Infeksi Seksual Menular) bisa terjadi pada pasangan hetero maupun hubungan sesama jenis. Penyebabnya adalah terbiasa gonta ganti pasangan dan melakukan seks tidak aman, misalnya anal sex.

Khusus untuk seks anal, risiko penularan penyakit HIV lebih tinggi 18 % melalui seks anal, dibanding seks vaginal.  Vagina memiliki banyak lapisan yang bisa menahan infeksi virus, sementara anus hanya memiliki satu lapisan saja. Anus tidak memiliki lubrikan alami seperti vagina, sehingga kemungkinan terjadinya luka atau lecet ketika penetrasi dilakukan, lebih tinggi. Luka inilah yang bisa menyebabkan virus HIV. Tak seperti vagina, anus juga tidak memiliki sistem pembersih alami sehingga pencegahan infeksi virus lebih sulit dilakukan oleh tubuh.

Baik pasangan hetero maupun sesama jenis, memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan seks anal, namun karena cara ini lebih disukai oleh pasangan sesama jenis, kemungkinan penularan lewat hubungan seksual sesama lebih tinggi. Silakan dikoreksi, bila salah. Salah satu jurnal penelitian yang saya baca menyebutkan, 45.7 % pasangan sejenis (same sex attraction) melakukan seks anal. That is a big number. Itulah mengapa dalam Islam, anal sex tidak diperkenankan. Sebab bukan tempatnya, bukan fitrahnya. Kalau menurut istilah teman saya; “It’s for exit only, no entering.

Maafkan, jika pikiran saya meloncat-loncat terus di sini. Awalnya saya membahas perkara seks sebelum menikah di kalangan remaja, kemudian saya berbagi masalah penyakit IMS yang tersebar melalui perilaku seks tak aman. Namun, saya ingin Anda semua melihat benang merah yang terentang diantara semua ini. Bahwa, perilaku seks yang dilakukan sebelum waktunya dan yang tidak aman, serta yang tidak seharusnya, adalah hal-hal yang wajib dihindari semua orang.

Sambil membaca artikel-artikel yang membahas ini, hati saya deg-degan, bukan karena telat makan, namun karena yang terpampang di depan saya adalah fakta. Angka-angka yang tersaji itu bukan kisah fiksi, bukan sekedar ilusi. Ada orang-orang yang melakukan penelitian tersebut dan membagikannya kepada kita supaya kita ketahui.

Sementara ada begitu banyak orang lainnya, yang hanya membahas dari apa yang mereka mau, bukan dari yang mereka tahu.

Bacalah.

 

#30DWCJilid10 #Day28

 

Sumber bacaan:

http://www.who.int/hiv/data/en/

https://ourworldindata.org/hiv-aids/

http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin%20reproduksi%20remaja-ed.pdf

http://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/amj/article/view/945/890

http://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/amj/article/view/712/692

https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/hivaids/mengapa-gay-berisiko-hiv/

http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kesehatan-reproduksi-remaja-dalam-aspek-sosial

http://doktersehat.com/mengenal-penyakit-infeksi-menular-seksual-ims/

http://www.alodokter.com/penyakit-menular-seksual-pms

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160512_majalah_kesehatan_aborsi

Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, books

Verba volent, scripta manent


“Mengapa kau suka menulis?”

“Sebab aku ingin memerangkap adegan kehidupan yang ingin aku jadikan utuh. Supaya ia tak pergi kemana-mana, bisa aku tengok kapanpun”

Itu jawaban yang pernah saya lontarkan atas pertanyaan seorang teman. Terdengar cliché dan norak, tapi itulah sesungguhnya yang selalu ingin saya lakukan. Menulis itu memerangkap waktu. Saat biasanya kenangan pergi menjauh, dengan goresan pena, ia menjadi diam dan terperangkap dalam tulisan saya. Kapanpun saya ingin mengulangnya, ia akan bercerita kembali, lagi dan lagi. Ia menjadi abadi.

Verba volent, scripta manent adalah peribahasa Latin. Artinya, “spoken words fly away, written words remain”. Segala yang terucap akan menguap, menghilang bersama udara. Sementara, segala yang tertulis akan tetap ada, membeku bersama waktu.

Kekuatan pena untuk ‘berbicara’ lebih dari bahasa lisan, tercatat rapi oleh sejarah. Harriet Beecher Stowe menulis Uncle Tom’s Cabin di tahun 1852. Buku ini memengaruhi jutaan orang untuk melawan sistem perbudakan.

Buku lainnya adalah, Manifest der Kommunistischen Partei (1848) yang lebih dikenal dengan judul The Communist Manifesto. Ia menjadi rujukan paling banyak untuk pergerakan sistem sosialis komunis. Karl Marx adalah lelaki yang menuliskannya. Hingga kini, dunia mengenal sistem komunisme Marxisme, yang diambil dari nama penulis buku fenomenal tersebut.

Di ranah fiksi, tahun 1997 tercatat sebagai sejarah lahirnya novel fiksi fantasi paling laris di dunia, Harry Potter. Joan Kathlene Rowling, seorang ibu tunggal beranak satu, mencurahkan segenap imajinasinya untuk menciptakan penyihir anak-anak, Harry Potter di dunia sihirnya. Goresan pena J.K Rowling mengantarkan Harry Potter sebagai salah satu karya fiksi paling dikenal di seluruh dunia.

Tak jarang, kita mengenal karya-karya besar yang ditorehkan para penulisnya, justru di dalam ruang sempit bernama penjara. Soekarno, Pramoedya Ananta Toer, dan Tan Malaka pernah merasakan dinginnya dinding tahanan, namun mereka membiarkan pena mereka ‘melesat’ melewati tembok keras penjara, menjelma menjadi karya.

Tetralogi Pulau Buru, karya Pram, merupakan salah satu karya fiksi yang paling banyak diminati, tak hanya di Indonesia, namun juga di manca negara. Di tahun 1997, saya menemukan buku Pram di perpustakaan CCF (Centre Culturel Français – sekarang dikenal sebagai IFI), dalam versi Bahasa Prancis. Buku-buku Pram mulai bebas dicetak ulang dan diperjualbelikan setelah era reformasi.

Masterpiece lainnya yang tak kalah mencengangkan, ditulis oleh salah seorang ulama terkenal di ndonesia. Buya Hamka, ulama besar kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, menyelesaikan tafsir 30 juz Quran yang ia beri judul, Tafsir Al Azhar juga di dalam penjara. Terenggut kebebasannya selama dua tahun empat bulan, Buya Hamka dituduh melakukan tindakan subversive, yaitu merencanakan melawan kekuasaan presiden.

Selama waktu itulah, pena Buya Hamka menari-nari, menggulirkan karya penting yang tak hanya dijadikan acuan di Indonesia, melainkan juga di negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Brunei.

Verba volent, scripta manent.

— yang terucap akan sirna, yang tertulis akan abadi —

 

#30DWCJilid10 #Day27

 

sumber bacaan:

http://ensiklo.com/2014/11/21/beberapa-tokoh-yang-tetap-menulis-meski-berada-di-balik-jeruji-penjara/

https://www.goodreads.com/shelf/show/100-books-to-read-before-you-die

https://www.britannica.com/biography/Karl-Marx

https://www.merdeka.com/peristiwa/bisa-selesaikan-tafsir-al-azhar-hamka-bersyukur-dibui-soekarno.html

 

 

 

 

 

Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, humaniora

The Unsung Heroes


“Mengapa Spiderman?”

Jawaban yang ia ketikkan adalah,

“Karena Spidey itu hero yang paling membumi menurut saya hehe. Bukan orang kaya, bukan orang popular di sekolah/tempat kerjanya/lingkungannya. Nyari duit sehari-hari aja susah. Belum lagi dimusuhi masyarakat/media. Sering struggle dalam hidup. Dan pahlawannya orang-orang kecil hehe.”

Sesuai dengan superheronya yang merakyat, komunitas teman saya ini mengkhususkan kegiatannya untuk amal. Galang donasi, kunjungan ke panti asuhan, sekolah anak jalanan, dan lain sebagainya.

Foto yang Anda lihat di tulisan ini adalah, ketika mereka sedang berkunjung ke bangsal anak kecil di sebuah Rumah Sakit. Seperti Spiderman, mereka juga menyembunyikan wajah dan berusaha menebarkan keceriaan pada para pasien cilik, yang terpaksa menghabiskan liburan mereka di dalam ruangan putih tanpa mampu pergi jalan-jalan.

Melihat foto ini di timeline saya tempo hari, hati ini luruh.

Mungkin orang melihat mereka seperti pasukan orang gede yang terlambat dewasa. Sudah gede kok mau-maunya pakai kostum Spiderman yang sangat ketat dan kekanak-kanakan.

Bagi saya, mereka keren sekali. Terima kasih Patia dan teman-temannya di komunitas Spiderverse. Spiderman tidak hanya menolong warga New York, namun juga menebar kebahagiaan di tanah betawi.

Di ujung Bandung sebelah timur, pahlawan lainnya beraksi. Dengan mengendarai mobil bak terbuka, setiap hari Jumat, pahlawan kita memersiapkan nasi dan lauk-pauk gratis untuk para kaum dhuafa dan fakir miskin. Komunitas mereka, diberi nama sesederhana apa yang mereka lakukan, komunitas “sedekah nasi”.

Sederhana namanya, dahsyat aksinya.

Melihat foto-foto komunitas “Sedekah Nasi”, saya jadi tercenung.  Buat saya dan Anda, sepiring nasi dan lauk-pauknya, mewah maupun sederhana adalah perkara yang biasa. Tidak demikian bagi banyak orang. Komunitas ini menghentak kesadaran duniawi saya bahwa yang mereka lakukan tentu tak berbalas rupiah, takkan berbuah piagam atau piala. Sebab yang mereka kejar bukan dunia.

Terima kasih Melly, Anissa dan teman-teman di komunitas “Sedekah Nasi”. Berpiring-piring nasi yang kalian sedekahkan membuat resah ini menjadi tenang. Masih banyak orang hebat di negeri ini.

Melly lainnya, yang juga membuat saya tercengang beberapa hari terakhir ini adalah Melly Goeslaw. Dengan gagahnya ia pergi, sebagai bagian dari pasukan duta kemanusiaan Indonesia, ke tanah konflik Palestina.

Tanpa banyak teori tentang siapa yang benar, siapa yang salah, ia pergi. Bukan piknik, bukan vakansi. Melainkan menyandang misi untuk menggapai ridho Ilahi.

Hatur Nuhun Teh Melly, untuk contohmu, untuk setiap pijakan kakimu dan rentang tanganmu untuk memeluk anak-anak di tanah Al Quds.

SpiderVerse, “Sedekah Nasi” dan The Melly Goeslaw, for me, they are the unsung heroes.

Pahlawan-pahlawan nyata yang bergerak tanpa kita tahu. Pahlawan yang tak pernah diberikan penghormatan dengan nyanyian, sebab mereka bekerja dalam sunyi. Tidak berharap pujian dan tak peduli cacian.

Untuk saya, aksi mereka tidak untuk dibandingkan. Apalagi diperdebatkan. Mana yang lebih unggul, mana yang paling baik. Tak ada.

Sebab kebahagiaan yang mereka bagikan itu nyata. Sebab keihlasan mereka tak ternoda.

Bersyukur kita masih selalu diingatkan oleh mereka, bahwa hidup kita jauh … jauh lebih baik dari banyak orang lainnya di pelbagai tempat.

Thank you, my unsung heroes, thank you so much.

Allah memberkahi kalian.

*pengurutan para tokoh yang saya ceritakan tidak menggambarkan mana yang lebih hebat, saya hanya mulai dengan orang-orang yang saya kenal baik*

Foto-foto dari akun Facebook Patia J.M Marbun dan Melly Melania (atas ijin yang bersangkutan).

Foto Teh Melly diambil dari akun instagramnya @melly_goeslaw.

#30DWCJilid10 #Day26

Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, humaniora

Nilai Sehelai Kertas


Di hadapan saya, Mbak kasir tersenyum,

“Totalnya jadi sekian …”

Saya merogoh tas, mencari dompet.

“Mau sekalian ambil tunai?” tanyanya saat menerima kartu debit dari tanganku.

Ga, makasih”

“Mau isi pulsanya sekalian?”

Ga

“Barangkali mau tebus murahnya?” Tangannya menunjuk beberapa barang di atas konter.

Saya menggeleng.

Ia memberikan secarik kertas bon yang saya masukkan ke dalam dompet.

Sesampainya di rumah, ketika saya bongkar tas, dan memberesi isinya, biasanya si kertas kecil tadi hanya saya lihat sekilas, dan saya tempatkan ia di tempat peristirahatannya yang terakhir, tempat sampah.

Itulah harga secarik kertas struk belanjaan.

Nasibnya sungguh berbeda dengan lembaran uang, yang saya simpan hati-hati dalam dompet. Saya pisahkan secara nominalnya, diurutkan dari yang paling kecil hingga besar. Kebiasaan yang membuat saya sering dijuluki “aneh” oleh pasangan hidup sendiri.

Lembaran rupiah itu, tentu takkan saya buang ke dalam tong sampah, seperti saya membuang kenangan buruk dari masa lalu. Saya simpan, sebab lembaran-lembaran itu membantu saya mendapatkan banyak kebutuhan. Dari beras hingga buku anak. Dari seikat bayam hingga sekotak cokelat. Kertas bertanda khusus dari Bank Indonesia yang sering membuat banyak orang lupa diri. Menggadaikan harga diri dan kehormatan. Ia mungkin hanya sehelai lembaran kertas, namun kekuatannya sanggup membuat semua orang lupa daratan.

Lembaran kertas lain yang saya pegang, adalah ketika saya mengambil raport keempat anak saya. Tiga diantaranya berbentuk map tebal yang keren dengan tulisan hasil cetakan komputer. Di dalam mapnya, terdapat folder-folder plastik tempat walikelas memasukkan lembaran hasil penilaian selama belajar.

Kertasnya tipis, hampir sama tipisnya dengan kertas A4 70 gram. Pun begitu, saya memegangnya dengan khidmat, serupa menggenggam surat cinta pertama dari kekasih hati yang pergi melaut dan tak kembali.

Apa sebab?

Karena dalam lembaran-lembaran itu, tersimpan kerja keras anak saya selama satu semester. Terangkum dedikasinya sebagai siswa. Siswa yang selalu mengoptimalkan usahanya dengan mengerjakan PR hingga jauh malam, dan hasilnya membaca hingga berhari-hari.

Luar biasa, bagaimana sehelai kertas bisa menyumbang makna dan menerima perlakuan yang berbeda-beda. Betapa nilai sebuah benda bisa sangat berbeda untuk orang yang berbeda. Lembaran ratusan ribu untuk seseorang, mungkin setara dengan mainan action figure yang bisa ia letakkan di lemari kaca untuk ia kagumi. Namun untuk orang lainnya, lembaran uang dengan nilai yang sama, mungkin setara dengan biaya makan keluarganya selama sebulan.

Tidak ada yang salah, yang ada hanyalah kondisi yang berbeda.

Penasaran, saya membuka laman sebuah situs, dan mulai membaca.

Cai Lun atau Tsai Lun, menemukan kertas pada tahun 105 sebelum Masehi. Eropa baru mengenalnya di abad ke-12. Ia merendam bagian dalam kulit kayu murbei di dalam air, kemudian memukul-mukulnya hingga seratnya terlepas. Bersama beberapa bahan lainnya, ia kemudian membuat bubur dan menjemurnya hingga kering. Penemuannya ini membuat kita memiliki kertas hingga hari ini.
Jika ia masih hidup, mungkinkah ia akan terkaget-kaget dengan fungsi dan nilai sehelai kertas yang dulu pertamakali ia buat?

Wallahu’alam.

#30DWCJilid10 #Day25 #Challenge

#TulisanBertema

sumber bacaan:

 

https://www.biographyonline.net/business/cai-lun.html

Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, humaniora, Sosial Issues

Persiapkan …


Tempo hari ada murid yang nanya,

“Miss, emang umur berapa sih, kita boleh nikah di Indonesia?”

Ini karena mereka baru saja membaca teks tentang “Come of Age” di beberapa kebudayaan.

Saat ini, berdasarkan pasal 7 ayat 1 UU Perkawinan tahun 1974, batas usia pernikahan untuk perempuan adalah 16 tahun dan untuk laki-laki 19 tahun.

Sempat ada permohonan untuk menaikkan batas usia dari 16 tahun menjadi 18 tahun, namun ditolak oleh MK. (Ketemu lagi deh sama MK gara-gara gugling soal ini 😂)

Penolakan ini disambut kekecewaan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang mengemukakan bahwa hal ini penting dibahas karena menyangkut kesehatan reproduksi perempuan. Mengapa ditolak? Silakan cari sendiri ya, jangan malas.

Kapan hari juga, saya membaca artikel mengenai pernikahan muda. Di Indramayu kalau tidak salah.

Seorang anak perempuan usia 14 tahun menikah dengan alasan ekonomi. Tak lama ia bercerai karena tak kuat mental. Setelahnya, ia juga mengalami infeksi di bagian kewanitaan. Bukan karena mengalami kekerasan seksual, melainkan memang ia masih terlalu muda, tubuhnya belum siap untuk melakukan aktivitas seksual.

“Wow, so young!” Komentar murid-murid saya ketika saya beritahu jawabannya.

“Miss miss, ada kok anaknya ustadz siapa gitu yang kayaknya belom cukup umur miss, tapi kok bisa nikah?”

Saya yakin, saya tahu siapa yang ia maksud. Saya katakan, bahwa yang bersangkutan kemudian mengajukan izin menikah ke pengadilan agama setempat dan dikabulkan.

Saya tergelitik menuliskan ini setelah melihat fenomena para remaja jaman ini yang senangnya membahas pernikahan melulu.

Setelah pernikahan anak ustadz tersebut, kemudian ada juga kabar tentang anak seorang pengacara terkenal yang menikah muda dengan seorang hafizh Quran.

Melihat pasangan muda belia yang memutuskan untuk menikah itu, sungguh sangat menggemaskan. Bayangkan, wajah mereka saja masih imut-imut tapi sudah berani memikul tanggungjawab sedemikian hebat.

Namun pernikahan, saudara-saudara sebangsa setanah air, bukan sekedar pacaran secara halal dan boleh berbuat yang enaena. Pernikahan itu rumit, kompleks, dan berat.

Jelas berat. Pahalanya saja dahsyat. Menyempurnakan separuh dari agama. Cobaa kurang keren bagaimana. Itu sabda Rasul loh, bukan saya yang bilang.

Masalahnya, terselip rasa ngeri-ngeri sedap di hati melihat semangat pernikahan dini ini.

Apakah hanya dengan niat saja cukup? Apakah tekad untuk menghindari zina juga sekuat tekad untuk berani menghadapi semua masalah yang nanti menghadang?

Saya tidak anti pernikahan dini, wong saya nikah aja usia 21 tahun. Cukup muda untuk ukuran pada jaman itu. ((Jaman itu))

Hanya memang melihat tingkah polah para akhwat kiyut yang mudah klepek-klepek sama ikhwan saleh itu membuat jantung berdebar.

Memang usia bukan jaminan kedewasaan, namun kematangan pola pikir dan kestabilan emosi tidak cukup didapat dari literasi, melainkan juga pengalaman hidup.

Apalagi perempuan. Apalagi perempuan. Apalagi perempuan. Saya ulang tiga kali biar dramatis.

Perempuan itu akan jadi ibu. Ibu adalah madrasah/sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Tugas ibu itu berat. Tugas ibu itu … ga sih ga akan saya ulang hehe.

Nah ini yang harus dipikirkan ketika memutuskan untuk menikah. Suatu saat akan ada manusia baru yang tercipta dari hubungan tersebut. Kecuali dari awal tidak berniat punya keturunan, ya sudah, case closed.

Dan menjadi orangtua bukan satu-satunya masalah yang harus siap dihadapi. Ada jutaan hal lainnya yang mungkin kalau ada yang membukukan, bisa mengalahkan ketebalan kamus bahasa Prancis-Indonesia susunan Winarsih Arifin dan Farida Soemargono.

Sementara, sebagian fiksi Islami maupun film reliji juga tidak banyak membantu. Isinya pasti nyerempet-nyerempet ke sana. Kalau tidak indahnya pernikahan dini, pasti poligami.

Tokoh laki-lakinya akan dibuat hampir mendekati sempurna sehingga sanggup membuat perempuan manapun lemah tak berdaya.

Sementara tokoh laki-laki dibuat begitu gagah perkasa, tokoh perempuan biasanya sangat gemulai dan gampang pasrah.

Tidakkah kita merindukan kisah perempuan seperti Tjut Nyak Dien? Yang gagah berani di medan perang? Seperti Aisyah istri Rasul, yang cerdas dan penghapal ribuan hadist?

Pernikahan dini itu tjakep. Tapi siapkan fisik dan mental juga dong. Jangan mentang-mentang sudah merasa baligh kemudian langsung pede ke penghulu. Tunggu dulu, ukhti.

Sudah ada ilmunya belum? Sudah cerdas belum?

Wiro Sableng aja baru turun gunung Gede setelah Eyang Sinto Gendeng merestui karena pede dengan ilmunya Wiro. Masak situ engga?

Bukan soal masak, sebab ini bukan masalah kontes master chef.

Bukan soal beberes rumah, sebab ini bukan masalah persiapan jadi staf house keeping.

Ini soal kesiapan, sayang.

Sebab pernikahan inginnya sekali saja seumur hidup.

Bukan seperti episode favorit TV Series yang bisa ditonton berulang-ulang

Ini soal tangguh tidaknya kamu menghadapi kenyataan.

Sebab hati perih saat tidak bisa membeli susu anak itu nyata. Kesal karena merasa tak dimengerti pasangan itu sungguh realita.

Persiapkan.

#30DWCJilid10 #Day24

Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, Pendidikan, Uncategorized

Mendidik, bukan membiarkan


Jenis Film tentang hukum dan persidangan adalah salah satu genre favorit saya. 12 Angry Men, A Few Good Men, A Time to Kill, Sleepers adalah contoh-contoh film persidangan yang sangat bagus.

Malam ini, di luar kebiasaan, saya menonton film Bollywood. Berkat “racun” teman-teman di komunitas film yang ‘memaksa’ saya untuk menonton film ini. Ini dipicu oleh keengganan saya dengan film Bollywood yang sarat nyanyian dan tarian serta plotline yang sangat mudah ditebak.

Film yang saya tonton berjudul “Pink” yang dirilis tahun 2016. Satu-satunya aktor yang saya kenal hanyalah Amitab Bachchan, yang pernah saya lihat di “English Vinglish” (2012).

“Pink” berkisah tentang seorang gadis yang dituntut atas gugatan percobaan pembunuhan terhadap seorang lelaki, yang adalah keponakan pejabat. Si gadis bersama dua temannya bertemu dengan si lelaki (bersama dua temannya juga) sehabis menonton konser rock. Saat mereka kongkow-kongkow bersama, si ponakan horangkayah mulai memaksa salah satu gadis untuk tidur dengannya. Si gadis memukulnya dengan botol kaca hingga si pemuda terluka.

Ide ceritanya begitu saja. Sederhana sebetulnya. Yang menarik adalah bagaimana dalam persidangan terungkap banyak fakta baru, dan membuat penonton berpikir lebih jauh dari sekedar gugatan hukum yang diajukan.

Dalam kasus pelecehan perempuan, siapa yang salah? Laki-laki nya atau perempuannya?

Jika perempuan berpakaian minim, pantaskah ia dilecehkan?

Jika ia minum alkohol, jika ia merokok, jika ia nonton konser rock?

Entah sudah berapa kali saya membaca artikel mengenai standar ganda bagi seorang perempuan. Laki-laki perokok gapapa, perempuan biasanya dipandang jelek. Laki-laki pulang malam, oh mungkin lembur atau mengerjakan tugas, perempuan pulang malem, ah pasti perempuan ga bener.

“Ya dia pake bajunya minim sih, jelas mengundang. Coba kalau tertutup dan syar’i. Pantes aja dilecehkan!”

Ini betulan pernah dilontarkan oleh seorang teman (mungkin ia membaca ini 😊) dan saya keselek mendengarnya. Teman saya ini juga perempuan.

Lontaran kalimatnya, bagian yang “tertutup dan syar’i” saya setuju, sebab agama saya mengajarkan begitu. Namun sisanya, sungguh ia butuh belajar akhlak dalam berbicara.

Dalam Islam sudah sangat jelas aturannya. Saya tidak akan bahas. Sebab tanpa membahas itupun tulisan saya akan panjang. Kasihan yang baca.

Islam mengatur pakaian perempuan dengan jelasnya. Apakah itu menghentikan upaya pelecehan? Oh ternyata tidak. Saya tahu yang berhijab tertutup mungkin selamat dari sentuhan fisik yang tak senonoh. Namun seringkali mereka tak luput dari “sentuhan” mata yang juga tak pantas.

Silakan para ukhti, barangkali ada yang pernah merasa “diliatin dari atas ke bawah” dengan tatapan mata seperti menelanjangi. Saya yakin pasti ada yang mengalami.

Bahkan yang sudah tertutup pun, tak lepas dari pelecehan.

Ada kutipan menarik dari film PINK ini. Ada banyak kutipan yang menarik sebetulnya yang keluar dari mulut Amitabh Bachchan yang berperan sebagai pengacara.

We don’t have to save our girls, we have to save our boys. Because if we save our boys, our girls will be saved.”

Intinya, kita seringkali lupa bahwa baik anak laki-laki dan perempuan sama-sama butuh untuk TERDIDIK.

Kita ajarkan anak-anak perempuan kita untuk punya rasa malu. Malu kalau pakai rok pendek. Malu kalau nongkrong di pinggir jalan. Malu kalau merokok. Malu kalau bicara kasar dan sebagainya.

Kita lupa bahwa anak-anak lelaki pun wajib diberitahu bahwa menyuiti cewek yang lewat itu tidak pantas. Menceritakan lelucon yang merendahkan perempuan itu tidak lucu. Bahwa ketika mereka merendahkan perempuan, sama artinya dengan merendahkan ibu mereka sendiri, yang sama-sama perempuan.

“Cowok itu se brengsek apapun pasti pengennya dapet cewek yang baik-baik”

Itu kata teman saya, ribuan purnama yang lalu, saat kami masih belia.

Dan saya percaya itu. Ditambah omongan orangtua yang seringkali bilang “cewek itu ibarat kristal, sekalinya retak, orang ga mau beli”. Untuk menggambarkan begitu berharganya seorang perempuan dengan kehormatan dirinya.

Setelah saya dewasa, saya baru menyadari satu hal. ‘Loh, kok cowok boleh brengsek dulu? Mau brengsek juga ternyata tetep layak kok dapet cewek baik-baik?’

Maka, kenapa tidak diubah mind setnya menjadi:

“Kalau kamu mau dapat cewek/cowok yang baik, kamunya juga harus baik ya Nak.”

Dan Anda katakan ini pada anak laki-laki maupun anak perempuan. Selesai.

Ketika seorang perempuan diperkosa, masyarakat tidak hanya ‘menghukum’ si pemerkosa, melainkan si korban.

“Abis pulangnya malem sih, sendirian lagi,”

“Pake bajunya gimana pas kejadian?”

Hey, saya tahu ada satu kejadian saat saya kuliah; seorang perempuan berjilbab lebar diperkosa. 😰 Berjilbab lebar. Tidak pakai tank top atau legging ketat motif macan.

Sungguh Anda yang menganut paham “dasar ceweknya aja yang ga bener” WAJIB nonton film ini.

Prasangka yang sama juga dilekatkan pada perempuan yang sudah tak bersuami lagi, alias janda.

Teman saya mengeluh sebab di grup teman sekolahnya, teman-teman laki-lakinya acap kali membuat lelucon mengenai janda. Padahal di dalam grup juga ada beberapa janda. Informasi, mereka kisaran usia awal 40.

Seolah, ketika seorang perempuan yang sudah janda itu boleh-boleh aja dibecandai, oke oke aja dijadikan bahan guyonan.

“Janda, asik tuh! Masih muda lagi”

“Mending sama janda, udah pengalaman”

Sungguh saya tidak mengerti.

Kalau ibu mereka yang janda dibegitukan, bagaimana perasaan mereka coba?

Maka, para orangtua; mulailah mendidik kedua anak kita, laki-laki dan perempuan, dengan value yang sama.

Bahwa merendahkan orang (siapapun itu) tidak baik. Bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama harus mampu menjaga pandangan. Bahwa seharusnya laki-laki dan perempuan dipandang sebagai dua subyek yang sejajar dalam penilaian tingkah laku.

Ajarkan bahwa pekerjaan rumah tangga tidak hanya harus dikerjakan oleh perempuan, tetapi laki-laki juga. Kenalkan bahwa bidang pekerjaan lelaki dan perempuan itu hampir setara. Mau jadi apa? Pilot? Chef? Dokter? Pengacara? Semuanya sama.

Jangan terbiasa mengatakan,

“Lah kok cowok belajar menjahit? Ga gentle! Belajar tuh informatika, teknik!”

*bahkan penggunaan kata gentle disinipun salah*

Nanti anak akan berpikir, oh ada bidang pekerjaan yang ternyata tabu untuk laki-laki, oleh karenanya lebih rendah, karena cocoknya hanya untuk perempuan.

Padahal banyak cowok yang pintar jahit kemudian jadi desainer. Rata-rata chef terkenal bukan perempuan, melainkan laki-laki.

Di tangan Bapak dan Ibu orangtua, terletak keputusan untuk ‘membentuk’ anak. Mau anakmu baik, didiklah dengan baik. Memasukkan ke sekolah bagus tidak cukup. Perlu kita bekali juga dengan komunikasi. Biasakan mengobrol dengan anak, dalam hal apapun, supaya ia merasa turut ambil bagian dalam memutuskan apa yang baik untuknya.

Ajarkan anak lelaki kita untuk menghormati perempuan. Ajarkan bahwa laki-laki yang baik mampu memandang perempuan sebagai partner sejajar, bukan makhluk yang pantas direndahkan. Mendidik, bukan membiarkan.

Ajarkan anak perempuan kita untuk menghargai dirinya sendiri. Ajarkan bahwa jika ia tak ingin direndahkan siapapun maka ia harus bisa menjaga dirinya, hingga tak ada celah bagi orang lain untuk menuduhnya macam-macam. Mendidik, bukan membiarkan.

Sungguh, para orangtua adalah manusia-manusia pilihan yang lirih doanya terdengar hingga ke langit.

Barakallah ….

Catatan:

Terima kasih buat teman-teman yang sudah merekomendasikan film PINK untuk saya tonton. Terutama karena tidak ada satupun nyanyian dan tarian di dalamnya 😂

#30DWCJilid10 #Day23