Posted in humaniora

(Fanatisme) Idola


Bertahun-tahun lalu, saya pernah bekerja di sebuah sekolah swasta elit. Guru-guru di sana berusia muda, bersemangat dan cerdas.
 
Ada seorang istimewa yang bekerja bersama kami saat itu, lelaki berusia pertengahan 20-an. Mengapa saya menyebutnya istimewa, sebab di kalangan sekian puluh guru, ia mencolok sendirian.
 
Wajahnya tampan, sangat pantas bila disebut mirip dengan aktor terkenal. Sikapnya tak bercela, hampir tak ada kelemahan yang bisa terlihat. Saya sendiri cukup sering mengobrol dengannya, sebab kami mengampu mata pelajaran yang sama.
Lelaki ini menjadi idola, terutama di kalangan wanita. Tak cuma guru dan staf sekolah, melainkan juga para orangtua murid.
 
Bayangkan saja ; wajah seperti seleb, perawakan gagah, banyak senyum, dan sopan. Tak urung karirnya cepat sekali menanjak, bahkan orang-orang yayasan tempat sekolah kami bernaung pun mengaguminya.
 
Butuh waktu bekerja hampir tujuh tahun bagi saya untuk akhirnya mengetahui ia tak sesempurna itu. Menjelang akhir masa pengabdian saya di sana, beberapa insiden menguak kedoknya yang sejati.
 
Detilnya tidak bisa saya bagikan di sini. Intinya, kami semua tertipu.
☕️ ☕️ ☕️
 
Salah satu kebutuhan paling mendasar manusia adalah untuk memiliki sandaran. Manusia selalu butuh sesuatu untuk ia jadikan dasar berpijak, tempatnya bercermin, mengadu dan mencontoh. Ia bisa berupa entitas, nilai (value) atau manusia lainnya. Pendek kata, manusia selalu butuh idola.
 
Dari awal peradaban manusia tertua; Mesopotamia, Yunani, Mesir sampai Cina, terentang kisah bagaimana setiap manusia pada peradabannya sendiri mencari idola untuk mereka sembah.
 
Token, totem, dan ritual-ritual paganisme pada masa lampau, menunjukkan bahwa manusia bagaimana pun membutuhkan satu bagian untuk melengkapi dirinya. Sebagian orang menyebutnya “God Spot”. Dari sana lah kemudian lahir agama-agama; baik samawi (yang turun atas firman lewat perantara para nabi) atau berbagai mitologi dan ajaran kebijakan yang diambil dari figur orang-orang hebat (Buddha atau Confusius).
 
Tingkatan ekstrem manusia dalam hal idola ada pada penghambaan terhadap entitas; yang kemudian mereka sebut sebagai Tuhan, Yahweh, Yesus, Allah, atau apapun sebutannya. Seperti saya dan (barangkali) Anda.
 
Kita yang memeluk agama, secara sadar berserah diri dan menyembah entitas yang kita tuhankan tersebut. Apa pun yang diperintah agama, pasti kita turuti, sebab ada kecintaan di sana, ada penghambaan, ada kepasrahan.
 
Mereka yang mengaku tak beragama, tetap meletakkan sandaran mereka pada sesuatu. Sesuatu yang menuntun mereka menjalani hidup. Entah dengan sebutan nilai moral, kemanusiaan, keadilan, persamaan hak, feminisme, kapitalisme, you name it.
 
Maka, saya selalu percaya tak ada yang disebut ateis sejati. Para ateis hanya menolak Tuhan dan agama, sementara dalam hidup mereka pasti ada juga nilai yang mereka pegang sebagai guidance, jika Anda mengerti apa yang saya maksud.
 
Jika Anda menyangka saya mengaitkan prolog kisah di awal dengan God Spot barusan, tunggu dulu, jangan cepat mengambil kesimpulan. Ini baru awal.
☕️☕️☕️
 
Di luar masalah agama dan ketuhanan, manusia juga butuh mengidolakan manusia lainnya. Mereka bisa muncul dalam bentuk siapa saja. Bisa aktor, penyanyi, youtuber, pendakwah, atlit, dsb.
 
Idola paling awal yang biasanya akan dilihat seorang manusia adalah kedua orangtuanya sendiri. Sepasang orangtua, ayah saja, ibu saja, atau siapa pun yang ia lihat sebagai role model saat ia kecil.
 
Setelah beranjak remaja, ia akan mulai bergeser mengidolakan orang lain. Mungkin gurunya di sekolah, mungkin temannya yang menurutnya sangat keren, atau selebriti. Proses itu terus berkembang sampai dewasa, bahkan sampai jadi manula.
 
Mengapa kita mengidolakan seseorang? Sebab ada bagian dari dirinya yang membuat kita ingin sama sepertinya. Meskipun orang-orang yang kita idolakan ini adalah orang-orang biasa, ordinary people. Mereka sama dengan kita yang bisa bernapas, makan minum dan mengeluarkan gas pada waktu-waktu tertentu.
 
Pun begitu, ada kalanya ordinary people ini kita tempatkan di posisi lebih tinggi dari manusia lainnya, disebabkan kekaguman kita pada mereka.
 
Seorang anak perempuan yang mengidolakan ayahnya, akan cenderung membandingkan perlakuan setiap lelaki yang temui dengan idolanya tersebut.
 
Seorang fans yang mengidolakan seleb, pasti akan merasa bahagia, ketika bisa mengunjungi tempat yang pernah dikunjungi idolanya, atau membeli barang serupa dengan yang dimiliki idolanya.
 
Tren masa kini, ketika komen di-reply oleh idola, uuuh … rasanya ingin me-skrinsyut foto komen yang di-reply, dicetak di banner besar dan dipasang di depan rumah. Tak lupa disebarkan ke semua WAG dan status medsos. Bangga.
 
Pada diri seorang idola, akan kita temukan banyak kelebihan yang membuat kita yakin dan semakin yakin, ia pantas untuk dicintai.
 
Untuk anak-anak, idola bagi mereka lebih bersifat super hero, tampilan yang wah dan visualisasi lainnya. Sedangkan orang dewasa biasanya melihat pada kualitas diri. Mereka yang terlihat bijaksana, meyakinkan,dapat dipercaya, menyandang simbol kesuksesan, dll.
 
Maka, seperti halnya jatuh cinta, proses mengidolakan ini bersifat sangat subjektif. Bergantung pada siapa kita, dan siapa yang kita idolakan.
 
Bisa jadi seseorang yang saya idolakan, adalah orang yang sangat biasa di mata Anda, dan begitu pun sebaliknya. Maka jangan heran bila kita kesengsem sama aktor tertentu, teman kita bisa saja berkomentar, “Kok kamu suka dia sih? Kalo kata saya sih, B ajah.”
 
Untuk seorang yang menyukai tulisan dan senang menulis, rasanya saya pasti akan gemetaran kalau suatu hari bisa bertemu J.K Rowling, misalnya. Tapi untuk suami saya yang seorang engineer dan penyuka teknologi, dia pasti lebih suka jika bisa bertemu dengan Elon Musk.
☕️☕️☕️
 
Di balik semua proses ini, ada sebuah bahaya yang mengendap-endap. Ia disebut sebagai fanatisme.
 
Banyak orang beragama, ketika mereka belajar dengan cara yang salah, memahami dengan kurang tepat, berbelok menjadi ekstrimis fanatik. Rasanya ini sudah tak perlu dibahas, sebab contohnya sudah banyak bertebaran.
 
Berkaitan dengan idola, fanatisme yang ada pada diri seorang fans, membuat mereka sanggup pasang badan untuk membela idola.
 
Tengok saja kelakuan para supporter bola fanatik, yang tak segan-segan merusak satu kota bila idolanya diserang atau sekadar kalah bertanding.
 
Akhir-akhir ini, fans K Pop yang sering menjadi sorotan, sebab mereka biasanya akan membela membabi-buta atas apa pun yang dilakukan idola mereka, tanpa pandang bulu.
 
Ini agaknya yang perlu dicermati dan disikapi dengan bijak. Orang-orang yang kita idolakan itu, semua manusia biasa. Kecuali jika Anda mengidolakan malaikat Raqib dan Atid.
 
Sebagai manusia, sama seperti kita, mereka penuh dengan kelebihan tapi juga tak luput dari kekurangan.
 
Ini tidak mudah, memang. Butuh sikap rasional dan kedewasaan.
 
Bukankah perih bagi kita, ketika menyaksikan kekurangan pasangan kita di rumah? Ia yang selalu kita puji di mana pun berada, hanya kita yang tahu dalem dan dalemannya. Bukankah kecewa kita terkadang padanya? Tapi toh kita terima, sebab kita juga tak sempurna baginya.
 
Juga sulit bagi kita, ketika harus menerima fakta bahwa orangtua kita banyak kekurangannya. Ternyata seiring bertambahnya usia dan semakin matang pendewasaan kita, kita semakin bisa melihat dengan sudut pandang lebih adil. Oh, mereka banyak kelebihan tapi juga tak sedikit kelemahan.
 
Tentu saya tidak menyarankan Anda untuk membuka aib pasangan atau orangtua. Kita tentu sama-sama tahu bukan begitu cara menyikapinya.
 
Dengan analogi yang sama, perlakukan itu terhadap siapa pun yang kita idolakan. Turunkan posisinya dari tempat cukup tinggi dimana selama ini ia berada. Lakukan pengamatan secara jernih dan objektif. Bahwa sebagai idola, ia juga melakukan kesalahan, punya kelemahan dan kita mau mengakuinya.
 
Butuh waktu bagi saya pribadi untuk mencerna, ketika seorang penulis kisah romance yang pernah saya idolakan ketika remaja, ternyata bertabiat jelek.
 
Setelah dewasa, baru saya ketahui pola pikirnya bagaimana, cara ia berdiskusi dan menanggapi komentar banyak orang. Saya tak lagi respek padanya.
 
Bagaimana dengan bukunya? Tetap saya sebut sebagai “buku yang bagus”, sebab mau tak mau, karyanya memang sebagus itu. Di sini saya mencoba memisahkan ia dari karya yang ia ciptakan.
 
Fanatisme buta pada idola ini nyata adanya. Saat seseorang membela orang yang ia sukai atau ia idolakan, di luar semua kesalahan yang diperbuat idolanya tersebut, lama-lama ia akan menciptakan ilusi.
 
Semua idola itu ada kekurangannya, dan kita harus terima itu. Jika tidak, jangan-jangan yang kita sukai sebetulnya ilusi yang kita ciptakan sendiri.
 
Jangan-jangan kita merasa insecure karena salah memilih idola, padahal semua juga manusia. Idola kita pernah salah? Ternyata tak sehebat itu? Ya, terus kenapa?
 
Kan semuanya manusia biasa.
 
Jika tak ingin kecewa, baiknya kita mengidolakan sosok lain saja. Doraemon, misalnya.
 
Sampai detik ini, Doraemon tak pernah mengecewakan fans, sebab ia selalu menjadi kucing ajaib yang menyelamatkan Nobita berkali-kali dari keruwetan hidupnya sebagai anak kelas lima SD.
 
Jadi, siapa idolamu?
 
☕️
Posted in menulis

Benarkah Originalitas Sudah Hilang?


Salah satu tokoh di “Lady in The Water” (2006) adalah seorang penulis skenario film. Lelaki setengah baya berkacamata ini selalu mengaitkan semua peristiwa yang ia alami dengan plot kisah dari berbagai film.

Jika kalian belum menonton film ini, tidak usah merasa bersalah. Film ini ratingnya b-ajah, meskipun saya menyukainya. Mungkin karena sang sutradara M. Night Shyamalan adalah salah satu sineas favorit saya.

Menurut saya, Shymalan selalu memiliki ide yang di luar kebiasaan orang pada umumnya. Publik barangkali lebih mengenal karyanya yang lain, seperti “The Sixth Sense” (1999), dan yang paling anyar “Glass” (2019).

Anyway.

Ada sebuah kalimat yang diucapkan tokoh penulis skenario ini. “There is no originality left in the world, Mr. Heep – that is a sad fact I have come to live with.”

Tak ada lagi yang dinamakan originalitas di dunia ini.

Entah kenapa penggalan kalimat ini tiba-tiba muncul dalam percakapan kami (saya dan suami) kemarin. Mungkin karena kami sama-sama sedang menonton dua film yang berbeda. Kadang suka begitu memang, padahal kami ada di ruangan yang sama, hahaha.

Saya baru selesai menonton dua episode pertama serial TV dari Korea berjudul “Tell Me What You Saw”. Ini genre-nya detektif thriller. Sebentar-sebentar saya harus pause tayangan dan menghela nafas.

“Kenapa?” tanya suami.

“Ini ada karakter yang mirip pembunuh di The Silence of The Lambs, dan ada satu adegan mirip Se7en. Dan secara keseluruhan, hubungan dua karakternya mirip sama The Bone Collector.”

“Oh ya, mungkin penulis dan sutradaranya nonton juga.”

“Iya.”

Begitulah, beres menonton dua episode, saya malah kurang menikmati karena sedikit-sedikit mesti teringat adegan nganu, buku ngono, kalimat dari sana sini. Mungkin ini (lagi-lagi) kesombongan saya, sebab jika kalian sudah membaca sampai sini, kalian pasti mengambil kesimpulan bahwa saya sudah banyak membaca buku dan menonton film. Iya, sih.

Tidak ada lagi yang namanya originalitas. Originalitas telah hilang. Loh, kok hilang? Kalau hilang, berarti sempat ada, dong. Hmm … ini menarik.

Saya jadi teringat bahwa setiap kali menulis apa pun, sebetulnya yang saya lakukan adalah meramu apa yang saya tahu, yang pernah saya baca ke dalam tulisan. Semua orang juga pasti sama. Apakah itu berarti saya tidak dan belum pernah menulis mengenai sesuatu yang original? Yang indigenous? Genuine? Apakah dengan begini saya dikategorikan plagiator? Gusti nu agung .…

Siapa ya yang pernah bilang, “Sejatinya yang kita lakukan hanyalah tiru-meniru.” Setelah dipikir-pikir, eh iya betul juga. Mengapa gaya menulis saya begini, misalnya; ini sudah hasil dari sekian banyak “tiruan” yang saya lakukan pada sepaketan lengkap pengetahuan dan kecenderungan saya sendiri, yang didapat dari banyak orang lainnya.

Tapi soal plagiasi, tunggu dulu. Sebab ada akronim yang terkenal dengan nama ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Tahu, kan? Entah dari mana saya dapat akronim ini, tapi saya sering mengatakan pada para peserta pelatihan (jika sedang mengisi), inilah yang harus dilakukan. Amati orang-orang yang kau kagumi karyanya, tiru metodenya, kemudian modifikasi dengan gayamu sendiri. Oh, pelatihan guru yang saya maksud, metodenya juga metode mengajar.

Rasanya, menulis juga bisa memakai teknik yang sama. ATM. Siapa sih penulis favorit kalian? Amati gaya dia menulis, tiru metode dan gayanya, kemudian modifikasi, kawinkan dengan gayamu sendiri, jadi deh.

Trus, membedakan meniru dan memplagiasi, di mana dong?

Meniru itu, berasal dari kata “tiru”. Menurut KBBI, artinya adalah “melakukan sesuatu seperti yang diperbuat orang lain dan sebagainya; mencontoh; meneladani”.

Artinya, jika kita meniru (gaya) tulisan orang untuk dimasukkan pada tulisan kita, ini bukan plagiasi. Plagiasi terjadi ketika kita mentah-mentah menyalin tulisan orang dan mengakuinya sebagai karya sendiri. Cih!

Lalu, apa kabar dengan originalitas?

Yah, menurut saya sih, originalitas tetap ada, buktinya jika kita telaah lebih jauh, banyak kok buku-buku atau film-film yang dari segi cerita, sangat original, dalam arti: belum pernah ada orang yang membuat seperti itu sebelumnya.

Lagipula, originalitas bergantung pada wawasan juga. Sebagai contoh; terkadang ada orang yang bercerita, “Eh saya baru baca buku A loh, ceritanya bagus, idenya original banget.” Dan tanpa merasa bersalahnya, saya suka bilang, “Ah engga juga, itu kan tahun sekian, ada di buku nganu, atau film ngono.”

Ya, saya memang kejam. Suka bosan jadi orang baik. Eh.

Originalitas dalam bentuk ide, tentu masih ada. Tapi inspirasi di balik ide tersebut, bisa saja tidak pernah original. J.R.R Tolkien, penulis cerita fantasy saga “The Lord of The Rings” mendapat banyak inspirasi dari perang dunia pertama. Pada PD I, Tolkien ikut berperang sebagai salah satu anggota pasukan British Army. Adegan-adegan kolosal peperangan antara para makhluk di Middle Earth, seperti manusia, Elf, Dwarf dan sebagainya, diambil dari pengalaman pahitnya ikut bertempur di The Battle of Somme, di mana Inggris harus kehilangan 400 ribu anggota pasukan.

Toh, ketika kita membaca atau menonton kisah TLOTR, tetap saja ide Tolkien begitu mengagumkan. Ia membangun sebuah dunia fantasi, yang ia sebut “Middle Earth”. Ia menciptakan berbagai karakter aneh dan menarik, serta membangun plot cerita yang solid.

Menutup curhatan pagi ini, teruslah menulis hai kalian. Pelajari banyak tulisan, bacalah banyak buku atau bacaan lainnya, dan banyaklah berlatih.

Siapa tahu suatu hari, ada satu atau banyak tulisan kita yang bisa menggugah dunia. Mana tahu originalitas ide kita, yang terinspirasi dari sesuatu atau seseorang, mampu membuat kita menjadi penulis hebat.

Jika belum, paling tidak kita takkan menyesal, sebab sudah melakukan apa yang kita sukai secara maksimal.

Dan jangan lupa, menulis itu menyenangkan. Maka, bersenang-senanglah. Jangan dibawa baper.

 

 

Posted in parenting, Pendidikan

Winner Syndrome


Setiap akhir pekan, saya punya beberapa kelas di salah satu BUMN milik pemerintah. Dari awalnya satu kelas, berkembang menjadi beberapa kelas dengan kebutuhan bahasa Inggris yang berbeda.
Beberapa pekan sebelumnya, saya sudah dikabari tentang sebuah kelas baru, siswanya hanya satu orang (kelas-kelas lain ada yang sendiri maupun berkelompok). Siswa ini juga salah seorang karyawan di sana, perempuan. Kita sebut saja namanya, Bunga.
Bunga dan saya berkirim pesan lewat whatsapp sebelum pertemuan pertama kami. Ia butuh belajar IELTS untuk kebutuhan studi ke luar negeri. Bunga sudah pernah mengambil tes IELTS sebelumnya, dan sekarang ingin meningkatkan skornya yang dulu. Kami kemudian berdiskusi mengenai durasi pembelajaran dan skill mana yang akan lebih diasah.
Pada hari H kami bertemu pertama kali, saya baru selesai makan siang. Mulut saya barangkali masih cemong dan tampang saya pasti terlihat amat bodoh. Maklum, saya penganut asas laper brutal-kenyang bego.
Bunga memasuki ruangan, dan kami berjabat tangan. Ia kemudian duduk di hadapan saya. Saya minta maaf dan buru-buru membereskan piring bekas makan saya. Dari sudut mata, saya menangkap kesan gugup yang coba ia sembunyikan. Sebelah tangannya gemetaran.
Saya menatapnya sambil tersenyum. “So, we finally met.”
Ia mengangguk, juga tersenyum, meski ujung matanya berkedut-kedut, ekspresi wajahnya setengah meringis. Apakah saya semenakutkan itu? Saya membatin.
Saya ajak ia mengobrol hal-hal remeh temeh dulu, apa kabar, di mana rumah, sudah lama kah bekerja di sini, dan lain-lain. Ia menjawab semuanya dengan bahasa Inggris yang sangat bagus, lancar dan tertata. Perkiraan saya, kemampuan speaking Bunga ada di kisaran 7 atau 7.5.
Tentu ini perkiraan, sebab kriteria penilaian IELTS itu banyak dan rumit, disajikan dalam tabel dengan banyak indikator. Namun, jika kalian mengenal tipe tes ini, kalian akan paham bahwa skor 7 itu artinya sudah bagus.
Kemampuan bahasa Inggris Bunga bagus sekali, tapi ia tidak percaya diri. Ini menarik.
Are you nervous, right now?” tanya saya.
Yes, Miss. I am sorry.” Ia menarik napas. Tangannya masih gemetaran, hanya sesekali ia menatap mata saya.
Why?”
Ia tersenyum kecil, tangannya menyentuh kacamata yang bertengger di hidungnya. Saya mengawasinya selama sekian detik. Pada dahinya yang berkeringat, pada sikap duduknya yang seperti oleng, pada kedua kakinya yang sebentar-sebentar bergerak. Di usia akhir 20-an, ia tampak sangat rapuh.
Am I intimidating?” Saya sudah siap memundurkan kursi, memberinya jarak lebih lebar. Terkadang tak semua orang nyaman dengan kedekatan fisik.
No, no Miss. It’s okay. It’s me, it’s not you.” Lucu sekali, kalimatnya seperti yang sering diucapkan di film roman percintaan. It’s me, not you. Akulah yang menjadi masalah sayangku, bukan kamu.
Are you always nervous meeting new people?”
Yes.” Ia mengangguk kuat-kuat.
Saya mengangguk paham. Ini sering terjadi pada banyak orang. Mereka akan merasa gugup bertemu dengan orang baru. Cemas dengan penilaian orang, takut dengan reaksi orang, begitulah.
Bunga kemudian bercerita tentang pengalamannya sewaktu mengambil tes IELTS. Tanpa ditanya, ia berkisah betapa ia menyesali skornya yang tidak tinggi untuk writing dan speaking (padahal dua skills ini yang paling tinggi tingkat kesulitannya). Dan tanpa ditanya pula, ia mengatakan skornya rendah karena kelalaiannya sendiri. Saat disodori pertanyaan yang (padahal) mudah baginya, ia malah membuat jawabannya rumit dan tidak sesuai pertanyaan.
You were overthinking.”
I was, Miss. That’s correct.” Ia mengangguk.
Seorang perfeksionis, saya menilainya dalam hati. Jenis orang seperti ini sering kali menyiksa dirinya sendiri, sebab ia meletakkan standar yang bahkan sering terlalu tinggi untuk dirinya sendiri. Hal-hal sederhana biasanya akan mereka buat menjadi rumit, sebab mereka ingin hidup sesuai standar yang lebih tinggi dari kebanyakan orang. Bunga, saya simpulkan adalah salah satunya.
Why do you do that, to yourself?” tanya saya penuh selidik. Kalian harus tahu, dalam pekerjaan ini, hubungan saya dan murid harus ada dalam kondisi senyaman mungkin. Sebab kami akan sering bertemu, dan harus saling menumbuhkan rasa saling percaya antara satu sama lain.
Sesuai dugaan saya, Bunga terjangkit winner-syndrome (sindrom pemenang). Entah apakah ada istilahnya dalam psikologi, tapi ini sebutan saya untuk mereka yang selalu jadi nomor satu. Orang-orang ini adalah mereka yang terbiasa menang dan selalu tak siap dengan kekalahan. Untuk mereka, pilihannya hanya dua; menjadi juara atau tidak sama sekali. Bunga pun seperti itu. Sejak kecil, ia selalu berprestasi dengan cemerlang. Ia langganan juara kelas, dan juara berbagai perlombaan.
What happened when you didn’t win? Back then?”
Ia terdiam.
Did you get punishment? Were you humiliated?”
Ia mengangguk. Aaah … sudah kuduga (saya menyipitkan mata dan memiringkan kepala, meniru tingkah polah Sherlock Holmes versi Benedict Cumberbatch).
Ibunya Bunga adalah tersangka dalam kasus ini. Setiap kali Bunga gagal mendapat gelar juara, maka ia akan mendapat hukuman dan omelan. Baiklah.
Kami menghabiskan beberapa menit setelahnya, mencoba membahas apa yang bisa Bunga lakukan untuk mengatasi penyakit psikologisnya ini. Sebab di usia dewasa, pada akhirnya, Bunga merasa lelah dengan standar ketinggian yang ia terapkan sendiri. Pada jam kedua pertemuan kami, ia sudah tak lagi gemetaran. Yaaay, saya sudah tak lagi menyeramkan baginya.
***
Sindrom pemenang ini sering sekali saya temukan, baik pada murid seusia Bunga, atau lebih muda. Biasanya dikarenakan kebiasaan yang ditanamkan orangtua. Mereka didorong sangat keras, untuk bisa mencapai posisi puncak.
Jika gagal, berlaku sistem punishment atau hukuman. Jika berhasil, mereka terkadang mendapat reward (hadiah), kadang juga tidak. Banyak orangtua yang merasa, keberhasilan adalah sebuah kewajaran, namun kekalahan adalah sebuah kesalahan.
Bertahun-tahun lalu, saya pernah bertemu dengan seorang anak usia 11 tahun, yang menangis terisak-isak sebab mendapat nilai bahasa Inggris 85.
Ia takut pulang ke rumah, sebab seharusnya ia mendapat nilai 100. “85 itu jeleeek …. yang bagus itu 100, kata Mama.” ujarnya di antara cucuran airmata.
Luar biasa itu orangtua. Luar biasa konyol.
Para anak penderita sindrom ini, biasanya tumbuh menjadi seseorang yang sangat pintar dalam akademis, namun gagap bersosialisasi dan seringkali malah gagal karena hal-hal kecil.
Kondisi ini bisa lebih parah, jika kemudian mereka menerapkan standar yang sama untuk semua hal. Maka, kemudian mereka hanya memiliki sedikit teman (sebab terlalu pemilih), sedikit pengalaman (sebab tak berani mencoba hal baru, kecuali sesuatu yang mereka yakin bakal menang) dan hal-hal lainnya.
Ini tentu menyedihkan, sebab hidup selayaknya dinikmati sebagai sebuah paket lengkap up and down, baik di kala susah maupun senang. Sindrom ini telah membuat mereka terkunci pada standar yang mereka ciptakan sendiri, yang kesenangannya ditentukan oleh kemenangan, dan tidak boleh karena kekalahan.
Padahal, kalah dan bahagia bisa seiring sejalan, kok.
Ketika kita mendapat nilai kecil dalam sebuah pelajaran, dan kita santai, kita akan menganggap itu sebagai sebuah pengalaman menarik. Sesuatu yang bisa kita tertawakan dan kelak, mungkin menceritakannya pada anak cucu.
Kita pernah jatuh, terguling, semaput, hampir putus asa, dan seterusnya; semuanya menjadi potongan puzzle yang membuat hidup kita menjadi lebih berwarna.
Sebab hidup tak melulu soal kemenangan.
Jika Anda sudah menjadi orangtua dan membaca tulisan ini, plis … sayangilah anak-anak Anda, dengan tidak membebaninya seperti itu.
Suatu hari waktu kita akan habis di dunia, sementara anak-anak kita (mungkin) masih ada dan terpaksa menjalani hidup dengan cetak biru yang kita lekatkan pada mereka.
 
☕️
Posted in Film

Kemenangan dan Kesederhanaan PARASITE


*hati-hati, mungkin mengandung spoiler untuk yang belum nonton*
 
“Baru kali ini degdegan nonton Oscar!”
Demikian komentar salah satu kawan di grup pecinta film. Sepagian kemarin, saya pun menatap layar komputer (live streaming dari salah satu portal berita) dan jari bergerilya mengetik balasan chat di grup. Hahahaha.
Penyelenggaraan Academy Awards ke-92 tahun ini memang penuh kejutan, meski beberapa pertanda sudah terlihat di awal-awal. Apa seeh.
Dilihat secara keseluruhan, jajaran film yang masuk nominasi bukanlah lawan main-main. Biasanya selalu ada film yang (terlihat) jauh lebih unggul disbanding yang lain.
Tidak tahun ini.
 
Ada Joker yang disajikan indah sekaligus mencekam, mengobrak-abrik emosi penonton ketika menyaksikan kehidupan Arthur Fleck yang seperti mewakili sebagian masyarakat kita. Tumbuh dalam lingkungan yang tidak kondusif, mengalami perundungan, berujung pada depresi hebat. Akting Joaquin Phoenix memukau disertai script cerita yang solid, menjadikan film ini (salah satu) jagoan saya untuk mendapatkan Oscar.
Lalu ada The Irishman, film besutan salah satu legenda Hollywood, Martin Scorsese, yang memasang jajaran cast uwow macam Robert De Niro, Al Pacino, Joe Pesci dan Harvey Keitel.
Saya sempat bilang ke suami, jika merujuk pada kebiasaan Oscar yang suka agak-agak “nyeni” dan anti film box-office, The Irishman seharusnya bisa menang. Dengan durasi sepanjang tiga jam lebih, Scorsese sukses mengarahkan para pemain kawakan ini untuk menyajikan akting kelas dewa.
Di akhir, muncul 1917, film bertema perang (PD I) garapan Sam Mendes. Meski leading actors di sini adalah para pemain muda (Dean Charles Chapman dari Game of Thrones, dan George McKay dari Captain Fantastic), tapi film ini unggul secara teknis.
Saya sangat suka dengan pengambilan kamera di sini, seolah tak terputus dan tanpa editing sama sekali. Istilahnya “one shot”. Kadang ketika menonton film, kita pasti tersadar bahwa ada pergantian “shoot” yang halus atau tersamar (atau bahkan jelas sekali). Di 1917, pengambilannya sangat mulus, sampai-sampai gaya “single take style” nya Sam Mendes ini dibahas di beberapa artikel.
Saya sendiri cukup menyukai gaya Sam Mendes, sejak ia menyutradari American Beauty (1999). Saya tak begitu tahu istilah sinematografinya, tapi Mendes bisa menyajikan gambar yang tak hanya indah namun sarat dengan muatan emosi, kira-kira begitulah.
Saingan berikutnya ada Jojo Rabbit, Marriage Story dan Ferrari versus Ford. Saya belum menonton semuanya, namun dalam ulasan yang saya baca, masing-masing juga memiliki kelebihan. Terutama Jojo Rabbit dan Marriage Story. Yang pertama berkisah tentang masa pendudukan NAZI, dari sudut pandang seorang anak bernama Jojo. Yang kedua berkisah tentang kehidupan rumah tangga, yang katanya inspiring sekali.
Khusus untuk Marriage Story, entah kenapa saya menunda untuk menontonnya, sebab ingin menyiapkan mental yang tangguh dulu. Wuahahahaha.
 
Kemudian, yang terakhir akan saya bahas adalah, tentu saja Parasite. Film asal Korea Selatan yang mencatat sejarah di Oscar ini, sudah menawan hati sejak saya menyaksikannya pertama kali.
Apakah Parasite istimewa sebab ia dari Asia?
Tunggu, dalam sejarahnya, sudah ada beberapa nama orang Asia dan film dari Asia yang masuk nominasi Oscar.
 
Tercatat Ang Lee, sutradara asal Taiwan yang pernah masuk nominasi Oscar untuk karya-karyanya seperti Crouching Tiger Hidden Dragon (2000), Life of Pi (2012) dan Brokeback Mountain (2005). Pada judul terakhir, Ang Lee menyabet gelar sutradara terbaik.
Nama Asia lainnya yang pernah masuk nominasi adalah Asghar Farhadi, sutradara asal Iran lewat film “A Separation” (2011). Ken Watanabe, aktor berkarakter asal Jepang juga masuk nominasi aktor pendukung terbaik lewat “The Last Samurai” (2011).
Paling anyar adalah sutradara Hirokazu Koreeda asal Jepang yang mempersembahkan Shoplifters (2018), salah satu film paling mengguncang secara emosional (setidaknya menurut saya). Shoplifter masuk nominasi Oscar pada kategori Best Foreign Picture, meski akhirnya dikalahkan Roma dari Meksiko, karya Alfonzo Cuaron.
Tentu kita juga masih ingat dengan kemenangan Slumdog Millionnaire di tahun 2008, yang disambut gembira banyak warga Asia, karena merasa terwakili, meski aslinya film ini dibuat oleh sutradara asal Inggris (Danny Boyle), sebuah entertainment company asal Inggris dan didistribusikan oleh Fox dan Warner Bros asal Amerika.
 
Mengapa kemenangan Parasite, yang menyabet empat penghargaan Oscar menjadi begitu istimewa?
Terlepas dari serangan hallyu (demam Korea) yang begitu masif di industry hiburan internasional, Parasite memang sebuah masterpiece.
Jika Joker membuat nama Joaquin Phoenix menjadi melekat padanya (seperti Heath Ledger di The Dark Knight), maka Parasite membagi rata kualitas akting para pemainnya. Joker is a one man show, kalau kata teman saya. Bukan berarti ia hasil kerja satu orang, tapi kesan itulah yang kita dapatkan. Joker ya Joaquin Phoenix.
Secara tema global, 1917 barangkali yang paling menarik, sebab ia mengangkat tema perang. Terkait sinyal-sinyal perang yang sudah dicanangkan Amerika-Iran, seharusnya 1917 menjadi relatable dengan penonton. Namun, tak semua orang suka isu politis. Meskipun suka, barangkali tidak banyak (yang peduli). Sementara Parasite menyuguhkan tema yang lebih universal : kesenjangan sosial.
Terbukti, meskipun disajikan dalam bahasa aslinya (Korea), Parasite mampu menyampaikan pesan ke hati penonton. Hidup si Kaya dan si Miskin, ternyata tak sesederhana itu. Bahwa pada suatu ketika, kita akan dibuat bingung, ke pihak mana kita mesti lebih bersimpati.
 
Plot kisah Parasite dibuat rapi, menyisakan banyak layers of twists, yang meskipun mungkin penonton sudah bisa agak menebak, tetap nendang juga. Secara keseluruhan, Parasite menyajikan tontonan yang dapat dimengerti semua kalangan, tanpa melupakan teknik storytelling yang mencengangkan, penyajian sinematografi yang indah dan akting chemistry antara para pemainnya yang begitu kuat.
Suami saya sempat mengatakan, dibandingkan Parasite, Shoplifters lebih rapi dan tak terduga. Namun kemudian kami bersepakat, bahwa Parasite menang dari segi teknik penggarapan. Lagipula, Shoplifters dan Parasite tidak bertemu di ajang dan tahun yang sama. Sekadar membandingkan saja.
 
Setelah berturut-turut memenangi Best Foreign Picture (film asing) dan Best Original Screenplay (skenario), saya belum yakin Parasite akan mendapatkan penghargaan lagi. Namun setelah Bong Joon Hoo (BJH) dianugerahi sutradara terbaik (WHAAAAT), saya jadi punya feeling, Parasite akan jadi film terbaik. Terbukti sudah.
BJH naik ke podium dengan wajah tak percaya. Bukan tanpa alasan, saingannya ya Allah, ada Martin Scorsese, Quentin Tarantino, Sam Mendes dan Todd Phillips.
Siapalah ini, sutradara berwajah Asia, yang mirip Didi Petet, ini? Orang mungkin hanya mengingatnya dari film Okja (2017) yang sempat tembus pasar internasional dan memenangi beberapa penghargaan. Tapi bisa mengalahkan Tarantino dan Scorsese? Cuih.
But then, he did.
 
Dengan wajah polosnya, sambil tersenyum malu-malu, ia bercerita bahwa ada satu kutipan yang selalu ia ingat hingga merasuk ke jiwa. “When I was young and studying cinema, there was a saying that I carved deep into my heart, which is that, The most personal is the most creative.”
JBH kemudian menyebutkan kutipan tersebut datang dari Martin Scorsese. Sontak semua tamu undangan pada perhelatan Oscar berdiri dan memberikan aplaus pada Opa yang tersenyum-senyum.
JBH juga melanjutkan dengan berterima kasih pada Quentin Tarantino yang sudah membantu memperkenalkan film-filmnya ke public Amerika. “When Americans were not familiar with my films, Tarantino always put my films on his list.” JBH kemudian menyampaikan pujian kepada Sam Mendes dan Todd Phillips sambil mengatakan, seandainya diperkenankan, ia ingin membelah piala Oscar menjadi lima bagian, sehingga setiap nominee bisa mendapatkannya.
Bagian pidato JBH ini favorit saya dari semua perhelatan Oscar kemarin. Sama halnya dengan Joaquin Phoniex yang menyampaikan pidato bersahabat di ajang SAH Awards, ketika ia memuji beberapa aktor lain, dari mulai Leonardo DiCaprio, Adam Driver, Christian Bale, hingga mendiang Heath Ledger yang menjadi inspirasinya. Baik JBH maupun Phoenix menunjukkan contoh sikap membumi mereka, meskipun mereka hebat dan terkenal.
 
Parasite total menyapu empat penghargaan di ajang Oscar, ditambah 198 penghargaan dari ajang lainnya, termasuk dari Cannes Film Festival.
Kemenangan Parasite boleh jadi ditenggarai sebagai salah satu bentuk kampanya ‘diversity’ yang akhir-akhir ini gencar dilakukan Amerika lewat Hollywood.
Barangkali.
Sudah sedemikian lama, ajang Oscar juga disebut-sebut bermuatan politis, dengan isu Yahudi, segregasi kulit hitam dan putih, dan yang paling akhir adalah emansipasi perempuan dan kaum LGBT. Konon kabarnya.
Barangkali begitu.
 
Namun sebagai penikmat film, saya sendiri senang dan mengapresiasi kemenangan Parasite, sebagai sebuah karya seni yang memang mumpuni. Ibaratnya, kalo kita menang lomba, biarpun digosipin tetangga kanan kiri, tapi kalo memang karya kita bagus, memangnya kenapa?
 
Parasite bukan saja bukti bahwa film berbahasa selain Inggris bisa menang di penghargaan internasional, namun juga bahwa kesederhanaan dan kerendahan hati sineasnya juga membuat simpati. JBH dengan senyum simpul di wajahnya dan memerlukan penerjemah untuk membantunya berbahasa Inggris, tidak kalah pamor dengan sutradara dunia lainnya yang sudah menelurkan lebih banyak karya.
 
Once again, way to go, Parasite!
Chukkae !
_110845856_hi059851856
 
 
Posted in humaniora

Pertanyaan Haram pada Pertemuan Pertama


Kalo privat, dibayar berapa emangnya? Kok mau, sih?”

Perempuan muda itu baru saja saya kenal beberapa jam sebelumnya. Tepatnya, diperkenalkan teman saya yang lain. Sejak bulan lalu, saya dimintai tolong sebuah lembaga, untuk melengkapi pasukan instruktur yang dikirim mengajar ke sebuah kampus.  Lembaga ini tempat mengajar saya dulu, artinya saya kenal hampir semua orang di sana. Teteh yang satu ini, termasuk jajaran orang baru.

Kami tiba di kampus, jauh sebelum waktu mengajar. Ia mengajak saya duduk di salah satu bangku yang tersebar di koridor. Kami pun mengobrol. Ia sempat kaget ketika mengetahui, saya sudah resign dari lembaga tersebut dan keberadaan saya di sana sebagai instruktur tambahan. Memang lembaga ini bergengsi, banyak orang ingin mengajar di sana.

“Jadi, Miss ngajar di mana sekarang?” tanyanya penuh selidik.

“Saya ada beberapa project sama instansi dan sekolah, sisanya privat.”

Kedua bola matanya membulat. Mulutnya berucap, “Oh”. Kemudian terucaplah pertanyaan yang saya sebutkan di awal. Saya sempat bingung dengan tambahan kalimat “kok mau sih”.

Emang kenapa gitu, kalo privat?” Saya tanya balik.

“Ya ga kenapa-kenapa sih Miss, tapi kalo saya mah ga mau. Gimana yah … eh jadi, bayarannya berapa?”

Saya jadi hilang selera mengobrol dengannya.

Dengar-dengar sih, selain part-timer di lembaga itu, ia juga dosen di salah satu perguruan tinggi. Baiklah …

Barangkali, yang membuat saya tak nyaman untuk menjawab pertanyaannya, bukan hanya karena ia menyelipkan nada meremehkan, melainkan juga karena jenis pertanyaannya.

Bertanya tentang gaji atau fee seseorang pada pertemuan pertama, adalah sesuatu yang tidak perlu. Meskipun, mungkin saja ia merasa biasa dengan pertanyaan tersebut, karena kami sama-sama bekerja di bidang serupa.

Pada kelas-kelas conversation yang saya ajarkan, topik ini sering muncul, biasanya dengan tajuk “Several questions you should never ask in a first meeting”. Pada pertemuan pertama dengan orang asing (dalam arti belum kenal), apa sih yang kamu tidak boleh tanyakan.

Saya biasanya membuat garis lurus di tengah papan tulis, membaginya menjadi dua tempat. Saya tulis “Dos” dan “Don’ts”. Para siswa saya undang untuk menuliskan jenis pertanyaan mana yang menurut mereka boleh ditanyakan, dan mana yang tidak boleh (atau sebaiknya jangan).

Topik ini selalu menarik, sebab biasanya para siswa akan saling beradu argumen mengenai pertanyaan mana yang boleh dan yang tidak. Sebagai contoh, ketika ada siswa yang menulis, “asking age” pada kolom “Dos”, siswa yang lain akan bereaksi.

Do you think you can ask people’s age in the first meeting?” saya biasanya bertanya.

Sahutan “Yes” dan “No” terdengar dari seisi kelas. Yang pro mengatakan, gapapa menanyakan umur, takutnya lebih tua kan harus panggil “Kakak”. Sementara yang kontra kemudian dengan agak menjerit, menyatakan, “Tapi kan, itu nggak sopaaaan …”

Kalau sudah begitu, saya biasanya akan mengajak mereka untuk browsing sama-sama, mencari jawaban yang benar.

Hasilnya? Tergantung budaya, memang.

Bagi orang Asia, seperti kita, mengajukan pelbagai pertanyaan apapun pada pertemuan pertama adalah sesuatu yang wajar.

Umurnya berapa?

Kerja di mana? Gajinya ada 5 juta?

Masih single?

Rumahnya di mana?

Kamu muslim, bukan?

Adalah sederet pertanyaan yang mungkin saja kita dapatkan pada pertemuan pertama, dengan orang asing. Karena itulah, rekan kerja saya yang ekspatriat sambil tertawa-tawa sering mengaku risih, menerima pertanyaan-pertanyaan pribadi dari orang Indonesia.

Di dalam kelas, para siswa kemudian berdialog mengenai jenis-jenis pertanyaan ini. Saya akan bertanya, apakah nyaman ketika ada orang yang baru pertama bertemu bertanya hal-hal yang amat pribadi. Apakah mereka akan menjawab, dan lain sebagainya. Bagaimanapun, karena saya mengajar bahasa asing, yang pemakaiannya ada di tatanan internasional, akhirnya saya akan memberi tahu mereka, bahwa sebaiknya jangan mengajukan pertanyaan yang bersifat personal pada pertemuan pertama. Ada jenis-jenis pertanyaan yang memang hanya bisa diajukan ketika kedekatan sudah terbangun, dan itu berarti membutuhkan waktu.

Sejujurnya, dari sekian ekspatriat yang pernah bekerja bareng dengan saya, barangkali hanya ada satu dua orang saja yang saya tahu persis usia mereka berapa, dan apakah mereka beragama atau menyembah Lays rasa rumput laut. Selebihnya, pembicaraan kami hanya seputar pekerjaan dan sesekali isu aktual yang sedang heitz.

Dari sekian jenis pertanyaan yang wajib dihindari pada pertemuan pertama, biasanya yang berhasil saya rangkum adalah lima jenis pertanyaan.

  1. Bertanya soal umur
  2. Bertanya soal status pernikahan
  3. Bertanya soal pekerjaan dan atau penghasilan
  4. Bertanya soal agama dan kepercayaan
  5. Bertanya soal orientasi seksual

Urutan, tentu tidak menentukan mana yang lebih urgent atau tidak. Daftar ini pun barangkali masih kurang, sebab, ada juga yang berpendapat bahwa bertanya dan mengundang pembicaraan ke arah politik, sebaiknya jangan.

Ini saya anggap penting, tak hanya dalam kelas English Conversation, tapi juga pada kelas-kelas lain. Saya tak tahu, barangkali kelas komunikasi? Atau Budaya?

Apalagi di era medsos seperti sekarang, ketika dengan sukarelanya kita menelanjangi diri sendiri, tanpa ada filter privasi dan tak usah menunggu pertanyaan dari pihak lain. Apalagi ketika beberapa tahun terakhir kita sibuk terombang-ambing dalam pusaran menjijikkan politik praktis. Sudah saatnya, paling tidak, kembali bersikap pada tempatnya. Terutama ketika berinteraksi di dunia nyata.

Secara pribadi, saya paham bahwa ini tidak mudah. Apalagi orang Indonesia terkadang saking eratnya kekerabatan atau sering melakukan SKSD (Sok Kenal Sok Deket), merasa tak ada pertanyaan yang terlalu pribadi untuk ditanyakan. Semuanya ada di level yang sama.

Terkadang kita lupa, bahwa sesuatu yang biasa ada dalam budaya kita, bisa jadi bertolak belakang dengan budaya orang lain. Kebebasan kita sejatinya dibatasi oleh kebebasan orang lain. Maka, jangan lagi baper, ketika ada orang yang menolak menjawab pertanyaan kita. Periksa kembali; jangan-jangan pertanyaan kita diucapkan tidak kepada orang, tempat dan waktu yang sesuai.

Miss, umurnya berapa sih?” Suatu kali di kelas bahasa Inggris yang isinya anak-anak SMA.

“Ih, pengen tau aja,” saya mendelik.

“35 ya?”

Tetew!”

“26? 36? 31? 50?”

“Salah semuaaaa …”

“Berapa atuh, Miss, Ih …”

“Kalian kenapa pengen tau?”

Gapapa dong Miss, kan kita udah deket …” Seorang anak mengedipkan sebelah matanya. Bagoos banget, yak, kecil-kecil sudah pinter modus.

“41.”

Seorang anak mencibirkan bibirnya. “Buset dah, lebih tua Miss, dari Mamaku.”

Kubakar juga kelas ini.

 

 

 

 

 

Posted in Fiksi

Langit yang Tak Sama


Jakarta Selatan, 2013.

“Mampir situ dulu …” Kurelakan langkah kakiku terseret tarikan lenganmu.

Sepiring sate lontong tersaji tepat di hadapan kita, dan kau memekik kecil, “Aaaah! Akhirnyaaaa …”

Sungguh mengherankan, padahal aku tahu pasti, kau sudah makan. Setelah acara wisuda tadi siang, kau sudah dua kali bersantap. Ini sudah lewat jam sepuluh malam. Perempuan macam apa yang dengan cerah cerianya masih mengisi perut pada jam segini?

Hafa ha mahaaan?” Mulutmu penuh dengan lontong dan sate, menyisakan seberkas noda kecokelatan di sudut bibirmu. Sebelah pipimu menggembung.

“Hah?”

Sesaat, kau menelan semua makanan di mulutmu itu, baru berkata: “Aku bilang: kenapa ga makan?”

Aku mendengus. “Aku mendadak kenyang lihat kamu makan.”

“Jangan marah kalo kuabisin ya …” Lalu kau memonyongkan mulutmu. Aku menyuruhmu mengambil tisu untuk membersihkan noda bumbu sate di sudut mulutmu.

Aku bodoh. Seharusnya aku yang menyekanya di sana, dengan ujung jariku sendiri. Tapi aku tak berani, tak pernah berani. Bahkan setelah lima tahun persahabatan kita.

Siapa orang bodoh yang pernah mengatakan langit malam di mana-mana sama? Sini, biar kujitak kepalanya.

Langit malam di mana-mana itu tak sama, sebab langit Jakarta malam itu seterang bias wajahmu.

***

Linz, pertengahan April, 2015.

Kukencangkan ikatan syal di leher, mencoba berlindung dari dingin. Brr … Musim dingin sudah lama berlalu, namun temperatur masih berkisar di angka 13 dan 14 derajat. Masih terlalu dingin untuk tubuh Asiaku yang terbiasa dengan suhu tropis.

Langit masih terang terlihat, meski sudah pukul delapan malam. Di sisi kiri dan kananku, anak-anak muda bergerombol. Sebagian duduk-duduk, selebihnya berjalan riang, sambil mengobrol. Hauptplatz[1] pada akhir pekan memang lebih ramai dari biasanya.

Geht es dir gut?”[2] Kristoff, menjajari langkahku.

Aku mengangguk.

Warum sagst du nichts heute abend?”[3]

Ich bin ok.”[4] Aku tersenyum, berusaha meyakinkan Kristoff, yang kemudian menepuk-nepuk bahuku. Tentu saja itu bohong, sebab pesan darimu yang masuk ke ponselku sore tadi membuat dadaku sesak hingga malam ini.

Jef, hari ini resmi aku jadian, horeeee! Kasih selamat dong, akhirnya sahabatmu laku juga!

Langit Linz saat ini hanya mengirimkan muram.

***

Bandung, 2016.

Belum sempat duduk, kau sudah menghambur ke pelukanku.

“Jeff … sombong amat sih jarang pulang.” Cemberutmu membuatku ingin tertawa.

Engga jarang kok, ketemu kamunya aja yang jarang. Setiap habis trip, aku pulang.”

“Iyaaa, sombooong … padahal aku ga ke mana-mana jugaaa …”

Aku tersenyum. Mengingat saat-saat aku sering menahan diri untuk tidak mendatangi kosanmu.

Dih, ngapain? Ntar pacar kamu marah …”

Kau melepaskan pelukanmu. Duduk tanpa berkata-kata di depanku.

“Gi?”

“Aku udah ga sama dia lagi, Jeff. Udah putus.”

Susah payah kutahan senyuman ini. Langit Bandung cerah sekali.

***

“Janji ya, sering ketemu nanti.”

“Iya …” Aku tersenyum, mengacak rambutmu perlahan. “Bulan depan pulang kok, tripnya ga sebanyak kemaren-kemaren.”

Kau tersenyum.

Kuangkat ranselku begitu panggilan boarding terdengar. “Gi, hati-hati pulangnya. Malem banget ini.” Entah kenapa kau memaksa ingin mengantarku ke bandara malam ini.

Kau mengangguk. Aku melepas senyum terakhir kemudian berpaling sambil menyeret American Tourister-ku.

“Jeff?”

Langkahku terhenti. Aku menoleh. Kau berlari kecil mendekat, dan berdiri di hadapanku dengan napas agak terengah. Mukamu merah.

“Ka … kamu …”

“Ya?”

Kau menelan ludah, kemudian, “Kamu … mau sampai kapan begini?”

Aku menatapmu bingung.

“A … apakah aku masih harus menunggu?”

Kulepaskan peganganku dari koper. Memajukan langkahku, kini jarak antara kita hanya terpisah sedikit saja.

“Jeff … kamu merasakan lebih dari ini, kan? Seperti aku? Atau … engga?” Berkali-kali, kau menunduk, sambil meremas-remas ujung kain kemejamu dengan gelisah.

Aku tak sanggup berkata apapun, hanya menarikmu dalam pelukan. Satu hal lagi yang baru kusadari dari persahabatan kita. Kau lebih berani dariku.

“Tunggu aku ya, Gi.”

Perjalanan lima belas jam ke Roma, tidak lagi tampak membosankan.

***

Paris, 2017.

“Mas Jeff, kita kapan belanjanya?” Seorang wanita mengacungkan tangan di tengah rombongan. Aku mengulum senyum. Louvre[5] memang tak pernah mengesankan di mata para perempuan sosialita pemburu brand sepanjang Champs Élysées[6].

“Sepuluh menit lagi ya Bu, kita ke Galeri Lafayette[7] …”

“Ada Longcem ya Mas Jeff …”

“Ada Bu … tenang ajaa …”aku tertawa.

Sebuah pesan masuk ke ponselku. Jangan lupa pesen tiket, Mama pengen kamu hadir.

Aku menarik napas. Esok, aku akan pulang ke Indonesia, karena permintaan Ibuku. Bukan karena itu aku senang, tapi karena aku bisa bertemu denganmu, Gi. Aku kangen kamu, Gi. Rasanya kencan-kencan kita terlalu singkat, di antara timbunan pekerjaanmu di kantor, dan jadwal tripku ke sana sini.

Tapi, mengapa kau tak juga mengangkat telepon atau membalas pesanku, Gi?

***

Bandung, 2017.

Aku memeriksa ponsel. Tak satupun panggilan atau pesan darimu. Kau ke mana? Andaikan aku sempat menemuimu dulu. Apa daya, Mama memaksa aku langsung pulang ke rumah.

“Jeff, Mama cantik, ga?”

Kutatap Ibuku, yang sedang tersenyum sambil bercermin. Di usianya yang tak lagi muda, ia memang masih sangat cantik. Mungkin itu sebabnya, ia selalu bisa mendapatkan pasangan hidup, meski selalu bongkar pasang. Itu juga sebabnya, kami tak pernah bisa terlalu dekat. Setelah pernikahannya yang ketiga, aku sudah tak lagi tertarik membahas apapun dengannya. Biarlah ia bahagia dengan caranya, selama ia tak mengusik hidupku.

“Jeff?”

“Ca … cantik, Ma.”

Ibuku kembali tersenyum, “Doakan ini pernikahan Mama yang terakhir ya Jeff …”

Aku hanya mengangguk, sebab kalimat itu tak pernah terdengar asing.

Seseorang membuka pintu kamar, dan mengumumkan kedatangan penghulu. Aku merapikan dasiku yang sedikit miring.

***

Lelaki yang beberapa menit lalu resmi jadi suami Ibuku itu tertawa menjabat tanganku. Ada sesuatu dari caranya tertawa yang mengingatkanku, entah pada apa.

“Jeff, panggil Papa ya … jangan sungkan.”

Aku hanya tersenyum kecil sambil mereka-reka berapa lama lelaki ini akan bertahan hidup bersama Ibuku.

“Oh, Papa mau kenalin kamu ke anak Papa, kalian sepertinya seusia …” Matanya mencari-cari. “Oh itu dia! Gina! Ke sini, Nak!”

Aku mengikuti arah pandangannya, dan jantungku melesak ke dasar bumi tanpa ampun.

Kau berdiri di sana, berusaha menghindari pandangan mataku.

Langit malam ini kejam sekali.

***

[1] Main square atau pusat keramaian di kota Linz, Austria.

[2] Kamu baik-baik saja?

[3] Kamu pendiam malam ini.

[4] Aku baik-baik saja.

[5] Museum di Paris

[6] Sebuah jalan di kota Paris yang terkenal dengan banyak toko

[7] Salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Paris

Posted in menulis

Benarkah Isi Tulisan Mewakili Keseluruhan Penulisnya?


Kecurigaan Pembaca

“Any resemblance to persons living or dead is purely coincidental. This is a work of fiction and are either products of the author’s imagination or used in a fictitious manner.” (Houghton, HuffPost, 2015).

Anda mungkin sering membaca rangkaian kalimat di atas sebagai pembuka sebuah novel atau film. Rangkaian kalimatnya bisa serupa atau sedikit bervariasi, namun intinya menyampaikan pesan yang sama: “Ini cuma fiksi loh, jadi kalo ada kesamaan dalam bentuk apapun, percayalah itu hanya KEBETULAN belaka.”

Dulu, saya sempat menyangka kalimat model begini hanya diperuntukkan untuk karya fiksi yang diangkat dari kisah nyata. Untuk menghindari ghibah mengenai tokoh asli atau kejadian aslinya, namun ternyata tidak begitu. Pasalnya, karena masih banyak dari kita, sebagai pembaca atau penonton, yang saking terhanyut dalam cerita, menyebabkan kita bertanya-tanya : “Ini beneran?”

Fiksi yang sejatinya dianggap sebagai imajinasi, bisa sangat berpengaruh dan memberikan banyak pengaruh. Di tahun 1938, terjadi kepanikan di New Jersey, salah satu negara bagian di Amerika. Dari siaran salah satu radio, penyiar mengumumkan telah terjadi serangan makhluk Mars ke bumi. Penyiar menyebutkan makhluk Mars muncul dari sebuah pesawat aneh dengan bentuk fisik yang mengerikan. Semuanya disampaikan dengan iringan musik yang mencekam.

Malam itu juga, banyak warga panik dan memutuskan untuk melakukan evakuasi. Kantor polisi diserbu banyak orang yang meminta perlindungan. Tak berapa lama, barulah terungkap bahwa siaran radio yang dimaksud adalah sandiwara radio, “The War of The Worlds” yang diadaptasi dari novel H.G Wells.

Ini membuktikan bahwa memang pembaca atau penonton atau pendengar, selalu diliputi kecurigaan bahwa ‘jangan-jangan ini benar’. Maka jangan heran, bila selama menulis, pembaca Anda akan selalu bertanya kebenaran dari apa yang Anda tulis.

Ketika saya menulis “Ros dan Chandra” (2019), beberapa teman suami menanyakan, apakah kisah cinta di sana adalah kisah cinta kami. Ketika suami menjawab “Bukan”, salah seorang temannya bertanya kembali, “Apakah ini kisah cinta istrimu dan mantannya?”

Kami tertawa saja waktu itu, dan tidak menyalahkan siapapun yang mengajukan pertanyaan apapun. Saya jadi membayangkan pertanyaan macam apa yang selalu mampir di Direct Message atau kotak pesan para penulis terkenal. Mungkin tidak jauh-jauh juga dari situ.

Saya sangat menyukai tokoh Lintang dalam kisah “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata. Hingga, saat Andrea Hirata berkunjung ke Masjid Salman ITB Bandung, saya menjadi salah satu penanya. Pertanyaan saya adalah, “Apakah Lintang tokoh nyata atau fiksi?” Andrea hanya menjawab, “Lintang itu ada.” Pendek saja.

Mengingat kejadian itu, rasanya saya ingin tertawa. Sebab sebetulnya itu pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan. Pada saat itu memang saya sedang bertindak sebagai salah satu penggemar. Andaikan saya bertemu J.K Rowling, barangkali pertanyaan saya adalah, “Mbak, nanya dong: uang bangunan Hogwarts bisa dicicil berapa kali? Kok saya belum dapet surat penerimaan, sih?”

Mengapa sebagai pembaca, kita selalu curiga bahwa apa yang ditulis penulis merupakan kisah asli? Bisa jadi karena saking menariknya tulisan itu, sehingga membuat pembaca terhanyut, atau karena deskripsinya yang terlalu nyata.

Salahkah ini? Menurut saya, tidak. Sebagai penulis, ini hanyalah satu dari sekian risiko yang harus dihadapi. Selain saran, dan kritik pedas karetnya dua, tentu saja.

Sisi Penulis

Membahas kecurigaan pembaca, tentu akan lebih seimbang jika kita juga membahas dari sisi penulis. Mari kita mulai dengan pertanyaan: “Apakah penulis mengambil tema yang memang dekat dengan kehidupannya?”

Pertanyaan susulannya sebagai berikut:

  • Apakah karakter dalam tulisannya didasarkan pada tokoh nyata?
  • Apakah kisah yang ia tulis adalah betulan kejadian yang ia alami?
  • Apakah kisah yang ia tulis ia maksudkan untuk tujuan tertentu?
  • Apakah kisah yang ia tulis MEWAKILI keseluruhan dirinya sebagai penulis?

Jika Anda mengira saya akan menjawab semua pertanyaan di atas, Anda keliru. Sebab yang bisa menjawab hanya penulis yang bersangkutan.

Pun begitu, dari dua artikel yang saya baca pagi ini, ada ulasan di Huffington Post yang cukup banyak membahas soal ini.

Memang betul, para penulis menciptakan karakter fiksi, sebagai hasil dari imajinasi mereka. Entah setelah bertapa tujuh hari tujuh malam, atau dapat dari wangsit mimpi. Namun, sifat-sifat yang mereka lekatkan pada karakter ciptaan, boleh jadi tidak jauh-jauh dari dunia mereka sendiri.

Winnie The Pooh, adalah tokoh beruang baik hati yang bersahabat dengan beberapa binatang lainnya. A.A Milne menciptakan tokoh ini dari anaknya sendiri, Christopher Robbin Milne. Milne sering memerhatikan Christopher memainkan boneka-boneka kesayangannya, memberinya nama-nama. Bahkan nama anaknya sendiri kemudian ia jadikan salah satu tokoh dalam kisah yang sama. Jadi, jika Anda suka membaca atau menonton kisah ini, ingatlah bahwa Christopher Robbin adalah anak asli penulisnya sendiri.

Anne Rice, penulis Vampire Cronicles  menyatakan tokoh Lestat (ingat film Interview with A Vampire?) ia buat berdasarkan suaminya sendiri, yang juga berambut pirang dan memiliki tanggal ulang tahun yang sama. Mirip dengan J.K Rowling dan Harry Potter yang sama-sama berulang tahun pada 31 Juli.

Stephen King, selalu “menitipkan” emosi dan ketakutan personalnya pada setiap kisah yang ia tulis. Ketakutannya pada laba-laba, kegelapan, elevator dan lain sebagainya. Setelah membaca memoarnya “Stephen King on Writing”, setiap kali saya menonton ulang film-filmnya, saya serasa beneran masuk ke alam bawah sadarnya King. Ya ampun seperti ini toh, ia bereksplorasi dengan ketakutannya sendiri.

Penulis juga mau tak mau akan memasukkan banyak pengetahuan dan latar belakangnya sendiri ke dalam tulisan. John Grisham berlatar belakang pengacara, oleh karenanya, novel-novelnya selalu mengusung genre hukum. Mira W, berlatar belakang kedokteran, maka tokoh-tokoh ciptaannya selalu seorang dokter. Meskipun tak menutup kemungkinan, karena ketidakterbatasan imajinasi, tokoh apapun bisa diciptakan seorang penulis.

Apakah setiap tulisan dimaksudkan untuk tujuan tertentu? Bisa jadi. Para penulis fiksi Islami, membatasi diri mereka untuk selalu menulis dalam koridor yang sama. Sebab mereka ingin berdakwah lewat tulisan. Ini tentu tidak salah. Sama seperti saya, yang selalu ingin semua pembaca yang mampir ke tulisan saya, paling tidak mendapatkan sedikit manfaat dari yang saya tulis. Setidaknya wawasan bertambah.

Setiap penulis memiliki kebebasan untuk menulis apapun, membuat karakter apapun, menyematkan sifat apapun, menyertakan latar belakang dan pengetahuan apapun, dalam genre apapun. Namun penulis juga harus mau menerima, bahwa apa yang ia tulis, boleh jadi menciptakan ‘jejak’ yang akan dilihat pembaca. Ada cetak biru yang mewarnai, sehingga mau tidak mau pembaca akan mampu melihat cara pandang dan wawasan yang memengaruhi si penulis.

Yah, kecuali penulis tipe bunglon, sih. Jenis yang bisa menulis dalam pelbagai genre sehingga pembaca kesulitan menyelami aslinya dia seperti apa. Di luar itu, ini sebuah premis yang menurut saya, sah-sah saja untuk dibuat. Tentu, ini bukan tuduhan, sebab ini pun asumsi yang saya buat. Jika memang penulis menyatakan itu fiksi, ya sudah diterima saja.

Sebagai penutup: meskipun kedalaman karakter seorang penulis bisa kita selami dari tulisannya, namun membuat kesimpulan bahwa itu adalah perwakilan diri si penulis seutuhnya, adalah kurang tepat. Sebab Agatha Christie bukan seorang pembunuh atau detektif, Dan Brown bukan seorang profesor simbologi yang jago berenang, James Patterson bukan psikolog profiler FBI, Thomas Harris bukan seorang psikopat, dan seterusnya.

Sejumput warna yang terlihat, tak selalu menggambarkan keseluruhan lukisan.

Salam.

 

*saya pernah menulis soal “Fakta atau Fiksi” dalam bahasan yang agak berbeda di sini*