Posted in 30 Hari Menulis 2018, humaniora, Sosial Issues

HOAKS MEMBINASAKAN AKAL


Suatu kali saya melihat seorang kawan di timeline membagikan foto Jean Claude Van Damme dengan tulisan,

“Subhanallah, Van Damme telah menjadi mualaf dan memeluk agama Islam!”

Saya agak heran melihat gambar tersebut, sebab belum pernah mendengarnya. Kebetulan Van Damme adalah aktor kesayangan zaman kecil, lewat filmnya Bloodsport.

 

jcvddubai.jpg

sumber gambar di klik

 

Akhirnya saya coba telusuri laman demi laman berita (terima kasih, ya Allah atas ciptaanmu, Internet), mencari kebenaran kabar ini. Hasilnya, Van Damme tidak masuk Islam, namun menunjukkan ketertarikannya pada Islam. Van Damme bahkan memuji pola hidup Rasulullah yang ia anggap sangat sehat.

Saya menyumbang komentar terhadap status si teman tersebut.

“Maaf Mbak, ini hoaks … saya tidak menemukannya di laman manapun bla bla bla …”

Serta merta “seembak” itu kemudian membalas,

“Jika ini tidak benar, maka ini adalah doa saya, semoga ia mendapat hidayah.”
Saya waktu itu terdiam cukup lama, sebab tak yakin; sebetulnya kebodohan ada di pihak yang mana sih; saya atau dia.

*berpikir

images.jpg

sumber gambar di klik

 

Di lain waktu, di sebuah grup orangtua murid (ga usah kepo ya, anak saya 4, semuanya ada grup orangtua murid hehe), salah satu orangtua (pastinya), membagikan kabar soal bahan-bahan makanan yang ditenggarai HARAM. Lucunya, daftar tersebut tidak dikeluarkan oleh MUI, melainkan sebuah pondok pesantren di Jawa Timur. Mungkin teman-teman juga sudah pernah mendapat brodkes semacam ini.

Saya browsing lagi, dong. Saya mah gitu orangnya. Terserah deh mau dicap “sok pinter” atau “hayang kapeunteun” (pengen dipuji) juga. Interpretasi bebas, toh semua orang bertanggungjawab dengan semua lintasan hati, lisan dan perbuatannya masing-masing.

Hasilnya, tentu tak ditemukan sodara-sodaraku sebangsa dan setanah air. Bahkan, pesantren yang dimaksud, sudah memberikan klarifikasi bahwa mereka tak pernah mengeluarkan daftar apapun.

Baique.

Mirip dengan Mbak yang menyebarkan kabar soal Van Damme mualaf, Bapak-bapak (duh, keceplosan) orangtua murid itu juga menjawab dengan kalimat,

“Kalau memang kabar ini tidak benar, sikap waro (kehati-hatian) tetap harus kita jaga”.

images (1).jpg

(beginilah kira-kira ekspresi julid saya, sumber gambar di klik )

 

Sungguh, saya sering tidak paham soal ini. Mengapa orang gampang sekali membagikan kabar yang belum tentu kebenarannya, kemudian tanpa merasa berdosa lempeng dan woles saja dengan hal tersebut.

Saya termasuk orang yang sangat rewel, baik di grup whassap maupun di media sosial lainnya. Sebab saya tidak suka dengan orang yang tidak suka membaca tapi suka membagikan kabar tidak jelas. Saya tidak suka orang gontok-gontokkan ga jelas, tanpa data dan hanya berbekal copy paste (entah dari status siapa, sumber dan sanadnya sudah tak jelas). Jadi kalau beradu argumen, dia akan mengeluarkan rentetan tulisan panjang, entah punya siapa, yang pasti bukan dia yang nulis. Nanti kalau merasa terpojok, ia akan pakai strategi ad hominem, menyerang secara personal.

Di atas semuanya, saya hanya ingin semua orang mulai banyak membaca, meningkatkan literasi diri. Salah satunya dengan rajin mengecek setiap kabar dengan browsing di internet. Tidak lama, paling hanya 5 menit. Lebih lama main “Candy Crush” sampai level 2000-an keleus.

Jika tak suka baca dan malas ngecek, ya ndak usah di-share. Nanti menyesatkan orang. Kok pemahaman sesederhana itu susah dicerna sih, herman saya.

Kemudian, ketika kebetulan (mungkin ga sengaja) membagikan kabar tak jelas, ya akui saja. Toh sama-sama manusia. Katakan maaf. Kita selalu berkoar-koar, betapa pentingnya anak-anak untuk mampu mengucapkan ‘maaf’, “tolong” dan “terima kasih,” sebab itu adalah etika yang bagus, akhlak yang terpuji. Anehnya, banyak orang dewasa (dan orangtua) susah mengucapkan ini.

Herman lagi saya.

Sepertinya aturan ini berlaku hanya untuk anak kecil. Kasihan. Kecil-kecil sudah jadi tempat sampah orangtuanya.

Sebelum pilkada tempo hari, kerewelan saya agak melambat. Bukan apa-apa, lama-lama lelah juga harus beradu argumen dengan orang. Plus, saya selalu ketiban anggapan miring, yang suka bikin sedih.

Dianggap pro-Jokowi lah, dikatakan tidak cinta Islam lah, dibilang liberal lah (ini yang paling sering). Padahal, orang-orang terdekat sudah paham betul saya seperti apa orangnya. Semua yang saya rasa ganjil, akan saya katakan, siapapun itu, memakai lambang dan atribut apapun.

download (1).jpg

(sumber gambar di klik )

 

Tapi, sudahlah. Katanya tidak usah capek-capek menerangkan kepada semua orang tentang kita, ya kan, sebab yang menyukai kita tak butuh itu, dan yang membenci kita tak akan percaya. Ngomong-ngomong, ini kata-kata sahabat Rasul, Ali bin Abi Thalib, loh. Belasan abad yang lalu, beliau sudah mengatakannya. Jauh sebelum google dan googling masuk ke dalam kamus resmi Bahasa Inggris.

Warbiayazak.

Jadi periode pra dan pasca pilkada kemarin, saya hiatus. Meski tetap mendiskusikan banyak hal dengan banyak teman dan sahabat hidup di rumah. Lucunya, setiap ada sesuatu yang ngeheitz, seorang atau dua orang teman akan mengirim pesan di kotak inbox.

“Mbak Irma, sudah denger/baca soal ini?”

Hihi, perhatian sekali.

Bukan tanpa risiko kerewelan saya ini. Banyak teman di dunia maya yang memutuskan, diriku-tak-layak-lagi-jadi-teman-mereka, hehe. Beberapa teman dunia nyata, jelas-jelas bersikap “beda” ketika bertemu muka. Bahkan ada yang terang-terangan membuang muka saat bertegur sapa.

Yah, gimana lagi atuh. Kita tidak dapat memaksa semua orang untuk suka dengan kita.

C’est la vie.

Seringkali, tiba-tiba ada pesan email yang meminta konfirmasi saya soal me-reset password. Nampaknya beberapa kali ada upaya untuk meretas email saya, entah untuk apa. Padahal isinya tidak jauh dari spam, jadwal mengajar dari kantor dan tagihan.

Ini tulisannya curhat banget ya, merasa dikasihani banget.

download (2).jpg

(sumber gambar di klik )

 

Ketahuilah teman-teman, bahwa media sosial memang ajang curhat dan pamer dan pencitraan. Kalau tidak, saya pasti sudah menuliskannya di buku diary unyu-unyu bergambar “My Little Pony” dan bergembok mungil. Situ kemana aja?

Anyway, kerewelan saya soal hoaks terakhir adalah tadi malam. Lengkapnya bisa dibaca di postingan sebelum ini (status Facebook). Intinya, ada kabar soal Erdogan, Presiden Turki. Ini mengenai kebijakannya yang baru. Dasar aja saya resek, browsing lagi. Ndak ada buu. Ada juga beritanya beda.

 

  • yang kepo boleh diintip postingannya di sini, postingan tanggal 29 Juni 2018

 

Saya coba tabayyun sama mbak yang buat statusnya, dan hasilnya nol. Tak hanya komentar-komentar saya dihapus, namun juga beliau dengan pedenya mengatakan bahwa (kurang lebih) meskipun sumber kabarnya seadanya, tak mengurangi rasa hormat dia pada Erdogan, plus harapan dia terhadap Bapak Presiden Turki tersebut.

Fiuuuh.

Memang kalau bicara soal Erdogan, saya sering merasa seperti berjalan di atas rumput sintetis jepang setelah hujan. Lembab dan tidak enak di telapak kaki, beda sama rumput alami. Krik krik.

Erdogan fansnya banyak, dan itu sangat saya pahami. Sudah begitu lama Turki menganut sistem sekuler, sehingga Erdogan yang berusaha mengembalikan nilai-nilai Islam yang sejati ke Turki, diacungi jempol oleh muslim Indonesia. Apalagi mengingat sejarah Turki yang pernah menjadi pusat peradaban dan kejayaan Islam.

Padahal, kalau mampu (dan mau) bersikap adil, di banyak laman berita, Erdogan sama dengan pemimpin dunia pada umumnya. Kebijakannya tak selalu diamini, keputusannya tak selamanya bebas kontroversi.

“Media kan dikuasai oleh barat, yang benci sama Islam!”

Duh, duh.

Jika yang Anda maksud itu hanya 2-5 media barat, mungkin. Tapi media itu banyak sekali. Banyak. Anda boleh baca paling tidak 5-7 artikel saja setiap hari, kemudian bandingkan. Ingat, artikelnya jangan dalam Bahasa Indonesia semua, dijamin beritanya mirip. Bacalah dalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya.

Ga bisa? Ya belajar atuh.

Mungkin Anda ingin menimpuk saya seketika, saat membaca kalimat di atas. Mungkin setelah ini beberapa (atau banyak) orang memutuskan tak ingin berteman dengan saya lagi. Ga papa. Tapi saya serius ketika mengatakan PENGUASAAN BAHASA ASING itu penting.

“Barang siapa mengetahui (menguasai) bahasa kaum tertentu, maka ia akan selamat dari tipu daya mereka”

Demikian pepatah Arab mengatakan.

Intinya, bukan masalah Erdogan, bukan masalah keberpihakan. Orang mau terus memercayai apa yang ia pegang juga silakan. Ini masalah literasi dan kebinasaan akal manusia. Otak cerdas yang Allah anugerahkan ini menjadi sia-sia sebab nafsu dan emosi kita melebihi kecepatan nalar. Apapun itu, meski memakai embel-embel “jihad” dan “dakwah”, kebohongan tetaplah sebuah kebohongan. Kabar hoaks adalah salah satunya.

Jika kita sudah sedemikian gampangnya menyebar kebohongan, akan kita sebut apa lagi diri kita ini?

Aib banyak, dosa segunung, nyebar kebohongan sering.

Eh, barangkali yang banyak dosa cuma saya aja, keleus.

Astaghfirullah …

 

Word count : 1247

 

 

 

 

 

 

Author:

Hanya seorang pecinta kata-kata. Kebanyakan saya menulis tentang hal-hal biasa, dengan cara yang diusahakan tidak biasa. Keseharian saya dipenuhi dengan momong anak, diskusi film, mengajar bahasa asing dan membaca buku. Full time mother, part time teacher, lifetime learner ..

4 thoughts on “HOAKS MEMBINASAKAN AKAL

  1. perfetto uno!!!! dan, rupanya sanad sudda masup KBBI Daring. makasih umi. dan, SEMANGKAAA. semangat kaka. stay strong, and stay stil, and don’t stop. aku sangat berharap ini jadi Tulisan Terbaik hari ketujuh. kenapa? agar LEBIH BANYAK yang membaca ini. sekian dan terimagajih umi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s