Posted in 30 Hari Menulis 2018, menulis

Menulis Curhat


Darimana datangnya ide?

Dulu, sebelum saya rutin menulis setiap hari, saya juga bingung. Harus kemana cari ide. Haruskah kutelaah dari sejuk tatap matamu sore itu? Halaaah.

Ternyata ide tidak pernah harus dicari, kawan. Ia seharusnya diciptakan.

Kita hidup 24 jam, setiap harinya, dengan begitu banyak hal yang terjadi; di dunia nyata maupun maya. Hati dan pikiran kita sebetulnya sibuk mengoceh setiap hari, mungkin bahkan setiap detiknya.

Buktinya, berkomentar atau menjelajahi dinding media sosial setiap hari, kita mampu. Menyalin kemudian membagikan joke retjeh maupun kabar burung (kadang hoaks *eh), kita bisa. Mengapa menulis, kita sering keteteran ya?

Aku sering kena writer’s block tauu

Iya, betul. Saya pun begitu. Sering tiba-tiba pikiran mandek, kemudian blank. Boro-boro mau nulis, memikirkannya saja saya tak mampu.

Kalau sudah begitu, saya biasanya tidak memaksa. Saya akan main game, membaca buku, menonton serial/film favorit atau apapun. Biasanya sih, ndilalah setelahnya ide-ide murudul bermunculan.

Gila, ini game Quiz Up bikin ketagihan banget sih, orang lain gitu juga ga ya?

Dan Brown di buku yang ini kok bikin bosen ya? Alurnya itu-itu wae.

Kenapaaa film nganu harus dibuat sekuelnya sih?

Dan demikianlah, biasanya saya jadi keasyikan memikirkan ide-ide baru dan memutuskan untuk menuliskannya (atau tidak). Bergantung pada waktu dan kepentingan.

Saya sering udah nulis panjang-panjang, eh taunya merasa, ini kok biasa banget ya? Orang keknya ga akan dapet manfaat juga.

Akhirnya saya istirahatkan tulisan ga jadi tersebut di folder, untuk kapan-kapan saya tengok lagi.

A writer who waits for ideas is not a writer, he is a waiter.

Frasa cantik nan bikin jleb ini, saya lihat pertamakali di status whassap seorang teman baru di komunitas menulis. Terngiang-ngiang terus kata-kata itu sampai hari ini. Malu deh, beneran.

Katanya pengen jadi penulis beneran, tapi kepengennya nunggu ide mulu. Nunggu tuh angkot, bus, mamang gojek, gajian.

Ini nunggu ide.

Sejak aktif mengirimkan tulisan ke beberapa media, saya juga jadi lebih rajin menjelajah situs-situs di internet yang super baik dan informatif (baik karena bisa memberikan apa yang saya mau, kayak kamuuuu). Gugling, gugling, gugling.

Jika ada yang bertanya, kok kamu seneng banget sih nulis?

Jawaban saya adalah:

Saya ingin mendidik banyak orang. Serius.

Orang-orang Indonesia ini luar biasa berbakat. Banyak yang pintar, cerdas. Kelemahan mereka adalah, kurang membaca dan malas melakukan penelitian. Jangan bayangkan penelitian ala professor Lang-Ling-Lung di laboratorium, dikelilingi banyak botol kaca mengepul mengeluarkan uap. Maksudnya, meneliti kebenaran suatu berita, mencari lebih jauh mengenai suatu kisah.

Makanya itulah, bangsa ini mudah sekali digoyang. Digoyang isu murahan dan jaran goyang.  Sedih tau saya ini.

Apalagi kalau tahu, kaum yang banyak tertipu ini berusia jauh lebih muda atau berpendidikan tinggi. Orang muda seharusnya memiliki kesempatan dan kemauan lebih besar untuk belajar. Orang dengan pendidikan tinggi sejatinya lebih bijak dengan segala keilmuannya.

Belum lagi, di era media sosial seperti sekarang, preferensi dan daya nalar semua orang terpampang nyata, tanpa fatamorgana melalui postingannya di sana, atau hanya lewat sepotong komentarnya.

Pagi ini, saya melihat meme Rocky Gerung dengan kata-kata;

“Orang-orang yang memiliki ijazah pendidikan tinggi, berarti mereka pernah sekolah, bukan berarti mereka pernah berpikir.”

*di luar masalah Rocky Gerung adalah tokoh yang kontroversial, saya tergelitik loh dengan ucapannya ini, enelan*

Jadi, demikianlah. Saya memandang, menulis sebagai sebuah counter-attack dan atau saringan terhadap isu apapun itu, yang perlu diluruskan. The least I can do.

Wew, awalnya apa ngalirnya kemana ini tulisan

Kembali ke premis awal, jika ingin konsisten menulis, sudah tak zamannya lagi menunggu ide, kemudian mengeluhkan writer’s block.

Sebab, setiap kali mengeluhkan hal ini, saya malah sadar bahwa ide tak ada karena saya kurang banyak membaca dan mungkin butuh hiburan. Writer’s block terjadi karena (lagi-lagi) saya kurang banyak baca dan malas.

There, I said it.

Cita-cita sih, memenuhi rak buku dengan buku karya sendiri, melihat buku sendiri dipajang di rak best seller, Gramedia. Tapinya malas, tapinya banyak alasan. Ah, sudahlah.

Paling tidak, membiasakan menulis tanpa harus menunggu datangnya ide. Itu saja dulu.

Memang kalo cuman nulis-nulis begini, curhat-curhat di status, dapet apa?

Mungkin, kalau kita belum bisa dapat uang, paling tidak tulisan kita bermanfaat. Siapa tahu jadi ada orang yang tercerahkan setelah membaca tulisan kita, asalnya tidak tahu jadi tahu. Siapa tahu ada yang sulit sekali membaca (karena satu dan lain hal) dan merasa terbantu dengan tulisan kita?

Saya ingin, suatu hari; meskipun saya sudah tiada, orang-orang masih bisa membaca tulisan-tulisan yang saya tinggalkan dan merasa mendapat manfaat.

What could be more beautiful than that?

 

Word count : 723

 

*untuk teman-teman yang kesulitan mendapatkan ide tulisan, beberapa tautan di bawah ini mungkin membantu

https://thinkwritten.com/365-creative-writing-prompts/

https://owlcation.com/humanities/101_writing_prompts

https://betterwordforlife.blogspot.com/2016/12/30-tema-tantangan-menulis.html

 

Author:

Hanya seorang pecinta kata-kata. Kebanyakan saya menulis tentang hal-hal biasa, dengan cara yang diusahakan tidak biasa. Keseharian saya dipenuhi dengan momong anak, diskusi film, mengajar bahasa asing dan membaca buku. Full time mother, part time teacher, lifetime learner ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s