Posted in 30 Hari Menulis 2018, menulis

Tips Pedes Dua Karet


Day 2

Salam Literasi!

Sebagai admin kegiatan #30HariMenulis, saya agak terperanjat (apaan) dengan antusiasme peserta yang membeludak di hari pertama. Matahari masih mengintip di sela-sela ujung jari saja, tulisan sudah banyak yang nyetor.

recipient-clipart-pt_chart_18_clipart_pic.gif

Keren beud lah.

Sesuai janji, bahwa di pergelaran tahun ini akan ada semacam tambahan materi, maka tulisan ini dimaksudkan untuk membedah soal tulis-menulis. Bukan karena saya lebih paham, sungguh. Melainkan cukup rajin untuk mendokumentasikan apa-apa saja yang sekiranya bisa membantu mereka-mereka yang ingin bisa menulis dengan baik. Poin-poin yang saya masukkan di sini, dirangkum dari pelbagai sumber, pelatihan menulis, contoh-contoh dari para penulis yang sudah mumpuni, maupun pengalaman sendiri.

Bisa jadi hal-hal yang saya tuliskan di sini, kalian semua sudah tahu (terus apa gunanya? Hahaha).

Panjang bener intronya. Sabar yak.

Mulai deh.

  1. Jika kamu termasuk orang yang susah mendapatkan ide, bisa mencoba trik membuat kerangka karangan atau mind-mapping. Tulis dulu dari satu kata, kembangkan menjadi kata baru, kembangkan lagi, begitu seterusnya.

Contoh:

NONFIKSI

Mau nulis apa ya? Hmm … soal media sosial deh.

Medsos – Facebook – postingan – postingan apa – postingan viral – kenapa bisa viral – 5 alasan yang menyebabkan sebuah postingan bisa jadi viral, nomor 3 mengejutkan!

(yang terakhir itu bisa jadi tema/judul yang menarik)

Fotolia_66913476_S.jpg

FIKSI

Tema : romance

Tokoh : lelaki 25 tahun, perempuan 21 tahun

Plot : bertemu di sebuah perjalanan udara di pesawat saat terjadi turbulensi, menyangka mau mati, keduanya malah menceritakan semua rahasia hidup mereka

Konflik : saat selamat, dan kembali ke dunia nyata, dua-duanya sudah punya pasangan, padahal dua-duanya sudah saling jatuh cinta

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Sudah bukan zamannya lagi kita menunggu datangnya ide, sebab ada pepatah mengatakan,

A writer who waits for ideas, is not a writer, he is a waiter.

Jleb engga?

 

  1. Jangan sepelekan tanda baca dan ejaan.

Salah satu modal yang harus dimiliki penulis adalah menguasai bahasa yang ia gunakan (dalam hal ini Indonesia) dan menggunakannya dengan baik. Ejaan yang salah dan tanda baca yang kurang tepat bisa jadi yang membuat tulisanmu, gagal menjadi tulisan yang “renyah” dan jernih. Kecuali … tentu ada kecualinya. Untuk beberapa tulisan dengan gaya puitis, bersifat monolog, tanda baca seringkali menjadi sesuatu yang tidak begitu dipakai. Pun begitu, jika tulisanmu masih dalam ruang lingkup prosa, pakailah aturan yang benar. Rajin-rajin cek PUEBI (Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia).

Jangan malas.

nih, tak kasih tautannya

https://puebi.readthedocs.io/en/latest/

 

  1. Memakai DIKSI yang tepat.

Apa itu DIKSI? Diksi adalah pemilihan kata. Mungkin ada jutaan kata yang kita tahu, berseliweran di otak kita, dalam pelbagai bahasa. Seorang penulis harus mampu memilih “kata yang mana” yang paling pas untuk disematkan dalam tulisan.

Contoh:

Untuk kata yang mendeskripsikan panca indera penglihatan, kita memiliki memandang, menatap, melihat, mengawasi, bersirobok, menengadah, menoleh, dst.

Peeking.jpg

Yang mana yang akan kita pilih? Tergantung efek seperti apa yang ingin kita hasilkan, dalam konteks apa yang akan kita gunakan.

Tak hanya soal konteks dan efek, DIKSI juga penting ketika berkaitan dengan pembaca. Siapakah pembaca kita? Jika kalangan umum, hindari pemakaian kata yang bersifat teknis, apalagi kata tertentu yang hanya kita dan Allah saja yang tahu (saking canggih dan uniknya). Ingat bahwa menulis artinya menyampaikan pesan kepada pembaca. Penulis harus memastikan pesan tersebut tersampaikan dengan baik.

 

  1. Jangan malas mengedit dan merevisi.

Salah satu mentor di kegiatan menulis yang pernah saya ikuti sering mengatakan bahwa ada dua macam “Jubah” yang kita pakai. Jubah pertama adalah “jubah penulis” dan yang kedua adalah “jubah editor”.

Saat menulis, total kita akan tenggelam dalam tulisan kita sendiri. Menautkan ratusan kata dan  menyemai makna. Setelah beres, lupakan bahwa kita yang barusan menulis itu. Segera berpura-pura lah menjadi editor, periksa kembali tulisan kita. Ejaannya, diksinya, maknanya, enak tidaknya. Jika mau lebih pancen oye, kenakan juga jubah pembaca, berpura-puralah menjadi pembaca, apa rasanya ketika membaca tulisan tersebut. Senangkah? Terhiburkah? B-ajah kah?

crazy-writer.png

Ini tentu bukan sesuatu yang gampang untuk dilakukan. Kuncinya adalah jujur pada diri sendiri dan jangan pernah merasa puas dengan hasil tulisan kita.

 

  1. “Membaca itu mengisi, dan menulis itu menuang”

Demikian kata salah satu mentor menulis, yang susah saya lupakan saking kerennya ujaran ini.

Bagaimana mau menuang, kalau isinya tidak ada?

Ini saya kira, berlaku untuk fiksi maupun nonfiksi. Jika kamu membaca tulisan bagus, yang “enakeun” sekali untuk dibaca, atau membuatmu ingin berkata “uwow”;  percayalah bahwa sang penulis (biasanya) gemar membaca dan berpengetahuan luas.

download

Kamu pikir darimana datangnya pemilihan diksi yang tepat? Penyampaian fakta yang runut? Keahlian mempermainkan emosi pembaca, dan menggiring ke arah TWIST yang mengejutkan? Darimana datangnya?

Dari Hongkong?

*Lah kok malah emosi

download (2)

 

  1. Jangan alergi sama kritik.

Penulis yang alergi kritik, mending berhenti aja menulisnya (lah). Ini serius yes. Ajang menulis seperti #30HariMenulis ini, selain tujuannya membangun kebiasaan dan konsistensi menulis, juga untuk saling belajar satu sama lain.

download (1)

 

  1. Jangan batasi kreativitasmu hanya karena jumlah kata. Apa itu jumlah kata? 300? 500? 1000? Tak ada artinya, jika kamu sudah terbiasa menulis dan suka dengan dunia ini. Takut dengan jumlah kata sama artinya dengan meremehkan dirimu sendiri.

Apaan itu? CIH

 

  1. Berani menerima tantangan, berarti berani bertanggungjawab. Menulis secara konsisten selama 30 hari itu tidak berat, biasa saja. Menjadi berat, sebab kamu yang membuatnya berat. Menunggu ide lah, menunggu santai lah. Kebanyakan menunggu, sih. Padahal menunggu itu perbuatan yang sungguh tidak mengenakkan, kecuali menunggu kekasih atau tanggal gajian, sama-sama deg-degan dan penuh suka cita.

 

download (3)

Gimana, sudah terpacu untuk menulis lebih baik lagi? Kurang pedes ga? Karetnya udah dua nih.

Jangan patah semangat untuk mencerahkan dunia dengan tulisanmu, kawan.

Mimin tunggu yess.

Jangan banyak alasan lagi.

Jangan dikasih kendor!

 

Word count : 907