Posted in Ramadhan 1439 H

HAYFA


 

Pertengahan Juli tahun lalu, sebuah pesan whassap muncul di ponsel saya.
“Miss, bisa ngajar anak saya? Usianya 4 tahun …”

Sedikit bingung, saya balas, “Bu, saya ga banyak pengalaman ngajar anak kecil …”

Sejurus kemudian, si pengirim pesan mengirimkan video, sambil mengatakan anaknya tidak bisa bahasa Indonesia, hanya bisa berbahasa Inggris.

What??

Dan begitulah … awal mula perjumpaan saya dengan Hayfa, yang sudah hampir setahun ini menjadi murid terkecil saya.

Hayfa berbahasa Inggris aktif setiap hari. Bukan dalam potongan kata, namun kalimat-kalimat lengkap dan natural.

Bagi yang tidak familiar, pasti menyangka Hayfa pernah tinggal lama di luar negeri. Atau Ayah Ibunya memang berbahasa Inggris aktif setiap hari. Jawaban dua-duanya adalah tidak.

Hayfa dilahirkan sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Hingga usia 3 tahun Hayfa mengalami “Speech Delay” atau keterlambatan bicara. Tidak seperti anak pada umumnya yang mengalami proses tumbuh kembang bahasa, misal periode “babbling”, memproduksi kata-kata sederhana sampai merangkai kalimat, Hayfa tidak mengalami itu semua.

Ibunya Hayfa, harus mencolek anaknya setiap kali mengajak ngobrol sebab Hayfa selalu diam, tak pernah memproduksi kata-kata. Jika pun menginginkan sesuatu, ia akan menunjuk atau hanya mengeluarkan bunyi seperti “aaah”.

Keajaiban terjadi di usia 3 tahun. Saat sedang bermain bersama Ibu, Hayfa mengagetkan Ibu.
“Aduuh Ibu kaget …”kata Ibu.

Kemudian, tanpa keraguan sedikitpun, Hayfa mengatakan,
“Don’t scared, Ibu. It’s me, Hayfa.”

Dari situlah Hayfa aktif ngomong (bahkan cerewet hehe) namun semuanya disampaikan dalam bahasa Inggris.

Darimana asalnya?

Keluarga Hayfa sendiri berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, sesekali malah diselingi bahasa Sunda.

Ternyata Exposure yang didapat Hayfa dari menonton film kartun anak-anak di TV memicu perkembangan bahasa Inggrisnya menjadi sangat hebat, jauh melebihi anak-anak seusianya.

Hampir setahun ini, dua kali seminggu saya menyambangi Hayfa. Berdua kami akan menggambar, bermain doll house, mengerjakan project (menggunting, melem, melipat membuat ini dan itu) sambil mengobrol.

Perkembangan bahasanya luar biasa mengagumkan. Ia merespon secara cepat setiap kata yang saya berikan. Tak cukup waktu lama, kata-kata baru biasanya langsung nempel.

Lucunya, seperti anak-anak lain; Hayfa akan bersemangat jika mendapat kata baru. Tempo hari, saya asumsikan ia mendapat ujaran ini dari salah satu film yang ia tonton,
“Come on, bro!”

Sehingga sepanjang kami menggambar, ia terus menerus mengucapkan “come on bro!” Sambil terkikik-kikik geli sendiri.

Di lain hari, ia bertanya,
“What do you have there?”
Saat saya mengecek ponsel yang berbunyi.
“Messages from my friends,” jawab saya.

“Hmm … I’m confused with your friends” katanya.

Saya terbahak.

Baru minggu sebelumnya saya bilang, “Please speak slower, I ‘m confused.” Karena memang Hayfa sering nyerocos sendiri kalau ngomong.

Ibunya Hayfa aktif mencari teori-teori mengenai keistimewaan anaknya tersebut. Meski sempat disangka mengidap autisme, ternyata apa yang dialami Hayfa disebut sebagai “Gifted Disinkroni” (GD).

Dr. Purboyo, spA adalah orang pertama yang mengetes IQ Hayfa dan mengatakan bahwa Hayfa mengalami Gangguan Berbahasa Ekspresif.

Istilah GD sendiri, pertamakali diperkenalkan di Indonesia oleh seorang dokter gigi sekaligus doktor psikologi, Julia Maria Von Tiel.

GD merupakan kondisi yang terjadi pada anak-anak cerdas (IQ di atas 130) yang perkembangan kecerdasannya jomplang atau tidak sinkron.

Anak-anak GD, mengalami lompatan perkembangan di salah satu bidang dalam jumlah besar dan waktu singkat namun tidak sinkron dengan bidang yang lain.

Pada kasus Hayfa, perkembangan bahasanya melompati banyak periode dalam tahapan teori language acquisition (pemerolehan bahasa) yang biasanya dialami anak-anak pada umumnya. Kemampuan berbahasa Hayfa melesat jauh lebih cepat namun perkembangan emosi dan kecerdasan bersosialisasinya tidak secepat kemampuan ia berbahasa.

Tak hanya bahasa, kemampuan Hayfa dalam bangun ruang juga mencengangkan. Ia bisa membayangkan sebuah benda tiga dimensi dan membuatnya dari kertas, tanpa meniru. Ia juga punya ketertarikan tinggi terhadap sains. Buku favoritnya adalah kisah tentang terjadinya Volcano atau gunung berapi.

Jika ada yang bertanya, materi apa yang saya ajarkan ke Hayfa, jawabannya ; tidak ada. Setiap datang, saya hanya menemaninya bermain sambil ngobrol dan sesekali memberi kosa kata baru yang ia butuhkan.

Seperti anak lainnya, Hayfa juga moody. Kadang tersinggung atau pundung. Kalau sudah begitu ia akan bilang,
“Ok, we’re done. You go home.”
🤣🤣🤣

Seringnya, ia ceria. Senang bercerita dan suka tiba-tiba menari-nari menggoyangkan bokongnya, “look at my wiggling butt!” 😁😁😁

Dan Hayfa sayang sekali kepada Ibu dan Abu (ayahnya). Sering ia menggambar dan menunjukkannya pada Ibu. Gambar yang penuh lope-lope.

“Who’s that?” Hayfa menunjuk wallpaper ponsel saya.

“That’s Baim, my son.”

“Your son? Ooh … he plays with you too?”

“Of course, I play with him and I love him.”

“Me too! I love Ibu … and Abu ….”

“And Aa?” (Hayfa punya empat kakak laki-laki)

“Hmm … No!”

🤣🤣🤣🤣

#RamadanHariKeenambelas