Posted in 30 Days Writing Challenge #10 Nov-Dec 2017, Pendidikan, Uncategorized

Mendidik, bukan membiarkan


Jenis Film tentang hukum dan persidangan adalah salah satu genre favorit saya. 12 Angry Men, A Few Good Men, A Time to Kill, Sleepers adalah contoh-contoh film persidangan yang sangat bagus.

Malam ini, di luar kebiasaan, saya menonton film Bollywood. Berkat “racun” teman-teman di komunitas film yang ‘memaksa’ saya untuk menonton film ini. Ini dipicu oleh keengganan saya dengan film Bollywood yang sarat nyanyian dan tarian serta plotline yang sangat mudah ditebak.

Film yang saya tonton berjudul “Pink” yang dirilis tahun 2016. Satu-satunya aktor yang saya kenal hanyalah Amitab Bachchan, yang pernah saya lihat di “English Vinglish” (2012).

“Pink” berkisah tentang seorang gadis yang dituntut atas gugatan percobaan pembunuhan terhadap seorang lelaki, yang adalah keponakan pejabat. Si gadis bersama dua temannya bertemu dengan si lelaki (bersama dua temannya juga) sehabis menonton konser rock. Saat mereka kongkow-kongkow bersama, si ponakan horangkayah mulai memaksa salah satu gadis untuk tidur dengannya. Si gadis memukulnya dengan botol kaca hingga si pemuda terluka.

Ide ceritanya begitu saja. Sederhana sebetulnya. Yang menarik adalah bagaimana dalam persidangan terungkap banyak fakta baru, dan membuat penonton berpikir lebih jauh dari sekedar gugatan hukum yang diajukan.

Dalam kasus pelecehan perempuan, siapa yang salah? Laki-laki nya atau perempuannya?

Jika perempuan berpakaian minim, pantaskah ia dilecehkan?

Jika ia minum alkohol, jika ia merokok, jika ia nonton konser rock?

Entah sudah berapa kali saya membaca artikel mengenai standar ganda bagi seorang perempuan. Laki-laki perokok gapapa, perempuan biasanya dipandang jelek. Laki-laki pulang malam, oh mungkin lembur atau mengerjakan tugas, perempuan pulang malem, ah pasti perempuan ga bener.

“Ya dia pake bajunya minim sih, jelas mengundang. Coba kalau tertutup dan syar’i. Pantes aja dilecehkan!”

Ini betulan pernah dilontarkan oleh seorang teman (mungkin ia membaca ini 😊) dan saya keselek mendengarnya. Teman saya ini juga perempuan.

Lontaran kalimatnya, bagian yang “tertutup dan syar’i” saya setuju, sebab agama saya mengajarkan begitu. Namun sisanya, sungguh ia butuh belajar akhlak dalam berbicara.

Dalam Islam sudah sangat jelas aturannya. Saya tidak akan bahas. Sebab tanpa membahas itupun tulisan saya akan panjang. Kasihan yang baca.

Islam mengatur pakaian perempuan dengan jelasnya. Apakah itu menghentikan upaya pelecehan? Oh ternyata tidak. Saya tahu yang berhijab tertutup mungkin selamat dari sentuhan fisik yang tak senonoh. Namun seringkali mereka tak luput dari “sentuhan” mata yang juga tak pantas.

Silakan para ukhti, barangkali ada yang pernah merasa “diliatin dari atas ke bawah” dengan tatapan mata seperti menelanjangi. Saya yakin pasti ada yang mengalami.

Bahkan yang sudah tertutup pun, tak lepas dari pelecehan.

Ada kutipan menarik dari film PINK ini. Ada banyak kutipan yang menarik sebetulnya yang keluar dari mulut Amitabh Bachchan yang berperan sebagai pengacara.

We don’t have to save our girls, we have to save our boys. Because if we save our boys, our girls will be saved.”

Intinya, kita seringkali lupa bahwa baik anak laki-laki dan perempuan sama-sama butuh untuk TERDIDIK.

Kita ajarkan anak-anak perempuan kita untuk punya rasa malu. Malu kalau pakai rok pendek. Malu kalau nongkrong di pinggir jalan. Malu kalau merokok. Malu kalau bicara kasar dan sebagainya.

Kita lupa bahwa anak-anak lelaki pun wajib diberitahu bahwa menyuiti cewek yang lewat itu tidak pantas. Menceritakan lelucon yang merendahkan perempuan itu tidak lucu. Bahwa ketika mereka merendahkan perempuan, sama artinya dengan merendahkan ibu mereka sendiri, yang sama-sama perempuan.

“Cowok itu se brengsek apapun pasti pengennya dapet cewek yang baik-baik”

Itu kata teman saya, ribuan purnama yang lalu, saat kami masih belia.

Dan saya percaya itu. Ditambah omongan orangtua yang seringkali bilang “cewek itu ibarat kristal, sekalinya retak, orang ga mau beli”. Untuk menggambarkan begitu berharganya seorang perempuan dengan kehormatan dirinya.

Setelah saya dewasa, saya baru menyadari satu hal. ‘Loh, kok cowok boleh brengsek dulu? Mau brengsek juga ternyata tetep layak kok dapet cewek baik-baik?’

Maka, kenapa tidak diubah mind setnya menjadi:

“Kalau kamu mau dapat cewek/cowok yang baik, kamunya juga harus baik ya Nak.”

Dan Anda katakan ini pada anak laki-laki maupun anak perempuan. Selesai.

Ketika seorang perempuan diperkosa, masyarakat tidak hanya ‘menghukum’ si pemerkosa, melainkan si korban.

“Abis pulangnya malem sih, sendirian lagi,”

“Pake bajunya gimana pas kejadian?”

Hey, saya tahu ada satu kejadian saat saya kuliah; seorang perempuan berjilbab lebar diperkosa. 😰 Berjilbab lebar. Tidak pakai tank top atau legging ketat motif macan.

Sungguh Anda yang menganut paham “dasar ceweknya aja yang ga bener” WAJIB nonton film ini.

Prasangka yang sama juga dilekatkan pada perempuan yang sudah tak bersuami lagi, alias janda.

Teman saya mengeluh sebab di grup teman sekolahnya, teman-teman laki-lakinya acap kali membuat lelucon mengenai janda. Padahal di dalam grup juga ada beberapa janda. Informasi, mereka kisaran usia awal 40.

Seolah, ketika seorang perempuan yang sudah janda itu boleh-boleh aja dibecandai, oke oke aja dijadikan bahan guyonan.

“Janda, asik tuh! Masih muda lagi”

“Mending sama janda, udah pengalaman”

Sungguh saya tidak mengerti.

Kalau ibu mereka yang janda dibegitukan, bagaimana perasaan mereka coba?

Maka, para orangtua; mulailah mendidik kedua anak kita, laki-laki dan perempuan, dengan value yang sama.

Bahwa merendahkan orang (siapapun itu) tidak baik. Bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama harus mampu menjaga pandangan. Bahwa seharusnya laki-laki dan perempuan dipandang sebagai dua subyek yang sejajar dalam penilaian tingkah laku.

Ajarkan bahwa pekerjaan rumah tangga tidak hanya harus dikerjakan oleh perempuan, tetapi laki-laki juga. Kenalkan bahwa bidang pekerjaan lelaki dan perempuan itu hampir setara. Mau jadi apa? Pilot? Chef? Dokter? Pengacara? Semuanya sama.

Jangan terbiasa mengatakan,

“Lah kok cowok belajar menjahit? Ga gentle! Belajar tuh informatika, teknik!”

*bahkan penggunaan kata gentle disinipun salah*

Nanti anak akan berpikir, oh ada bidang pekerjaan yang ternyata tabu untuk laki-laki, oleh karenanya lebih rendah, karena cocoknya hanya untuk perempuan.

Padahal banyak cowok yang pintar jahit kemudian jadi desainer. Rata-rata chef terkenal bukan perempuan, melainkan laki-laki.

Di tangan Bapak dan Ibu orangtua, terletak keputusan untuk ‘membentuk’ anak. Mau anakmu baik, didiklah dengan baik. Memasukkan ke sekolah bagus tidak cukup. Perlu kita bekali juga dengan komunikasi. Biasakan mengobrol dengan anak, dalam hal apapun, supaya ia merasa turut ambil bagian dalam memutuskan apa yang baik untuknya.

Ajarkan anak lelaki kita untuk menghormati perempuan. Ajarkan bahwa laki-laki yang baik mampu memandang perempuan sebagai partner sejajar, bukan makhluk yang pantas direndahkan. Mendidik, bukan membiarkan.

Ajarkan anak perempuan kita untuk menghargai dirinya sendiri. Ajarkan bahwa jika ia tak ingin direndahkan siapapun maka ia harus bisa menjaga dirinya, hingga tak ada celah bagi orang lain untuk menuduhnya macam-macam. Mendidik, bukan membiarkan.

Sungguh, para orangtua adalah manusia-manusia pilihan yang lirih doanya terdengar hingga ke langit.

Barakallah ….

Catatan:

Terima kasih buat teman-teman yang sudah merekomendasikan film PINK untuk saya tonton. Terutama karena tidak ada satupun nyanyian dan tarian di dalamnya 😂

#30DWCJilid10 #Day23

Author:

Hanya seorang pecinta kata-kata. Kebanyakan saya menulis tentang hal-hal biasa, dengan cara yang diusahakan tidak biasa. Keseharian saya dipenuhi dengan momong anak, diskusi film, mengajar bahasa asing dan membaca buku. Full time mother, part time teacher, lifetime learner ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s