Posted in 30 Hari Menulis 2017

Susuk dan Santet


#30HariMenulis

 

Hari 21

 

Tema:

Menulislah tentang ANOMALI atau sesuatu yang di luar kebiasaan yang menurutmu menarik. Misalkan, fenomena hujan es, bayi kembar 6 atau apapun yang di luar kebiasaan

 

Suatu waktu, saya sedang nongkrong bersama teman-teman di rumah salah seorang dari kami. Usia kami masih belasan tahun. Seorang nenek berjalan melintasi gang di depan rumah teman saya. Tiba di hadapan kami, langkahnya terhenti.

 

Kami semua terdiam, menunggu apakah si nenek akan bertanya alamat atau yang lainnya.

Ia tersenyum.

Neng-neng nu geulis … daek ku emak dibere babacaan ..?

(Neng-neng yang cantik … mau ga dikasih mantra sama emak?)

 

Kami saling berpandangan. Tidak yakin bagaimana harus memberi tanggapan.

Si nenek masih tersenyum,

Yeuh … mun dibaca sababaraha kali sapoe, diamalkeun, lalaki kabeh bakal nurut …

(kalau dibaca beberapa kali setiap hari, diamalkan, semua lelaki akan nurut)

 

Kemudian ia mulai merapalkan semacam rangkaian kata dalam Bahasa Sunda yang mesti kami ucapkan. Setelah ia merasa yakin kami sudah cukup mengulang-ulang, ia pun berpesan untuk selalu membaca ‘mantra’ tadi supaya manjur. Setelah itu ia melangkah pergi.

 

Setelah si nenek pergi, kami malah kebingungan. Maksudnya apa ini?? Tak ada satupun yang susah-susah mau mengulang ‘hapalan’ dan berniat mengamalkan. Agaknya peristiwa ‘aneh’ itu terlalu memukau kami. Apalagi setelah teman kami yang punya rumah merasa tak mengenal si nenek, jadi ia seakan muncul begitu saja dan menghilang seketika. Akhirnya, kami hanya tertawa-tawa dan meneruskan obrolan.

 

Setelah agak lama, baru saya menyadari bahwa si nenek bermaksud mengajari kami mantra penarik laki-laki.

 

Setelah menikah, tahun 2000, saya dan suami mengontrak rumah di bilangan Bandung Utara. Alasannya biar dekat ke kampus, karena saat itu saya masih kuliah. Kami tinggal di flat atau rumah susun yang jarak antar rumah ke rumah hanya sepelemparan batu saja.

 

Persis di sebelah rumah kami, ada sebuah rumah yang dihuni oleh pasangan suami istri dengan dua anak yang sudah dewasa. Si bungsu yang perempuan saja sudah seusia saya pada waktu itu (awal 20). Awalnya saya hanya sekedar tegur sapa dan senyum setiap kali bertemu dengannya. Namun saat saya hamil anak pertama dan melahirkan jadi sering mengobrol dengannya. Ia sama-sama hamil dan melahirkan (tanpa suami), jadi anak pertama kami seumur.

 

Si teteh ini, bagaimana saya mendeskripsikannya ya? Ia berkulit putih bersih dan berperawakan agak gempal. Pakaiannya sering terbuka, namun saat itu saya mengira itu akibat tuntunan pekerjaan. Bisik-bisik tetangga sempat juga mampir di telinga saya mengenai kelakuan si teteh ini. Kemudian ia hamil di luar pernikahan, lengkaplah sudah. Hebatnya, orangtuanya menerima dia dengan kondisi hamil dan malah sayang sekali dengan cucunya itu.

 

Karena keseringan ngasuh anak barengan, jadinya si teteh sering main ke rumah saya. Sekedar mengobrol ringan sambil menyuapi anak. Lebih sering si teteh ke rumah saya dibanding sebaliknya. Mungkin karena di rumah saya sepi, sebab suami pergi bekerja, dan hanya saya sama anak saja (sesekali ada ibu saya).

 

Suatu hari si teteh memungut sesuatu dari lantai. Sehelai handuk kecil seukuran sapu tangan rupanya terjatuh dari keranjang setrikaan saya. Sambil memberikan handuk itu ke tangan saya si teteh berkata,

“Teh Irma tau ngga, kalo dulu kemana-mana saya bawa sapu tangan?”

Saya menggeleng.

“Iya, soalnya ada ‘isinya’ …” sambungnya sambil tersenyum.

Saya bingung.

 

Kemudian ia menjelaskan bahwa sejak belia ia sudah rutin berkunjung ke ‘orang pintar’. Si orang pintar ini kemudian akan memberinya jampi-jampi yang ‘ditiupkan’ ke sehelai sapu tangan.

“Buat apa?” tanya saya.

“Supaya banyak laki-laki yang suka sama saya,” jawabnya tanpa tedeng aling-aling.

Saya terdiam.

 

“Tapi sekarang saya insyaf, teh. Ga mau lagi. Sejak ada anak mah saya sadar …” ia menunduk menatap anaknya yang sedang main di atas karpet dengan anak saya.

 

Si teteh ini pemikirannya sederhana sekali. Ia ingin disukai lelaki supaya semua urusannya gampang. Ia merasa lelaki kelemahannya hanya di syahwat sehingga gampang dikendalikan. Petualangannya baru berhenti ketika ia kemudian hamil di luar nikah dan lelaki yang menghamilinya tidak bertanggungjawab. Orangtuanya pun tak mau menikahkan, sebab si lelaki menganut agama yang berbeda.

 

Dua fragmen peristiwa di atas sering mengusik kenangan saya setiap kali ada pembicaraan mengenai pelet atau susuk. Di dunia yang (seharusnya) serba logis ini ada banyak hal di luar nalar yang kita dengar atau kita hadapi. Benarkah kita bisa memantrai orang untuk suka dengan kita? Entahlah, sebab saya tidak pernah tertarik mencobanya. Namun almarhumah nenek saya dulu sering bercerita mengenai kebiasaan orang-orang jaman dulu untuk berkonsultasi kepada dukun atau hanya sekedar membuat sesajen di rumah jika punya maksud tertentu (sesajen dimaksudkan untuk persembahan terhadap karuhun atau nenek moyang).

 

Lucunya, terkadang dulu nenek suka berkomentar aneh jika melihat/bertemu seseorang. Misal nih, saya sama nenek sedang duduk di depan rumah (dulu di depan rumah nenek ada beberapa kursi yang dipasang menghadap jalan di depan, yang adalah jalan raya). Kemudian ada seseorang yang lewat, dan kami saling menyapa, sekedar hai.

 

Kemudian setelah orang itu lewat, nenek akan berkata,

“Mmh .. budak teh … meni teu sabongbrong …”

Ini ungkapan Bahasa Sunda yang artinya kurang lebih, ‘apa yang dipakai orang itu tidak sepadan dengan yang sebenarnya’. Ah, susah …

Intinya, nenek mengatakan bahwa si orang yang barusan lewat ‘memasang’ sesuatu di tubuhnya, yang tidak wajar.

Saat saya bertanya darimana nenek tahu, nenek saya akan menjawab,

Kolot mah nyaho wae,

(orangtua selalu tahu)

 

Another indefinite answer.

*sigh

 

Terkadang saya kangen masa-masa nenek bercerita, betapapun cerita-cerita itu selalu aneh dan di luar logika. Mungkin karena nenek hidup di jaman yang berbeda dengan saya. Ia hidup di dua masa penjajahan, Belanda dan Jepang. Ditambah, tradisinya sebagai orang Sunda yang penuh dengan ritual dan adat.

 

Jadi, apakah saya percaya dengan pelet/susuk?

Mmh … ga tau juga sih. Mungkin iya, mungkin tidak. Sebab kata orang, santet itu tidak ada, tapi saya sering dengar kisah mengenai orang-orang yang tiba-tiba jatuh sakit dan tidak terdeteksi penyakitnya oleh dokter. Kemudian sembuh setelah rajin mengaji dan berobat ke ustadz tertentu (misalnya).

 

Belakangan, ada sebuah kisah nyata yang menimpa orang yang saya kenal. Tidak perlu disebutkan namanya. Jika bukan ibunya sendiri yang berkisah, mungkin saya tidak akan percaya.

 

Orang ini sebut saja Batman. Batman merantau ke Jakarta untuk bekerja. Di kota itu, Batman bertemu Selena (Catwoman hahaha) dan jatuh cinta. Sayangnya, yang suka sama Selena bukan hanya Batman, hingga persaingan cinta agak sengit dan kompetitif.

 

Diantara sekian lelaki yang menaruh hati pada Selena, tersebutlah Joker yang juga sama-sama merantau dari tanah kelahirannya. Joker berasal dari sebuah pulau yang memang terkenal dengan hal-hal berbau mistis. Ketika tahu Batman juga suka sama Selena, Joker selalu berusaha agar Batman tak mendapat celah. Haduuh … sinetron yak.

Singkat cerita, Selena memilih Batman. Yaaay!

Apakah happy ending?

Tidak.

 

Sebab beberapa hari kemudian Batman terserang depresi saat menemukan bahwa organ genitalnya hilang. Hilang. Ia tidak punya p**is. Selama beberapa minggu, orangtua Batman berobat sana sini sambil kebingungan. Dokter mana yang bisa mengembalikan organ genital laki-laki yang tiba-tiba hilang?

 

Saya lupa persisnya bagaimana, tapi kemudian Batman berhasil mendapatkan ‘barangnya’ kembali (atas bantuan seorang ustadz). Dan ada bisikan dari beberapa orang (pintar) bahwa memang yang terjadi adalah atas ulah si Joker.

 

Weird, eh?

 

Dari sekian banyak tema anomali yang ada di dunia ini, inilah yang saya pilih. Sangat tidak ilmiah sekali. Namun sungguh, buat saya ini sangat anomali. Bagaimana tidak? Susuk dan santet telah mematahkan banyak sekali teori fisika yang susah payah dipelajari semua anak selama bertahun-tahun. Belum lagi norma sosial yang dilanggar karena ‘pemaksaan rasa suka’ karena susuk, bukan karena intensitas dan interaksi social.

 

Ah, entahlah.

 

Menurutmu bagaimana?

 

Author:

Hanya seorang pecinta kata-kata. Kebanyakan saya menulis tentang hal-hal biasa, dengan cara yang diusahakan tidak biasa. Keseharian saya dipenuhi dengan momong anak, diskusi film, mengajar bahasa asing dan membaca buku. Full time mother, part time teacher, lifetime learner ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s