Posted in 30 Hari Menulis 2016, Uncategorized

Suatu ketika, Hazama-San


#30HariMenulis

Day 10

Tema : menulis dengan setting pra kemerdekaan 1940-1945

 
Hazama merasa kepalanya pusing. Perjalanan darat 10 jam ke desa itu tadi masih membuatnya mual. Serasa baru sedetik yang lalu, ia masih membuatkan burung bangau dari kertas untuk, Okuda, adiknya yang berusia 10 tahun. Serasa baru sesaat lalu ia melihat Langit kota Hokaido.

Kenyataannya sudah lebih dari 48 jam sejak ia meninggalkan desanya ribuan kilometer jauhnya dari negeri ini. Negeri yang dihuni manusia berkulit agak kecokelatan.

Hazama menarik napas panjang. Sedang apa Okuda sekarang? Semoga ia tidak lupa memberi makan Ibu dan malah bermain seharian.

Ibu …

Apa yang kukerjakan di sini, Bu?

“Hazama-san!!”

Ia mendongak. Horibe, teman segugusnya menarapnya tajam. Dengan gerakan kepala, ia menggangguk ke arah Komandan Kogoro. Komandan Kogoro yang bertubuh tinggi besar itu juga sedang menatapnya tajam.

Hazama baru sadar kalau sedari tadi, dia tidak mendengarkan.

“Jadi, kalau kalian sekarang sudah memerhatikan, saya ulangi.”

Mata Komandan mendelik ke arah Hazama.

“Kita punya waktu hanya 24 jam untuk sweeping desa ini. Ambil barang berharga. ‘Buang’yang tidak berguna. Setelah ini kita akan tunggu instruksi dari pusat.”

“Mengerti?!!”

“Haik, Komandan! Siap!” Gemuruh satu peleton dalam truk itu bergema.

Hazama menelan ludah. Ini misi pertamanya. Ia tidak suka berperang sebenarnya. Ia hanya ingin mengurus kebun Ayah, dan menjadi tulang punggung keluarga. Merawat Ibunya yang sudah jompo sembari mengasuh Okuda.

Tapi keputusan Kepala Desa tidak dapat ditawar-tawar. Pemuda berbadan sehat wajib mendaftar untuk masuk militer. ‘Jepang sedang terancam, kita harus membela’ begitulah yang selalu diteriakkan di seluruh negeri.

Truk tiba-tiba berhenti. Satu per satu dengan rapi mereka semua keluar dari Truk. Berdiri berjajar di atas tanah, siap menunggu instruksi. Rata-rata wajah para prajurit yang muda, sama dengan Hazama. Para pemuda yang sehari-hari lebih terampil memegang sabit dibanding senjata  yang berat itu.

Komandan memberi aba-aba. Berhamburan mereka menyerbu rumah-rumah kayu yang berjejer di sepanjang desa.

Tak lama pekik jerit terdengar dimana-mana. Banyak perempuan muda yang diseret keluar, para lelaki dihajar di tempat sampai tewas.

Hazama mati langkah. Ia sungguh tak tahu harus berbuat apa. Ia tahu, ia akan pergi berperang, namun pemandangan memilukan di depannya membuat lidahnya kelu. Salah seorang prajurit memegangi tubuh seorang wanita muda, rekannya merobek pakaian si wanita sambil tertawa-tawa. Mereka memerkosanya di situ juga.

Hazama ketakutan. Sungguh. Kakinya lemas.

“Toloooong …”

Sebuah suara memanggilnya dari sudut. Ia menoleh. Seorang pemuda seusianya, tergeletak berdarah-darah. Ia tak mengerti apa yang diucapkan pemuda itu. Namun ia tahu, pemuda itu mencoba meminta tolong.

Hazama menjatuhkan senjatanya dan meraih si pemuda.

“Tolooong, adikku masih terperangkap di dalam,” si pemuda berkata dengan mulut sobek berdarah-darah.

Wakarimasen,” Hazama menggelengkan kepala, ia tak mengerti apa yang diucapkan pemuda itu.

“Tolooong …” Telunjul si pemuda lemah mengarah ke rumah di belakangnya.

Hazama mengikuti arah yang ditunjuknya. Seorang anak seusia Okuda sedang terpontang-panting diseret dan dipukuli tentara, temn-temannya sendiri.

“Hei!! Hei!!” Ia berlari ke arah mereka.

“Lepaskan, dia! Dia cuma anak kecil!”

Para tentara yang baru dikenalnya saat dipertemukan di barak latihan itu terkejut. Kemudian tertawa.

“Hazama-san,mengapa? Mereka tak lebih dari binatang. Nasib mereka ada di tangan kita sekarang!”

“Jangan! Kumohon, lepaskan dia!”

Hazama tidak paham mengapa ia melakukannya. Mungkin karena anak itu mengingatkannya pada Okuda yang jail, tapi baik hati. Okuda yang sering menggodanya jika kebetulan mereka bertemu gadis-gadis dari desa sebelah di Festival Tanabata.

Hazama menerhang mereka. Ia lupa ia tak lagi memegang senjata. Ia meninju dan memukul. Wajah Okuda melintas di kepalanya. Wajah Ibunya yang terbaring lemah silih berganti dengan wajah mendiang Ayahnya yang mati terserang diare.

Kuso yaro! Brengsek kau!!” Mereka berbalik memukuli Hazama. Membuatnya terpelanting ambruk ke tanah. Mulutnya terasa asin, dan berkarat. Bau darah.

Salah seorang tentara berdiri menjulang tinggi di atasnya.

“Kau lebih memilih mereka dibanding bangsamu sendiri?? Shinne! Mati kau!”

Lalu semuanya gelap.
*salah satu desa di Jawa Barat, pada jaman pendudukan Jepang tahun 1942-1945*
P.S

Maaf kalau penggunaan Bahasa Jepangnya salah, ini juga dapet nanya dari anak 😄

Author:

Hanya seorang pecinta kata-kata. Kebanyakan saya menulis tentang hal-hal biasa, dengan cara yang diusahakan tidak biasa. Keseharian saya dipenuhi dengan momong anak, diskusi film, mengajar bahasa asing dan membaca buku. Full time mother, part time teacher, lifetime learner ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s